
Tangan Angeline menyerat langah kakaknya untuk kembali lagi ke lantai atas, bahkan Angeline memutuskan kembali ke Negara ini untuk menyatukan kakaknya dan Airyn, tadinya ia sangat kecewa dengan sikap Merry dan juga Zates, tapi jika di pikirkan ini adalah pilihan terbaik dari kakaknya sendiri, nampaknya tak ada yang bisa Angeline kecewakan selain menerima keputusan pria bodoh itu, namun sekarang dia sudah baik-baik saja, tentu semuanya akan membaik seperti semula, Angel berharap kakaknya dan Airyn mendapatkan kebahagiaan merekam
Kedua langkah kaki itu terhenti tepat di ruangan bayi Hamillton, bahkan ada nama Airyn dan Hansell tertera disisi ranjang, membuat jantung Hansell berdebar bahagia atas dua makhluk kecil yang sangan mungil, kaki yang kecil, tangan yang kecil, mata, hidung, bibir dan segala hal yang serba kecil itu sungguh mengoyak jantungnya dengan rasa bahagia.
Kenapa melihat mereka Hansell tak bisa memalingkan pandangan, seolah kedua anak ajaib itu benar-benar menghipnotis matanya, benarkah mereka anak Hansell? Dan benarkah Hansell sudah menjadi seorang ayah.
“Lucu sekali” putus Angeline saat melihat keponakanya, bahkan ia menitikan air mata haru ketika menyaksikan dua manusia kecil yang hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Rasanya Angeline sudah bersyukur kakaknya masih baik-baik saja meskipun kehilangan memori tentang istrinya, namun kali ini di lengkapi oleh dua anak yang mengalir dengan darah hamillton di tubuhnya, tentu ini menjadi kebahagiaan yang tidak bisa ditandingi lagi.
“Angel….Hansell….” sapa Merry pada dua orang itu, bahkan mereka yang berdiri di depan kaca pembatas membuat Merry terpana.
Tentu saja Merry yang sudah menjadi nenek dari kedua anak kembarnya itu baru selesai mengunjugi kedua putra Hansell dan Airyn, mereka sangat sehat bahkan tidak ada yang pelu dicemaskan dari keduanya.
“Nyonya Nerry” sapa Angeline penuh sungkan, ketika mengigat terakir kali sikapnya pada wanita itu cukup keterlaluan, melihat kecangungan di wajah Angel tentu membuat Merry mengusap pundaknya, bagaimabapun Merry juga merasa bersalah atas kejadian di rumah sakit yang membuat mereka saling tersingung.
“Aku senang kau disini” sambutnya dengan hangat, bahkan membuat mereka saling tersenyum satu sama lainya, namun Hansell yang ada diantara dua wanita itu tidak mengalihkan pendanganya pada siapapun selain kedua anaknya yang terbarik di Box bayi.
“Terkait terakir kali itu, aku sungguh minta maaf karna terlalu emosional, aku sungguh-sungguh minta maaf Nyonya” terus Angeline kehadapan Merry, bahkan ia menundukan tubuh untuk bersikap hormat.
Membuat Merry tersenyum hangat seraya merasa bersalah pada Angel. “Aku juga merasa salah atas keta-kataku, maaf jika aku sudah mengucapkan hal yang tidak seharusnya diucapkan saat itu dan menyakiti perasaanmu Angel, sebagai orang dewasa akulah yang salah”
“Tidak nyonya, anda tidak perlu minta maaf, sayalah yang harus minta maaf, saya yang keterlaluan dan tidak memikirkan bagaimana tidak pantasnya saya bicara saat itu”
“baiklah-baiklah….astaga, gadis yang baik, aku akan menerima permintaan maafmu, tapi kau tidak boleh menolak permintaan maafku” puji Merrry dengan tertawa, bahkan ia memalingkan kepala kearah Hansell yang saa itu menatap kedua anaknya penuh cinta, menyaksikan hal itu membuat Merry dapat mengerti perasaanya, pasti sangat aneh melihat kehadiran darah dagingnya namun ia tidak bisa mengigat apapun tentang mereka, mengamati tatapan mata itu nampaknya hati dan logiknya tengah bertolak belakang, seolah ingin mempercayai kenyataan namun terbelengu oleh ingatan, jika begini nampaknya Hansell jugalah korban atas malangnya kehidupan.
“Hansell, apa kau mau melihat anakmu dari dekat?” tawar Merry pada ayah dari kedua anak kembar itu.
“Apakah aku boleh?”
Seorang perawat bertanya siapakan pria itu, membuat Hansell menukas untuk menjelaskan jika dirinya adalah ayah dari kedua anak kembar tersebut, mendengar jawaban dari menantunya itu, ada sebuah harapan besar yang Merry panjatkan, meskipun segala masalah yang sedang mereka hadapi ini terlihat seperti kerikil kecil, semoga mereka mampu melintasinya untuk mencapai kebahagiaan.
Melihat sorot mata teduh penuh kasih sayang dari Hansell membuat Merry tidak menyesali apapun, bersama dengan anak ini ia bisa menitipkan Airyn tanpa cemas, bahkan Hansell yang bertangung jawab dan melindungi putrinya benar-benar membuat Merry ingin terus memanjatkan doa untuk keselamatan mereka.
Hansell mengambil salah satu anak yang ada di hadapanya, tanganya yang tadi sempat bergetar kali ini memberikan kekuatan penuh untuk mengendong mereka, menyentuh tubuh kecil yang muat di telapak tanganya memang seperti keindahan yang tidak bisa tergantikan, anak ini adalah putranya? Sungguh Hansell masih belum percaya, namun entah kenapa air matanya menetes tanpa ia fikirkan, bahkan Angeline yang melihat pemandangan itu dari kaca pembatas yang transparan sama bahagianya dengan Hansell.
“Kakak, kau melakukanya dengan baik, berbahagialah kak” puji Angeline ketika menepis air mata yang terus keluar dari sana, bakan telapak tanganya tak ia lepaskan dari dinding kaca itu.
Hansell sungguh bahagia, rasanya ia sangat senang ada dua manusia yang begitu mampu memenuhi rongga dadanya, pria itu mencoba memberikan sentuhaan terlembut seraya menjatuhkan ciuman padanya, sungguh Hansell tidak menyangka reaksi tubuhnya berbeda dengan apa yang terus ia sangkal.
“Jimmy…..” lirih Hansell ketika mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya, bahkan ia tanpa sadar memberikan sebuah nama untuk anak laki-laki yang sedang mengunakan warna biru dikain yang membedung dirinya.
Nama Jimmy dalam bahasa Ibrani artinya supplanter, hal ini melambangkan ambisi yang membaja, Hansell berharap anaknya adalah sosok yang tidak akan ada hentinya untuk berupaya atas apa yang dia inginkan, selain itu Hansell berharap dengan nama Jimmy ini ia mencari pendamping yang bisa sepandan secara intelektual dan juga lebih pintar, sebab Hansell ingin anaknya merasa di terima oleh seseorang terlepas dari apa yang akan ia sandang nantinya.
Hingga tangan itu ia ayunkan kearah bawah, untuk mengentarkan Jimmy pada ranjang tidurnya, tentu Jimmy adalah anak pertama dan kakak untuk adiknya, hingga tatapan hangat itu Hansell jatuhkan pada seorang anak laki-laki yang mengunakan warna pastel di bendungan kainya, membuat Hansell mengambil alih seorang laki-laki kecil yang seperti menanti giliran untuk ia peluk.
“Clouis” sapa Hansell dengan hangat, ketika mata anak itu seperti mengerjap dengan lidah mungil yang ia keluarkan dari bibir kecilnya, seolah seorang manusia kecil yang mengajak Hansell untuk bicara namun hanya mengunakan gestur tubuh saja, sungguh Hansell sangat bahagia, untuk beberapa saat ia menangis haru memandnagi mereka.
Hansell berharap Clouis akan menjadi anak yang lembut hati dan murah hati, ia berjiwa manis seperti namanya bahkan nama Clouis ini dilambangkan sebagai orang yang trampil, ulet dan kompeten, secara alamian ia adalah pembicaraan yang baik dan sangat hangat, karna di bandingkan dengan Jimmy bocah ini lebih antusias sekali ketika Hansell peluk, untuk itulah Hansell berharap sikap dan karakternya bisa mengisi kepribadiaan kakaknya dengan sempurna.
Sampai akirnya, pria itu meletakan keduanya di ranjang tidur mereka, sambil memandangnya untuk mengajam bicara.
“Apakah kalian adalah buah hatiku dan ibumu?” tanya Hansell pada putranya, membuat kedua lelaki kecil itu menjulurkan lidah kecilnya sembari mengeliat pelan saat Hansell lepaskan, sungguh tangisan haru lengkap dengan kebahagiaan tidak bisa ia hentikan, bahkan ia begitu ingin memeluk satu manusia lagi, yaitu wanita yang melahirkan anak ini, tapi Hansell sadar keadaanya saat menatap Hansell seperti luka yang sedang ia rasakan.
"Aku pasti akan mengigat ibumu" batin Hansell dengan penuh ambisi, nampaknya ia harus menemukan ingatan itu secapatnya, karna Hansell tidak akan bisa menyakiti Airyn terlalu lama.