
Sudah lebih 4 hari Hansell dan Airyn tinggal bersama, mereka menghabiskan hari seperti biasa, terkadang mereka berdebat, terkadang mereka berbeda pendapat, bahkan saling membuat kesal satu sama yang lain nya, dan sesekali juga keadaan terasa asing hingga membuat canggung, bahkan Hansell selalu saja membuat Airyn tertidur di dalam pelukan nya setiap malam, meskipun itu suatu kebahagian bagi Hansell namun dalam 4 hari sekaligus menjadi siksaan bagi dirinya, sekuat tenaga Hansell harus menguatkan hati dan membangun pertahanan diri yang kokoh agar tidak melampaui batasan nya, lantaran dirinya mengerti Airyn bukan wanita sembarangan yang dapat disentuh oleh nya, meskipun saat ini airyn begitu manja kepada Hansell dia memperlakukan gadis itu selayak adik perempuan , dan tentu saja Hansell memandang Airyn sebagai wanita.
Terlihat jelas bagaimana teriknya panas saat ini, matahari tegak di atas kepala dengan menyinari seluruh permukaan laut, namun bagi hansell suasana ini begitu sejuk lantaran memandang wajah Airyn yang begitu teduh dan anggun, Airyn dan Hansell berada dipinggiran pantai yang tidak jauh dari Villa, mereka menyelusuri tepian dengan bertelanjang kaki, bahkan sesekali mata Airyn menatap hampara biru bersamaan dengan wajah Hansell, selama ini dirinya selalu sendirian menyelusuri pantai, namun kali ini ada pria yang begitu istimewa yang tidak dapat di jelaskan kepada dunia.
Disepanjang perjalanan mereka, para nelayan atau beberapa warga dengan sopan menyapa Airyn dengan ramah, dan gadis itupun memberikan senyuman penuh ikhlas, membuat Hansell begitu kagum dengan gadis nya, di antara image dirinya yang begitu menakutkan sisi lain dari diri airyn begitu menakjubakan, bahkan Hansell sendiri tak menyangka ini terjadi.
“nak Airyn, anda mau kemana?” sapa seorang wanita paruh baya kepada Airyn, meskipun dia bersikap sopan namun tidak ada ketakutan sama sekali kepada gadis itu
“saya hanya jalan-jalan bu” balasnya dengan tersenyum
“nak, ibu ada ikan laut yang baru ditangkap hari ini, silahkan dibawa pulang, daging nya masih segar, bawa lah” suguhan wanita tersebut untuk Airyn, membuat Airyn merasa cangung untuk menerima, lantaran ikan tersebut akan menjadi barang dagangan para nelayan disini
“terima kasih bu, tapi persedian ikan Airyn masih banyak dirumah” tolak nya dengan sopan, namun wanita itu begitu memaksa membuat Airyn tidak enak hati untuk menolak nya
“Airyn, biar ikan itu untuk ku, sini saya bawa ikan nya bu” tukas Hansell seketika, lalu dengan senang hati wanita paruh baya itu memberikan nya kepada Hansell, tak lupa pria itu mengucapkan terimakasih atas ikan tersebut, dan juga Airyn mengucapkan terimakasih tak terkira bersamaan dengan senyuman ramah yang tidak pernah ditampilkan nya kepada siapapun di dalam dunia bisnis
“ibu yang harusnya berterima kasih kepada nak Airyn, jika bukan karna dia kami semua disini sangat kesusahan untuk bertahan hidup, nak Airyn menyumbangkan banyak bantuan untuk memperbaiki kapal nelayan, bahkan juga memperbaiki jalan yang berada di perdesaan ini, setidaknya dengan akses tersebut membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah” saut ibu itu dengan rasa terimakasih yang tak terkira kepada Airyn, bahkan dia menjelaskan nya kepada Hannsell.
Tentu saja hal tersebut membuat Airyn merasa canggung didepan Hansell, setelah ibu itu menyelesaikan satu dan dua kata yang dilontarkan nya, dia berlalu untuk pergi kepasar guna menjualkan dagangan di sore hari, Hansell dan Airyn pun mengucapkan terimakasih tak terkira atas kebaikan nya. Bahkan Hansell tidak percaya Airyn yang dikenal nya selama ini ternyata orang seperti ini, membuat dirinya mempertanyakan, apakah selama ini airyn memanglah wanita baik? Jika inilah sisi Airyn yang sebenarnya itu akan membuat Hansell begitu menyesal dengan masa lalu, membuat dirinya tak mampu menurunkan pandangan bersalah itu kepada Airyn, setelah 4 hari tinggal bersama, Airyn memanglah wanita biasa dengan seluruh sikap manja dan kerapuhan nya, berbeda ketika dirinya yang menjadi seorang pembisnis atas nama nona Petrov, dia begitu ganas untuk setiap keputusan dan bahkan tidak memberikan maaf atas pengkhianatan, namun Hansell sudah memahami kembali, bukan Airyn yang mengotori tangan nya dengan darah manusia, melainkan seseorang yang berada di balik surat kontrak, Hansell berfikir orang seperti apa hingga mampu mengendalikan Airyn.
Bahkan seorang nona Petrov saja mampu dikendalikan oleh orang yang berada dibalik surat kontrak, bukan kah itu pertanda bahwasa nya dia sangat kuat dan berkuasa. Membuat hansell begitu ngeri dengan sebuah pertanyaan yang menjelma didalam fikiran nya, selama ini Hansell tidak pernah terfikir akan hal itu, kali ini fikiran nya begitu kusut untuk memilah kembali perkataan Marry 5 tahun lalu, membuat Hansell begitu menyesal mengabaikan hal sepenting ini, tentu saja gadis nya tidak dalam keadaan aman, selama Airyn tidak mengetahui motiv dan siapa orang dibalik semua ini keberadaan nya masih saja terancam.
“apa yang kau fikirkan” tanya Airyn ketika menyadari betapa mengkerutnya kening Hansell
“tidak” balas nya dengaan senyuman “ Ryn ayo kita kembali, aku ingin sekali makan ikan bakar” pinta nya dengan begitu memohon
“ belum sampai satu jam, kau sudah mau pulang, menyebalkan sekali, pulang lah sendiri” gerutu Airyn kepada Hansell, wanita itu mengenakan sendal nya dan menaiki batu karang untuk melihat hamparan laut yang begitu luas
“cepattlah, aku sangat ingin mencoba ikan yang baru ditangkap ini, katanya jauh lebih enak dari pada ikan yang sudah diawetkan”
“kembalilah sendiri, aku masih ingin disini” celetuk Airyn dengan mempertahankan diri
“gadis ini, cepatlahh jika kau tidak pulang kulitmu akan gosong dibawah terik” hina Hansell kepada Airyn, agar gadis itu ingin kembali secepatnya
“apa peduliku” bentak Airyn kepada Hansell, tentu saja dirinya begitu kesal Hansell mengatakan kulitnya akan gosong, dia berjalan lebih cepat dari sebelumnya, membuat Hansell berteriak memanggil nama Airyn, namun wanita itu tidak menghiraukan panggilan Hansell, Hansell mengejar Airyn dengan menjinjing ikan yang berada ditangan nya
“Airyn” dia menangkap tangan gadis itu, membuat Airyn menepiskan tangan Hansell, mereka bertolak belakang satu sama lain nya, yang satu ingin mengajak pulang yang satu masih ingin bertahan. Bahkan ada adu dorong diantara mereka, membuat Hansell tak sengaja melemparkan ikan yang berada ditangan nya ke laut yang berada dibawah sana, bahkan mata mereka saling menatap bagaimana ikan tersebut terbang ke air laut
“ikan nya” teriak Airyn, sambil mengejar arah ikan yng melayang dia atas kepalanya, namun belum sempat Airyn menangkap ikan nya, hansell terlebih dahulu menangkap dirinya
“apa kau bodoh, kita berada ditepian pantai, dan dibawah itu ada batu yang menanti mu” bentak nya sambill memeluk Airyn
“kau melemparkan ikan nya” bentak Airyn lebih keras lagi dari pada Hansell
“jika kau jatuh aku harus bagaimana mana, kau ini” pria itu begitu khawatir dengan Airyn, gadis nya begitu ceroboh ingin menangkap ikan tanpa menyadari mereka berada di atas tepian pantai yang tinggi, lantaran tempat mereka berpijak adalah batu karang, jika Airyn jatuh tentu saja gadis itu tidak akan baik-baik saja dibawah sana, membuat Hansell begitu ngilu memikirkan hal tersebut
“apa pedulimu jika aku jatuh, menyebalkan sekali” bentak nya, Airyn pergi dari sana, dan menuju ke Villa nya dengan emosinya yang tidak mereda
“tentu saja aku peduli Ryn, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi kepada mu, bahkan membayangkan nya saja membuat ku begitu ngilu” balasnya dengan suara pelan saat melihat punggung Airyn dari arah belakang
Hansell mengikuti langkah kaki Airyn di belakang, dia menyelusiri jalan setapak demi setapak untuk menjaga wanita nya, dia hanya tersenyum melihat Airyn begitu marah dan kesal, meskipun dia menyadari telah membentak wanita itu, namun dirinya tidak bermaksud sama sekali, Hansell memandang keindahan rambut Airyn yang terurai panjang, dirinya tersenyum ketika memikirkan bagaimana bentuk pipi Airyn saat dia marah dan diam, wanita itu dengan langkah besar mengerutu sepanjang jalan, bahkan setiap kalimatnya begitu mengutuk kepada pria yang membentak nya barusan.
Langkah Airyn terhenti seketika dirinya melihat kebelakang, ternyata pria itu berjalan dengan tenang bersamaan dengan senyuman “ lihatlah dia tidak merasa bersalah sama sekali, malahan dia tertawa bahagia, mengapa aku masih mengampuni nyawa nya, apa aku kasih saja racun didalam makanan nya agar dia tidak bernafas untuk besok, biar tidak berani lagi tertawa seperti itu” gerutu Airyn, membuat Hansell yang terdiam di seberang jalan hanya tersenyum melihat wajah marah tersebut “apa dia sedang megutuk ku” gumam Hansell dengan senyum manis melihat mata sinis “itu imut sekali” tutup nya.
Sore hari nya, Airyn membuatkan ikan bakar untuk Hansell yang dipangangnya di halaman belakang villa, Hansell membantu Airyn menghidupkan bara dan mereka bekerjasama disana, meskipun Airyn masih diam namun dirinya tidak bisa mengabaikan keinginan Hansell, tentu saja pria itu sudah terbiasa dengan diri Airyn yang seperti ini, dibalik sikap nya yang selalu meradang ada suatu ketulusan yang tidak mampu dihilangkan, bahkan Airyn sendiri merasa aneh dengan dirinya, seperti apapun Hansell menyebalkan dan dia begitu mengutuk hingga ingin membunuh namun Airyn tetap tidak mampu melawan perasaan nya, ada rasa yang tidak dapat diabaikan nya kepada pria itu, membuat Airyn ingin sekali mengetahui ada apa sebenar nya antara dia dan Hansell.
“ini enak sekali, ikan nya begitu lembut dan manis, ini benar-benar luar biasa” celetuk Hansell kepada Airyn, namun wanita itu masih saja sibuk memisahkan tulang dan daging ikan untuk diberikan kepada Hansell
“apa kau tidak mau makan?” tanya Hansell kepada Airyn
“tidak”
“cobalah, ini sangat enak”
“makanlah” perintah Airyn sambil memberikan ikan itu kepada Hansell
“suapkan aku” pinta nya dengan wajah memelas
“apa kau gila, aku sudah terlalu baik selama ini kepada mu, tapi kau malah bertingkah, makanlah sendiri” bentak Airyn dengan kesal, dia melingkarkan tangan nya dengan wajah yang begitu gusar
“aku takut sekali dengan tulang ikan, bagaimana bisa aku makan ikan ini sendiri, kau jahat sekali ryn, padahal ini hari terakirku disini” celetuk Hansell, namun Airyn terdiam dengan pernyataan Hansell barusan, membuat Hansell menatap gadis itu dengan sesal
“apa kau ingin pulang?” tanya nya tanpa melihat kearah Hansell
“ahmm” jawabnya ketika dirundung kesesalan
“ohhh, aku akan membantu mengemasi barang mu” Airyn berlalu masuk kedalam rumah nya, dia menuju ruang kerja sambil menyusun beberapa kertas yang dikerjakan Hansell beberapa hari disana.
Pria itu menghampiri Airyn kedalam ruangan kerja, dia melihat gadis itu menyusun barang-barang nya dengan begitu sibuk
“ryn, aku akan pergi besok kenapa kau mengemasi barang ku sekarang” tanya Hansell dengan begitu sedih
“biar tidak merepotkan saja, apa saja barang-barang mu, apa file ini milik mu?” tanya Airyn
“iya”
“aku sudah melihat beberapa file nya, aku akan mempertimbangkan nya” balasnya dengan tersenyum
“ryn” namun Airyn tidak membalas perkataan Hansell
“Airyn” Hansell meraih tangan gadis itu, dan menarik tubuh nya kepelukan Hansell, membuat Airyn terdiam sekejap dan meneteskan air mata disana
“kenapa aku selalu menangis saat bersama mu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Airyn kepada Hansell dengan begitu tersedu
“Airyn, ayo ikut aku ke Korea” balas nya lirih, tentu saja gadis itu terdiam mendengar apa yang diucapkan Hansell kepada nya, namun dirinya tidak berhenti menagis di dalam dekapan pria itu
“berhentilah, kenapa kau cengeng sekali, apa kau mencintaiku” tanya Hansell seketika, membuat Airyn terhenti dari tangisan nya, namun mereka belum melepaskan pelukan itu, entah kenapa pertanyaan tersebut sangat sederhana namun airyn tidak mampu menjawab nya
“berarti kau belum mencintaiku” jawab Hansell ketika menerima jawaban diam dari Airyn
“shuutttttt…jangan paksakan dirimu, dan berhentilah menangis” jawab nya sambil mengusap lembut pungung gadis itu “ryn,apa kau percaya cinta?” tanya Hansell, namun Airyn tidak bergeming menjawab nya “ aku percaya cinta, seperti apapun logika menolak namun perasaan seseorang tidak akan mampu dibohongi, bahkan tubuh manusia saja tidak dapat ditipu, dan karna itulah jika kau mencintai seseorang kau tidak akan mampu menolaknya dengan logika mu” jelas Hansell kepada Airyn “dulu ada seorang dokter yang mengatakan hal itu kepada ku” tutup Hansell ketika tangan nya mengusap lembut kepala Airyn
“dokter apa?”
“dokter cinta” tukas Hansell seketika, membuat Airyn tertawa dengan jawaban nya
“hei kenapa kau tertawa, aku tidak bohong, dia adalah dokter yang mengajariku tentang cinta, bagaimana mengetahui orang itu mencintaiku, bagaimana melepaskan dirinya agar bahagia, dan juga dokter itu dengan kejam ingin menghapus ingatan ku kepada gadis itu” jelas Hansell begitu geram
“apa kau melakukan nya”
“tentu saja tidak, aku akan membawa perasaan itu kemanapun aku pergi?”
“apa gadis itu aku?” tanya Airyn dengan serius, membuat Hansell terdiam setelah mendengarnya, perlahan dirinya melepaskan pelukan mereka, membuat Hansell dan Airyn bertatapan amat lekat dan dalam
“aku hanya ingin menghiburmu dengan cerita bodoh ku, apa kau mau jadi wanita itu?” tentu saja dia tidak mampu menjawab pertanyaan Airyn, dia mengalihkan nya menjadi suatu lelucon agar mampu mengambil fokus gadis itu atas pertanyaan nya barusan
“tidak, kau menyebalkan” wanita itu mendorong Hansell, dan megusap air matanya, membuat Hansell tersenyum melihat Airyn dan mereka merapikan beberapa dokumen milik Hansell.
“Hansell, apa kau yakin menjaul saham mu untuk membeli saham milik tuan ji?” tanya Airyn dengan serius
“iya, hanya itu cara agar aku bisa menyelamatkan perusahaan nya”
“lalu bagaimana dengan perusahaan mu?”
“akan baik-baik saja” balas Hansell dengan yakin, membuat Airyn hanya memandang pria tersebut begitu dalam
“kenapa dirinya sepercaya diri itu” guman Airyn seketika.
“kau pulanglah segera, dan selesaikan secepat mungkin masalah tuan Ji” balas Airyn
“apa kau tidak mau ikut dengan ku ke Korea?” tanya Hansell
“apa maksud mu, aku tidak memiliki perusahaan disana, saham ku hanya berada di grup Ji saja, bagaimana bisa aku kesana disaat kerjaan ku sangat banyak sini”
“oh iya, seketika aku lupa kalau kau nona Petrov” ejek Hansell kepada Airyn.
Seperti biasanya hari begitu larut dan mereka telah selesai makan malam, Hansell menyelesaikan beberapa pekerjaan nya begitu pun dengan Airyn, dia sibuk berbincang dengan Marry di telepon terkait dengan perusahaan yang berada di Irlandia.
Mereka berdua tampak sibuk satu sama yang lain nya, membuat hansell tertidur di ruang kerja Airyn, sedangkan wanita itu masih antusiasnya berbincang dengan Marry, saat ini telah masuk dini hari, membuat Airyn begitu mengantuk akibat pekerjaan nya, dia bahkan lupa diri dengan waktu, Airyn melihat kearah luar dia tidak menemukan Hansell dikamar tamu, Siryn membuka ruang kerja melihat pria itu tertidur di atas kursi kerja.
“apakah kau secapek itu?” gumam nya, wanita tersebut memberikan selimut kepada Hansell, mematikan layar komputer yang masih menyala, Airyn menghidupan lampu yang berada dinakas sebelah tempat duduk Hansell, dia mematikan lampu putih dan menghidupkan lampu yang sedikit redup. Airyn keluar dari ruagan dan membaringkan diri dikamarnya.
Terlihat jelas bagaimana hansell sangat ribut dengan dapur Airyn, dia tengah berperang membuat sarapan untuk gadis yang masih terlelap dikamar nya, Hansell segaja tidak membangunkan Airyn agar wanita itu puas dengan tidur nya, waktu sudah hampir siang namun Airyn masih belum keluar kamar, sedangkan Hansell duduk rapi menunggu Airyn sarapan, pria itu mencoba kekamar Airyn untuk membangunkan, namun terlebih dahulu Airyn keluar dari kamar dengan kondisi yang acak-acakan bahkan matanya begitu sembab dan tengah mengerjapkan mata didepan pintu kamar, seakan dirinya begitu puas akan tidur pulas yang panjang.
Namun Airyn terlupa bahwa Hansell masih disana, tanpa sadar dia mengunakan baju kaos yang sepaha, bahkan hampir menampakan celana dalam nya ketika gadis itu mengerjapkan mata, membuat Hansell terpana dengan waktu yang lama tentu saja pria itu begitu malu memandangnya.
“Airyn apa yang kau lakukan” teriak Hansell
“kenapa kau disini” tanya gadis itu tanpa sadar, bahkan dia masih belum menyadari bagaimana kondisi nya saat ini
“masuklah kekamar mu” perintah hlHansell dengan meninggikan nada suara nya
“aaaaaaaaaaaa shit!!” wanita itu membanting pintu kamar setelah menyadari pakaian yang dikenakan nya, membuat Airyn begitu malu didalam sana, dia menyelimuti tubuh nya dengan begitu rapi, bahkan dirinya mengutuk kebodohan yang telah diperbuatnya pagi ini
“apa yang aku lakukan!!”
“Matilah aku”
“apa dia mengira aku tengah mengoda nya?”
“aishhh..sial, dasar bodoh”
“bagaimana aku menghadapinya”
“ya tuhan bagaimana ini”
Kesal Airyn kepada dirinya sendiri, sedangkan Hansell tersipu malu dengan rona merah jambu di pipinya, melihat kulit putih Airyn nan mulus itu membuat dirinya begitu panas di pagi hari ini, Hansell menyadarkan dirinya untuk tidak memikirkaan apa-apa, dia mencoba kembali ke dalam fikiran nya yang jernih, membuat pria itu memukul dirinya sendiri untuk menghilangkan semua itu.
Setelah beberapa lama Airyn keluar dari kamarnya dengan malu yang tidak tertahankan, dia tidak berani memandang Hansell dan menghabiskan makanan nya dengan tenang, bahkan diri nya tak mampu lagi berdebat dengan pria itu, Airyn hanya fokus melihat kearah pantai, dia mengunyah makanan nya dengan kecepatan tinggi, bahkan makanan itu langsung ditelan oleh dirinya.
“makan lah pelan-pelan, nanti kau tersedak” pinta Hansell sambil menyodorkan susu hangat kepada Airyn, gadis itu hanya mengangguk dan mengambil minuman nya, dia meneguk hingga tetas terakir.
Hansell yang melihat sikap kikuk Airyn hanya tersenyum malu, dia sendiri juga merasa cangung namun Airyn melihatkan begitu jelas kecanggungan diantara mereka, setelah Hansell selesai dengan semua nya Airyn mengantarkan pria itu kebandara, lantaran jika dia naik jat pasti Airyn tidak bisa mengantar nya, tapi jika Hansell ke Korea dengan penerbangan dibandara pasti akan memakan waktu lama untuk kesana, setidaknya Hansell masih bisa bersama Airyn ketika diperjalanan.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam menuju bandara, Hansell menapakan kaki dan memasuki bandara bersama dengan Airyn, keduanya tampak serasi saat bersama, bahkan membuat semua orang melihat kearah mereka, Hansell dan Airyn hanya beda 3 tahun, namun dengan wajah cantik dan anggun yang dimiliki Airyn masih membuat dirinya seperti anak sekolahan, sedangkan Hansell seperti pria mapan yang begitu tampan.
Setelah beberapa lama,akirnya penerbangan untuk Hansell ke Korea telah di informasikan, meskipun ada rasa aneh yang menganjal hati Airyn dia berusaha tegar dengan memberi senyuman, setidaknya saat ini dirinya tidak boleh menangis, lantaran akan mempermalukan dirinya sendiri, Airyn tersenyum dengan memeluk Hansell atas perpisahan mereka, begitupun pria itu dia merasa tidak rela untuk pergi namun bagaimana lagi kebahagian singkat ini harus terpisahkan karna dinding yang terbentang diantara mereka.
Pria itu melepaskan pelukan nya sembari mengusap kepala Airyn, dia memberikan senyuman kepada gadis itu hingga akirnya mereka terpisahkan kembali, Airyn hanya membalikan badan dengan air mata yang tertahan, dia memakai kaca mata hitam untuk menutupinya, begitupun dengan Hansell sekuat tenaga dirinya menahan genangan air mata, hal itu tidak mampu dibendungi nya, dirinya menutup dengan kaca mata hitam sembari menapakan kaki.
Hansell mendudukan diri didalam pesawat mata nya melihat kearah jendela, senyuman Airyn, tangisan Airyn, marah nya dan emosinya terpampang jelas di ingatan Hansell, bahkan manja nya wanita itu membuat tiap hati Hansell meleleh dengan sempurna, namun dia harus menerima kenyataan saat ini Airyn bukanlah miliknya, Airyn tidak mencintainya, Hansell berfikir sikap yang ditampilkan Airyn hanyalan sikap seorang teman bertemu teman lama nya, dia menelan semua kenyataan yang membentangkan luas harapan nya, bahwa Airyn harus bahagia.
Meskipun begitu singkat tapi semuanya bermakna dan berharga, Hansell percaya cinta yang dimiliki nya mampu menjadi penyejuk kesakitan yang dirasakan, bagaimanapun dirinya harus bertahan dengan semua hal, masih banyak yang harus dilakukan nya terkait Airyn.
Airyn membuka pintu rumahnya, memandang seluruh tempat ini dengan seksama, matanya menyaksikan bagaimana Hansell menempati setiap sudut dengan tubuhnya, mengisi kokosongan didalam ruangan nya, bahkan saat Hansell tersenyum menyiapkan sarapan, saat Hansell bekerja diruangan kerja, dan saat Hansell memakan dimeja makan, ditambah tempat yang bermakna ketika Hansell memeluknya saat menangis disofa, Airyn melihat semua bayangan itu, hatinya begitu sakit menerima kenyataan pria itu telah pergi dan meninggalkan jejak disini, hanya kekosongan yang mendominan diri Airyn, dia begitu kehilangan hingan teramat perih, Airyn merintih ditengah ruangan denga menopak sesak didadanya, gadis itu tak kuasa setiap kali mengingat bagaimana punggung Hansell meninggalkan dirinya dibandara
“kenapa aku merasa kehilangan?”
“siapa dia sebenarnya?”
“kenapa sesakit ini, apa aku pernah mencintainya? Tapi bagaimana mungkin, aku tidak mengigat sama sekali tentang dirinya?”
“kenapa sakit sekali”
Rintih wanita itu ketika memegangi dadanya yang diamuk rasa campur aduk, Airyn tak berdaya dengan perasaan nya sendiri, Hansell begitu hangat baginya, dia tidak pernah menemukan seorang pria yang begitu lembut kepada dirinya, bahkan berkali-kali dada pria itu menopang air matanya, membuat Airyn tak kuasa menerima kenyataan bahwa mereka telah berpisah.