
“Apa kau bisa berdiri?” tanya Hansell dengan manja ketika melihat wajah istrinya yang begitu kelelahan, bahkan sedari bangun tidur Airyn dibuat bekerja keras untuk memenuhi keinginan suaminya memiliki seorang buah hati mereka, Hansell mengusap rambut Airyn seolah ia juga ikut kasihan jika wanitanya merasa tidak berdaya “Apa aku sekuat itu?” sambung Hansell dengan mengoda, membuat Airyn menajamkan mata ketika menutup wajah suaminya dengan telapak tangan mungil miliknya.
“Berhenti mengangguku, kau seperti serigala kelaparan setiap kali melakukanya, apa kau ingin membunuhku secara perlahan”
“Hei, bagaimana mungkin. Aku hanya mengajak istriku bercinta, kenapa aku harus membunuhmu, bahkan jika itu terjadi aku ingin ikut mati bersamamu” balas Hansell dengan bangga, membuat Airyn memutar kedua bola matanya seolah enggan menangapi pria menyebalkan itu.
“Hansell gendong aku” lirih Airyn ketika meminta tolong pada suaminya, membuat Hansell meraih tubuh Airyn yang polos untuk di gendong ke kamar mandi, mereka berdua melakukannya bersama-sama, tentu saja Villa Airyn yang ia buat di Indonesia mengunakan ciri khas Negara tersebut, sehingga tidak melupakan kesan ketika pulang ke Negara mereka, Airyn terkesan dengan Indonesia ketika ia menjadi mahasiswa pertukaran pelajar beberapa tahun lalu, ia memiliki studi di pulau Bali untuk melihat harga jual Bali di pasar Global, dengan negara yang dikatakan paling kaya di dunia akibat rempah dan juga minyak buminya, serta Indonesia di katakan sebagai paru-paru dunia membuat Airyn mendapatkan kesan menyentuh saat melihat kota Bali, ia tidak menyangka di negara ini masih mempertahankan kebudayaan beragam, disaat pasar Internasional dan juga budaya moderenisasi mendobrak gerbang kebudayaan dibanyak Negara, namun berbeda di Indonesia, hal ini malah menjadikan mereka tetap teguh dengan kepercayaan masing-masing dan juga menghormati kebudayaan leluruh, bahkan Airyn begitu terpana akan cara mereka menerima turis yang berdatangan ke kota yang indah akan pantainya serta suasana yang tidak terlupakan.
Bisa dikatakan Airyn semakin menyukai Indonesia ketika tidak sengaja bertemu dengan ibu Maharani yang di panggilnya Bu Rani, tentu saja beliau bukan pelayan di rumah Airyn, sebab Bu Rani merupakan orang asli di pulau Bali , bahkan dari namanya saja dapat melambangkan jika Bu Rani bukan orang sembarangan, ia bergelar Anak Agung Ayu Maharani Aditya Karang, sehingga di kalangan suku Bali ini merupakan suatu nama yang di urut berdasarkan jenis kelamin, urutan kelahiran, status kebangsawanan atau kasta. Ibu Rani termasuk kedalam keturunan kasta kesatrian yang biasanya di gelar dengan anak Agung, dimana mereka umumnya merupakan keturunan Raja yang ditinggal di puri atau sekitar puuri yaitu yaitu kediaman leluhur (Bangsawan Bali).
Bu rani di kenali Airyn saat ia mendalami berbagai keragaman akan budaya disana, sehingga dalam waktu sebulan Airyn cukup terkesan dengan Negara ini dan memilih memiliki sebuah Villa di Bali, bahkan Airyn yang kala itu mengelilingi peraiaran tidak sengaja menempatkan hati kepad pulau terpencil yang begitu indah dengan pohon kepalanya, tentu saja di berbagai negara lainya Airyn tidak mendapatkan hal itu, hanya di Indonesia tepian pantainya begitu asri dan alami sehingga diam-diam Airyn membeli pulau ini berdasarkan anggran pribadi, tanpa di masukan ke deretan pengeluaran yang di kelola merry, hal ini tentu menjadi alasan sebab Airyn ingin memilili privasinya sendiri, sebab beberapa tahun lalu alasan Airyn membeli pulau ini karna ia ingin menempatkanya bersama suami masa depan.
Karna itula Airyn merasa malu jika diketahui membangun Villa oleh Merry, sebab Merry pasti menuding Airyn ingin memiliki keluarga sesegera mungkin, jadi dimasa lalu saat Airyn terpaksa menghapus Hansell dari ingatanya, ia pernah memiliki harapan sesederhana ini, seolah Airyn tidak memiliki seseorangpun di hidupnya namun ia yakin akan hidup dengan seorang pria nanti, dan siapa yang menyangka jika Hansell adalah pria yang ia bawa ke Villa tempat dirinya ingin membentuk keluarga.
“Aku ingin sekali mengandung anakmu” lirih wanita itu ketika memandang Hansell dengan tatapan dalam, membuat Hansell tersentuh hingga kedua mata mereka saling menatap penuh sayang.
“Aku akan berusaha” ucapnya dengan meyakinkan, membuat Airyn malu namun bahagia akan hal itu.
Seusai mandi Airyn sudah menyiapkan alat tes kehamilan di dalam tasnya, ia mengeluarkan alat itu untuk memeriksa dirinya di bilik kamar mandi, sebelumnya Airyn tidak pernah memeriksa diri sebab waktu itu Airyn masih belum yakin akan hal ini, tapi sekarang menjadi kali pertama Airyn berharap akan sebuah kesempatan menjadi ibu, bahkan Airyn berharap hasilnya memuaskan, sebab Airyn berfikir mereka hampir melakukan setiap waktu, bukankah sangat wajar untuk Airyn berharap.
Awalnya ia cukup binggung mengunakanya alat tersebut, namun ketika membaca internet airyn melihat jika memiliki dua garis itu pertanda Positif hami, jika satu garis itu pertanda Negativ atau tidak hamil, sehingga wanita itu cukup memahami dasar mengunakan tes kehamilan, baru saja Airyn menempatkan urinenya di tespeck tersebut hasilnya menunjukan garis samar-samar, sehingga perlahan menjelaskan satu garis saja, membuat Airyn merasa cukup kecewa sebab menaruh ekpektasi terlalu tinggi, ia menghela nafas dengan panjang sebelum akirnya membuang tespeck itu ke tempat sampah, bagaimanapun Airyn seharusnya melakukan konsultasi ke Dokter sebelum berharap, tentu saja ia hanya penasaran dan tidak sabaran sehingga membeli alat itu tanpa persiapan mental.
“Mungkin belum waktunya, aku akan mengajak Hansell untuk konsultasi nanti” ucapnya ketika menghibur diri sendiri, Airyn membilas wajahnya dengan air yang mengalir dari kran itu, sebelum akirnya keluar dari kamar mandi untuk menemui Hansell yang tengah meneguk kopi bersama layar ponselnya, sedangkan tespeck yang Airyn tinggalkan di tempat sampah itu menambah satu garisnya lagi, sehingga tes kehamilan itu menunjukan hasil Positif.
“Airyn ada apa?” tanya Hansell ketika mendengar helaan nafas berat dari istrinya.
“Tidak, aku baik-baik saja” ucapnya dengan memelas saat mendudukan diri di sofa pinggir jendela di kamar mereka.
“Katakan, ada apa! Pasti ada apa-apa sampai nafasmu berhembus dengan berat. Jangan membuatku khawatir” ucap Hansell dengan memaksa seolah ia mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
“Sebelum kesini aku tidak sengaja meminta pelayan untuk membelikan alat untuk tes kehamilan, dan aku baru saja mencobanya, namun hasilnya Negatif. Apakah ada yang salah denganku” lirih wanita itu dengan memelas
penuh sedih, membuat Hansell terpana akan sikap istrinya.
“Tidak ada!! Kau baik-baik saja! Mungkin belum waktunya, dan kita harus berjuang lebih keras lagi” balas Hansell untuk menghibur istrinya, seketika Airyn menatap pria konyol itu
seperti enggan mendengarkan perkataanya yang bodoh.
“Bagiku selama ini semua yang kau lakukan sudah dilakukan dengan usaha sekeras mungkin, jika menambahnya lagi aku tidak akan sanggup berjalan” dengus wanita itu dengan jengkel, membuat Hansell tertawa akan wajah istrinya yang merengut manja.
“Hei….kenapa kau pemarah sekali. Ini terlalu mengemaskan” Hansell mengacak-ngacak rambut istrinya sebelum memeluk Airyn dengan sayang, seketika saja Hansell melepaskan pelukan hangat diantara mereka sembari berlalu kearah luar.
Airyn yang di tinggalkan melihat hamparan lautan dari jendela kaca di kamar mereka, obak yang menerjang pinggiran karang yang begitu kuat, memberikan ketenagan saat pendengaran Airyn mengakses suara hamparan dipinggir laut. Betapa indahnya pemandangan ini yang selalu membuatnya merasa damai dan tenang.
Airyn tidak akan menyerah, sama halnya dengan ombak yang terus menerjang karang, ia tetap kokoh dan bertahan, dan Airyn harus seperti itu. Meskipun harapan tidak sesuai kenyataan dan terus membuat kekevewaaan, Airyn harus berhatan sekuat apapun keadaan menyerang.
Hansell mengotak atik ponselnya untuk mencari nomor yang ingin ia hubungi, tentu saja ia memiliki seorang kenalan Dokter bahkan cukup dekat dengan dirinya, jadi mempertanyakan seputar kehamilan tidaklah terlalu memalukan antara Hansell dan kenalanya itu.
“Hallo Hansell, ada apa?” tanya seorang wanita dari balik sana, membuat Hansell meragu ketika mendengar suara wanita.
“Apa kau sibuk?” taya pria itu, sebab Dokter wanita yang kini ia hubungi merupakan kenalan yang cukup dekat dengan Hansell, megingat keluarga mereka memiliki kerjasama bisnis dimasa lalu antara ayahnya dan ayah dari Dokter Reinata.
“Tidak. Apa kau tengah sakit, atau istrimu?’ tanya Reinata ketika menebak, membuat Hansell semakin meragu hingga sulit mengemukakan jawaban, tadinya ia berfikir akan mudah berbicara sebab profesinya sebagai seorang Dokter, tapi mengingat gendernya sebagai seorang wanita membuat nyali Hansell menciut, ia tidak bisa mempertanyakan hal memalukan seperti ini pada Reinata.
“Aku baik-baik saja, aku memiliki pekerjaan mendadak, nanti aku hubungi lagi” ucap Hansell hingga mematikan ponselnya, membuat wanita dibalik sana menatap layar ponselnya dengan bingung hingga mengelengkan kepala tidak percaya.
“Ada apa dengan pria gila ini. Alasan aku menolak pernikahan dengannya tentu karna ia pria yang aneh” lirih Reinata ketika melanjutkan pejalanan.
“Siapa yang harus aku hubungi lagi” ucap pria itu dengan kesal sambil memindai kontak di ponselnya, seketika ia mengingat Dokter pria yang cukup dikenali dengan baik. Membuat Jansell menelfon pria itu meskipun memiliki hubungan yang tidak dekat.
“Hallo Direktur” sapanya kepada Hansell, membuat nyali pria itu meningkat dengan percaya diri mendengar suara laki-laki dengan penuh hormat menyapa dirinya.
“Hallo Dokter, jangan terlalu sopan padaku. Ada yang ingin aku tanyakan” celeuk Hansell seketika sebab tidak ingin membuang-buang waktu.
“Apa yang ingin anda tanyakan, saya akan menjawab apapun—“
“Kenapa istri saya tidak kunjung hamil” putus Hansell dengan segera, sebab ia tidak ingin mendengar basa basi dari siapapun, membuat pria yang berada diseberang sana terpana akan pertanyaan yang mungkin tidak ia sangka, meskipun ia seorang Dokter tapi seputar kehamilan bukan ranahnya, sebab ia merupakan ahli bedah di rumah sakit milik Hansell Hamillton.
“Hm…A-Apakah anda melakukanya dengan teratur? Maksudku memperhatikan masa kesuburan wanita?” tanya pria itu dari balik sana, meskipun sedikit gugup.
“Aku bahkan melakukanya hampir setiap hari, dan itu dalam durasi cukup lama” balas Hansell dengan santai, membuat pria itu merasa malu mendengarnya, sebab hal ini memang bukan ranah dirinya, ia dengan terpaksa mengunakan pengetahuan umum untuk membalas Hansell, sebab tidak tega menolak pertanyaan dari Direktur Hansell sang pemilil rumah sakit terbesar di Negaranya.
“Melakukan hubungan hampir setiap waktu dengan jangka waktu yang berlebihan hal itu mempengaruhi pertumbuhan ****** untuk membuahi indung telurnya. Jadi waktu yang terbaik untuk membuahi indung telunya ketika anda memperhatikan masa subur sang istri, dimana masa Ovulasi beralangsung sekitar 2 minggu sebelum hari pertama menstruasi. Saat Ovulasi, indung telur di tubuh wanita akan mengeluarkan sel telur yang telah matang. Sel telur ini kemudiam memasuki tahap tuba falopi dan menunggu datangnya ****** untuk dibuahi, sehingga sel telur matang memiliki masa hidup selama 24 jam. Karna itulah untuk membiarkan ****** membuahi anda harus memperhitungkan waktunya dalam melakukan hubungan badan dengan istri” imbuhnya dengan begitu gugup, seolah ia tidak mengerti penuturanya benar atau salah, setidaknya ia hanya megenali proses ini ketika melakukan pendidikan Dokter, dan itu sekitaran beberapa tahun lalu, membuat pria itu sedikit gugup memberikan jawaban pada Hansell.
“I-iyaa Direktur, mungkin anda bisa melakukanya 4 kali seminggu atau 3 kali seminggu, dan jangan lupa mengkonsumsi umbi-umbian untuk mempercepat kesuburan diantara suami istri, bagaimana jika anda melakukan konsultasi, itu lebih baik dari pada harus kebingungan seputar kehamilan” ucapnya dengan mengusulkan, membuat Hansell terdiam mendengar saran pria itu.
“Baiklah terimakasih, aku akan mempertimbangkanya. Siapa namamu?” tanya Hansell dengan segera.
“M-mark.. saya Dokter Mark spesialis jantung”
“Terimakasi Dokter Mark" ucap Hansell, sebab ia hanya menyimpan nomor pria itu dengan label Dokter rumah sakit HS.
****
Malam harinya mereka sudah tertidur seperti biasa, Hansell masih memikirkan istrinya yang begitu kecewa setelah mengetahui hasil, tapi apa yang harus Hansell lakukan, jika ia harus membatasi jangka melakukan hubungan badan dengan Airyn, sadar jika saat ini Hansell memandangi dirinya membuat wanita itu membuka kedua mata dari tidurnya yang belum menghilang di balik lelap.
“Apa yang kau fikirkan?” tanya Airyn kepada suaminya, membuat Hansell mengelengkan kepala sembari mengubah posisi tidurnya untuk menghadap kearah Airyn.
“apa kau tidak mau makan?’ tanya Hansell kepada wanita itu membuat Airyn mengelengkan kepala seolah tidak menginginkan apapun “Yasudah, tidurlah” seketika hansell memeluk istrinya, tentu saja tidur dengan memeluk pasangan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan selain menurunkan tekanan darah berpelukan juga bisa meredakan stres, menjaga kesehatan jantung, meningkatkan hormon cinta, dan dapat membuat sesorang merasa terhubung dekat dengan pasanganya, selain itu hal ini menjadi metode untuk membuat Airyn tertidur nyeyak serta meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuhnya.
Sesuai harapan, istrinya benar-benar terlelap dengan sendirinya membuat Hansell tersenyum sampai akirnya juga ikut tertidur, sebab menidurkan Airyn sudah menjadi rutinitas seperti biasa bagi Hansell, ia seperti terbiasa tidak bisa tidur jika Airyn masih terjaga, untuk itulah Hansell perlu menidurkan istrinya agar ia bisa terlelap dengan sangat nyenyak.
Di alam mimpi yang indah Hansell seperti melihat dua anak kembar yang mengemaskan, mereka memanggil dirinya dengan panggilan "Ayah" bahkan tidak sampai disana, jemari mungilnya menarik tangan Hansell hingga pria itu enggan untuk terjaga.
“Hansell…” Airyn menguncang tubuh suaminya seolah ia harus membangukan Hansell yang begitu tenang, di pagi buta ini Airyn begitu kelaparan sehingga ia menginginkan mie instan yang Hansell buatkan.
“Hm…ada apa?” lirih pria itu dengan suara berat khas orang bangun tidur, bahkan matanya saja terasa perih untuk dibuka sebab baru saja tertidur nyenyak.
“Aku lapar..”ucap Airyn dengan kalimat memanja, membuat Hansell membuka kedua matanya menatap wanita itu.
“Ini masih malam Airyn… besok saja saat sarapan” seru pria itu untuk membujuk istrinya.
“Aku tidak bisa tidur, dan begitu lapar. Bagaimana bisa aku menunggu besok pagi, itu terlalu lama”
“Bukankah sudah aku tanyakan apakah kau lapar atau tidak. Kau malah mengatakan tidak lapar. Sekarang aku malas sekali untuk bangun” ucapnya ketika menolak Airyn tanpa sadar, membuat wanita itu terdiam seolah ia ditolak Hansell dengan mentah-mentah, padahal Airyn bisa membuatnya sediri tapi kenapa ia membutuhkan Hansell, dan kenapa Hansell menolak dirinya malam ini? Bahkan sedari tadi Hansell tidak menyentuhnya, apakah pria itu akan meninggalkan Airyn, sebab merasa bosan.
“Apa kau sudah bosan denganku” imbuh Airyn dengan nada merendah yang begitu menyedihkan, membuat Hansell membuka kedua matanya dengan sempurna
sembari melihat kearah istrinya
“Apa yang kau katakan. Jangan suka mengkait-kaitkan masalah sepele dengan hal seperti itu” balasnya dengan nada membentak untuk mengingatkan Airyn yang suka sembaranya, Membuat Airyn semakin kesal sambil bangkit dari sana, bahkan Airyn tidak menyangka Hansell akan seperti itu Padanya.
Melihat Airyn pergi dengan marah, tentu Hansell menghempaskan tubuhnya dengan kasar, bahkan semenjak mereka berdua memiliki waktu luang untuk liburan tanpa melakukan rutinitas pekerjaan kenapa mereka selalu bertengkar, bahkan selama sebulan setelah kembali dari markas bawah tanah itu sangat jarang mereka berdebat sampai harus marah-marahan, namun kali ini dalam waktu sehari saja sudah dua pertengkaran yang terjadi, sebenarnya apa yang salah dari Airyn hingga ia sensitif sekali.
Jika terus begini lebih baik Hansell menyibukan diri, dan membiarka mereka melakukan rutinitas biasanya. Airyn memanaskan air dipanci utuk merebus mie instan tentunya mie yang berasal dari indonesia, ia begitu sedih saat pria itu mengabaikan dirinya dan terpaksa Airyn memenuhi kebutuhanya seorang diri.
Tiba-tiba saja seseorang berjalan dengan terhayung-hayung seolah masih belum sadar sepenuhnya, mata sembab dengan wajah bantalnya menjadi pertanda jika ia berada di tidur nyenyak, hansell menghampiri istrinya sekuat tenaga dengan melawan rasa kantuk yang melanda, ia bahkan menghampiri Airyn yang tengah mematung memandangnya, baru saja Hansell ingin menanyakan apakah Airyn membutuhkan bantuanya, wanita itu tiba-tiba saja menangis dan memeluk Hansell dengan erat, seolah tersentuh akan sikap pria itu.
“Kenapa kau menangis, apa aku sekasar itu?” tanya Hansell saat mengusap pipi istrinya, membuat airyn mengelengkan kepala seketika.
“Tidak, aku sangat bahagia menjadi istrimu” seketika saja Airyn begitu malas melepaskan dirinya dari Hansell, membuat pria itu mengacak-ngacak rambut Airyn dengan kesal namun istrinya terlalu mengemaskan, sehingga Hansell yang membuatkan mie instan sesuai permintaan.
Hansell sangat bingung kenapa Airyn selalu memiliki permintaan yang tidak-tidak di jam tidur nyenyaknya, seolah wanita itu menguji kesabaran Hansell dalam beberapa malam ini, membuat Hansell menghela nafas panjang sebab ia tidak bisa menghapus kenyataan, bahkan sikap menyebalkan Airyn terkalahkan dengan rasa sayangnya yang amat besar, sehingga seperti apapun Airyn menguji kesabaran Hansell tidak pernah membuat Hansell membenci.
Airyn menyeruput kuah segar yang tersisa di panci rebusan mie yang Airyn lahap, wanita itu terlalu cantik hingga Hansell tidak mengalihkan matanya dari Airyn, sesekali tawa malu-malu yang diberikan wanita itu kehadapan suaminya, sebab sudah kekanak-kanakan di jam tidur seperti ini.
"Apa seenak itu, sampai menandaskan kuahnya?" Tanya Hansell sembari bertopang dagu memang yang yang ada diarah depan.
"Enak, apapun yang kau masak untukku semuanya enak" seru wanita itu dengan tersenyum, seolah begitu puas atas semuanya "Terimakasih sayang" senyum tulus yang begitu sempurna membekas diwajah istrinya, membut Hansell mengusap kepala Airyn sebelum mengajaknya kembali kekamar.
Hansell menidurkan Airyn di pelukanya seperti biasa, membuat Airyn dengan usapan lembut di keningnya dengan jari Hansell secara lembut, Wanita yang saat ini sudah kenyang dan mulai menguap itu akirnya terlelap dengan nyaman, bahkan membuat Hansell masih memandang wajah istrinya sebelum dirinya kembali tidur.
Dering ponselnya bergetar, membuat Hansell cepat mengangkat ponsel itu dan melihat nomor yang tertera, wajahnya mengelap sembari meremukan ponsel itu sebab berfikir untuk mengangkat atau tidak, alih-alih mengabaikan nomor baru yanh tidak terdaftar, Hansell beranjak dari ranjang untuk menjauh dari Airyn untuk mengangkat telfonya.
"Ada apa?" seru Hansell dengan sura dingin yang bisa di dengar oleh seseorang diseberang sana, bahkan Hansell sendiri tidak ada ramah-ramahnya saat bicara dengan pria itu.
"Maaf menganggu anda Tuan, tapi ada sesuatu yang lebih penting untuk saya sampaikan" seketika ia menangguhkan pembicaraan, nanum dirinya mengerti Hansell tidak akan banyak bicara sebab ia hanya ingin mendengarkan Hasil.
"Sesuai dugaan. Nyonya Merry memang bersama Zaterius. Saya sangat yakin atas hal ini sebab di acara lelang malam ini mereka membuat keributan. Jilixing sepertinya menginginkan seorang wanita yang dijual diacara lelang itu. Namun pihak Zaterius memenangkanya dengan uang, mungkin Jilixing sudah sadar jika ia tidak akan memenangkan wanita itu dengan uang, karna itulah ia membuat rencana cadangan dengan menanmkan pengkhianat di dekat Zates dan mengancam Zaterius mengunakan Nyonya Merry. Beruntung Nyonya Merry selamat dan tidak terluka, hanya saja pengkhianat itu dikabarkan meninggal dengan cara yang tidak lazim. Hal Ini menjadi pertanda Jika Zateriuslah yang sebenarnya selangkah dari Jilixing. Sebelum keluar dari Kapal pesiar, pihak Zaterius membawa wanita yang mencurigakan, yang saya belum memastikan siapa orang itu, namun bagi saya pribadi dia adalah wanita yang Jilixing inginkan, sedangkan wanita yang bersama Jilixing adalah palsu" seketika Hansell terdiam mendengar penjelasan itu, Jika dipastikan Merry bersama Zaterius apa yang sebenarnya terjadi.
"Pastikan siapa wanita yang ada di pihak Zaterius dan kabari kepadaku, apa kau mengerti?"
"Mengerti Tuan" panggilan itu berakir, ketika Hansell beralalu kearah dapur sebab ia begitu haus hingga kantuknya hilang. Sampai titik ini saja Hansell tidak mengetahui apa maksud Zaterius sebenarnya, membuat Hansell memutar otak untuk memahami orang itu, kadang ia seperti pelindung didekat Airyn, namun kadang ia malah terasa seperti ancaman.
Jika Merry adalah pengkhianat dibelakang Airyn, tentu Hansell tidak akan segan meskipun Merry ibu kandung Airyn. Namun hati nurani Hansell menolak meyakini Merry akan menyakiti putrinya, sehingga detik ini Hansell masih memantau pergerakan mereka.