
Selama ini Airyn merasa Hansell adalah pria yang mengerti dirinya, memahaminya, dan peduli, tapi Airyn meragukan percaya dirinya, dia tidak mengerti bagaimana Hansell memandang dirinya, serendah apa dia dimata Hansell? seberapa pendek nya Hansell mengukur dirinya? bahkan Airyn sangat merasakan sakit yang aman sakit disana.
Suatu tamparan kerasa yang secara tiba-tiba mengerogoti seluruh badan nya, ada keperihan membuat dirinya merintih begitu hebat, dia berjalan sekuat tenaga untuk menahan remuk didada, Airyn berulang kali mengatakan kepada dirinya, jangan membiarkan dirimu menerima seseorang karna itu akan menyakitimu, namun sekarang dia terlanjur melakukan nya.
selama ini dia telah mencoba membunuh hati dan mengunci diri, tapi Hansell memaksa dirinya keluar dan menerima kehadiran seseorang, tentu saja Airyn sangat bahagia namun penerimaan itu malah menjadi luka.
Sedari awal seharusnya Airyn tidak mengundang orang lain memiliki hidupnya dan menjadi bagian disana, namun dia telah keliru menghadirkan Hansell, obat yang diberikan nya ternyata racun yang menyakitkan, luka dihatinya begitu sakit sebelum kehilangan.
Airyn tidak mengerti mengapa dia sebodoh itu membiarkan dirinya terluka lagi, Kenapa dia mengizinkan orang lain menjadi seseorang didalam hidupnya, Airyn sangat menyesal akan perasaan yang ada, tentu saja bukan menyesal kepada Hansell, melainkan menyesal kepada dirinya sendiri, membiarkan Hansell menjadi bagian disana.
Apakah ini cinta? Airyn merintih begitu sakitnya, membuat tubuhnya begetar hebat hingga tak berdaya, didalam toilet tersebut Airyn mencoba menahan setiap suara tangisan yang mendera dirinya, setiap kali hatinya dipaksa menahan semuanya, lantaran selama ini dia mampu melakukan nya, setiap kali dia gagal mengendalikan keperihan yang meremukan seluruh bagian di dada nya.
kenapa untuk luka seperti ini dia tidak bisa mengendalikan? ternyata takdir memang berbeda, bagaimana pun Airyn membohogi perasaan nya loginya kembali kedalam rasa yang ada.
Gadis itu telah berbeda semenjak dia mengizinkan Hansell mengisi kekosongan disana, dia tidak seperti dirinya biasa dia menagis di relung hati yang teramat pedih, menyibakan seluruh luka yang tertera, suaranya begitu mengelegar disana, membuat dirinya merasakan sakit sejadi-jadinya.
Hansell masih tak bergeming dari duduknya, pandangan nya lurus bercampur kabur, dia mencerna tiap kata yang diucapkan Airyn kepadanya, membandingkan tiap inci pemikiran nya berdasarkan kenyataan yang dialaminya.
Tentu saja semuanya bertolak belakang, selam ini Hansell selalu merasa menjadi pria yang baik, namun kali ini dia meragukan dirinya, dia berfikir jika ada yang paling bajing*n didunia ini, dia rang yang paling pantas menerima penghargaan tersebut.
Seketika itu Hansell menyadari titik salah sikapnya, Hansell berlari sekuat tenaga mengejar Airyn kearah luar, namun pria itu tidak melihat Airyn disisi manapun, Hansell menanyakan kesetiap pegawai disana mengenai gadis yang bersamanya, tentu saja pegawai itu mengetahui siapa yang dimaksud Hansell, karna yang memesan Privat Room di Restoran tersebut hanyalah mereka berdua, sedari tadi mereka belum melihat Nona berbaju hitam dengan luaran biru itu keluar dari Restaurant.
Tentu saja perasaan cemas melanda dirinya, dia begitu mengutuk semua yang berada ditubuhnya, bahkan untuk kali ini saja, tidakah dirinya bisa membuat orang yang dicintainya bahagia, mengapa dia malah menyakiti Airyn hingga seperti itu, siapa orang didunia ini yang mau disalah artikan oleh orang yang dipercayainya, bahkan Hansell mengerti bagaimana terlukanya gadis itu, dia begitu merinding membayangkan apa yang dirasakan Airyn setelah keluar dari ruangan tersebut
Hansell masih sibuk mencari Airyn disemua sudut dan tempat, hingga Hansell mengkosongkan tempat itu agar pelayan mencari gadis nya, terakir kali kamar mandi wanita yang belum terjamah sama sekali, Hansell dan beberpa pelayah wanita memasukinya, semua pintu terbuka, hanya saja satu pintu yang terkunci rapat disana, Hansell mengedor pintu itu sekkuat tenaga, dia mendobrak nya dengan kekuatan luar biasa kuatnnya.
Disepanjang perjalanan Hansell merasa bersalah hingga teramat salah, untuk kali ini saja dia tidak ingin kehilangan apapun lagi, Airyn benar-benar berarti baginya, gadis yang memejamkan mata itu membuat dada Hansell begitu pengap akan rasa sakit, entah mengapa dia menyalahkan dirinya atas segala yang terjadi, mengapa dia masih meragukan Airyn setelah semua yang di rasakan tentang gadis itu, Hansell bahkan tak percaya kepada dirinya lagi, dia benar-benar kehilangan Hansell didalam sana, bahkan melukai gadis yang dicintainya.
Dirumah sakit tersebut Airyn telah ditunggu dengan seluruh dokter yang ada, dengan sigap mereka menyambar tubuh gadis itu dan memeriksa nya, begitupun Merry dan Berto mereka baru sampai di rumah sakit setelah mendengar kabar dari Hansell, seketika Berto berjalan kencang ke arah Hansell dan melayangkan pukulan kepada pria itu
“apa yang kau lakukan kepada Nona Airyn!!!! dasar bajing*n!!!” setiap pukulan yang diterima Hansell tentu saja dibiarkan nya, semakin Berto memukul sesak didadanya semakin meringan, namun Marry menghentikan Berto
“lepaskan dia!!apa yang kau lakukan!!” dia menarik tubuh Berto yang menempel kepada Hansell untuk memberikan pukulan
“apa kau fikir Nona Airyn akan menyukai sikapmu” mendengar pernyataan itu Hansell menatap kabur kearah Marry, sedangkan Berrto begitu frustasi karna emosi
“apa maksud mu” pria yang terkulai bersalah itu berucap dengan nada penuh dosa, Marry membantu Hansell berdiri, dan membawanya duduk di kursi panjang
“tuan muda, kenapa dengan Nona Airyn?” tanya Marry dengan begitu lirihnya, meskipun dia mengerti ada sesuatu yang terjadi diantara mereka, namun Marry masih menahan diri, dan berfikir jernih tanpa menyalahkan Hansell
“aku yang menyakitinya” air mata Hansell pecah seketika kalimatnya terucap, ia tidak mengerti rasa sakit apa yang sedari tadi membelengunya, rasa bersalah yang berkepanjangan seperti mencekik leher.
“apa yang kau lakukan kepadanya” tentu saja Marry tak kuasa menahan tangis nya, ia mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka
“Airyn, dia meminta ku bertemu mengenai saham yang sudah diakuisisi, dia mengatakan akan menjual saham itu kembali kepadaku, namun aku malah berfikir yang sebaliknya. Aku dengan sombong menolak dan membantah tanpa mendengarkan perkataan nya, lebih tidak pantasnya aku menilai salah mengenai dirinya, padahal selama ini aku mengerti bagaimana Airyn sebenarnya. Aku terlalu tinggi menilai diriku, menganggap aku benar dan dia salah, aku menganggap bekerja sama dengan nya tidak sesuai dengan caraku, aku menganggap caranya sangat kotor dan aku bersih, aku mengaggap dia merelakan apapun untuk mendapatkan nya, aku berfikir Airyn yang menjadi Nona Petrov rela bekerja kotor untuk mencapai tujuannya, menjadikan rekan-rekan kerja seperti binatang peliharaan, aku berfikir seperti itu tentang nya, dan karna itulah aku menolak bekerjsama tanpa mendengarkan penjelasan nya” seketika itu tamparan keras melayang kewajah Hansell, dengan tatapan mata yang mengelora dan amarah yang bercampur aduk Marry merasa telah salah menillai pria dihadapan nya
“serendah itukah kau menilai setelah mengenal! Sebaik dan setinggi apa dirimu sampai mampu mengukur diri seseorang!” mengatakan dia tidak bermoral, seperti binatang, dan bekerja kotor apa pantas kau dijadikan sebagai manusia!!” Berto yang melihat kemarahan Merry hanya memandang dari arah jauh, karna Merry selama ini selalu pandai menyembunyikan sikap dan emosinya, dia pandai bersikap tenang dan mendengarkan lawan bicaranya, Merry selalu mampu memahami keadaan dan memaklumi. Namun kali ini dia terlalu kecewa, bukan pada Hansell melainkan dirinya, dia kecewa membiarkan orang seperti Hansell bersama dengan Airyn, dia kecewa penilaian nya selama ini salah mengenai pria tersebut.