Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Dua orang mengerikan itu.



Gelap yang enggan memudar, benar-benar seperti situasi yang tengah kehilangan seseorang. Di pertengahan pagi yang mulai menampakan sang mentari, tentu membuat Airyn membuka kedua matanya untuk memalingkan diri keposisi samping, hatinya masih berdenyut perih seperti kemarin, rasanya masih saja kesepian di lingkup kehilangan yang jenaka, seperti mimpi buruk yang tidak membangunkan kesadaran, benar-benar membuat Airyn tidak menyangkaa jika ini dunia nyata.


Apakah Airyn bisa melanjutkan hidup seperti semula, seperti kehilangan separuh dunia yang terus ada disisinya namun sekarang tiada, apakah Tuhan sebercanda itu untuk mengambil Hansell disaat Airyn sangat membutuhkanya, ini sangat kejam!!


Hingga pagi itu sebuah pelukan menghangatkan dirinya, memeluknya dari belakang seraya melihat tubuh Merry yang ada di samping dirinya, ternyata ketakutan Airyn semalaman yang di tingalkan benar-benar membuatnya menahan Merry dan juga ayahnya untuk tidur di kamar luas nan sunyi ini. “Kenapa ini bukan mimpi” kesal wanita itu saat menutup matanya kembali, rasanya kepedihan itu tidak memudar meskipun ribuan detik tengah berlalu dan meninggalkan “Apakah aku bisa menjalani hidup tanpa Hansell” batin Airyn yang kala itu tengah mengadu nasibnya pada semesta.


“Jika saja Tuhan benar-benar melihat semuanya, kenapa tidak mengembalikan Hansell lagi” hingga bulir air mata itu kembali mengalir, membuat Airyn menepiskan selimut untuk beranjak membersihkan diri.


Mata Zates terbuka, ia melihat tubuh istrinya tertidur lelap di sisinya, bahkan selimut itu menutupi tubuhnya hingga menjadi nyaman, namun Zates tidak melihat putrinya, bahkan darahnya mendidih ketika terbangun dengan pandangan mengagetkan, tanpa sadar ia beranjak meskipun sakit kepala mulai medera di kepalanya, namun Zates memilih berlalu untuk mencari Airyn.



Hingga gemercik air terdengar oleh pendengaranya, membuat tubuh Zates mulai lemas ketika Airyn baik-baik saja di dalam sana, semenjak malam tadi Zates tidak bisa tidur nyeyak, meskipun putrinya sudah tertidur di pelukan Merry, tetap saja rasanya Zates tidak bisa melakukan hal itu, hingga tanpa sadar ia malah terlelap pagi-pagi sekali, dan ketika terbangun menyaksikan Airyn tidak ada, tentu ada cemas bercampur takut yang mendominasi, tapi mendengar anaknya baik-baik saja di dalam kamar mandi tentu ada lega yang bisa Zates rasakan.


Ia kembali kearah ranjang, Zates tidak menyangka dirinya akan tertidur bersama Merry dan juga Airyn di bawah satu atap dan ranjang yang sama, bahkan melihat istrinya yang masih bergulung selimut tebal, membuatnya ingin merangkak menaiki ranjang menuju sisi Merry. Rasanya Zates ingin menganggu wanita cantik itu, sebab ini sudah pukul 7.10 pagi.


“Ayah” tegur Airyn hingga menghentikan langkah Zates, bahkan rasanya tubuh Zates membeku ketika panggilan itu keluar tanpa malu dari mulut putrinya, meskipu Zates menginginkanya tetap saja ia tidak menyangka akan seperti ini rasanya, karna nampaknya Zates memerlukan adaptasi terlebih dahulu untuk terbiasa, namun Airyn malah sebaliknya, ada apa dengan anaknya itu hingga perubahan Airyn terasa mengerikan untuk Zates rasakan.


“Kau memanggilku apa?” tanya Zates ketika memastikan lagi, bisa saja ia yang salah dengar bukan.


“Ayah ada apa denganmu. Bukankah itu panggilan semua orang di dunia ini untuk laki-laki yang sudah menghadirkanya ke dunia” celetuk Airyn ketika berlalu kearah lemari untuk melilitkan baju hangat di luar pakaian rumahan yang ia gunakan.


“Tapi kenapa kau memanggilku Ayah?”


“Karna kau memang ayahku bukan, aku sudah membaca perkembangan berita hari ini. Dan aku sudah melihat bagaimana kalian semua bekerja keras dalam menyelesaikan permasalahanku. Dan hari ini aku sudah memutuskan untuk membereskan segalanya, cukup dukung saja usahaku membereskan kekacauan ini, karna aku membutuhkan mu” seru wanita hamil itu saat berdiri di depan Zates, mengingat wajah Zates yang amat mirip dengan Louis Petrov yang sebenarnya pamannya, tentu saja membuat Airyn amat terbiasa dengan Zates.


“Airyn, aku minta maaf” seru Zates ketika menudukan pandagan pada anaknya, ia yang kala itu duduk di tepi ranjang benar-benar menyesali semuanya “Aku terlalu pengecut hingga mengubur dalam kenyataan, dan membuatmu terlibat dalam masalah yang tidak pernah usai. Semuanya akibat diriku yang tidak berguna, aku benar-benar minta maaf” ucap Zates dengan begitu tulus, membuat Airyn menghela nafas atas permohonan maaf pria itu, meskipun ia tidak menyukai Zates, hal itu lantaran wajahnya amat mirip dengan Louis Petrov yang Airyn anggap ayah, tapi secara nurani Airyn tidak membencinya melaikan cukup bahagia jika sebenarnya ia memiliki ibu dan ayah biologis yang masih sehat, bahkan melindunginya hingga Airyn sadar disaat dirinya kehilangan ternyata dua orang itu tidak pernah meninggalkan, jadi untuk apa lagi Airyn menepiskan keberadaan ayahnya jika ia sudah menerima dengan hati terbuka.


“Aku tidak menyalahkan mu, bahkan aku berterimakasih untuk terus ada disisiku” ucap wanita itu pada ayahnya, hingga pandangan Zates terangkat untuk menatap anaknya, bahkan beberapa detik berlalu keduanya saling memandang penuh peduli hingga rasanya jantung Zates meledak-ledak akan bahagia.


Jika Airyn berkata seperti itu, apakah ia sudah menerima Zates, hingga sebentuk senyum tulus membuat air matanya menetes namun dengan segera ia hapuskan. “Hm, apa kau mau menemaniku untuk jalan-jalan pagi?” tanya Airyn ketika memutus ke cangungan antara mereka, membuat Zates terdiam memandang anaknya.


“Tentu saja, aku ingin menyegarkan diri sebentar” seru Zates seraya berlalu dari tegaknya, bahkan ia amat gugup hingga nampak sekali bagaimana paniknya pria itu, membuat Airyn tertawa tulus seraya megusap perutnya.


“Aku akan menunggu mu di luar” ucap Airyn hingga ia meninggalkan kamar tersebut.


Zates yang kala itu menyegarkan dirinya dan Airyn yang kala itu keluar kamar, benar-benar tengah mempersiapkan diri mereka, Airyn yang berlalu dengan langkah kecil melintasi terowongan dengan pilar tinggi dan juga hiasan dinding di sepanjangnya, bersirobok dengan pelayan rumah yang nampaknya mengemas pakaian Angel.


“Bibi, kenapa kau mengemas pakaian Angel?” tanya Airyn pada pelayan rumahnya, sebab ia masih belum melihat gadis itu setelah siuman, bahkan Airyn cukup bingung dengan koper itu.


“Nona Angel meminta saya mengirimkanya ke Amerika Nyonya” sontak perkataan itu membuat Airyn tertegun.


“Amerika? Apa dia sudah pergi kesana?”


“Sudah Nyonya. Apa Nona Angel tidak mengabari anda?” tanya beliau kepada Airyn, tentu Airyn mengelengkan kepala sebab ia tidak mendapatkan kabar apapun “Oh begitukan. Bibi juga tidak tahu kenapa Nona Angel ingin pergi dengan buru-buru, namun saat ia mengambil beberapa barang Nona Angel berpesan untuk memberinya waktu untuk menenangkan diri, ia meminta Nyonya agar tidak cemas akan dirinya, karna Nona Angel akan menjaga dirinya dengan baik. Dan ada Tuan Dikra di sampingya, jadi Nona Angel mengatakan untuk Nona menjaga diri baik-baik, nanti ia pasti akan kembali melihat keponakanya” seketika Airyn terdiam tanpa suara, kenapa semuanya meninggalkan Airyn, bahkan tidak ada salam perpisahan atau ucapan apapun selain sebuah pesan yang mereka tingalkan.


“Airyn..” Zates merangkul tubuh Airyn dari belakang, membuat Airyn mendongakan wajah kearah ayahnya seraya air mata itu sudah tumpah tanpa di fikirkan.


“Kenapa mereka meninggalkan ku” ucapnya dengan nada lirih yang amat menyakitkan, mengugah batin Zates dengan rasa iba yang tidak tertahankan, hingga Zates meringkuh tubuh Airyn untuk memeluknya, tentu ia memberian pelukan dari arah samping meningat perut anaknya yang membesar itu.


“Mereka tidak meningalkanmu, di manapun mereka berada semuanya pasti akan mencintaimu sayang”


“Lalu apakah mereka akan kembali?” seketika pertanyaan Airyn membuat Zates bungkam, bahkan rasanya tidak mampu berkata apapun selain diam, hingga pelukan itu benar-benar menghangatkan.


****


Zates membimbing tangan putrinya, tentu hal ini mengingatkan Zates kepada masa lalu, dimana dirinya pernah melakukan hal kecil ini kepada Airyn, saat itu Airyn amat pendek dengan tubuh montok dan kulit mulus hingga perawakan cantik nan mengemaskan, ia mengunakan pakaian merah terang dengan tali tipis berbunga yang mengikat bahunya, seolah menampilkan bagaimana sexy dan imutnya gadis itu dimasa kecil.


Tapi kali ini Zates mengenggam tangan anaknya dengan tubuh yang mengemaskan juga, tubuh Airyn tentu amat montok bahkan pipinya berisi serta perutnya yang tengah menumbuhkan dua calon cucu bagi Zates sangat menambah kecantikan anaknya. Hingga pesona Airyn yang sangat menyenangkan benar-benar menghilangkan perasaan tertekan Zates akan Zansell.


Hingga anggukan kepala dengan tatapan dalam penuh cinta membuat mata Airyn berkaca-kaca. “Ternyata benar, tangan pria yang mengenggam jemari kecilku dengan penuh kelembutan adalah dirimu, dan pria yang sangat peyayang dengan tatapan dalam penuh cinta juga dirimu bukan, dan disaat malam itu aku menangis saat kehilangan ibu Charllot kau yang memeluk tubuhku, bahkan saat aku terjatuh kau juga yang menyediakan pelukan untuk membujuk” seketika perkataan Airyn menyita akal sehat Zates, kenapa ia menyadari hal itu, apa Airyn sudah menyadarinya sedari awal.


“Apa kau sudah mengetahui hal ini sedari awal?” tanya Zates saat memberanikan diri bersuara. Membuat Airyn mengelengkan kepala padanya.


“Tidak. Aku tidak pernah mengetahuinya. Namun sekarang aku sudah megetahui hal itu, dulu aku bertanya-tanya kenapa ayahku bisa menjadi hangat namun berubah menjadi dingin secara tiba-tiba, pria yang memiliki waktu untuk mengajak ku bermain ke taman hiburan, tapi tiba-tiba menjadi pengila kerja dalam waktu semalam. Dulu aku tidak pernah tau apa alasan semua perbedaan ini, aku sering terluka karna berfikir ayahku tengah mempermainkan diriku. Tapi sekarang aku mengetahui alasanya, karna ayahku bukanlah Louis Petrov, melainkan Laos Petrov. Ayahku yang hangat, penuh tatapan cinta dan peduli adalah dirimu kan. Aku baru menyadari hal ini dari Hansell, tapi hari ini aku semakin sadar dan mengetahui perbedaan itu”


Hingga perasaan kalut yang Zates rasakan sangat luluh seketika, seperti melebur kedalam cinta seraya melihat anaknya berkata hal berharga, apakah Airyn tengah mengakui dirinya dan sudah menerima dirinya, tapi apapun yang Airyn rasakan tetap tidak bisa mengalahkan rasa kebahagian Zates yang meledak-ledak, hanya saja ia terus menjaga dirinya untuk tidak berlebihan, berwibawa seperti ayah yang amat tegas dan juga karismatik seperti biasanya, hingga tatapan teduh itu menyentuh pada Airyn, membuatnya mendekati Zates untuk memeluknya sekali lagi.


Tentu saja Merry yang berselimut di pinggir balkon, menepiskan air mata bahagia ketika melihat dua orang yang mulai menerima, apakah ini bisa di katakan akir yang bahagia? Merry rasa memang ada hal baik di balik sesuatu yang tidak menyenangkan, begitupun sebaliknya, akan ada hal buruk setelah kebahagiaan datang.


Airyn dan Zates berjalan mengelilingi halaman rumah, mereka di suguhkan pemandangan taman yang luar biasa indah dengan desiran ombak yang terdengar ricuh, setiap warna tertata dengan rapi hingga jajaran kayu itu tersusun rapi, memberikan kesan alam alami yang mampu menyajikan kesejukan pagi ini, jalanan di sepanjang taman dengan aliran air yang dibuat itu, benar-benar menjadi tempat untuk mereka menikmatinya, Airyn masih bercerita beberapa hal dengan Zates, entah terkait masa lalu, Hansell, dan pekerjaan hingga masalah yang terjadi sebenarnya.


Rasanya jantung Airyn masih di tikam besi panas yang mencucurkan lahar diatas lukanya, sebab keputusan Hansell benar-benar membuat Airyn tidak terima namun ia tidak bisa menyalahkan suaminya. Hanya saja sekarang Airyn sadar apa yang Hansell katakan untuk menerima kenyataan dan Airyn harus kuat untuk dirinya sendiri dan juga anaknya, tentu akan ia lakukan demi. suaminya.


Hansell menginginkan Airyn menerima Zates dan juga Merry, tentu saja Airyn akan melakukan itu untuk kebahagiaannya sebab Hansell yang meminta hal itu bukan, di tambah tidak ada yang Airyn miliki selain kedua orang tuanya.


“Ayah kenapa badanku semakin bertambah gemuk, apa bayiku akan berukuran besar?” tanya Airyn pada Zaterius, membuat pria itu terkekeh atas pertanyaan anaknya.


“Aku bukan Dokter kandungan, kenapa kau bertanya padaku?” ucap Zates saat mengenggam tangan Airyn dengan langkah kecil mereka.


“Aku hanya malu saja bertanya hal seperti itu pada Dokter, bukankah kau tahu imageku yang tegas dan penuh wibawa akan luntur dengan pertanyaan bodoh seperti itu. Untuk itulah aku tidak pernah menanyakanya pada mereka”


"Kenapa kau harus bersikap seperti itu"


"Karna darahmu terlalu kental di tubuhku, kata beberapa orang aku sangat mengerikan, bahkan saat bertatapan saja sudah membuat mereka ketakutan. Aku juga tidak tahu kenapa aku sangat gengsi dan penuh wibawa ini, ternyata darahmu yang mengalir kental di nadiku" ucap Airyn pada Zates membuat pria itu sunguh terkekeh atas perkataan Airyn


"Jangan seperti itu. Aku akan bangga jika anak ku seorang laki-laki. Tapi kau adalah wanita, maka berlakulah menjadi wanita yang lembut dan penuh sikap polos"


"Aku hanya bisa seperti itu pada suamiku, kepada rekan kerja atau bahkan orang yang menyebalkan aku sunguh tidak bisa seramah itu"


“Baiklah-baiklah, terserah kau saja" ucap Zates saat mengusap kepala anaknya "Aku pernah membaca beberapa hal seputar kehamilan, jadi berat badan seorang ibu yang tengah hamil tidak sepenuhnya bertambah hanya karna sang bayi di dalam rahimnya saha. Melainkan ada plasentan, rahim, payudara dan air ketuban yang rata-rata bertambah sekitar 1 kg, jika di jumlahkan dengan ke empatnya, tentu tubuh ibu hamil sudah memiliki berat 4 kg di luar berat badan yang meningkat. Selain itu pertumbuhan volume cairan juga terjadi 2 kg ditambah volume darah yang juga meningkat dengan kisaran 2 kg juga. Bahkan jika di tambahkan sudah 8 kg dari keseluruhan. Selain itu masih ada berat bayi yang rata-rata berkisar 3-3,6 kg lebih, sedangkan dirimu memiliki 2 anak kembar di rahim mu, serta cadangan lemak, Protein dan Nutrein yang juga meningkat sekitar 4 kg. jadi sangat wajah kenapa beratmu bertambah” jelas Zates pada anaknya, membuat Airyn membulatkan mulut dengan begitu paham akan penuturan ayahnya.


“Sekarang sudah berapa Kg berat badanmu?” tanya Zates pada anaknya, membuat wajah Airyn memerah seolah malu jiika di tanya soal hal itu. “Berapa? Beritahu aku?” paksa Zates ketika mengoda Airyn.


“Kenapa kau menaanyakan hal itu, bukankah dengan hitungan itu kau bisa memikirkanya saja sendiri” dengus Airyn dengan jengkel.


“Tapi aku bukan mesih pendeteksi, tentu tidak bisa mengetahuinya, yang aku jabarankan barusan hanyalah hitungan normalnya, biasanya seorang ibu bisa bertambah dari angka normal”


Sunguh pria itu menyebalkan, membuat Airyn tidak mampu berkilah lagi


“Saat aku menimbang terakir kali, beratku naik 20 kg” ucap Airyn dengan malu, membuat Zates terpana pada anaknya.


Hingga Airyn benar-benar jengkel pada pria itu, bagaimana bisa ia menampilkan raut wajah sekaget itu. “Apa kau akan menghinaku” bentaknya saat menatap tajam kearah Zates.


“Tentu tidak. Itu sangat normal, dan anakmu pasti sangat sehat” ucap Zates pada anaknya, seraya memasuki rumah bersama Airyn, bahkan baru saja Airyn masuk ke ruang tamu, mereka di suguhkan oleh Merry dan juga para pelayan yang tengah menyiapkan makanan.


“Apa kalian sudah datang? Sarapanlah?” ujar Merry pada suami dan anaknya, membuat wajah Zates memerah melihat penampilan istrinya yang terlihat sangat segar, nampak sekali ia sudah bangun dari tadi, dan sudah siap-siap.


“Sejak kapan kau bangun?” tanya Zates pada wanita itu, bahkan ia tidak ingin menatap kearah Merry. Sebab saat Zates ingin keluar menemui Airyn, ia mencium kening dan pipi istrinya seraya membisikan kalimat cinta padanya, apakah saat itu Merry sudah sadar, jika benar. Zates amat malu sekali menciumnya diam-diam.


“Semenjak Airyn keluar dari kamar mandi mungkin” seketika mata Zates membulat dengan rona merah di pipinya, jadi wanita itu sudah mendengar semuanya dan sadar akan apa yang Zates lakukan, tapi kenapa ia malah diam saja, benar-benar membuat Zates kehilangan muka.


“Ayah kenapa wajahmu memerah, apa kau sakit?” timpal Airyn pada pria itu, membuat Merry terkekh ketika membalikan badan seolah ia amat senang mengoda suaminya.


Mereka menyantap makanan dengan sebuah candaan jenaka yang di selipin Zates, bahkan baru beberapa saat saja Zates dan Airyn benar-benar memiliki kecocokan satu sama lain, seolah tidak ada ruang untuk Merry diantara mereka, apakah hal ini akan membuat Merry menaruh rasa cemburu pada darah dagingnya sendiri, tapi kenapa bisa seperti itu, benar-benar dua manusia mengerikan yang menyebalkan, kenapa Merry bisa mendapatkan kedua orang itu, bahkan ia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.