Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
[Episode : 73] Menghidupkan Sinyal.



“Airyn, aku mencintaimu sayang” Hansell berucap saat kedua wajah mereka saling menempel di sambut tatapan penuh arti yang tengah menyatu.


“Aku juga" lirih gadis itu dengan air mata yang mengalir di pelopak matanya, melihat semua itu Hansell mengusapnya sambil memeluk Airyn dari arah depan, rasanya ia sangat menyesal tapi ia tidak mengerti bagaimana cara meminta maaf lagi.


“Maafkan aku, aku melampiaskan emosi pada mu, aku sungguh minta maaf” kali ini Hansell menyesal telah melakukan hal seperti ini untuk menghukum Airyn, bahkan ia tidak bisa mengendalikan dirinya dan hampir saja membuat Airyn membenci, namun bagaimana lagi, Hansell telah terlanjur memberikan amarah di celah kedekatan mereka, hingga gadis itu terlanjur terluka.


Meskipun ada luka dan sedikit kecewa, mendegar Hansell mengakui kesalahanya dan juga meminta maaf, semua itu sudah cukup untuknya, Airyn memeluk Hansell untuk menenangkan pria itu, ia bahkan mengeratkan pelukan dengan semakin Hangat, bahkan tanpa sadar permukaan dada wanita itu menempel di permukaan kepala Hansell, membuat pipi dan telingan Hansell memerah karena gejolak hasrat yang kembali hidup.


“Airyn” pria itu menjauhkan kekasihnya, dia begitu memerah merasakan semua hal yang tidak disadari gadis itu, bahkan dirinya begitu gugup tanpa mampu memandang kearah Airyn, setidaknya Hansell tidak mau melakukan apapun selain ini.


“Aku ingin mandi, apa kau mau ikut” tanya pria itu dengan malu, membuat Airyn memukul tubuh kekasihnya itu seraya berjalan kearah lemari untuk mengambil satu set pakaian dan juga handuk berwarna putih.


"Mandilah sendiri, nanti setelah kau selesai, aku akan mandi setelahnya" ujar Airyn dengan sikap tenang, membuat Hansell beranjak dari ranjang sembari mengusap kepala kekasihnya.


Airyn memeriksa ponselnya sembari menunggu pria itu, bahkan ia cukup lama menghabiskan waktu melihat beberapa data. Hingga Hansell keluar dari kamar mandi lengkap dengan wangi semerbak dari sabun khas lavender yang merupakan kesukaan Airyn, pria itu sangat tampan dengan rambut basah sambil mengusapnya dengan Hansell, rasanya Airyn tidak bisa menepis kenyataan akan ketampananya.


"Sadarlah Airyn, kau wanita" batin gadis itu ketika berlalu kearah kamar mandi, membuat Hansell melirik kekasihnya yang enggan memandang dirinya. Bahkan Airyn lupa mengunci pintu kamar mandi itu saking terburu-burunya untuk masuk, Hansell hanya tersenyum melihatnya, seraya menutup pintu kamar mandi, ia beralih kearah kaca memandang dirinya, tapi lagi-lagi pintu kamar mandi membuat matanya terpaku.


Tanpa pikir panjang Hansell masuk keruangan itu, seraya menghampiri kekasihnya, ia sangat yakin Airyn pasti tengah merendamkan tubuhnya untuk merileksan diri disana, sebab gadis itu cukup kelelahan atas sikap Hansell barusa, betapa kagetnya wanita itu saat pria yang tidak di perbolehkan masuk berjalan santai kearah dalam.


“A-apa yang kau lakukan” bentak Airyn kepada Hansell, membuat pria itu tersenyum nakal seolah mengoda kekasihnya.


"Aku hanya ingin membantumu" ujarnya sambil lalu hingga menundukan diri disamping Bathub kamar mandi Airyn yang besar, mata gadis itu masih saja terpana, ia tidak menyangka Hansell sagat lancang tanpa perasaan berdosa.


“Aku akan mencuci rambut mu”sambung Hansell saat menarik aksesoris rambut yang menyanggul kepala Airyn.


"T-Tidak Hansell, aku tidak ingin membashi rambutku"


"Tidak sayang, kau harus mencuci rambutmu" paksa Hansell, membuat Airyn membulatkan mata kearah pria itu.


"Aku tidak suka bau wangi lavendermu, ganti saja dengan Vanilla" ujarnya kepada Airyn, membuat gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Hansell.


"Tidak Hansell, apa kau gila menganti shampoo ku. Nanti rambutku rusak"


"Iya aku gila, aku tergila-gila dengan perpaduan wangi lavender dengan wangi tubuhmu. Untuk itulah ganti saja jadi wangi Vanilla, agar tidak memancing diriku lagi" seketika Airyn terdiam, rasanya ia cukup malu mendengar protes yang Hansell ajukan, apakah benar wanginya mengundang pria itu untuk menerkam, jika benar begitu apakah Airyn harus menganti wangi tubuhnya.


Hansell begitu sibuk memainkan rambut kekasihnya, bahkan ia melakukanya dengan lembut, hingga sentuhan tangan Hansell, serta bau Vanilla yang memabukan membuat kedamaian di ruangan itu, bahkan saking damainta Airyn memejamkan mata merasakan refleksi diri yang dibantu kekasihnya.


"Apa aku cukup mahir melakukanya seperti wanita di salon-salon?" tanya Hansell pada gadis itu, bahkan membuat Airyn hanya berdehem untuk membenarkan seolah enggan membuka suaranya, membuat Hansell menjatuhkan kecupan di bibur ranum kekasihnya, membuat kedua mata Airyn terbukan ketika menatap kearah atas.


“T-Tidak bisakah kau melakukannya dengan cara biasa saja” seru gadis itu dengan nada tinggi, di tambah tatapan matanya mengarah tajam pada Hansell yang ada diatas.


“Ini cara biasa, tapi aku menyelipkan perlakuan istimewa khusus untuk mu. Apakah kamu suka payananku Nona Airyn” seru Hansell dengan bercanda, bahkan tanganya tidak di hentikan untuk memijat rambut Airyn dengan Shampoo, sambil membilasnya dengan air mengalir.


"Baiklah, aku akan memaafkan mu. Terimaksih atas pelayanan ini, jika kau seheba ini kenapa tidak bekerja di salonku" ledek Airyn, membuat Hansell mengerutkan kening mendegar ejekan tentang dirinya.


"Aku hanya khusus menjadi pelayanmu saja. Apa kau tidak penasaran kenapa aku bisa semahir ini melakukanya, bisa saja au sering melakukan ini pada wanita lain" sambung pria itu saat membalas ejekan kekasihnya, membuat Airyn berubah menjadi gelap seolah ia benar-benar tidak bisa mentoleransi perkataan Hansell yang seolah bercanda namun tidak mempertimbangkan perasaan Airyn.


"Hm,, maksudku--" serunya dengan gugup ketika menyadari wajah Airyn yang mengelap, ternyata Airyn saat serius sangat menyeramkan, pantas saja banyak orang mengatakan dirinya mampu mengintimitasi meskipun hanya dengan tatapan saja.


"Adik ku!!! Sedari kecil ia tumbuh tanpa ada mama, membuat aku harus merawat Angel, aku terbiasa memandikan Angel saat ia masih sangat kecil, untuk itulah aku bisa merawat rambut wanita" seketika gurat tegang di wajah wanita itu memudar, Hansell mengulas senyum seraya mendongakan kepala kearah Hansell.


"Begitukah" membuat Hansell tetawa membalas perkataan Airyn, entah kenapa Airyn terlalu istimewa karna ia berbeda.


"Yasudah, aku sudah selesai membilas rambutmu. Mandilah yang cepat, aku akan keluar" serunya, tentu saja Airyn menganggukan kepala membalas perkataan pria itu, ia melibat Hansell keluar dari ruangan itu seraya bangkit untuk membilas tubuh.


Airyn tidak menyangka jika rambutnya di sentuh oleh tangan pria yang ia cintai, bahakan Airyn tidak pernah memikirkan hal seperti ini, tadinya Airyn berfikir Hasell hanya bisa memperlakukanya dengan cara tak lazim, tapi siapa yang menduga ada sisi selembut ini dari pria itu, bahakah memikirkanya saja, membuat jantung Airyn berdebar.