Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Tidak bisa di bohongi



Hansell mendudukan diri didepan ruangan tersebut, ia merasa sangat lelah ketika berdiri memandnag Airyn dari kaca pembatas, tentu saja ia tidak sadar sudah lebih dua jam menatap tubuh kekasihnya yang masih belum sadarkan diri


“Kenapa Airyn lama sekali bangun” seketika Dokter menghampiri Hansell, membuat pria itu berdiri dengan cepat


“Kenapa Airyn belum juga sadarkan diri?” tanya Hansell cepat disela langkah kaki yang tergesa-gesa


“Tunggu sebentar Tuan, saya akan memeriksa keadaan Nona Petrov” dokter itu berlalu dengan hormat, memasuki ruang ICU yang lengkap dengan baju steril yang dikenakan, Hansell hanya melihat dari kaca depan, ia melihat para dokter memeriksa kekasihnya yang ada didalam sana, membuat perasaan gusar kembali melanda


“Apa Airyn baik-baik saja?” tanya pria itu dengan khawatir, sedangkan didalam sana para dokter memeriksa tanda vital Nona Petrov, tentu semuanya baik-baik saja, hanya saja waktu perkiraan yang diberikan sudah lewat, membuat para Dokter begitu sibuk memeriksa keadaan pasien tersebut.


Hansell sangat dilanda kecemasan, akan keadaan Airyn yang dirasa tidak baik-baik saja, seketika itu Hellena dan Angel baru saja sampai dihadapan Hansell, Angel melihat kakaknya dipenuhi wajah khawatir, membuat hal itu menular kepada dirinya, ia melihat ke arah dalam saat para dokter memeriksa Airyn


“Apa Nona Airyn baik-baik saja Kak?” tanya Hellena kepada Hansell, membuat pria itu tidak mempedulikan pertanyaan gadis tersebut, tentu saja Angel merasa canggung atas sikap kakaknya yang dirasa kurang sopan kepada Hellena


"Kakak” bentak Angel dengan nada yang sedikit meninggi


“Apa kalian tidak bisa diam!! Jika aku tau Airyn baik-baik saja aku tidak akan sekhawatir ini” ketus Hansell kepada dua wanita tersebut, membuat Angel dan Hellena bungkam, bahkan ada kilat sedih dimata Hellena, saat ia merasa sedari tadi Hansell tidak menghargai kehadiran nya


“Hellena, maafkan kakak ku” bisik Angel dengan nada pelan ke arah Hellena, membuat gadis itu menepiskan kesedihan dengan senyuman


“Tidak apa-apa” saut Hellena segera dengan menepuk pundak Angel


“aku mengerti kakak sangat mencintai kak Airyn, tapi sikapnya kepada Hellena benar-benar membuatku canggung, semoga saja kak Airyn baik-baik saja” gumam Angel melirik ke arah pria yang dilanda cemas tak kepalang


“Tuan Hansell” sapa dokter yang baru saja keluar dari ruanagan tersebut, membuat Hansell mempedulikan dengan cepat “Nona Airyn sepertinya masih berada dibawah obat bius yang kami berikan, untuk merangsang kesadaran nya, anda boleh masuk kedalam sana mengunakan atribut yang di perbolehkan” tutur dokter tersebut


“Baiklah” seketika itu Hansell berlalu memasuki ruangan, sembari memasang beberapa pakaian steril yang wajib digunakan, Hansell melangkah dengaan perlahan menghampiri sisi kekasihnya


“Sayang” lirih hansell saat mengenggam jemari Airyn, pria itu menatap lekat ke arah wajah Airyn yang sangat pucat, Hansell hanya memikirkan apa yang harus diperbuat untuk membangunkan kekasihnya, ia hanya memasrahkan doa kepada sang pencipta, berharap Airyn secepatnya membuka mata


“Airyn apa kau tau, aku baru menyadari jika aku begitu mencintaimu, hingga aku berfikir jika kemungkinan terburuk terjadi, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu” tutur Hansell saat Air matanya berlinang mengucapkan kata tersebut, bahkan membuat pria itu tidak mampu lagi menyuarakan apapun melalui mulut nya “Aku tidak akan sanggup hidup jika kau benar-benar meninggalkan ku, dan karna itulah jangan berharap pergi seperti ini, aku tidak akan sanggup menahan rasa bersalah ini seumur hidupku sayang, bangunlan, aku merindukan mu, apa kau tidak rindu pada ku? tadinya aku berfikir apa hal yang paling aku rindukan!! Tapi sekarang aku tidak perlu jawaban selain hal-hal kecil yang kita lakukan, aku merindukan senyuman mu, aku merindukan pelukan mu, aku merindukan bagaimana sorot mata itu menatap ku, aku merindukan semua hal tentang mata mu, jadi bangun lah. Aku merindukan mu, aku rindu melihatmu dipagi hari saat membuka mata, dan aku bahagia memeluk dirimu dimalam hari sayang, aku ingin sekali melakukan kebiasaan kecil kita” tutur Hansell dengan banjir air mata, membuat Hellena dan Angel memperhatikan dari arah luar, meskipun mereka tidak mendengar apa yang diucapkan Hansell, namun air mata itu menjelaskan bagaimana terpuruknya pria tersebut


“Kakak” seru Angel saat air matanya berderai, menyaksikan betapa pasrahnya pria itu atas keadaan Airyn “Angel” sambut Hellena sembari memeluk teman nya, ia berusaha menenangkan Angel yang berlinag air mata menyaksikan kedua kakak nya begitu menderita “Kenapa kak Airyn belum bangun juga, aku tidak bisa melihat kakak seperti ini” tutur Angel dengan begitu terluka membuat Hellena memeluk teman nya dengan hagat, bahkan mata Hellena menatap Hansell yang berada didalam ruangan, sembari memejamkan mata berharap Airyn segera membuka mata


“Sayang, bangun lah! Aku monoh” Hansell mencium jemari Airyn dengan penuh sayang, ia memanjatkan doa disela kecupan hangat, ia berharap gadis tersebut segera membuka mata agar kembali menatap kedua matanya “Banyak hal yang harus kau tahu, Angel menerima dirimu apa adanya, tanpa kau berusaha membela dirimu, ia mengerti situasi itu, jadi jangan lagi berkecil hati” Hansell terus saja bercerita disaat Airyn belum membuka matanya, tentu saja rasa takut kehilangan semakin lama semakin jelas terbayang, akibat Airyn yang tidak terbangun semenjak menutup mata, Hansell hanya mampu menatap wajah kekasihnya, sembari mencium punggung tangan Airyn, ia tidak akan rela jika hal buruk terjadi pada keksihnya, bahkan Hansell ingin sekali membuang jauh seluruh fikiran itu,


Jemari Airyn bergerak secara perlahan, membuat Hansell berdebar menyaksikan, ia tak kuasa menahan air mata saat mata gadis itu perlahan bergerak, Hansell menyerukan nama Airyn dengan penuh harap, ia melihat perlahan gadis itu semakin mampu membuka mata, dengan cepat Hansell meraih wajah Airyn sembari mengusapkan tangan nya, hansell berusaha menyerukan nama Airyn namun gadis itu hanya menatap dalam kearah pria itu tanpa mampu bicara


Tangan Hansell sedari tadi menekan tombol yang ada di atas nakas, itu adalah alaram untuk memanggil para dokter, seluruh dokter berhamburan menuju ruang ICU, dan beberapa diantaranya menemui Airyn kedalam ruangan, dengan segera ia memeriksa keadaan Nona Petrov, dan menjelaskan jika Airyn sudah baik-baik saja, membuat Hansell bernafas lega melirik kekasihnya.


Selain Hansell, Angel dan Hellena juga merasakan lega yang sama, Hansell keluar dari ruangan agar tidak menganggu pemeriksaan dokter, pria itu memberikan Airyn ruang untuk menghirup oksigen, gadis itu masih diam menatap Hansell, tanpa memberikan penjelasan apapun, tentu ada rasa lega yang mendera secara tiba-tiba, namun itu tidak memuaskan hatinya, sebelum memeluk gadis yang ia cintai


“Akirnya kak Airyn bangun, kakak” seru Angel ke arah Hansell, mereka berdua saling memberikan pelukan akibat rasa bahagia yang tidak bisa terbayangkan, Angel berterimakasih kepada tuhan telah mengembalikan Airyn lagi, begitupun Hellena ia hanya tersenyum melihat ke ruang ICU.


Setelah beberapa hari akirnya Airyn di pindahkan ke ruang perawatan karena kesembuhannya sudah sedemikian rupa membaik sehingga tidak lagi dalam kondisi pemantauan terus menerus, tentu saja Hansell sangat sibuk dirumah sakit akibat menjaga kekasihnya, meskipun Airyn sudah mulai bisa bicara dan makan, bahkan minum obat lebih mudah tidak membuat Hansell melonggarkan kepedulian nya untuk terus memanjakaan Airyn


Pria itu sangat proterktif atas apapun yang akan dilakukan oleh Airyn, membuat gadis itu malu sendiri saat menatap ke arah Angel, menyaksikan perdebatan dua pasangan tersebut, Angel hanya dapat undur diri agar tidak disangkut pautakan.


“Kau ini berlebihan sekali” ketus Airyn ke arah Hansell, ia bahkan mendengus mengucapakn kalimat tersebut


“Sayang, nanti saja jika sudah keluar dari rumah sakit, kita jalan-jalan” bujuk Hansell dengan kalimat lembut


“Tapi aku bosan sekali disini, kapan aku keluar” tanya Airyn dengan begitu kesal ke arah pria yang sedari tadi menyuapkan makanan untuknya


“Dokter belum mengizinkan keluar, jadi kita tunggu saja” balas Hansell saat menyendokan bubur tersebut, tentu Airyn mengelengkan kepala menolak sodoran Hansell


“Tidak mau, aku tidak mau makan” balas gadis tersebut dengan kesal, membuat Hansell mengaruk kepala karna binggung “Kenapa Airyn menjadi seperti ini setelah bangun, bahkan ia berbeda sekali dengan dirinya yang dewasa” gumam Hansell saat memandang Airyn yang mengalihkan pandangan ke luar jendela


“Baiklah kita jalan jalan sebentar” kalimat itu keluar dari mulut Hansell setelah 5 hari Airyn mendekam didalam bangsal perawatan, tentu Airyn begitu girang sambil melebarkan senyuman kepada pria tersebut “Tapi aku harus konsultasi dulu dengan Dokter, apa tidak apa-apa berjalan keluar” tutupnya dengan tersenyum, membuat senyuman tersebut memudar dari wajah gadis itu “Aku pergi dulu” Hansell beranjak dari duduknya, saat meletakan mangkuk bubur di nakas, tidak lupa ia mengkecup kening Airyn dengan penuh sayang, membuat Airyn menerimanya dengan pasrah, Hansell berlalu keruang dokter guna menanyakan kondisi Airyn


“Masuk” seru Airyn dari dalam ruangan, membuat ajudan yang tadinya berdiri tegap dipintu luar guna menjaga Nona Petrov memasuki ruangan, ia memberi hormat sembari menunduk hormat


“Apa kah benda itu sudah ada ditangan nya?” tanya Airyn kepada ajudan kepercayaan yang menjadi kaki tangan Airyn saat ini


“Sudah nona, benda itu masih tersegel dan berada ditangan nya, ia akan memberikan nya langsung pada anda” jelas pria tersebut ke arah Airyn


“Baiklah, kabari dia secepatnya, untuk ke taman rumah sakit, aku akan keluar hari ini” tegas Airyn dengan nada dingin, membuat anak buahnya menundukan kepala sembari melakukan apa yang diperintahkan Nona Petrov


Airyn tengah melakukan hal yang diam-diam harus dikerjakan, sebab jika Airyn melibatkan Marry itu sangat beresiko, ditambaah Hansell mengetahui, mungkin pria itu akan melarang Airyn untuk melakukan sesuatu, sedangkan ia tidak bisa berdiam diri disaat semua hal hampir saja diketahuinya, Airyn tidak akan pernah bisa memaafkan siapa yang berada dibalik surat kontrak tersebut, karna akibat dirinya banyak orang disekitar Airyn yang berubah menjadi penghkianat, bahkan ialah yang membunuh ayah nya, bagaimana bisa Airyn berdiam diri, ia masih ingat jelas bagaimana Berto mengatakan hal itu lewat surat, ia ingat jelas Berto memberikan petunjuk yang berada dikamar orang tuanya, saat ini benda itu sudah berada ditangan orang yang disuruh Airyn diam-diam untuk menyembunyikan, jadi hanya tinggal bertemu dan mengambil benda tersebut Airyn dapat menemukaan arah, setidaknya untuk saat ini Airyn tidak bisa mempercayai siapapun yang menjadi orang terdekatnya, sebab orang yang paling dekatlah yang memiliki peluang untuk berkhianat.


Pintu tersebut terbuka hingga memecahkan fokusnya, Airyn tersenyum lebar melihat Hansell memasuki ruangan, ia sangat paham betul dokter itu akan mengizinkan nya keluar, karna Airyn sudah melobby para dokter, sebab ia tahu kondisi fikisiknya sangat lemah untuk keluar, namun bagaimana lagi untuk menyembunyikan hal ini dari Hansell dan siapapun, ia harus bertemu dengan orang tersebut di tempat yang tidak bisa di akses oleh CCTV atau alat pelacak apapun, jadi taman rumah sakit yang luas menjadi tempat yang pas untuk Airyn bertemu, bahkan ia menyuruh dokter untuk menjelaskan kepada Hansell terkait dirinya yang baik-baik saja, padahal sebenarnya saat Airyn bergerak luka tusukan tersebut terasa begitu ngilu


“Apa dokter membolehkan?” tanya gadis itu dengan senyum bahagia ke arah Hansell, tentu melihat antusias kekasih nya Hansell menarik nafas panjang


“Baiklah, asalkan tidak lama” serunya, seketika itu perawat datang membantu Airyn bersiap-siap dengan infus yang mengalir ke tubuhnya, Hansell meletakan kekasihnya di kursi roda sembari mengendong Airyn, tentu ada rasa perih yang hampir membuatnya meringis namun mampu ditahan


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hansell dengan penuh khawatir


“Aku baik-baik saja sayang” balas Airyn sembari memberikan senyuman penuh kebohongan


“Jelas sekali dia berbohong” gumam Hansell


“Apa yang akan kau lakukan Airyn? Aku tidak akan mau lagi menjadi pria bodoh!!” seru pria itu di dalam diamnya