Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Cinta tertinggi



Hansell mengembalikan tubuhnya diposisi semula, ia tertawa renyah karna berhasil mengintimidasi Nona Petrov, membuat Airyn mengkerutkan kening melihat sikap menyebalkan yang baru saja ditampilkan Hansell


“Apa kau mempermainkan ku” bentak Airyn dengan kesal, disusul tatapan tajam yang menyiaratkan Hansell untuk mempedulikan pertanyanya


“Tidak, aku tidak main-main” lirih Hansell ketika melirik kepada gadisnya “Aku sedang mengodamu” tuturnya dengan mengejek, membuat Airyn menepuk pundak Hansell diiringi pekikan kecil dari pria itu


“Kenapa kau malah memukulku?” tanya Hansell dengan binggung, sedangkan Airyn benar-benar kesal atas apa yang diperbuat Hansell barusan


“Kau masih bertanya kenapa aku memukulmu, seharusnya kau tau alasannya. Mengapa kau selalu mengintimidasi ku, hanya karna aku mencintaimu, kau malah sesuka hatimu menjadikan itu senjata. Wah…Tuan Hansell Hamillton anda benar-benar luar biasa” balas Airyn dengan kesal, seolah ia malas sekali melihat wajah menyebalkan dari pria itu


“Tidak sayang, aku hanya memperingati kekasihku” tuturnya, seolah Hansell biasa saja akan sikap menyebalkan yang ia berikan. Dengan cekatan Hansell meraih settbell yang ia lepaskan dari tubuh Airyn, pria itu melingkarkan settbell tersebut untuk melindungi gadisnya. Ia melampirkan senyum manis untuk memperbaiki kekesalah Airyn, namun gadis itu bersikap malas untuk membalas Hansell


“Apa kau marah? Begitu saja marah” gurutu Hansell tanpa sadar, membuat kuping Airyn kepanasan


“Apa kau bilang, begitu saja marah?” bentaknya dengan meninggikan nada, seolah Airyn mengulang kembali perkataan Hansell barusan


“Tidak, aku tidak mengatakan apapun, kau salah dengar” tuturnya dengan gugup, membuat tatapan Airyn mengancam kepada Hansell, tentu ada takut ketika melirik mata itu, membuat tubuhnya bergindik, Hansell berdehem untuk memperbaiki diri “Maafkan aku” ucap Hansell sekali lagi dengaan kalimat takut


Airyn membanting tubuh dengan kasar, ia mengalihkan pandangan ke arah luar, seolah Airyn benar-benar malas dengan Hansell, baru saja ia bermanja-manja dengan pria itu namun perdebatan sering mengantarkan mereka kepada pertengkaran, benar-benar sebauah mood yang memperburuk suasana, sesekali Hansell melirik kearah samping, memperhatikan Airyn yang setia dengan posisi diam, mengalihkan pandangan keluar jendela tanpa melirik sedikitpun, hingga pria itu menjadi gusar tanpa mampu menangulangi keadaan, berulang kali Hansell ingin menyapa namun ia mengurungkan niat, sampai diperjalanan pulang hanya sunyi terbentang diantara dua pasangan.


Biasanya Airyn duduk manis menunggu Hansell membukakan pintu mobil untuknya, seperti sang pangeran yang menanti tuan putri, namun kali ini Airyn dengan cepat mendahului langkah Hansell, hingga ia tidak bisa berkata apa-apa selain menatap Airyn yang menjauh pergi memasuki Villa


“Apa dia benar-benar marah, astaga gadis itu” umpat Hansell dengan kesal, ia mengejar langkah Airyn, dengan cepat Hansell menelurusi seluruh bagian mencari keberadaan Airyn, tentu tempat pertama yang ia tuju adalah kamar mereka yang tidak jauh dari arah depan, Hansell membuka kamar namun yang ia temukan hanyalah kekosongan, sembari menutup kembali pintu tersebut ia mengalihkan pandangan kearah dapur yang ada di sebelah kiri kamar.


Dengan cepat Hansell memasuki dapur minimalis yang terlihat berkelas, dengan nuasa putih dan silver ditambah perlengkapan masak yang tertara, Airyn tengah menghidupkan kompor sambil mendidihkan air dipanci tersebut, ia terlihat kesulitan memutar knop kompor, membuat Hansell menghampiri dengan segera, sambil membantunya, tentu dari arah belakang pria itu seperti merangkul gadisnya, namun Airyn hanya diam tanpa mengucapkan kata apapun


“Apa kau benar marah padaku?” tanya Hansell sekali lagi, namun Airyn mengabaikan kekasihnya, entah kenapa ia enggan sekali untuk bicara “Astaga, sayang. Aku minta maaf jika menyinggung mu” tutur Hansell seketika, namun Airyn beralih kearah lain untuk mengambil pisau, tentu Hansell masih mengikuti gadis itu “Maafkan aku ya..” lirih Hansell dengan wajah menyedihkan yang begitu natural ia tampilkan, membuat Airyn menatap sinis pada pria menyebalkan itu, kedua mata mereka saling menatap, yang satu memberikan senyuman manis yang satu memancarkan sinis, Hansell tidak akan menyerah sebelum Airyn memaafkan nya


"Jika kau tidak suka padaku, katakan saja. Tidak perlu mengumpat seperti itu” sindirnya dengan nada kurang enak didengar, membuat hati Hansell berdenyut seolah kata-kata Airyn menancap kepada ulu hati terdalam.


“Kapan aku mengumpat?” tanya Hansell dengan binggung, membuat Airyn menajamkan mata kearahnya “Bahkan ia tidak ingat jika tengah mengerutu” gumam gadis itu dengan kesal, Airyn ingat jelas bagaimana raut wajah menyebalkan Hansell mengerutu kepadanya, membuat gadis itu tersinggung meskipun sebenarnya hanyalah masalah sepele


“Entahlah, aku kesal sekali padanya. Aku juga tidak tau kenapa aku sekesal ini. Intinya Hansell benar-benar menyebalkan” gerutu Airyn didalam diamnya, ia masih setia didepan air yang tengah dipanaskan, dengan cekatan Airyn mengeluarkan 2 bungkus mie instan dari kantong belanjaan, sebelumya Airyn belum pernah menyedu mie instan, ia hanya melihat di televisi dan iklan, tentu secara alamiah ia sedikit binggung bagaimana cara memasaknya, Airyn membaca cara memasak yang tertera dikemasan, membuat dia mempelajari pelan-pelan


“apa kau tidak tahu cara memasaknya?" tanya Hansell yang setia berdiri disamping Airyn, memecah fokus gadis itu, sekali lagi ia merasa terhina akan pria yang paling menyebalkan didunia, apapun yang keluar dari mulut Hansell membuat Airyn tergoda untuk mencakar habis, namun sekali lagi ia sadar jika pria itu, adalah pria yang ia cintai


“Lalu kenapa? Apa masalah mu” bentak Airyn membalas perkataan prianya, tentu Hansell tertegun mendengar nada tinggi yang dilontarkan Airyn.


Membuat pasangan itu sama-sama diam dengan posisi canggung, yang satu merasa bersalah karna membentak dengan kesal, yang satu merasa takut karna memancing keributan, keduanya mengalihkan wajah kelain arah, Hansell menjauh dari Airyn dan mendudukan diri di meja makan, sedangkan Airyn melanjutkan kegiatan, ditengah aktivitas masing-masing dua-duanya saling merenung, seolah introspeksi akan diri masing-masing.


“Kenapa aku harus membentaknya” gumaam Airyn dengan kesal, sesekali matanya melirik kepada Hansell yang duduk tenang di meja makan


“Apa aku kelewatan?” tanya pria itu kepada dirinya sendiri, seolah ia benar-benar menyesal telah menjadi pria menyebalkan.


Tak lama kemudian, Airyn menyelesaikan masakanya, ia menuangkan mie tersebut ke dalam mangkok yang sudah ditata, Airyn mengisi miliknya dan Hansell.


Dengan ragu Airyn mempersiapkan diri menyuguhkan makanan tersebut untuk pria itu, semoga saja suasana asing ini dapat mengalir dan cair


“Makanlah” sodor Airyn dengan kalimat dingin, membuat Hansell menganggukan kepada dengan cepat, ia mengambil perangkat makan untuk mengaduk mie instan, Hansell memperhatikan visual makanan yang dibuat Airyn, sangat aneh dari biasanya, namun ia percaya akan kemampuan memasak gadisnya, tentu dengan tergesa Hansell menyuap mie itu kemulutnya, seperti biasanya Hansell tertegun dan diam, rasa ini benar-benar diluar dugaan Hansell


Seketika Airyn mengulas senyum dibibir dengan menariknya secara pelan, ia memberi jeda kepada mie tersebut agar sedikit dingin, karna Airyn tidak terbiasa mengunyah makanan dikeadaan panas.


Hansell yang terpaksa senyum atas sendokan yang disodorkan kedalam mulutnya, memanjakan Airyn akan kemampuan memasaknya. Meskipun ada rasa aneh dan muak yang semakin memuncak, membuat Hansell benar-benar berusaha keras untuk menahan, sepertinya Airyn sangat salah dalam langkah pembuatan, ini adalah mie goreng yang ia sajikan menjadi mie rebus, airyn terlalu matang dalam memasak mie hingga kekenyalanya membuat sensasi aneh jika dicicipi, bahkan terlihat mie itu hampir mengembang dari mie biasanya, dan kesalahan fatal disini, Airyn melupakan beberapa bumbu untuk ia campurkan didalam sini, yang membuat hidanganya menjadi mie terburuk yang pernah Hansell cicipi.


Setelah melihat mangkok Hansell yang beranjak habis, Airyn mengaduk mie yang ada dimangkoknya, membuat keringat Hansell menetes takut, dia sangat gugup akan respon yang Airyn tampilkan, seolah bom atom benar-benar meledak dipermukaan meja makan


“Tunggu” bentak Hansell seketika, membuat Airyn menghentikan suapan yang hampir masuk kedalam mulutnya, Airyn melirik dengan binggung, entah kenapa ia menunggu Hansell menjelaskan maksudnya


“Hmm…sayang” Hansell memberikan jeda karna ia merasa binggung harus mengucapkan apa, sangat aneh jika ia harus mengambil alih mie tersebut, karna rasanya Hansell benar-benar tidak mampu untuk menelan lagi


“Kenapa?” tanya Airyn dengan binggung, bahkan dirinya hampir saja kesal, melihat raut wajah takut dan diam, Airyn melirik kearah mie yang ada ditangan nya, ia mulai curiga akan sikap aneh yang ditampilkan Hansell,secara perlahan Airyn meletakan kembali mie itu didalam mangkok, ia mengambil sendok untuk menukar sumpit yang tadi ia kenakan, Airyn mencicipi kuah yang ada didalam mangkoknya, sesuai dugaan ini sangat hambar dan aneh untuk lidahnya, bahkan dengan rasa bersalah Hansell memejamkan mata, ini akan menjadi peperangan lagi.


Seklai lagi Airyn mengkerutkan kening karna tidak suka, ia menyendokan mie yang sedari tadi ingin dirasa, Airyn benar-benar dibuat kecewa dan malu. Ia sangat tidak suka dengan sajian yang barusan ia buat


“Rasa apa ini” bentak Airyn dengan kesal, ia beralih mengambil air putih untuk meneguknya dalam-dalam, membuat Hansell benar-benar takut menunggu evalusi dari kekasihnya.


“Tamatlah riwayat ku” batin Hansell dengan gusar


“Astaga, bagaimana bisa kau menghabiskan mie dengan rasa aneh ini” betak Airyn dengan kesal, tentu ia sangat kecewa kepada pria itu


“Maafkan aku” lirih Hansell dengan rasa bersalah, ia menundukan kepala dengan takut, sebab ia juga salah tidak memberitahu dengan jujur, padalah Hansell mengetahui jika Airyn menyukai kejujuran atas masakannya, namun kali ini Hansell berbohong, tentu ini bukanlah masalah kecil yang bisa dimaafkan,


Melihat sikap pengecut dari prianya, ada bagian hati yang tersentuh hangat, seolah Hansell benar-benar membuat Airyn tidak menyangka, bagaimana pun pria itu menghargai apa yang dibuat oleh Airyn, meskipun ini pertama kali bagi Airyn membuat mie instan, namun pengalaman pertama inilah yang paling berkesan dihidupnya, kadang kita perlu berbohong untuk menghargai perasaan seseorang.


“Hahahahahha” tawa renyah itu tertampil diwajah Airyn, seolah kebahagian tidak bisa ia sembunyikan, Airyn menepis air mata yang mengalir akibat tawanya, tentu saja Hansell merasa binggung, namun tawa Airyn benar-benar menenangkan perasaan, tawa itu lambat-lambat menjalar diantara mereka, membuat keduanya saling saut-sautan dalam menghina dan mengejek, suatu perasaan yang benar-benar membahagiakan, membuat Airyn tidak akan bisa menemukan laki-laki lain seperti Hansell.


“Astaga, kenapa kau menghabisi rasa aneh seperti itu” ejek Airyn dengan tawa renyahnya


“aku takut sekali mengkritik masakan Nona Petrov, karn aku yakin Nona Airyn sangat handal dalam memasak, jika ini pertama kalinya bagi Nona Petrov memasak aku sangat tersanjung akan kemampuannya” ledek Hansell kepada Airyn


“apa kau bilang” bentak gadis itu dengan geram, membuat Hansell mengulas senyum sambil mendekati kekasihnya, ia memeluk Airyn dengan sayang, seolah tak henti untuk mencium pipi Airyn.


“sudah berapa kali kau membentaku sayang, jika dibiarkan ternyata dirimu menjadi berani dan sulit dikendalikan” balas pria itu sambil mengelitik pinggul kekasihnya, membuat Airyn mengeliat geli akan perlakuan yang Hansell berikan


“Lepaskan aku” teriknya dengan kesal, seolah Airyn semakin tidak mampu menahan


“Rasakan ini”


“Rasakan”


Berulang kali Gansell memberikan candaan yang membuat Airyn terjingkrak-jingkrak, hingga mereka berdua saling bergurau ditengah Villa yang sepi, keduanya saling mengejar dan berlari, seolah Hansell tidak ingin kalah dan Airyn harus melarikan diri, mereka berakir disofa yang ada diruang tamu, bagaimanapun nafas keduanya sangat sesak akan lelah, memaksa keduanya mengistirahatkan tubuh disana, didalam posisi menempel dan berpelukan dengan lebih tepatnya airyn berada diatas dada bidang Hansell, membuat keduanya semakin berdebar, tak henti tatapan itu saling mengoda dan menyauti, membuat Airyn tertawa renyah dan disambut oleh Hansell, secara perlahan jemari Hansell, mengusap rambut Airyn yang terurai indah, disusul senyum bahagia untuk mengoleskan ciuman di kening, melihat sikap manja yang diberikan Airyn, ia tidak sungkan menengelamkan kepala kedada kekasihnya, Airyn benar-benar dibuat bahagia, karna tubuh inilah yang menjadi sumber kenyamanan dan damai dirinya


“Aku mencintai mu” seru Airyn dengan malu, membuat Hansell membalas kata itu beserta kecupan di pucuk kepala Airyn “Aku mencintai mu, Airyn”


Mereka berdua terkekeh sambil mengeratkan pelukan, entah kenapa ini kesekian kalinya pasangan itu menyatukan degupan jantung yang bergemuruh, mengantarkan cinta diatas puncak tertinggi, untuk saling menerima tanpa harus merubuh, segala hal sudah diterima dari pasangan masing-masing, entah itu keburukan, kebiasaan, dan hal-hal paling menyebalkan, mengantarkan mereka menjadi orang paling bahagia jika telah selesai dengan kesalahpahaman itu, siapa wanita yang paling bahagia, tentulah Airyn, siapa laki-laki paling bahagia, tentulah Hansell, karna puncak cinta tertinggi adalah, dimana dua orang saling menerima tanpa mau merubah.