Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Semudah ini untuk keluar!



“Jika semudah ini untuk keluar. Kenapa kau harus membuat kita seperti akan berakir di dalam sana” protes Airyn ketika mencelotehkan mulutnya sembari berkacak pinggang diantara lift yang tengah menanjak kearah atas, di ikuti beberapa orang di depan mereka.


“Bukankah aku sudah bilang kita akan keluar. Kau saja yang selalu membantah dengan hayalanmu itu"


"Hayalan!!! Wanita manapun pasti akan merasa hidupnya akan berakir jika tidak ada celah untuk melarikan diri. Dan dirimu malah mempermainkanku!! Apa kau gila"


"Sayang... tenanglah. Anggap saja kita tengah berada disebuah hotel untuk liburan. Lupakan semua itu. Aku benar-benar tidak sabar untuk memenuhi keinginan dirimu saat kita keluar nanti” goda pria itu saat menarik tubuh istrinya untuk mendekat.


“Hansell!!”


Seketika terikan Airyn yang cukup menyakiti pendengaran Hansell membuat pria itu terdiam, begitupun dengan Dorbin dan anak buahnya yang ada di depan mereka. Tentu saja Hansell merasa sedikit tidak tega melihat istrinya putus asa, namun disaat itu juga Hansell merasa ia juga bahagia menemukan sisi berbeda dari istrinya, jika Airyn hanyalah seorang perempuan yang cukup penakut dan bisa bersikap manja sebagai seorang istri, seolah memperlakukan Hansell seperti semuanya akan menjadi hari terakir untuk mereka.


“Jika kita bisa keluar semudah ini, untuk apa kau berdiam diri di dalam sana selama ini. Dan untuk apa aku harus kesini melibatkan diri, jika aku tahu semuanya semudah itu, lebih baik aku menunggu saja dengan tenang. Apa kau ingin membuatku mencari pria lain, ha!!”


“Jangan coba-coba melakukan itu Airyn. Jika tidak aku akan menghancurkan pria itu dan seluruh darah yang sama dengan dirinya” Ancam Hansell dengan tatapan mengancam, membuat Airyn mengalihkan pandangan sembari melipat kedua tangan tentu saja dengan sikap mengerikan, meskipun begitu Hansell terlalu keterlaluan, mempermainkan Airyn seperti saat ini “Kenapa tidak dari kemarin kau melakukan hal ini, setidaknya aku tidak akan setakut itu”


celoteh wanita itu sekali lagi, saat ancaman suaminya terasa sedikit mengerikan.


“Bukankah sudah aku katakan, karna ada Merry di sisiku, membuat aku harus memperhitungkan langkah agar tidak melukai dirinya” sontak penuturam yang hansell lontarkan membuat Airyn terdiam, raut wajah yang tadinya cukup ceria malah di lingkupi sedih seketika, bahkan membuat Hansell bersalah mengungkit tentang Merry dihadapan istrinya “Sayang, bukankah sudah aku katakan. Merry akan baik-baik saja, jika mereka ingin mencelakai Merry, kita berdua tidak akan di berikan pelayanan yang terbaik disana, bahkan kedatanganmu tidak akan di suguhkan dengan penuh hormat seperti itu. Tidakah kau bisa menebak apa yang aneh dari semua ini”


Sambung Hansell dengan raut wajah serius, meskipun saat ini Hansell tidak terlalu yakin dengan apa yang terjadi, namun ia yakin Merry pasti baik-baik saja, dan Hansell yakin sekali akan hal itu.


“Apa kau tidak bisa menebak maksudku barusan?” celetuk pria itu seketika seolah ia tidak percaya raut wajah polos tanpa dosa Airyn terpampang nyata, seolah Airyn tidak mengerti dengan semua ini “Astaga. Mana Nona Petrov yang cerdik itu” gumam Hansell dengan bingung ketika melirik kearah istrinya yang menjelma menjadi gadis yang tidak berbahaya.


****


Beberapa Jam sebelumnya ketika berada di kamar tempat mereka di tahan.


“Apakah bisa kita keluar dari sini, setidaknya aku bisa memastikan tidak akan mudah melintasi semua orang yang berjaga di luar sana, bahkan disetiap sudut ruangan terdapat CCTV untuk mengawas dan mengontrol pergerakan apapun, di tambah tempat ini terselubung di bawah tanah dengan kecuraman yang dalam, bahkan sebelum aku menaiki sebuah kereta menuju pintu depan, ada sebuah lorong yang terdapat penjagaan ketat disana, seolah ada Secuirty yang sudah mengelola siapa-siapa saja orang yang keluar masuk melalui lift. Jika kita mengharapkan bantuan Frada dan Darrel tidak akan mungkin, sebab di bawah sini tidak akan ada sinyal yang bisa mereka lacak, sehingga apapun dari kita tidak akan mungkin di temui—“


Belum selesai istrinya melanjutkan penuturan yang begitu panjang dengan seluruh tingkat kesulitan untuk menjangkau tempat mereka berada, Hansell dengan segera mencium bibir Airyn dengan lembut, memberikan sentuhan sayang penuh cinta sehingga Airyn tidak boleh bicara lagi.


“Tidak peduli sesulit apa tempat ini, yang menjadi masalahnya apa kau ingin keluar sekarang juga. Bukankah disini terasa nyaman. Kita tidak bekerja dan memikirkan masalah, kita sudah berdua dan menikmati waktu tanpa memikirkan siapa-siapa, di tempat ini kita dilayani seperti seorang Tuan rumah, dan mereka menyediakan pakaian serta beberapa dokter untuk memantau kesehatan kita. Jadi dari pada memikirkan bagaimana sulitnya keluar dari sini, bukankah kau harus memikirkan apakah harus mengakiri masa-masa berdua disini? Bahkan kita belum pernah bulan madu sebelumnya, dan bagaimana jika saat ini kita melakukan bulan madu saja. Mengingat kau sudah terbiasa ke hotel mewah bahkan kau terbiasa ke pantai dan juga Villa. Untuk itulah, ruangan bawah tanah dengan fasillitas mewah dan tempat serta pelayanan terbaik ini, menjadi pilihat terbaik untuk di jadikan bulan madu kita”


Airyn terdiam dicela ciuman yang Hansell hentikan, matanya terpana melihat kearah suaminya yang begitu mengoda saat berbicara, entah kenapa Hansell sangat menarik perhatian Airyn, sehingga tanpa sadar tangan wanita itu di tempelkan Dahi suamunya seraya memeriksa suhu tubuh Airyn untuk dibandingkan dengan Hansell.


“Tidak panas. Tapi kenapa kau bisa bicara seperti orang gila” ucapnya dengaan wajah datar, membuat senyum berbinar Hansell puda, ketika ia dianggap seperti orang gila oleh istri tercintanya.


“Apa kau tidak bisa romantis sedikit saja” umpat pria itu saat menyingkirkan tangan Airyn dari sana, bahkan Hansell tidak percaya Airyn menganggapnya seperti orang gila, entah kenapa wajah cemberut dan kesal Hansell menjadikan dirinya sebagai pria yang berbeda, hingga menarik perhatian Airyn yang tidak bisa menahan godaan manis itu.


“Hei…ada apa dengan wajahmu. Hansell, aku tahu tempat ini nyaman untuk kita berdua. Tapi keluar dari sini jauh lebih baik. Kenapa kau cemberut seperti anak kecil, membuat aku ingin mengacak-gacak dirimu” ucap wanita itu saat menangkup pipi suaminya untuk menatap kedua mata mereka tanpa berpaling, seraya tersenyum tulus penuh kasih sayang, hingga sikap lembut Airyn menjatuhkan sebuah pelukan agar menyapaikan perasaanya pada Hansell.


“Aku tahu kau menikmati waktu kita disini berdua saja tanpa siapapun, tapi tetap saja kita tidak bisa berdiam diri lebih lama, atau memilih tinggal disini meskipun mereka memperlakukan dengan baik. Tanggung jawab dirimu, janggung jawab diriku, dan belum tentu orang di balik ini sebaik yang kita pikirkan. Jadi keluar adalah yang terbaik, lagian jika kau suka tempat-tempat seperti ini, aku akan membuatkannya di pulau terpencil miliku yang ada di Indonesia, disana hanya khusus untuk sebuh Villa yang aku bangun dengan pemandangan laut disekitarnya, aku rasa membuat ruangan bawah tanah di sana jauh lebih menyenangkan bukan” Bujuk Airyn saat menenangkan suaminya, seolah ia juga menginginkan hal itu terjadi.


“Bernarkan” pria itu mendorong tubuh Airyn untuk merengsek kearah sudut ranjang, menarik dres yang membalut tubuh Airyn seraya menatapnya dengan pandangan menginginkan “Aku akan menagih janjimu nanti” ucap Hansell seraya melanjutkan pekerjaan yang ia lakukan, bukankah sebagai suami istri yang cukup lama bersama di tambah mengenal Airyn sudah bertahun-tahun lamanya, mengapa wanita di hadapanya masih saja memerah dengan malu, tidakah Airyn tahu hal seperti ini menaikan insting menginginkan seorang pria ketika menginginkan dirinya.


“J-jangan.. bukankah beberapa saat yang lalu kita baru selesai melakukanya” balas Airyn saat memalingkan wajahnya ketika bibir pria itu mulai mendarat di bahu Airyn yang indah sembari mengigit kecil untuk gadis itu meringis.


“Tapi aku mau lagi” perkataan itu di tutup dengan ciuman yang membungkan, menengelamkan keduanya kepada jeda waktu yang terjadi diantara mereka berdua, menikmati suasana cinta yang terasa semakin mengairahkan, melihat Airyn meringis kenikmatan membuat Hansell menginginkan lebih dalam, ciuman romantis mulai bertukar menjadi posesif hingga pada akirnya terasa dalam dan juga menuntut, tentu saja Airyn yang sudah lama menjadi istri Hansell dan sudah beberapa kali melakukan kewajibanya sebagai seorang istri, juga melakukan hal yang sama, memberikan rasa yang sama untuk suaminya agar kedua pasangan itu terus saja mengadu api cinta yang entah kapan padanmnya.


Airyn yang baru saja selesai dimandikan oleh suaminya, kali ini tengah mengeringkan rambut dengan beberapa perlangkapan wanita yang disediakan disana, Hansell yang tidak memiliki pekerjaaan apapun, di ruangan itu melakukan pekerjaan untuk memanjakan sang istri, tentu ia juga menyisir dan membantu Airyn mengeringkan rambut, meskipun sesekali Airyn sangat kesal jika cara Hansell tidak sesuai harapan, tapi tetap saja Hansell tidak ingin mengalah dan terus berusaha.


“Cantiknya” puji pria itu ketika memandangi istrinya yang begitu segar setelah mandi dan berganti pakaian, seseorang mengetuk pintu kamar mereka, membuat pasangan itu mengalihkan pandangan.


"Permisi Tuan, makanan sudah di persiapkan, silahkan keruang makan" ucapnya dengan pandangan menunduk, membuat Hansell mengenggam tangan Airyn untuk ikut keruang makan.


Airyn dan Hansell berjalan mengikuti pelayan itu meskipun di sekitar mereka ada orang yang menjaga dan mengawal, namun untuk orang seperti Hansell dan Airyn hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan, mereka juga terbiasa di kawal dan dijaga meskipun tengah menikmati makanan, jadi tidak terlalu berpengaruh untuk melangsungkan hidup selama beberapa waktu di tempat ini.


Biasanya Hansell akan mengandeng tangan Airyn untuk kembali kekamar, namun kali ini setelah makan Hansell melangkah mendekati seorang pria yang ada di sekitar mereka, Airyn sangat yakin pria itu bernama Dorbin sebab beberapa anak buahnya mengatakan hal itu saat memanggil dirinya.


Airyn menatap apa yang tengah dilakukan suaminya, pria itu berdiri tegap sembari menatap pria bertubuh kaku dengan raut wajah datar, Hansell tersenyum kecut seraya menyimpan kedua tanganya di saku celana, perlahan Hansell mendekatkan diri seolah ingin membisikan sesuatu dan membuat pria itu menangapi hingga insting waspada Airyn meningkat.


Apakah Hansell telah membuat mereka marah, atau apakah Hansell telah menyulut emosi orang itu. Jika di biarkan Airyn tidak siap jika melihat suaminya kenapa-napa, bahkan secara sadar Airyn berjalan menghampiri Haansell sembari menariknya untuk dipeluk dari arah depan, sepertu melindungi pria itu dengan posesif sebab Airyn tidak ingin mereka menyakiti suaminya.


“Jangan coba-coba menyentuh suamiku, jika kalian masih ingi hidup lebih lama”ancamnya dengan menajamkan mata penuh perhitungan, membuat Hansell tersipu malu seraya menarik kepala istrinya untuk tengelam di dadnya, Hansell memberikan pelukan sayang di hadapan semua orang, saat ini posisinya Dorbin berada diantara dua pasangan yang bermesraan dengan pelukan posesif antar keduannya, tentu saja rasa cangung mulai dirasakan sampai semua orang bubar dari tempat mereka berdiri sebab Dorbin mengusir para pelayan dan pengawal itu dengan peringatan matanya.


Hal apa yang dibisikan Hansell hingga menjadi seperti ini, wanita itu mendongakan kepala saat tubuh keduanya masih berpelukan, Hansell tersenyum sembari mencium kening istrinya, dan mengusap lembut raut wajah cemas Airyn.


“Ayo” ajaknya dengan kasih sayang penuh kelembutan, seraya mengandeng tangan Airyn dan mengikuti langkah Dorbin. Di antara kebingungan dan pertanyaan yang tidak bisa terpecahkan itu Airyn berulang kali memandangi Hansell untuk menuntut penjelasan, namun prianya malah bersikap santai seolah enggan menjelaskan apapun, selain mengandeng tangan Airyn dengan erat, menuntun Airyn menuju jalan yang sebelumnya menjadi tempat dirinya masuk ke ruangan itu, sebuah lorong panjang hingga taman bunga Lily, serta sebuah lorong yang menjadi pemberhentian kereta, bahkan Airyn melintasinya dengan damai dan dikawal oleh beberapa orang di depannya. Hingga berada di lift untuk menuju lantai atas.


Tentu saja Airyn sangat bingung degan segalanya, termasuk dengan suaminya. Hal apa yang hansell bisikan hingga mereka berlaku sepatuh ini, tidak tahan lagi dengan kebingungan itu Airyn memberontak untuk menuntuk kejelasan, seolah dirinya merasa permainkan dan di bodohi oleh suaminya sendiri.


****


Zates telah kembali ke rumahnya, sebab seharian dirawat dirumah sakit membuat dirinya tidak nyaman di tambah kehadiran Elsiyana yang begitu ricuh disana, seolah-oalah Zates mengalami penyakit kornis yang tidak bisa terrobati saja.


Merry yang merasa bersalah tentu saja membantu pria itu untuk berbaring di ranjang bahkan menghidupkan beberap aroma Therapy di ruangan untuk membantu pria itu terlelap. Setelah Zates menutup mata dan dirinya seperti mulai tenang, Merry dengan canggung menyelimuti tubuh Zates seperti memperlakukan pria itu layaknya orang terdekat bagi Merry. Sadar akan apa yang di lakukan Merry pada dirinya, secara diam-diam Zates merasa sangat senang meskipun harus berpura-pura terlelap. Beberapa menit berlalu akirnya pria itu benar-benar menghilang di balik tidurnya, tentu saja Merry masih berada di kamar yang sama sembari memandang-mandang "Orang seperti apa Zates sebenarnya”


Di pagi buta, akirnya Zates terbangun, rasanya ia terlelap setelah meminum obat, jika di fikir-fikir Zates melewatkan 7 jam lebih untuk istirahat, ia mengalihkan pandangan kearah samping, seolah merasa ada seseorang disana, tentu saja perasaan itu benar adanya.


Jika Merry sudah melingkari tubub di samping Zates. Membuat Zates mengusap kedua matanya dengan kasar karna belum percaya dengan apa yang telah terjadi, apakah ia tidak berhalusinasi atas kehadiran Merry disana, ataukah Zates tengah berada di alam mimpi.


“Kau sudah bangun” ucap Merry ketika merengangkan tubuh saat terbangun sebab pria itu terasa gelisah disampingnya, mengingat mereka berada di ranjang yang sama membuat pergerakan Zates membangunkan tidur Merry yang tidak lelap itu.


“Apa kau sadar tidur disampingku?” tanya Zates ketika membalas perkataan Merry dengan sebuah pertanyaan yang ia ajukan


“Sadar!! Aku ingi bertanya padamu. Apa kau sadar telah mengunciku di ruangan ini” sontak penuturan Merry membaut Zates memandang kearah pintu, ia hampir lupa jika pintu kamar itu sengaja dibuka mengunakan akses sidik jarinya, entah hal apa yang membuat Zates memberikan pengamanan seketat itu untuk kamar ini, sehingga wajah Merry yang tadinya cukup damai mulai kusut karna jengkel.


“Maafkan aku. Pintu itu sengaja aku berikan privasi untuk diriku sendiri, serta menjadi pengamanan untuk wanita di kamar ini. Akibat beberapa hal aku lupa menambahkan akses sidik jarimu disana. Jadi nanti aku akan meminta pengurus rumah mengurus pintu itu” ucap Zates dengan rasa bersalah, bahkan ia memandang kearah Merry yang masih tertidur di ranjang, seolah enggan membuka kedua matanya


“Apa kau lapar?” kedua mata wanita itu terbuka, memandang Zates seolah tidak ada kebohongan jika ia sangat lapar, tentu Zates semakin merasa bersalah sebab mereka kembali kerumah di sore hari, dan Merry telah berada disini semenjak mereka kembali, bahkan ia mengingat jika Merry hanya sarapan di rumah sakit bersamanya dan melewatkan makan siang sebab mengurus beberapa hal untuk Zates.


Jadi sudah di pastikan wanita itu menahan lapar hampir setengah hari dan sekarang jam 3 dini hari, apakah Zates sebodoh itu sampai melupakan hal sepenting ini “Turunlah, aku akan memasakan sesuatu untukmu” ucap Zates ketika menuruni ranjang”


“Tidak bisa, tanganmu masih belum sembuh. Bahkan Dokter masih mengatakan kau tidak boleh melakukan apapun selain istirahat” Bahtah Merry saat bangkit dari kenyamanan hingga ia mendudukan diri dengan kening berkerut memandang Zates.


“Aku juga seorang Dokter. Jadi aku bisa mengetahui sebesar apa kekuatan yang boleh aku gunakan. Di dini hari seperti ini, seluruh pelayan sudah tidur, jadi kita tidak bisa membangunkan mereka, mengingat kau mengalami trauma akan api, jadi tidak sepatutnya kau yang mengolah makanan bukan”


Mata Nerry membulat dengan sempurna, bagaimana bisa pria itu mengetahui hal itu, bukankah hanya Merry sendiri yang tahu bagaimana dirinya trauma akan kebakaran yang menimpa Airyn di masa lalu. Dan sekarang orang lain yang sebelumnya tidak pernah Merry kenali, mengetahui hal yang sangat pribadi.


“Aku seorang Dokter, jadi aku memiliki relasi yang cukup. Aku mengunakan pertemanan diantara kami untuk mengetahui keadaanmu. Jadi Psikiater tempat kau konsultasi tanpa sengaja orang yang aku kenal cukup dekat. Karna itulah aku mengetahuinya” ucap Zates sembari berlalu kearah luar, ia menempelkan jarinya di layar deteksi yang ada disamping pintu, membuat pintu itu terbuka secara otomatis.


melihat Merry masih terpana diatas ranjang, Zates memiringkan sedikit kepala seolah mengajak wanita itu untuk ikut bersama dirinya "Ayo” ajaknya sekali lagi, seraya meninggalkan Merry yang masih terpana disana.


“Apa dia penguntit” lirih wanita itu dengan rasa ngeri yang melingkupi diri, bahkan melihat sosok Zates yang begitu mirip dengan Louis Petrov ada rasa takut yang tidak bisa dijelaskan, namun ketika sadar jika pria itu adalah Zates, rasa takut itu menghilang seketika, dan di gantikan dengan rasa nyaman saat didekatnya.


Merry mengucir rambutnya ketika menghampiri dapur, hingga ada rasa terpesona melihat kehadiran wanita yang ia cintai. Zates telah mengeluarkan beberapa bahan untuk diolah menjadi makanan, tentu saja bahan-bahan itu sudah dipotong rapi dan di bersihkan, Zates hanya perlu mencampurkanya untuk di tambahkan beberapa penyedap rasa, sehingga tidak terlalu memberatkan pekerjaanya, bahkan Zates melihat ada beberapa daging yang sudah terbumbui untuk di hidangkan dan beberapa makanan yang bisa dipanaskan, Zates hanya membuat semangkuk sup hangat untuk perut Merry, sembari memanaskan beberapa makanan yang sudah di sediakan sebagai persediakan.


“Apa lukamu tidak akan terbuka?” tanya Merry dengan sedikit takut, sebab ia merasa bersalah tidak bisa membantu memasak, lantaran Merry terlalu takut berdekatan dengan kompor, jika Merry memasak, biasanya ia hanya memotong dan menakar beberapa bumbu dan olahan makanan, untuk masalah mengoreng atau merebus dengan kompor biasanya diserahkan pada pelayan yang membantu dirinya.


“Aku baik-baik saja, beruntung hanya lengan kiriku yang terluka, jadi aku bisa leluasan mengunkaan lengan kanan” ucapnya sembari mengaduk sup yang sudah tercampurkan dengan seluruh bumbu yang di tumis wangi sebelum mencampurkanya dengan sayuran dan beberapa potongan kentang.


"Maafkaan aku”lirihnya dengan nada rendah penuh bersalah, bagaimanapun pria itu terluka demi dirinya, dan pria itu terpaksa memasakan juga karna Merry yang memiliki ketakutan berlebihan ketika melihat api atau berdekatan dengan kompor.


“Itu bukan salahmu Merry. Bahkan jika terjadi sesuatu denganmu karna aku yang tidak becus melindungi. Itu akan lebih buruk dari luka ini, bisa jadi aku akan kelewatan batas dan tidak mengontrol emosi dan tindakan. Beruntung kau baik-baik saja dan aku mendapatkan luka di bagian lengan, ini lebih baik bukan” ucapnya ketika menenangkan, membuat Merry terdiam seolah tidak setuju sama sekali, sebab apapun yang terjadi tidak ada yang baik dari hal yang di katakan Zates, yang terbaik adalah keduanya tidak terluka dan dalam posisi aman.


Untuk kali ini Merry tidak akan membantah, membiarkan pria itu membuatkan sebuah makanan hangat untuk Merry, sembari menikmatinya untuk menghargai usaha Zates, meskipun Merry tidak berharap hasilnya akan nikmat, sebab ia menaruh ekpektasi terlalu rendah akan makanan itu, agar saat merasakan dirinya tidak kecewa.


Sebuah sup hangat yang berisi potongan daging dan beberapa sayur serta kentang itu mengugah seleranya, Zates menyodorkan beberapa nasi ke piring Merry. Membuat wanita itu terpana saat Zates memberinya makanan seperti memberikan sekor sapi makan, nasi yang ia pindahkan ke mangkuk begitu mengunung hingga selera makanya menghilang.


“Aku rasa aku tidak selapar itu Zates” ucap Merry saat memperingati Zates.


“Kau harus makan, sudah hampir setengah hari lebih kau tidak makan, untuk tenagamu kau harus mengisinya dengan penuh”


“Tapi tidak harus sepenuh itu, apa kau ingin aku mati kekeyangan dan akirnya menjadi bodoh. Kurangi setengah, karna porsiku tidak sebanyak itu” ucapnya dengan nada perintah membuat Zates mengalah dan menyodorkan sebuah mangkuk berisi nasi dan sup yang sudah ada di depan matanya, sisanya tinggal di lahap saja.


“Enak” batin Merry ketika merasakan masakan Zates yang ia beri ekpektasi rendah. Ini sangat sesuai dan pas, bahkan kematangan sayuran serta dagingnya saja sangat empuk ketika di nikmati, dan makanan itu membuat Merry berniat menandaskanya dengan semangkuk nasi ukuran kecil.


Sadar ia belum puas Merry meminta tambah agar bisa mengisi penuh perutnya, Zates hanya tertawa kecil saat Merry menghabiskanya dengan sikap polos “Apa kau masih berfikir aku menjadikanmu tahanan Merry? Apakah ada tahanan yang memiliki nasib senyaman hidupmu kali ini” Ledek pria itu, hingga Merry bersisungut jengkel dan berhenti melahap makanannya, seraya beradu argumen lagi dengan Zates.