
New York, Amerika. Pukul 08.00 pagi….
Hari ini Zates sudah menyiapkan segalanya, ia sudah berusaha menghubungi istrinya namun Zates mengurungkan niatnya, lantaran perbedaan waktu mungkin saat ini tengah malam hari di sana, dan Zates sudah selesai dengan seluruh perlengkapan barangnya, bahkan pria itu sudah memeriksa beberapa pekerjaan yang ia limpahkan kepada Elsiyana, Zates tidak mengurangi dan tidak menambah, ia meninggalkan gadis itu dengan porsi sewajarnya lantaran Zates mengerti Elsiyana juga punya pekerjaanya sendiri, ia tetaplah sebagai seorang Dokter ahli di sebuah rumah sakit dan selalu aktif dalam berbagai asosiasi dan juga melakukan seminar Internasional sebagai pembicara utama.
“Tuan Laos, apakah ada yang ingin di tambahkan lagi?” tanya seorang wanita yang cukup berumur kepada Zaterius, membuat Zates memalingkan wajah kearahnya.
“Tidak perlu Nony, ini semua sudah cukup. Aku akan kembali beberapa waktu lagi” ujarnya, seraya menyantap sarapan pagi yang mengandung serat dan sereal.
“Hati-hati di jalan Tuan. Aku berharap bisa melihat Ny.Merry secepatnya”
“Terimakasih atas perhatian mu Nony, jika nanti cucu ku sudah lahir dan anak ku sudah membaik dari kesedihanya, akan aku bawa Nyonyamu ke sini”
“Anda bisa saja, tapi saya sangat senang jika anda sudah bahagia sekarang. Memiliki Ny. Merry dan Nona Airyn yang sangat luar biasa. Aku doakan, anda akan memiliki umur yang panjang”
“Semoga Tuhan menjabah do’a mu” balas Zates kepada pelayan rumah yang ia anggap sebagai kakak itu, tentu saja selama ini Zates menetap di Amerika dan memiliki pengurus rumah tangga yang ia panggil Nony, dan wanita itu tinggal di rumah ini dengan suaminya, sehingga Zaterius tidak perlu cemas jika rumahnya akan terbang kalai.
Zates memasuki kabin penumpang ketika barangnya di bawa oleh pengawal ke dalam bagasi mobil, beberapa orang memberikan salam perpisahan atas kepergian Zates beberapa hari ini. Sebab sudah lama sekali Tuan rumah ini tidak di Amerika dalam waktu yang panjang, dan mereka benar-benar melakukan yang terbaik untuk melayani dirinya beberapa waktu belakangan.
“Aku ingin sekali mlihat Ny.Laos menginjakan kaki di rumah ini” ucap Nony kepada suaminya, membuat pria itu menyenggol tubuh istrinya lantaran suara wanita paruh baya itu bisa saja terdengar oleh Tuan Zaterius. “Kenapa kau menyenggol ku, aku bahkan sudah mengatakanya barusan pada Tuan” sambungnya dengan jengkel.
“Bukankah sudah aku bilang, bersikap layaknya pelayan. Jangan sok akrab dengan Tuan Zaterius” tegur pria tua itu, membuat istrinya berdecak jengkel sembari masuk ke dalam rumah.
"Dasar suami dingin"
Mobil yang Zates tumpangi sudah meluncur, dan bahkan saat ini tengah menuju gerbang keluar. Pria itu duduk tenang di kabin penumpang seraya mengistirahatkan dirinya, lantaran Zates ingin mampir ke rumah sakit sebelum ia meninggalkan Amerika, bahkan ia ingin berpamitan kepada menantunya untuk menemui Airyn.
*
Kaki jenjang itu keluar dengan tergesa-gesa, bahkan membuat semua orang terdiam saat melihat wanita yang mereka lihat di televisi itu menampilkan gurat bingung, bahkan suami Nony yang kala itu menyipitkan mata, di buat tidak percaya jika Ny.Merry ada di depan matanya.
“Permisi Tuan, saya ingin bertanya. Kemana Zates pergi? Bukankah ia akan bekerja jam 11 pagi” tanya Merry dengan terburu-buru.
Membuat pria itu mengambil seluruh kesadaranya untuk tetap fokus, bagaimanapun wanita itu adalah Nyonya besar rumah ini dan merupakan istri dari Tuan Zaterius, majikanya.
“T-Tuan ingin pergi ke bandara Nyonya, ia ingin kembali ke Korea untuk menemui anda” ucap pria tua itu dengan gugup, membuat mata Merry terpana setelah mendengar hal tersebut.
“Astaga, aku bahkan jauh-jauh kesini dan dia malah kembali ke Korea. Tidak bisa!!” dengus Merry dengan jengkel.
Dengan segera Merry menarik pintu mobil sambil memasuki Taxi untuk mengejar Zates, bahkan Merry tidak mengucapkan kalimat terimakasih dan pergi begitu saja dari hadapan pria tua tersebut.
“Pak, kejar mobil yang baru saja keluar” ucap Merry dengan memaksa, ia amat heboh sekali ketika menepuk bahu si pengemudi.
"Siap Nona" balasnya seraya mengendarai mobil yang melaju mengejar Zaterius.
"Cepat sedikit pak"
“Nona, lebih baik anda hubungi saja orang itu. Saya tidak bisa menghentikan mobil karna protokol jalan tidak semudah itu bisa saya langgar” ucapnya dengan cukup panik, bahkan pengemudi itu sudah berusaha tenang, namun penumpangnya amat ricuh hingga ia merasa cukup kalut dalam mengendarai kendaraan.
“Aku tidak bisa menghubunginya, ponselku habis daya!!” teriak Merry sedari tadi.
“Apa anda mengetahui nomor ponselnya? Pakai ponsel ku saja untuk menghubungi nya” ucap pengemudi Taxi itu saat memberikan usulan kearah Merry.
“A-Aku tidak menghafalnya” lirih Merry dengan penuh sesal, bahkan sesaat wajahnya di penuhi dengan kesedihan, membuat pria itu merasa bersalah diantara keheningan yang terbentang.
Sungguh Merry merasa sangat menyesal, bagaimana bisa ia tidak menghafal nomor ponsel suaminya, bahkan ribuan angka saja mampu ia kenali dan ia ingat di kepalanya, sedangkan nomor Zates yang beberapa digit saja tidak ia letaknya di memorinya, sungguh Merry sangat menyesal sekali.
“Nona, apa saya melakukan kesalahan. Jika saya menyinggung anda, saya sungguh minta maaf” putus pria yang saat ini merasa tidak enak hati ketika mengemudikan kendaraan, ia bahkan merasa tidak tenang ketika gurat sedih dengan mata berkaca-kaca itu terakses oleh matanya dari pantulan cermin depan.
“Tidak tuan, ini bukan salah anda. Saya tengah teringat sesuatu saja” bantah Merry ketika menepis kilau mata yang ingin tumpah itu. "Ikuti saja mobil di depan, jangan sampai kita kehilangan” sambungnya dengan tenang.
Setidaknya ia akan bertemu juga dengan suaminya di bandara, dan Merry akan memperlihatkan dirinya kepada pria itu, setidaknya ini bukan masalah untuk Merry, untuk itulah ia duduk tenang di kabin penumpang, nanti jika Merry sudah turun ia akan memeluk Zates dengan rasa amat menyesal, sebab saat ia tidak mengigat nomor ponsel Zates, Merry merasa sudah menyakiti suaminya, Zates pasti akan kaget nanti setelah melihat dirinya.
*
Kerutan di dahi Merry tertampil begitu dalam, kebingungan melanda wajahnya hingga Merry mendongakan wajah setinggi mungkin untuk melihat rumah sakit di hadapanya, bukankah Zates akan ke Korea, kenapa ia malah ke rumah sakit? Apakah Zates sakit selama ini karna itulah ia tidak pulang.
Seluruh perasaan takut bercampur khawatir melanda Merry, ia turun dari mobil setelah mengunakan sistem untuk membayar sopir Taxi, Merry meneriaki suaminya namun Zates sudah masuk ke pintu otomatis yang tidak bisa mengakses suara orang lain, tentu saja lapisan kaca itu akan meredam suara yang tendengar dari luar, membuat Merry berdecak kesal seraya berlari dengan penuh hati-hati untuk mengejar langkah suaminya.
“Kenapa Zates ke rumah sakit? Apakah dia tengah sakit?” kesal Merry ketika melihat lantai paling atas adalah arah tujuan suaminya, jika begini tentu saja Merry perlu menununggu lift selanjutnya untuk turun.
“Jangan katakan padaku jika kau menyembunyikan penyakitmu Zates, aku benar-benar akan marah” keluh Merry ketika mengusap perutnya, bahkan rasanya ia semakin tidak tenang melihat lift yang berjalan cukup lama itu.
Zates melangkahkan kaki keluar dari lift, ia di sambut hangat oleh anak buahnya sehingga mereka memberikan salam kepadanya, Zates berjalan cukup jauh untuk melangkah ke kamar Hansell, hingga pria itu meraih knop pintu untuk membukanya. Membuat Angel dan Dikra berdiri setelah melihat kehadirian Zates disana.
“Apa Elsiyana sudah memeriksa keadaan Hansell?” tanya Zates pada mereka.
“Sudah, tadi dia sudah menganti infus juga” balas Dikra, membuat Zates menganggukan kepala seraya memeriksa kondisi menantunya, bahkan Zates merasa sangat tenang melihat keadaan Hansell yang sangat stabil.
“Dikra, Angel aku akan ke Korea beberapa hari ini, jadi jika ada yang terjadi pada Hansell segera kabari aku” ucap Zates kepada dua anak muda di hadapanya, ia bahkan bicara dengan sangat hangat sehingga mereka menganggukan kepala mendengar perkataanya.
*
Langkah Merry terhenti ketika anak buah Zates mencegat dirinya, bahkan membuat wanita itu menjamkan mata melirik kearah Merry, bagaimana kagetnya mereka ketika Nyonya Merry yang saat ini mereka hentikan berada di ruangan ini.
“Ny. Merry” ucap mereka dengan sangat sopan namun tidak bisa menghilangkan ke keterkejutan di wajahnya. “Ny. Merry anda tidak bisa masuk kesini” sambungnya ketika menghentikan Merry.
“Kenapa?” tanya Merry dengan tatapan tajam, bahkan ada ketidak sukaan di wajahnya sehingga membuat semuanya amat gugup.
“Karna Tuan Zates yang meminta, hanya beberapa orang saja yang di bolehkan datang kesini dan itu sudah masuk ke dalam izin Tuan Zates” ucapnya dengan amat takut.
“Jadi aku tidak boleh!!” bentak Merry dengan kesal, bahkan ia merasa jengkel ketika ia tidak di izinkan masuk ke sini.
“B-Bukan begitu Nyonya--”
“Aku tidak memiliki masalah dengan kalian, jangan paksa aku untuk melenyapkan kalian semua. Karna itu aku ingin memastikan tentang suamiku, minggir!! ” ucapnya dengan memaksa, membuat semuanya membulatkan mata penuh keterkejutan.
“Tidak bisa Nyonya, anda tidak boleh masuk ke sini, Tuan Zates belum memberi anda izin untuk masuk”
Hingga Zaterius keluar dari pintu kamar yang ada di lorong itu, bahkan kedua mata Merry mengakses Dikra serta Angel yang berdiri di ambang pintu, bahkan keduanya saling bertatapan dengan penuh sungkan seperti tengah berbasa-basi satu sama lainya, membuat mata Merry menajam penuh ketidak percayaan, bahkan ada Angel dan Dikra di rumah sakit ini, dan nampaknya Zates kesini bukan untuk merawat dirinya melainkan seperti orang yang tengah menjenguk, tapi siapa yang ia jenguk, dan kenapa Angel dan Dikra ada disana, sungguh dada Merry penuh dengan tebakan yang menyesakan.
Hingga Zates mengalihkan pandagan untuk pergi dari sana, bahkan saat itu tatapan Zates tertuju pada seorang wanita yang tidak lain adalah Merry, hingga Angel amat kaget atas keterpakuan Zates saat melangkah, bahkan ia menutup mulut dengan kedua tanganya, hingga tampak sekali bagaimana mereka kaget atas kehadiran Merry tanpa terduga.
“Minggir” bentak Merry ketika memaksa semua orang yang menghalangi langkahnya untuk beranjak sesegera mungkin, wanita itu berjalan penuh yakin untuk menuju langkah depan, matanya panuh akan pancaran yang mengkilaukan sehingga nampak sekali bagaimana Zates tidak menyangka akan istrinya.
Debaran jantung yang terjadi seperti gemuruh yang menghantam dada Zates, sungguh membuat Zates tidak tenang bahkan tidak bisa bergeming, bagaimana bisa istrinya sampai di rumah sakit ini, apakah Merry sudah mengetahui semuanya, bahkan nampak sekali bagaimana emosi yang ia bawa ketika menapakan kaki kehadapan zates.
“Kenapa kau ada disini? Siapa yang di rawat di rumah sakit ini?” tanya Merry dengan penuh tatajam mengancam, membuat Zates memucat ketika di todong pertanyaan itu nampaknya di tancapkan dengan menuduh, seolah Zates sudah terjebak tanpa bisa berkilah. “Siapa!!!!!” teriak Merry hingga suanya memantul di lorong itu. “Jika kau tidak mau bicara, maka akan aku pastikan sendiri” sambungnya dengan penuh kesal dan gundah, bahkan ia melangkah untuk pergi dari hadapan Zates lantaran tidak mendapatkaan jawaban apapun.
Hingga tangan Merry di cegat oleh pria itu, Zates membawa Merry kepelukanya seolah Zates sudah dapat menebak apa yang di fikirkan oleh Nerry saat ini. “Z-Zates apa maksudnya ini? apakah benar yang aku fikirkan?” tanya Merry dengan berderai air mata ketika pelukan suaminya menahan tubuh Merry, sungguh Zates tidak mampu bicara. “Siapa yang di rawat di rumah sakit ini? Kenapa ada Angel dan Dikra? Apa hansell” sontak kata-kata itu menusuk ke hati Zates, membuat Angel menagis begitupun dengan Dikra yang mampu menekuk wajahnya. “Tidak kan Zates, tidak mungkin Hansell kan? Bukankah Hansell sudah meninggal, kau bahkan mengantarkan aku ke makamnya, bagaimana bisa Hansell di rumah sakit ini” ucap Merry ketika ia tidak bisa berfikir tenang, bahkan ia begitu frustasi di dalam rancauanya yang tidak menentu sehingga membuat penolakan pada dirinya.
“Kakak ku tidak meninggal!!!” teriak Angel dengan tidak terima, ia sungguh tidak bisa menerima perkataan yang mengatakan jika kakaknya sudah meninggal, bahkan rasnaya Angel sangat terluka atas perkataan Merry barusan. Membuat Dikra menahan tubuh kekasihnya, begitupun dengan Zates yang memeluk Merry.
“Jika kakak mu tidak meninggal, kenapa kau tidak memberitahu hal ini pada Airyn!!! Kau bahkan meninggalkan dirinya, daj mendiamkan kenyataan ini dengan tidak memberitahu kakak iparmu, kau hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan Airyn. Apa kau fikir tindakan mu benar Ha!! Bagaimana jadinya jika Airyn mengetahui jika suaminya kalian sembunyikan, apa yang akan kalian lakukan, tidakah kalian sadar, sikap seperti ini hanya akan menyakiti anak ku saja” bentak Merry dengan penuh emosi bahkan nampaknya Merry tidak bisa menahan diri lagi, membuat Zates menengkan istrinya, begitupun dengan Dikra yang menenangkan kekasihnya.
“Bahkan kakak ku seperti ini karna anak mu itu! Dan kau masih mengatakan benar atau tidak yang aku lakukan!!! Kalian hanya menempatkan kakak ku di dalam maslaah dan bahkan dia berkali-kali terluka akibat anak mu itu, sekarang kau malah seperti mendokan dirinya benar-benar meninggal”
“Aku mengatakan hal itu karna kau tidak mengatakan fakta sejujurnya, kau jangan lupa bagi Hansell yang terpenting di hidupnya adalah istrinya dan juga anaknya, baginya Airyn adalah segalanya, dan kau menyembunyikan Hansell tanpa sepengetahuan Airyn, apa kalian gila!!”
"Tapi ini bukan pilihanku, ini--"
“Angel ayo kita pergi dari sini” tukas Dikra seketika, nampaknya jika terus di biarkan semuanya hanya akan mengandung keributan, bahkan membuat kondisi tidak akan terkendali.
“Aku tidak mau. Aku bahkan tidak akan memaafkan kalian, jika nanti kakak ku sudah bangun tidak akan aku biarkan dia menemui istrinya lagi!!” bentak Angel yang kala itu di tarik paksa oleh Dikra, bahkan nampaknya Dikra tidak percaya emosional Angel akan seperti ini, teryata benar kata Zates jika tidak semuanya pihak keluarga akan kuat melihat kondisi keluarganya yang tengah koma, dan saat ini Angel pasti mengalami timpang tindih emosional.
“Merry maafkan aku” ucap Zates, bahkan ia memeluk istrinya namun Merry menjauhkan tubuhnya dari pria itu, namun tetap saja Zates mengambil paksa tubuh istrinya untuk di tenangkan.
“Kau keterlaluan Zates, aku membencimu, bagaimana bisa kau melakukan ini pada Airyn, jika Airyn mengetahui jika suaminya tengah terbaring di rumah sakit ini, apa yang akan dia lakukan, aku tidak percaya kau sejahat ini”
“Sayang, maafkan aku” lirih Zates dengan penuh sesal, ia tidak menyangka Merry akan seperti ini, bahkan Merry kehilangan kontrol dirinya dan malah bertingkah di luar emosionalnya, sungguh Zates tidak bisa membayangkan jika saja Airyn di dalam posisi Merry saat ini, akankah anaknya akan sanggup menahan semua ini.
Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan. Ucap Zates ketika memeluk erat tubuh Merry dengan penuh sayang.