Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Bertamu



Frada dan Dikra berada di kamar mereka masing-masing, dalam beberapa hari ini Frada mendiamkan Dikra yang tinggal satu atap ditempat persembunyian mereka. Hal ini terjadi karna sedari awal mereka bersama-sama untuk mencapai tujuan, tapi Frada di khianati oleh pria brengsek seperti Dikra, tentu ia tidak bisa menerima hal ini, dan Frada amat kecewa terhadap Nona Petrov, seolah lepas tangan akan tanggung jawab yang ia janjikan.


Beberapa waktu belakang Frada telah mengetahui semuanya, ia telah mengetahui jika Hansell adalah sepupu kandungnya, jika dikualifikasikan pria itu jatuhnya keponakan Frada sendiri, serta Griffin yang sudah menghilang dari penjuru bumi manapun, membuat Frada amat geram dan kesal.


sekalipun Frada menyelusuri lubang tikus , ia tidak mampu melacak keberadaan pamanya, hal ini membuat gadis itu amat murka, hingga terjadi beberapa baku hantam antara dirinya dan Dikra, beruntung pria itu mengalah dan mengakui kesalahan sebab menyembunyikan semua fakta ini, tapi tetap saja Frada tidak bisa memaafkan pengkhianat begitu saja.


Gadis itu mendapatkan semua informasi disaat semua orang telah selesai dengan seluruh rencananya, tentu ia tidak bisa menerima, bahkan hati nularinya sebagai manusia saja hilang tanpa mampu terkendalikan.


Frada menyadari sedari awal keberadaan Zeyn di dalam ruang rahasia ini, sebagai penyusup yang menyamar kedalam ladang informasi, bahkan ia ingin sekali membunuh pria itu seketika, tapi informasi yang diberikannya amat membantu, meskipun ada maksud lain dibelakang tujuanya, Frada mempertahankan nyawa Zeyn, sebab ia merasa pria itu bisa diandalkan dari pada Dikra, sekalipun mereka berdua berada untuk saling memanfaatkan, tapi kenyataan akan semua jalan yang ia berikan merubah niatan awal untuk membunuh nya.


Tentu hal ini disembunyikan dari Dikra, sebab jika pria itu tahu akan maksud dan kedatangan Zeyn sebenarnya, mungkin ia benar-benar membunuhnya tanpa berfikir dua kali, tapi disaat keadaan begitu kacau, Griffin yang menghilang entah kemana, dan Frada yang dikhianati oleh Dikra, dan juga Nona Petrov yang lepas tanggung jawab akan janjinya, membuat Frada membunuh Zeyn didepan mata kepala Dikra, seolah emosinya melatup-latup hingga mendidih, ia mempertontonkan kekejamanya pada Dikra, jika Frada mampu melakukan hal yang melanggar prinsipnya, tapi ia masih berbaik hati pada Dikra yang sudah menjadi rekanya selama ini, tentu saja ada ketakutan bagi Dikra, tapi bukankah ia sudah mengenal Frada yang sekejam ini.


Sebagai wanita yang menjunjung tinggi harga diri, ia tidak sampai hati membunuh Dikra.


Kejadian malam itu membuat Dikra terdiam, ia tidak pernah menyaksikan Frada seperti monster mengerikan, seolah menarik pelatuk dan menghancurkan kepala orang seperti hal wajar yang bisa ia lakukan, Dikra terdiam melirik pandang mata gadis yang memancarkan amarah tajam, bahkan disudut ruangan ini ia merenungkan akan dirinya yang paling bersalah, jika saja sedari awal ia tidak menyembunyikan hal ini dari Frada, mungkin Griffin tidak akan menghilang dari jangkauan, dan mereka tidak akan kehilangan jejak orang yang berada dibalik surat kontrak.


Satu pertanyaan Dikra pada saat itu, kepada gadis yang mengarahkan pandangan membunuh pada dirinya “Apa aku menjadi orang selanjutnya” dengaan penuh gugup yang berhasil dikendalikan, bahkan gemetar yang tak mampu disembunyikan, Dikra menegadahkan kepala melihat kearah Frada, seolah kilau mata yang terpancar, menjelaskan jika ia tidak akan segan melakukanya “Tentu, tapi aku tidak sebodoh itu untuk membunuhmu” balasan yang keluar dari mulutnya beserta seringai menghina, membuat tubuh Dikra merinding gemetar, ia sadar lawan bicaranya tersulut kekecewaan yang dalam, untuk menenangkan nya, Dikra perlu bersahabat tanpa membantah, ia diam diposisi dengan menyihir diri dengan sikap tenang “Kenapa tidak kau lakukan sekarang” balas Dikra dengan menantang, sekalipun didalam raganya ia amat takut mengatakan hal itu “Jika kau setelah ini, sudah pasti aku akan menjadi orang selanjutnya yang akan menysulmu, tanpa kekuasaan Nona Petrov apa kau fikir aku bisa mencapai misiku dengan damai? Tapi aku janji Dikra, setelah aku memenuhi hasratku atas balas dendam itu, aku akan mencari dirimu, untuk membuat perhitungan” ancam Frada dengan ultimatum luar biasa, seolah ia amat bertekad untuk menagih janji yang baru saja ia ucapkan kepada Dikra.


Semenjak kejadian itu, Dikra dan Frada menjadi manusia dingin yang tidak saling menyapa, bahkan mereka enggan melirik satu sama lain, sekalipun berada di satu atap yang sama.


Setelah selesai dengan Dikra, tentu target selanjutnya yang Frada temui adalah Nona Petrov, sebagai pemegang kunci keselamatan dirinya dalam persembunyiaan.


Ia menyempatkan diri menemui Nona Petrov yang bekerja di perusahaan Hansell, sekalipun jarak itu amat jauh, itu bukanlah masalah untuknya, yang menjadi masalah adalah, kepercayaan yang ia berikan akan Nona Petrov telah memiliki jarak rengang antar mereka, hingga terlihat sekali betapa ia menjauh dari wanita yang ia hormati selama ini.


Tentu saja, pertemuan mereka tidak seperti amarah yang ia berikan di Basecamp kepada rekannya, hanya saja Frada mengancam untuk membunuh Griffin habis-habisan, jika ia mendapatkan tua bangka itu, sekalipun Nona Petrov menghalangi jalanya, ia bersikeras akan argumen yang pantas disetujui, sebab Frada berfikir inilah kompensasi non-finansial yang bisa Airyn berikan, atas kepercayaan yang dilanggar Nona Petrov pada dirinya, bahkan gadis itu gagal mengendalikan emosi saat menjelaskan semuanya kepada Airyn, seolah Nona Petrov harus bertanggung jawab atas penkhianatan yang ia lakukan, bukankah kesepakatan awal sangat jelas, Airyn akan mewadahi Frada mencari informasi akan Griffin dan keluarganya, namun sekarang Nona Petrov yang terhormat itu menyembunyikan semua hal dari Frada, siapa yang akan menerima hal itu.


Dengan sikap tenang, Airyn mendengarkan semua perkataan dan tuntutan yang diajukannya, sekalipun ia tidak mampu mengelak, tapi Airyn percaya apa yang dilakukanya adalah pilihan terbaik, Airyn sadar sekali, Frada adalah wanita yang bernafsu untuk membunuh pamannya sendiri, Frada amat membenci Griffin hingga ketulang belulang pria itu, jadi jika Airyn memberikan Griffin ketangan gadis itu, ia mungkin akan menghabisinya dalam beberapa detik, tapi bukankah kematian untuk orang seperti Griffin adalah hukuman ringan bisa ia dapatkan, bahkan seluruh misteri dan kejahatan yang telah dilakukan nya masih terkubur dalam dan mengacaukan kehidupan semua orang, jadi jika Griffin enyah dari permukaan bumi, itu akan menjadi kesalahan, sebagai seseorang yang bisa menyikapi hal ini dengan tenang, Airyn mengaku salah telah menyembunyikan fakta tersebut kepada Frada, hanya saja ia percaya, gadis itu akan mampu membalas semua kejahatan yang Griffin lakukan kepada keluarga dengan cara lain, yang lebih parah dari sekedar kematian.


“Jika itu memang keputusanmu, aku tidak akan bisa menahamu Frada, hanya saja aku perlu menasehati dirimu, sebagai sesama wanita. Kadang, nafsu membunuh itu, perlu kau ubah untuk menjatuhkan lawanmu. Dengan mengakiri permainan secara cepat, kau hanya akan mendapatkan hasil menang dan kalah, kuat dan lemah, atau benar dan salah. Tapi, jika kau menikmati permainan dengan sungguh-sungguh dalam menjatuhkan lawanmu, aku percaya kau dapat mengungkap semua jalan untuk menuju kebenaran yang di inginkan, kau dapat menyaksikan tumbangnya penghalang satu per-satu, bagaimana mereka pasrah dan tunduk, bagaimana mereka takut dan gemetar. Bahkan, aku berfikir kau akan mampu melihat semuanya dari berbagai sisi, kau bisa melihat orang lain yang membantu dirinya, yang selama ini tidak pernah kau fikirkan sendiri, kau bisa mengetahui siapa saja yang bersembunyi dibelakangnya, dan hal yang membuatnya sampai diposisi ini, kau bisa menyerap satu persatu kelemahan musuhmu, hingga satu orang yang berhasil kau taklukan, akan menguatkan derajat dirimu, dan jika semua orang bisa kau taklukan, musuh akan bertekuk lutut dihadapanmu, sekalipun kau hanya mengincaar nyawa Griffin, jika kau mengabaikan fakta tentang semua orang yang menyokong dirinya, membantu nya, terlibat dimasa lalu bersama dirinya, bahkan hal-hal yang memperkuatnya hingga bertahan, kau bisa mendapatkan semuanya tanpa penyesalan sedikitpun. Tapi jika kau termakan dengan emosi akibat diriku yang berkhianat, mungkin saja keputusanmu hari ini, akan menimbulkan kesalahan baru yang tidak akan berhenti disitu, untuk mencabut sebuah tanaman liar, kau perlu membabat akarnya hingga tandas, tapi jika kau menghilangkan ujungnya, lebih baik kau berhenti untuk niatan semula” ungkap Airyn dengan kalimat tajam, seolah ia tidak memberi Frada ruang tanpa membantah, dan menjajarkan nasehat dibalik siasat yang ia lakukan, dalam beberapa detik Frada terbuai akan nasehat yang dipaparkan Nona Petrov, seolah iming-iming kepuasaan yang membuatnya tidak memiliki tujuan hidup lagi, jika sudah mencapai tahap itu, tentu saja hidupnya didunia ini sebagai yatim piatu yang tidak memiliki apapun, seorang diri tanpa keluarga dan teman, bahkan ia tidak tertarik untuk memiliki pasangan, jika saja apa yang diucapkan Nona Petrov itu terjadi, mungkin Farda akan pergi ke dimensi lain dengan damai.


Selama ini, hal yang membuat Frada bertahan adalah nyawa Griffin yang harus hilang ditanganya sendiri, ia harus mengakiri kehidupan indah Griffin di dunia ini, untuk menuju keperistirahatan ayahnya yang dilakukan oleh Griffin dimasa lalu, dan seluruh keluarga Farhaven yang Griffin lenyapkan.


Tapi apakah ia bisa mempercayai wanita dihadapanya ini, tentu saja Frada sadar, jika Nona Petrov hanya akan melindungi kehidupanya sendiri, sekalipun wanita itu menasehatinya dengan benar, tapi wanita licik seperti dirinya membuat kepercayaan Frada menghilang.


“Entah kenapa, aku sudah terlanjur mengunakan naluriku sebagai wanita, akibat kekecewaan yang kau berikan, aku sulit untuk menerima dirimu lagi Nona Petrov, aku sangat menghormatimu, bahkan aku mengagumi cara kerjamu yang luar biasa, kau selalu terdepan untuk menyelamatkan dirimu sendiri dan hal berharga yang kau miliki, aku sudah sadar bagaimana berkuasanya kau atas apa yang kau punya saat ini, jika semua itu bukan jatuh ditanganmu, aku yakin Grup Petrov hanya akan menjadi sejarah seperti keluarga Farhaven yang berjaya dimasa lalu” balas Frada dengan tatapan menyelidik penuh dengan penuturan yang jelas kehadapan Airyn, bahkan ia menghentikan kalimatnya, untuk wanita itu sadar jika Frada sangat kecewa akan keputusan dan tindakan yang dilakukan Airyn “Tapi, aku terlalu tinggi memuji dirimu dimasa lalu, ternyata kau hanya memanfaatkan keadaan untuk melangsungkan hidupmu, lebih tepatnya kita berada diperahu yang sama, tapi saat kau mendapatkan mangsamu, hanya kau gunakan untuk dirimu sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Apakah aku salah atas pemujaan yang terlalu berlebihan yang pernah aku berikan, mungkim jawabanya hanya satu, aku salah besar dalam menilaimu” sambung Frada dengan intonasi menghina yang sangat kental, membuat Airyn merasa berkobar atas detak jantung yang tidak bisa tenang,


Apakah wanita dihadapanya ini mengatakan jika Airyn berkhianat? Apakah wanita dihadapanya ini mengatakan jika Airyn melindungi dirinya sendiri, tanpa mempedulikan rekan yang menyokong tujuanya? Apakah itu maksud Frada? Ia sangat menerima, jika wanita itu kecewa atas keputusan sebelah pihak, dan menyembunyikan fakta tentang Griffin dari dirinya, hanya saja Airyn menolak untuk dituduh sebagai pengkhianat, ia tidak sedang melakukan siasat untuk dirinya sendiri, keputusan itu terpaksa dilakukanya untuk melindungi Frada sendiri, jika Airyn memberitahu Frada akan Griffin yang pernah ada digenggamanya, dan fakta tentang keluarga Farhaven yang ia sembunyikan, ia takut wanita ini menuju kejalan yang salah.


Dendam Frada akan pamannya telah mendarah daging, gadis itu akan melenyapkan siapapun yang memiliki hubungan spesial dengan Griffin, salah satunya mantan istri Griffin bukan? Jika Frada tau Nyonya Iriana adalah mantan istri Griffin, sudah pasti ia akan melenyapkan wanita itu.


sedangkan nyonya Iriana adalah seorang korban atas masa lalu yang menimpanya, dengan kematian Nyonya Iriana akan menjadi masalah besar lagi, Tuan Ji yang tentu menyerang untuk membunuhnya, bahkan James yang selaku anak laki-laki dari Nyonya Iriana, bisa saja memberikan balasan mengerikan kepada Frada, Airyn akan bersyukur jika Farda dibunuh hari itu juga, tapi berdasarkan kemampuan yang dimiliki James, mungkin Frada disiksa untuk menerima kekejaman seumur hidupnya ,apakah itu masih disebut balas dendam bahagia? Bahkan Frada yang akan menyengsarakaan kehidupanya, Airyn memahami balas dendam itu perlu dilakukan, untuk memberi orang pelajaran atas luka yang dilakukan kepada kita, hanya saja Airyn tidak bisa menerima, jika balas dendam menjadi alasan sebaliknya untuk kita menyiksa diri dalam kehidupan.


“Cih…mengesankan” sahut Airyn, setelah terdiam memandang wanita dihadapanya, perlahan mata Airyn menatap penuh lekat, ia sadar Frada adalah wanita yang baik, hanya saja kehidupan yang membuat dirinya sekejam ini, akan dendam yang harus terbalaskan, bahkan saat mendang wanita dihadapanya, Airyn seperti melihat dirinya sendiri, yang bertahan atas kehidupan kejam untuk menjadikanya wanita mengerikan.


Tapi sekerang berbeda, Airyn bertahan bukan untuk kekuasaan lagi, melainkan hasrat jiwanya yang masih suci untuk mempertahankan cinta, jika saja kehidupan ini memberikan Frada ruang untuk melihat titik balik, mungkin Airyn akan bersyukur jika nanti gadis ini bahagia, hanya saja dengan dendam yang membara ia benar-benar mejadikan hal itu tujuan, bukankah Frada juga wanita kesepian yang patut dikasihani seperti dirinya.


“Jika itu pilihanmu, aku menerimanya tanpa melarang, tapi Frada. Aku ingin kau sadar, apapun yang kau anggap tujuan paling benar saat ini, kadang tidak akan mengantarkanmu pada kebahagian, sebab garis kehidupan sering kali mengecoh seseorang untuk sesat didalam tujuan” ucap Airyn dengan penuturan tenang, membuat Frada membelokan mata seolah enggan menerima nasehaat lagi, entah kenapa ia benar-benar memandang Nona Petrov amat rendah, selain memanfaatkan orang lain untuk tujuanya, apalagi yang bisa dilakukan wanita itu, benar kata pepatah, seseorang tidak akan bisa menyembunyikan belang nya, hingga di titik ini Frada sadar, jika ia terlalu menganggap tinggi seorang Nona pertov yang dikagumi banyak orang.


Terik pagi menusuk kepermukaan kulit, hingga suhu dingin samar-samar dengan kehagatan yang menelusuri permukaan, membuat beberapa orang begitu enteng menegadah kelangit sambil menutup mata memanjatkan beberapa kata harapan, Hansell membuka matanya sambil menekukan sedikit kepala, kini tatapanya beralih kebawah sana, atas banyaknya kendaraan yang membuat hiruk pikuk diperkotaan, Benar. Semua kesibukan akan dimulai pagi ini, entah mereka pergi bekerja atau menuntut ilmu yang wajib diperoleh, semuanya sama saja, memiliki tujuan disaat kehidupan dimulai.


“Sayang..apa yang kau lakukan” sapa Airyn kepada suaminya yang begitu larut didalam lamunanya sediri, membuat Hansell membalikan sedikit wajah dan memandang istrinya yang dirasa amat cantik pagi ini, Airyn terbangun saat menguakan lingerie berwarna hitam yang melekat sexy ditubuhnya, di dukung dengan rambut berantakan, dan wajah sedikit sembab dengan bibir ranum bernuansa ceri manis dipagi hari, Hansell mengulas senyum nakal yang entah kenapa mengubah tatapan polos Airyn pagi ini, ia sadar suaminya akan melakukanya lagi dan lagi, hanya saja untuk menghindar akan menjadi kemustahilan besar, tanpa sadar Airyn mendekatkan tubunya untuk memeluk Hansell sebelum laki-laki itu menyerang, setidaknya dengan begini ia mendapatkan kehagatan selain selimut yang bersusah payah ditingalkan nya.


“Kenapa kau memeluk ku semanja ini?” tanya Hansell sambil mengusap rambut istrinya, Airyn hanya mengelengkan kepala sambil menyembunyikan senyuman “Apa aku boleh melakukanya” tanya Hansell sambil menyelinapkan jemari kedalam lengerie transparan yang Airyn gunakan.


“Apa kau pernah menghargai izinku selama ini, mendengar kau berkata seperti itu, malah mengundang kekesalan saja, karna apa yang kau ucapkan sangat berbeda dengan tindakanmu” ketus Airyn saat mentapa Hansell, dan mengeliatkan sedikit badan akibat godaan dari jemari suaminya.


“Aha,,,benar. Aku bukan laki-laki seperti itu, kenapa aku harus bersikap baik padamu, maafkan aku sayang. Sepertinya kau harus menahan sakitnya sedikit lagi” ucap Hansell sambil menidurkan istrinya dengan kasar kepinggir ranjang berantakan, mereka memulainya dengan ciuman manis yang berlabuh kepada agresivitas pasangan, Airyn mengap-mengap untuk menahan kekuataan suaminya, sedangkan Hansell dengan bahagia menyiksa Airyn didalam pelukanya.


“Hansell jangan lakukan lagi, apa kau tidak kasihan padaku” bentak Airyn, saat pria itu mulai melepaskan benang yang melekat ditubuh istrinya


“Bukankah kau sendiri yang mengatakan, aku tidak menghargai sedikit perndapatmu, jadi terima saja. Dan bersikaplah, seolah-olah kau sudah memahami suamimu” bantah Hansell, sambil melanjutkan keinginanya


“Meskipun begitu, kau tidak bisa melakukan nya terus menerus, apa kau ingin membunuhku, kita bahkan baru melakukanya kemarin,dan sekarang kau mau lagi, tolonglah. Aku tidak sanggup” tolak Airyn seolah ia mempertahankan pendapatnya, ia tidak sanggup jika pria itu menyiksanya lagi, lagian Airyn ingin bekerja pagi ini


“Tidak!!” bantah Airyn dengan gamblang


“Sekali saja” ucap Hansell dengan memohon


“Tidak!!!!” bentak Airyn dengan penuh geram, bahkan matanya saja mengancam kearah pria itu, membuat Hansell terpaksa mengendorkan niatan awal, ia menepikan diri untuk melepaskan tubuh istrinya, hingga Hansell melabuhkan tubuhnya disamping Airyn, melihat hal itu, Airyn bangkit sambil meraih tali lingerie yang dilepas Hansell barusan.


“Sayang……” ucap pria itu dengan kalimat memelas


“Hansell…………” kali ini tatapan nya memancarkan sinyal tanpa pengampunan, membuat Hansell memasang senyum paksa, sebab terpaksa menerima


“Baiklah aku mengalah, terserah Nyonya Hamillton saja” ucapnya dengan jengkel, membuaat Airyn sedikit tenang, ia bangkit dari sana dan menuju kamar mandi, sedangkan pria ditinggalkan seorang diri dengan keinginan yang mengebu-gebu.


“apa kau mencintai ku?” teriak suaminya dari arah ranjang, membuat Airyn melenggang menutup pintu tanpa menjawab pertanyaan dari Hansell “Airyn…apa kau tidak mencintaiku” dengus Hansell dengan geram, ia bangkit dari rebahan dan berdiri diambang pintu kamar mandi.


“Airyn…apa kau tidak mencintaiku lagi. Tidak mungkin kan” kekeh Hansell dengan menaiki suaranya, bahkan membuat Airyn amat kesal akan sikap pria itu.


“Aku mencintaimu. puas! Ha! Berhenti berteriak! Kau mengaggu waktuku mandi” bentak Airyn dengan geram, bahkan ia sudah merendamkan tubuhnya didalam bathub, hanya saja pria itu amat menganggu dengan terus meneriaki dari arah luar, membuat Airyn bersisungut kesal didalam sana, menyadari Hansell senagaja memancing keributan, Airyn mencoba menahan dirinya, untuk memberi Hansell pelajaran, setidaknya ia perlu tegas agar tidak selalu ditindas.


“Jangan berani-beraninya kau mengabaikan pertanyaan seperti ini, jika tidak aku akan menghantui pikiranmu sayang” ancam Hansell dengan main-main, tentu sikapnya ini sekedar membuat kesal, sebab istrinya menolak untuk merajut cinta diatas ranjang, Hansell sadar hari ini Airyn memiliki banyak pekerjaan, ditambah masalah tadi malam, yang membuat gadis itu menangis sambil memeluknya dan tertidur begitu saja, Hansell tidak ingin Airyn bersedih lagi, sekalipun Airyn kesal dan marah-marah padanya, itu lebih baik dari pada mendengar tangisan yang begitu menyayat perasaan dan hatinya.


***


Darrel telah selesai dengan pakaian rapi yang ia kenakan, pagi ini Darrel dan Merry memiliki masalah pribadi yang diluar konteks pekerjaan, jadi ia berdandan seadanya tanpa mengunakan jas kerja, Darrel sampai di kota daegu sekitar jam 4 pagi, ia melangsungkan diri ke Hotel untuk mengistirahatkan tubuh, tentu mereka tidak dalam satu kamar, dan bosnya itu berada dikamar sebelah, melihat matahari sudah hampir terik, Darrel memutuskan mengetuk pintu kamar Merry, sebab ia hanya ingin memastikan bosnya dalam keadaan siap untuk rencana yang akan Merry lakukan hari ini.


“Kenapa kau berisik sekali….” Merry mengoceh sambil membuka pintu, namun kalimatnya terhenti, saat Darrel mematung mengunakan pakaian santai yang jarang dilihatnya, tentu pria seumuran Darrel masih terlihat muda dan amat mapan, membuat Merry sedikit kaget akan tampilan asisten pribadinya.


“Nona Merry, maafkan saya, saya pikir anda ketiduran” ucap Darrel dengan gugup, entah kenapa rambut setengah kering Merry membuat jantungnya berdebar, hingga dari dalam diri, Darrel menampar kesadaranya untuk kembali, ia tidak bisa memikirkan apapun selain menghormati Merry sebagai atasanya


“Baiklah...beri aku 5 menit, aku akan segera keluar” ucap wanita itu dengan kalimat sedang, ia menutup pintu kamar dan segera mempersiapkan diri untuk pergi, sedangkan Darrel tersenyum setelah Merry menutup pintu itu kembali, jujur saja Merry adalah tipe ideal yang di inginkaan Darrel, mengingat hubungan dan derajat keduanya, Darrel merendahkan diri untuk menghilangkan Merry dari deretan wanitanya, wanita hebat seperti Merry tidak mungkin menyukai pria tidak becus seperti dirinya, bahkan jika dibandingkan mereka berdua terpaut seperti langit dan bumi.


“Darrel” ucap Merry saat memutus senyum malu-malu Darrel seorang diri “Darrel..” lirih Merry sekali lagi, untuk memanggil pria didepan nya yang amat larut kedapan senyuman “Apa yang dipikirkan pria ini….” umpat Merry dengan kesal “Darrel!” bentaknya untuk terakir kali dengan rasa geram, membuat Darrel tersentak lalu menghiraukan wanita itu


“A-ada apa Nona Merry” balasnya dengan gugup, seolah ia tertangkap dalam mencuri sesuatu


"Apa yang kau fikirkan, sampai mengabaikan aku” balas Merry dengan menajamkan kedua matanya, ia tidak mengerti dengan pria ini, kadang ia dingin, kadang ia ramah, kadang ia ketus, dan kadang ia malu-malu, tapi entah kenapa Merry merasa pria itu amat bodoh dan memalukan, entah apa yang dipikirkan Airyn, hingga begitu gigih mempertahankan Darrel di sisinya.


“Tidak, saya hanya memikirkan beberapa lelucon yang dikirimkan oleh rekan-rekan saya tadi malam, Nona” balasnya dengan nada sungguh-sungguh, membuat Merry menghela nafas panjang sebab tidak habis pikir dengan pria aneh itu, tapi mau bagaimana lagi, Merry terpaksa menjalani harinya dengan Darrel, akibat tututan dari wanita yang telah lahir di rahimnya.


“Yasudah, terserah kau saja. Cepatlah jalan! Aku tidak ingin bertamu disiang hari” ucapnya sambil berlalu di depan Darrel dengan penuh angkuh, melihat sikap itu lagi-lagi Darrel menanamkan senyum terdalam, hingga sulit diaksir kepermukaan.


Merry menolehkan sedikit pandagan kearah rumah sederhana yang terlihat sedikit luas diseberang sana, bahkan ia langsung mengenali wanita yang dirasa tidak menua sedikitpun, kecuali keriput diwajah dan tubuhnya yang sedikit menyusut, seolah mata Merry dipenuhi akan kenangan masa lalunya bersama Iriana, sekarang wanita itu hidup dengan bahagia bersama putri cantiknya yang permah bermasalah dengan Airyn, tentu saja saat Airyn menjatuhkan hukuman kepada Somi, Merry baru mengetahui jika gadis itu adalah putri sahabatnya, tapi ia tidak bisa berbuat hal apapun untuk menghentikan Airyn.


Sekalipun senyum bahagia terpanpang tulus, Merry dapat membaca banyak beban pikiran yang disandang di keningnya yang berkerut, seolah ia memikirkan hal yang disimpannya dalam-dalam, tentu saja Merry sadar, banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Iriana pada dirinya, tapi apakah Merry mampu menjawabnya dengan tenang? Apakah Iriana akan menerima penjelasan, atau apakah wanita itu masih ingin melihat batang hidung Merry sekali lagi, dari pada larut atas pertanyaan ambigu,


Merry turun dengan penuh cemas, bahkan Darrel melihat betapa tebalnya keraguan yang melanda wanita itu, bahkan tampak sekali Merry gugup saat melangkahkan kaki, tapi sebagai orang luar yang tidak bisa ikut campur, Darrel melakukan tugasnya sesuai perintah, ia menutup pintu mobil sembari mengikuti langkah kaki majikannya.


Mata Iriana menyipit memandang seseorang yang berjalan menghampiri rumahnya, akibat usia yang hampir menua, Iriana memiliki pandangan yang buruk tanpa mengunakan kaca mata, hal itulah yang mengerakan Iriana berdiri sambil menatap tajam kearah depan, sontak saja. Hal menegejutkan melemahkan jantungnya, membuat Iriana terdiam diposisi sambil menatap tidak percaya


“Ibu, apa kau baik-baik saja?” panik Somi saat meneriaki ibunya yang dirasa amat kaget hingga wajahnya hampir memucat, Somi mengalihkan pandangan ke orang asing yang dirasa membawa suasana buruk pada ibunya


“Siapa wanita itu” panik Somi dengan geram, tentu ia sadar musuhnya akan berada dimana-mana, tapi siapa wanita yang berani mendatangi rumahnya dan membuat ibunya shock


“Lama tidak berjumpa Iriana” sapa Merry dengan kalimat sopan, membuat kedua orang itu saling pandang tanpa bicara, bahkan tangan Merry mengepal untuk mengumpulkan keberanian, seolah ia tidak menyangka akan berjumpa dengan sahabat yang ia anggap saudara kandung dimasa lampau.


“Untuk apa kau kesini” hardik Iriana dengan geram, membuat jantung Merry berdegup kencang seolah merasa gugup, ia takut sekali Iriana menolak dirinya, tidak apa-apa jika Iriana membenci Merry, hanya saja ia perlu meluruskan keadaan genting yang mungkin membahayakan posisi sahabatnya itu.


“Nona, saya rasa anda bisa pergi dari rumah kami, saya tidak tahu apa masalah anda dengan ibu, tapi kedatangan anda membuat dia merasa tidak nyaman, sekali lagi dengan memohon, silahkan anda pergi dari sini” celetuk Somi dengan penekanan yang menghina, membuat Darrel mengertakan gigi, melihat anak kecil bicara tidak sopan diantara orang tua, bahkan tatapan Somi dan Darrel saling saut-sautan.


“Apa kau yang bernama Somi, aku ibu Airyn dan sahabat ibumu” balas Merry sambil memperkenalkan diri, membuat kedua mata Somi terbelalak, apakah yang dimaksud wanita itu Airyn Petrov yang meruntuhkan perusahaan ayahnya, jika benar, bagaimana bisa ibunya mengenal orang yang berasal dari keluarga itu, apakah Somi telah salah selama ini dalam menilai ibunya, mata gadis itu menuntun melirik Iriana yang terdiam didalam pandangan, ia tidak menyangka akan kehadiran Merry, bahkan Iriana ingin sekali meluapkan beberapa amarah yang dipendamnya sekian lama.


“Bukankah Nona Merry yang menyelamatkan kehidupan nyonya Iriana, bahkan Nona Merry yang melindungi dirinya dari Griffin, dan anaknya yang ingin diambil alih, tapi kenapa dimata wanita itu tersimpan banyak dendam dan kekecewaan, apakah ada hal lain dimasa lalu, yang masih belum terungkap? Apakah Merry melakukan sesuatu? lalu apa?” batin Darrel dengan binggung, sambil mengalihkan pandangan kearah Merry yang terdiam membalas tatapan Iriana.