Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Terkapar Di Apartemen




Lift pun berdenting, terlihat beberapa orang yang berbadan tegap berdiri didepan Apartemen Airyn, dengan seorang juru kunci handall namun dengan keamanan dan fitur yang begitu cangih hingga sangat sulit dibobol membuat mereka belum Dapat membuka pintu Apartemen tersebut, Hansell yang melihat semua hal didepan matanya, tidak mampu melangkah kah kaki, dia seprti tidak siap untuk menghadapi kenyataan nya saat ini, tubuhnya membeku seperti batu, bibir nya kelu dan tatapan seakan kosong menatap kerumunan pengawal


“jangan keluar dari pintu itu” seketik kalimat itu bermunculan di kepalanya, bahkan Hansell seperti tertimpa beban berat yang amat berat hingga dia tidak dapat menghadapi apa-apa, tentu saja itu kata-kata Airyn Yang diucapkan nya terakir kali


“Tuan” seketika fikiran nya disadarkan oleh pengawal yang menghampiri Hansell, dia berjalan keluar Lift disambut dengan tudukan hormat, seakan mereka membutuhkan Hansell untuk menyelamatkan Nona Petrov.


Mungkin benar Hansell telah melakukan kesalahan, mungkin benar Airyn sedang terluka, mungkin benar Airyn tidak baik-baik saja, namun sekarang bukan waktunya memikirkan luka, bukan waktunya untuk dirinya merasakan kecewa dan bukan waktunya untuk dirinya menjadi orang yang paling terluka.


Airyn didalam sana, bahkan entah seperti apa dirinya Hansell harus menyelamatkan nya, gadis itu, wanita yang dicintainya, Airyn, Airyn Petrovika, dan Nona Petrov tidak dalam keadaan baik-baik saja, seketika pintu itu terbuka hanya dengan sandi pin yang ditekan Hansell, dengan tidak memikirkan apapun, bahkan tanpa berdosa dia berlalu kedalam ruangan, dan langsung melihat sekitar, semuanya masih seperti 4 hari yang lalu.


Bahkan Tteokbokki saja masih berada di atas meja makan dan sudah berjamur, Hansell membuka pintu kamar dan melihat Airyn yang terkapar disana, wajah nya pucat pasi dengan selimut putih yang membukus sekujur tubuh tentu saja Hansell dibaluti luka, Hansell menyambar dan merasakan panas dingin lapisan kulit luar Airyn, bahkan darah saja seperti berhenti mengalir didalam tubuhnya.


Hansell meringkuh Airyn dan memeluknya, hatinya tersayat habis hingga terlalu kebal dengan rasa luka, pelukan nya seperti duri yang menyatiki sekujur tubuhnya


“Airyn” pria itu menjerit kesakitan melihat tubub Airyn terkulai lemah dan tidak berdaya, Airyn menutup mata nya dengan setia sedangkan Hansell seperti tersandung batu yang mematahkan kedua kakinya saat berjalan, Hansell meneriaki nama Airyn dan menagis bersimpuh sesal, dia memeluk gadis itu dengan luka yang membanjiri seluruh permukaan kulitnya, bahkan sesak didadanya begitu mengikat, membuat Hansell tidak berdaya selain menagisi kesalahan dan kebodohan yang telah diperbuat.


“Airyn, kenapa? Bukan mata mu!!!” Hansell menepuk pipi Airyn, namun seketika pengawal yang tadi menyapa Hansell dengan begitu sopan di depan Lift, mendorong nya menjauhi Nona Petrov


“kau membuatnya seperti ini, dan sekarang kau memeluknya seprti tidak berdosa, dasar baj*ngan” bentak nya, hingga Hansell tidak berdaya tergeletak dilantai, namun sesaat dirinya sadar bukan saat nya untuk lemah, bukan saat nya menyalahkan diri sendiri, dulu dia pernah terpaku dengan rasa bersalah yang begitu membelenggu, kali ini dia tidak akan mau lagi seperti dulu.


Hansell berdiri dan menepis semua orang yang ingin menyentuh Airyn, dia memeluk gadis itu untuk mengangkat tubuhnya, namun


Saat Hansell berdiri tepat di samping ranjang, dengan tubuh Airyn yang berada digendongan nya, gadis itu membuka mata dengan begitu sayu, dia melihat ke arah Hansell dengan terpaku


“Hansell, kau kemabali” senyum yang begitu susah payah dibuat, tertampilkan dengan tulus, Airyn meraih rahang Hansell dengan membelai tangan nya yang begitu gemetar diwajah pria yang dicintainya, dia seperti menemukan kebahagiaan setelah membuka mata.


“Airyn” Hansell menangis melihat sikap Airyn yang masih saja hangat kepadanya, sorot mata wanita itu masih seperti semula, setalah semua yang dilakukan nya Airyn masih saja mencintainya, Hansell begitu terpukul dan terluka, dia tidak menyangka wanita yang dicintainya akan menderita hanya karena dirinya, betapa bodohnya Hansell membiarkan dirinya terluka dengan melukai gadis yang dicintainya, selama ini dia selalu mengebukan suatu kalimat, siapapun yang melukai Airyn dia akan menghukumnya meskipun dirinya sendiri, sekarang Hansell mengerti dia tidak pantas lagi untuk gadis yang mencintainya.


“kenapa kau menangis, aku tidak mau kerumah sakit, baringkan aku dikamar” Airyn berucap dengan susah payah, dia seperti memohon dengan sangat, untuk Hansell menghentikan air matanya, namun Hansell seperti ingin melangkah keluar pintu kamar


“Hansell kumohon” kalimat itu berucap dengan susah payah, membuat Hansell tidak berdaya.


Dia membaringkan Airyn di ranjang itu kembali, tentu saja membuat pengawal Airyn meradang akan sikap Hansell. Namun sorot mata tajam Hansell langsung terpampang, dia menatap satu persatu orang yang ada


“apa disini kalian yang menjadi bos nya? Apa kalian tidak dengar apa yang diinginkan nya, jika kalian peduli cepat panggilkan Dokter dan keluar dari sini” seketika itu mereka saling tatap menatap, membuat pemimpin diantara mereka begitu geram kepada Hansell, tentu saja Hansell tidak peduli, dia menantang semua nya, dan menunjukan kekuasaan nya.


“Airyn, maaf kan aku” seketika suara Hansell melunak ketika diri nya bersimpuh dihadapan Airyn, dia begitu malu menatap wajah gadis itu


“Hansell” Airyn masih mengusap lembut wajah pria yang diicintainya, dia tidak mampu mengucapkan kalimat yang begitu panjang, selain menyebut nama Hansell begitu lirih, tatapan mata itu masih saja terlihat akrab dan begitu sayang, membuat Hansell terluka setiap kali membayangkan tubuh Airyn saat pertama kali ditemukan.


“apa kau ingin minum?” tanya Hansell saat melihat bibir kering Airyn, seketika Airyn menganggukan kepala, dan Hansell memberikan minum kepada wanitanya, dia menudukan gadis itu didalam pangkuan nya, Hansell membiarkan Airyn menyandarkan kepala didada nya.


Perlahan Airyn meneguk minuman yang disodorkan Hansell, sembari mengenggam jemari Hansell. Tentu saja pria itu melihat sikap Airyn dengan penuh pertanyaan


“bagaimana mungkin kau tidak membenciku” Airyn berbaring di kasur dan dia memeluk Hansell dengan penuh rindu, gadis itu tidak banyak bicara selain melakukan sikap untuk menunjukan keinginan nya, dia memeluk Hansell dengan begitu kuat hingga Hansell menyadari kekuataan nya sangatlah lemah, namun sekuat tenaga dia memberi kehagatan kepada Hansell, bagaimana bisa Hansell melukai wanita seperti ini, wanita yang begitu mencintainya, wanita yang tidak pernah membencinya meskipun berulang kali Hansell membuat Airyn berada diambang kematian.


“Airyn, maafkan aku, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, maaf sayang” Hansell memeluk Airyn dnegan begitu sasalnya, dia merasa bersalah hingga teramat salah, bahkan air matanya tak henti mengalir dan bercucuran hingga dadanya saja begitu sesak dengan isakan


“Hansell kau tidak salah, kondisi ku saja yang lemah. Hansell aku mencintaimu. Jangan salahkan dirimu dan jangan tinggalkan aku” kata yang diucapkan dengan begitu pelan namun menusuk kehati Hansell, bagimana bisa Airyn begitu menginginkan nya disaat semua yang dilakukan nya telah melukai Airyn.


“Airyn, bagaimana bisa aku memaafkan diriku sendiri, jika kau seprti ini karna aku” dia menangis ketika memeluk Airyn, rasa sesal telah mengerogoti sekujur tubunya yang dianggap suci


“Hansell, ini bukan salahmu, apa kau tidak mencintaiku?” tanya nya dengan lirih


“apa maksud mu, aku sangat mencintaimu, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu Airyn”


“karna itulah, ini semua bukan karna dirimu” Hansell tertegun mendengar pernyataan Airyn barusan, bagaimana bisa gadis itu mencintai dirinya yang begitu naif “Hansell tubuhmu hangat sekali, apa kau bisa mencium ku?”


baru saja Airyn menyelesaikan perkataan nya Hansell langsung meraih bibir Airyn dengan lembut, dia menyadari saat ini gadis itu sedang sakit, namun Hansell ingin memberikan kecupan manis nya untuk memberitahu Airyn, dia menginginkan Airyn, dan sangat membutuhkan Airyn, bahkan sebegitu butuh dia dengan tubuh gadis ini tanpa Airyn meminta, dia mengkecup lidah gadis itu dengan begitu lembutnya, bahkan bibir halus dan tipis Airyn terasa begitu nikmatnya, membuat Hansell tergila-gila untuk memilikinya, dan mengkecupnya lebih dalam lagi


“apa kau mau melakukan nya dengan ku?” tanya Airyn disela-sela ciuman mereka, tentu saja Hansell mengerti pertanyaan itu tentang pembahasan mereka terakir kali


“taku sangat menginginkan nya” tukas Hansell cepat “bahkan tanpa kau meminta aku akan memberikan nya sayang, aku tidak akan mempertanyakan apapun, aku akan menghapus semua prinsip ku.


Aku tidak akan mempertanyakan alasan mu, dan aku tidak peduli kita menikah atau tidak, kau tetaplah wanita ku, kau bisa melakukan apapun yang kamu mau dengan diriku, aku tidak akan pernah berpura-pura menjadi naif, jika aku sendiri saja membutuhkan mu” balas Hansell dengan begitu sesalnya menatap mata Airyn


“kau terlalu bersemangat, tapi aku sangat lemat” balas Airyn dengan sedikit terkekeh


“kau harus sembuh dulu, baru kita melakukan nya” balas Hansell lirih hingga bibir nya saja menyentuh telinga Airyn, gadis itu bereaksi dengan tubunya, melihat kesensitifan itu Hansell hanya tersenyum dan memeluk Airyn sekali lagi, sedangkan Airyn hanya tersipu malu didalam kungkungan pelukan hangat Hansell, mereka saling tertawa dengan renyah nya, tentu saja disela tawa ada air mata yang mengalir dipelopak mata, membuat suasana haru menyelimuti Hansell dan Airyn.