
“T-tidak mungkin!!” tubuh Merry menegang ketika menatap wajah yang tidak asing di kedua bola matanya, apakah ia bermimpi atau tengah berimajinasi, tidak mungkin wajah itu masih ada di dunia ini, bukankah pria itu sudah tiada 10 tahun silam, dan kali ini wajah itu menampakan dirinya di hadapan Merry secara terang-terangan, bahkan menagis saja rasanya tidak memungkinkan untuk Merry lakukan, jika bisa ia ingin tengelam tanpa harus sadarkan diri.
“S-s-siapa kau sebenarnya” ucap Merry ketika memberanikan diri untuk membuka mulutnya dengan garang, ia bahkan menyelisik dengan terang-terangan kepada pria yang tidak pernah di bayangkaan sebelumnya, bagaimana rasanya melihat seseorang yang sudah meninggal berdiri tegap di hadapan kita, tentu seperti melihat sosok hantu paling menakutkan sehingga darah saja berhenti mengalir di tubuhnya.
“Kenapa kau tidak melihatku dengan penuh cinta? Ada apa dengan tatapan menakutkan ini?” ucap Zates kehadapan Merry, bahkan saat dirinya melangkah mendekati Merry dengan segera wanita itu menarik tubuhnya untuk merengsek jauh, ia tidak bisa membiarkan orang itu menyentuhnya, siapa yang mengetahui apa tujuan orang itu, dan siapa yang mengetahui maksud orang itu, yang jelas pria yang ada di hadapanya kali ini bukanlah Louis Petrov. Tidak mungkin.
Seringai mengerikan tertampil kehadapan Merry, saat pandanganya terpaku melihat tubuh wanita yang bergindik takut di bawah kawasan matanya, bagaimana bisa wanita itu tetap saja cantik dan menawan setelah berumur cukup, bahkan Merry tetap saja memukau seperti dirinya di masa muda, hanya saja itu hanyalah sebuah masa lalu bukan, yang tidak ada hubunganya dengan sekarang.
“Siapa kau sebenarnya?” kali ini air matanya mengalir tanpaa terkira, rasa takut yang merayapi perlahan membaurkan Merry pada sebuah kenyataan yang tidak masuk akal, tadinya ia tengah di ruangan tahanan bersama Hansell, namun tiba-tiba saja seseroang menarik dirinya untuk berpisah dari menantunya itu, hingga Merry di lemparkan kesebuah kamar yang memiliki nuansa hitam dan coklat tua beserta warna lampu yang kekuningan, tentu saja ruangan itu sangat menyeramkan untuk di jadikan kamar bagi seseroang.
Bukankah penampilan kamar itu sama dengan jiwa penghuninya, jadi Merry dapat menyimpulkan jika jiwa orang itu sangatlah kelam tanpa ada belas kasihan dan ampun, seolah dirinya hanya menanamkan kekejaman yang nyata, tapi bagaimana bisa ia memiliki wajah yang begitu mirip dengan ayah putrinya, tidak mungkin jika pria asing itu adalah Louis Petrov.
“Nama ku Zates” ucapnya dengan nada rendah sembari menatap mata Merry dengan tatapan dalam, sembari memperkenalkan diri pada wanita itu, bahkan dia menarik tangan Merry yang terikat dengan kuat untuk dilepaskan, tentu saja memar merah yang berbekas di sana dapat menjadi pertanda jika itu terlalu kuat hingga sulit di lepaskan.
“Maafkan aku. Karna mengikat tanganmu seperti ini, aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukan ini Merry. Tapi tenang saja aku telah menyiapkan obat oles untuk memar merah yang merusak kulit indah mu” ucapnya dengan kalimat memanjakan, tentu sikapnya membuat Merry merinding, sudah jelas pria itu bukanlah Luois Petrov sebab tidak ada alasan bagi Luois bersikap manis pada Merry.
Ketika Zates meraih obat oles yang sudah di sediakanya untuk Merry, kali ini pria itu melangkah kearah wanita yang cukup di rindukanya, yang saat ini berada di sudut kamar dengan nuansa ketakutan, tentu mata pendendam dari Merry tidak bisa di padamkan, melihat dia bersikap seperti landak saja sudah membuat Zates terhibur, apalagi jika Merry melakukan pertentangan, membuat kerinduan itu terlepas setelah sekian lama.
Perlahan jemari Zates meraih pergelangan tangan Merry yang terluka sebab memar itu membekas, dengan segaja Merry menepis sikap pertolongan dari pria itu, membuat sebentuk tawa menghina yang di pampangkan secara menyeramkan.
“Aku berfikir tidak ada alasan untuk dirimu membangkan padaku, sebab nyawa mu ada di bawah perintahku Merry” ucapnya dengan penuh ancaman, tentu Merry menyadari hal itu, jika saat ini tidak ada sikap pembangkan yang boleh ia tampilkan, jika tidak hal itu akan mengundang pria asing itu melampiaskan kemarahan. Namun Merry bukan barang yang bisa di perlakuannya seperti ini, dari pada mengobati luka di tubuhnya, lebih baik pria itu menjelaskan siapa dirinya.
“Aku tidak ingin melawanmu. Aku tidak butuh sikap ramah untuk mengobati luka ini. Aku hanya butuh penjelasan, tentang siapa dirimu sebenarnya, dan apa maksud dari wajah ini” ucap Merry dengan bibir bergetar penuh rasa ketakutan yang mengerikan.
“Bukankah sudah aku jelaskan jika diriku Zates, yang sering kau sebut “Orang di balik surat kontrak” Aku bahkan sedikit lucu ketika mendengar hal itu, kenapa aku harus di sebut seperti itu. Jika tujuanku hanya untuk melindungi buah hati kita, Airyn” sontak penuturanya itu membuat mata Merry tercengang, bahkan ia tidak bisa berkata-kata selain menatap secara sempurna, apakah orang itu gila atau dirinya sakit jiwa yang melebihi batas, sehingga mengakui Airyn sebagai putrinya, meskipun ia memiliki wajah yang sama dengan Louis Petrov tetap saja bagi Merry mereka dua orang yang berbeda.
“Malang sekali dirimu Merry, terbodohi hanya karna cinta. Padahal kau adalah wanita pintar yang sangat aku kagumi, namun sampai detik ini saja kau masih terbodohi” ucapnya ketika menyelisik keraut wajah bingung di mimik wajah Merry, bahkan tanganya meraih rambut yang ada di pinggiran pipi Merry untuk menyelipkanya ke daun telinga “Apa kau masih belum menyadari kebodohanmu sendiri?” tanya pria itu dengan kalimat menghina, bahkan dia menatap Merry penuh nafsu mengiginkan sebab sudah lama ia menantikan hari ini.
“A-apa maksud mu sebenarnya? Apa yang tidak aku ketahui? Hal apa yang membodohi diriku?” tanya Merry tanpa basa basi, apakah orang itu melakukan teka-teki dengan dirinya, namun tetap saja Merry tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka.
“Kau fikir, kenapa semua orang terdekatmu meninggal, dan kenapa semua orang yang kau percayai menghkianati dirimu. Serta kenapa diantara semuanya hanya Iriana yang masih bernafas?” sontak ucapan itu membuat mata Merry membulat secara sempurna, seolah tidak bisa berkata-kata lagi, meskipun ia tidak mengerti maksud dari semua yang di ucapkanya tetap saja Merry dapat menebak, jika dirinya sudah di bodohi oleh semua orang termasuk Iriana yang paling siap untuk di lindunginya.
“Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu. Aku juga tidak mengerti kenapa kau mempertanyakan hal itu padaku. Yang jelas aku menyakini satu hal jika kau bukanlah Luois Petrov” balas Merry saat memberanikan diri untuk membantah, meksipun ia sadar protes yang di layangkan dirinya tidak mendasar setidaknya apa lagi yang bisa Merry ucapkan selain hal ini.
“Memang wanita yang pintar. Aku memang bukan Luois Petrov karna aku adalah Zates, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sebuah kesenangan, karna hanya dengan begini kau bisa memahami jawabanya, tanpa harus bersusah payah untuk aku buktikan. Apa kau mau mengetahui semua jawabanya Merry?” tanya pria itu ketika mengangkat dagu Merry untuk mendongak kearahnya, benar-benar wanita yang sulit diabaikan, sehingga Zates tidak sabaran lagi menjadi lebih dekat dengan Merry “Jika kau sudah siap mengetahui semuanya, kau hanya perlu menemani diriku di atas ranjaang, maka kau akan mengerti semuanya” sambung pria itu dengan sikap angkuh penuh percaya diri.
“Menjauh dari ku. Dasar b*jingan” seketika tangan Zates di tepis oleh Merry dengan kasar tentu dengan tatapan yang penuh akan kejijikan serta seribu pertentangan yang nyata, ia bahkan memperlihatkan bagaimana tidak sudi tubuh wanita itu tersentuh tangan oleh pria yang paling di bencinya selama bertahun-tahun, karna mengendalikan kehidupan Airyn, putrinya.
Zates baru menyadari sekarang, jika kebencian Merry telah terbentuk sehingga tidak akan mudah bagi dirinya bersikap baik pada Merry untuk meluluhkan wanita itu, bahkan ia melihat betapa rendahnya mata wanita itu mengarah pada dirinya, seolah melihat pada kotoran yang tidak bisa terselamatkan sekalipun “Apa yang membuat kau begitu angkuh di hadapanku! Sampai kau berani sekali menatap rendah diriku. Apa kau tidak sadar siapa yang selama ini menyelamatkan hidup mu dan Airyn, dan kau malah tidak tahu malu hingga berani bersikap lancang. Apa kau lupa, dengan perintah saja nyawamu bisa melayang di tanganku!”
Geretak Zates kehadapan Merry tanpa menahan sikap sedikitpun, bahkan saking geramnya ia mengertakan gigi dengan begitu kesal sembari menarik tangan Merry dengan kasar hingga wanita itu kesakitan.
“Jika orang lain di posisi ku, mungkin saja ia berfikir tengah bicara dengan orang gila yang entah berasal dari mana, seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Apa maksud dari sikapmu padaku, aku bahkan tidak bisa mngerti dasar kau mengendalikan kehidupan putriku, dan sekarang kau malah bicara seolah-oleh dia anakmu dan kau sendiri yang menyelamatkan kehidupan kami. Apa kau fikir aku gila bisa percaya itu, apa ada orang di dunia ini yang menghancurkan sebuah barang lalu memperbaikinya lagi. Sebenarnya apa tujuanmu untuk melakukan hal ini? dan apa maksud dari wajah ini!” bentak Merry dengan tidak terima, kali ini ia tidak akan takut lagi, meskipun tadinya Merry seperti orang yang kalah talak tanpa menyerang, hal ini akibat shock yang melanda, karna siapa yang bisa tenang ketika berhadapan dengan wajah seseorang yang sudah meninggal berpuluh tahun silam, begitulah yang Merry rasakan hingga ia merasa sangat takut, namun saat menyadari pria itu bukanlah Louis, membuat Merry kembali memberanikan diri seutuhnya.
“Bukankah aku sudah bilang padamu Merry!! Hingga detik ini kau masih saja bodoh, dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Orang yang kau selamatkan adalah orang-orang yang paling siap untuk mencelakai hidupmu, dan mereka yang bersikap baik padamu sepenuhnya hanya untuk mengendalikan dirimu, sedari awal kau hanya di gunakan sebagai bidak catur untuk mempermulus permainan Louis dalam mendapatkan hak di keluarga Farhaven. Dan aku sangat yakin kau mengetahui hal itu, namun akibat cinta bodoh yang kau terapkan padanya, membuat kau malah terbutakan dan berjuang demi kebahagian mereka, sebenarnya apa yang kau dapat dari semua ini?? Pengakuan? Tidak kan, bahkan Louis memperkenalkan dirimu sebatas orang kepercayaan dirinya, bukan ibu penganti dari keturunanya! Apa kau masih belum menyadari kebodohan itu” ucap Zates dengan penghinaan yang jelas. bahkan kata-kata yang ia ucapkan sangatlah tepat sehingga membuat Merry tertekan.
Benar, ucapan pria itu sangatlah benar, bahkan hampir semuanya benar. Tapi kenapa jika dirinya hanya digunakan sebagai bidak catur untuk keinginan Louis Petrov, mereka tetap saja memperlakukan Merry selayaknya manusia dan juga Louis Petrov tetap menyayangi putrinya sendiri, bahkan itu lebih dari cukup.
“Kau salah!!" Kali ini pria itu mencela seolah memahami isi fikiran Merry "Apa-pun yang kau anggap kebaikan itu semua hanyalah ilusi untuk membohongi dirimu sendiri. Apa kau berfikir ada wanita yang berlapang hati berbagi ranjang suaminya dengan dirimu secara suka rela? Apa kau fikir ada pria yang tidak memiliki keraguan setelah melakukan hubungan badan dengan seorang wanita!! Dan apa kau fikir ada wanita yang rela membiarkan wanita lain jatuh cinta pada suaminya. Jangan terlalu polos untuk membodohi dirimu sendiri Merry” sambung Zates dengan terus terang, membuat mata Merry membulat menatap pria itu, sembari menuntut kejelasan atas ucapanya.
“Kau! Siapa kau sebenarnya?” lirih Merry dengan penuh pertanyaan, bahkan ia tidak lagi ketakutan melainkan menuntut sebuah jawaban sesungguhnya dari pria itu.
Wajah Zates yang tadinya redup mulai damai seketika, ia mengulas senyum saat Merry mulai terpancing dengan ucapanya, benar-benar wanita polos yang sudah di manfaatkan bertahun-tahun lamanya, membuat Zates sangat kasihan hingga ingin memberikan sebuah jawaban yang setimpal.
“Sayang, bukankah sudah aku katakan. Hanya di atas ranjang itu kau menemukan jawaban” ucapnya sembari menuntun tubuh Merry untuk bangkit dari sana, tentu saja Merry mengikuti bagaimana pria itu merayu dirinya, dengan wajah yang sangat mirip dengan Louis tentu saja tidak ada alasan untuk Merry menolaknya, di tambah pria itu bersikap lembut penuh kehati-hatiaan hingga membuat Merry terhipnotis dengan rentan waktu yang cukup lama.
“Meskipun aku bicara panjang lebar, jika tidak ada bukti apa gunanya! Bukankah lebih baik kita melakukan suatu kesenagan untuk membangkitkan ingatanmu” ucap pria itu dengan sikap memesrai, bahkan dirinya tidak segan-segan menangkup pipi Merry untuk mengusapnya secara sayang, membuat Merry memalingkan wajah seolah sadar jika pria itu bukanlah Louis Petrov.
Lagi-lagi penolakan yang sama, membuat Zates ingin sekali mengoda Merry hingga wanita itu berjalan ke ranjangnya dengan suka rela, bagaimana tidak. Merry cukup pintar atas apa yang ia butuhkan, jadi tidak akan mugkin menolak jalan untuk mengetahui kebenaran, dan tentu saja kebenaran itu ada di atas ranjang yang nantinya di komandani oleh Zates untuk mendogengkan masa lalu kelam yang tidak di sadari oleh Merry.
“Apa kau tidak akan menyesal untuk putri tercintamu. Jika kau tidak mau, itu adalah keputusanmu, aku sudah memberikan kesempatan yang aku janjikan bukan, yaitu menunjukan diri dan memberikan penjelasan. Dan kau sendiri yang menolak, jadi aku bisa apa lagi jika kau tidak ingin bersepakat"
Setelah selesai dengan penuturan nya secara Jelas Zates mendapatkan reaksi diam dari Merry yang artinya sebuah penolakan "Jadi aku akan menganggap....”
“T-tunggu” seketika Merry memberanikan diri bersuara, tentu saja ia tidak punya pilihan jika ini menyangkut Airyn, dan juga Merry dapat menganalisis tidak ada kebohongan dari pria itu sekalipun ia mengerikan dan sangat tidak sopan. Tapi jika jawaban itu benar adanya saat Merry menaiki ranjang, akankah ini menjadi jalan keluar satu-satunya untuk di tempuh.
Langkah kaki yang tidak memiliki alas itu, bahkan ada lecet di pinggiran kulit Merry menuntun tubuhnya untuk mendekat, membuat Zates menyeringai penuh kemenagan ketika Merry membuat pilihan benar. Ternyata wanita itu sama pintarnya dengan apa yang Zates harapkan, jika di posisi ini bukanlah Merry melainkan wanita yang hanya mampu berteriak dan ketakutan mungkin mereka akan memilih lenyap tanpa harus mengikuti jalur protokol yang Zates mainkan.
Karna wanita itu Merry Lourent hingga tidak bisa di ragukan, ia sangat pintar dan cerdik atas apa yang di butuhkan, sehingga dapat menganalisis dengan benar untuk membuat tindakan yang tidak salah. Dan selamat menyelami kisah pilu yang sudah di lewati di masa lalu, Merry.
Meskipun sangat pahit, namun pada akirnya Zates akan membebaskan Merry dari sebuah tipu daya dan juga ilusi cinta segitiganya, dan kali ini Merry perlu berdamai dengan semuanya, termasuk masa lalunya.
****
Sedari Merry di tarik dengan paksa, tentu saja ada kecemasan yang melanda Hansell, bahkan ia tidak bisa tenang sebelum memastikan wanita itu baik-baik saja, meskipun Hansell terkesan bodoh dan tidak bisa melakukan apapun, sebenarnya ia cukup lihai untuk melepaskan diri dari mereka.
"Permisi..." ucap Hansell ketika memilih bersuara membuat dua pria yang tengah duduk di depanya itu memalingkah wajah penuh jengkel.
"Aku butuh kamar kecil" ucap Hansell dengan nada dingin penuh perintah, membuat mereka saling bertatapan untuk memperhitungkan langkah, Dorbin yang ada di sana menganggukan kepala pada rekannya untuk mengizinkan tahanan mereka mengunakan Toilet.
Seketika salah satu dari mereka menghampiri Hansell sembari menatap penuh ancaman sebelum membuka ikatan kaki pria itu " Apa kau tidak akan membuka ikatan tanganku" bantah Hansell dengan jengkel
"Apa kau fikir di posisi ini kau bisa bernegoisasi dengan kami. Mengizinkanmu keluar saja sudah nilai bagus untuk kebaikan mu"
Hansell berdecak kesal ketika melihat pria itu mengertak dirinya, tentu tatapan menghina Hansell dapat tertangkap oleh mereka.
"Jika kau tidak bersedia membuka ikatan tanganku, apa kau bersedia membuka celanaku. Kau paham sendiri jika tidak mungkin bagiku melakukanya dengan tangan terikat seperti ini" hina Hansell secara terang-terangan, meskipun ucapan itu memalukan tetap saja hal itu adalah fakta, siapa yang bisa melakukan sesuatu dengan tangan di borgol.
"Hei. Lepaskan saja, todong dia dengan pistol agar tidak lepas. Lagian tidak mudah keluar dari sini" putus Dorbin seketika, membuat Hansell menyeringai penuh kemenangan, ia mengalihkan pandagan pada pria yang saat ini di hadapanya tentu dengan tatapan mata penuh provokasi.
Dengan jengkel, pria itu melepaskan tangan Hansell sembari mengeluarkan pistol dari pingiran ikat pingang nya "Jangan pernah macam-macam" ancam pria itu ketika menuntun Hansell kearah luar.
Dengan sikap tengan, tentu Hansell mengerti apa yang harus dia lakukan, Dorbin yang memilih tinggal memandang penuh penghinaan pada pria itu, bukankah Tuan muda seperti itu tidak memiliki nyali, jadi untuk apa menakuti dirinya, bahkan menculik pria itu seperti menculik anak kecil, mulus tanpa ada perlawanan.
Baru saja Hansell lepas dari ruangan tempatnya di tahan, mata Hansell tertuju kearah ruangan yang ada di lorong panjang di hadapanya, Hansell yakin Merry di seret ke sana, sebab suara wanita itu menghilang tepat dari arah depan.
Melihat sikap diam dari Hansell, tentu pria yang menodong dirinya mendekatkan senjata ke kepala bagian belakang Hansell, dengan seringai tajam dan sikap meremehkan, Hansell membalikan tubuh tanpa terkira, seolah putarannya saja tidak bisa terbaca, sehingga mengambil alih senjata dari tangan pria yang mengancamnya.
Sayangnya Hansell tidak sebodoh yang mereka fikirkan, jika dirinya saja yang di culik, Hansell mungkin akan bisa keluar dari sarang mereka. Sayangnya juga ada Merry di sini, sehingga tidak mudah bagi Hansell meloskan diri hingga memilih mengikuti alur seperti pria lemah yang tidak mempunyai kekuatan.
"Apa kau kaget!! Sayangnya aku tidak sebodoh itu" hina Hansell dengan angkuh, sembari menarik tubuh pria itu, untuk menyerang bagian vital dan menjatuhkan dirinya dalah hitungan detik, kali ini Hansell mengambil alih kekuasaan sehingga tidak membuang waktu disana, sebab ia perlu mencari keberadaan Merry
Dorbin yang berada di ruangan sedikut gugup mendengar suara kekecauan dari arah luar, tentu dengan segera ia beranjak dari tempatnya untuk memastikan keadaan.
“Merry…apa kau baik-baik saja” teriak Hansell dari arah luar, ia sangat yakin Merry diseret ke sebuah pintu yang ada di tengaah lorong itu, karna saat Merry di seret pergi tadi Hansell sangat mengetahui suara teriakanya berakir di bagian sini.
Suara Hansell yang mengema dari arah luar tentu terjangkau oleh pendengaran Merry, hingga menghentikan langkahnya seketika, membuat wajah Zates mengelap penuh kekesalah, sebab menganggu jalanya percintaan mereka.
Bukankah anak buahnya itu cukup bodoh hingga mengurus pria itu saja mereka tidak bisa, denga segera Zates ingin beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu kamar.
“Jangan sentuh dia!! Jika kau peduli pada Airyn, bukankah melindungi nyawanya adalah langkah teraman. Sebab aku sendiri tidak bisa menebak langkah gadis itu jika ia sudah bertindak gila” ucap Merry saat memperingati, membuat Zates tersenyum licik melirik wanita itu
“Apa kau tengah peduli padaku. Tenang saja, aku tidak sebodoh itu untuk melukai suami Airyn”
Suara Hansell yang tadinya sangat dekat perlahan menjauh dari ruangan kamar mereka, tentu anak buah Zates sudah mengamankan Hansell dengan baik, meskipun mereka telah melakukan kesalahan hingga pria itu memberontak, tetap saja Zates tidak akan mungkin mengampuni kesalahan yang sudah terjadi.
Saat pintu kamar itu terbuka wajah Zates mengelap saat berhadapan langsung dengan Dorbin yang tengah ketakutan “Apa kalian bodoh!!! Menjaganya saja tidak bisa! Jangan sentuh pria itu, jika tidak! Aku tidak akan mengampuni nyawa mu. Jaga dia dengan baik dan tingkatkan pernahanan dirinya hingga sulit melepaskan diri” perintah Zates pada anak buahnya, membuat mereka mengerti hingga menjauh sesegera mungkin tanpa berani berbalik ataupun membantah.