
Di sepanjang jalan berliku yang cukup untuk dua mobil berpapasan, Merry melipat kedua kakinya sembari duduk tenang di kabin penumpang, kali ini ia merasa sedikit resah karna Airyn sudah mengetahui lebih dalam, bahkan secara diam-diam gadis cerdik itu mampu meruntuhkan pertahanan Merry hingga ada sedikit rasa takut menghadapi anaknya, bagaimanapun tidak dapat menutup kemungkinan jika Airyn memanglah darah dagingnya, bahkan tanpa melakukan tes DNA sekalipun sudah dapat dilihat betapa kentalnya darah Merry mengalir di nadi Nona Petrov
.
“Apakah masih lama?” tanya Merry dengan nada dingin kepada pria yang mengendarai mobil yang duduk di bagian depan
“Sebenatar lagi Nona, target dalam keadaan baik-baik saja, kami sudah memastikan tidak ada racun atau virus yang menjangkit di tubuhnya, bahkan disekitaran gedung sudah dipastikan aman dari bahan peledak dan pelacak apapun. Sehingga tidak akan ada yang bisa menelusuri keberadaan kita disana” jelas pria berkepala plantos itu kepada Merry, membuat wanita itu menganggukan kepala meskipun tidak dapat diakses oleh anak buahnya.
Kali ini Merry juga menginginkan kebenaranya, jadi menyembunyikan kebenaran dari Airyn adalah akses yang mudah untuk menyaring seluruh masalah, agar Merry mampu memilah mana yang bisa diterima oleh anaknya, dan mana yang mungkin mengecewakan nantinya.
Setidaknya untuk kali ini saja Merry ingin melakukan pembersihan masalah secara individu tanpa Airyn terjebak didalam masalahnya.
Sebab jika wanita itu ikut campur atas segala hal terkait orang yang berada dibalik surat kontrak, mungkin akan banyak pertumpahan darah yang terjadi, bahkan Merry sendiri tidak bisa menjamin sebuah perlindungan untuk putrinya, karna sebelum kematian William yang dibunuh oleh orang tersebut, Merry telah mendapatkaan sepengal kata yang sangat menganggu dirinya.
***
Kala itu Merry tengah menangani beberapa kontrak pekerjaan dengan William disebuah hotel mewah miliknya, tentu saja pertemuan antar keduanya dipastikan tertutup dan sangat menjunjung tinggi privasi masing-masing, sehingga tidak akan ada yang bisa mengetahui apa saja percakapan yang terjadi diantara kedua pembisnis itu, meskipun mereka membahas masalah pekerjaan tetap saja itu menjadi suatu rahasia yang perlu dijaga, membuat Merry dan William menyudahi dengan segera setelah mendapatkan kesepakatan.
“Merry, bagaimana dengan Airyn?” tanya Willian saat meneguk gelas wine ditanganya.
“Dia baik-baik saja. Kenapa kau bertanya?” tanya Merry dengan tetapan tidak suka, membuat William tersenyum sembari mengelap pingiran mulutnya dengan sapu tangan yang sudah disediakan.
“Merry. Apa kau berfikir masa lalu sudah berakir?” sambungnya dengan sedikit tawa, membuaat Merry menyipitkan mata untuk mendengar kelanjutan “Jujur saja. Orang yang mengendalikan Airyn masih misterius, tapi apa kau tidak bisa menerka siapa orang itu?” sambung William dengan tatapan dalam, membuat Merry menghempaskan berkas di genggamanya sembari menatap kearah William, apa maksud dari perkataan pria itu.
“Apa yang ingin kau sampaikan sebenarnya Will? Kau tahu sendiri gadis itu adalah anakku. Jika aku mengetahui siapa orang itu, apa kau fikir aku hanya tingal diam tanpa membuat perhitungan. Bukankah kau lebih mengetahui bagaimana dendamnya aku atas tindakan Loius yang semena-mena pada Airyn, hingga menjebak putriku didalam kesepakatan tidak masuk akal ini!” bentak Merry dengan geram
“Sayangnya Louis sendiri yang sudah menghancurkan hidup putrinya, sebagai seorang ayah yang menyengsarakan putrinya. Apa kau masih berfikir dia pantas untuk menerima cintamu”
“William!!!” geram Merry ketika melempar pandangan tidak suka atas pernyataan William “Jaga batasanmu, dan tahu diri akan posisimu. Fikirkan dirimu sendiri dan jangan mengurus hidupku. Aku bisa mengatur kehidupanku, kau tidak perlu repot mengurusnya” bantah Merry dengan ketidaksukaan yang kental, membuat William berdecak kagum atas apa yang dimiliki Louis Petrov, bahkan ketika dirinya tidak adapun, Merry masih mencintai Louis dengan sepenuh hati, betapa beruntungnya pria itu dimata William, mendapatkan cinta tanpa syarat dari seorang Merry, padahal William sendiri bersusah payah mengejar wanita itu namun tidak memiliki sedikit peluang, bukankah dunia ini sangat tidak adil.
“Katakan padaku, apa kau mengetahui sesuatu. Kau bukan tipe orang yang berbicara tanpa maksud, kau pasti mengetahui sesuatu. Apa yang kau ketahui? ” tanya Merry dengan terus terang, membuat William menatap kearah wanita itu dengan penuh pertimbangan, bahkan ia tidak bisa menyembunyikan betapa tertariknya dirinya dengan Merry, meskipun William sudah menikahi ibu Dikra, tetap saja ketertarikanya akan Merry tidak bisa pupus, sama halnya seperti Merry menyukai Louis Petrov.
“Entahlah. Aku hampir menemukan sesuatu yang mungkin sulit untuk diterima. Tapi disaat aku sudah bisa memastikan kebenaranya, aku berjanji akan memberitahu dirimu segalanya. Sebagai bukti betapa sungguh-sungguhnya aku denganmu Merry” ucap William, membuat Merry tertegun dengan bingung, kenapa pria itu selalu terus terang akan perasaanya, bahkan Merry kehabisan kata untuk membantah.
“Jangan mulai lagi. Aku tidak akan bisa mencintai siapapun. Karna aku terlalu sibuk mencinya ayah putriku. Dan aku tengah melindungi anakku jadi aku tidak ada waktu untuk memikirkan diriku sendiri. Berhenti berharap, dan carilah ibu yang lain untuk anakmu” bantah Merry dengan gambalang, membuat William tersenyum manis atas penolakan yang sering diberikan padanya.
Namun ditengah percakapan itu William mendapatkan beberapa pesan di ponselnya hingga mengalihkan perhatian Merry, bahkan membuat wajah pria itu tampak tidak tenang.
Bagaimanapun sebagai seolah pembisnis sangat mungkin William mendapatkan laporan mendadak yang mengejutkan, membuat Merry mengabaikan tingkah pria itu sembari meneruskan makan malamya.
William berpamitan untuk keluar dari Restauran karna dirinya terburu-buru, membuat Merry memahami jika pria itu sangat sibuk akir-akir ini karna ia ingin menjadikan bisnis makananya menjadi waralaba, ketika Merry membereskan berkas dimeja tersebut perhatianya terlihkan kepada nada getar yang terus merambat kependengaranya, bahkan nada itu semakin mengeras hingga menundukan pandangan Merry kearah depan, dimana tempat duduk William sebelumnya, ia beranjak dari kursi yang ditempati sembari mengambil benda yang terus menyala dibawah sana.
Secara seksama Merry melihat nomor cantik itu tidak terdaftar di ponsel tersebut, membuat kening Merry sedikit berkerut akibat pertimbangan berat yang dilakukanya, jika ia mengangkat telepon William tentu hal tersebut sangat tidak sopan, karna ia mengenal baik bagaimana William menjunjung tinggi privasi sekalipun mereka saling kenal, dilain sisi ponsel itu terlihat sangat penting sehingga beberapa kali memanggil, ketika jemari Merry ingin mengusap layar ponsel, tiba-tiba saja panggilan itu terputus dengan sendirinya, membuat Merry mengangkat bahu seolah membiarkan begitu saja.
Ia memilih pergi dan menyimpan ponsel William untuk diberikan nanti, wanita itu memasuki mobil yang ada di Bassment hotel menuju rumah, ditengah perjalanan ponsel William berdering sekali lagi didalam tas jinjing milik Merry, membuat wanita itu berdecak kesal karna menganggu dirinya ketika menutup mata, hanya saja ketika Merry ingin mengangkap panggilan yang terus menganggu.
Sebuah pesan mengejutkan masuk hingga menghentikan jemarinya, pesan pendek itu terkesan seperti ancaman yang membuat tubuh Merry bergindik bahkan hampir membuat nafasnya terhenti saking tidak percaya, bagaimana bisa orang tersebut mengetahui jika ponsel William ada bersama Merry, bahkan pesan itu mengatakan
Satu detik kau tidak berada ditempat semula maka William akan merengut nyawa.
Sontak dengan segera Merry berputar balik kearah hotel, bahkan jemarinya bergetar hebat akibat rasa takut yang sulit dikendalikan, siapa sebenarnya yang menelfon ponsel William dan apa hubungan mereka hingga menginginkan nyawa William, banyak pertanyaan yang menjelma dibenak Merry akan musuh-musuh pria itu, selama ini Merry mengenal baik akan kepribadiam William, dia tidak terlibat hal apapun dan dengan siapapun, tapi ada apa dengan William kali ini, apakah ada sesuatu yang di rencanakanya.
Di tengah perjalanan menuju hotel, Merry mencerna baik-baik percakapan mereka yang terjalin cukup lama, ia bahkan berfikir apakah William menyelamkan diri kedalam ranah yang tidak sepatutnya dijangkau oleh kakinya, apakaha William benar-benar bertindak implusif untuk membuktikan cinta yang biasa dibanggakanya pada Merry, jika ini semua karna Merry bukankah sangat jelas siapa yang menjadi pelaku jika nanti terjadi sesuatu pada William.
Sebenarnya apa yang dilakukan pria itu hingga merusak hidupanya sendiri, padahal Merry tidak pernah mengiginkan sesuatu dari dirinya selain William hidup baik dengan anaknya dan kehidupanya, kenapa dirinya menjadi sebeodoh ini.
Sontak mata Merry terbelalak ketika melihat tubuh lelaki itu terkapar di ruang privat yang tadinya menjadi tempat mereka, sangat jelas sekali hotel milik William ini memiliki keamanan tingkat tinggi yang sulit di bobol oleh orang luar, tapi bagaimana bisa William terluka didalam kandangnya sendiri, sebenarnya siapa yang diganggu William hingga dirinya menjadi sekacau ini, bahkan dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya sangat jelas mengambarkan bagaiman tersiksanya tubuh William untuk bertatan, William ambruk disudut ruangan dengan darah yang mencucur dari mulut, bahkan lantai itu telah berbau amis dari perkiraan, membuat Merry mengoncang tubuh William untuk mempertahankan kesadaranya.
“Merry. Ingat apa yang aku katakan tadi, maka kau akan mendapatkan lebih banyak. Dan aku ingin tutup barang bukti atas pembunuhan ini, jika tidak anakku akan terancam dan tentu kau dan anakmu juga menjadi sasaran. U-untuk menyelamatkan semuanya…..bantu aku menutupi tempat kejadian, dan lenyapkan seluruh barang bukti atas pembunuhanku” ucap pria itu dengan susah payah bahkab nafasnya saja tersengal atas permintaan tersebut, membuat Merry yang biasanya dingin penuh dengan ekspesi datar menunjukan gejolak emosi yang sulit dikendalikan, ia meneteskan air mata atas apa yang menimpa pria itu, bagaimana bisa kematian William bisa disaksikan oleh matanya, tentu saja ketika Merry berlari menyelusuri lorong ada pria yang berbaju hitam mengunakan topi dan masker untuk menutupi wajahnya, berjalan dilorong ini dengan sikap santai yang seolah ini adalah tempatnya sendiri, hingga bisa dipastikan pasti dirinya terkait atas kematian William.
“K-kau mem-bu-at ku bahagia dipenghujung ajalku. K-kau bahkan menangisiku, kenapa kau tidak mau men-cintaiku, meskipun begiti. Aku harap kau bisa melepaskan cintamu pada-nya, karna dia tidak pantas mendapatkan sedikit hatimu” ucapan itu terhenti dipertengahan suara William yang tersekat, bahkan ia seperti merengang nyawa dengan kesakitan, membuat tangis Merry mengema diruangan, ketika meneriaki nama William dengan keras hanya saja terbalas dengan hening.
“William, apa maksud semua ini” teriak Merry dengan hancur, ia bahkan sulit mencerna apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja semuanya diluar kendalai.
Bahkan ia tidak menyangka orang seperti William bisa masuk kedalam dunia kekejaman ini, hanya saja ada satu kepastian yang dapat di simpulkan oleh Merry.
Jika yang membunuh William adalah orang yang berada dibalik surat kontrak, orang yang sudah terusik oleh dirinya adalah orang yang tidak boleh diketahui oleh siapapun, dan tentu saja nyawa William adalah tutup mulut yang tepat untuk menjaga semuanya. Sekalipun William tidak meminta Merry menyembunyikan kebenaran, tetap saja Merry akan menutupi pembunuhan ini dan membereskannya, sebab jika hal ini terakses oleh siapapun, tentu akan menjadi salah paham yang besar, mungkin orang tersebut akan mengiginkan nyawa susulan untuk menutup mulut atas pembunuhan tersebut, dan Dikra serta Airyn bisa saja menjadi target, sebab Dikra berkemungkinan besar ingin mengusik kematian ayahnya, dan Airyn berkemungkinan besar mengetahui kebenaran atas orang dibalik surat kontrak.
****
Mobil Merry berhenti disebuah gubuk kecil, dengan beralas tanah sebagai lantai dasarnya, di pagar kayu ada akar-akar yang menjalar sebagai hiasan walaupun pagar tersebut sudah reyot seolah tidak ada penghuni disana, hanya saja disamping gubuk kecil itu ada dedaunan kering yang menutupi papan kokoh, jika dilihat secara seksama papan itu seperti sebuah pintu yang bisa terbuka, dan ternyata tebakan Merry sangat tepat.
Tempat ini terletak di bagian hutan balantara yang jarang di jamah oleh manusia, hanya saja ada jalan rahasia ditepian hutan yang bisa diakses oleh kendaraan umum, namun untuk mencapai tempat ini memerlukan janji temu dari sang pemilik untuk seseorang memasuki kawasan tersebut, dan sepertinya jalan itu sengaja dibuat untuk akses keluar masuk dengan cepat.
Namun di keseharian jalan raya yang berukuran kecil di pinggiran hutan itu sengaja ditutup dengan dedaunan dan beberapa kayu besar, hal itu sepertinya berfungsi untuk mengalihkan warga atau manusia yang menjamah hutan agar tidak berfikir ada kehidupan di sana.
Segelintir takut merayapi ketika Merry menyelisik kebawah sana, pandanganya terfokus pada bagian bawah tanah yang gelap dengan cahaya remang-remang, dari arah luar semuanya terlihat tua dan tidak ada kehidupan manusia, namun di bawah sana seperti sebuah penjara atau markas tersembunyi untuk seseorang, sekalipun ada rasa takut yang membuat bulu kuduknya merinding, tapi rasa penarasan mengalahkan fikiran Merry, ia perlu menemui sang penelpon atas keberadaan Griffin yang di tawanya.
****
"Secara garis besar Merry bukanlah pembunuh Paman William, kenapa kau menegaskan Merry terlibat" bantah Hansell ketika mendengar penjelasan Airyn.
"Karna dia menyembunyikan kebenaran tentang pembunuhan itu, secara tidak langsung dapat diartikan, jika Merry dengan suka rela menjadi kaki tangan pembunuh" balas Airyn dengan intonasi menekan, membuat Hansell terdiam.
"Bukankah Paman William yang memintanya, tentu itu akan menjadi hal yang berbeda" sambung Hansell ketika membantah ucapan istrinya, membuat wanita itu tertawa penuh dengan cemoohan.
"Hansell kau masih belum bisa memahamu manusia! Sekalipun Tuan William tidak meminta, Merry tetap menutupi pembunuhan itu. Apa kau tahu kenapa? Karna yang membunuh adalah orang di balik surat kontrak. Dia sudah mengetahui ponsel Tuan William ada dengan Merry, karna itulah orang tersebut meminta Merry kembali, karna harus membereskan bukti pembunuhan. Jika tidak, aku mungkin di dalam bahaya, atau akan ada tumbal selanjutnya. Dan kau tahu kenapa Tuan William meminta itu kepada Merry. Karna dia mencintai Merry, aku sudah menyadari hubungan mereka ketika pesta perpisahan di masa lalu, dari sana aku memperhatikan pandangan Tuan William tidak asing kepada Merry, pandanganya snagat dalam dan penuh arti, membuat aku menyelidiki diam-diam dan ternyata Tuan William mencintai Merry sedari dulu. Beliau mengatakan hal itu, agar Merry tidak menyalahkan dirinya karna beliau mengetahui jika Merry akan melakukan hal tersebut. Tapi apa kau tahu kesimpulan apa yang lebih penting dari semua itu..... "
Dengan cepat Hansell menantang melihat Airyn, untuk mendengatkan kelanjutanya.
"Kenyataan bahwa Tuan William mengetahui siapa orang yang berada di balik surat kontrak. Sebab hanya beliaulah yang meninggal tanpa ada alasan pengkhianatan. Hanya saja nasib malang terlalu cepat memghampiri tanpa ada antisipasi" tutup Airyn dengan diam, membuat Hansell terpana meskipun ia masih saja tidak menyangka, meskipun begitu Hansell dapat merasakan betapa sedihnya kehidupan dua wanita itu.
Hening membentang diantara keduanya....
Airyn berdiri di tengah taman yang tidak jauh dari Apartemen Hansell, ia mengunakan pakaian hangat yang cukup untuk melindungi tubuh dikala musim dingin, Airyn menundukan kepala ketika duduk disampaing suaminya, bahkan suasana cangung semakin nyata diantara keduanya, tentu setelah pertengkatan yang terjadi di dalam sana, Hansell mengamankan istrinya untuk keluar dari rumah, bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan keadaan semakin memburuk hingga semuanya salah paham, meskipun saat ini Airyn masih bertahan dengan sikap datar tanpa emosi apapun, namun Hansell dapat merasakan bagaimana gejolak takut didalam tubuh istrinya.
Secara perlahan pria itu berlutut dihadapan Airyn sembari mengenggam jemari istrinya, Hansell mencoba menenangkan diri untuk melindungi Airyn, setidaknya ia sadar Airyn bersusah payah menahan diri agar tidak hancur dengan air mata, tapi Hansell tengah bersusah payah menjadi penangkal untuk air mata itu agar mengalir tanpa jeda, sebab tidak ada alasan bagi Airyn untuk menahanya, bagaimanapun Airyn hanyalah seorang wanita, ia perlu mengeluarkan emosi tanpa menjaga perasaan Hansell.
Kedua mata Hansell menatap lekat-lekat penuh sayang, ia mencium tangan istrinya secara lembut untuk mentransfer rasa nyaman yang perlu ditimbulkan, pria itu berdiri dari posisi untuk mengusap kepala Airyn yang bermaksud memanjai, berhasil ada gejolak air mata yang timbul secara perlahan, membuat Hansell mecoba membuka sedikit mantel hangatnya untuk menutupi wajah istrinya, hingga tangisan itu pecah sampai mengetarkan tubuh mungil di dalam rengkulan hangat, tangan Hansell mengusap pundak istrinya secara perlahan dan secara nyaman Airyn bergantung baju Hansell dalam rangka mencengkram, semua rasa sakit, perih dan juga terluka dikeluarkan.
“Menangislah” ucap Hansell dengan sayang, seolah ia sulit membendung air matanya sendiri, namun Hansell bertahan di dalam tegaknya untuk menutupi wajah Airyn yang hancur dengan air mata, Hansell paham bagaimana hancur perasaan Airyn saat ini, ketika ia sulit mempercayai ibu kandungnya, dan sekarang orang yang mulai dipedulikan oleh Airyn tidak mempercayai dirinya.
Bahkan Hansell dapat merasakan bagaimana sakitnya tamparan Angel, bukan sakit secara fisik, melainkan batin. Mungkin rasa perih itu sudah menghilang dipermukaan kulit Airyn nan tipis, namun rasa perih dibatin dan hatinya masih saja melingkup, hingga berulang-ulang menghantam Airyn yang berusaha tegar.
Andai saja semua rasa luka yang dialami istrinya mampu dialihkan pada Jansell, mungkin saat ini Hansell dapat berbahagia karna Airyn tidak akan terluka, tapi mengapa Airyn selalu menderita dan juga tersakit oleh orang-orang yang dipedulikanya, jika benar hidup wanita ini sesulit itu, kenapa dari awal tuhan memberikan alasan untuk Airyn harus bertahan, dengan lingkungan yang kejam sangat tidak etis untuk dirinya terus mengalah dan bersabar pada mereka.
“Hansell. Jangan salahkan dirimu sendiri” ucapan itu menghentikan debaran jengkel yang mengalir dialiran darah Hansell, membuat matanya teralih kehadapan Airyn untuk menatap “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua bukan salahmu, bukan salah Angel ataupun Dikra” sambung Airyn sekali lagi dengan wajah tegar, bahkan ia menahan isakanya untuk berucap dengan jelas.
“Sudahlah. Jangan pikirkan mereka, pikirkan dirimu sendiri” pinta Hansell ketika memeluk tubuh istrinya, bahkan ia mengusap pipi Airyn untuk menghapus air mata yang terus mengalir disana
“Hansell” lirih Airyn sekali lagi ketika berdiri dari duduknya, bahkan kali ini ia beridri dihadapan Hansell dengan yakin, seolah Airyn sangat mandiri mengatur perasaan dan hatinya, membuat pria itu terpana atas perubahan Airyn secara mendadak, tangan mungil itu mendorong tubuh suaminya utuk menjauh dan memberi ruang bagi Airyn untuk bernafas, setidaknya Airyn tidak ingin berada di rangkulan Hansell untuk melepaskan sesak, ia perlu memberi jeda untuk dirinya bertahan.
Dari tatapan mata saja membuat kening Hansell berkerut, entah apa yang terlintas difikirannya seolah sama dengan apa yang ingin Airyn sampaikan, bahkan belum sempat wanita itu membuka mulut, Hansell seolah mengerti apa maksud sesunggunya.
“Tidak airyn. Apa kau ingin meninggalkan diriku lagi. Tidak Airyn! kau tidak bisa mempermainkan diriku terus menerus seperti ini! Sekarang hubungan kita bukan lelucon pasangan kekasih yang bisa putus begitu saja. Sekarang kau adalah istriku, tidak pantas untuk kau mengakiri semuanya semau dirimu. Aku tidak ingin menjadi lelucon lagi, jangan pernah menganggap remeh diriku, jika tidak aku akan mengakiri hidupku sendiri” racau Hansell ketika meraih tangan istrinya, seolah rasa takut ditinggalkan itu menjelma, tentu Hansell bisa menebak apa yang akan dilakukan wanitanya pada hubungan mereka.
Bukankah ini sudah kebiasan untuk Airyn, disaat sesuatu tidak berjalan dengan baik, dia menjadikan hubungan sebagai pelarian, dan Airyn selalu menjadikan Hansell alasan untuk dia meraih kebahagian, jika seperti ini bagaimana bisa Hansell membiarkan begitu saja, ketika dirinya dan Airyn terjebak didalam suatu hubungan yang sakral.
“Sayang, apa yang kau katakan” balas Airyn saat memberanikan diri bersuara, bahkan ia berhasil menghentika racauan yang tidak masuk akal yang barusan dilontarkan oleh Hansell, tentu Airyn mengerti bagaimana posisi Hansell saat ini, sehingga dirinya dapat menilai betapa takutnya Hansell jika Airyn pergi dan menghilang secara tiba-tiba, tapi bukan itu maksudnya “Aku tidak akan meninggalkan dirimu, aku sangat mencintaimu” kalimat itu terhenti saat Hansell terdiam kaku mendengar penjelesan istrinya, ia merasa sedikit tenang jika Airyn mempu mengalahkan kekhawatiran yang melanda.
“Tapi Hansell, ada sesuatu yang perlu aku lakukan. Dan apa kau bisa menungguku” sambung wanita itu dengan penuh maksud, membuat Hansell mengelengkan kepala secara cepat, seolah ia tidak bisa menerima alasan apapun atau permintaan apapun.
“Hansell. Aku akan kembali” ucap Airyn dengan meyakinkan, bahkan ia mengusap tangan suaminya agar lebih mengerti.
“Apa maksudmu dengan menunggu, apa kau ingin pergi. Bukankah itu sama saja jika kau ingin meninggalkan aku, jika kau ingin melakukan sesuatu libatkan aku, jika kau ingin pergi bawa aku bersama mu, kenapa Kau harus menjelaskan dengan penuh alasan yang tidak masuk akal. Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan Airyn, aku tidak bisa mengizinkanya. Dan kau tidak boleh pergi. Jangam menakuti diriku dengan cara yang seperti ini” bentak Hansell dengan kesal, bahkan ia bersikeras untuk mempertahankan keinginanya
“Hansell, apa kau ingat apa yang telah aku ucapkan terakir kali, jangan meninggalkan aku, jangan kecewa padaku, jangan pergi, dan jangan terluka atas apa yang aku lakukan. Dan sekarang kau menepati janji itu. Kau melakukanya dengan sangat baik, kau berada disisiku ketika faktanya merujuk atas kesalahanku, kau tahu sendiri bukan. Ayahmu ada campur tanganku atas meninggalnya, tapi kau tidak kecewa dan tidak pergi atau membenciku, karna kau terikat atas janji kita. Aku berterima kasih atas itu semua, mungkin aku tidak akan bisa menemukan pria lain seperti dirimu, hanya saja aku tidak sepercaya diri itu berdiri disisimu sayang. Memikirkan diriku yang terlibat saja sudah membuatku semakin tersakiti untuk menatap kedua matamu, aku yang tidak bisa mengatasi perasaanku, aku bahkan lebih kecewa pada diriku sendiri. Akibat aku bertahan banyak orang yang terluka dan kehilangan, aku sangat mengerti bagaimana perihnya kehilangan, tapi akibat diriku, Kau, Angel, Dikra dan semua orang merasakan hal yang sama. Aku terkadang berfikir, apakah aku pantas bahagia seperti ini, memimpikan masa depan denganmu, dan menikmati semua kekuasaan dipuncak, namun mengorbankan banyak orang dan kebahagian mereka” jelas Airyn dengan hati perih yang hampir menderaskan air mata.
“Tapi itu semua bukan salahmu. Itu akibat orang yang berada dibalik surat kontrak itu. Dia yang menghancurkan musuhmu, dan kau tidak pernah mencari pertentangan dengan ayahku dan Dikra. Mereka sendiri yang menentang, bukankah itu hukum yang dibuat oleh orang tersebut, yang menentang dirimu akan lenyap. Kenapa kau harus menyalahkan dirimu sendiri, disaat itu bukanlah keinginan mu” bentak Hansell dengan nada mengeras, bahkan auranya hampir mengelap ketika istrinya menyalahkan diri sendiri, bukankah Airyn terlalu egois.
Dia meminta Hansell untuk tidak menyalahkan dirinya, tapi Airyn sendiru terjebak kedalam perasaan itu.
“Tetap saja Hansell, karna diriku dia melakukan semui itu. Dan sepantasnya aku bertanggung jawab” bantah Aiyrn dengan gamblang, membuat bibir Hansell kelu ketika memandang wajah istrinya, kenapa Airyn terlalu kerasa pada dirinya sendiri, padahal dia juga korban atas semua ini, lalu untuk apa ia perlu bertanggung jawab, jika kenyataanya dia tidak membuat kesalahan apapun.
Memikirkannya saja sudah membuat darah Hansell mendidih getir ketika sadar istrinya jauh lebih terluka dari yang di bayangkan.
Sebab hal yang peling menyakitkan itu bukanlah perasaan kehilangan atau terluka akibat seseorang, melainkan rasa bersalah kepada diri sendiri yang tidak memiliki akir dan jalan keluar.
Hansell hanya mampu memeluk tubuh Airyn sekali lagi, ia tidak bisa berkata apapun jika istrinya sudah terlampau jauh tengelam kedalam rasa bersalah, dengan terus menahan Airyn itu akan menghancurkan kehidupanya, tapi jika Hansell mampu memberikan sedikit ruang, mungkin saja Airyn bisa memiliki jalan keluar, untuk memperbaiki hati dan luka yang masih mengaga.
“Hari ini kita tidur di Hotel, semua keperluanmu akan aku antar kesana. Jangan membatah jika tidak ingin aku penjarakan di Hotel” titah Hansell ketika menarik tangan istrinya secara perintah, dengan cepat seluruh Bodyguard Hansell membuka pintu mobil untuk dimasuki majikanya, Hansell menarik Airyn untuk duduk tenang di dalam pangkuanya, bagaimanapun Airyn perlu istirahat untuk hari esok, mungkin akan ada masalah kecil yang perlu mereka hadapi dan selesaikan, sebelum Airyn berfikir menyelesaikan masalahnya dengan orang yang berada di balik surat kontrak tersebut.