
Pelukan Hansell seperti kehangatan yang tidak dapat memudar dihati Airyn, entah bagaimana pun dia mencoba kenyamanan selalu ada ditubuh pria itu, jika hari ini dia harus meninggalkan Hansell, Airyn menanamkan doa agar pria ini baik-baik saja, gadis itu percaya Hansell akan melakukan yang terbaik untuk tidak meninggalkan nya, jika kemungkinan sedikit mustahil akan kah hal itu dapat berubah hanya perkara cinta, atau bisakah kemustahilan itu berubah menjadi peluang?
“aku akan merindukan mu” peluk Hansell dengan penuh sayang
“aku juga” balas Airyn dengan hati bergetar
“jangan lupa makan yang teratur, dan saat tidur kunci pintu kamar, apa kau mengerti?” Hansell melepaskan pelukan nya, sekarang mata nya mendarat memandang wajah kekasih nya dengan lekat
“iya” Airyn tersenyum dengan menganggukan kepala seraya ada beningan mengkilat di bola mata nya
“sayang, sudahlah” Hansell mengusap lembut pipi kekasih nya, dia mencoba menenangkan Airyn untuk menumbuhkan keyakinan di hati wanita itu
“kau harus berjanji akan baik-baik saja, jika tidak. kau tau apa yang akan terjadi pada ku Hansell, jangan berani-berani nya kau meninggalkan ku, apa kau mengerti” tegas Airyn dengan sorot mata tajam nya
“iya, aku menngerti, sekarang pergilah” seru Hansell sambil dirinya mengkecup pipi Airyn dengan penuh cinta
Airyn hanya tersenyum dengan paksa, dia memaksakan hati dan melangkah kan kaki dengan berat, seakan keterpaksaan bersahabat dengan pergi, Airyn melangkah kan kaki ke pesawat pribadi nya, terlihat jelas ajudan nya berbaris rapi dengaan setelan jas sembari memberi hormat kepada Nona Petrov, mereka menuntun Nona Petrov menaiki jet tersebut, sedangkan Hansell memandang punggung Airyn yang mulai menjauh dari sisi nya
“Airyn” Hansell berlari memeluk tubuh kekasih nya dari arah belakang, pelukan nya seakan berat dan erat, bahkan membuat Airyn tertegun dari langkah nya, Hansell melepaskan selurun perasaan sayang nya disana, dia mencoba memejamkan mata merasakan kehagatan tubuh Airyn, dia mencoba menghirup aroma tubuh yang khas dari wanita nya, dia merasakan suatu ketenangan atas perpisahan ini, Hansell mencoba sebaik mungkin untuk menikmati kehangatan cinta nya
, dia berusaha menguatkan diri menerima semua nya.
“Hansell aku mencintai mu” Airyn menjijit kan kaki nya, mendaratkan bibir nya di bibir kekasih nya, kali ini air mata nya berderai sembari melingkarkan tangan di leher Hansell, terntu saja pria itu tertegun menyaksikan sikap kekasih nya, membuat seluruh ajudan membalikan badan karna malu, mereka tidak menyangka Nona Petrov melakukan hal seperti itu, padahal dia sangat sopan dan begitu berwibawa membuat mereka tidak menyangka akan menyaksikan hal ini didepan mata.
Hansell menjangkau pinggang kekasih nya, dia meraih tubuh Airyn untuk menempel ketubuh tinggi nya, Hansell mengkecup nya dengan penuh rindu dan sayang, dia ******* nya hingga tak bersisa, membuat Airyn mengikuti irama yang dimainkan pria nya, dia mencoba untuk melawan tanpa mengalah disela-sela bibir yang tak ingin sudah, nafas mereka keluar dari celah-celah yang tak bisa pasrah, membuah Airyn melepaskan sedikit tautan nya untuk menghirup oksigen yang hampir habis dinikmati nya, Hansell membiarkan nya dalam beberapa detik, lalu ******* nya kembali dengaan serakah, kali ini dia ingin melakukan nya dengan pasrah, dia ingin menitipkan sayang nya disini, membuat bekas bengkak di bibir Airyn, Hansell mencoba untuk melakukan apa yang dia bisa agar Airyn dapat mengingat semua hal tentang mereka
Entah mengapa, ada rasa aneh yang bergejolak di dada nya, disaat punggung Airyn menjauh dari sisi nya, seakan dirinya tidak memiliki kesempatan lagi untuk melihat nya, menyentuh nya, bahkan bersama nya, Hansell tidak bia meramalkan masa depan, namun dia tidak bisa melepaskan kesempatan, jika dia tidak memiliki masa depan, setidaknya dia memiliki kesempatan saat ini, kesempatan memeluk dan meleburkan perasaan nya kepada wanita yang membuat hati nya selalu berdetak, membuat relungnya terisi penuh hingga berlimpah, bahkan kehangatan nya melengkapi kehadiran seorang terpenting selama ini
“aku mencintai mu Airyn” Hansell berucap di cela bibir mereka begitu dekat saat menempel, membuat kekasihnya meneteskan air mata kembali, entah kenapa kata-kata itu begitu menyakiti, dia seperti tidak dapat mendengarnya lain kali, membuat sekujur tubuh Airyn terisak karna takut.
“aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan selalu ada bersama mu, dihati mu, aku akan selalu ada disana, tidak peduli sesulit apa ini, aku percaya kita berdua bisa melalui nya, bertahan lah, dan aku akan berusaha melakukan yang terbaik, jangan menyalahkan dirimu jika suatu hari nanti tidak sesuai dengan keingin kita, aku hanya menginginkan kau bahagia dan hidup untuk selama nya” jelas Hansell, membuat Airyn menganggukan kepala dengan terpaska, apapun yang dibantah nya, dia tetaplah seorang Nona Petrov, Airyn memiliki tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan nya, jika ini takdir nya, Airyn berharap untuk kali ini saja takdir baik berteman lah dengan kehidupan nya, mempermainkan nya untuk bahagia bersama kekasih yang dicintai nya.
Airyn mencium kening Hansell, seakan dia meninggalkan jejak kepemilikan nya atas pria ini, dia mengusap lembut rahang pria itu dengan mengulas senyum yang indah untuk menguatkan, Airyn berharap Hansell akan baik-baik saja hingga mereka bertemu kembali.
Seketika itu, Hansell melepaskan Airyn, dia membiarkan kekasihnya pergi dan menaiki tangga untuk menuju kedalam pesawat, Airyn berjalan maju tanpa berpaling, sebab saat dia melakukan itu, mungkin saja dirinya tidak akan bisa lagi berjalan maju, air mata nya terus saja mengalir deras membuat Hansell berdiri dengan mengepalkan tangan karna sakit nya, padahal ini hanyalah kepergian Airyn ke Irlandia, namun kenapa begitu menyesakan seakan mereka tidak akan kembali, membuat Hansell benar-benar tersiksa.
Melihat Nona Petrov memasuki pesawat, para ajudan dengan cepat bergerak sembari memberikan hormat kepada Hansell, mereka menutup pintu tersebut hingga pesawat nya terbang mejauh hingga meninggalkan Hansell di daratan dengan rapuh.
Di sepanjang mata memandang pria itu tidak melepaskan sedikit pun tatapan nya, hingga benda yang membawa Airyn pergi dan menjauh itu menghilang, Hansell menjatuhkan diri, entah kenapa dia tidak memiliki tenaga lagi, namun pria itu menatap tajam ke arah depan, dia berfikir, bukan saat nya untuk lemah, namun saat nya untuk memulai, ini bukanlah akir semua nya, melainkan awal dari kesempatan yang ada, Hansell berdiri dengan tegap, hingga meninggalkan atap apartemen nya, dia mencoba melangkah dengan pasti, seakan dirinya benar-benar ingin bertahan sekali lagi.