
Tadinya Merry tidak percaya kemana dirinya akan di bawah oleh pria itu, dan ternyata mereka mendarat di Irlandia hingga Merry tidak bisa menebak siapa narasumber yang di maksud oleh Zates, jika mereka berada di sini sangat mungkin Merry mengenalnya bukan, tapi siapa? Semakin berfikir rasanya Merry semakin sulit menebak, membuat Zates mengenggam tangan wanita itu untuk menaiki kendaraan yang menanti mereka, anak buah Zates telah menunggu untuk membukakan pintu untuk tuanya, namun Zates menolak sikap itu, dan memaksa seluruhnya untuk bubar, Zates menuntun Merry menaiki mobil yang mewah hingga berkelas untuk mereka tumpangi, bahkan Merry tidak mampu berargumen lagi dan memilih untuk tenang mengikuti kenapa Zates membawa kembali ke Irlandia.
Bukankah ini aneh, Merry menyadari ia berada di bawah kekuasaan Zates, tapi kenapa Merry merasa ia terasa begitu aman bersama pria ini seolah diantara mereka tidak ada hubungan yang berjarak lagi, apakah karna beberapa waktu yang sudah terjadi sebelumnya, tapi tidak mungkin Merry menjadikan itu alasan untuk menerima Zates, sebab bisa di pastikan jika dia sudah menganggap Zates lebih dari seorang kenalan atau kakak kandung dari Louis Pentrov.
Merry di hadapkan dengan beberapa anak kecil yang begitu ricuh bermain di hadapanya, mengelilingi Merry dan Zates sebagai penyambutan, bahkan memeluk pria itu dengan sikap manja yang mengemaskan, anak-anak itu dengan mata polos penuh sikap kerinduan mengerumuni Zates, meminta beberapa permen yang di milikinya, dan bahkan Zates mengendok seorang gadis kecil yang cukup mengemaskan di tubuhnya yang kokoh, tentu Merry tidak menyangka pria itu bisa memiliki sisi seperti ini, bahkan ia telah menyiapkan permen tangkai di balik jas mewahnya untuk di berikan pada anak-anak di sana, melihat interaksi itu tentu saja Merry menyimpulkan hubungan antara Zates dan anak-anak tersebut terjadi begitu akrab, sehingga mereka menyembut Zates dengan pangilan “Paman”.
Mata Merry menatap kearah bangunan sederhana yang terlihat cukup hangat, sebuah panti asuhan yang memiliki lapisan putih dengan pintu kayu yang berada di halaman depan, Merry tentu berdiri di arah halaman yang memiliki beberapa pohon besar di sampingnya, beserta taman bermain yang sudah lusuh, hal itu menandakan tempat tersebut sudah lama berdiri, sebelum ini Merry merasa tidak asing dengan tempat yang ia pijaki, namun saat itu bangunan tersebut tidak semewah hari ini, kala itu segalanya masih serba kayu dengan atap yang tidak mamadai akibat rumah tua, namun kali ini bangun itu terlihat berbeda meskipun dengan tampilan sederhana tetap saja sangat kokoh, seperti sudah di renovasi.
“Paman apa ini istrimu?” tanya seorang anak kecil yang menarik pingiran celana gantung yang Zates kenakan, tentu Merry mengalihkan pandangan pada sumber suara, sembari melihat sikap Zates yang menariknya penuh lembut untuk membisikan sesuatu.
“Benar, dia ibu dari anak paman, apakah dia cantik” ucap pria itu dengan pengucapan lambat hingga Merry mendengar dengan samar-samar.
“Cantik sekali, paman luar biasa. Kapan-kapan bawa kakak Airyn, aku tidak sabar memeluknya” balas gadis mungil yang mengemaskan itu, membuat mata Merry meredup mata seolah ia tidak percaya, seorang anak kecil sangat antusia di hadapanya mengenal Airyn, apakah Zates benar-benat mencintai Airyn, sehingga sering membicarakan tentang putrinya pada anak-anak ini, jika benar begitu. Sudah di pastikan Zates menyayangi putrinya, Merry memilih mensejajarkan diri dengan tingi gadis itu.
“Sayang, apa kau mengenal putriku Airyn?” tanya Merry dengan lembut, membuat Zates tersenyum seolah ia tidak percaya jika Merry masih tidak mempercayai dirinya akan Airyn, gadis kecil itu bernama Salsabila, tentu semua anak itu mengetahu Airyn adalah putri dari pamanya yang selalu di ceritakan, sehingga semuanya menganggukan kepala untuk membenarkan.
“Kak Airyn adalah kakak kami. Tentu saja kamu mengenalnya karna kakak adalah putri paman, dan bibi adalah istrinya. Paman bilang putri dan istrinya tidak mungkin kesini karna nasib paman sama dengan kami, tidak punya siapa-siapa meskipun memiliki anak dan istri, tapi bibi. Melihat dirimu bersama paman hari ini, Bila sangat senang sekali. Akirnya paman mendapatkan keluarganya kembali” cerocos gadis itu dengan haru, membuat Merry menatap kearah Zates yang di rasa begitu menyedihkan, apakah benar pria itu selalu melindungi mereka dari kejauhan, dan sebegitu mencintai putrinya Airyn
"Jangan terlalu di dengarkan, kadang-kadang mereka selalu pintar bersikap dewasa" putus Zates kehadapan Merry, bahkan ia tidak ingin Merry salah paham akan dirinya “Sayang, apa Bibi Lani ada di dalam” sambung Zates seketika, membuat mereka membenarkan hal itu.
Belum sempat anak-anak itu bubur, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu utama, ia mengunakan kaca mata dengan pakaian hangat di tubuhnya, tentu saja wanita itu sangat tua bahkan ia begitu berbinar menatap kearah Zates yang baru datang hari ini.
“anak-anak kembali kedalam, karna waktunya makan siang” ucap Bibi Lani kepada seluruh anak-anaknya, membuat Zates dan Merry berdiri di sana menunggu wanita itu menghampiri mereka sembari mendekatkan diri kepada Bibi Lani.
“Dasar anak yang kejam, sudah hampir satu tahun tidak pulang. Apa kau lupa jalan pulang” ucap wanita itu dengan haru, membuat Zates memeluknya dengan rindu, bahkan terlihat kedekatan diantara mereka terjalin sangat baik, Merry tidak percaya orang seperti Zates memiliki sisi ini, meskipun ia mengetahui jika Louis tumbuh di panti asuhan, mungkin panti inilah tempat Louis dan saudaranya besar, dan benar Merry memang pernah kesini, dan bertemu dengan Bibi Lani ketika 30 tahun yang lalu, siapa yang menyangka jika ada seseorang bernama Zates di lingkungan ini.
“Apakah ini Merry?” ucap Lani ketika melepaskan pelukan Zates, tentu kedua tangan beliau di genggam oleh Zates dengan hangat sembari menatap kearah Merry, membuat wanita itu terdiam saat wanita paruh baya itu mengenal dirinya.
“Iya bibi, apa anda mengingat diriku?” sontak penuturan Merry di jawab oleh Lani dengan sebuah pelukan, bahkan kedua wanita itu larut untuk waktu yang lama, mata Lani berkaca-kaca ketik melihat kehadiran Merry di hadapanya.
“Ayo masuk, di luar cuacanya sangat dingin, dan bibi ingin meyedukan kopi hangat untumu”
Seketika itu mereka menuju kedalam untuk menghangatkan tubuh, tentu saja Merry sedikit gugup ketika semua orang menghampirinya seolah mengenal Merry dengan baik, padahal Merry menyadari ia mengunjungi panti tersebut mungkin 30 tahun yang silam, tapi siapa yang menyangka mereka memperlakukan Merry dengan hangat dan berbeda.
“Anda memang secantik yang di ceritan Laos, ternyata tidak salah ia mencintai Nona Merry selama bertahun-tahun” goda pengurus panti ketika menghampiri Merry, tentu ada sikap kaku yang ia tampilkan, Merry tidak menyangka pria itu meceritakan tentang dirinya kepada seluruh keluarga di panti ini, bahkan tatapan Merry saat memandang Zates bicara dengan Bibi Lani membuat dirinya menilai berbeda.
“Orang seperti apa Zates sebenarnya? Apakah memang ada kesalah pahaman yang terjadi sehingga Merry tidak mengenali pria itu” gumanya ketika menatap kearah Zates, sadar akan tatapan Merry tentu Zates melirikan mata pada wanita yang ia cintai, membuat Merry memalingkan wajah seketika untuk melanjutkan pembicaraan dengan beberapa pengurus di sana.
“Nak Merry, silahkan nikmati beberapa potong roti dan kopi hangat” ucap Bibi Lani ketika memberikan sunguhan pada Zates dan Merry, tentu saja Merry menikmatinya dengan sikap sopan, membuat wanita paruh baya itu memandang penuh haru, bahkan matanya berkaca-kaca menatap kearah Merry.
“Kenapa kalian tidak mengajak Airyn untuk bertamu kesini. Bibi sangat merindukan Airyn, selama ini hanya Laos yang sering mengirimkan foto tentang gadis cantik itu. bibi sangat ingin menemuinya. Apa kau tahu nak, pria jahat ini melarang diriku menemui cucuku, saat itu ada undangan terbuka yang diadakan oleh perusahaan Airyn, tentu ini menyangkut sumbangan amal kepada seluruh panti asuhan. Laos dengan tegas melarangku menjumpai gadis itu, tapi diam-diam aku pergi kesana dan melihat Airyn dari arah belakang, betapa bangganya aku pada gadis itu, ia masih bisa kuat setelah kepergian pamanya Louis”
“M-maafkan aku. A-aku tidak..”
“Merry sudah mengetahui semuanya, jika bukan Louis ayah kandung Airyn, melainkan zates” ucapnya ketika melirik kearah Zates yang ada diantara mereka, tentu saja Lani merasa bingung kenapa Merry mengatakan Laos sebagai Zates
“Zates?” lirihnya dengaan bingung, saat menatap Zates untuk mendengar penjelasan atas nama panggilanya.
“Nama itu, adalah panggilan bisnisku di luar sana. Jadi tidak semuanya memanggilku dengan Laos” membuat wanita parubaya itu mengerti akan penuturan putranya.
Belum sempat mereka berbincang, seorang anak tiba-tiba menangis dari ruangan tengah, membuat pengurus panti memanggil Bibu Lani yang tengah berbincang dengan Zates dan Merry, beliau segera berdiri seperti seorang ibu yang siaga jika terjadi sesuatu dengan anaknya.
“Bibi Lani adalah wanita yang sangat baik, aku sudah menganggap beliau seperti ibu kandungku sendiri, begitupun dengan Louis, kami tumbuh di sini. Di bawah rasa kasih sayang dan pengorbanan dirinya. Wanita itu mendirikan panti ini, akibat rasa sakit yang ia terima dari keluarganya, yaitu ia di campakan oleh suaminya hanya karna tidak bisa memberikan keturuan, semenjak hari itu aku dan Louis berada di halaman rumah Bibi Lani, ia merawat kami dan juga menunggu seseorang untuk menjemput, namun tidak ada yang datang. Semenjak itu tidak ada yang menghampiri kediaman ini hingga kami berusia 1 tahun. Semenjak itu kehidupan dan segala kesedihan beliau lenyap dan Bibi Lani memutuskan menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan, dulu hanya beberapa anak yang ada disini, namun sekarang beliau telah memiliki ratusan anak di bawah nauangan dirinya. Karna itulah aku dan Louis menjadi seperti anak bagi beliau, begitupun bagi kamui berdua Bibi Lani sudah seperti ibu kandung untuk diriku. Namun semenjak Louis diambil oleh keluarga angkatnya, ia mulai tertutup dan jarang berkunjung. Dan itu adalah masa-masa terburuk yang menimpa panti ini, lantaran diancam ingin di gusur oleh pihak keluarga yang mengadopsi Louis dengan alasan pembangunan, aku sedikit marah padanya, namun tetap saja dia adikku bukan. Jadi aku dapat mengerti akan semua itu”
Zates mengehentikan penjelasanya yang mengandung banyak suka duka di masa lalu, bahkan membuat Merry seperti tidak bisa melihat kebohongan sedikitpun, kesedihan di nada bicaranya saja mampu meruntuhkan sikap waspada yang Merry berikan.
“Setidaknya, Bibi tidak berubah, bukankah itu sudah cukup untuk dirimu” sambung Merry, membuat Zates tersenyum sembari menundukan kepala menerima kepahitan.
Entah kenapa ada rasa asing yang tidak bisa di jelaskan oleh Merry, saat melihat kesedihan yang zates gambarkan, bukankah ia sangat membenci pria itu bahkan ingin sekali Merry menghancurkan dirinya sebab telah menipu dan juga menyiksa Airyn dengan surat kontrak, tapi kenapa kali ini Merry tergugah dengan kesedihan yang Zates ceritakan, rasa sesak apa yang menyulitkan dirinya ketika memandang pria itu, bahkan ketika Zates menundukan kepala seolah pasrah atas apa yang menimpa.
Merry mendekatkan diri tanpa berfikir, jemarinya mengusap lembut tangan Zates untuk menenangkan, seolah Merry harus melakukan hal ini untuk rasa kasihan yang ia rasakan pada pria itu, di balik kehidupanya yang luar biasa kejam dan menabjubkan tetap saja ia hanya seorang pria biasa yang hidup di panti asuhan sederhana, Merry tidak mengerti hal apa yang meruntuhkan pertahanan dirinya, namun sebagai ayah dari Airyn bukankah Merry wajar melakukan hal ini untuk menguatkan pria itu, toh selama ini Zates telah melakukan banyak hal untuk Merry, bahkan ia mencurahkan kasib sayang dengan berlimpah, jadi untuk mengenggam tangan Zates agar pria itu tidak bersedih lagi, Merry menganggap keputusan yang ia lakukan tidaklah salah.
“merry--” lirih pria itu ketika melihat inisiatif Merry menyentuh jemarinya, namun apa maksud dari sikap wanita itu, apakah ini menjadi pertanda jika Merry telah meruntuhkan dinding pembatas diantara mereka, atau ini sebagai pertanda jika Merry mulai menerima kehadiran dirinya, atau apakah ini sebagai langkah awal untuk hubungan keduanya.
Terlalu larut dalam pemikiranya, Zates malah merasa sebaliknya, ia begitu senang hingga sulit terdefenisikan, perasaan yang bertahun-tahun lamanya di sembunyikan dan kali ini di ketahui oleh wanita itu, bahkan Merry sudah menatap Zates bukan seperti menatap Louis namun malah sebaliknya, ia menatap Zates memang seperti dirinya, bahkan di tahap itu saja Zates sudah sangat bahagia, namun kali ini ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.
Zates memeluk Merry dengan sayang dan hangat, ia meleburkan tubuh Merry untuk mendarat di dada bidangnya, memeluknya dengan hangat sembari menghadirkan rasa sayang, jika bisa Zates ingin memberikan sebuah pelukan yang menyatukan tubuh mereka tanpa berpisah, seolah ia tidak rela jika wanita itu pergi atau melepaskan diri dari dirinya lagi.
“Z-zates,,, kau menyakitiku” lirih Merry ketika memperingati Zates, membuat pria itu sadar jika tubuh Merry hanyalah tubuh wanita biasa yang bisa remuk jika ia mengunakan kekuatan dalam memeluknya.
“Naafkan aku…aku terlalu bahagia untuk hari ini” balas Zates dengan sikap manja, membuat pipi Merry merah padam hingga sulit berkata, apakah ia benar-benar berdebar untuk pria itu, atau hal ini adalah sesuatu yang biasa lantaran interaksi diantara lawan jenis.
“Apa kau bisa mendengar detak jantungku?” ucap pria itu dengan malu ketika menengelamkan wajah di permukaan bahu Merry, tentu saja Merry merasakanya, namun dadanya juga bergemuruh hebat sehingga terkomplikasi dengan rasa gugup yang melingkari kedua pasangan itu.
“Zates, lepaskan aku. Aku tidak bisa bernafas karna kau memeluku seperti ini” pinta Merry denga sangat, sebab di usia yang hampir menua ini, sangat tidak mungkin jantungnya dibiarkan berdebar, sebab tidak merasa baik bagi kesehatan Merry sendiri.
“Maaf aku terlalu senang” Zates melepaskan Merry, sehingga kedua mata Merry saling menatap, alih-alih mengatakan sesuatu, keduanya malah saling membuang pandangan.
Zates yang selalu suka bicara tanpa tahu malu, kali ini malah gugup hingga sulit mengendalikan diri, begitupun dengan Merry yang hampir sama dengan pria itu, ia memilih menyeruput kopi hitam yang hampir dingin di cangkir tersebut, membuat Zates mengikuti apa yang di lakukan oleh Merry, sembari memungungkan diri secara bersamaan.