
Merry berada di dapur besar yang ada di panti tersebut, sebab Zates tengah membantu Tuan Syam untuk memperbaiki papan kasur yang ada di kamar anak-anak, lantaran mereka bermain hingga papan itu patah di bagian bawah, untung saja tidak terjadi apa-apa dan membuat seorang anak berusia 5 tahun menangis karna bersalah, bahkan Merry sempat terpesona ketika melihat sikap Zates yang mencoba mendiamkan, memang tidak terlihat jarak diantara semua yang ada disini, apalagi kedekatan semua orang terhadap Zates, mereka seperti keluarga yang tidak memiliki kecemburuan atau sikap tindas menindas diantara keluarga.
Apakah ada panti yang damai seperti ini, meskipun begitu Merry juga mengingat jelas di masa lalu sumbangan sosial yang di berikan oleh perusahaan memasukan panti asuhan Bu Lani ini ke dalam daftar pertama, jadi tidak heran jika selama ini panti ini memang sudah ada dan Merry yang tidak menyadarinya.
“Nona Merry apa di rumah anda suka memasak?” tanya seorang koki panti itu kehadapan Merry, sebab melihat kemampuan mengupas berbagai sayuran dan bawang-bawangan membuat mereka terpesona dengan sikap lincah dan lihai Merry ketika mengunakan pisau.
“Sedit Nona Lin, aku hanya suka membuat bubur jika Airyn tengah sakit. Jika untuk makanan sehari-hari biasa Airyn selalu memasak makanan untuk dirinya sendiri. Beruntung gadis itu sangat suka dengan masakanan apalagi mengolah makanan”
Ucapnya ketik mengingat tentang Airyn membuat Bibi Lani tersenyum akan penjelasan Merry, seperti seorang ibu yang begitu bangga mencerita tentang putrinya pada orang lain.
“Sepertinya kemampuan Airyn menurun dari Merry” tukas beliau sembari mencuci sayuran untuk di tumis ke pengorengan yang sudah memiliki beberapa bumbu dan bawang-bawangan disana, membuat Merry mengelengkan kepada dengan tersipu malu, entah kenapa hatinya sangat berbunga-bunga saat menceritakan akan Airyn.
Pengurus dapur yang tadinya sibuk memeriksa beberapa penyedap kali ini mengekerutkan kening saat persediaan mulai tandas, bahkan ia tidak menyangka bisa melupakan bahan penyedap kedalam daftar belanjaanya, membuat wanita itu sedikit bersalah memandang kearah Bibi Lani yang sangat sibuk dengan kegiatanya, tentu di bantu oleh Merry di samping beliau.
“Buk, sepertinya Alyn melupakan bumbu makanan, apakah boleh Alyn meninggalkan masakan ini sebenatar, janji tidak akan lama bu” pamit wanita itu dengan rasa bersalah membuat Bibi Lani menghela nafas ketika mematikan sumber api yang tengah menyala.
"Yasudah pergilah, hati-hati di jalan” ucap Bi Lani dengan penuh pengertian, membuat Merry tersenyum melihat interaksi diantara mereka berdua, tentu saja Merry cukup nyaman berada di panti ini sebab mereka memperlakukan dirinya seperti keluarga dekat, dan bahkan semua orang mengenal Merry secara tiba-tiba, sehingga menjadi kesan yang tidak membuat cangung saat berinteraksi.
Melihat Merry sibuk dengan olahan yang di buatnya, Bibi Lani mendudukan diri sembari mengambil beberapa adonan untuk di cetak, tentu saja dua wanita itu menebar senyum ketika saling membantu dalam membuat makanan, bahkan Lani cukup kagum jika wanita seperti Merry yang sering di banggakan oleh Laos saat kepanti memang sesuai gambaran yang di jelaskan, anggun, cantik, pengertian, dan juga pintar bahkan beberapa jam saja sudah membuat Lani menyukai Merry hingga tidak ada keraguan sedikitpun.
“Merry apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan pada Bibi?” lirih wanita parubaya itu ketika menekan dadanya akibat batuk yang melanda, sebab sangat wajar di faktor usia yang sudah menua kesehatanpun mulai menurun, namun semangat beliau untuk menjalani rutinitas patut di dihargai.
“Bibi apa bibi baik-baik saja?” tanya Merry dengan raut wajah cemas, membuat wanita parubaya itu mengelengkan kepala seraya menebar senyum kehadapan Merry, tentu ada sikap lega yang Merry tampilkan meskipun tidak sepenuhnya, ia memandang kearah Bibi Lani dengan tatapan sendu penuh pengertian “Bibi, apakah benar tuan Louis dan Zates itu bersaudara, tidak..tidak..Laos” ucapnya saat mengajukan pertanyaan pada lani, membuat wanita tua itu memberikan senyum hangat sembari menyelesaikan adonan yang ia cetak.
“Benar. Mereka berdua adalah anak pertama yang menentukan jalan hidupku, jika bukan karna Louis dan Zates mungkin panti asuhan ini tidak akan berdiri. Bahkan aku sangat berterimakasih pada Zates atas apa yang sudah ia berikan. Aku tidak ingin membohongi dirimu Merry, namun aku perlu mengatakan suatu kebenaran yang mungkin tidak kau ketahui tentang Louis" kali ini tatapan keduanya saling beradu pandang, seolah Merry tengah di gantung oleh penjelasan dari beliau.
"Sebenarnya Louis sangat berbeda dengan kakaknya Zates, dia memiliki temperamen yang cukup sensitif di bandingan Zates yang dewasa, mungkin bagi orang-orang membedakan kedua pria itu sangatlah sulit, namun entah kenapa aku sangat mudah membedakan kedua anak itu, hanya degan ikatan batin saat menatap kedua mata mereka, meskipun mereka bukan putra kandungku, tetap saja aku sudah bersama mereka sedari kecil, jadi sangat paham bagaimana karakter Zates juga Louis” Bibi Lani berdiri dari sana, sembari memasukan beberapa adonan yang sudah tercetak ke oven yang telah di panaskan, wanita itu mengukur suhu dan juga waktu untuk pemangangan, sebelum membuka sarung tangan yang ia gunakan.
“Dulu, aku hampir diambang kebangkrutan, karna di pecat di sebuah perusahaan tempatku bekerja, aku tidak memiliki uang untuk menghidupkan mereka lagi sehingga untuk makanpun kami sangat kesusahan, saat itu mereka berusia 5 tahun, membuat aku sangat sedih menempatkan dua anak tak bersalah di situasi seperti itu. Jika di fikir-fikir lebih baik menempatkan mereka di panti asuhan sebab ada donatur dan sponsor, setidaknya untuk makan dan kesehatan serta pendidikan keduanya akan terjamin, namun aku tidak menginginkan dua anak yang aku besarkan itu pergi. Hingga suatu hari aku bertemu dengan teman lama yang dimana mereka membutuhkan seorang anak untuk diangkat, dia berkunjung ke rumahku untuk menjenguk, saat itu mereka melihat Zates yang sangat dewasa dan sangat pintar, bahkan mata mereka tidak bisa di pisahkan dari laki-laki kecil yang bijaksana itu, hingga aku merasa sangat senang ketika mereka menyukai Zates, mereka bahkan membawa dirinya berjalan-jalan ke perkotaan dan juga membelikan baju baru untuknya, lain dari itu mereka diam-diam menguji kemampuan zates yang berumur 5 tahun, siapa yang menyangka anak itu sangat pintar dan juga jenis di usianya, hingga mereka sangat tertarik. Namun di sisi lain, Louis yang sangat sayang pada kakaknya malah merasa di tingalkan, ia menganggap Zates tidak peduli padanya dan mulai terjadi perdebatan diantara mereka. Padahal saat itu jika keluarga itu mengangkat dirinya, tentu Zates juga ingin Louis bersamanya. Tapi perasaan sensitif seorang anak pada saat itu, membuat keluarga Gualin tidak menyukai Louis dan mereka memaksa membawa Zates pergi, di tambah keadaan ekonomiku yang memburuk”
Ting…
“Bibi, biar Merry saja” ucap Merry saat mengambil alih, tentu wanita itu sangat cekatan mengeluarkan kue dari loyang oven yang panas, untuk menatanya kedalam wadah yang sudah di sediakan.
“Jadi apakah Zates pergi meninggalkan Tuan Louis bi?” putus Merry sebab ia sangat penasaran dengan kelanjutanya, Lani yang teralihkan oleh pertanyaan itu mengelengkan kepala seraya menghela nafas panjang.
“Pada saat itu terjadi kesalahan yang sulit di perbaiki hingga sekarang, dan pada saat itu semuanya semakin menjadi kebohongan yang terus menerus di tutupi dengan kebohongan” ucap Bi Lani dengan penuh penyesalan, membuat mata Merry menatap wanita itu seolah ingin tahu sekali atas apa yang terjadi sebenarnya.
“Laos...tidak, Zates Malah membuat kebohongan bersama Louis, mereka bertukar peran dan mengirim Louis untuk menempatkan posisi Zates sebagai anak angkat di keluarga Gualin. Meskipun mereka kembar identik hingga sulit di kenali, tetap saja banyak perbedaan diantara kedua anak kembar itu, Louis tidak memiliki kemampuan sehebat Zates yang sangat jenius, hingga di rumah itu Louis malah di kucilkan oleh keluarga angkatnya dan merasa tidak dianggap, namun setiap ia kembali ke rumah dan bercerita dengan kakaknya Zates, Louis selalu berbohong dan juga menceritakan semua hal baik, tentu saja Laos yang kau panggil Zates itu mempercayai apapun yang dikatakan oleh adiknya dan ia turut senang akan hal itu. Tapi kenyataan terungkap, saat Zates melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keluarga Gualin memperlakukan adiknya, di sana ia hilang kesabaran hingga ingin menghadapi mereka dan menarik Louis kembali, namun Louis melarang untuk dan mengatakan. Ia tidak ingin kehilangan apa yang ia punya saat ini, tentu pada saat itu Zates dan bibi tidak memgerti kenapa Louis malah terbutakan hingga mau di injak-injaak oleh mereka. Tapi tetap saja rasa sayang kami pada Louis tidak berubah Merry, sampai Louis menutup kebohongan demi kebohongan, dalam beberapa saat ia memaksa untuk bertukar tempat dengan Zates agar membangun perusahaan yang di bagun atas namanya, tentu saja dengan kejeniusan Zates ia mampu mengembangkan perusahaan itu meskipun tidak sebesar yang di harapkan, dan pada saat itu kau mungkin tidak menyadari, di tahun pertama kau bekerja bukan dengan Louis Petrov yang bekerja dengan mu melainkan Laos Petrov”
sontak penuturan Bibi Lani yang begitu mencengangkan itu membuat Merry terpana.
Apakah beliau mengatakan jika Zates adalah pria pada pandangan pertama membuat Merry tertarik, jika di pikir-pikir lagi, setelah Merry bekerja selama 2 tahun Louis yang di kenalnya sangat hangat dan juga bijaksana, bahkan ia adalah pria berprinsip yang membuat Merry jatuh hati, malah terasa seperti orang berbeda setelah mengenalkan seorang wanita bernama Charllot padanya.
Hingga tanpa sadar Merry menempatkan diri untuk membantu pria itu mencapai tujuan dan keinginan dirinya, namun setelah perusahaan dan namanya di perhitungkan di sektor bisnis dalam negri, pria itu mengakui Charllot kepada dirinya yang bahkan membuat Merry seperti melihat pria berbeda saat itu, namun akibat rasa suka yang di pendamnya tentu saja Merry bertahan diatas rasa cemburu dan juga rasa sakit.
Apakah pria yang mengenalkan Charllot pada Merry adalah Louis Petrov sedangkan pria yang dia kenal selama 2 tahun dalam masa pengembangan perusahaan tidak lain Zates, jika itu benar Merry memang mencintai pria yang salah yang ia tidak sadar perbedaan diantara keduanya, tapi kenapa Zates mendiamkan hal ini, jika ia mencintai Merry seharusnya Zates mengungkapkan kebenaran tapi kenapa ia malah membiarkan Merry terbodohi dengan kebohongan.
Mata Merry menatap kearah Bi Lani yang merasa bersalah pada dirinya, bahkan kali ini Merry menuntut penjelasan atas situasi ambigu ini “Bibi tahu apa yang tengah Merry fikirkan. Tapi seperti yang Bibi katakan diawal, meskipun Louis cukup sensitif dengan temperamenya yang egois, tetap saja kami sangat menyayanginya, apalagi kakaknya yang tidak megubah sedikitpun rasa sayangnya pada Louis. Untuk alasan kenapa Zates membohongi mu Bibi benar-benar tidak tahu alasannya Merry, mungkin saja itu adalah bagian lain yang bukan di ranah Bibi untuk menjelaskanya. Bibi rasa kamu bisa menuntut penjelasan pada pria itu”
Ucap Bi Lani saat mengusap kepala Merry, meskipun ia sadar jika Laos bertahan karna Louis, hal itu akan membuat Merry membenci Louis Petrov nantinya, setidaknya Louis juga putranya, karna itulah Lani menganggap jika Merry tidak perlu mengetahui bagaiman sikap Louis sebenarnya terhadap kakaknya.
Di masa lalu, Zates hanya seperti bayangan untuk menempatkan dirinya di posisi tertinggi, bahkan Louis benar-benar berambisi penuh untuk menikahi cucu dari keluarga Farhaven meskipun banyak kesulitan dan rintangan, meskipun begitu ia selalu meminta Zates untuk memabantu segala hal, di masa lalu Lani sangat mengerti bagaimana Zates berkorban untuk adiknya bahkan ia merelakan perasanya demi Louis, tapi untuk kali ini Lani berharap jika pria itu harus sedikit egois untuk kebahagianya sendiri, apapun yang sudah terjadi ini bukanlah kesalahan dirinya, melainkan kesalahan semua orang yang mencoba memanfaatkan Zates pada masa itu, termasuk adiknya sendiri Louis Petrov.
Tidak hanya menjadikan kakaknya Zates seperti bayangan, dia juga menjadikan Zates sebagai penganti dirinya ketika memiliki perjanjian dengan Merry, tentu saja Louis mengancam akan mengakiri hubungan persaudaraan diantara mereka dan menganggap Zates tidak ingin bertanggung jawab sampai tuntas atas janji yang ia buat di masa lalu, saat itu tidak ada yang bisa di lakukan Zates selain mengambilkan bintang untuk adik kandungnya, ia dengan terpaksa melakukan hal itu sebab Louis berharap akan memberikan posisi untuk Merry dan menjadikan Merry wanitanya, bahkan ia berkata akan memperlakukan Merry dengan baik, mendengar seluruh syarat yang diberika oleh Louis tentu saja Zates tergugah ingin memberikan wanita yang ia cintai kepada laki-laki yang ia sukai yaitu Louis Petrov, apalagi yang di butuhkan Zates selain melihat dua orang itu bahagia, tapi semua harapan dan janji yang di buat hancur lebur hingga meninggalkan cangkang pengkhianatan.
Louis berlaku sebaliknya dan Charllot memberikan ancaman pembunuhan kepada putrinya dan Merry, hingga Zates tidak bisa mentoleransi lagi bagaimana sikap egois Louis petrov pada masa itu.
“Bibi… apa yang bibi fikirkan” putus Merry saat melihat bulir air mata di sudut mata Bi Lani, tentu saja ia tengah berfikir bagaimana bisa rasa sakit di masa lalu masih terasa nyata hingga membayang-bayang ke permukaan, melihat putranya Zates hancur saja sudah merobek hati Lani, bahkan ia masih menyalahkan dirinya yang tidak becus di masa lalu.
“Bibi, apa makananya belum selesai?” putus Zates yang muncul entah dari mana, membuat Merry membalikan badan sembari Bi Lani mengusap sudut matanya “Apa aku datang di saat yang tidak tepat?" tanya Zates ketika memandang dua wanita itu, membuat Lani memukul lengan putranya dengan tawa penuh hiburan.