
Pagi menyapa dengan silau matahari yang mulai menyakiti pelipis mata, bahkan matahari sudah berada di atas kepala, namun sepertinya Airyn masih setia menutup matanya, entah berapa lama lagi wanita itu tertidur dengan infus yang terus mengalir ketubuhnya, rasanya Hansell sudah merindukan wanita menyebalkan yang selalu mengemaskan, meskipun sedari malam ia menatap wajah istrinya yang begitu cantik ketika terlelap dengan wajah polos, di tambah pucat pasi yang mengemaskan seperti peri mungil yang tertidur nyenyak, tetap saja Hansell berharap Airyn terbangun.
Seseorang masuk ke kamar yang di tempati oleh pasangan itu, bahkan ia melangkahkan kaki dengan kecepatan tak beraturan seolah tergesa-gesa dari dirinya biasa, membuat Hansell menyambut kedatangan Dikra dengan wajah lelah, sambil menapakan kaki melintasi tanjakan kecil sebagai pembantas antara ruang tamu dan ranjang pasien.
Bagaimana kesalnya Dikra hari ini, sebab sedari malam ia bekerja keras tanpa tidur, dan bahkan saat Dikra mengantarkan kekasihnya pulang kerumah, Angel malah merengek untuk Dikra tetap tinggal, karna ia takut sendirian di rumah besar itu. Namun dengan terpaksa Dikra menolak tawaran kekasihnya, akibat pekerjaan yang Hansell limpahkan dengan waktu deadline, membuat Dikra dan Angel sedikit berselisih paham dan saat ini tengah perang dingin.
“Ini berkas orang yang kau minta” ucap Dikra dengan kesal, seraya memberikanya dengan terpaksa pada Hansell, melihat wajah sahabatnya yang kusut hingga lingkaran hitam dibawahnya yang sangat jelas, membuat Hansell sedikit menatap, bahkan tanpa bertanya panjang lebar, Hansell meraih berkas itu dengan segera untuk di keluarkan dari map coklat, ia membaca rincian data yang diberikan Dikra, bahkan beberapa data itu cukup membuat Hansell puas dan foto yang tertera di belakangnya menampilkan senyum sunging yang cukup mengerikan, tentu saja orang itu menguasai wilayah inggris dan merupakan orang yang Hansell kenali dalam waktu dekat ini, rasanya berurusan dg orang itu cukup mudah baginya.
“Terimakasih, aku akan membalasmu nanti” celetuk Hansell saat menepukan berkas itu kedada Dikra, bahkan ia menampilkan senyum manisnya dengan tenang, membuat Dikra berdecak kesal menatap Hansell yang puas akan temuan informasinya “Ada apa dengan wajahmu?” sambung pria itu dengan jengkel, seolah raut wajah Dikra tidak enak untuk ia pandangai, hingga merusak suasana kepuasan yang Hansell miliki.
“Angel marah padaku, karna pekerjaan yang kau berikan padaku. Aku sedikit berdebat dan hari ini dia mendiamkan diriku” dengus pria itu dengan frustasi, bahkan ia mengusap kepala dengan kasar hingga rambut dan wajahnya sangat singkron berantakan.
“Istrirahatlah, kau butuh tenaga untuk membujuk adikku yang manja” ledek Hansell pada temanya, bahkan ia terkekah atas pertengkaran dua pasangan itu, tentu saja Dikra sangat frustasi melihat Angel yang selalu merah-marah, rasanya Angel yang dulu ia sukai diam-diam, tidak pernah semenyebalkan ini, tapi kenapa semenjak menjadi kekasih ia selalu bertingkah. Hingga Dikra selalu gelisah jika Angel marah dan tak mau bicara dengan dirinya.
Dikra pergi dari ruangan Hansell tanpa berlama-lama disana, bahkan Hansell yang niatanya ingin turun dari ranjang, tertegun akan pergelangan tanganya yang di cengkram, membuat pria itu memutar leher untuk menghadap kebelakang, dan Airyn yang terbaring diranjang itu, sudah membuka mata dengan wajah sembab dan bibirnya yang pucat, mata Hnsell terpana melihat kedua mata mereka saling beradu, bahkan Airyn yang mulai mengerakan mulutnya untuk bicara, di bungkam oleh jari Hansell yang memaksa wanita itu untuk diam, Hansell memencet bel yang ada diatas ranjang istrinya, guna memanggil dokter untuk sesegera mungkin datang.
“Apa kau baik-baik saja? Jangan banyak bicara dulu, biarkan Dokter memeriksa tubuhmu” seru Hansell dengan wajah panik, namun ia sangat bahagia jika istrinya sudah kembali sadar.
Dokter masuk keruangan itu, mereka langsung memeriksa Airyn tanpa aba-aba atau sikap sopan seperti biasanya, setelah memastikan seluruh kondisi Nona Petrov aman, Dokter menyatakan Airyn baik-baik saja bersama janin di dalam kandunganya yang cukup kuat, Dokter juga menyarankan jika Airyn sudah siuman mereka bisa melakukan konsultasi dengan Dokter kandungan, tergantung kapan Nona Petrov siap untuk keadaan yang cukup kuat.
Hansell yang sangat bahagia istrinya sudah siuman, menaiki ranjang besar yang cukup tinggi lengkap dengan bagian pembantas di pinggiranya, Hansell memeluk Airyn saat wanitanya tengah melihat Hansell tanpa berpaling, mereka saling melepaskan rindu hingga sebuah ciuman di berikan kepada wanita yang sebenatar lagi akan menjadi ibu.
“Apa kau merindukan diriku?” tanya Hansell pada istrinya, seraya memanjai Airyn dalam pelukan yang menghangtkan tubuh keduanya.
“Sedikit” balas wanita itu seraya berpaling dengan sengaja, membuat Hansell memaksa Airyn menatap kedua matanya dengan sikap perintah, yang bahkan membuat wanita itu tidak mampu berpaling.
“Kenapa kau tidak merindukanku, padahal saat kita hampir menemui ajal kau mengatakan cinta dan takut kehilangan, dan setelah selamat dan sadar kau tidak merindukan ku. Apakah tidur panjang mu membuat dirimu bertemu seseorang di mimpi” celetuk Hansell pada istrinya, membuat wanita itu terkekeh atas perkataan pria yang cukup fantasi.
“Dari mana kau belajar bicara sepuitis itu. Aku memang bertemu seseorang di mimpiku, sangat tampan....” jelas Airyn dengan penekanan yang dalam, bahkan mimik wajahnya terlihat meyakinkan, hingga kedua mata Hansell melirik tidak terima pada wanita itu.
“Siapa?!” tanya Hansell dengan memaksa, namun Airyn mengelengkan kepala seolah tidak ingin mengatakanya, hanya saja mata Hansell mengancam seolah tidak terima untuk diabaikan.
“Entahlah, aku rasa anak kita. Dua laki-laki tampan memanggilku dengan panggilan ibu, apakah anak kita adalah dua laki-laki kembar nantinya” lirih Airyn seraya mengusap perutnya yang dirasa mulai membesar, bahkan Airyn tidak mampu berkata-kata lagi ketika perutnya memiliki detak yang seirama dengan hembusan nafasnya.
Hansell terpaku melihat sikap haru dan bahagia istrinya, membuat pria itu terdiam melihat perut Airyn yang dibuka dengan sengaja, bahkan wanita itu sangat senang memainkan hembusan nafasnya untuk merasakan detak jantung di perutnya yang mulai membuncit dibawah sana. Sampai akirnya Airyn mendongakan kepala kearah Hansell, hingga kedua tatapan mereka saling bertemu, betapa kagetnya Airyn ketika mendapati wajah suaminya telah berlinang air mata, melihat perut Airyn yang tengah mensemayamkan janin untuk calon anak mereka.
“Hansell kenapa kau menangis? Ada apa denganmu? ” cemas Airyn saat menangkup kedua pipi Hansell dengan jemarinya yang mungil, bahkan mata Airyn dibuat terpana untuk mengawasi wajah Hansell yang mulai bergetar akibat air mata yang tak kunjung henti.
Rasanya Airyn sangat bingung akan suaminya yang tak henti dari tangisan yang sangat dalam hingga menyesakan dada “Sayang ada apa denganmu?” ucap Airyn sekali lagi, membuat Hansell mengalihkan kedua matanya untuk menatap wajah Airyn, hingga tatapan yang ia sematkan dengan dalam-dalam, seperti sebuah isyarat untuk menyampaikan cinta dengan hubungan batin antara mereka.
Hansell tidak bisa menahan ini lebih lama, rasanya semakin ia tahan semakin hancur dan semakin takut kehilangan, pria itu memeluk istrinya dengan penyesalan, menyembunyikan wajah dipermukaan dada Airyn, hingga menahan tangisan yang semakin sesak dan semakin menikam tajam, Hansell mencium aroma tubuh istrinya yang selalu menenengkan, memeluk sumber kebahagian yang tidak ingin kehilangan, bahkan kali ini Hansell sangat posesif dari biasanya, seperti menyatakan sebuah ketergantungan atas tubuh istrinya yang kecil dan mungil, namun bagi Hansell sangat berharga lebih dari apapun yang ia miliki.
“Apakah aku bisa menjadi ayah untuk anak kita?” lirih pria itu dengan suara yang hampir tak terdengar, sebab permukaan wajah Hansell di tengelamkan ke dada Airyn, hingga wanita itu dapat merasakan hembusan nafas panas suaminya saat bicara di permukaanya kulitnya, sangat hangat dan juga memberikan nuansa senyar.
Airyn terdiam akan pertanyaan Hansell, ia yang tadinya cukup bingung kali ini menatap Hansell dengan tatapan teduh, sembari mendaratkan tanganya untuk mengusap punggung suaminya yang didera sedih tak mendasar “Apa yang kau katakan Hansell, Tentu saja kau bisa menjadi ayah. Karna kau adalah ayah mereka” seru wanita itu dengan nada lembut yang mampu membuat hati pria itu luluh lantah.
“Tapi ada hal tentang diriku yang mungkin mengecewakan untukmu, bahkan aku terlalu takut untuk memohon kau tetap tinggal di sisiku. Karna rasanya aku sangat mengecewakan” balas Hansell dengan rasa bersalah, membuat Airyn menautkan kedua alis tajamnya nan tegas, sebab ia cukup bingung akan perkataan pria itu. Memangnya hal apa yang Hansell lakukan sehingga Airyn akan sekecewa itu.
“Memangnya, apa yang kau lakukan hingga aku akan kecewa padamu, Hansell?” tanya wanita itu dengan sikap tenang, entah kenapa banyak hal yang mulai ia terka, tapi Airyn memilih percaya pada suaminya dan memilih mendengar penjelasan dari Hansell.
Sedangka pria itu, meragu dengan sangat, bahkan saking gugupnya Airyn dapat merasakan jika Hansell memeluk dirinya dengan erat. Membuat Airyn cukup bingung atas sikap Hansell yang sangat berbeda dari biasanya, memangnya hal apa yang dilakuakn Hansell hingga ia merasa bersalah begitu dalam.
Hanya hening dan suara tangisan tertahan yang terdengar di ruangan kamar rawat yang luas itu, rasanya Hansell tidak memiliki percaya diri untuk menjelaskan pada istrinya, akankah wanita itu bisa menerima jika Hansell adalah pemipin markas besar, yang sudah melakukan perjanjian terikat dengan dirinya, akibat kesepakatan antara Louis Petrov dan juga ayahnya Hamillton.
Semakin ia menimbang-nimbang sebuah keraguan, rasanya Hansell semakin gugup untuk menjelaskan dari mana, akankah ia harus mengakui siapa dirinya di markas besar, atau haruskan Hansell mulai dari perjanjian masa lalu antara kedua orang tua mereka.
“Hansell!!” Airyn membuyarkan fikiran Hansell, ia bahkan mendorong tubuh Hansell untuk menjauh darinya, sebab semakin di diamkan, tangisan pria itu semakin menjadi-jadi.
Sebenarnya hal apa yang akan di sampaikan Hansell, hingga membuat Aiyn semakin tidak tenang dan merasa Penasaran, Airyn bahkan tidak bisa menenangkan pria itu, sebab selama ini selalu Airyn yang di tenangkan, kali ini apa yang harus Airyn lakukan untuk membuat Hansell tenang agar bisa membicarakan masalahnya “Apa yang terjadi sebenarnya, katakanlah!” paksa Airyn pada suaminya, tapi Hansell tetap saja sama.
Ia menundukan kepala seolah ragu mengucapkan kata, bahkan ia malu dengan air matanya yang tak kunjung berhenti. Demi apapun, ini hal yang sangat memalukan baginya, menangis di hadapan Airyn, tanpa bisa menghentikan suaranya yang terdengar menyedihkan.
Seperkian detik dan jam, ciuman di kening Airyn di jatuhkan, mata Hansell yang cukup sembab membuat Airyn terkekeh, keduanya saling mengkancingkan baju masing-masing dan bahkan pria itu membantu pakaian istrinya.
Kaki tinggi nan kokoh itu turun dari ranjang, untuk mengambil minuman untuk dahaganya. Saat Hansell meneguk minuman dari gelas itu, Airyn juga mendongakan wajah meminta bekas suaminya, membuat Hansell menahan gelas kaca untuk di sodorkan kemulut Airyn, setelah air putih itu tandas Hansell meletakan gelasnya di nakas yang ada di samping ranjang, sambil merangkak keranjang dan memeluk Airyn sekali lagi.
“Kenapa kau manja sekali, apa yang ingin kau katakan” tanya Airyn pada suaminya dengan wajah malu, membuat Hansell meragu saat menengelamkan wajahnya ketubuh Airyn.
“Tadinya aku berfikir untuk membiarkan apapun yang menjadi keputusanmu, jika kau kecewa atau marah padaku. Tapi setelah merasakan aku sangat mencintaimu, rasanya aku tidak bisa meninggalkanmu meskipun kau membenci ataupun kecewa, di tambah anak kita yang pasti menginginkan kedua orang tuanya. Untuk itulah aku akan mengatakan kebenaranya, sekalipun aku sadar ini cukup sulit untuk di terima” seru Hansell pada Airyn, membuat wanita itu menatap pengertian pada wajah suaminya, seolah Hansell benar-benar serius akan ucapan yang akan ia sampaikan.
“Aku tahu kau wanita yang pintar. Mungkin kau sudah mencurigaiku sedari lama, dan kau sudah mempertanyakan hal apa yang membuatku menui kesuksesan di Negara ini dalam waktu sebentar” jelas Hansell pada istrinya, membuat tubuh Airyn menagang sembari menatap wajah Hansell dengan sempurna, seolah ia amat tertarik mendengarkan penjelasan dari suaminya, hingga rasa gugup dan takut Hansell mulai muncul menghantui dirinya dengan perasaan meragu.
“K-Kau tahu sendiri keluarga Farhaven adalah keluarga nomor satu yang pertama kali menguasi dunia bawah tanah dalam setengah abad dimasa lalu, selain bisnis dan juga nama keluarga besar yang dimiliki, keluarga Farhaven menjadi satu-satunya sebagai pendiri organisasi bawah tanah yang menstruktur, sehingga kerajaaan bawah tanah diseluruh wilayah masuk kedalam lingkup oraganisasi yang dikuasi oleh Farhaven, tentu saja selain kelas Mafia dan pembunuh bayaran, banyak bisnis yang dijalankan secara ilegal, baik dari Biologi, Teknologi, Farmasi, Senjata Api, Timah, bahkan sektor perdagangan dan bisnis. Bahkan Kerajaan bawah tanah penuh dengan wajah-wajah orang hebat dunia dan para elit terkemuka. Berdasarkan struktur organisasi di markas besar, sudah dibuat secara turun menurun sebagai ahli waris markas utama, dan tentu saja keluarga Farhaven menurunkan jawabatan pemimpin kepada ahli waris dari darah keluarga Farhaven itu sendiri, dan ayahku sebagai menantu di keluarga farhaven serata ibuku Charmilla yang menjadi pewaris satu-satunya, setelah retaknya keluarga itu dimasa lalu, hanya saja mereka menolak untuk pengelolaan organisasi ini. Meskipun mereka menolak tetap saja mereka membuat kesepakatan baru, jika aku berhak mewarisinya jika aku berkenan, sehingga semenjak beberapa tahun markas itu aku buat lebih terstruktur atas dasar kesepakatan yang dibuat oleh kedua orang tuaku dimasa lalu"
Kedua mata Airyn tidak bisa di hentikan untuk menatap Hansell, bahkan wanita itu tidak bergeming seolah setia mendegarkan penjelasan dari suaminya.
"J-Jadi untuk menginjakan kaki di Negara ini, aku mengunaka koneksi kelurga Farhaven dan menerima ahli waris kepemimpinan selanjutnya"
Wajah Airyn mengelap, hanya saja ia tidak menunjukan protes apapun sehingga menjadi pertanda Hansell harus menyelesaikan perkataanya.
"Selama aku menjadi pemimpi di markas itu, pengurus inti yang sudah aku tunjuk disetiap wilayah merekalah yang menjalankan organisasi tersebut, mereka mengabungkan dan menarik orang-orang hebat dunia untuk menjadi pengurusnya, namun tetap dalam perjanjian awal, jika aku hanya menjadi pemimpin utama dan mereka yang menjalankan segalanya. Tentu saja sejak kecil aku sudah mengetahui akan hal ini, namun aku mulai menyadari besarnya lingkup organisasi markas utama setelah kekacauan yang terjadi hari ini, semenjak berusia 12 tahun aku dikenalkan pada organisasi itu, hanya saja aku menolak secara mentah-mentrah, karna aku tidak ingin bergabung atau terlibat. Dan ayahku memberikan syarat jika aku harus bisa menguasai bisnis dan harus bisa melanjutkan perusahaan, tapi semenjak beberapa waktu atas kegagalan dan peluang kecil di Irlandia dan sempat berselisih dengan berbagai pihak, aku memutuskan untuk mengambil alih tahta sebagai pemimpim markas utama, aku memilih pindah ke Negara ini untuk melanjutkan syarat yang diminta oleh orang tuaku untuk mencapai kesuksesan, dan tentu saja aku tidak bermain curang ataupun melakukan tindakan ilegal. Aku hanya meminta wilayah ini sebagai tempat kekuasaan, dan—“
“Tunggu!” Aryn menjauhkan dirinya dari Hansell sambil menatap wajah pria itu “Apa kau tengah mengatakan jika kau pemimpin merkas besar yang melingkup kerajaan bawah tanah” tanya Airyn untuk meluruskan maksud, hingga bibir Hansell mengatup seolah ragu setelah melihat pandangan istrinya.
“Iya” Airyn memilih diam dengan wajah mengelap, seraya menundukan pandangan untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya.
“Aku hanya menduduki posisi sebagai syarat untuk menguasai wilayah ini, dan karna itulah selama 5 tahun ini aku bisa mengambil posisi teratas dan bisa mengembangkan perusahaan dengan berbagai anak perusahaan di beberapa Negara. Awalnya aku berfikir hal itu tidaklah sebuah pilihan salah, sebab aku selalu bermain dengan cara bersih dan melegalkan segala bisnis yang aku jalankan, tapi belakangan ini seseoranag menyadarkan diriku. Dengan menitikan sedikit noda sama saja aku mengotori seluruh permukaan, maksudnya dengan menerima persyarakatan itu sama saja aku sudah terjebak dengan markas utama dan juga terlibat dalam seluruh jalannya organisasi itu, sebab aku menduduki kursi pemimpin yang bertanggung jawab atas posisi yang aku emban. Rasanya sekarang aku mulai mengerti kenapa aku tidak pernah bisa menemukan orang dibalik surat kontrak, karna aku tidak benar-benar mengenali diriku sendiri, dan tidak mau mengakui keberadaanku. Karna itulah aku tidak bisa mengetahui jika sebenarnya Jilixinglah yang telah merecoki surat kontrak yang dibuat oleh ayahmu. Dan Jilixing adalah orang yang berada dibawah linduganku, dan secara tidak langsung, bisakan kita menyimpulkan jika akulah orang di balik surat kontrak itu” ujar Hansell dengan rasa bersalah hingga Airyn terpana akan penyataan suaminya.
“A-Apa maksud mu dengan Jilixing, dan dirimu H-Hansel? ” tanya Airyn dengan bibir gemetar dan rasa shock yang tidak bisa ia smebunyikan, bagaimanapun ia tidak mengerti kenapa Jilixing terkait dengan surat kontrak, hingga Hansell menyimpulkan dirinya sendiri sebagai orang dibalik surat kontak.
Kali ini Hansell dibuat bersalah, seolah Airyn tidak mengerti apapun dan bahkan gadis itu tidak mengetahi tentang Tuan Ji, tidakah dirinya terlalu menyeramkan sebagai orang yang Airyn percayai.
Tatapan kecewa dan rasa ingin tahu tertampil dengan tegas, Hansell mengpulkan tenaga untuk menjelaskan pada istrinya. Mungkin ia tidak memiliki pilihan untuk mundur sehingga membalas seluruh kebingungan istringa menjadi hal terbaik yang bisa Airyn lakukan.
Wanita yang tengah Hamil muda itu mendengarka tiap patah kata yang Hansell tuturkan, bahkan Airyn memasang pendengaranya dengan baik-baim, agar tidak salah mengartikan apa yang Hansell jabarkan, membuat wanita itu di buat terpana akan kenyataan sesungguhnya, bahkan Airyn yang seperti mendengar hal ini dari suaminya, seperti mendengar sebuah lelucon aneh yang tidak bisa ia ketawakan.
Akankah Airyn perlu bersykuru atas fakta tentang Hansell, atau haruskan Airyn menangis sejadi-jadinya karna berada dipihak yang sudah dibodoh-bodohkan oleh suamibya sendiri. Tentu saja Hansell menjelaskan apa yang dikatakan oleh Zates padanya, keterkatikan surat kontrak yang dibuat Zates telah di recoki oleh Jilixing, dan Hansell juga menjelaskan betapa dirinya berperan besar atas kasus markas yang di sembunyikan berpuluh-puluh tahun, di bawah kepemimpinan dirinya di markas besar itu, dan Hansell menjelaskan jika sebenarnya surat kontrak yang mengancam Airyn tidak pernah ada selain sebuah syarat untuk Airyn harus bertahan dan menerima warisan yang diberikan padanya oleh Louis Letrov, Airyn yang kala itu sudah mengerti bahkan sangat paham sekali, mencoba menahan diri sekuat tenaga untuk tenang agar tidak melampiaskan emosinya, bahkan ia masih tidak menyangka jika suaminya itu adalah pemimpin di merkas besar yang menaungi Jilixing, dan sebuah fakta mencengangkan diterima oleh airyn dari mulut suaminya sendiri.
“Apakah perusahaan Tuan Ji bangkrut di karenakan ulahmu?” tanya Airyn dengan tatapan ingin tahu yang besar, bahkan wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran dari wajahnya, Hansell yang kala itu menundukan kepala melihat kearah istrinya degan bola mata coklat serta alis tajam yang simentri untuk membalas tatapan Airyn.
“Iya. Alasan ku menghancurkan dirinya tidak hanya karna sikap anaknya padamu dan Angel saja, melainkan aku sudah sadar jika Jilixing ternyata anggota bawah tanah yang memimpin markas VVIP selama beberapa tahun belakangan. Bahkan aku mengetahui jika ia memiliki markas yang bernaung di bawah kepemimpinan diriku, tapi yang anehnya aku tidak bisa menyentuh markas itu untuk dihancurkan, sebab pengurus inti menolak keputusan itu tanpa alasan, dari sana aku mulai sadar ada yang tidak beres dengan Jilixing. Hingga akirnya aku mengetahui dari Zates, bahwa Jilixing adalah pemimpin markas yang sudah menghilang di masa lalu, dan aku baru mengetahui ternyata Jilixing tidak bisa di hancurkan karna ia berada di lingkup VVIP seperti dirimu, yang merupakan kelompek penting yang memiliki deligasi dari pengurus inti di markas utama” jelas Hansell pada istrinya, membuat Airyn terdiam dengan rasa kecewa yang berkecimbuk di hati, jika memang begitu kenapa Hansell harus menyembunyikan dirinya dari Airyn, kenapa Hansell harus membohongi Airyn dengan tingkahnya yang lemah.
Apakah Hansell tidak mempercayai Airyn, sehingga ia melakukan manipulasi ini, atau Hansell tidak percaya jika Airyn menerima dirinya apa adanya, sehingga ia mencoba menjadi ada apanya.
“Jika memang begitu. Kenapa kau harus memberitahuku semuanya? Kenapa tidak kau sembunyikan sampai akhir saja” ujar wanita itu seolah enggan memandang kearah suaminya, hingga hening membentang seolah Hansell meragu menjawab pertanyaan Airyn.
“Karna aku tidak ingin berbohong lagi mengenai diriku, dan aku tidak akan menyembunyikan fakta tentang diriku lagi, sebab aku mulai merasa bersalah padamu, dan itu tidak bisa aku tanah sendirian, bagaimana bisa aku menahan sebuah kenyataan, jika tanpa sengaja aku hanya melukaimu”
“Jika sedari awal kau sudah sadar, kenapa kau harus jujur padaku, kenapa tidak kau sembunyikan saja dan kau biarkan aku kebingungan, kenapa kau harus mengatakan ini semua setelah banyak yang terjadi di sekitarku karna kalian semua. Tapi aku yang merasa pintar ternyata terbodohi oleh kalian yang berpura-pura bodoh. Untuk apa ini semua? Apa untuk menghinaku!!” bentak wanita itu dengan tatapan tegas nan mengancam, membuat mulut Hansell bungkam selain tatapan nanar pada istrinya.
“T-Tidak sayang—“
“Hansell, sudahlah! Jangan mengatakan apapun lagi, aku sudah cukup kaget akan masa laluku, dan sekarang aku cukup kaget atas dirimu. Bodohnya aku” hina Airyn dengan tatapan merendahkan pada dirinya sendiri, seolah ia di permainkan oleh orang yang selalu ia percayai, ternyata menaruh harapan terlalu tinggi pada orang lain, hanya akan membuat kita kecewa dengan mendalam.
“Keluarlah, aku butuh istirahat.” ujar Airyn saat mengusir suaminya terang-terangaan, ia bahkan meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, bahkan Airyn menutup mata dengan segera seolah ia menginginkan Hansell beranjak dari ruangan itu, rasanya Airyn butuh ketenangan.
Kenapa disaat membahagiakan seperti ini, Airyn harus dihadapkan pada sebuah pilihan, bagaimana bisa ia menerima hal mengecewakan dari suaminya, dan bagaimabisa Airyn menahan dirinya untuk tidak marah, jika rasa sakitnya seperti sebuah belati yang ditambap tajam ke bagian dadanya.
Airyn tidak kecewa jika Hansell adalah pemimpin markas utama, ia bahkan tidak akan mempermasalahkan hal itu jika sedari awal Hansell jujur padanya, tapi selama ini kenapa Hansell harus bersikap bodoh dan tak berdaya, apakah untuk membodohi Airyn agar bersimpati dan mengorbankan nyawa melindungi dirinta, atau karna ia tidak mempercayai Airyn sedark awal karna itulah bersandiwara, jika memang seperti itu, untuk apa kata cinta yang selalu ia sematkan sebelum tidur, dan ucapan rindu di pagi hari, jika dimereka tidak ada kepercayaan sama sekali, bahkan sedari memulai hubungan ini Hansell sudah membangunnya dengan kebohongan.