Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Berantakan



Seperti biasanya, Iriana berselonjor didepan teras rumah, sambil menikmati secangkir teh dan beberapa potong kue dihadapanya, sedangkan Somi sangat sibuk dengan Projec yang tengah dirilisnya, gadis itu beralih menjadi pembisnis online, tentu saja selain bakat didunia entertaiment Somi memiliki selera dan bakat dalam desainer, ia mengelola kemampuanya untuk melakukan hal yang dia suka, meskipun ada rasa ragu memulai ini semua, tapi Somi percaya diri akan kemampuan yang ia miliki.


Sebab Somi sadar usaha yang ia rillis sangat besar kemungkinan untuk gagal, namun Somi tidak akan menyerah, ia tidak bisa berdiam diri dirumah dan menjalani hidup tanpa melakukaan apapun, karna masa depan gadis itu masih tetap panjang, dan juga Somi ingin membaggakan ibunya lagi, meskipun ia sempat mengecewakan, hal itu dijadikan batu sandungan untuk memperingatinya.


Sudah jelas Iriana sagat merindukan putranya, fikiranya sedari tadi selalu berpusat akan anaknya itu, entah kenapa ada rasa aneh yang menganjal dihati Iriana, membuat dirinya merasa sedikit takut dan cemas lantaran James tidak pernah kembali lagi setelah terakir kali ia pergi, bahkan saat itu Iriana melihat betapa cemasnya raut wajah putranya, ketika mengangkat telfon dari seseorang, mengantarkan Iriana kepada suatu asumsi yang selalu menganggu


dan ditakutinya


“Ahhh….kenapa dadaku selalu sakit akir-akir ini” gumam Iriana dengan wajah meringis meremukan sebagian dadanya, sebab ada rasa kecut yang begitu sesak disana, ia sadar kondisinya tengah memburuk akibat efek fikiran beberapa hari ini, namun Iriana harus bertahan untuk kedua anak-anaknya, ia tidak bisa meninggalkan mereka sebelum semuanya jelas


“Ji..aku harap untuk kali ini kau tidak mengecewakan aku lagi” gumam Iriana dengan sepucuk doa yang dipanjatkan, sebab ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika suaminya itu lagi-lagi menghancurkan keadaan.


Sebuah mobil berkilat hitam terparkir dihalaman rumah Iriana, membuatnya bergerak dari duduk untuk menyaksikan siapa yang berkunjung, sudah jelas mobil itu berhenti tepat dihalamanya, meskipun ia sangat berharap itu adalah mobil putranya, namun mobil yang hari ini ada didepan mata Iriana berbeda jauh dari mobil yang biasanya dibawa James, hingga tanda tanya mengantarkan Iriana kesebuah perasaan curiga, jika itu bukan anaknya.



Sebuah sepetu Pantofel yang dikenakan oleh pria keluar dari mobil itu, tentu ia terlihat gagah dan berkarisma, seorang laki-laki mengenakan pakaian rapi lengkap dengan jas yang membentuk lekuk tubuhnya, membuat Iriana menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan, jujur saja diumur yang terus bertambah membuat penglihatan Iriana semakin memudar, dengan senyum hangat pria itu melemparkan raut wajah ramah, membuat Iriana membalasnya dengan raut wajah bahagia


“Hansell….astaga anak ini, kenapa tidak pernah berkunjung lagi” sapa Iriana dengan bahagia, membuat Hansell tertawa manis kepada wanita itu, sambil memberikan pelukan hangat hingga keduanya saling melepaskan rindu, sebab Iriana telah menganggap Hansell sebagai putranya, karna kenyataanya Hansell adalah anak keluarga dari mantan suaminya


“Maaf jika Hansell jarang untuk berkunjung nyonya, karna ada beberapa hal yang akir-akir ini membuat Hansell sangat sibuk” tuturnya membalas sapaan Iriana, membuat wanita itu mengerti jika anak muda dihadapanya itu adalah orang yang sangat penting


“Masuklah nak, kita duduk didalam saja” sungguh Iriana dengan sopan, membuat Hansell menganggukan kepala sembaari mengikuti langkah Iriana, ia melihat keadaan rumah Iriana sangat berbeda jauh dari sebelumnya, ini adalah rumah minimalis yang sangat kecil, hanya cukup untuk dua kamar dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan peralatanya, meskipun sangat berbeda jauh dari rumah yang sebelumnya dimiliki, tapi Hansell yakin, Nyonya Iriana tidak mempermasalahkan ini semua, karna ia mengenal baik bagaimana karakter sederhana beliau.


Hansell mendudukan diri diruang tamu bersama dengan Iriana yang tidak bisa menyembunyikan bahagia, sedangkan Somi yang mendengar suara keributan dari arah luar, melangkahkan kaki menuruni ranjang, ia bersirobok dengan Hansell yang duduk manis diruang tamu, tentu saja perasaan itu tidak memudar secepat kilat, hingga Somi tertegun dengan diam menatap kearah Hansell yang saat ini memandang dirinya, jantung gadis itu seperti bergoyang didalam sana, hingga Somi lupa harus melakukan apa.


“Nak, buatkan minuman Hansell” timpal Iriana memutus perhatian anaknya, seketika Somi menarik kesadaran dan berlalu kearah dapur, ia membuatkan minuman untuk tamu yang pernah ia cintai dengaan begitu sangat, hingga Somi merasa gugup harus melakukaan apa, bahkan tanganya bergetar hingga sulit dihentikan.


Setelah Somi berhasil mengendalikan diri, dan menyelesaikan permintaan ibunya, ia menyuguhkan minuman dan beberapa potong roti kehadapan Hansell, ia undur diri dari sana setelah memberikan itu, sebab Somi tidak akan mampu menghadapi Hansell setelah apa yang terjadi diantara mereka, Iriana yang melihat sikap putrinya tentu sangat mengerti, ia tidak mempermasalahkan apapun asalkan anaknya dapat belajar dan memperbaiki diri, bahkan gadis itu melakukanya dengan baik setelah menyadari semua kesalahan kepada Hansell.


“Apakah ada hal penting yang ingin kau tanyakan nak? Hingga jauh-jauh datang kemari. Ini sangat jauh dari Soul” ucap Iriana kepada Hansell yang tengah meneguk teh tersebut, pria itu berusaha mengumpulkan keberanian meskipun rasanya ia sangat gugup mengucapkan kalimat, Iriana langsung menebak jika sebenarnya ada hal penting yang ingin ditanyakan oleh Hansell, bahkan tatapan pria itu tidak bisa membohongi Iriana


“Katakan saja, jika itu penting. tante pikir tidak masalah untuk mengungkapkanya” tutur Iriana dengan senyum hangat kehadapan Hansell


“Begini, apakah ada mengenal Griffin dan James?” tanya Hansell dengan gamblang, membuat Iriana terdiam ditempat duduknya, bahkan hampir saja ia hilang kesadaran atas pertanyaan itu, seolah nama mengerikan itu benar-benar membuat tubuh Iriana merinding, perlahan wanita itu memegang dadanya yang amat sesak, membuat Hansell panik akan sikap Iriana, tentu ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Iriana seperti apa yang terjadi pada Merry, hingga rasa bersalah itu semakin nyata terpampang, bahkan Hansell menyadari kalimat yang ia ucapkan sangatlah menyinggung


“Nyonya…apa anda baik-baik saja” dengan cepat Hansell berpindah tempat kesamping Iriana, ia sangat peduli dengn raut wajah takut, melihat hal itu Iriana berusaha mengendalikan diri. Perlahan ia menarik nafas panjang yang senada dengan detak jantungnya, rasa sesak itu menghilang hingga Iriana mengulas senyum rindang



“Tidak apa-apa nak, Tante baik-baik saja. Bagaimana bisa kau mengetahu itu semua?” tanya Iriana dengan penuh peduli, sebab jika Hansell sudah mengetahui semua hal tentang James dan Griffin sudah pasti ia sangat jauh mengetahui tentang masa lalu, masa lalu yang harusnya disembunyikan dari Hansell


“Hansell mengetahui ini semua baru beberapa waktu yang lalu, hanya saja Hansell telah menyelidiki ini semua sudah sangat lama, bisa dibilang setelah kematian ibu. Jadi nyonya, apakah anda mengenal mereka? “ tanya Hansell dengan penuh sungkan, membuat Iriana menghela nafas panjang, sebab apa yang dilakukan pria itu tidak salah sama sekali, sangat wajar bagi Hansell ingin tahu kebenaran atas semuanya


“Benar, mereka adalah mantan suamiku dan juga anak laki-lakiku” tutur Iriana dengan lirih, membuat Hansell memandang wanita itu dengan kesedihan mendalam “Sebanarnya, sangat sulit bagiku untuk menceritakan itu semua, karna itu semua adalah masa lalu kelam yang ingin sekali aku kubur dalam. Tapi….” Belum sempat ia menyelesaikan perkataanya, Iriana meneteskan air mata dengan suara berat “Bahwa sebenarnya…anak ku masih hidup. Membuat aku tidak bisa lagi menutup diri. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini, tapi setelah melihat James dengan tatapan benci aku menyadari jika masa lalu itu belum usai, bahkan dendam itu masih belum padam, aku sangat takut menghadapi semua ini nak, tapi rasanya aku tidak memiliki tenaga lagi menghadapinya. Andai saja semua ini bisa diselesaikan dengan kata maaf mungkin aku akan megucapkan kalimat itu sebelum meninggal” ucap Iriana, membuat hati Hansell berdenyut, sebab ia juga mengerti akan posisi Iriana, bahkan wanita ini telah mengalami kepahitan demi kepahitan.


Seketika Hansell memeluk Iriana dengan penuh peduli, ia telah menganggap wanita itu sebagai ibunya, bahkan jauh sebelum Hansell mengetahui jika Iriana mantan istri pamannya ia sudah menganggap wanita itu sebagai ibunya, bahkan Hansell paham sekali tidak mudah bagi dirinya menghadapi semua masa kelam itu, perlahan Iriana dan Hansell melepaskan pelukan untuk menguatkan satu sama lainya.


“Nyonya, apa ada yang ingin ada ceritakan, Hansell tau ini sangat sulit, tapi jauh lebih sulit lagi jika kita membiarkan ini semua. Jujur saja banyak hal yang terlibat dari masa lalu itu, kepingaan yang tersisa dari sana meninggalkan semua dendam, jadi Hansell tidak bisa berdiam diri dengan masa lalu kita yang sangat salah sedari awal, hingga Hansell menarik kesimpulan jika semua ini terjadi berawal dari keluarga Farhaven, jadi sudah sewajarnya ini menjadi tanggung jawab Hansell” tutur pria itu dengan kalimat yakin, membuaat Iriana menatap kedua mata jernih itu, sebuah kejujuran dan tanggung jawab sangat terpampang nyata dikedua mata yang menyiaratkan permohonan, hingga Iriana merasa yakin pada Hansell.


Setelah selesai dengan percakapan mereka, akirnya Hansell berpamitan untuk pulang, ia mengendarai mobil sendirian untuk kembali ke Soul, tentu jarak yang ditempuh sangat jauh karna rumah Nyonya Iriana berada di pinggiran Daegu.


Banyak hal yang menjadi tanda tanya hingga banyak hal yang dipikirkan Hansell untuk memikirkan jalan keluar, satu-satunya yang bisa terpikir adalah menemui Airyn dan bekerjasama, tapi dengan kedua hubungan yang retak ini sangat tidak mungkin untuk Hansell mengajak Airyn bekerja sama dengan dirinya.


Kenapa rindu sulit sekali hilang? Seolah sebuah rasa yang tidak memiliki akir, jika saja ia mengetahui merindukan Airyn semenyakitkan ini, mungkin sedari awal Hansell perlu menghargai waktu ketika mereka bersama, selama ini ia selalu sibuk dengan dirinya sendiri, ia selalu mementingkan tanggung jawab tentang pekerjaan hingga pertemua mereka hanya terjadi jika diperlukan saja, Hansell menyesal tidak pernah mengajak Airyn berlibur dan menikmati waktu bersama, ia menyesal pernah mengabaikan hal-hal kecil yang pernah mereka lakukan, mungkin inilah yang paling sakit dari sebuah perpisahan, kehilangan hal-hal kecil yang pernah dilakukan bersama.


Kehilangan tawa dari wajah mungil itu, sapaan selamat pagi dan malam yang selalu diberikan Airyn, dan juga kepeduliaan yang tiap saat ada hingga Hansell selalu saja kesal dengan ocehan yang dituturkan utuknya, bahkan sikap garang Airyn yang sebenarnya sangat sexsi. Hansell benar-benar merindukan hal-hal kecil itu, sesuatu yang rasanya harus diiklaskan meskipun sulit untuk untuk dilupakan. Kadang kita menyadari seseorang itu berarti disaat mereka telah pergi dan hilang, disaat itulah kita baru sadar jika hal-hal kecil sangat berarti.


Tanpa sadar air mata menetes tanpa ada pertahanan, Hansell sangat menyesal dengan perpisahan yang terjadi dihubungan mereka, apakah ada yang seperti Airyn lagi, gadis yang selalu mengobarkan dirinya untuk kebahagian orang lain, gadis yang membiarkan dirinya terluka tanpa harus mengakiri hidupnya, hingga gadis yang sebenarnya sangat berkuasa namun rapuh dan lemah, Hansell ingin menjadi pria yang seperti itu lagi, pria yang bisa membiarkannya menangis didalam rangkulan perlindungan, wanita yang tetap kuat tanpa harus menyerah akan hidupnya, dan pria yang hanya bisa melihat titik rapuh Airyn sendirian, ia ingin menyelinap kedalam hidup seseorang yang seprti Airyn, namun tidak ada yang seprrti itu, karna tidak ada Airyn kedua dibumi ini.


Perih mengerogoti seluruh hati, seolah sepi menanti dirinya yang terlanjur pergi, Hansell menepikan sedikit diri untuk memberikan keberanian mengakhiri sakit ini. Apakah Airyn akan kembali lagi? Jika Airyn benar-benar hilang dan pergi, apakah ia masih bisa hidup disini? Kadang jiwa-jiwa lemah didalam diri pria membuat Hansell sedikit menyedihkan diri, ia mengerti Airyn terlalu berarti dihidupnya hingga sulit sekali untuk dihadapi jika mereka terlajur begini, namun bagaimana lagi hidup ini tidak pernah memberi ruang untuk Hansell bertahan, seolah sangat kejam merengut satu-satunya hal yang sangat kita inginkan.


Hansell menghubungi Darrel jika malam ini ia akan singgah disebuh Club malam, tentu dengan segera Darrel menghampiri tuanya itu, ia melihat Hansell telah dikelilingi para wanita yang berpakaian minim, tentu saja tengah mengoda tuanya yang hampir saja hilang kewarasan, Darrel menepikan mereka semua sambil memberikan beberapa tip.


Ia mendudukan diri disamping bos yang yang hampir tiap hari begini, seolah Hansell benar-benar akan menghancurkaan dirinya sendiri, sangat menyedihkan memang jika seorang pria ditinggalkan wanita yang ia cintai, bahkan Darrel tidak menyangka jika Nona Petrov akan menjadi titik lemah tuanya.


Ia meneguk alkohol yang disodorkan dalam gelas kecil itu, tentu Darrel meneguknya sebatas menghagatkan tubuh, bagaimanapun ia harus membawa Hansell kehotel, jadi Darrel tidak bisa hilang kesadaran.


“Kenapa Airyn harus mengakiri ini semua? Kenapa dia mencampakan aku? Lihatlah aku…..tidak kah kau fikir aku menyedihkan Darrel” ucap Hansell dikeadaan yang sangat kacau balau, bahkan ia seperti orang gila yang selalu mengucapkan nama mantan kekasihnya


“Lupakan lah Nona Petrov tuan, kau tidak bisa seperti ini” tutur Darrel dengan kalimat lambat bahkan tanpa sadar ia mengucapkan kalimat itu, perlahan Hansell mendudukan diri, ia melihat dengan tatapan membunuh kepada Dareel, tentu dalam keadaan tidak sadar, membuat pria itu tertegun dan sangat ketakutan, ia berfikir akan apa yang sudah diucapkan barusan “apakah saya mengucapkan hal yang salah Tuan” lirihnya dengan nada gemetar


Tanpa segan Hansell menarik jas yang dikenakan Dareel, lalu melayangkan tinju kewajah pria itu, seperti membabi-buta dikeadaan yang tidak sadarkan diri, Hansell menarik seluruh perhatian, Darrel yang berada dicengkraman Hansell berusaha melepaskan diri, namun pria itu sangat kuat hingga sulit dihentikan, Dikra yang baru saja memasuki Club bersirobok dengan kejadian yang ada didepan matanya


“Astaga Hansell” teriaknya dengan panik, segera Dikra menjauhkan Hansell dari hadapan Darrel yang terlihat babak belur


“Apa yang kau bilang? Melupakan!! Sekali lagi orang lain mengucapkan hal itu, aku akan membunuh kalian dan menhilangkan kalian semua dari permukaan bumi” bentak Hansell dengan garang, membuat Darrel sedikit takut akan apa yang ia ucapkan, tentu ada emosi yang berhasil ditahan bagaimanapun Hansell melakukanya didalam keadaan tidak sadar


“Hansell….apa yang kau lakukan, sadarlah” bentak Dikra memotong perkataan temanya, ia bahkan mendorong jauh tubuh pria itu dengan kesal, karna Hansell benar-benar kacau dari pada sebelumnya, seolah pria itu kehilangan hidupnya “Bajingan ini….” Dikra meraih kemeja yang dikenakan Hansell, dan melemparkan tamannya itu hingga tergeletak dilantai, seolah ia tidak terima dengan Hansell yang seperti orang gila “Apa pria ******** seperti dirimu pantas menyedihkan seperti ini… haaa!! Berulang kali aku bilang bukan. Pikirkaan juga adikmu!” bentak Dikra dengan sakit hati, hingga ia menjatuhkan pukulan kewajah temanya


“Aku memang menyedihkan, lalu kenapa!! Bukanya kau mencintai adikku? Kau jaga lah adikku dengan baik. Sedangkan aku sendiri tidak bisa mencintai diriku. Bagaimana aku bisa mencintai adikku. Jagalah adikku dengan baik” ucap Hansell dengan racauan yang tidak mampu dihentikan, bahkan nada bicaranya membuat Dikra semakin murka


“Kau pantas mendapatkan ini....biar aku menyadarkanmu dengan ini” sekali lagi pukulan itu menghantam hebat wajah Hansell, seolah Dikra benar-benar melepaskan kekesalan pada pria ******** itu, selalu saja Hansell seperti ini, kehilangan dirinya sendiri setelah Airyn pergi


“pantas saja Airyn meninggalkanmu, kau memang pengecut. Apa kau fikir dengan mengakiri hidup dan menyerah dia akan bangga padamu. Adikmu adalah seorang wanita, yang hanya memiliki kau sendiri disunia, apa kau fikir kau tidak memiliki tanggung jawab lain selain hatimu yang rapuh itu” Dikra berulang kali mencengkram leher Hansell dengan geram, ia tidak akan bisa memaafkan Hansell jika pria itu mengabaikan Angel, hidupnya bukan perkara Airyn saja, melainkan dirinya sendiri dan adiknya, ditambah tanggung jawab yang Hansell miliki, dan sekarang pria bodoh ini menyerah. Tentu Dikra sangat murka dan marah.


“Dikra, sudahlah…apa yang kau lakukan, ini sangat kelewatan” timpal Darrel yang memisahkan dua orang itu, mereka berdua melirik kearah Hansell yang tergeletak dilantai, penuh dengan memar yang ada diwajahnya, Dikra mengusap kepala dengan kasar seolah dia sangat sesal atas sikap lemah yang dimiliki Hansell