Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Kemesraan malam



Airyn menelfona Marry didalam kamar nya, dia mengecilkan suara agar Hansell tidak mendengar, dia membahas tentang pembicaraan mereka yang terputus semalam, dengan begitu fokusnya Airyn mendengarkan tiap inci permasalahan yang dijabarkan oleh Marry kepadanya.


Gadis itu semakin mengepalkan tangan ketika dia mendengar segala hal yang dibahas Marry, bahkan dia menepuk meja rias dengan begitu geram.


“sudahlah, aku tutup dulu terima kasih atas informasinya,dan terus awasi gerak gerik nya, jangan sampai kita ketahuan” jelas Airyn kepada Marry


Sesaat Airyn melihat jam didinding kamar, dia tidak menyangka hari sudah hampir gelap dan dirinya belum menyiapkan apa-apa untuk makan siang mereka, bahkan jika Airyn memasak ini bakalan menjadi makan malam


“kenapa aku lupa menyiapkan makanan, dan Hansell kenapa tidak keluar dari sana, merepotkan sekali” gadis itu mengutuk mendatangi ruangan kerja nya, namun Hansell telah tertidur pulas disana


“apa dia kelelahan, pria itu kenapa bodoh sekali, mengurus hal yang akan menghancurkan perusahaan nya” Airyn menutup kembali pintu itu dan dia menyiapkan makan malam untuk mereka, gadis itu terlalu bahagia mendapatkan pujian seperti kemarin, dia ingin memberikan kemampuan memasak nya yang lauar biasa untuk Hansell.


Dia tengah sibuk berperang mengunakan alat masak disana akirnya dia memanangkan perperangan yang panjang dengan menghasilkan makanan yang begitu enak.


“apa dia belum juga bangun?” gumam Airyn, dia melepaskan celemek yang dikenakan nya, dan menghampiri ruangan itu


“Hansell bangun, Hansell bangunlah” Airyn mengoyang kan lengan kekar Hnsell, dia begitu geram laki-laki itu tidak juga membuka matanya “kau ini mengerjaiku ya” celetuk nya


“apa aku ketahuan” balas Hansell ketika mata nya masih terpejam


“kau benar-benar” namun belum sempat Airyn melanjutkan kekesalan nya, Hansell menarik wanita itu dan memeluk Airyn dengan begitu hangat


“apa yang kau lakukan!! lepaskan aku” berontak nya


“apa kau sudah selesai memasak?” tanya Hansell ketika dirinya memandang wajah Airyn begitu dekat


“bagaimana kau tau?”


“aku mencium bau makanan ditubuhmu” balas Hansell dengan tersenyum mengoda airyn, namun gadis itu mengigit dada Hansell, membuat Hansell melepaskan pelukan nya


“kau kejam sekali Ryn” dengus Hansell, namun wanita itu berlalu keluar dan meningalkan Hansell disana


Saat mata Hansell mencari keberadaan Airyn, dia melihat makanan telah tertata rapi diatas meja makan, membuat Hansell begitu senang memandang nya


“jika seperti ini aku ingin sekali menjadikan nya istri, aku mampu melakukan apapun tanpa beban jika dia berada disampingku” Hansell tersenyum memikirkan bagaimana Airyn menjadi istrinya, dia melihat tidak ada kekurangan dari wanita itu, tiap kekurang yang dimiliki Airyn adalah nilai bonus untuk dikagumi nya, bahkan Hansell begitu tidak menyangka Airyn sangat pandai dalam memasak, membuat dia tidak rela membagi hal ini kepada pria lain, Hansell berjalan kekamar Airyn dan membuka pintu itu, ternyata gadis itu tengah mengunakan pakaian nya, dia menjangkau reseleting baju yang berada dipunggung belakang membuat Hansell terkejut mendapati pemandangan tersebut, bahkan Airyn berteriak membuat Hansell menutup pintu itu kembali


“kenapa kau kesini?” teriak Airyn dari dalam kamar


“aku mencarimu, kenapa kau menganti pakaian mu” bentak Hansell membalas Airyn


“bukan kah kau mengatakan aku bau, makanya aku harus menganti baju ku agar tidak menganggu hidung mu” celetuk Airyn dengan kesal


“hanya karna itu” Hansell membuka pintu itu dengan kesal, lantaran Airyn menganggap serius apa yang dikatakan nya barusan


“aku belum selesai, tutup pintu nya!” kali ini Airyn membentak Hansell dengan begitu garang, namun pria itu berdiri disana tanpa mengindahkan apa yang diperintahkan Airyn, Hansell mendekat ke arah wanita yang tengah kesusahan dengan baju nya,dia membalikan tubuh Airyn dan melihat resleting itu tersangkut karna airyn menarik nya tidak rata, meskipun Airyn begitu meracau dengan kesalnya, Hansell sekuat tenaga memberanikan diri dan membantu memperbaikinya, beberapa menit Hansell terlihat kesusahan, namun dia berhasil meresletingkan baju Airyn, membuat gadis itu malu ketika Hansell melihat pungung nya yang berbalut tali bra saja.


“kenapa pipimu merona, aku tidak melakukan apapun” ledek Hansell sambil berlalu


“kau ini, mesum sekali” Airyn berjalan mendahului Hansell dan memposisikan dirinya untuk duduk dimeja makan, dia sangat kesal dengan laki-laki itu membuat Airyn memakan makanan nya tanpa menunggu Hansell menduduki kursi, tentu saja setelah melihat hal itu pria tersebut tersenyum dan mengambil makanan nya sendiri, ditengah dia menikmati makanan yang disantapnya dengan rasa yang begitu lezat, Hansell mengambilkan iga bakar untuk diletakan dipiring Airyn, dia memberikan senyum kepada gadis itu atas ucapan permintaan maaf nya, namun Airyn tidak mengucapkan terimakasih dan masih saja setia dengan wajah jutek nya, Hansell telah selesai dengan makanan nya, dia memuji makanan Airyn begitu luar biasa bahkan kelelahan dengan kelezatan yang mengiyurkan selera.


Namun dia berhenti lantaran porsi dirinya tak mampu menghabisi seluruh makanan yang ada, Airyn pun seperti biasa mencuci piring nya seusai makan, dia menghidupakan keran air dan membilas piring yang sudah di cucinya mengunakan sabun, seketika itu Hansell meraih piring itu dari tangan Airyn, dan meletakan nya di-rak piring yang berada di sebelah kanan Hansell, Airyn masih saja bertahan dengan wajah jutek nya, dia tidak mempedulikan kehadiran Hansell, dia menerima niat baik pria itu namun tidak menghiraukan kehadiran nya, melihat semua itu tentu saja Hansell begitu bingung, dengan cara apa lagi membujuk Airyn, entah kenapa fikiran kekanak-kanakan nya muncul, tangan Hansell menjalar kepingang Airyn, mengelitik pinggang gadis itu hingga Airyn mengeliat karna geli nya, dia tertawa terbahak-bahak dicampur dengan air mata bahagia, Hansell masih saja tidak mau berhenti mengelitik gadis nya, mereka tertawa bersama membuat seisi ruangan pecah dengan gelak tawa


“geli,,,,ampunn,,,,,ampuni aku,,kumohon hentikan itu Hansell” teriak nya sambil tertawa


“apa kau masih mendiami ku lagi, rasakan ini” dia mengelitik Airyn tanpa ampun, membuat gadis itu tak mampu lagi memasang wajah jutek nya


“tidak,,aku berjanji tidak akan marah lagi, hentikan” teriak Airyn didalam tawa,bahkan mereka seperti tidak mempedulikan seintim apa mereka saat ini


“janji” Hansell mengehentikan tangan nya, dan meraih pundak gadis itu untuk mengatakan janji yang sama, Airyn begitu malu ketika Hansell menatap nya


Airyn mendudukan diri di sofa yang berada di ruang tamu, dia begitu capek telah tertawa begitu bebas, dia bahkan masih tertawa ketika memejamkan matanya “apa yang membuatmu tersenyum?” saut Hansell, membuat Airyn tersadar, saat ini masih ada dirumah nya


“apa masalahmu” dia begitu ketus dan menghidupkan tv yang berada dirungan tersebut, namun Hansell mengeluarkan hanphone dan melihat beberapa account sosial media nya, dia tersenyum malu-malu membaca sesuatu


“apa itu?” tanya Airyn


“ini tweet-tan orang” jawab nya


“apa itu?” tanya Airyn dengan begitu penasaran


“twitter” jawab Hansell dengan memandang kearah Airyn yang berda didekat nya


“apa itu twitter” kesal gadis itu kepada Hansell


“apa kau tidak tau apa itu twitter?” tanya nya tak percaya, bahkan wajah bingung Hansell tak mampu disembunyikan


“ini sosial media, dan nama aplikasi nya twitter, apa kau tidak memiliki account sosmed?” tanya nya sekali lagi


“tidak” jawab Airyn dengan begitu polosnya, membuat Hansell melongo tak percaya, di zaman sekarang seorang nona Petrov tidak memiliki account sosial media tentu saja ini sesuatu yang aneh, Hansell tersenyum ketika dirinya melihat betapa polosnya wajah Airyn, dia begitu bahagia memandang airyn dengan kepolosan yang menampilkan kebodohan natural dari gadis ini.


“kenapa kau tidak menggunakan nya?” tanya Hansell sambil mengusap kepala gadis itu


“tidak ada waktu, dan aku tidak mengerti mengunakan smartphone” balasnya dengan begitu lugu


“are you seriously?” tanya Hansell tanpa menyembunyikan ketidak percayaan nya


“apa itu salah?”


“tidak” balas Hansell cepat, “ kau gadis yang baik karna tidak mengunakan nya” Hansell pun mencubit pipi Airyn dengan begitu gemas nya, dia tidak mampu melihatkan kekaguman nya kepada Airyn “bagaimana dia menjalani hidup selama ini, sampai tidak memiliki waktu mengunakan sosial media, gadis ini” gumam Hansell dengan begitu tidak percaya


“Hansell apa ku mau berbagi dengan ku?” tanya Airyn


“apa kau mau melihat?” tanya nya, Siryn mengangukan kepala, dan mereka melihat layar itu bersama, membuat Airyn tertawa lepas tanpa menjaga image nya didepan hansell, bahkan gadis itu tak lagi mengontrol suara yang dikeluarkan nya, membuat Hansell semakin bahagia memandang gadis yng berada disampingnya


“jika ini bukan Airyn, aku tidak akan mampu bahagia, gadis ini selalu membuat ku jatuh cinta tanpa dirinya berusaha, bahkan secara alami aku telah mencintai nya” pandang Hansell kepada Airyn, dia menatap gadis itu sambil berbicara dengan hatinya sendiri. “aku mencintaiu Ryn”


“Hansell”


“yaa, kenapa”


“kenapa kau diam saja, lagi carikan aku kata-kata yang lucu” pinta nya dengan begitu mengemaskan, membuat Hansell tak berdaya memandang Airyn seperti yang dilihatnya barusan


“kau tidak boleh melakukan hal seperti tadi dengan wajah yang seperti itu kepada pria lain” bentak Hansell dengan posesif seakan dirinya tidak ingin berbagi Airyn, pria itu mencubit pipi Airyn dengan begitu geram dan sayang nya “apa kau mengerti?”


“baiklah” Airyn memelas dan melihat kembali kelayar ponsel Hansell, mereka menyibukan diri saling bergurau dan bercanda seolah tak ada waktu untuk tidur, bahkan mereka membuat tv yang menonton kemesraan mereka berdua, diruangan yang begitu tenang dipingiran pantai.


Airyn tertidur di samping Hansell, membuat pria itu tertegun memandangi wanita nya


“kau cantik sekali, aku tidak mampu menghilangkan sihir dirimu”


“Airyn aku mencintaimu” Hansell mengkecup bibir gadis itu didalam ketidak sadaran nya, perlahan dia mengangkat tubuh airyn kekamar dan menyelimutinya, tak lupa Hansell mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu yang berada di nakas itu, Hansell berlalu keruang tamu dan menidurkan dirinya disana


“aku harus bagaimana sekarang, rasanya aku ingin sekali hidup dengan nya ditempat terpencil"


"apa aku boleh serakah?" seketika mata Hansell terpejam