Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Extra Part Falling in Love Wiht a Dangerous Women.



Ke esokan harinya,Aairyn sudah membaik bahkan baru selesai di periksa oleh beberapa dokter, wanita itu juga mendapatkan kualitas asi yang sempurna, karna selama ini Airyn selalu memenuhi kebutuhan gizinya ketika mengandung kedua anak kembarnya itu.


Melihat mereka sudah hadir ke dunia, benar-benar membuat Airyn tidak menyangka ia akan sebahagia ini, kedua anaknya tampak sudah kenyang setelah disusui dengan asi yang langsung mereka dapatkan dari tubuh ibunya, anak kembar yang begitu mengemaskan tersebut tengah terbaring dalam Box bayi yang sangat besar karna baru saja dipindahkan hari ini ke kamar inap Airyn.


Menurut Dokter kesehatan dan kubugaran tubuh Airyn membuatnya akan membaik dalam beberapa hari, bahkan seminggu ini ia sudah boleh di pulangkan kerumah, nampaknya Zates sudah memastikan kesehatan putrinya hingga pria itu sangat bahagia dengan perkembangan tubuh Airyn yang tidak mengkhawatirkan, memang sedari awal mengandung hingga melahirkan, Zates memuji keberanian dan rasa percaya diri Airyn, hingga anaknya melewati hal ini dengan penuh semangat tanpa menghiraukan tekanan.


“Sayang…….apa kau mau makan?” tanya Zates dengan perhatian, sebab sedari tadi anaknya itu sedang sibuk dengan cucu kembar Zates, hingga Airyn tidak banyak bicara semenjak tadi malam. “Airyn....” terus Zates dengan nada lirih, membuat Airyn memalingkaan kepala seminim mungkin untuk menghentikan pandanganya kearah si kembar.


“Apa kau akan terus mendiamkan aku seperti ini?” tanya Zates ketika mengajak Airyn bicara.


“Aku sedang malas untuk bicara”


“Apa kau yakin? Apakah kau tidak mau menanyakan tentang Hansell”


“Jangan sebut namanya, suamiku sudah meninggal” bentak Airyn dengan gurat marah, membuat Zates terdiam seraya menghela nafas dengan berat.


Pria itu menjalin kedua tanganya dengan sikap takut, sungguh Zates ingin sekali menjelaskan semuanya, tapi ia sangat takut jika Airyn akan kecewa, meskipun begitu, apa yang harus dia lakuakn sekarang, dengan terus menunda penjelasan hanya akan membuat Airyn menderita.


“Meskipun kau tidak mau mendengarkan aku, tapi aku mohon Airyn pecayalah, pria itu adalah Hansell!” hingga tatapan mengerikan yang Airyn pancaran sungguh membuat mata Zates dilanda gugup, kenapa tingkah anaknya semengerikan ini, bahkan Zates sendiri sebagai ayah tidak bisa berkata apapun. “T-Tapi memang itulah kenyataannya”


“Kenyataan!” bantah Nona Petrov dengan penuh jengkel. “Saat tatapanya terasa kosong dan ia memanggilku Nona apakah itu Hansell!! Suamiku tidak pernah menatapku sedingin itu, suamiku tidak akan meninggalankan aku, dia sangat jelas bukan suamiku, Hansell pasti akan memeluk ku, tapi dia”


“Sayang……..kau harus mendengarkan penjelaskanku”


“Apalagi yang harus aku dengarkan? Dongeng? Omong kosong? Cerita fantasi? Kenyataan bodoh! Apa lagi!” bentak Airyn dengan tidak terima. “Aku ingin sendiri ayah, tinggalakan aku bersama anakku, aku tidak ingin membahas pria itu lagi” terusnya dengan begitu kesal, membuat Zates menghela nafas dengan berat, seraya berdiri dari tempat duduknya, ia mengkecup sayang kepala Airyn meskipun anaknya itu sedang tidak terima.


*


Cahaya sudah memasuki ruangan kamar, bahkan Airyn tengah melihat bagaimana kaki putranya sedang terkena cahaya, meskipun mereka tengah tertidur lelap dan cahaya itu tidak terlalu menyakiti mereka, tetap saja terus menganggu Airyn.


Membuat Nona Petrov menjulurkan kaki untuk menuruni ranjang, ia ingin sekali menjangkau Box putranya untuk menutupi jendela kamar dengan gorden, bahkan dari arah luar pandangan Hansell membulat, ketika ia sedang mengamati istrinya yang ingin berjalan menghampiri putra mereka.


“Eh, apa yang dia lakukan?” tanya Hansell ketika menjangkau handle pintu, namun sikap itu terurungkan tatkala mengigat perintah Zates untuk memberi Airyn ruang dalam berfikir, tapi wanita itu masih belum sembuh sepenuhnyaxdia tidak boleh turun dari raanjang ketika dokter menyarankaan untuknya terus terbaring diatas kasur.


“Ah” rintih Airyn ketika merasakan perih di tubuhnya, meskipun begitu Airyn yakin ini tidak akan menjadi masalah, membuat ibu dari dua anak kembar itu terus melanjutkan langkah kakinya, menyaksikan sikap gigih Airyn hingga benar-benar membuat Hansell tidak tahan lagi.


Ia menyingkap pintu kamar untuk berlari mengejar Airyn, bahkan tubuh wanita itu berputar kearah belakang saat sosok akrab itu mendatanginya, baru saja Airyn mencoba kuat atas tegaknya, dalam waktu yang sama dirinya terhayung kebelakang, seolah pertahananya di runtuhkan tanpa bisa ia kendalikan ketika melihat Hansell Hamillton.


“Airyn” ucap Hansell ketika menjangkau tubuh yang hampir saja ambruk, bahkan Hansell berhati-hati menangkap dirinya sembari memeluknya dengan penuh perhatian, sungguh jantung Hansell berdebar tak karuan, ketika sebagian tubuh mereka melekat tanpa terduga, sedangkan Airyn membisu menyaksikan pria yang begitu mirip suaminya, bahkan dengan suara yang sama seperti Hansell.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya pria itu ketika menahan tubuh istrinya, bahkan tatapan kosong dari Nona Petrov membuat kerutan dalam didahi Hansell, hingga pria itu mengangkat sebagian tubuh yang sudah berisi untuk kembali keatas ranjangnya. “Kenapa kau menuruni tempat tidur, itu sangat berbahaya” cemasnya dengan wajah peduli, bahkan siapapun dapat merasakan perhatian yang Hansell berikan, hingga Airyn yakin kali ini benar-benar sosok suaminya, sekali lagi, Airyn terpana ketika matanya melumpuh mengamati pria itu.


Wajah yang sudah ia ikhlaskan untuk meninggalkanya bersama dua anak mereka, kali ini ada di hadapan Airyn, tubuh yang terus membeku menyaksikan sosok pria itu sungguh menyita akal sehatnya, tangan itu berusaha ia angkat untuk mencoba menyentuh permukaan wajah Hansell, diantara tatapan yang sudah dipenuhi air mata, melihat reaksi wanita di hadapanya kenapa Hansell sebegitu nyaman, apakah Hansell benar-benar mencintainya seperti kata Angel.


“Hansell......” kali ini Airyn merintih sesakit mungkin, ketika memeluk Hansell dengan rasa perih, merasakan kehadiranya setelah percaya ia sudah tiada, seperti mimpi indah yang menjadi kenyataan, apakah ini benar-benar suaminya?


Melihat sikap wanita itu kenapa tubuhnya tidak menolak sedikitpun, kenapa ia malah ingin memeluknya dan mengusap lembut permukaan rambut yang terurai indah, hingga tangisan Airyn benar-benar Hansell dekap dengan sayang, bahkan tangisan gadis itu ia redam dengan pelukan, sampai Hansell sadar, jika saat ini air mata yang tengah Airyn keluarkan juga membuat dirinya menangis tanpa sadar.


“Sayang, ini benar kaukan? Kau tidak membohongiku kan?” tanya wanita itu ketika menghirup dalam aroma tubuh yang sangat ia rindukan itu, bahkan ia seperti dilandai kebahagiaan yang bertubi-tubi sampai akirnya Airyn melepaskan dirinya.


“A-Airyn” lirih Hansell dengan kalimat cangung, entah kenapa ia seperti merasakan apa yang wanita itu rasakan, namun tetap saja ia tidak bisa mengigat apapun tentang Airyn.


“Iya ini aku..…..aku merindukanmu” ucapnya dengan penuh jujur, bahkan ia mendongakan kepala menatap Hansell dengan segala cinta yang ia panjatkan, hingga pria itu mengkerutkan kening dengan dalam ketika sepengal gambar terlintas dengan buram.


Membuat pria itu melepaskan tanganya dari bahu Airyn, ia menyentuh permukaan kepalanya yang dirasa begitu sakit, bahkan pandangan Hansell mulai kabur tanpa mampu menopang kekuatan tubuhnya, rasa pusing yang melanda dengan dahsyat sungguh membuat Airyn dibuat cemas oleh suaminya.


“Sayang…..kenapa? Apa yang terjadi?” panik Airyn hingga pria itu terduduk disisi ranjangnya, bahkan mata Hansell yang sudah buram ia paksa untuk jernih menatap Airyn, bahkan Airyn menahan kedua pundak kokoh itu, untuk terus sadar sembari meneriaki namanya.


Hingga akhirnya Hansell menutup mata, tubuhnya yang besar dan kuat itu jatuh pada tubuh kecil Airyn dengan sempurna, bahkan tatapan Airyn terpana diam saat pria yang baru saja ia rindukan sudah hilang kesadaran tepat di depan matanya.


“Hansell” pekik Nona Petrov yang tak kuasa menahan ketakutan di dadanya.


*


Malam harinya, Airyn tengah berfikir, apa yang harus ia lakukan, bagaimanapun setelah Hansell pingsan di dalam pelukanya, pria itu sedang terbaring di ruang intensif, bahkan tim dokter yang Zates tugaskan selama ini terbang jauh-jauh dari Amerika untuk mengecek keadaanya, bahkan dengan segela penjelasan yang sudah ia ketahui dari ayah dan ibunya bahkan Angeline membuatnya merasa bahagia namun juga terluka.


“Kakak, ayo kita ke kamarmu” timpal Angel yang kala itu mendorong kursi roda milik Airyn, membuat wanita itu merasa enggan untuk beranjak, rasanya ia ingin terus menemani suaminya, tapi Airyn perlu memikirkan kedua putra mereka, jika Airyn berada dalam keadaan tertekan hal ini sangat tidak baik untuk dua makhluk kecil yang hadir itu, bagaimanapun mereka sangat membutuhkan ASI dari tubuh Airyn.


“Apakah Hansell akan baik-baik saja?” tanyanya ketika melihat suaminya dari arah luar.


“Kakak pasti akan membaik, kita tunggu saja perkembanganya” terus Angeline untuk menenangkan. “Ayo kita ke kamar, Jimmy dan Clouis sudah menunggu disana”


“Jimmy, Cloius?” tanya Airyn dengan bingung, membuat Angeline baru sadar jika hal ini belum di ketahui oleh kakak iparnya.


“Oh iya, Kak Hansell memberi nama mereka Jimmy dan Clouis, aku tidak mengerti kenapa dia memberi nama anak kembarnya dengan tidak identik, tapi itu sudah ia putuskan ketika memeluk mereka saat berada di ruangan bayi kemarin malam"


“Benarkah?” tanya Airyn dengan air mata yang tergenaang di pelupuk matanya, sepengal masa lalu tentang mereka membuat Airyn mengigat kembali.


Airyn pernah bertanya, siapa nama anak mereka nantinya, namun Hansell menjawab ia tidak ingin memberikan anak kembarnya dengan nama yang sama, melainkan nama yang berbeda, hal itu tentu membuat Airyn bingung, ia bertanya apa alasan hansell memberi nama mereka dengan nama yang tidak identik, lalu pria itu menjawab.


Ia ingin anaknya berbeda dengan mereka, berbeda dengan asal usulnya, ia ingin kedua anaknya itu tidak sama dengan neneknya Charmilla dan Charllot, berbeda dengan Louis dan Laos, karna Hansell ingin nama itu sebagai simbol sejarah untuk tidak boleh terulang, kelahiran mereka harus membawa perubahan tanpa terkait dengan masa lalu.


“Hansell, itu benar kau” tangis Airyn dengan tersedu, bahkan ia tidak menyangka suaminya benar-benar ada di dalam pelukanya, bahkan ada harapan untuk Hansell disisinya, untuk itulah Airyn tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan.