Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Mantan kekasih Nona Petrov



Kapal yang Airyn miliki secara pribadi itu tengah menanti mereka untuk pergi kedaerah perkotaan, tentu saja Airyn dan Hansell akan melakukan perjalanan di alun-alun kota Bali dan juga beberapa tempat hiburan di tepi pantai sebagai tujuan akhir untuk menikmati senja, kali ini Airyn dan Hansell melepaskan seluruh atribut yang mereka sandang, entah itu gelar koglomerat, orang nomor satu yang memiliki kekuasaan, dan bahkan melepaskan seluruh pengawal yang selalu menjaga di belakang, Airyn dan Hansell memilih menjelma menjadi orang biasa meskipun tidak dipungkiri jika pengawalnya tetap memantau dari kejauah.


Tentu saja kedua pasangan itu telah menyelusuri laut yang membentang luas disepanjang perjalanan untuk menuju keseberang, bahkan Airyn tidak henti memandang bagaimana indahnya lukisan alam dari kapal pribadi yang ia tumpangi bersama suaminya, membuat Airyn benar-benar bahagia akan hal itu, hingga angin yang bertiup menerbangkan halaian rambut airyn hingga terkibas dengan indah, seperti peri laut yang tengah menikmati tempatnya, apalagi ketampanan suaminya yang selalu menimbulkan kesan membahagiakan membuat Airyn tidak henti menatap Hansell.


“Aku tidak percaya kita akan mengunakan pakaian setipis ini” seru pria itu ketika melihat penampilanya yang berbeda jauh dari biasa, tentu saja Hansell yang biasanya selalu mengunakan jas formal lengkap dengan berbagai harga fantastis ditubuhnya kali ini memakai pakaian sederhana yang tidak terlalu mahal seperti keseharian, pria itu tampil casual dengan baju kaus tipis dan juga celana tanggung, serta sepatu kest berwarna putih, membuat dirinya kurang percaya diri dari biasa, Airyn yang mengunakan rok mini dipadukan crop top pink tapi menutupinya dengan sweter putih transparan terlihat sangat santai dan juga nyaman akan penampilanya itu.


“Kenapa kau harus mempedulikan pakaianmu, jika penampilanmu saja membuat aku selalu jatuh cinta, apalagi wanita-wanita diluar sana. Untuk itulah, tetap gunakan topi agar menutupi wajahmu, aku tidak mau berbagai suamiku dengan mata wanita lain” ucap Airyn ketika memasangkan topi hitam ke kepala suaminya, membuat pria itu menurut akan perkataan Airyn yang sangat cantik sekali “Kenapa kau terlihat makin tampan” dengusnya dengan jengkel, jika begini Hansell akan menjadi primadona dan akan membuat Airyn kepanasan memikirkan bagaimana wanita lain mendekati suaminya, wanita itu mengacak-ngacak tas rotan bundar khas indonesia yang dikirimkan Bu Rani untuknya, ia mengambil masker kain berwarna hitam ala-ala artis saat di bandra, untuk menutupi wajah Hansell, setidaknya dengan begini Airyn bisa sedikit lebih tenang.


“ Airyn. Kenapa aku harus mengunakan masker, ini terlalu berlebihan” bantah Hansell saat menghalangi tangan istrinya, membuat Airyn menajamkan mata pada suaminya seoalah Hansell tidak boleh membantah.


“Ini lebih baik untuk mu. Jangan membantah jika tidak aku akan melemparmu kelaut jika ingin menolak keamanan yang aku berikan” dengus wanita itu, hingga Hansell terkekeh sembari mengacak-ngacak rambut Airyn yang sudah dihiasi oleh jepitan pink disana.


“Rambutku...” teriak wanita itu saat menyingkirkan tangan Hansell, ia bahkan menyentuh kepalanya yang baru saja dihancurkan pria itu hingga mulut mengerutunya membuat kesan imut dimata pria itu “Kau merusak rambutku Hansell” sambung Airyn dengan wajah kesal, membuat Hansell mengacak kembali rambut istrinya, hingga wanita itu berteriak berkali-kali, sadar suaminya menyebalkan mereka saling mengejar hingga akirnya tubuh Airyn yang kecil itu jatuh kepelukan Hansell, bahkan mereka lupa menikmati perjalanan sebab sedari tadi hanya sibuk dengan perdebatan yang terjadi.


“Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai” putus seorang Nahkoda kapal yang telah memberhentikan kapalnya ditepian, tentu Hansell mengajak Airyn untuk bangkit sembari merapikan rambut istrinya yang tadi ia rusak, bahkan Hansell merapikanya dengan lembut membuat Airyn tersenyum manis kepada suaminya yang begitu tinggi dari biasa, tentu saja Airyn hanya setinggi dada bidang Hansell, jadi jika dibandingkan dengan Hansell, Airyn hanya seperti wanita kecil yang bisa menghilang dibalik tubuh suaminya.


“Sudah cantik” seketika saja Hansell memindahkan topi hitam yang ia kenakan untuk dipakai ke kepala Airyn, bahkan ia memperhatikan topi itu harus menghilangkan wajah Airyn yang cantik meskipun itu sangat mustahil, namun cukup untuk menyamarkan “Tidak hanya aku saja yang harus menutupi penampilan, kamu juga. Bahkan diantara kita aku yang paling takut jika istriku dilirik pria lain"


Mereka tersenyum sembari melangkah untuk turun, tentu saja Hansell membantu Airyn untuk menaiki jembantan kayu yang merupakan tempat mereka untuk turun dari sana, setelah itu Airyn dan Hansell menaiki mobil yang sudah menanti untum menuju kearah alun-alun kota Bali, di sepanjang jalan Hansell hanya terpana akan keindahan kota ini, meskipun ia selalu melakukan perjalanan keberbagai Negara, seperti Paris, London, Australia, dan Hawai hingga berbagai negara lainnya, namun Kota ini cukup mencengangkan dan memberi kesan bagi dirinya. Kebanyakan diantara warga disini mengunakan sepeda motor yang sangat jarang ditemui Hansell di Korea, bahkan ada diantara mereka masih mengunakan pakaian adat setempat, selain itu kota di Bali cukup tradisonal sehingga Hansell tidak bisa melepaskan matanya untuk melihat dari arah jendela mobil.


Mereka singah di sebuah tempat makan yang konon katanya sangat terkenal di Bali, bahkan di tempat ini sangat sesuai dengan lidah para turis Mancanegara, sehingga hal itu tidak akan membuat kesan berbeda bagi siapapun termasuk Airyn dan Hansell, mereka memasuki tempat yang dipadati pengunjung, bahkan di tempat ini cukup ramai hingga Hansell sedikit bingung bagaimana cara memesan makananya, Airyn yang sebelumnya pernah berkunjung beberapa kali membuat ia cukup mengerti, sehingga menarik suaminya untuk mengambil piring yang tersedia diantara jejeran makanan yang berbeda dan beraneka ragam, ia meletakan piring itu di tangan suaminya sembil menginstruksikan Hansell untuk mengikuti langkahnya.


Tentu saja tempat makan itu dipenuhi dengan berbahagi makanan yang sebelumnya belum pernah dicicipi oleh Hansell, bahkan cara mereka memesan saja berbeda jauh dari gayanya, sebab pelanggan disana harus mengambil sendiri hidangan yang ia sukai, sama halnya dengan Airyn yang saat ini memilih beberapa makanan yang cukup di rindukan, sembari meletakan beberapa kepiring suaminya, Hansell yang hanya mengikti saja tentu melihat antusias Airyn yang sangat besar, hingga ketika Airyn mengeser tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang, membuat Hansell menahan tubuh istrinya agar tidak terhayung jatuh.


“Maaf...” ucapnya dalam bahasa indonesia, sebab secara alami Airyn terbiasa menyesuaikan diri dimana ia berada, sehingga tanpa sengaja ia mengucapkan kata itu tanpa terkira.


“Nona Petrov--” sontak Airyn terpana mendengar penuturan itu, wajahnya terangkat untuk mendongak kearah sumber suara, bagaimana kagetnya Airyn melihat pria yang tidak asing baginya, yaitu seorang pria yang merupakan bangsawan inggris mendatangi tempat ini, bahkan pria itu pernah melakukan sebuah hubungan transaksional bersama Airyn dimasa lalu, meskipun itu hanya sebatas pasangan diatas kertas tetap saja Airyn cukup lama berinteraksi dengan Adward Swan.


“A-Adward” lirihnya saat tak enak hati, bahkan pria itu bersama seorang wanita di sampingnya, membuat Airyn memandang Hansell dengan canggung “Maafkan aku, aku tidak sengaja” seru Airyn sekali lagi, membuat pria itu mengusap kepala Nona Petrov seolah mengatakan hal itu tidak masalah, melihat perlakuan kurang ajar dari pria lain, tentu Hansell menarik istrinya untuk berjarak dari hadapan pria asing tersebut, sehingga Adward menyadari jika Airyn tidak sendirian.


Kedua mata Hansell dan Adward bertemu seolah mereka saling bertatapan tanpa ada yang ingin mengalah, melihat kecanggungan itu, Airyn memutus rasa asing yang terjadi di pertemuan yang tidak sengaja ini, bagaimanapun beberapa orang sudah mengantri dibelakang mereka, sehingga tidak pantas bagi keempat orang itu menghambat jalanya aktifitas lain.


“Hansell, apa ada yang kau butuhkan lagi?” celetuk Airyn pada suaminya, sembari melihat jejeran makanan yang ada di depan mereka.


“Tidak ada.. ”


“Yasudah, kita pilih tempat duduk saja” ucap Airyn sembil menarik suaminya, ia mengalihkan pandangan pada Adward seolah mengatakan ia ingin undur diri dari sana.


Melihat Airyn seperti itu, membuat Adward merasa jika pria yang bersama Airyn cukup penting bagi Nona Petrov, tapi rasanya sangat sayang jika Adward mengabaikan pertemuan ini, di tambah keberuntungan mempertemukan dirinya dan Nona Petrov tanpa sengaja.


Di Restoran tradisional itu hanya tersisa meja yang berada disudut belakang yang dekat dengan kaca, Airyn mengajak Hansell untuk pergi kesana, sebelum akirnya meletakan makanan mereka, beberapa orang pelayan datang menyuguhkan minuman dingin. Sedangkan dari arah belakang Adward melangkah kehadapan Airyn dan pria yang baru saja ia kenali, tentu saja pria itu ingin bergabung dengan Airyn dan Hansell.


“Airyn, apakah aku boleh bergabung denganmu?” tanya Adward tanpa tahu malu, bahkan mengundang perhatian Hansell untuk mendongak jengkel kearahnya, membuat Airyn sebegitu canggung mengingat hubungan yang terjalin diantara mereka dimasa lalu, membuat Nona Petrov menatap tajam penuh jengkel.


“Apa kau tidak bisa mencari tempat lain. Suamiku tidak nyaman duduk dengan orang asing” ketus Airyn dengan wajah tegas, membuat Hansell tersenyum banga atas sikap istrinya, namun berbeda dengan Adward yang biasa saja mendengar hal itu, bagaimanapun ia sangat mengerti jika Nona Petrov selalalu dingin.


“Inikah tuan Hansell itu? Sepertinya aku perlu bergabung denganmu untuk berkenalan dengan suamimu” serunya dengan memaksa, bahkan tanpa tahu malu pria itu duduk di samping Airyn, dan dengan terpaksa seorang wanita yang bersama Adward duduk disisi Hansell, hingga pria itu semakin jengkel.


“Apa yang kau lakukan!” tukas Airyn dengan suara rendah penuh penekanan, bahkan matanya menajam seperti memperingati, namun Adward tidak peduli dan duduk disamping Airyn dengan sikap tenang.


“Nona Merry sudah mengatakan jika kau telah menikah, karna itulah aku tidak terlalu kaget. Kenapa kau menolak diriku jika kau ingin menikah muda” sontak penuturan Adward mengundang amarah Hansell bahkan ia tidak percaya pria itu bersikap tidak sopan di hadapanya.


“Diamlah!!” kepala Adward dipukul oleh Airyn dengan begitu keras, membuat pria itu meringis seolah mereka saling berdebat satu sama lain, menyaksikan kedekatan diantara Airyn dan pria yang baru saja Hansell temui, membuat ia yakin hubungan mereka dikatakan cukup dekat, sehingga Hansell mengebu-gabu ingin mengetahui hal apa yang terjadi sebenarnya diantara dua orang itu.


“Hansell, dia kenalanku ketika di Inggris” seru Airyn ketika melihat kearah suaminya, bahkan seketika saja pria itu mengajukan tanganya kearah Hansell untuk memperkenalkan diri, membuat Hansell menjabatnya dengan tatapan saling mengancam.


“Adward”


“Hansell”


Mereka melepaskan tautan tangan yang sekiranya memiliki kekuatan saat berjabat barusan, namun wajah datar dan sikap mengancam sepertinya tidak bisa di sembunyikan “Aku turut bahagia kau sudah menikah, setidaknya kau tidak membuatku cemas Nona Petrov” ucapnya, sambil mengusap kepala Airyn secara lembut, membuat Hansell mengelap sekalipun Airyn menepisnya.


“Aku rasa kau tidak bisa berkalu semau dirimu pada istriku, Tuan Adward!” ancam Hansell dengan tatapan tajam , membuat pria itu tersenyum ketika mengalihkan perhatian pada Airyn “Sayang, pindah kesisiku--” lirih Hansell dengan nada perintah, bahkan ia mengkilaukan mata memandang wanita yang makan tenang disampingnya untuk segera beranjak dari sana, dengan segera Airyn pindah kesamping Hansell dan menempatkan diri dengan gugup disisi suaminya, sedangkan pria yang tidak sopan itu memandang Airyn dengan senyuman manisnya.


“Ternyata Nona Petrov tidak banyak berubah, sayangnya hanya satu yang berubah, perasaanmu”


“Tutup mulutmu” bentak Airyn saat mengangkat kepala memperingati Adward.


“Apa aku salah bicara, bukankah kau dulu menolak menikah denganku karna kau tidak mencintaiku, dan kau memastikan tidak akan menikah. Tapi ada apa dengan Nona Petrov sekarang. Kau bahkan bersuami” dengan cepat Airyn menutup mulut pria itu dengan makanan yang ia suapi kemulut Adward mengunakan garpu, bahkan membuat Hansell semakin memanas saat ada diantara mereka.


“Apa kau tidak penasaran degan hubungan kami?” sambung pria itu ketika mengalihkan pandangan kearah Hansell, membuat tubuh pria itu menegang seolah membutuhkan kejelasan dengan segera.


"Adward, ada apa denganmu. Jangan menganggu suamiku, atau aku akan menghancurkan perusahaanmu" tukas Airyn saat menajamkan matanya penuh peringatan.


"Kenapa kau membawa bisnis kedalam hubungan kita Nona Petrov, itu sama saja dengan kekanak-kanakan, bisnis-bisnis, Personal-personal" tukas Adward setelah menjawab perkataan Airyn dengan nada mengejek, membuat Airyn semakin memanas, ia memandang pria itu dengan tatapan tegas.


“Sebenarnya, tidak ada apa-apa diantara kita. Pria itu hanya mengada-ngada” seru Airyn pada suaminya


“Airyn“ balas Hansell saat memperingati istrinya “Biarkan dia bicara” ucap Hansell seketika, membuat Airyn bungkam tanpa bisa berkata-kata lagi, sedangkan Adward menyandarkan tubuhnya kearah kursi kayu yang ia duduki di hadapan Hansell.


“Nona Petrov adalah mantan kekasihku” seru pria itu dengan sikap frontal tanpa mempertimbangkan Hansell sebagai suaminya.


“Tidak!! Itu bohong!! Tidak seperti itu Hansell. Aku dan dia tidak dalam hubungan serius seperti itu, hanya sebatas bisnis saja--” bantah Airyn dengan panik, bahkan ia tidak menyangka pria itu akan berlaku lancang pada Hansell, apakah ia ingin menghancurkan rumah tangga Airyn dan Hansell yang tengah dilanda damai dan rukun dalam beberapa waktu ini.


Hansell terdiam memandang kearah Adward, ia bahkan mengalihkan pandanganya kepada Airyn yang heboh di sampingnya, melihat reaksi istrinya yang menekuk kepala dengan gugup, Hansell mengusap kepala Airyn dengan lembut seraya menenangkan istrinya.


“Kenapa memangnya, setidaknya kau adalah istriku. Apa-pun masa lalumu, itu tidak akan mengubah kenyataan jika kau adalah miliku” serunya dengan tenang, membuat Airyn mengangkat kepala kearah Hansell seolah tidak percaya suaminya setenang itu dan bahkan tidak marah, sedangkan pria itu sedikiti terkesan akan sikap Hansell yang menjadi suami Nona Petrov, ternyata ia sudah salah menilai Tuan Hansell.


“Kenapa memangnya? Jika kenyataanya Airyn mencintaiku dan aku mencintai istriku, kenapa aku harus panik dan juga gugup untuk menghadapi orang-orang yang tidak tahu malu itu”


Senyum kecut tergambar di wajah Adward ia tidak menyangka pria itu bisa mengatasi hal ini dengan sikap tenang, membuat dirinya sedikit kaget atas reaksi dari Tuan Hansell.


“Pantas saja Airyn memilihmu, dan meninggalkan diriku” ucapnya dengan kalimat mengejek, membuat Nona Petrov menendang kaki Adward dari bawah meja, hingga suara pekikan pria itu mengalihkan perhatian Hansell pada Airyn.


“Apa kau gila!” ketus Airyn yang tidak percaya, bahhkan ia tidak menyangka jika Adward bisa berlaku seperti ini setelah mengetahui Airyn memiliki suami.


“Silahkan nikamati makan siang kalian, kami akan mencari tempat lain. Semoga kita bertemu lagi Nona Petrov” seru pria itu sembari berdiri dari kursi yang ia tempati sambil berlalu dari hadapan pasangan itu, bahkan ia hanya berpindah kearah samping yang ada dimeja Airyn dan Hansell.


Mereka menyantap makanan masing-masing, meskipun Airyn terkesan cukup tegang namun Hansell sangat pengertian, ia bahkan mencoba menghilangkan kekhawatiran Airyn akan dirinya yang marah, setelah selesai dengan makan siang itu Airyn ingin beranjak dari sana untuk membayar makanan mereka.


“Kau mau kemana?” cegat Hansell saat menahan tangan istrinya.


“Aku akan membayar makanan ini”serunya dengan senyum manis.


“Kenapa tidak panggil pelayan nya saja, atau meninggalkan uang dimeja”


“Hansell ini bukan di kota kita. Jika kau melakukan itu hal ini akan terkesan tidak sopan, semua orang membayar ke kasir jadi kau tidak bisa berlaku seenaknya, aku hanya sebentar. Tunggulah....”


“Airyn, biar aku saja” bantah Hansell seketika menahan Airyn untuk tidak pergi, membuat wanita itu meraih pundak suaminya untuk mendudukan tubuh Hansell degan paksa.


“Apa kau bisa Bahasa Indonesia? Apa aku mengenal mata uang disini. Duduklah sebentar, aku hanya sebentar saja” ucapnya sembil berlalu kearah kasir meninggalkan Hansell yang di pandang oleh Edward dengan senyum ejekan.


****


Senja menyapa dengan merah merekah dari arah yang cukup jauh di pelupuk mata, bahkan Airyn membuat bulatan dijarinya untuk mengukur sebesar apa senja yang indah di tepian pantai Bali, tentu saja mereka tengah menidurkan diri diantara kursi kayu yang bisa di tidurkan, selain itu ada hidangan kecil yang tersaji disana untuk dijadikan cemilan, tentu saja Seafood bakar di tepian pantai dengan beberapa wiski di nikmati dengan pemandangan matahari terbenam di sore yang sangat indah.


“Apa kau suka?” tanya Airyn pada suaminya yang saat ini tengah berbaring di sampingnya, bahkan pria itu menutup mata seolah meresapi suasana yang meresap sampai kepori-pori tubuhnya.


“Suka, tapi aku lebih suka dirimu” mendengar hal itu Airyn terkekeh seolah tidak percaya Hansell mengatakan hal seperti itu “Kenapa kau tertawa. Aku sungguh-sungguh” ucapnya dengan meyakinkan bahkan memutar badan menatap kearah Airyn.


“Baik-baiklah. Kenapa semenjak tadi kau selalu mengodaku, ada apa denganmu hari ini. Apa kau masih cemburu dengan Adward” tanya Airyn ketika memandang suaminya, dihamparan pasir putih yang ada disekitar mereka.


“Untuk aku cemburu pada pria itu. Lagiab aku hanya mengatakan fakta sesunguhnya” ucap Hansell hingga wajah Airyn memerah, bahkan membuat Hansell bingung akan sikap istrinya yang terlihat malu, ia memandang kearah belakang dan menyaksikan pasangan wisatawan tengah mengunakan bikini dan sedang bercumbu, mungkin saja hal itu terkases oleh mata Airyn sehingga ia menjadi malu, meskipun hal ini biasa untuk budaya mereka tapi tidak bagi Airyn yang selalu menghabiskan waktunya dalam pekerjaan dan hampir tidak pernah melakukan hal menyenangkan untuk liburan, di tambah gaya pasangan seperti itu dipinggir pantai benar-benar menarik perhatian Hansell ingin mengoda istrinya.


Langit yang berangsur-angsur menjadi gelap dengan beberapa pencahayaan kecil untuk menerangkan, membuat Hansell semakin tergoda untuk mempermainkan istrinya, ia mengenggam pertautan tangan mereka dengan erat, sembari memaksa wanitanya untuk melihat kedua bola mata dengan tatapan sendu, baru saja Airyn merasa malu kali ini Hansell malah memancing, membuat Airyn mendorong pria itu seolah tidak ingin melakukan apapun dialam terbuka, meskipun mereka adalag turis tetap saja Airyn cukup memahami kebudayaan di Indonesia, dimana mereka tidak menyukai gaya hidup bebas seperti ini, sebab diangap sebagai prilaku memalukan hingga bertentangan dengan kepercayaan dan juga budaya yang diantut oleh masyarakat setempat.


“Jangan coba-coba melakukanya disini” seru Airyn untuk memperingati, bahkan ia mendorong Hansell menjauh dari sisinya.


“K-Kita kembali saja” lirihnya dengan malu, membuat Hansell tertawa terbahak-baahak atas apa yang Airyn katakan.


Melihat dirinya di permainkan Airyn berteriak dengan tidak terima, bahkan Airyn memukul Hansell ingin mereka saling tertawa dan menggoda, setelah menghabiskan makan malam disana, Airyn dan Hansell bergabung dengan Party Night yang biasanya diadakan di Club terbuka, bahkan irigan musik dengan desir pantai air laut yang menghempas ke permukaan membuat Airyn dan Hansell termabukan dengan irama tarian dan alunan musik yang sangat sopan masuk ketelinga pasangan itu, mereka tidak bisa melupakan momen membahagiakan dan sebebas ini, sehingga nafas yang ngos-ngosan membuat Airyn menandnag suaminya seraya membisikan kata cinta pada pria itu.


Setelah kembali ke kamar Hotel yang tidak jauh dari sana, mengingat hari sudah malam dan Airyn merasa lelah untuk kembali ke Villanya, membuat mereka memutuskan untuk menidurkan diri tanpa menganti pakaian, bahkan keduanya sangat kelelahan setelah pulang dini hari, Airyn yang biasanya selalu membersikah tubuh sebelum tidur kali ini tidak melepaskan apapun, bahkan tas yang ia selempangkan di tubuhnya dibawa tidur di ranjang itu.


Hingga silau matahari di pagi hari membangunkan memanggil Hansell untuk terjaga dari tidurnya, bahkan ia mengerjapkan mata seolah malas melihat cahaya, tentu saja cuaca di indonesia berbeda di negaranya, sebab disini Hansell tidak perlu mengunakan pemanas ruangan sebab suhu alaminya saja sesuai dengan kebutuhan tubuh.


Ia melirik kearah istrinya yang mengunakan pakaian lengkap dengan sepatu dan juga tas di tubunya, tentu Hansell melihat dirinya yang berlaku sama dengan Airyn “Astaga apakah kami selelah itu” ucapnya seraya melepaskan sepatu Airyn dan juga melepaskan tas yang Airyn gunakan, bahkan gadis itu terbangun karna gerakan yang Hansell berikan, namun membuat Airyn enggan untuk menyadarkan diri, dan malah merengsek memeluk tubuh suaminya.


Hansell yang melihat hal itu tentu berusaha melepaskan semua yang Airyn gunakan, termasuk pakaianya, sehingga saat ini wanitanya hanya mengunakan pakaian dalam saja “Airyn ponselmu berbunyi” seru Hansell ketika menepuk pipi sitrinya ketika menyadari getar di tas rotan yang bundar.


“Aku malas sekali menjawabnya, angkatlah” ucap Airyn dengan suara serak khas orang bangun tidur, perlahan Hansell melihat nama Darrel tertera diponsel milik istrinya, tentu saja ini masalah pekerjaan, mengingat Hansell dan Airyn tidak memiliki rahasia apalagi masalah bisnis membuat pria itu mengangkat posel Airyn sembari memeluk istrinya disisi.


“Hallo Darrel. Istriku sedang tidur? Ada apa?” tanya Hansell dengan tegas, membuat Darrel terpana mendengar suara dari pria itu, bahkan ia terdiam seolah tengelam dalam fikiran meragu “Katakan saja ada apa, Airyn memintaku mengangkat telfonnya”


“A-Anu Tuan, ini masalah Tuan Zaterius” serunya dengan gugup, membuat Hansell menajamkan mata mendengar hal itu.


“Ada apa?” kali ini suara Hansell berubah menjadi dingin, membuat Airyn yang meringkuk ditubuh suaminya membuka mata namun enggan untuk bangkit.


“Tuan Zaterisu mencabut sahamnya dari perusahaan Nona Petrov, dan saya minta maaf atas hal ini”


“Lalu? Apakah ada masalah?” tanya Hansell seketika


“Hanya mengalami sedikit keanjlokan dan itu sekitar 1 persen” ucapnya dengan gugup.


“Baiklah” balasnya ketika mematikan ponsel Darrel, seketika Hansell meletakan ponsel itu kearah nakas sembari menarik tubuh istrinya yang sudah membuka mata.


Hansell tersenyum sembari menyisir pingiran wajah Airyn dengan jemarinya, wajah sembab dengan rambut acak-acakan itu membuat dirinya semakin imut, bahkan Hansell mecium bibir Airyn sebelum beralih kearah kening wanitanya “’Selamat pagi sayang” sapa Hansell dengan kalimat menenangakan, membuat Airyn tersenyum sembari menengelamkan kepala ke dada suaminya.


“Apakah Tuan Zaterius itu mencabut sahamnya?” tanya Airyn seketika, seolah ia sangat malas bicara namun ia harus mempertanyakan hal ini sebagai kewajibanya.


“Iya, apa kau memiliki masalah besar karna itu?”


Airyn mengelengkan kepala seraya bermanja pada Hansell, ia mecium aroma tubuh suaminya sembari melepaskan diri dari sana “Aku sudah mencuga hal ini, pertemuan itu akan membuat kerjasama diantara kita batal, dan itu sudah menjadi perkiraan diriku diawal. Tapi dengan begini aku sedikit yakin akan satu hal, jika dia hanya sebatas rekan kerja saja” serunya ketika menatap wajah Hansell.


“Maksdunya?” tanya pria itu dengan bingung.


“Aku hanya berfikir yang tidak-tidak akir-akir ini. Aku seperti merasa pria yang menjadi investor misteriusku sepertinya seseorang yang menganggapku penting. Karna berkat dirinya yang selalu hadir disaat yang membutuhkan membuatku mencapai titik ini. Bahkan aku berfikir mungkin orang itu memiliki alasan untuk melakukanya, sehingga aku ingin mengetahui alasan apa ia membantu diriku. Tapi setelah ia membatalkan kerjasama diantara kita, aku rasa ia hanya seorang pembisnis yang berprinsip saja”


“Maksudku, ia melakukan kerjasama hanya karna ia ingin dan mau melebarkan sahamnya, tentu dengan persyaratan aku harus menghargai identitasnya, tapi kali ini aku mengutus Darrel untuk menemukannya dan mengajaknya berkenalan, dan bahkan aku melanggar kesepakatan diawal, dengan melacak keberadaanya melalui Frada. Dan ternyata ia membatalkan kerjasama diantara kita. Tadinya aku hanya berfikir jika orang itu tidak membatalkan setelah aku mengecewakan, berarti ada alasan lain dibalik ia bekerjasama denganku, tetap malah sebaliknya, mungkin aku yang terlalu berfikir” seru wanita itu kehadapan suaminya, membuat Hansell mengusap kepala Airyn seraya memeluk istrinya.


“Lalu bagaimana, jika kau kehilangan investormu, apa boleh aku yang mengantikannya?” tanya Hansell saat memeluk istrinya, membuat Airyn mendorong Hansell dengan segera.


“Aku bahkan bisa mempertahankan perusahaanku tanpa menambah investor” ketusnya dengan menyombong diri sembari berlalu untuk kekamar mandi, tentu saja Airyn sadar jika suaminya telah melepaskan seluruh pakaian yang ia pakai, hingga wanita itu menarik selimut untuk berlalu kekamar mandi.