Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Kebahagian Somi



Beberapa waktu berlalu akirnya Iriana mampu bahagia, ia bisa lagi memasak untuk putri tercintanya, dan juga Iriana bisa bersama Somi dari bangun pagi hingga terlelap lagi. Somi tentu saja bahagia, untuk beberapa waktu kedepan dirinya memilih menghabiskan waktu dirumah guna mengkompensasi waktu kesibukan di dunia pekerjaan menjadi waktu berharga bersama ibunya, selama ini harta memang kebutuhan, namun itu semua tidak bisa membahagiakan, dengan banyak nya pundi-pundi yang didapat membuat Somi kehilangan banyak waktu bersama ibunya, sekarang Somi hanya sibuk memasak, menonton televisi, dan berkebun di lahan kosong yang ada di belakang rumah mereka.


“Bukan seperti itu cara nya” sanggah Iriana ketika Somi mengali lobang untuk menanam bawang, dirinya menutup lobang yang digali putrinya itu guna membuat gundukan-gundukan laly menancapkan bibit bawang ketanah, Somi hanya tertawa dengan terkekehan sebab ini seperti mainan anak-anak yang bisa dilakukan bersama ibunya


“Begini bukan” unjuk Somi memperlihatkan kebolehan nya


“Ya benar, sedikit lagi tancapkan” tutur iriana sambil membantu tangan anak nya


“Aku sudah melakukan nya seperti itu” rengek Somi saat apapun yang dikerjakan selalu saja salah


dimata Iriana


“Aku akan membetulkan kesalahan mu, meskipun ini tidak apa-apa bagi mu, namun bagi ibu jika cara mu salah, tetap ibu salahkan Somi, jadi mengerti lah. jangan pernah menyepelekan hal keci, sebab saat kamu mengabaikan nya lama-lama hal itu akan bisa melebar atau membesar, apa kau mengerti! ” tutur Iriana dengan nada tegas, membuat Somi tertegun mendengar ucapan ibunya


“Ibuuuuu” lirih Somi, sambil memeluk malaikat tanpa sayap di hidupnya itu


“Lepaskan ibu, apa aku tidak bau nak, keringat ku banyak sekali”balas Iriana dengan nada lembut, membuat Somi semakin mengeratkan pelukan ke tubuh wanita paruh baya itu


Mereka berudua begitu semangat dalam menanam sayur-mayur, bahkan Iriana sangat bahagia bisa menikmati hidup seperti ini, sedari dulu dia sangat ingin sederhana, sebenar nya Iriana terlahir dari keluarga yang kurang mampu dari perdesaan, ia sangat familiar dengan cara hidup seperti ini, meskipun selama ini dia terpaksa hidup bukan dengan ke inginanya, namun Iriana tak pernah menyesali itu.


Setelah selesai dengan semua hal disana, pasangan ibu dan anak itu membersikah diri dikamar masing-masing, Iriana mengunakan pakaian di dalam kamar minimalis itu, entah kenapa jantung nya terasa berdenyut, bahkan ada rasa pusing yang mendera kepala Iriana hingga terasa berat, membuat ia meletakan tangan di meja rias guna menopang tubuh menahan rasa pusing, secara perlahan wanita itu memejamkan mata dengan sedikit mendesis kesakitan


“Aku tidak boleh seperti ini, bagaimana pun aku tidak boleh menyusahkan anak ku” tegas Iriana kepada diri nya sendiri, wanita itu menganti kesakitan dengan sebuah senyuman, dia menepikan semua rasa sakit yang terasa, wanita itu kembali melanjutkan aktivitas nya guna berpura-pura menjadi baii-baik saja.


“Ibu” panggil Somi dari arah luar, bahkan ketokan pintu tersebut terdengar beruntun, membuat Iriana mengumpulkan tenaga untuk bangkit, dirinya mempoles bibir dengan lipstik, untuk saat ini Iriana tidak boleh terlihat lemah dihadapan anaknya


“Ibu kenapa lama sekali, apa ibu sakit?” tanya Somi saat mengamati wajah ibunya “kenapa ibu mengunakan lipstik, aneh sekali” gumam nya seraya memperhatikan wajah Iriana


“Ibu sedikit berdandan” kekeh Iriana di sertai gelak tawa riang, membuat Somi menajamkan mata ke arah wanita tersebut


sebab ia tak ingin ibu nya menutupi sesuatu


“Apa ibu menyembunyikan sesuatu dari ku? tidak biasa nya ibu memoles wajah” tutur gadis muda itu dengan sorot mata dingin


“Apa aku tidak boleh cantik? Apa dirimu saja yang boleh cantik dirimuah ini sayang? Hei. Begaimana mana bisa anak ku egois” ledek Iriana membalas perkataan Somi dengan tersenyum, membuat anak nya menetralkan raut wajah cemas akan tutur kata ibu nya


itu


“Ibu, kemarilah. Kita makan siang dulu, Somi sudah memanaskan makanan” ajak gadis tersebut sambil mengandengan tangan ibu nya, seketika mereka berdua mendudukan diri di meja makan yang sangat kecil, Somi mengambilkan makanan ke piring Iriana dengan senyuman, seketika Iriana mengucapkan terimakasih kepada anak nya.


Mereka berdua menyantap makanan dengan nikmat, sesekali Somi menceritakan beberapa masalah yang menganjal kepada ibunya, bahkan saking asik nya gadis itu bercerita hingga lupa menyuap makanan yang ada dipiring nya


“Makan dulu, nanti lanjutkan lagi pembahasan mu” tutur Iriana saat membujuk putri nya yang cerewet itu untuk makan


“Baiklah” balas Somi dengan wajah memelas, sebab ibu nya memotong pembicaraan mereka disaat Somi tengah semangat untuk bercerita


“Somi apa ibu boleh bertanya?” cela Iriana ketika Somi menyendok makanan ke mulut


“Bagaimana bisa kau keluar dari agensi nak, bahkan media tak henti-henti nya memberitakan mu yang tidak-tidak, hingga begitu banyak ujaran kebencian yang membuat ibu semakin tidak terima” tutur Iriana kepada anaknya, sebab selama ini Iriana menahan diri untuk tidak menanyakan apapun, sebab dia mencoba untuk memahami anaknya, lantaran sangat tidak mungkin Iriana menanyakan Somi di saat yang tidak tepat, bisa saja hal ini mengoncang mental anaknya, dan sekarang Iriana sudah merasa Somi telah baik-baik saja, membuat diri nya dengan berani mengajukan pertanyaan kepada gadis itu


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Somi menghentikan aktifitas makan, ia meyilangkan kedua perangkat makan guna menyudahi hingga disana, Somi menatap lekat ke arah ibu nya, dia berusaha menyusun kata agar kalimat nya tidak salah di megerri wanita tersebut


“Maafkan Somi bu, mereka pantas melakukan itu, sebab Somi memang bersalah” tutur gadis tersebut sembari menekuk wajah di hadapan Iriana, meskipun Somi sudah menyiapkan mental menjelaskan hal ini kepada ibunya, namun saat menjalani ini sagat sulit bagi Somi


“Sayang, semua manusia melakukan kesalahan, namun yang jadi masalahnya itu bukanlah penyesalan, melainkan bagaimana cara kamu memperbaiki kesalahan itu. Apapun yang kamu lakukan entah itu benar atau salah disetiap pandangan orang akan sangat berbeda, mereka akan menilai mu buruk jika tidak mengenal siapa dirimu, tapi ibu, ibu mengenal kamu Somi. Apapun yang kamu lakukan ibu tidak akan menyalahkan itu, hanya saja kamu harus memperbaiki nya, jangan menyakiti orang jika kita tidak mau tersakiti. Apa kamu mengerti nak” tutur Iriana dengan nada tenang ke arah Somi, bahkan tanpa sadar air mata gadis itu menetes begitu saja, sebab setiap kata yang di ucapkan ibu nya seperti sebuah makna kesadaran yang dibutuhkan Somi saat ini, tak jarang apapun yang keluar dari mulut wanita itu selalu menjadi obat atas luka yang dirasakanya


“Maafkan Somi ibu” sekali lagi ia memeluk Iriana sambil bersimpuh di kaki ibunya, bahkan Somi meletakan kepala dipaha Iriana, dengan cepat iriana menyanbut anak nya dengan usapan menenangkan penuh sayang, agar Somi tidak merasa tertekan untuk bercerita


“Tidak apa-apa sayang” tutur Iriana dengan nada lembut senada dengan usapan jemari tangan nya


“I.. .ibu” lirih Somi dengan nada gemetar, membuat Iriana menjawab dengan deheman "Somi yang salah! Seharus nya Somi tidak melewati batas, seharus nya Somi tidak merendahkan orang lain, dah seharusnya sebagai publik figure Somi tidak melakukan itu” jelas gadis itu dengan terisak, membuat Iriana mengusap kepala anaknya dengan ritme senada


“Apa yang kamu lakukan Somi?” tanya Iriana ke pada anak nya, bahkan mendengar tangisan Somi membuat Iriana tak kuasa menahan kecutan di ulu hati.


Somi menceritakan seluruh kejadaian dari hal buruk yang dilakukan nya kepada Nona Petrov, hingga bagaimana Somi ingin mempermalukan orang lain didepan umum, membuat Iriana mengerti hingga titik ini, bahwa anaknya melakukan itu bukan tanpa sebab melainkan mencintai pria yang tidak pernah melihat ke arahnya, Iriana mengerti bagaimana kagum nya Somi kepada Hansell, namun pria itu tidak pernah membalas perasaan anaknya, meskipun begitu Iriana tidak pernah memaksa Hansell menyukai Somi, sebab Iriana hanya ingin Somi bersama dengan pria yang mencintai dirinya, dan juga pria yang dicintai nya. Sebab Iriana merasakan kegagalan untuk kedua kali nya jika kita mencintai sebelah pihak


“Apa sekarang kamu bisa mengerti sayang?” tanya Iriana membalas penjelasan putri nya


“Iya bu…Somi paham, selama ini Somi terlalu mencintai Kak Hans, hingga Somi lupa mencintai diri sendiri, Somi sadar betapa egois nya Somi menginginkan dia, disaat diri nya mencintai yang lain, bahkan semakin dikejar Kak Hans semakin membenci dan menjauh dari Somi, semua itu karna paksaan yang terus Somi lakukan padanya” tutur gadis tersebut dengan air mata yang deras berderai, bahkan dirinya tak kuasa mengangkat kepala dari paha Iriana


“Somi, apapun yang terjadi jangan menyalahkan dirimu sendiri, ibu sangat bahagia kamu bisa sadar akan kesalahan mu, tapi ibu tidak senang jika hal itu kamu menarik diri, terkadang kita perlu menghadapi masa buruk agar mampu memperbaiki diri, kita perlu menjalani semua hal itu agar semua kepahitan segera berlalu, tak peduli sesalah apapun kamu Nak, kamu memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri, jangan mengurung diri hanya karna ujaran kebencian yang diberikan banyak orang, seiring waktu semua hal akan berlalu, mereka akan melupakan itu, meskipun kadang bagi kita itu sangat membekas, tapi seperti apapun bekas luka mu jadikan itu patokan agar dimasa depan kamu tidak mengulangi nya lagi, ibu bangga mempunyai anak kuat seperti Somi, setidaknya hingga detik ini kamu masih bersama ibu sayang, menyaksikan kamu bertahan hingga detik ini saja adalah anugrah tersebesar yang ibu miliki, sebab jika ibu yang berada diposisi mu, belum tentu ibu mampu bertahan di atas ujaran kebencian yang selalu dikirimkan tanpa henti” tutur Iriana dengan air mata berderai, membuat Somi menangis sejadi-jadi nya sembari memeluk ibunya, Somi menyesal pernah melakukan bunuh diri, dia menyesal pernah melakukan itu, bahkan hingga detik ini Somi merasakan kebodohan hanya perkara Hansell, hingga dia lupa mencintai diri nya dan orang disekitar nya.


Gadis itu telah mendapatkan tamparan terdahsyat dari kehidupan, membuat Somi tak akan ingin lagi melakukan kesalahan yang sama, apapun yang terjadi dimasa depan diri nya akan berubah dan tak menjadi Somi yang dulu, seketika keadaan sedikit damai disana dua wanita itu saling menguatkan.


“Siapa wanita yang kau permalukan itu?” tanya Iriana dengan penasaran, sebab sedari tadi anak nya tidak menyebutkan nama wanita tersebut, mendengar pertanyaan dari itu ada sedikit keberatan dalam menyebutkan nama Nona Petrov, namun bagi Somi bukan apa-apa jika hanya mengatakan sekali


“Dia wanita yang memiliki kekuasaan tertinggi dari yang di bayangkan, Somi ternyata telah salah bermain-main dengan nya, nama nya Airyn” tutur Somi saat menegadah melihat Iriana


“Airyn” ucap Iriana sembari mengulang kalimat anak nya


“Apa ibu mengenal nya?” tanya Somi saat menyaksikan raut wajah Iriana yang sangat binggung


“Nama Airyn banyak sekali sayang, tentu ibu tidak mengenali Airyn yang mana” balas Iriana sembari mengusap pipi anak nya


“Ohh iya, aku lupa, hmmm…oh iya bu, ayah menyebut nya dengan nama Nona Petrov” ceteletuk Somi seketika kearah ibu nya, membuat jemari Iriana terhenti, bahkan raut wajah nya berubah dengan penuh kaget, menyaksikan perubahan drastis dari wajah ibu nya membuat Somi semakin Penasaran


“Apa ibu mengenal nya?” tanya Somi sekali lagi, sebab kali ini wajah ibu nya di luar dugaan


“Ahh…tidak nak” tutur Iriana dengan gugup, dia tak mampu mengendalikan diri saat mendegar embel-embel keluarga itu, seakan hal itu mengingatkan Iriana akan masa lalu, tentu akan dosa itu, Iriana mencoba mengendalikan diri membuat ia berfikir hanya sebuah kebetulan, sebab tidak mungkin anak nya terlibat dengan nama dari keluarga Petrov


“Bagaimana bisa semua ini kebetulan, semoga saja tidak seperti yang aku fikirkan” gumam Iriana didalam diam nya, sebab ia tidak akan siap jika Somi akan berhubungan dengan Petrov yang dia maksud “Bagaimana ini, semoga bukan keluarga itu” gumam Iriana didalam gundah, membuat Somi melirik panjang ke arah ibu nya itu.