
Di rumah besar yang memiliki banyak pelayan dan juga orang setia di bawah perintah Zates, membuat Merry merasa sangat membosankan sebab terkungkung di dinding istana mewah yang dirinya tidak bisa melakukan apapun, bahkan Merry merasa canggung untuk keluar dan berlaku santai sebab di perlakukan seperti tuan rumah yang mereka hargai. Dari pada melihat sikap ramah penuh sopan dari para pelayan Zates, ia lebih memilih didalam kamar untuk menyibukan diri dari pada harus keluar dari sana.
Semenjak tadi pagi beberapa pelayan sudah silih berganti masuk, entah untuk merapikan dan mengambil beberapa pakaian kotor, atau membawakan makanan dan beberapa cemilan, serta mengisi lemari pakaian dengan baju baru tentu edisi terbatas dan kualitas terbaik para desainer dunia, dan mereka tidak lupa menganti bunga Lily yang berada di nakas dengan pot kaca yang tasparan bening berisikan air, membuat Merry cukup yakin ruangan ini adalah setting tempat yang Zates inginkan.
Merry menyibakan tirai jendela yang tembus pandang kearah luar, matanya menjangkau dedanunan hijau dengan beberapa bunga semerbak di taman depan, Merry menundukan lepala untuk melihat kearah bawah, tentu saja matanya mengakses seorang pembersih kebun yang tengah memberikan makanan ikan di kolam kecil yang berada di taman itu, bahkan mata Merry melirik kearah air terjun yang sengaja di buat sebagai primadona ketika memandang kearah taman, setidaknya menjadi pemandangan yang cukup indah untuk dinikmati dari jendela kamar.
Merry tidak mengerti kenapa Zates begitu lama meninggalkan dirinya tanpa kembali, hinggaa rasa bosan mulai dirasakan oleh Merry, ia berulang kali membaca beberapa koleksi buku yang sengaja di sediakan di kamar itu, tetap saja Merry melihat semuanya sepintas lalu, sebab segala buka itu sudah menjadi buku bacaan di rak buku milik dirinya, sehingga Merry bisa membaca sekali kibas dan mengetahui langsung kesimpulan di buku tersebut. Beberapa diantaranya membahas tentang Psychology Bisnis, Psychology Konsumen, dan bahkan jejeran buku Bisnis dari berbagai orang terkemuka di dunia, yang mungkin diantara mereka dikenal baik oleh Merry.
Suara pintu mengalihkan mata Merry untuk memandang, ia yang tadinya berjongkok di depan rak buku menaiki pandangan sembari menatap Zates dengan canggung melirik kearahnya, seketika pria itu masih berdiri di ambang pintu untuk menjangkau pandanganya kearah Merry, Zates mengetahui jika Merry tengah menyibukan diri, sehinffa Zates merasa sedikit canggung telah menganggu wanita yang sibuk dengan kegiatanya.
“Apa ada yang kau butuhkan?” Tanya Merry ketika memecah keheningan diantara mereka, membuat Zates membuka seluruh pintu sembari meragu untuk melangkahkan kaki kearah dalam, hingga pria itu menempatkan dirinya diruang kamar sebelum menuturkan jawaban yang tadinya ingin ia sampaikan.
“Tidak! Apa aku menganggumu?” Tanya Zates dengan nada pengertian, hingga membuat Merry mengelengkan kepala degan segela. sebelum mendekat kearah pria itu, belum sempat Merry terhenti di hadapanya Zates, pria itu malah berlalu dari posisi tegaknya, hingga berucap sambil lalu ketika berjalan menghampiri arah ranjang “Mari kita bicara”
Zates mendudukan diri dengan sikap tenang, seolah dengan sengaja mengabaikan Merry yang berinisiatif menghampiri dirinya barusan, melihat tingkah Zates yang berbeda, membuat wanita itu membalikan badan dengan tatapan penuh selidik, ada apa dengan pria itu barusan, namun dari pada mempertanyakan kebingungan itu, Merry memilih untuk mendudukan diri di kursi yang berada di dekat Zates.
“Ada apa?" Sambung Merry dengan kalimat dingin, seolah ia merasa tidak terima dengan sikap pria itu padanya. Bukankah selama ini Zates begitu baik dan juga mendekatkan diri dengan kurang ajar tanpa Merry menginginkan, tapi kali ini Zates malah bersikap cuek seolah dengan sengaja mengabaikan dirinya.
“Ini tentang Airyn!”
Seketika penuturan Zates membuat Merry melirik dengan tatapan tajam kearah pria itu, seolah menuntut suatu kejelasanya agar Merry tidak salah paham “Alasan kenapa aku membawa mu menemui diriku, aku fikir kau sudah mengetahuinya bukan. Tentu saja alasan dari itu semua, karna aku ingin memperkenalkan diriku dan menjelaskaan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi beberapa waktu ini aku berfikir ulang untuk memperkenalkan diriku pada Airyn. Karna aku merasa Airyn tidak sekuat yang aku bayangkan” ucapnya kehadapan Merry dengan tatapan serius, membuat wanita itu mengkerutkan kening menuntut kejelasan.
“Kemarin mereka sudah pulang. Sesuai harapan Hansell tidak mengecewakan, dan ia selangkah dari yang aku bayangkan. Hansell mengetahui tentang diriku sebagai Zaterius, tapi sepertinya Hansell tidak mengetahui hubungan masa lalu diantara kita, dan hubunganku dengan Airyn, namun aku merasa ini tidak akan bertahan lama, sebab Hansell akan mengetahui dalam waktu dekat jika kita tetap bersembunyi seperti ini. Hanya saja berbeda dengan Airyn, aku merasa Airyn tidak akan bisa menerima hal ini jika ia mengetahui kebenaran, sebab aku mendapatkan laporan dari Dorbin tentang sikap Airyn yang begitu berbeda dari yang di bayangkan selama ini, meskipun ia bersikap mengerikan dan selalu menampakan kekuasaan, hal itu semata-mata karna image yang terpaksa di bangunnya. Airyn bahkan tidak bisa memprediksi apapun dan ia seperti orang yang selalu berlindung di balik suaminya, padahal selama ini Airyn bukan gadis yang seperti itu. Hal ini menjadi pertanda bahwa putriku memiliki hati yang lemah dan mungkin saja mudah terluka. Jika kita memberikan fakta tentang kekacauan di masa lalu, menurut mu akankah Airyn bisa menerima itu? Apalagi yang melukai dirinya bukanlaah orang lain, melainkan ayah kandungnya sendiri. Apa kau berfikir Airyn akan baik-baik saja setelah mengetahi jika Louis bukan ayah kandungnya melainkan diriku?”
“Tidak!! Sesuai yang aku katakana di awal. Airyn tidak akan bisa menerima fakta gila ini, dan aku meyakini Airyn akan sangat terluka jia ternyata ia malah dipermainkan oleh kita. Meskipun ada alasan dibalik itu semua, semua alasan itu hanya terkesan sebagai pembelaan diri sendiri bukan suatu kejelasan. Karna itulah sudah sangat terlambat memberitahu Airyn akan masa lalu yang terjadi. Jadi yang terbaik saat ini menutupinya hingga akir”
Seketika saja Zates dan Merry terdiam, dia sangat setuju akan penuturan Merry dan itu juga termasuk keinginanya saat ini. Meskipun awalnya Zates mengebu-gebu ingin memberitahu Airyn tentang fakta ini, tapi melihat sikap lemah dan juga sikap Airyn yang tidak bisa mengerti keadaan membuat Zates berfikir, jika sisi polos dari Airyn sangatlah mendominan, ia menjadi pintar dan mengerikan semata-maata karna pengaruh dan juga kekuasaan, jika tidak memiliki itu semua Airyn seperti tidak berarti dan memiliki apa-apa, ia seperti wanita biasa yang sangat mudah di lukai. Tapi bisakan Zates merelakan hal ini, dengan tidak memberitahu Airyn tentang dirinya, dan membiarkan wanita itu bahagia dengan hidupnya.
“Aku setuju untuk menutupi ini sampai akir, tapi aku hanya ingin satu hal darimu”
“Apa?” tanya Merry saat menyelidik menatap kearah Zates.
“Tetaplah di sisiku untuk sementara waktu. Sebab jika kau kembali ke posisimu semula itu sangat berbahaya Merry. Bagaimanapun kau sudah mengerti hubungan antara James dan juga Jilixing, kau juga mengetahui bukan jika mereka menjadi pengacau diantara aku dan Airyn, jadi bisa di pastikan jika kau juga akan menjadi target mereka. Di tambah saat ini mereka bersekongkol untuk melukai Airyn dan mejatuhkanya diam-diam, membuat keberadaanmu di dekat Airyn akan memprovokasi mereka bermain agresif. Sifat James yang begitu mencintai Airyn, akan membuat neraka baru bagi putri kita jika mereka sukses dengan tujuan itu. Karna itulah kita harus mengagalkan segala cara agar Airyn tetap aman tanpa mengetahui Apapun. Jika kau bertahan berada disisi Airyn hal itu akan membuat Airyn mengetahui kebenaaran tentang diriku, cepat ataupun lambat. Bagaimanpun kita akan tetap berhubungan dan bekerjasama, jadi pilihan terbaik untuk saat ini adalah menjauh dari Airyn, dan membuat jarak untuk memikirkan rencana melindungi dirinya dari belakang”
“K-kau tahu Zates, aku tidak bisa meninggaalkan Airyn. Aku tidak bisa menjauh dari sisi Airyn, bagaimanapun ia sudah bersamaku sedari kecil. Dan sangat dipastikan Airyn akan merasa kehilangan jika aku memilih pergi dari sisinya”
“Lalu bagaimana? Apa kau ingin bersama Airyn, dan membuat Airyn mengetahui fakta ini. Jika kau mau begitu aku tidak keberatan, tapi apa kau siap melihat Airyn terluka atas fakta tentang kita”
Hening membentang, seolah Merry tidak memiliki pilihan lain, berkali-kalipun ia berfikir. Mengubur dalam-dalam keberadaan Zates adalah pilihan tepat agar putrinya tidak terluka, tapi disisi lain Merry tidak bisa lagi bersama dengan Airyn, dan harus bekerjasama untuk meghadang ancaman, jadi apa yang harus Merry lakukan.
“Fikirkanlah apa yang kau pilih. Aku sangat berharap kau memilih berdasarkan keinginan dirimu sendiri bukan paksaan dariku. Tapi bagaimanapun aku benar-benar berharap kita bisa bekerjasama untuk melindungi Airyn”
Baru saja Zates ingin bangkit dari sana sebab ia harus mengurus beberapa pekerjaan, tiba-tiba saja Merry mencengkram lengan pria itu dengan erat.
“aku akan bekerjasama denganmu” lirihnya dengan air mata yang perlahan mulai menderas, seolah pilihan untuk menjauh itu seperti sebuah rasa sakit yang tiba-tiba mengores batinya, apa yang bisa Merry lakukan selain berharap yang terbaik untuk Airyn, bukankah segala yang terjadi akibat kesalahan dirinya yang terlalu egois menginginkan kebahagian diri sendiri di masa lalu, tanpa memikirkaan orang disisinya apalagi putri kandungnya, ia terlalu sibuk menatap satu titik sampai tidak menyadari bagaimana banyak titik yang sudah terlewatkan, jika semua ini adalah kesalahan Merry, apakah masih pantas untuk dirinya egois dan bertahan disisi Airyn.
“Merry, apa kau sadar dengan pilihanmu. Menjauhi Airyn sama saja kau harus meninggalkan kehidupamu bersam Airyn, kau harus mengembalikan Airyn ke posisinya semula. Dan kau harus berjuang untuk jarak yang jauh denganya. Apa kau yakin untuk itu”
Tanya Zates sekali lagi, seolah ia menahan sekuat tenaga rasa sakit akibat ketidak bahagaiaan yang dirasakan oleh Merry.
“A-aku yakin” balas Merry dengan suara tersekat, seolah ia tidak bisa lagi menahan ini lebih lama, hingga sebuah pelukan hangat dari Zates di jatuhkan untuk menenangkan Merry, membuat wanita itu menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan pria itu.
“Aku janji akan membalas air mata ini. Aku akan membalas orang-orang yang sudah menyengsarakan kehidupaanmu. Dan membuat pilihan di hidup kitaa. Aku janji” batin Zates dengan perih ketika isakaan Merry terlalu menyakiti, bagaimnapun ia sama terlukanya dengan Merry, namun berdasarkan perasaan lembut yang dimiliki oleh seorang ibu, membuat Zates dapat merasakan bagaimana pedihnya hati Merry akan sebuah pilihan yang terpaksa di yakininya.
“Apakah semuanya akan baik-baik saja. Akankah Airyn bahagia” rintih Merry saat menanik pinggiran baju Zates seolah meminta jawaban kepada pria itu, tentu saja Zates mengusap bulir air mata di pipi merry, ia mungkin tidak bisa mengatakan "iya" namun Zates berjanji akan membuat semuanya baik-baik saja, memgembalikan kebahagian kepada Merry dan putrinya.
"Aku akan berusahaan tidak memgecewakan mu" ucap Zates dengan penuturan lembut, seraya memeluk Merry untuk menenangkan sebelum akirnya meninggalkan usapan di punggung wanita itu.
****
Satu bulan telah berlalu setelah Airyn dan Hansell pulang kembali kerumah, tentu saja saat ini Angel dan Dikra sudah bersama mereka, begitupun Darrel dan Frada yang selalu bekerjasama untuk Airyn setelah Merry mengundurkan diri dengan alasan yang tidak masuk akal.
Meskipun begitu masih ada orang-orang kepercayaanya yang bahkan tidak meninggalkan Airyn, membuat wanita itu tidak menyangka jika mereka masih bertahan di sisinya. Airyn cukup tersentuh atas perjuangan yang di lakukan oleh Darrel, Frada, Dikra, dan Angel, jika bukan karna mereka, mungkin perusahaan sudah mengalami keanjlokan yang signifikan dan juga membuat Airyn akan kesulitan untuk memutar modal dengan dana yang mengalami kerugian, bagaimana bahagianya Airyn ketika menyaksikan mereka bekerja keras siang dan malam, tiba-tiba saja melihat Airyn dan Hansell datang, semuanya malah kembali seperti semula.
Hansell dan Airyn pindah kerumah mewah mereka yang sudah sekian lama dibangun Hansell untuk istrinya, siapa yang menyangka pria itu memilih dataran rendah di daerah perairan sehingga pemandangan dari dalam rumah dapat menembus pantai yang ada di jendela belakang, selain itu rumah yang di bangun oleh Hansell dengan dana yang fantastis tidak terlalu besar tetapi sangat sederhana dengan gaya berkelas yang mungkin tidak akan ketinggalan zaman, sebab berada di kawasan elit dengan arsitektur yang memiliki kualitas tidak membuat mereka menghilangkan eksan sederhana. Meskipun begitu tetap saja nuansa putih digunakan sebagai setting warna dirumah baru mereka, hingga gaya Eropa Klasik di padukan dengan Amerika Moderen yang merupakan kesukaan Airyn, selain itu tempat-tempat di dalam rumah itu mendominasi kesukaan istrinya, sehingga menyediakan berbagai tempat keperluaan Nona Petrov, baik dari ruangan SPA, Bioskop, tempat Gym, dan kawasan taman sebagai tempat BBQ yang cocok untuk malam hari. selain itu di taman belakang di lengkapi dengan kolam renang dan juga taman bunga teratai di kolam, tidak lupa juga Hansell membuatkan dapur yang cukup mewah dengan berbagai perlengkapan dapur yang tidak tanganggung-tanggung hingga sangat lengkap, mengingat istrinya sangat menyukai dunia memasak.
Airyn tengah sibuk mengolah makanan untuk suaminya, tentu saja ada Angelina dan Dikra disana, yang begitu ricuh memainkan game online mereka, sedangkan Hansell masih sibuk seperti biasa, mengurus masalah pekerjaan dan larut berkomunikasi dengan rekannya.
Tiba-tiba saja seorang pembantu rumah membawa dua tamu untuk di iringi kearah dalam, siapa yang menyangka yang datang adalah Frada dan Darrel, bahkan membuat Airyn terpana ketika Frada mengunkan pakaian yang sedikit feminim dari dirinya biasa. Tidak Airyn saja, Dikra yang mengenal Frada cukup lama sama terdiamnya akan perubahan wanita itu.
“Dikra kenapa kau berhenti, lihatlah musuh menghancurkan markas kita” celoteh Angel dengan begitu heboh memukul pacarnya, bahkan saking kesalnya Angel tidak sadar jika Dikra tengah memandang diam kearah wanita yang tiba-tiba ada didepan mereka.
“Dikra….”panggil Angel sekali lagi dengan raut wajah marah, bagaimana tidak pria itu berani menatap wanita lain dihadapanya hingga sebuah pukulan di kepala bagian belakang Dikra menyadarkanya “Apa kau ingin aku putuskan!!” celetuk Angel dengan mengancam, saat menajamkan kedua matanya kearah Dikra, membuat Airyn tersenyum seolah tidak bisa berhenti melihat tingkah Angel yang mengemaskan dan selalu kekanak-kanakan.
“Apakah ini Nona Frada” sapa Airyn ketika menatap keadua tamunya.
“Aku rasa kau sangat cantik. Jika aku laki-laki mungkin akan terpana melihat dirimu yang berakarisma dengan gaya feminim ini” Airyn berlalu meninggaalkan Frada dan Darrel untuk masuk keruang kerja Hansell yang dilapisi kaca trasparan dengan kedap suara di dalamnya, meskipun semarak apapun keadaan diluar sana, tetap saja tidak mengalihkan perhatian jika kita berada dalam ruangan itu. Sebab sudah di rancang semenarik itu untuk kesan rumah yang serba guna.
“Darrel, kenapa kau berdandan seformal itu? Apakah kau ingin pergi pesta?” tanya Angel ketika melipat kedua tanganya kearah Darrel yang dulu pernah bekerja dengan kakaknya.
“Bisa di katakana begitu. Apakah anda ingin bergabung dengaan kami Nona Angel” tawar Darrel kearah Angel yang begitu posesif memeluk lengan Dikra.
“Tidak!! Sepertinya pacarku membutuhkan sebuah pukulan, karna tidak bisa melepaskan matanya dari wanita itu” hinanya dengan terang-terangan, membuat Frada tersenyum kecut mendengar perkataan wanita manja tersebut.
“Maaf Nona Muda Angelina Hamillton. Kenapa kau harus berbicara mengenai pacarmu sambil menatap jelek kearahku. Aku rasa bukan aku yang mengodanya, mata pacarmu saja yang tidak tahu malu” dengus Frada yang tidak ingin kalah dari Angel, entah kenapa semenjak mengenal pacar Dikra itu, rasa jengkel Frada mulai memuncak, tidak hanya pada rekannya yang menyebalkan itu saja, melainkan pacarnya yang jauh menjengkelkan.
“Sepertinya kau terlalu tinggi menganggap dirimu Frada. Kau sendiri yang menarik perhatian orang lain, bagaimana bisa kau malah bersikap sebaliknya. Kau berdandan seaneh itu bukankah untuk menunjukan kepada orang lain, kenapa kau harus kesal pada pacarku” bantah Dikra seketika saat membela Angel.
Membuat Angel berbangga diri ketika pria itu membela dirinya, sedangkan Frada ingin sekali meninju Dikra dengan kekuatan penuh, sambil membanting tubuhnya ke dinding hingga hancur lebur agar tidak bicara lagi, namun mengingat dirinya mengunakan gaun yang melekuk indah ketubuhnya yang ramping, membuat Frada mencoba mengontrol emosinya yang dirasa mengatup-ngatup. Setidaknya Frada yang dewasa harus mengalah dengan dua pasangan yang kekanak-kanakan itu.
“Frada sudahlah. Biarkan saja mereka hanya bercanda” tenang Darrel ketika menyentuh bahu Frada dengan lembut, membuat gadis itu terkesiap seolah sikap waspadanya menyala hingga menepis tangan Darrel tanpa terduga, membuat Angel dan Dikra terkekeh akan tingkah bar-bar wanita itu, bahkan mengejek Darrel yang begitu bangga menenangkan Frada.
“Sepertinya percakapan kalian terlalu menarik. Apakah kalian kerumahku hanya untuk untuk saling mengejek” putus Airyn yang baru bergabung bersama Hansell.
Tentu saja Airyn memanggil Hansell untuk mengajaknya makan malam, namun melihat ada Darrel dan Frada berada disana dengan pakaian formal seperti menghadiri sebuah pesta, membuat pria itu berdiam diri disamping istrinya sembari memeluk Airyn dari arah belakang.
Airyn memandang Frada dan Darrel untuk menuntut penjelasan “Bicaralah di ruang tamu” sambung wanita itu saat menuntun langkah, mau tak mau Hansell juga ikut serta disana.
Membuat Frada dan Darrel mengikuti langkah Nona Petrov, sebab ia merasa malas meladeni dua makhluk menyebalkan itu.
“Apakah kau sudah menemukan Tuan Zaterius itu?” Tanya Airyn kepada Darrel dan juga Frada membuat mata Hansell membulat namun berhasil menyembunyikan keterkejutannya.
“Sudah Nona, diacara lelang malam ini kami mendapatkaan kabar jika dia akan menghadirinya, aku tidak tahu apakah aku bisa mengajaknya bekerjasama dengan Tander kali ini. Namun aku rasa sebagai Investor misterius yang terus menyokong anda, dia akan bisa dianjak bekerjasama. Namun aku tidak mengetahui kenapa selama bertahun-tahun ia tidak mengambil keuntungan dan tidak ingin masuk keanggota Direksi di Grup APV. Rasanya sangat tidak mungkin ada pengusaha yang mau mengeluarkan banyak dana tapi tidak menginginkan kembalian lebih" seketika saja Darrel terhenti sambil mentap kearah Airyn.
"Entahlah, dulu aku selalu mempertanyakan hal ini, tapi menurut Merry orang itu bukan orang sembarangan. ia akan mau bekerjasama asalkan privasinya juga dijaga dan tidak diusik. Akibat aku juga membutuhkan dirinya, aku memegang prinsip diantara kita, untuk tidak ingin tahu lebih. Tapu lupakan saja tentang bagaimana dirinya, aku lebih tertarik dengan mu. Apa kau yakin bisa menemukanya malam ini"
"Aku tidak terlalu yakin atas keberhasilan ini, tapi kesempatan yang ada bukankahntidak boleh diabaikan, untuk itulah aku akan mencoba melakukan yang terbaik. Jadi aku aka berbicara baik-baik sambil mengajak beliau bekerjasama nantinya, apakah saya boleh meminta dokumen yang sudah anda dapatkan beberapa hari lalu, agar ketika bicara dengan beliau tidak keluar dari konteks” ucap Darrel, tentu saja ia bersama Frada menghadiri acara lelang, bagaimanapun Frada cukup pintar mengenali sesuatu dan melacak keberadaan, seolah dirinya sebagai mesin pencari yang tidak bisa diragukan keahliaanya dalam dunia komputer dan jaringan.
“Tunggu sebentar” Airyn memanggil pelayan nya yang berdiri diarah belakang sehingga pria itu menghampiri Nona Petrov dengan segera “Pak, tolong ambilkan berkas yang ada diruangan ku” ucapnya dengan nada perintah yang rendah, membuat pria itu melakukan apa yang Nona Petrov inginkan, sedangkan Darrel dan Frada bercakap-cakap mengenai beberapa hal dengan Airyn dan Hansell yang setia menjadi pendengar yang baik.
Setelah dokumen itu datang, Airyn langsung memberikan nya kepada Darrel, dan pria itu menerimanya dengan tangan kosong, dan melihat beberapa hal dari arah luar sebelum menutupnya kembali “Terimakasih Nona Petrov aku akan melakukan semuanya dengan baik” mereka berpamitan untuk pergi sebelum akirnya Airyn dan Hansell berlalu dari ruang tamu.
Airyn sibuk menyajikan makanan untuk suaminya, begitupun dengan Angel dan Dikra yang masih saja rebut-rebutan dan juga berdebat, seolah Hansell memiliki dua pasang adik laki-laki dan perempuan, hingga dirinya merasa dua orang itu tidak seperti seorang pasangan normal, melainkan musuh yang tidak bisa terpisahkan.
Setelah selesai dengan makan malam mereka, Hansell dan Airyn kembali kekamar, sedangkan Dikra harus pulang dan Angel kembali ke kamarnya. Airyn yang sudah mengunakan piama tidur, tengah memoles diri dengan kosmetik yang cocok digunakan untuk menutrisi kulit dimalam hari, melihat hal itu, Hanselll menyibakan rambut istrinya sembari mencium pundak Airyn yang polos, memberikan sentuhan lembut seraya mengusap lembut bahu wanitanya.
“Sayang apa aku boleh bertanya?” Tanya Hansell dengan meragu, membuat Airyn memandang kearah kaca depan yang memantulkan wajah suaminya yang kala itu berdiri dibelakang.
“Ada apa?” seru wanita itu dengan sikap tenang seolah tidak bermaksud mencurigai apapun.
“Apa kau memiliki masalah di perusahanmu?”
“Tidak” balas Airyn sembari membalikan tubuhnya menatap kearah Hansell, sehingga keduanya saling bertatapan dengan sendu, mendengar hal itu Hansell menjatuhkan tubuhnya untuk berlurut dihadapan istrinya yang duduk di depan meja rias, perlahan Hansell mengusap permukan wajah Airyn dengan sentuhan lembut berniat memanjakan, sebelum menyuarakan pendapatnya.
“Lalu siapa pria yang ingin di temui Darrel malam ini?” Tanya Hansell dengan wajah santai, seoah tidak ada maksud apapun, membuat wanita itu terdiam seraya berfikir sebentar atas apa yang Hansell tanyakan, meskipun sebelumnya Hansell jarang terlibat dengan masalah perusahan Airyn, namun tetap saja setiap hal Hansell selalu bertanya akan permasalahan istrinya, jadi Airyn tidak berfikir apa-pun atas pertanyaan Hansell kali ini.
“Oh masalah lelang yang mereka temui itu” seketika Hansell menganggukan kepala seraya menunggu penjelasan Airyn “Aku memiliki investor setia yang selama ini tidak pernah aku temui, tentu saja beberapa kali pertemuan aku hanya bertemu sekretarisnya, ia selalu mengataskan namakan perusahaanya saja, sehingga aku tidak mengetahui apa-pun tentang pria itu, mengingat ia orang yang cukup penting dan meminta privasi dirinta terjaga membuat aku tidak memiliki hak untuk bertemu langsung dengan Tuan Zaterius itu. Tapi berkat Frada aku mulai mengetahui Tuan Zaterius adalah orang yang selama ini menjadi investor di setiap Tander yang aku lakukan” Jelas Airyn sembari melepaskan anting yang melekat di telinganya, membuat Hansell tersenyum serya bangkit dari sana, pria itu membawa Airyn untuk berpindanh kearah ranjang sebab mereka harus mengistirahatkan diri.
“Syukurlah jika tidak ada masalah” ucap Hansell dengan tenang. Membuat Airyn memeluk tubuh suaminya untuk menghirup wangi tubuh Hansell yang alami dengan dalam, seperti aroma menyejukan jiwa yang mendamaikan dirinya sepenuh hati, bahkan Airyn tidak ingin melepaskan pelukan dan melonggarkan dada dengan kekuatan yang cukup erat.
Mata Airyn yang sudah di pejamkan itu terasa sulit untuk terlelap, bahkan beberapa kali Airyn mendongakan kepala kearah suaminya yang tertidur dengan wajah tampan dan tenang “Kenapa masih meihat ku” seru Hansell dengan mata tertutup, membuat Airyn membangkitkan sedikit tubuh untuk melihat kearah Hansell secara terang-terangan.
“Sayang aku tidak bisa tidur” seru Airyn dengan manja, membuat Hansell membuka kedua matanya sembari mendengarkan apa yang bisa membuat Airyn tenang. Tentu saja Hansell tidak akan bisa tidur jika istrinya belum tertidur tenang, karna itulah Hansell berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kesadaranya.
“Hansell, aku ingin ke Bali” seketika saja Hansell mengkerutkan keningnya seraya bingung akan permintaan wanita itu, bukankah Bali terletak di Negara Indonesia yang memiliki berbagai pulau dan kebudayaan yang beragam itu, namun dari banyak pilihan kenapa Airyn ingin ke Bali.
“Kenapa kau ingin kesana, apakah ada pekerjaan yang mendesak?” Tanya Hansell seketika, seolah kesadaranya berangsur-angsur segar.
“Bukankah saat kita di ruang bawah tanah aku pernah bercerita tentang pulauku yang ada di Indonesia, aku memiliki pulau di dekat perairan bali, rasanya aku ingin kesana dan menunjukan Villa itu padamu. Aku sudah mengecek perubahan cuaca tadi siang, dan dapat di pastikan cuaca sangat mendukung jika kita terbang kesana, apa kau mau kita terbang ke Indonesia malam mini. Rasanya aku sangat merindukan Villa itu” ucap Airyn dengan wajah memelas, membuat Hansell begitu bingung akan permintaan Airyn, meskipun Hansell sendiri yang menginginkan mereka untuk memenuhi janji yang terbuat di ruang bawah tanah itu, tetap saja untuk terbang ke Bali malam ini sedikit tidak wajar.
“Sayang…” lirih Airyn sekali lagi, seakan menduga Hansell akan menolaknya “Kau pasti tidak mau, aku tahu kau tidak akan mau kan! Karna pekerjaanmu jauh lebih penting dari pada aku bukan. Kalau begitu tidur saja. Tidak usah pedulikan aku” dengus Airyn saat membalikan tubuhnya dengan segera, ia benar-benar terlukai atas sikap Hansell.
“Ayo kita pergi....” lirih pria itu ketika memeluk istrinya, membuat Airyn tersenyum bahagia seraya membalikan badan dan memeluk tubuh Hansell erat-erat. Rasanya Airyn terlalu menyebalkan namun Hansell tidak bisa menolak bukan, karna ini sudah menjadi janji diantara mereka.
Saat Hansell memutuskan detik itu juga semua hal sudah di persiapkan, entah itu Koper mereka, Pewasat untuk penerbangan, beberapa pengawal yang akan berangkat untuk menjaga, dan seluruh hal sudah tersedia seolah Airyn sudah mempersiapkan ini dari lama, tentu saja Hansell terpana akan tingkah istrinya yang diluar perkiraan, bahkaan dengan satu perintah dari Airyn, pengawalnya datang untuk mengawal perjalanan, bukankah ini sudah seperti pemaksaan dengan mengatas namakan janji yang tidak sengaja terbuat.
“Astaga wanita ini” gumam Hansell saat istrinya begitu ricuh menyiapkan segala keperluan mereka, bahkan Airyn seperti menyiapkan keberangkatan ini dan mengelola perusahaanya dari jauh-jauh hari, jadi ia seperti memiliki waktu luang yang panajng, sedangkan Hansell harus memiliki setumpuk permasalahan jika nanti dirinya kembali lagi ke Korea.