Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Sudah sampai disini



Malam harinya Hansell sampai di Villa, ia melihat Airyn menunggu didepan pintu rumah, tentu membuat Hansell merasa bersalah, sudah jelas gadis itu tengah menunggu dirinya


“Kenapa kau lama sekali pulangnya?” tanya Airyn dengan penuh cemas, membuat Hansell menjatuhkan tubuh ke gadisnya, untuk menghilangkan rasa beban dan capek, mendengar suara mobil Angel keluar menghampiri kakaknya, ia bersirobok dengan dua pasangan yang tengah berpelukan


“Astaga...maafkan aku” umpat Angel, seolah memutar arah memasuki Villa, tentu saja Airyn merasa canggung dan gugup hingga ia mendorong jauh tubuh Hansell “Hansell!! Angel melihat, kau ini” gerutu Airyn dengan takut, membuat Hansell mengulas senyum penuh hiburan


“Kenapa memangnya” pria itu seolah tidak peduli dan mengajak Airyn memasuki Villa, didalam Angel tengah duduk diruang tamu, ia berdiri dari duduk saat pasangan itu menghampiri, Angel menyapa kakaknya untuk memberikan pelukan rindu.


“Kakak aku tidur disini ya” pinta Angel kepada Hansell, bahkan ia merengek untuk direstui akan permintaan tersebut, melihat Angel yang bergelendotan Hansell membolehkanya tinggal di Villa, bagaimanapun Hansell memahami pasti adiknya tengah kesepian


“Benarkah? Terima kasih kakak, akirnya Angel tidur dengan kak Airyn” Angel begitu girang beralih ketubuh Airyn dan memeliknya, ia sangat senang bisa tidur dengan Airyn, tentu kedua pasangan itu terlihat berat namun bagaimana lagi kenyataan mereka bukanlah suami istri tidak ada hak untuk Hansell melarang


Dikamar Angel sangat cepek hingga beberapa detik saja terbentang diatas ranjang ia langsung terlelap, bahkan baru saja lampu dimatikan, ia telah memejamkan mata sambil menghadap kearah Airyn, sedangkan Hansell yang baru saja selesai menyegarkan diri, melirik keatasa ranjang yang sangat sepi, biasanya ia melihat Airyn disana membuat Hansell langsung merangkak dan memeluk gadis itu, kali ini ia terpaksa menahan rindu dan diri, karna Hansell harus rela berbagi dengan Angel.


Entah kenapa sedari tadi ada rasa aneh yang selalu menganggu, mengantarkan Airyn untuk sulit memejamkan mata, ia mendudukan diri sambil melirik kearah Angel yang tertidur pulas disampingnya, Airyn menyadari ia tidak akan bisa tidur kembali jika belum bertemu dengan Hansell.


Gadis itu melangkah keluar kamar, ia melirik kearah dapur untuk mencari sesuatu agar bisa diminum, saat Airyn memasuki dapur ia malah bertemu dengan Hansell yang duduk dimeja makan seorang diri, ditemani dengan sebuah minuman kaleng disana, mata mereka berdua saling menatap, seolah tidak bicara namun tengah mengerti satu sama lain


“Apa kau sulit tidur?” sapa Hansell, kearah wanitanya, membuat Airyn menganggukan kepala, seraya beralih kelemari es, guna mencari susatu untuk diminum, setelah selesai akirnya Airyn mendudukan diri dihadapan Hansell


“Apa yang kau fikirkan?” tanya Airyn kepada pria itu, membuat Hansell terdiam sambil menatap dalam kedua mata Airyn “Apa kau menemui Merry?” sambung Airyn dengan nada datar, seolah tanganya dengan cekatan membuka minuman kaleng lalu menegguk secara rakus


“Apa kau mengikutiku?’ tuduh Hansell dengan gamblang, tentu saja ia telah melakukan pertemuan yang begitu private hingga sulit diketahui, namun Airyn yang hanya berada dirumah langsung menembak dirinya dengan sebuah pertanyaan yang retorika, seolah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban Hansell karna Airyn telah mengetahuinya


“Tidak, untuk apa aku mengikutimu dengan keadaan seperti ini” saut Airyn dengan singkat sambil menatap kearah Hansell dengan wajah serius “Dan jika kau berfikir, aku mengutus orang lain untuk mengikutimu, tentu saja itu tidak mungkin. Sebab kau tahu sendiri, apapun perintahku itu selalu melalui Merry, sedangkan sekarang aku enggan bertemu dengannya” jelas Airyn sambil meneguk minuman kaleng dihadapanya, membuat hansell menyipitkan mata akibat binggung


“Lalu bagaimana kau mengetahuinya, apa kau menebak saja?” tanya Hansell


“Tentu saja, kau fikir dirimu bisa berbohong padaku, aku sangat mengenal dirimu Hansell, aku yakin kau keluar hari ini bukan untuk sebuah pekerjaan, tapi untuk menemui Merry dan menagih jawaban, apa hal yang lebih penting jika bukan tentang masa lalu kita yang berkaitan. Kau fikir aku tidak mengetahui semuanya? Aku sudah paham ini dari awal, hanya saja aku tidak siap menghadapi kenyataan, aku tahu Merry adalah ibu kandungku tapi aku tidak bisa menerima itu, dan aku tahu, ibumu adalah Charmmila Damon yaitu kembaran ibuku bukan. Aku tahu tentang kematian keluarga kita dan keluargamu, aku paham tentang bagaimana Merry dimasa lalu, hanya saja aku tidak siap menghadapi kenyataan ini, dan mendengar jawaban darinya, karna itulah aku lari dan mengasingkan diri” tutur Airyn dengan penuh serius, membuat Hansell terdiam tanpa kata. Ia bahkan bersusah payah menyembunyikan semuanya, namun Airyn malah mengetahui dengan mudah, gadis dihadapanya ini mengatasi sesuatu dengan caranya sendiri, membuat Hansell tertegun melihaat sikap melarikan diri yang Airyn lakukan, meskipun saat ini Airyn tidak mampu menerima kenyataan, Hansell yakin sikap ini adalah cara untuk mengobati rasa sakitnya sendiri, hingga nanti Airyn akan kembali dan menyelesaikan semuanya


“Jika kau sudah mengetahui semuanya, apa kau yakin menolak Merry, bagaimanapun….” Seketika kalimat Hansell terhenti saat mata Airyn menatap ganas kepadanya “Airyn, aku tidak akan memaksamu. Tapi sayang, kau tidak bisa menolak fakta, kadang kita tidak perlu menerima tapi cukup untuk memahami” tutur Hansell sambil mengenggam tangan Airyn dari arah depan, kedua mata gadis itu melihat kehagatan secara nyata, namun entah kenapa Airyn tidak bisa menerima apa yang Hansell ucapan, ia menarik tanganya untuk menyelipkan rambut ditelingga, membuat Hansell menyadari jika Airyn tengah kesal atas ucapan yang ia lontarkan barusan.


“Aku tidak tahu, apakah sikapku salah atau benar, yang jelas saat ini aku tidak ingin menghadapi Merry, aku ingin sendiri, aku ingin sedikit menepi dari permasalah rumut ini, aku sadar jika Merry sudah menjadi ibu yang baik untukku selama ini, bahkan jika dibilang ialah yang selalu ada disampingku dan tidak meninggalkanku, tapi ada hal-hal yang tidak bisa aku terima dari semua ini, yaitu kebohongan. Dengan terus disampingku, merawat, menjaga, mendidik, dan mengajariku cara bertahan itu semua sangat menyakitkan Hansell, ia dengan tega bersikap seperti orang asing tanpa memberitahuku sebuah kejujuran, kenapa? Kenapa dia melakukan semua itu? apa dia senang membahagiakanku dengan kebohongan? Atau memang aku digunakan untu suatu tujuan? Apa niatan dia sebenarnya hingga menyembunyikan fakta sebesar ini”


“Airyn, ada yang ingin aku sampaikan” tutur Hansell, sebab ia merasa Airyn perlu tahu tentang ibunya, gadis itu yang tadinya menekuk wajah, menghadap untuk menantang Hansell, sebab Airyn ingin mengetahui hal apa lagi yang harus diketahuinya


“Aku memang bertemu dengan Merry, namun…diluar dugaanku, Merry memiliki serangan panik hingga ia tidak sadarkan diri” seru Hansell dengan nada rendah penuh rasa bersalah


“apa!” bentak Aryn dengan tidak percaya, rasanya darahnya terhenti hingga sulit mengendalikan diri, Airyn tentu masih peduli meskipun rasa kecewa sangat besar pada wanita itu, mendengar apa yang diucapkan Hansell, Airyn seperti diberikan kejutan paling menyakitkan “Apa yang kau katakan padanya!!!” bentak Airyn dengan marah, seolah ia mengetahui jika memaang Merry memiliki serangan panik, bahkan Airyn semakin tidak menyangka jika wanita itu hilang kendali, sebab selama ini Merry selalu pandai mengendalikan diri dan mengontrol emosi


“Maafkan aku Airyn” lirih Hansell dengan nada bersalah, membuat Airyn memejamkan mata dengan geram, ia meremukan kaleng yang ada digenggamanya, hingga Jansell cemas tanpa mampu disembunyikan “Apa yang kau lakukan” Hansell sedikit berteriak karna kaleng minumanan itu melukai sedikit tangan Airyn hingga mengalir darah dari sana, dengan cepat pria itu menjangkau tangan kekasihnya, namun Airyn menepis


“Jangan sentuh aku” ia beranjak dari sana, dan menuju kearah kamar dengan cepat, Hansell yaang tertegun dengan sikap Airyn, menatap panjang seoalah tidak menyangka, dengan cepat Hansell mengikuti langkah Airyn dari belakang


“Airyn apa yang kau lakukan, ini sudah malam. Kau mau kemana” seru Hansell dengan cemas, sebab gadis itu tengah mengunakan jaket tebal seperti bersiap-siap untuk pergi


“Lepaskan aku, kau fikir aku mau kemana. Malam malam seperti ini. Ha!” gadis itu membentak Hansell berulang kali, seolah emosinya sulit dikendalikan


“Kita bisa menemui merry besok hari, lagian ia tengah dalam perawatan. Tenanglah” tutur Hansell sambil mengenggam tangan gadisnya, namun berulang kali Airyn menepis, bahkan saat Hansell ingin memeluk Airyn mendorong jauh tubuh pria itu


“Lepaskan aku, jangan sentuh-sentuh aku. Aku sudah bilang untuk tidak usah ikut campur, tapi kau malah menghancurkan semuanya, jika terjadi sesuatu dengan Merry bagaimana? apa kau mau membunuhnya!” airyn melemparkan pernyataan yang begitu menyakitkan, mengantarkan Hansell untuk tersadar akan posisinya


“Aku minta maaf, jika tindakan yang aku lakukan diluar kendali. Tapi kau tidak bisa seperti ini. Cobalah berfikir tenang” tutur pria itu berharap perkataanya dapat meredakan emosi Airyn


“Tenang!! Disaat seperti ini kau menyuruhku untuk tenang, padahal selama ini aku sudah tenang, aku diam, dan menjauh dari semua masalah, aku ingin menenangkan diri, tapi kau mengusik semuanya, kau ingin tahu dan ikut campur hingga semuaanya berantakan, jika saja kau tidak menemui Merry, dan berdiam diri disini, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi, apa yang kau mau. Ha!!! Apa kau mau menjadi malaikat! Apa kau mau menjadi pahlawan! Bahkan untuk mengurus hal seperti ini saja kau tidak bisa, dan lihat apa yang kau lakukan. Kau menghancurkan semuanya, jika terjadi sesuatu dengan Merry, aku tidak akan pernah memaafkanmu Hansell. Bahkan sekalipun aku mencintaimu, aku akan membunuh perasaan itu jika diperlukan. Aku sudah bilang bukan, kau tidak perlu ikut campur, kau tidak perlu membantu, karna aku yakin. Kau akan menghancurkan semuanya” bentak Airyn dengan tidak tahan lagi, semua gundah dan rasa kesal tercurahkan sudah, hingga Hansell teridam tanpa mampu berkata, ia menjatuhkan tanganya yang tadi menjangkau gadis itu, Hansell mundur dari hadapan Airyn, seolah itu menjadi pertanda, jika dirinya dipaksa untuk pergi, hingga perkataan Airyn menjurus pada Hansell yang tidak tahu diri.


“Apa aku sebegitu tidak bergunanya dimatamu, apa aku tidak bisa membantumu, apa aku selemah itu? apa aku tidak berarti? atau apakah selama ini aku tidak tahu diri? Jika dimataku aku seperti itu, lalu untuk apa kalimat cinta yang kau berikan selama ini? Kalimat, hanya akulah laki-laki satu-satunya yang ada didunia. Jika aku tidak berguna, kenapa kau mempertahankan laki-laaki tidak berguna seperti aku? Aku minta maaf atas kesalahan ini, aku sangat bodoh dan ceroboh yang tidak bisa melakukan segala sesuatu sesempurna dirimu. Tapi aku hanyalah manusia biasa, aku ingin menjadi laki-laki yang berguna untukmu, aku ingin memebebaskanmu, tapi jika dimatamu aku tidak berarti, aku harus bagaimana lagi. Apakah aku harus pergi?” Hansell bersusah payah mengucapkan kalimat itu, yang sangat menyakiti diri dan hatinya, bahkan menampar habis harga diri Hansell sebagai seorang pria, yang lebih menyakitkan lagi kata-kata ini dilontarkan oleh wanita yang sangat ia cintai, wanita yang ingin ia lindungi dan hargai, namun dimata Airyn, apapun yang Jansell lakukan tidak berharga sedikitpun


“Aku hanya ingin menyadarimu, tentang kita memiliki kapasitas masing-masing, sedari awal kau tidak seharusnya jatuh keduniaku, sedari awal aku tidak ingin membawamu kesini, tapi kau selalu memaksakan diri seperti seorang pahlawan, kau fikir aku terima dengan semua ini, aku sama sekali tidak ingin kau menjadi seperti diriku, cukup kau menerima masa lalu dan diriku dengan apa adanya, itu sangat cukup bagiku. Tapi kau selalu saja melampaui hal itu, hingga lihat sekarang, apa yang terjadi? Kau menghancurkan nya, disaat kau gagal, kau menyalahkan aku yang selalu merendahkanmu, padahal perkataan ini adalah bentuk untuk menyadarkan dirimu. Tapi apa? Semuanya sudah jadi begini. Hubungan kita seakan tidak bisa diperbaiki, kau telah kecewa pada diriku yang terluka melihat kegagalanmu. Jika saja sedari awal aku tahu kau selemah ini memadang dirimu sendiri, aku menyesal pernah membiarkanmu hadir dihidupku, Hansell” lirih Airyn, membuat Hansell semakin mengerti, jika sedari awal hubungan mereka adalah bentuk pemaksaa yang selalu Hansell lakukan


“Jika sedari awal, aku tahu akan seperti ini, aku mungkin tidak ingin ikut campur masalahmu Airyn, tapi aku terlanjur mencintaimu, hingga aku lupa untuk melihat keterbatasanku sendiri, aku minta maaf telah merusak semuanya, aku minta maaf akibat ketidak becusanku dalam ikut campu semuanya menjadi berantakan, aku minta maaf menjadi orang yang tidak berguna untukmu. Tapi, jika aku memiliki kesempatan untuk kembali kemasa lalu lagi, aku tetap melakukan hal yang sama, karna aku mencintaimu, aku minta maaf telah menjadi laki-laki tidak berguna” Hansell undur diri untuk pergi, meninggalkan Airyn yang tidak mampu mengucapkan apapun


“Hansell…..” Airyn menyerukan nama pria itu dengan berat, ia mungkin akan menyesali ini, tapi Airyn percaya keputasan ini adalah yang terbaik, untuk melindungi Hansell, pria itu sedikit menoleh, menunggu Airyn untuk menuturkan perkataan, yang sebenarnya telah ia duga “Aku rasa, hubungan ini kita sudahi saja, karna aku tidak ingin menjadi beban hidupmu lagi” senyum penuh ironi tertampil dengan rasa pilu yang mencabik-cabik hati, kalimat pendek namun mengikis semua perasaan cinta, seolah memberhentikan aliran rasa yang begitu dahsyat dimilikinya, Hansell berlalu membuka pintu kamar, dengan jemari bergetar memaksakan hati untuk pergi, meskipun ia tidak mengucapkan permisi itu semua karena hati yang tidak ingin pergi


Laki-laki yang masih dicintainya dengan sangat itu, telah pergi dan hilang dibalik sana, membuat Airyn merasakan sakit akibat keputusan yang baru saja ia lontarkan, meskipun kali ini ia memutuskan disaat kecewa, emosi dan terluka, tapi keputusan ini adalah opsi lama yang selalu menjadi jalan keluar, hanya saja Airyn memaksakan diri untuk bertahan.