Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
[Episode : 72] Ada apa dengan dirimu?



Pria itu mendorong tubuh Airyn kedinding, sudah lama dirinya tidak pernah mencubu gadis yang di cintainya, selama ini Airyn tengah sakit dan juga ada Angel membuat Hansell dan Airyn jarang berduan, kali ini Hansell menginginkan gadis itu, dia tidak meminta persetujuan dari Airyn namun Hansell langsung melakukannya.


Dia menjentikan dua jari nya, hingga gorden pintu itu tertutup secara otomatis, bahkan Hansell mematikan kontak lampu yang berada di samping Airyn, disela-sela dirinya menindih tubuh gadis itu, Hansell menjangkau pinggang Airyn hingga menempel kepadanya, ia memutar tubuh Airyn hingga berjalan mundur menuju pintu kamar, setelah mentok disana, Hansell mengunci pintu tersebut dari arah dalam, membuat kedua mata mereka saling bertatapan.


Hansell menatap wanita yang di cintainya dengan penuh pertanyaan, ada amarah yang di salurkan saat keduanya saling merajut kasih, tentu saja Airyn menyadari perubahan sikap Hansell saat menyentuhnya, namun dirinya tidak mampu menolak akan hal itu, apapun masalah yang dihadapi Hansell jika dengan melampiaskan seperti ini mampu membuatnya lega, Airyn akan menerimanya dengan suka rela.


“Hansell” Airyn berucap penuh peduli, sorotan matanya menguatkan tatapan Hansell, bahkan Airyn tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun dengan tingkah Hansell yang begitu dingin, dia menyadari pria itu tengah menahan amarah padanya, dengan kepintaran yang di milikinya Airyn, ia bisa mengenali bagaimana sikap seseorang terhadap dirinya, jadi saat ini dia sudah mengerti Hansell tengah memiliki masalah dengan Airyn, namun dirinya menahan semua itu dan memendamnya jauh-jauh tanpa di ungkapkan.


“Airyn, terakir kali kau pernah bertanya padaku, apa aku mau melakukan hal itu, tentu saja dengan senang hati aku mau melakukannya, tapi apa kau yakin dengan diriku?” tanya Hansell dengan sedikit gugup, dirinya masih saja memandang Airyn dengan jarak sangat begitu dekat, di depan pintu kamar yang baru saja terkunci, Airyn menatap Hansell dengan yakin, tentu saja ia percaya pada prianya, bahkan kerapuhan Hansell saja dapat dilihat oleh matanya, membuat Airyn menganggukan kepala tanpa dirinya berkedip memandang Hansell yang berada di depan.


Hansell meraih kaki dan punggung Airyn secara bersamaan, bahkan tanganya saja mencengkam mengangkat tubuh mungil Airyn dari arah depan, membuat gadis yang berada di dalam gendongannya tertegun akan tingkah pria itu, Hansell membaringkan tubuh Airyn di ranjang, dirinya membuka jas dan jam tangan yang dikenakan, bahkan Hansell membuangnya kesembarangan tempat, sambil menatap Airyn yang terkapar di ranjang Hansell sambil membuka kancing kemeja putih yang membalut tubuhnya, dia mengambil posisi untuk menindih tubuh Airyn, tentu saja dirinya tidak memberatkan tubuh wanita yang berada di bawahnya, Airyn memalingkan wajah karna dirinya sangat gugup melihat tingkah Hansell, bahkan ada gurat kecemasan di wajahnya yang begitu nyata, Hansell meraih tubuh Airyn sambil mengusap lembut pipi kekasih yang amat ia cintai, dia menyelipkan rambut Airyn kebagian telinga lantaran rambut gadis itu berantakan hingga menutupi bagian pipinya, Hansell mengucapkan kata “Aku mencintaimu, sayang” tanpa keraguan sedikitpun.


Demi apapun, Airyn berdebar tak karuan rasanya ia semakin guguo jika terus memandangi Hansell, baru saja Airyn berpaling memgelakan pandangan mata kekasihnya, Hansell maksa Airyn mendongak kearahnya.


"Apa kau tidak mencintaiku?" Tanya Hansell pada gadis yang ada dibawah tatapan matanya.


"Tentu saja aku mencintaimu" seru Airyn dengan jantung berdebar hingga sebuah rasa gugup tertampil di wajahnya.


"Jika kau mencintaiku, kenapa tidak membalas peryataan yang aku katakan barusan?"


"Apakah itu harus? Aku sudha membalasnya dalam hati"


"Itu tidak terdengar, aku ingin mendengar ungkapan cintamu" Airyn mengigit bibir bawahnya, rasanya ia tidak bisa menahan diri lagi saat melihat tingkah Hansell, apakah pria itu tidak sadar jika ungkapan cinta dikeadaan seperti ini sungguh memalukan bagi Airyn yang pemula dalam hal pacaran.


"Katakan" serunya dengan memaksa, membuat Airyn membuka mulutnya dengan perlahan seolah mempersiapkan diri membalas perkataan cinta dari Hansell.


"A-Aku sangat mencintaimu, Hansell" sontak Hansell tidak tinggal diam lagi, ia menengelamkan wajahnya kepermukaan tubuh Airyn, membuat jantung Airyn berdebar, seolah ia di kagetkan oleh laki-laki yang mulai menegoda tubuhnya.


Demi apapun, Airyn tidak mampu menahannya dan berulang kali memohon Hansell memghentikan, tapi pria itu tidak mendengarkan keluahan Airyn.


Hansell seperti menyiksa Airyn dengan penuh amarah yang ada, bahkan ia mengabaikan tiap permohonan yang Airyn loloskan dari bibirnya seolah Hansell benar-benar tidak menghargai gadis itu.


"Hansell, apa terjadi sesuatu?" seru Airyn denga susah payah, namun pria itu tetap menjajah dirinya, bahkan tidak ingin melepaskan kekuasan yang sudah ia ultimatumkan di dalam sikap dan segala tindakanya.


"Apakah aku sudah melakukan sesuatu?" teriak Airyn seolah tidak bisa lagi menahan ini lebih lama, membuat Hansell terhenti seolah Airyn juga menyadari ucapanya itu menghentikan jalanya siksaan yang Hansell berikan.


Hansell menatap lekat mata Airyn, ia tersenyum seolah cukup mengerikan saat dilihat, membuat tubuh Airyn bergindik namum mampu ia kendalikan, tanpa menunggu lama, dirinya mengendong Airyn untuk menempati bagian atas ranjang, Hansell kembali menindih Airyn dan melanjutkan permainan, tangannya menjalar ke bagian nakas untuk menghidupkan pendingin ruangan, padahal keadaan di negara ini memasuki musim dingin namun pergerakan mereka semakin mengairahkan hingga membuat gerah.


Kali ini Hansell meninggalkan jejak kepemilikan yang begitu banyak ditubuh gadis yang membuat dirinya tergila-gila, bahkan Hansell tidak memberi ampun kepada Airyn, tentu saja gadis itu merasakan perbedaan mengenai sikap pria yang menyiksa dirinya hari ini, biasanya pria itu begitu lembut dan menghargai Airyn, namun kali ini, sudahlah.


Airyn berfikir masalah apa yang membuat Hansell kehilangan pertahanan dirinya hingga begitu marah, ia mencoba menuruti kemauan Hansell untuk terus mengikuti laki-laki itu, tapi Hansell rasanya mulau melampaui batasan.


“Hanss…Hansell apa..yang kau lakukan” teriaknya dengan tersiksa, ia bahkan mencoba mendorong tubuh Hansell, namun pria itu mendorong Airyn tetap diam.


Namun sekuat tenaga Airyn mendorong lebih jauh tubuh pria yang mulai berlebihan padanya, ia tidak mengerti hal apa yang terjadi, sekalipun ada masalah tentang dirinya tidak seharusnya Hansell melakukan hal seperti ini pada Airyn. Tubuh pria itu terpental, ia terduduk tepat di depan Airyn, gadis itu merapikan pakaianya sambil duduk detik itu juga, bahkan tangan mungilnya mencoba untuk meraih selimut menutupu tubuh.


"Ada apa denganmu!!!" bentak Airyn yang rasanya hampir menangis, bahkan dadanya merasakan desiran sakit, saat Hansell tidak menghormati tubuhnya. "Jika ada masalah yang aku lakukam, tidak bisakan kau bertanya padaku, dan mengatakan hal apa yang menganggumu. Kenapa kau melampiaskan marahmu seperti ini? Apa kau tidak percaya padaku?" kali ini air mata itu mengalir tanpa sengaja, membuat Hansell mengerjapkan mata memandang Airyn.


"Maafkan aku, ini masalahku sendiri tapi aku melampiaskanya padamu" balas Hansell dengan cepat, bahkan dia ingin menjangkau kepala Airyn, namun gadis itu menepis tangan Hansell.


"Maaf? Apa kau yakin hanya maaf saja yang kau ucapkan!! Tidakah kau harus menjelaskan hal apa yang membuat mu seperti ini"


Hening membentang ruangan kamar yang sudah disetting menjadi gelap gulita dengan sedikit pencahayaan terang, Hansell yang memandang Airyn melihat rasa jijik dikedua mata kekasihnya.


"Aku memiliki masalah" lirihnya dengan enggan, rasanya akan semakin sulit jika Hansell mengatakan keraguan yang ia miliki pada Airyn, jika ia mengatakan itu bukankah menjadi peetanda jika Hansell tidak percaya pada kekasihnya. "Aku benar-benar minta maaf, apa mau memaafkanku?" sambungnya dengan wajah tulus, tapi Airyn tak bergeming untuk menjawab. membuat Hansell meraih tubuh Airyn untuk dipeluk dengan sedikit menyesal.


Tentu saja gadis itu menolaknya, namun dengan kekuatan tubuh Hansell, gadis itu menyerah, ia menangis seolah membenci tingkah Hansell hari ini " Maafkan aku, apa aku menakutimu" ujarnya denga sebuah pertanyaan tentu dengan rasa bersalah yang pekat, meksipun Airyn tidak membalas pertanyaan itu, ia menencangkan volume tangisan, sehingga Hansell menenangkan dengan sebuah pelukan seraya menghujani kepala Airyn dengan ciuman bertubi-tubi.