Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Menemukan dirimu



“Aku berharap kau tidak membuat kesalahan Zates, belum waktunya untuk Airyn mengetahui hal ini, jikapun Airyn harus tahu tentang hal konyo yang telah terjadi, bukan sepeti ini carannya” harap Merry saat meremukan kedua tanganya dengan takut, tentu saja ada keraguan mendalam atas apa yang terjadi di masa lalu, benarkan Charllot yang sangat Merry hargai itu bukan seperti wanita yang di anggapnya selama ini, apa maksud pria itu tentang kematian Nyonya Charllot, hal apa yang di sembunyikan Zates yang Merry sendiri tidak mengetahuinya.


Merry menatap kearah samping yang terapajang lemari besar disana, tentu selain lemari pakaian di ruangan ini ada lemari kaca yang sepertinya terbuat dari kayu sutra kokoh dan kuat, sehingga ukiran di sepanjangnya saja di berikan polesan mengkilat sehingga kayu itu terasa sangat mewah dan juga mahal, namun bukan itu masalahnya melainkan ada sesuatu yang ganjil dengan lemari pajangan itu.


Merry memilih bangkit dari tepian ranjang untuk berjalan kearah sana, ia menatap banyak hal-hal penting yang terpampang beserta sertifikat kedokteran yang Zates punya, selama ini Merry berfikir pria itu adalah seorang penjahat yang mengurung hidup di ruangan terpencil, tapi sepertinya pria itu diluar dugaan yang merry.


Zates nampaknya menikmati hidup bebasnya di luaran sana sehingga dapat menjelajahi dunia dengan segala bentuk penghargaan dan tanda di lemari kaca itu, bahkan banyak piagam dan beberapa sovenir atas apa yang ia raih dan tuai akibat kejeniusanya, tentu saja Merry dapat mengetahui hal-hal seprti ini, sebab Merry sendiri menjalani hidup seperti Zates.


Sebuah bunga Lily hidup menjadi ikonik di lemari kaca yang ada di depan matanya, membuat mata Merry tersentuh atas kesukaan pria itu terhadap bunga Lily, tentu tidak hanya di kamar ini saja, di ruangan makan yang pernah Merry kunjungi juga ada bunga Lily sebagai hiasan disana, seolah bunga itu terawat dengan sempurna “Apakah ada sesuatu di balik ini?” lirih Merry saat merabaa-raba lemari besar di depan matanya.


“Berdasarkan sifat pria itu ia pasti mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain. Bahkan ia mengatakaan tidak menyukai ruangan yang tersambung dengan hal menjijikan di kamar tidur. Namun untuk tipe manusia seperti Zates tidak mungkin hanya sebuah kamar tidur saja yaang ada di sini bukan. Setidaknya semua orang pasti memiliki sebuah tempat di kamar tidurnya, entah itu ruangan kerja, atau sebuah rak buku. Tapi disini tidak ada apapun selain ranjang besar dan lemari pakaian. Entaah kenapa aku berfikir ada sesuaatu di balik ini” sambungnya ketika mengetuk papan kokoh yang berbenturan dengan tanganya hingga menberisan suara gaduh.


Merry masih sibuk melacak dan mencari-cari tombol yang biasa di gunakan orang-orang untuk ruang rahasia, tapi sejauh apapun Merry berpikir ia tidak menemukan apun, bahkan saat Merry mecoba mengobrak-abrik lemari kaca dengan seluruh benda yaang terpajang disana tetap saja hasilnya sama.


Bahkan ia telah mecoba menyelisik beberapa hal ganjil yang tidak mungkin terfikirkan sebelumnya tetap saja tidak menemukan apa-pun, membuat Merry semakin geram atas hasil nihil yang di dapatkan.


“Astaga sebenarnya apa yang ada disini, sampai aku tidak bisa berhenti penasaran! Aku yakin pasti ada sesuatu, tidak mungkin ini hanya sebuah kamar tidur saja” ucapnya saat mendekatkan jari telunjuk ke permukaan bibir, seolaah Merry tengah berfikir keras akan semua kemungkinan.


Namun mata wanita itu tertuju kepada bunga Lily cantik yang memiliki vas yang cukup berat dengan tampilan mewah “Apakah ada disana?” gumam wanita itu saat menyibakan bunga Lily yang terangkai di Vas mewah, seolah ia menerka ada sesuatu di dalamnya, namun harapan itu pupus ketika tidak ada hasil.


Merry terus berfikir sambil menatap ke Vas bunga itu, ia sangat penasaran dengan sesuatu di balik sana, fikiran Merry mengatakan ada hal aneh di bawah Vas bunga yang merangkai bunga Lily tersebut, hanya saja hal itu sangatlah tidak mungkin karna sepertinya Vas bungat tersebut sangatlah berat, tapi kemungkinan yang terfikir itu terbantahkan saat tanganya mengangkat Vas tersebut seperti mengangkat serangkai bunga biasa, Vas itu tidak seberat yang terlihat, bahkan cukup ringan hingga bisa diangkat, Merry yang tadinya ingin menyerah kali ini terbantahkan dengan tombol di bawah Vas bunga Lily.


“Astaga. Benar!! Memang ada sesuatu di balik sini” ucapnya dengan senyum sumbringah, membuat Merry tidak bisa berhenti penasaran dan mengikuti kemauan ingin tahunya yang besar.


Sesegera mungkin jemarinya membuka tombol yang ada disana, sehingga lemari itu berputar 90 derajat, hingga menampilkan pemandangan yang tidak di sangka, sebuah ruang perpustakaan besar yang berjejer buku rapi di setiap raknya, tentu saja sesuai tempatnya yang tersembunyi, ruangan itu sedikit suram nanum ramai dengan buku-buku.


"Hanya sebuah perpustakaan?" Gumamnya ketika melangkah masuk


***


“Apa ini?” tanya Airyn saat membulatkan mata penuh ketidak percayaan, seumur-umur baru kali ini dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutanya, sebuah ruang bawah tanah yang di yakini cukup curam memiliki terowongaan besar di bawahnya, apakah ini nyata. Siapa yang sebenarnya membuat hal aneh seperti ini?


“Nona silahkan naik” ucap Sabrina ketika menawari Airyn menaiki kereta bawah tanah yang di desain spesial untuk menuju markas Tuan Zates, tentu saja hanya menempuh perjalanan sekitar 5 menit seseorang bisa mendarat di markas itu, sebab kereta itu bertujuan untuk mempercepat saja, karna lokasi hutan itu berada di pinggir hutan utara yang berdekatan dengaan perusahaan tempat Airyn di tempatkan barusan.


“Nona Airyn” ucap Sabrina sekali lagi, ketika mengalihkan perhatian Airyn yang tengah mematung di hadapanya, wanita itu hanya mampu melihat dan memperhaatikan ada hal seperti ini yang dibangun di bawah tanah, tentu saja ia tengah berada di lobby lantai dasar untuk menaiki kereta, namun Airyn masih tidak mengerti kemana sebenarnya ia di bawa, apakah benar orang ini adalah suruhan orang dibalik surat kontrak atau ini hanya sebuah jebakaan dari musuhnya yang lain.


“Sebenarnya tempat apa ini, dan kemana kau membawa diriku” ucap wanita itu dengan pertanyaan yang penuh ingin tahu, sebab Airyn tidak memiliki apa-pun untuk melawan mereka, membuat Sabrina tersenyum sembari bersikap ramah, ia sadar tidak akan mudah bagi orang normal mempercayai adanya tempat seperti ini, namun Sabrina percaya Airyn akan memahaminya nanti.


“Ini hanyalah sebuah temapat Nona, jika anda masih tidak percaya dengan kami, anggap saja anda berada di tempat yang unik untuk menemui Suami anda Nona Airyn” ucap Sabrina, membuat tubuh Airyn menegang ketika mendengar suaminya di ikut sertakan atas penuturan wanita itu.


“Apa kau akan membawaku pada Hansell?” tanya Airyn dengan penuh pertanyaan yang bertolak belakang, membuat Sabrina tersenyum sembari membenarkan hal itu.


“Bahkan setelah sampai di tempat tujuan atau disebut markas besar kami, anda akan bertemu langsung dengaan Tuan Hansell. Dia baik-baik saja dan saya yakin dia sudah menunggu anda disana” ucap Sabrina untuk membujuk Airyn yang masih enggan melangkahkan kaki, entah ia tengah gila atau harus percaya dengan fakta tersebut, jika menyangkut Hansell akal sehat Airyn benar-benar menghilang.


Jika benar ia akan bertemu suaminya, tentu Airyn tidak memiliki alasan menolak, ia akan melakukan hal ini dengan senang hati untuk menemui suaminua, namun ada hal yang masih mencurigakan, kenapa sedari awal semuanyaa berjalan dengan lancar, tidakah ini aneh?


"Silahkan Nona" bujuk Sabrina ketika menuntun Airyn untuk melangkahkan kaki, membuat Nona Petrov melirik kearah wanota itu.


Tanpa berfikir lagi Airyn mengikuti langkah Sabrina yang di ikuti beberapa orang disana untuk menaiki kereta bawah tanah, setelah memasuki kendaraan itu mereka di sambut dengan baik, layaknya berada di sebuah kendaraan mewah yang memiliki pelayanan kelas atas, Airyn merasa seperti di pesawat pribadi yang memiliki pramugara dan ramugari bertugas untuk memasangkan sabut pengaman dan memberikaan layanaan untuk Airyn.


Kali ini yang lebih mencengangkan, Airyn di hadapkan dengan beberapa pembantu yang berjejer menanti dirinya dengan penuh hormat, membuaat Airyn melirik kearah Sabrina yang berdiri di belakng seperti seorang pengawal dan deretan orang bertubuh keker di belakang wanita bernama Sabrina itu, bahkan Airyn merasa bukan seperti tamu yang di tahan, melainkan Tuan rumah yang telah dinanti kedatanganya.


“Selamat datang Nona Airyn” sambut mereka yang berpakaian hitam putih dengaan pita-pita di dadanya seolaah pembantu rumah tangga disebuah kerajaan, tentu saja Airyn telah terbiasa dengan sikap seperti ini, namun ia tidak terbiasa dengan suasana ini.


Tanpa pikir panjang Airyn melintasi mereka, akirnyaa wanita itu di hadapkaan kesebuaah pintu yang terbelah menjadi dua bagian, yang ternyata dibagian dalam sudah ada penjaga yang membukakan, Airyn terkesiap melihat tampilan disana yang dipenuhi bunga-bunga dengan dindin kaca yang bahkan ada surya buatan, seolah ia memang berada disebuah taman yang bukan berada di bawah tanah, Airyn bahkan menyadari ia dibawa oleh mereka di sore hari menuju malam, dan sudah lewat 5 jam perjalanan untuk menuju perusahaan tadi, dan jika di perkirakan ini sekitar jam 10 malam, namun kenapa di tempat Airyn berpijak dia merasa seperti siang yang benderang, atau jangan-jangan di bawah sini memang dibuat untuk tidak memiliki pertukran waktu antara siang ataupun maalam, dan sepertinya surya ini memang dibuat untuk bekerja selama 24 jam.


“Astaga..tempat aneh apa ini” gumam Airyn dengan bingung ketika melintasi taman yang di penuhi bungga Lily dan angrek ungu, membuat Airyn mengingaat seseorang di masa lalu ketika melihat bunga Lily putih itu.


Tentu saja Sabrina membawa masuk Airyn ke markas utama melalui jalur depan, dan Merry yang di tuntun oleh Tuan Zates untuk menemui dirinya tentu melalui jalur belakang yang melintasi hutan belantara dengan seluruh kesuraman yang ada.


Airyn berdiri tepat di sebuah ruang tengah yang berada di ruang bawah tanah ini, tadinya Airyn berfikir tempat ini sangatlah suram dan juga mengerikan sebab ada di bawah tanah yang dalam, tapi siapa yang menyangka ketika memasukinya Airyn seperti berada di dalam rumah mewah biasa, bahkan ketinggian ruangan itu tidak membuat dirinya pengap ataupun sesak, seolah ada kelembapan yang cukup dibawah sini, sehingga arsitekturnya memang tersusun dengan rapi dan memadai.


Mata Airyn berhadapan dengan pintu-pintu tinggi yang berwarna putih di hadapanya bahkan tidak hanya ada satu atau dua bagian saja, melainkan ada sekitar 6 sampai 8, seolah di pintu-pintu itu ada ruangan khusus di dalamnya, sebenarnya tempat apa lagi itu, membuat Airyn sangat binging ketika menerka.


"Apakah ini Hotel?" gumam Airyn dengan bingung


“Nona, silaahkan kesebelah sini” putus Sabrina ketika mengalihkan perhatian Airyn, ia membawa gadis itu kesebelah kanan yang berada di ujung lorong, seoah itu menjadi pintu terakir yang ada di hadapanya


Tentu Airyn mengikuti Sabrina yang bersikap sangat sopan padanya, sedari tadi tidak ada kata yang di lontarkan Airyn ataupun pertanyaan, ia hanya memandang penuh perhatian seolah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, meskipun ia sangat penasaran tapi tidak waktunya untuk hal itu. Yang utama menemui Hansell.


Sabrina memberikaan isyarat kepada orangnya untuk membuka pintu yang ada di hadapan mereka, membuat pria itu melakukan perintah yang di berikan Sabrina, Airyn masih menatap kearaah wanita yang sangat dingin pada orangnya, namun begitu ramah pada Airyn “Ini adalah ruangan Tuan Hansell Nona” jelasnya kearah Airyn ketika anak buahnya berusaha membuka kunci pintu tersebut, membuat Airyn lega secara paripurna meskipun ia tidak bisa menyembunyikan kagetnya.


Ketika pintu itu terbuka lebar, mata Airyn di suguhkan dengan seluruh ruangan kamar yang cukup luas, di dalam sana ada ranjang besar dengan seseorang yang terbaring di Atasnya, ia yang tadinya bahagia sekali ingin berjumpa dengan Hansell berubah menjadi menyeramkan, seolah menyadari Hansell tidak sadarkan diri dengan aliran infus yang masuk ketubuhnya.


“Hansell” ucap Airyn saat kakinya mengantarkan dirinya berlari untuk menghampiri Hansell, ia bahkan tidak segan memeluk pria itu dengan cemas meskipun Hansell tidak sadarkan diri, darah Airyn yang tadinya terasa tenang kali ini mendidih tidak terima, ia tadinya bisa bersikap baik kali ini memandang kearah Sabrina yang berdiri diambang pintu dengan penuh amarah mengerikan


“Apa yang terjadi padamu, sayang” ucap wanita itu dengan bibir gemetar ketika membelai kepala Hansell secara sayang.


"Apa yang terjadi padanya, apa kalian melakukan seusatu padanya!! Jika terjadi sesuatu pada Hansell aku akan membunuh kalian semua” bentak Airyn saat mengenggam tangan suaminya, membuat Sabrina sedikit kelu menatap wajah ganas wanita itu, ia seperti melihat sikap Tuan Zates saat memberikan peringatan, membuat Sabrina bergindik takut saking gugupnya atas sikap amarah Nona Petrov, Sabrina memundurkan ketakutanya sebelum memikirkan jawaban.


Sedangkaan mata Airyn menatap kearah Hansell dengan sendu penuh bersalag , ia tidak terbayang suaminya akan berbaring diranjang dengan infus yang mengalir, bahkan ada layar monitor yang memantau detak jantung dan kelangsungan hidupnya, seberannya apa yang di lakukaan mereka pada Hansell, hingga suaminya menjadi seperti ini.


“Nona, Tuan Hansell baik-baik saja. Akibat kelembapan suhu ruangan dia mengalami demam yang cukup tinggi. Tuan Zates sengaja memberikan Tuan Hansell bius agar suami anda bisa istirahat. Sebab selama dia berada disini ia tidak memejamkan mata sekalipun ataupun memasukan asupan untuk tubuhnya, untuk itulah Tuan Zates memberikan pengobatan untuk Suami anda, sebentar lagi Tuan Hansell akan sadarkan diri, sebab dosis bius yang di berikan sangatlah sedikit, bahkan Dokter mengatakan Tuan Hansell hanya sedang tertidur” seketika penuturan itu membuat dada Airyn longar, bahkan ia yang tadinya menghidupkan api amarah mulai mereda meskipun sebenarnya tidak menghilangkan ketakutanya.


Sabrina undur diri dari sana, sebab ia yakin wanita itu pasti merindukan suaminya, bahkan Sabrina sangat melihat seberapa cintanya Airyn pada Hansell hingga ia mau melakukan sesuatu berbahaya untuk pria itu.


Dengan kekuatan yang di miliki Nona Petrov sangat mudah untuk membunuh Sabrina jika ia mau, tapi Nona Petrov malah mengambil langkah untuk percaya dan juga membiarkan dirinya di bawah ancaman demi suaminya.


“Pantas saja Tuan Zates merasa cemburu” pikir Sabrina ketika melangkah menemui pria itu, sebab ia harus melaporkan nya kepada beliau.


Airyn menatap tubuh suaminya yang begitu tenang ketika menutup mata, bahkan saking tidak percayanya ketika Airyn bertemu dengan Hansell, ia bahkan menampar dirinya sendiri, ketika terasa perih Airyn meneteskan air mata bahagia jika sudah yakin jika semua ini nyata.


Gengaman tangan itu membuat Airyn enggan melepaskan, bahkan Airyn tidak bisa berhenti mencium dan memandang suaminya, hingga tidak ada bagian wajah yang kosong dengan ciuman itu.


Tidakah Hansell merindukan Airyn sampai wanita itu menangis dengan suara gaduh tetap saja Hansell terlelap, setelah mencium bibir suaminya yang begitu ia rindukan, Airyn melihat ranjang besar itu masih cukup untuk dirinya berbaring, tentu saja Airyn merasa lelah sendiri setelah menangis, ia merangkak menaiki ranjang sembari memeluk tubuh Hansell yang telentang, Airyn sangat merindukan kenyamanan ini hingga dalam beberapa detik saja ia sudah tertelap.