Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Posesif



Keduanya sibuk mengenakan baju hangat sambil merapikan diri, Hansell yang telah selesai melangkah mendekati Airyn yang begitu sibuk memoles permukaan wajahnya, entah kenapa gadis itu sangat heboh hanya untuk membeli mie instan ke kesupermarket terdekat


“Kenapa harus cantik sekali, nanti ada yang cemburu” ledek Hansell, membuat Airyn mengabaikan ejekan yang sangat jelas dilontarkan untuknya “Kenapa kau tidak bertanya, siapa yang akan cemburu” geram pria itu saat memeluk Airyn dengan kesal, tentu ia sangat gemas dengan tingkah cuek yang ditampilkan Airyn padanya


“Hansell lepaskan aku, aku sangat lapar sekali. Lebih baik kau tidak menganggu dari pada dandananku menghabiskan waktu” ketus Airyn seolah jengkel akan tingkah prianya, yang setiap kali mengoda dan menempel pada tubuh kecil Airyn.


“Tidak mau, kau harus bertanya siapa yang akan cemburu” kekeh Hansell sembari memaksa Airyn mengikuti keinginan hati, dia tidak akan berhenti menempelkan tubuh jika Airyn tidak menghargai usahanya, sadar jika Hansell tidak bisa ditolak, Airyn menarik nafas panjang sembari melirik kearah samping


“Siapa memang nya?” tutur gadis itu dengan nada malas


“Bulan” seru Hansell seketika, membuat Airyn menaikan alis karna merasa jengkel atas jawaban yang begitu singkat dan padat, ia mengelengkan kepala karna tidak paham lagi dengan humor jelak yang dimiliki kekasihnya, untung saja Hansell prianya jika tidak, Airyn benar-benar akan menengelamkan pria itu kelaut untuk jadi santapan Hiu disana.


“Aku serius, apa kau tidak tau. Bulan itu adalah benda paling cantik dimalam hari, bahkan tuhan telah menciptakan bulan sebagai benda yang akan bersinar untuk malam. Tapi kali ini, bulan malah cemburu dengan kekasihku. Karna ada yang lebih terang dan indah dari pada dia. Yaitu kamu” serunya sambil mencium telinga Airyn dari arah belakang, membuat gadis itu merasa geli, bukan karna ciuman yang diberikan Hansell melainkan lawakan garing yang tidak renyah sama sekali.


“Kenapa kau malah tertawa, aku serius” dengus pria itu dengan kesal, seolah ia benar-benar benci akan sikap cuek Airyn. Padahal ia sudah bersusah payah memberanikan diri untuk merayu, tapi respon yang ditampilkan Airyn, malam memperlamukan.


“Kau ini lucu sekali” Airyn masih saja setia dengan tawa yang tertampil nyata


“Kenapa kau menyebalkan sekali” Hansell mengacak-ngacak rambut Airyn dan menengelamkan kepalanya di tudung hondie yang dikenakan kekasihnya itu, seolah ia sangat geram hingga ingin menerkam.


“Jika detik ini kita tidak keluar, karna dirimu yang sangat lapar, aku benar-benar igin menidurimu sayang” bisik Hansell dengan suara sensusal, membuat Airyn terdiam dan mematung diposisi, karna ancaman itu benar-benar membuat dirinya merinding.


“Hansell, aku lagi sakit” sambut gadis itu dengan cemas, bahkan nadanya terdengar gugup saat melirik Hansell dari pantulan kaca depan.


“Kata dokter, jika aku melakukan dengan hati-hati, itu tidak akan jadi masalah” tutupnya sambil membalikan tubuh Airyn yang menatap dirinya dengan pasrah, pria itu meraih dagu lancip nan indah itu untuk didekatkan kewajahnya, hingga hidung mereka menempel ditengah hembusan hafas yang terasa, Hansell sangat tergoda jika aroma nafas Airyn begitu hangat di seluruh indra perasanya.


Ciuman manis jatuh begitu saja saat dua bibir menempel hingga bergulat bersama, Airyn tidak ingin kalah dari pria itu, meskipun serangan Hansell membuat dirinya mengejar nafas yang tertinggal, tapi hal itu tidak membuat Airyn menyerah, merasakan intensitas ciuman yang luar biasa besar dari kekasihnya, tangan Hansell mendekatkan gadis mungil itu kedada, hingga tidak memberikan jarak apa-apa diantara mereka, tangan nakal itu seraya meraba seluruh punggung dan pinggul Airyn, bahkan hampir merbat ke kebokong keksihnya, Airyn yang berdebar tidak kuasa memasrahkan diri begitu saja


Entah bagaimana Hansell bukan pria yang ingin menyerah pada dirinya, membuat Airyn harus bersabar hingga batas yang tidak wajar


“Cukup, sayang. Sudahlah” racau Airyn, saat melepaskan tautan bibir mereka, hingga seringai jahat tertampil indah dibibir Hansell, ia memeluk kekasihnya dengan cinta dan sayang, hingga keduanya saling bahagia tanpa mampu terhalangi lagi


“Semakin hari, aku semakin mencintaimu. Semakin hari tingkah manis ini membuat diriku jatuh cinta. Apa yang harus aku lakukan sayang? Jika hidup tanpa dirimu, aku benar-benar tidak mampu” lirih Hansell seketika, saat memeluk Airyn penuh cinta dan sayang, seolah ia tidak akan rela jika takdir memisahkan mereka


“Airyn, rasanya aku ingin bermalas-malas denganmu, bagaimana ini?” rengek pria itu kepada gadisnya, seolah ia enggan melepaskan pelukan erat yang terjalin hangat


“Astaga, ayolah kesupermarket. Aku sangat lapar” Airyn memaksakan diri keluar dari tubuh Hansell, membuat pria itu merasa sedih akan perpisahan tubuh mereka


“Ayolah” seret Airyn dengan manja, seolah Hansell terpaksa mengikuti kemauan kekasihnya, Airyn berusaha menyeret tangan Hansell dengan jemari mungilnya, membuat pria itu semakin gemes akan tingkah Airyn, ia menghentikan langkah kaki sebelum keluar dari pintu kamar “Apa apa lagi?” tanya Airyn dengan binggu, sembari membalikan tubuh namun disaat itu juga, Hansell memeluk Airyn sekalai lagi, ia mencium bibir Airyn bertubu-tubi hingga gadisnya mendesis kesal karna Hansell berulang kali melakukan hal itu tanpa batasan jeda.


“Hansell” regek Airyn dengan kesal, namun wajah manja tidak mampu terhilangkan dari sana, membuat Hansell merasa menang dan juga senang “Maafkan aku sayang, aku benar-benar merindukan mu” Hansell melepaskan tubuh Airyn, membuat gadis itu memasang wajah kusam dan kusut, melihat hal itu, Hansell kembali menempelkan tubuh mereka, seolah ia memberikan pelajaran kepada Airyn yang terus menolaknya, ia mencium gadisnya sekali lagi, hingga tubuh Airyn tengelam didada bidang Hansell, membuat Hansell tertewa renyah akan perlindungaan yang dibuat Airyn menghidari kecupan sayangnya.


“Apa kau sudah gila, bagaimana bisa kau berulang kali menciumku. Astaga Hansell. Kau menyebaalkan sekali “ sekali lagi Airyn membentak Hansell dengan geram, ia ingin sekali menampar pria itu, yang semkain hari kian menyebalkan


“Lihat aku” sambut pria itu dengan nada manis, secara bersamaan membuat Airyn mengelengkan kepala untuk menolak “Lihat aku, jika tidak kita tidak pergi kemana-mana” tuturnya dengan kalimat mengancam, membuat Airyn mengangkat kepala secara perlahan, menyibakan seluruh tatapan rindu yang terpancar “Aku mencintaimu sayang” lirih Hansell dengan kalimat manja, seolah ia benar-benar menyampaikan seluruh isi hati yang ada, Airyn yang tadinya ingin marah, berbalik ramah dengan senyum indah. Ia memerah seolah bahagia atas cinta tulus yang dilontarkan Hansell padanya


“Kenapa kau diam saja?” tuturnya sekali lagi, memberikan kode untuk Airyn membalasnya, namun akibat bahagia Airyn malah lupa diri seketika, hingga Hansell merasa kesal balasan yang ia tunggu tak kunjung keluar dari bibir Airyn “Astaga, apa kau tidak mencintaiku” bentak Hansell dengan kesal, membuat wajah Airyn berubah heran “Aku mencintaimu, siapa yang bilang tidak” sambutnya dengan kesal, sebab Airyn benar-benar mencintai Hansell, melihat reaksi itu Hansell sangat bahagia, untuk kesekian kalinya dia memberikan ciuman lembut dibibir Airyn, kali ini ciuman mereka tidak memainkan nafsu tapi sayang dan tulus.


“Ayo…pergi” Hansell mengandeng tangan Airyn menuju keluar Villa, mereka berdua melangkah pergi guna mencari apa yang dibutuhkan, Hansell membukakan pintu untuk Airyn layaknya seorang putri, benar-benar sosok hangat dan perhatian yang membuat siapa saja meleleh jika menyaksikan Hansell memanjakan kekasihnya, dengan cepat pria itu memasuki mobil dan menempatkan diri diposisi sopir, tak lupa ia mengenggam tangan Airyn selama perjalanan, beruntung mobil tersebut adalah keluaran terbaru dengan teknologi canggih yang otomatis bisa melaju tanpa dikendalikan, hingga Hansell tidak perlu terlalu fokus mengendarainya, ia menelusuri malam bersama gadis cantik itu, menjajakan kaki keluar Irlandia, dengan suhu yang begitu dingin ditubuh mereka,


secara posesif Hansell menjaga Airyn untuk terus hati-hati, ia memasuki minimarket dan membukakan pintu kaca itu untuk gadisnya, pelayan yang melihat dua pasangan memasuki toko, hanya terpaku melirik ketampanan Hansell, tentu dia tidak menyadari, namun Airyn sangat sadar sekali, tatapan Airyn menyelidik kearah kasir yang tidak sopan melihat prianya, tadinya Hansell yang posesif mengandeng Airyn, kali ini Airyn yang melingkarkan tanganya di lengan pria itu, seolah ia tidak memberikan celah kepada tubuh mereka untuk merenggang, siapapun dapat menyadari jika gadis itu merapat ketubuh Hansell


Tentu ia sadar akan tingkah Airyn yang diluar batas normal, ia tersenyum bahagia, seolah dewi fortuna menghadiahkan dirinya. Kedua kekasih itu memeriksa mie isnstan yang ada ditoko, mereka mengambil beberapa untuk menjadi persedian meskipun begitu Hansell membatasi, agar Airyn tidak terus-terusan mengkonsumsinya, perdebatan tentu saja terjadi, namun bagaimana lagi, itulah hal yang membuat dua pasangan itu menjadi sama.


“Hansell apa kita bisa makan mie instan disini?” tanya Airyn saat dirinya melirik kepada pria yang membelakangi mereka, tentu pria itu tengah menikmati mie instan yang sudah disedunya, karna mini market tersebut menyediakan fasillitas bagi pelanggan yang ingin makan ditempat


“Tentu saja bisa, seluruh mini market menyediakan air hangat dan tempat untuk menyedu mie, jadi siapa saja bisa makan mie instan disini” balas nya seketika saat menunjuk benda yang ia sebutkan, membuat Airyn membulatkan bibir karna mengerti


“Apa kau mau makan disini?” tawar Hansell, membuat Airyn melirik panjang kepada pria itu, seketika ia mengelengkan kepala pertanda menolak ajakan Hansell, sebab Airyn sangat ingin dibuatkan mie instan oleh kekasihnya, jika ia menyedu disini pasti rasanya sangat biasa saja, dengan pasti gadis itu mengelengkan kepala menolak tawan Hansell “Apa kau yakin?” tanya pria itu sekali lagi, membuat Airyn menganggukan kepala dengan cepat


“Baiklah, ayo kita bayar dulu” Airyn mendahului Hansell kearah kasir, namun pria itu menarik tangan Airyn untuk mengandengnya, seolah gadis itu akan lepas dari jangkauan jika dibiarkan.


Ketika membayar belanjaan mengunakan salah satu kartu yang ada didompetnya, Hansell terperangah melirik seseorang yang tidak asing dikedua matanya, dengan cepat pria asing itu menghampiri pasangan kekasih seraya menyapa mereka


“Apa kabar nona petrov” serunya, membuat Hansell menjauhkan Airyn dari hadapan James.