Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Pembalasan pada Jungkyung



Zates bersenandung dengan bahagia, dirinya mengenggam pemotong bungga dengan erat, seolah bunga-bunga yang menjadi kesukaanya itu benar-benar memberikan kesan menenangkan yang sangat damai, secara alami pria itu merawat serta memeliharanya dengan baik, bahkan dengan tanganya sendiri bungga cantik itu tumbuh dan besar hingga mekar.


Zates selalu memisahkan tangkai yang tidak memberikan keuntungan pada bunganya, jadi dari pada tidak berguna lagi lebih baik di singkirkan saja, matanya sebegitu jeli melihat-lihat apakah ada yang dilewatkan, namun Zates terlalu melakukan sesuatu dengan sempurna sehingga telah menyingkirkan semua hal yang menjadi parasit di sana, sehingga yang tersisa hanya bunga-bunga yang siap mekar saja.


“Permisi Tuan...” ucap anak buah kepercayaanya kepada Zates yang saat ini ada di rumah kaca kecil di dalam tempat persembunyian, tentu saja dia membuat sinar ultaviolet sendiri sebab rumah kacanya tidak terpapar sinar matahari secara langsung, jadi untuk keseimbangan hidup tanaman kesayanganya, Zates rela merogoh kocek yang tidak sedikit, yang terpenting memenuhi kebutuhan.


“Apa kau sudah mengirim hadiahku?” tanya pria itu dengan senyum simpul


“Sudah Tuan, hanya saja hadiah yang anda berikan belum di terima” sambung anak buah Zates dengan nada merendah penuh rasa hormat yang tinggi


“Tidak apa-apa, nanti dia akan membukanya. Membuat aku tidak sabar melihat reaksi wanita muda itu” seketika padangan bangganya terakses oleh pria yang menekuk tubuh dengan hormat, ia sedikit aneh dengan Tuanya, sebab hadiah yang diberikaan sangat tidak masuk akal, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan bagi dirinya sendiri.


Sebenarnya apa masalah pria itu sehingga dirinya melakukan tingkah-tingkah yang sulit di pahami oleh orang normal, bahkan ia tidak memahami hal apa yang membuat dirinya terus saja menaruh perhatian besar pada wanita bernama Airyn.


***


Airyn mendudukan diri di kursi yang telah di sediakan di kamar atas, tentu saja ia berada di salah satu kamar Hotel yang terbaik dengan kualifikasi yang telah terstandarisasi bahkan memiliki sertifikat sebagai Hotel nomor satu yang layak diberkan bintang lima.


Selain itu tingkat keamanan di hotel miliki suamimya tidak bisa di ragukan sama sekali, sehingga tidak akan bisa dilelacak oleh siapapun menyangkut keberadaan mereka ataupun menyadap pembicaraan di ruangan itu, Airyn terlihat tidak tenang seolah darahnya hampir saja mendidih akibat Jungkyung belum juga sampai kehadapanya.


“Apa yang kalian lakukan” berontak wanita itu kepada dua pria yang memapah tubuhnya secara paksa, bahkan mereka menyeret Jungkyung dengan kasar seolah tidak mempedulikan dirinya sebagai wanita, mereka tidak mengeluarkan raut wajah apapun selain bersikap dingin untuk menyeret dirinya sesuka hati.


“Aku akan menelfon polisi jika kalian berani macam-macam denganku! Lepaskan aku” bentak gadis itu dengan rasa takut yang begitu menghantui, ia bahkan tidak mengetahui alasan kenapa mereka menyeret Jungkyung, apakah orang-orang ini akan memperkosa dirinya, ataukah orang-orang ini akan menjualnya kepada seseorang yang ada di kamar atas, seluruh fikiran kotor itu terlitas dengan jelas, seolah Jungkyung merasa mual akibat takut yang berlebihan.


Ia di dorong dengan kasar bahkan tanpa rasa bersalah sedikitpun, tentu saja setelah keluar dari lift itu Jungkyung di paksa berjalan kearah depan, bahkan setelah lepas dari cengkraman orang aneh itu dirinya masih berfikir dengan sangat panjang, akan suatu bahaya yang mungkin menghadang.


Baru saja Jungkyung menarik senjata yang ada di dalam tasnya untuk berjaga-jaga, kepala wanita itu di todong dengan pistol dari arah belakang, membuat mulut Jungkyung bungkam tanpa mampu mengucapkan kata apapun, bahkan tanganya melepaskan senjata itu seolah mneyerahkan diri dengan sengaja.


Dirinya di dorong kebawah kaki Nona Petrov yang berdiri tegas dengan pancaran dendam di matanya, perlahan Jungkyung mendongakan kepala dengan gugup melihat wajah wanita itu penuh akan benci hingga menatap dirinya dengan tatapan tajam hingga hawa mengerikan.


Apa yang harus di lakukanya, ketika dirinya pernah menghina Airyn seenak hati, kali ini tentu saja Jungkyung mengakui jika wanita itu benar-benar Nona Petrov, bahkan selama ini Jungkyung tidak pernah menyimpan takut pada wanita yang di kenal sebagai Airyn, tapi aura yang di tebarkan Nona Petrov benar-benar membuatnya tidak mampu mengerakan tubuh, sekuat tenaga ia menyeret diri untuk mudur, berharap wanita itu tidak mendekat, tapi setiap gerakan tubuh yang merengsek mundur malah di ikuti dengan langkah kaki Nona Petrov yang sangat di perhitungkan saat menatapnya.


“A-apa yang kau lakukan” ucap Jungkyung ketika memberanikan diri untuk bicara, ia perlu mencari tahu alasan kenapa dirinya di perlakukan seperti ini, mendengar wanita itu berani mengeluarkan pertanyaan membuat Airyn semakin jijik seolah darah membunuhnya mendidih dengan kental, ia berjongkok untuk menyamaratakan pandanganya dengan mata Jungkyung, menyelisik wajah takut yang mungkin hampir membuat wanita itu kehilangan kesadaran, hingga akirnya Airyn menyeringaikan sedikit senyum jahat, seolah manusia itu baru tahu diri setelah adanya bukti, namun Airyn terlalu muak pada gadis bodoh bernama Jungkyung.


Airyn menjambak rambut Jungkyung dengan kasar, hingga wanita itu mendongak kepala dengan kesakitan, cengkraman Nona Petrov yang begitu keras tentu sangat menyakitinya hingga Jungkyung merintih ketika rambutnya di tarik kebelakang.


“Di mana suamiku!!” bentak Airyn dengan gumaman kesal, seolah ia bicara penuh penekanan, sorot mata tajam yang begitu mengerikan itu terpancar tanpa mampu di tepiskan oleh Jungkyung sendiri “Jika saja terjadi sesuatu pada suamiku, aku jamin kau akan melihat kematian ayahmu dengan kedua matamu” sambungnya dengan ancaman penuh keyakinan, membuat air mata Jungkyung menetes seolah ia bisa membayangkaan hal itu benar-benar terjadi.


“A-apa yang kau..k-katakan. Aku tidak tahu menau tentang Direktur Hansell. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku” bantah wanita itu dengan gugup tak kepalang, bahkan ia benar-benar menangis seolah sangat ketakutan, jangankan Nona Petrov, pria yang baru saja menodongnya itu sangat menyeramkan dan bahkan mereka berdiri tegak mengelilingi Nona Petrov, membuat Jungkyung hampir gila karna merasa terintimidasi, mereka masih saja membidik kepalanya dengan pistol seolah tidak ada lelah di pergelangan tangan mereka untuk bertahan.


“Aku tidak punya waktu mendengar penyangkalanmu. Pilihanmu hanya satu, bicara yang sebenarnya atau kau akan melihat orang tuamu lenyap di hadapanmu. Meskipun ibumu hanyalah ibu tiri dia tetap menyayangimu seperti putrinya sendiri, bukan. Apa kau yakin akan membiarkan ayahmu dan ibu tirimu meninggal hanya karna ini” ancam Airyn dengan penekanan jelas, bahkan ia bicara dengan nada pelan namun terasa menyeramkan, membuat tubuh Jungkyung bergindik takut atas apa yang baru saja di lontarkan Airyn, namun Jungkyung hanya mampu mengeluarkaan air mata sebab sangat enggan untuk bicara, melihat mulut wanita yang ingin di bunuhnya itu tetap tertutup rapat, Airyn mengeluarkan tangnya, seolah anak buah Nona Petrov mengerti apa yang di inginkaan wanita itu.


Sebuah rekaman tentang ayah dan ibu tiri Jungkyung yang sudah ada di genggaman Airyn tertampilkan, tentu saja mereka di tempatkan di sebuah ruang rahasia yang tidak akan bisa di temukan oleh siapapun, bahkan sudah di pasang bom di tubuh mereka yang kapan saja akan meledak, Airyn tersenyum penuh kesenangan, ketika mata Jungkyung terbelalak secara sempurna melihat vidio yang di putar di depan matanya, ia berteriak penuh kutukan namun Airyn begitu bahagia melihat bagaimana ketakutanya wanita itu.


Airyn beranjak dari sana untuk berdiri di hadapan Jungkyung, sedangkan wanita yang bersimpuh di bawah kaki Airyn barusan, perlahan mengikuti mata Nona petrov yang saat ini melirik kearah meja yang ada dihadapan mereka, membaut mata Jungkyung menuntun untuk memberanikan diri mengikutinya, ada sebuah benda diatas sana, seolah seperti tombol yang di gunakan untuk sesuatu hal.


“Itu adalah alat kendali bom yang terpasang di tubuh orang tuamu, jika kau memancing emosiku. Kali ini juga aku bisa meledakan bom itu pada tubuh mereka, jadi bicara yang jelas. Dimana suamiku!!” ucap Airyn dengan penuh ancaman, membuat Jungkyung meraih kaki wanita itu untuk bersujud, ia memohon untuk melepaskan mereka, seolah Jungkyung melemahkan harga dirinya yang sebegitu dijaga dihadapan Airyn sebelumnya.


Bukankah sikap Jungkyung sangat keterlaluan dan egois, ia masih berani meminta ampunan setelah menyeret Hansell kedalam bahaya, membuat gelojak emosi yang susah payah di kendalikan Airyn mulai memanas, apakah ia masih tidak sadar akan posisinya, apakah ia berfikir Airyn memiliki hati sebagai manusia untuk mengampuninya, dengan kasar Airyn menendang tubuh wanita itu untuk menjauh dari tubuhnya, hingga Jungkyung terpantul ke dinding dengan sedikit sakit di bagian kepalanya, dengan cepat Airyn mencengkram rambut wanita itu


“Apa kau merasakan ketakutan jika kehilangan orang tua mu. Begitu juga dengan diriku. Jika kau tidak mau kehilangan apapun, maka jangan mencoba menganggu hidupku dan juga milik ku. Katakan dimana suamiku, jika tidak aku akan membunuh orang tua mu!” bentak Airyn dengan emosi yang meluap-luap.


Aura Jungkyung yang tadinya penuh ketakutan berubah menjadi suram, air mata yang tadinya membanjiri wajahnya sekarang terhenti, mata yang tidak berani menantang Airyn kali ini memperlihatkan pertentangan.


Membuat Airyn meredupkan mata yang berkobar-kobar melihat wanita itu, untuk mendengarkan hal apa yang saat ini dipersiapkanya untuk di sampaikan.


Tidak tahu diri!!


Itulah ungkapan yang cocok untuk wanita murahan yang tidak memiliki harga diri seperti Jungkyung yang tadinya berasal dari keluarga terpandang, darah Airyn mendidih tanpa mampu di kenadalikan, biasanya Airyn masih bisa tenang menaghadapi situasi apapun, bahkan ia bisa menyembunyikan emosi yang mengelegar di dalam tubuhnya, namun kali ini tingkah Jungkyung yang memberikan perlawanan benar-benar membuat Airyn hilang kedasaran hingga mencapai batas sabar, seolah tidak ada lagi kendali di dalam dirinya, membuat tubuhnya menghilangkan semua sikap tenang yang dimiliki.


Atas dasar apa wanita sialan itu memutuskan kepemilikan dirinya akan Hansell, jangankan untuk melakukan keadilan, berbagi sedikit suaminya saja Airyn tidak sudi. Dan sekarang dia berbicara mengenai keadilan diantara mereka, tidakah wanita itu perlu di beri pelajaran untuk merasakan neraka secepatnya.


Airyn meraih senjata yang digunakan anak buahnya, bahkan membuat mereka tidak percaya seorang Nona Petrov akan mengayunkan senjata itu, meskipun selama ini Nona Petrov tidak pernah bermain-main dengan senja api dengan para musuhnya tapi tetap saja ia sangat mahir mengunakanya, bahkan Nona Petrov memiliki kemampuan yang sangat cakap dalam hal itu, dan sekarang Nona Petrov sudah menarik pelatuk untuk dihadapkan ke kepala tawanan mereka.


“Kau bilang lebih baik Hansell mati agar menjadi keadilan diantara kita. Sayangnya kau salah besar tentang sesuatu!! Apapun yang ada di dalam tanganku tidak akan pernah aku berikan kepada orang lain, bahkan aku tidak akan memberikan keadilan diantara kita, untuk itulah Hansell tidak akan pernah mati untuk memenuhi keadilanmu” balas Airyn dengan sorot mata yang penuh buliran takut, bahkan matanya memerah ketika menatap penuh amarah, wajah Airyn yang tegas itu benar-benar membuat Jungkyung menatap lekat.


Dirinya terlalu puas dengan pembalasan seperti ini, bukankah selama ini Jungkyung ingin melihat wanita itu menderita dan juga ketakutan, dan sekarang ia mendapatkan keinginan itu, siapa yang menyangka jika cara membuat dirinya menderita adalah Hansell Hamillton.


Jika sedari Awal caranya semudah ini, kenapa Jungkyung tidak membunuh pria itu untuk memuaskan hasratnya agar melihat penderitaan Airyn.


Sayangnya keadaan tidak berpihak pada Jungkyung.


“Jangan berlagak di hadapanku. Caramu mengertak ini adalah cara lama yang sangat aku pahami permainanya, kau hanya sebagai kaki tangan penculikan itu, sedangkan suamiku sama sekali tidak ada di tanganmu. Apa kau tidak menyadari alasan orang itu memilihmu, itu semua karna kau hanya di jadikan kambing hitam atas kehilangan suamiku” sambung Airyn kepada Jungkyung, membuat wanita itu tersenyum sungging ketika menegadah kearah atas penuh pertentangan.


“Trus kenapa jika aku hanya sebagai kambing hitam? Tetap saja suamimu akan menghilang, bahkan dia sudah menjanjikan kematian pria itu. Pria bodoh yang mencintai wanita seperti dirimu” hina Jungkyung dengan kalimaat penuh kejengkelan.


“Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri! Kau adalah bukti kebodohaan yang nyata, mencintai suami orang lain hingga menjadi orang gila. Sayangnya kau terlalu malang telah berurusan dengan diriku, meskipun sampai detik ini aku tidak pernah membunuh siapapun dengan tanganku sendiri, tapi aku sering membunuh seseorang mengunakan perintah. Jadi ucapkan selamat tinggal pada ibu tirimu” sontak ucapan Airyn itu membuat anak buahnya mengerti.


Dengan segera mereka memisahkan antara ayah dan ibu tiri Jungkyung, bahkan sekarang terlihat jelas keberadaan mereka di layar TV besar yang ada di kamar itu, membuat tubuh Jungkyung menengang penuh ketakutan, berulang kali dirinya menolak ketika mengelengkan kepala, namun berulang kali juga ia melihat Nona Petrov tidak main-main dengan ucapanya.


“Tidak….tidakkk!!!! Ibu..” sontak teriakan Jungkyung terhenti dengan tusukan yang menancap di tubuh wanita itu, Airyn benar-benar tidak main-main dengan ucapanya, bahkan ia tidak ada belas kasihan kepada siapapun, apalagi orang yang berani mencelakai suaminya.


Airyn melepaskan senjata yang ia todongkan pada kepala Jungkyung, kali ini Airyn berubah fikiran. Ia akan menemukan Hansell dan membuktikan pada Jungkyung jika tidak ada keadialan diantara mereka terkait Hansell. Sebab pria itu hanyalah milik Airyn sendiri, dengan kematian ibu tirinya sudah menjadi pembuktian jika Airyn tidak pernah main-main dengan ucapanya, seharusnya dapat menyadarkan wanita bodoh itu akan statusnya sendiri.


“Nyawa ibumu, adalah kompensasi atas hilangnya suamiku, dan jika terjadi sesuatu padanya nanti, kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri tentang kematian ayahmu” ancam Airyn dengan tegas, bahkan ia bersungguh-sungguh dengan ucapanya, membaut Jungkyung tidak percaya jika wanita yang memiliki wujud manusia itu adalah jelmaan iblis dengan jiwa jahat yang mengerikan.


"Tentu saja setelah kematian mereka, kau juga akan merasakan Neraka yang sama. Namun untuk dirimu aku akan memberikan dua kali lipat neraka. Yaitu mati secara perlahan dengan penuh rasa sakit yang tidak kau bayangkan sebelumnya, hingga akirnya aku akan mengantarkan dirimu pada kematian dengan waktu yang panjang, bahkan saat kau merenggang nyawapun aku akan memberikan seratus kali lipat kesakitan, karna itulah kau harus tetap sehat dan hidup, sebab kau akan menjadi pelampiasan terakir jika nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan" Sambung Nona Petrov dengan tegas, membuat Jungkyung meneteskan Air mata meskipun tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya.


Wanita itu bahkan tidak mengedipkan mata melihat tragedi pembunuhan, bahkan wanita itu seperti terbiasa akan pemandangan seperti ini, membuat Jungkyung menyadari ia tidak bisa memprovokasi emosi wanita gila itu, tadinya ia menginginkan nyawa Hansell agar menjadi penderitaan bagi Airyn,tapi sekarang ia malah berubah fikiran, dan sangat berharap pria itu baik-baik saja, karna tidak ada jaminan atas nyawa ayahnya jika Hansell tidak kembali.


Apakah kali ini Jungkyung yang terkalahkan?


Jungkyung sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan Hansell sebenarnya, dan siapa yang mengirim pesan untuk melakukan hal ini, tentu saja ia hanya bertemu di terowongan bawah tanah yang sudah terbang kalai, suara pria itu sangat menyeramkan namun ia benar-benar terlihat meyakinkan.


Orang itu hanya mengatakan jika dirinya menginginkan Hansell untuk menjauh dari Airyn, sama halnya dengan yang jungkyung harapkan, meskipun dirinya sendiri tidak mengetahui siapa orang itu, namun orang misterius itu menjelaskan sedikit masalah yang begitu rumit diantara Hansell dan Airyn, bahkan karna orang asing itulah yang membuat Jungkyung menerima kenyataan, jika Airyn adalah Nona Petrov sehingga dirinya sendiri tidak bisa bereaksi apapun selain terdiam dengan seluruh ketakutan yang menjelma.


Namun dengan seluruh situasi konyol yang di hadapi Jungkyung, orang misterius itu memberikan penawaran untuk membuat Airyn menderita, yaitu memuluskan jalannya menculik Hansell, tentu saja Jungkyung menerima, sebab jika dirinya tidak menyerang, tentu saja Nona petrov akan menyerangnya duluan.


Tapi kenapa semua hal menjadi berantakan!!


“Tunggu…” teriakan Jungkyung yang mengelegar di dalam ruangan itu, menghentikan langkah Airyn, dirinya memalingkan sedikit wajah untuk melirik pada wanita itu “Bagaimana kau mengetahui jika aku yang menculik Hansell, bahkan tidak ada bukti apapun yang menjelaskan hal ini” ucap wanita itu ketika mengajukan pertanyaan pada Airyn, tentu hal ini membuatnya sangat penasaran.


“Jangan menganggap semua orang bodoh seperti dirimu, yang terlibat masalah namun tidak mengetahu bagaimana bahayanya hal itu. Aku telah menjalani hidup yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya, aku bahkan tidak perlu mencari bukti untuk menemukan sesuatu, tapi dengan mengenali musuhku, maka aku akan mempelajari langkahnya. Menurutmu kenapa ketika melihatku di pesta tadi wajahmu datar tanpa ada ekspresi seolah kau sudah mengetahui hal ini, padahal baru beberapa jam yang lalu kau sebegitu keras kepala menyangakalnya. Biar aku tebak! Itu semua karna seseorang telah menceritakan beberapa hal tentang diriku bukan, sayangnya kau tidak mengenali betapa berbahayanya orang itu. Dia seperti pisau tajam bermata dua, jadi hati-hatilah. Meksipun aku melindungi nyawamu, tapi jika kau telah berada ditanganku setelah menjadi kaki tanganya, apa kau fikir dirimu akan baik-baik saja? Kau bisa saja menyusul ibu tirumu tanpa terduga meskipun bukan karna diriku” sontak penjelasan Airyn membuat Jugkyung terpana, melihat tidak ada sangahan seolah penjelasanya bisa di megerti oleh wanita bodoh itu, Airyn beranjak pergi dari sana.


“Nona, kenapa anda membiarkannya hidup?” tanya anak buah Airyn ketika mengikuti langkah bosnya. Tentu ia memberanikan diri dengan sangat kuat untuk mengajukan pertanyaan.


“Karna nyawanya tidak berguna bagiku, sebab itulah beri pengawasan yang ketat padanya. Meskipun dia tidak mengetahui dimana Hansell berada, kita bisa melacak dari jejak-jejak yang di tinggalkanya. Aku yakin orang itu pasti akan meninggalkan sedikit jejaknya” ucap Airyn dengan yakin membuat semua orang mengerti maksud dari Nona Petrov.


"Sediakan kendaraan, aku akan mengunjungi Frada"