
...Hi....man-teman yang selalu baca Novel ini, makasih ya udah ngasih masukan dan juga kritikan serta dukunganya. Awalnya aku fikir udah nggak ada yang minat lagi sama cerita ini, karna itulah Author akiri, sampai akirnya authorpun sadar kalau Anding cerita FILWADM ini memang mengantung, untuk itulah Author bikin Extra Part buat kalian minta, makasih ya udah baca Novel ini, semoga kalian suka 💙💜...
 ***
Beberapa jam berikutnya setelah percakapan yang terjadi antara menantu dan mertua di lorong rumah sakit itu, bahkan tak sedikit hal yang Zates ceritakan pada Hansell, hingga akirnya Zates mengambil inisiatif untuk membawa menantunya menemui Airyn, bagaimanapun Airyn pasti sedang terlelap tidur, jadi bukanlah perkara besar untuk keputusanya ini.
Hingga pintu kamar yang berada di ruangan terbaik dirumah sakit swasta ini membuat kedua manik mata yang sedang menyatu itu melumpuh, bahkan Airyn memalingkan wajah kepintu kamar hingga membuat semua orang menegang, tatapan kedua manusia itu saling bersautan sampai akirnya Airyn menarik nafas secara berlebihan, tubuhnya yang baru saja tersadar setelah menghadapi berbagai sakitnya melahirkan normal sungguh dibuat hilang akal atas pemandangan di hadapanya.
“S-S-Siapa dia?" tanya Airyn dengan gagap ketika melirihkan kaya dengan pertanyaan menuntut, ketika ayah kandungnya membawa seorang pria yang mirip suaminya kekamar Airyn.
Bahkan pria itu mirip sekali dengan suaminya yang sudah di yakini meninggal dunia, namun sikap dan karakternya seperti Hansell yang paling berbeda, tingkahnya yang tidak mengenali Airyn membuat seorang ibu itu sadar, ini bukanlah karakter suaminya yang penuh tegas dan kasih sayang.
“Airyn….” sambar Merry saat menenangkan putrinya, ia bahkan tidak menyangka Zates akan membawa Hansell ke kemar ini tepat ketika Airyn sadarkan diri, tubuh ibu dari dua anak kembar itu merinding hebat, air matanya bercucuran ketika pemandangan paling membahagiakan serta membingungkan ada di depan matanya.
Baru saja langkah Hansell melaju kearah depan, namun di cegat oleh tangan Zates yang sedang menahanya, membuat pria itu terhenti sembari memandangi Zaterius yang dilingkup rasa bersalah.
“Kenapa kau menahanku?" tanya pria itu, saat mata Airyn masih mengamati Hansell dengan serius.
“Apa yang kau lakukan, apakah kau ingin mengatakan padanya jika kau hilang ingatan, jika begitu lebih baik kau keluar dari ruangan ini, biar aku yang akan menjelaskan semuanya pada Airyn”
“Tapi, aku ingin bertanya padanya” bantak Hansell dengan keras kepala, membuat seringai mengerikan di sudut bibir Zates ia ulas dengan sikap tenang.
“Kau bahkan tidak mengakui itu anakmu, kenapa kau repot-repot menemuinya” hina pria yang saat ini menjadi mertuanya, bahkan Zates kembali membenci menantunya yang paling mengesalkan itu. “Keluarlah, aku butuh ruang untuk menjelaskan kehadiranmu pada Airyn” pintanya dengan memohon, membuat Hansell terdiam untuk bersikap tenang.
Mata biru yang tajam itu ia alihkan kearah Airyn, bahkan gadis itu sudah berdiri dari duduknya sembari menyelidik menatap Hansell, sungguh bagaimanapun ia melihat dan berfikir, seseorang yang hadir kali ini memanglah suaminya.
Namun kenapa tatapan yang selalu Airyn lihat dengan hangat, kali ini malah sebaliknya, kenapa ia seperti orang asing saat menyorot kearah Airyn, namun bagaimanapun Airyn sangat bahagia, kerinduanya menjelma dengan nyata untuk hari ini, mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Baiklah aku akan keluar” putus Hansell dengan segera, ia menepiskan tangan Zates untuk menjauh dari pintu kamar, bahkan pria itu meninggalkan Airyn yang sedari tadi mengamati dengan penuh hati-hati.
“Tu-Tunggu” teriak Airyn ketika menghentika langkah suaminya. “Kau mau kemana?” terusnya dengan bertanya, sembari berderai air mata ketika memandangi suaminya
Demi apapun kerinduanya seperti terobati melihat sosok Hansell di yang hadir didepan mata, apakah ia tidak bermimpi ataupun berhalusinasi, apakah sosok Hansell yang membantunya melewati lembah kesakitan saat melahirkan adalah sosok pria itu dengan wujud nyata.
“Aku harus keluar, ayahmu yang memintaku keluar” saut pria itu dengan sikap tenang, membuat mata Airyn terbelalak dengan sempurna ketika wujud itu membalas pertanyaan darinya, berarti dia memanglah seorang manusia.
"Kenapa dia menatap diriku seperti menatap hantu" gumam Hansell dengan bingung, sebelum mengutarakan perasaanya. “Nona, aku masih bingung dengan situasi ini, begitupun denganmukan, maka dari itu, lebih baik kau bertanya saja pada kedua orang tuamu tentangku, aku pergi dulu” terus Hansell dengan tawa indah yang ia ulas tanpa beban, seolah Hansell bicara tanpa ada perasaan dihadapan Airyn.
“Nona?” ungkap Airyn ketika menyungingkan senyum dengan kecut, apakah ia tidak salah dengar saat suaminya bicara dengan aneh padanya.
“Tentu saja. Kau lebih tua dariku, tentu sangat sopan jika aku memanggilmu Nona” balas Hansell hingga Airyn tercengang, begitupun dengan Merry dan Zates.
“Airyn, biarkan saja dia pergi, aku akan menjelaskan semuanya” putus Zates pada putrinya, bahkan menghentikan percakapan diantara suami istri itu, rasanya membiarkan Hansell bicara pada istrinya hanya akan menyakiti Airyn dengan sakit.
Hingga dorongan Zates, membuat Hansell benar-benar keluar dari ruangan itu, meninggalkan Airyn bersama kedua orang tuanya, tentu wanita yang sudah menjadi seorang ibu itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, namun ada hal yang lebih penting untuk dia ketahui.
“Situasi apa ini! Apa kalian mempermainkan aku! Kenapa dia memanggiku Nona” bentak Airyn penuh murka, bahkan ia tidak menyangka pria yang mirip suaminya itu tidak memberikan kesan sehangat Hansell, tapi kenapa mereka begitu mirip sekali, namun karakternya berbeda 180 derajat dengan Hansell Hamillton. “Apakah belum puas menghancurkan hidupku, kenapa kalian mempermainkan aku lagi!! Lelucon apa lagi ini, Ha!!” bentak Nona Petrov hingga Hansell terpana mendengarnya, bahkan pria itu masih berdiri di balik pintu kamar yang sudah di tutup oleh Zates.
Kenapa jantungnya berdebar atas kesakitan yang dapat ia lihat didiri wanita bernama Airyn, bahkan matanya melumpuh atas rintihan sakit yang terus menyembilu pedih, apakah Airyn benar-benar istrinya? Dan ua benar -benar memiliki kedua orang anak bersama wanita itu.
Sedangkan Merry menangis disamping ranjang Airyn sembari memeluk putrinya, membuat Zates benar-benar dibuat kalut untuk menjelaskan perihal Hansell dari mana, bagaimanapun ini pasti mengejutkan baginya.
“Sayang…” lirih Zates dengan sedih, ia sendiri juga merasa bersalah atas segala hal ini, bahkan setiap keputusan yang di berikanya terus saja mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan kenyataan.
“Lepaskan aku, jangan menyentuhku, ataupun memanggil namaku” tepis Airyn ketika mendorong jauh tubuh Zates untuk melepaskanya. “Permainan apa lagi yang kau berikan padaku, apakah kalian fikir hidupku lelucon, orang tua yang sudah aku yakini sedari kecil ternyata bukanlah orang tua kandungku, kenyataan ayahku memiliki kembaran adalah hal yang paling tidak aku bayangkan sebelumnya, hingga ibuku adalah orang kepercayaan keluarga Petrov, tentu semua ini seperti mimpi aneh yang harus aku yakini, sekarang suamiku yang sudah meninggal hidup lagi, namun ia seperti orang asing yang tidak aku kenali, atau jangan-jangan dia bukanlah suamiku, kenapa kalian membawanya kehidupku jika dia bukan Hansell, kenapa!! Apakah belum puas menyakiti diriku, hingga diberikan permainan aneh yang sulit diterima oleh akal manusia!”
“Airyn….maafkan ayah nak…maaf….maaf ….maafkan ayah” rintih Zates hingga tak berdaya menanggung kesesakan dadanya, sungguh ia sama terlukanya dengan Airyn, bahkan Zates memeluk tubuh putrinya namun Airyn meronta untuk dilepaskan, hanya saja Zates terus menenangkan dengan kata maaf yang tidak tahu sudah berapa kali ia utarakan.
Tak lama kemudian, ketenagan mulai hadir diantara mereka, Airyn sudah terdiam dari tangisanya ketika berada di dalam pelukan Zates, bahkan Merry tidak sanggup melihat hal ini selain keluar dari ruangan itu, sungguh Airyn tidak ingin mendengar penjelasan apapun selain menenangkan dirinya sendiri.
Tentu saja pria yang dia temui bukanlah Hansell sebab Hansell tidak akan sedingin itu, tapi kenapa jantung Airyn berdebar memandang dirinya.
Zates membaringkan Airyn di ranjang rumah sakit, seraya menyetel pendinginan ruangan untuk anaknya, ia mengecek kondisi putrinya sebelum meninggalakn ruangan itu, seraya mengusap kepala Airyn dengan sayang, bagaimanapun hal ini pasti membingungkan untuk ia hadapi.
*
“Memangnya apa yang salah? Kenapa aku merasa seperti melintasi waktu, seolah-olah aku kembali kemasa depan, bahkan aku tidak mengetahui kemana aku harus pergi sekarang” gerutu pria itu, bagaimanapun ia tidak lebih dari seorang manusia miskin yang tidak memiliki uang dan juga ponsel, bahkan Hansell masih belum mengisi perutnya sedari pagi hingga menangih untuk diisi. “Ah sialnya!” kesal pria itu, bahkan ia tengah melihat beberapa orang yang sedang mengegam ponsel mereka, hingga Hansell ingin sekali meminjamnya, untuk menghubungi keluarganyam
“Kakak” teriak seorang gadis kehadapan pria itu, membuat pria itu memalingkan kepala kearah belakang atas kehadiran Angeline yang seperti penyelamat.
“Angel” saut Hansell dengan bahagia, ia melangkah sembari memeluk gadis itu, mengucapkan syukur jika hidupnya terselamatkan setelah diusir oleh Zates.
“Apa yang kakak lakukan disini?” tanya Angel pada pria bodoh itu tersebut, nampaknya Hansell sedang kebingungan, ia bahkan melihat orang-orang di Lobby rumah sakit dengan tatapan memyedihkan.
“Tadinya kakak mau mencari bantuan untuk menghubungimu, tapi kakak cukup ragu meminta bantuan pada mereka”
“Lalu kenapa kau harus meminta bantuanku, bukankah kau harus menemui istrimu” tanya Angel pada pria itu, membuat Hansell menjatuhkan pukulan di kepala adiknya.
“Jaga ucapanmu, aku masih anak dibawah umur, bagaimana bisa aku memiliki anak”
“Asih! Kaulah yang harus menjaga ucapanmu, lihat suaramu yang sudah berat itu, wajahmu yang sudah menua, apakah ada anak dibawah umur yang etelah menghamili istrinya sendiri dan kau sekarang tidak mengakui hal itu, tolonglah Hansell Hamillton, kakak kandungku bukan pria brengsek" dengkus Angel ketika memuluk kepala kakaknya.
"Apa begini caramu bicara padaku, lagian aku tidak ingat apapun"
"Aish!" garang Ageline denga kesal saat pria bodoh itu masih terus menyangkal kenyataan. “Meskipun kakak hilang ingatan, fakta bahwa kau sangat mencintai kak Airyn dan ayah dari kedua anakmu tidak akan mengubah fakta, kau harus menerima jika kau sudah memiliki keluarga sekarang” terusnya sembari berkacak pinggang menghadapi Hansell, bahkan Angel cukup kesal ketika kakaknya bertingkah kekanak-kanakan seperti ini, seolah Angeline mendapati seorang adik laki-laki.
“Tapi…..” seketika suara itu merendah. “Aku sunguh tidak mengigat apapun, bagaimana aku bisa menjadi seorang suami dan ayah jika aku tidak mengigat apapun tentang mereka”
“Apa pentingnya sebuah ingatan, jika hatimu lebih peka untuk merasakan” timpal Angeline hingga kepala Hansell terangkat secara sempurna, kali ini ucapan gadis itu menyita perhatiannya. “Aku yakin kau pasti merasakan sesuatu yang sulit kau jelaskan ketika melihat anakmu dan Kak Airyn, apakah itu tidak bisa kau jadikan alasan untuk menerima mereka” terusnya untuk meyakinkan, bahkan Angel mengenggam kedua tangan kakaknya bersamaan dengan tatapan mata mereka yang terus memancar. “Kakak, percayalah padaku. Kau sangat mencintai Kak Airyn, bahkan kau mengorbankan hidupmu untuk dirinya, jadi cobalah untuk berdamai dengan hatimu, jangan terus bergulat dengan logikamu, tapi rasakan, apakah detak jantungmu berdebar saat melihatnya, atau kau dilanda bahagia melihat anak kembar itu”
Sungguh apa yang Angel katakan memang ia rasakan dengan nyata, Hansell merasa sakit saat Airyn sakit, hansell merasa perih ketika ia menangis, bahkan jantungnya berdebar untuk pertama kalinya saat Airyn berhasil melahirkan kedua anak mereka, jika memang Hansell sudah memiliki anak dari wanita itu, apakah dirinya harus mencari potongan ingatan itu.
"Ayolah ikut aku, pasti kau lapar kan" putus Angeline ketika mengegam tangan kakaknya, membuat Hansell sadar jika perutnya mericuh untuk menagih makan.
Menyadari hal itu, membuat Hansell melangkah mengikuti adik kandungnya, mereka berakir di sebuah kantin yang ada di rumah sakit swasta milik Hansell Hamillton, baru saja Hansell mendudukan diri ia dibuat terkesiap ketika seorang wanita menghampiri mereka dengan mata berbinar.
"Tuan Hansell, sudah lama kita tidak bertemu" sapa beliau dengan pandangan haru.
"A-Apakah kita pernah mengenal sebelumnya?" tanya pria itu dengan bingung, bahkan Angeline yang duduk di depan kakaknya hanya diam untuk smemperhatikan.
"Tentu saja, anda adalah pemilik rumah sakit ini bagaimana aku tidak mengenalinya" bisik beliau dengan suara pelan, ketika ia mengigat jika Hansell meminta untuk dirinya menyembunyikan identitas, hanya saja ia tidak bisa melupakan Hansell, sebab pria itu sudah memberikan banyak perubahan padanya, bahkan salah satunya dalam hal ekonomi, semua itu berkat rasa sosial yang tinggi dari Hansell Hamillton.
Jika bukan karna Hansell Hamillton mungkin dia sudah kehilangan putrinya, tapi pria itu membantu dirinya saat membawa sang anak ke rumah sakit mengunakan gerobak kayu yang biasa ia gunakan sebagai alat untuk memulung, bahkan saat itu pihak rumah sakit menolak sebab banyak pasien yang perlu diselamatkan, padahal dia tahu jika biaya administrasi yang tidak mencukupi adalah alasan bagi pihak rumah sakit menolak mereka, namun pria itu dengan penuh budi baik membantu dirinya, ia memarahi sang dokter yang tidak peduli pada pasien dan malah mementingkan hal finansial, pria itu ada diantara semua orang yang tidak memiliki jiwa kemanusiaan, sungguh dia seperti malaikat yang hidup diragawi manusia.
"Apakah anak anda sudah melahirkan Tuan Hansell?" tanya beliau ketika menceritakan pertemuan itu, membuat Hansell terpana ketika orang asing tersebut mengetahuinya.
"Apakah anda lupa juga?" terus sang ibu dengan bingung, membuat Angel menukas pembicaraan mereka.
"Bibi, kakakku sedang sibuk bekerja dan kelelahan, terkadang dia menjadi bodoh dalam beberapa saat" balas Angeline untuk bercanda.
"Oh bernarkah?" terusnya dengan canggung.
"Perkenalkan aku Angekine adiknya kakak, terkait keponakan kembarku, dia sudah lahir dengan selamat, apalagi kakak iparku, dia sangat kuat" tandas Angeline ketika wajah Hansell memerah menatapnya dengan marah.
"Ah syukurlah....aku turut senang. Bagaimanapun saat itu aku sangat terharu, saat Tuan Hansell memberikan alasan yang menyentuh. Dia membantuku, hanya karna memikirkan anaknya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika posisi anakku adalah anaknya yang sedang di kandung oleh istri yang sangat dia cintai, untuk itulah ia membantu kami, selain itu dia juga mengatakan jika sudah kewajibanya melakukan semua ini. Sungguh, aku berterimakasih dengan sangat pada anda Taun" terus beliau hingga Hansell terdiam, bahkan rasanya ia mulai percaya jika Airyn memanglah istrinya.
"Ah bibi, tidak perlu sungkan"
"Itu baru kakak ku" bisik Angeline ketika menggoda Hansell, bahkan membuat pria itu merekah malu dengan sempurna hingga akirnya mereka memesan makanan disana.
Sedari bibi penjaga kantin itu pergi, Hansell dibuat terdiam, memikirkan tiap hal yang dirasakan hatinya serta segala pembenaran dari orang sekitar, jika begini nampaknya Hansell memang suami dari Airyn, dan ayah dari anak yang baru lahir itu.
Sedangkan wanita yang saat itu sibuk menyiapkan makanan untuk pelanganya, mengulas senyum dengan ikhlas, saat mengigat bagaimana kebaikan Hansell padanya, bahkan jika bukan karna dirinya, mungkin ia tidak akan bisa bekerja di rumah sakit ini. "Terimakasih Tuan Hansell"