Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Tangisan wanita



“Tidak mungkin, apa kau gila! Sekalipun aku percaya jika Ji terlibat semua ini, tapi aku tidak bisa mempercayai dirinya bersekutu dengan Griffin, meskipun aku tidak pernah mencintai Ji, aku mengenal pria itu selama ini, dia tidak akan mampu berkerjasama dengan Griffin, karna Ji amat membenci Griffin! Ji tidak akan melonggarkan prinsipnya, sekalipun itu tentang diriku. Dan juga, mereka berdua saling membunuh bagaimana bisa mereka bekerja sama. Ini tidak mungkin! jelas sekali ini tidak mungkin, Merry” bantah wanita itu seketika, hingga penuturan Iriana membuat Merry terdiam. Benar, ia meragukan argumentasinya, tapi Merry telah mendapatkan bukti, tentang orang terakir yang ditemui Louis adalah Ji, bahkan ia melihat sendiri Ji, Berto dan seseorang yang tidak bisa ia akses, berada ditempat kejadian, dimana Louis dilenyapkan dengan menyuntikan virus mematikan tanpa mampu diselamatkan, bukankah Griffin orang yang paling gemar mengembangkan virus-virus langka untuk membunuh musuhnya, bahkan ia kerap kali mengunakan virus itu kepada senjata mematikan, jadi dengan virus yang sulit terdeteksi yang masuk kedarah Louis, bahkan berukuran minim untuk sulit dikenali, dari siapa lagi Ji mendapatkanya, selain dari Griffin.


Tangan Merry mengepal, saat mengigat kematian Louis Petrov, bahkan ia sudah bertekad membalaskan kematian Louis yang tidak adil bagi dirinya, tentu kematian Betro adalah kepuasan beserta kesedihan tersendiri bagi Merry, tapi ia menunggu beberapa orang lagi untuk menjadi target penghukuman yang pantas mereka dapatkan, entah itu Ji atau Griffin, keduanya diyakini terlibat semua ini, bahkan hilangnya Ji saat ini, adalah bentuk menyembunyikan diri yang dilakukanya, atau bisa saja Ji tengah meyusun siasat untuk menghancurkan Airyn.


Membuat Merry tidak akan lengah untuk memantau putrinya, Merry percaya Airyn cerdik dalam mengamati langkah musuh, hanya saja wanita itu terlanjur larut kedalam kehidupan pribadi, anaknya terlampau memasang badan untuk melindungi Hansell, hingga lengah dalam menyelamatkan dirinya.


“Merry, sepertinya aku mengigat sesuatu?” sontak kalimat yang Iriana lontarkan mengheningkan kedua wanita itu, bahkan tatapan mata keduanya menampilkan ketegangan, seketika saja wajah Merry memucat karna aliran darah berhenti digaris wajahnya, membuat bibirnya bungkam tanpa ada kalimat yang terlontar, merry amat berdebar diantara keheniang yang terbentang sekali lagi diantara mereka.


****


Untuk menghibur istrinya yang baru saja terluka akan sikap kasarnya, Hansell berniat mengajak Airyn berjalan-jalan disekitaran pantai Jeju, yang terbentang luas dengan lukisan alam yang indah, mobil yang mereka kendarai adalah keluaran terbaru dari negara asalnya, Italia. Lamborghini huracam performante spyder dengan warna hijau terang, terkesan amat mewah hingga mampu membuat mata orang terdiam saat memandang, karna Lamborghini ini sudah punya sistem lambattghorma onerziale (LPI), jadi semuanya diatur dengan sistem elektronik secara real time.


Selain itu Airyn merasa biasa saja dengan mobil yang Hansell gunakan, bahkan ketika suaminya mengendarai, Airyn lebih tertarik dengan pemandangan disepanjang pantai, yang membentang luas dengan lukisan alam yang indah, biasanya Airyn hanya melihat pantai saat menetap di Tiongkok, tapi selama di Korea ia jarang menjelajahi tepian, membuat wanita itu menghadirkan memori indah saat bersama Hansell di Villa miliknya.


“Kenapa kau tersenyum?” cela pria yang baru saja terlintas difikiran Airyn, bahkan badan pria itu dicondingkan untuk melirik wajah istrinya, membuat Hansell memandang Airyn dengan raut binggung.


“Tidak, aku hanya memikirkan beberapa hal lucu saja” sambungnya sambil mengenakan kaca mata untuk menangkis kilau matahari yang menyakiti pelipis, hanya hanya terkekah seolah kesal dengan tingkah istrinya yang menyebalkan.


Roda mobil berputar sesuai dengan porosnya, mengantarkan sang penumpang melaju lebih cepat dari sebelumnya, bahkan tikungan yang mereka beloki terasa goresan ban yang kasar dengan aspal.


“Apakah ibumu masih disini Airyn?” tanya Hansell dengan nada rendah, sambil memutar stir mobil untuk mengikuti arah jalan, sesaat Hansell teringat akan Airyn yang menagis sepanjang malam setelah menerima telfon Merry, tentu ada rasa ingin tahu yang besar, tapi ia mencoba bertanya dengan pelan-pelan, mungkin saja Istrinya mau berbagi cerita, jika Hansell sabar dalam menghadapinya


“Tidak, ia sudah pergi, seusai pesta malam itu” balas Airyn dengan kalimat dingin, sambil memandang kearah samping, dengan hamparan pantai yang sedari tadi dilalui oleh matanya


“Apakah kau menangis karna Merry meninggalkanmu?” tanya pria itu dengan sedikit gugup, padahal Airyn adalah istrinya, tapi masalah yang Airyn miliki selalu saja membuat Hansell gugup untuk bertanya, pandangan wanita itu menatap kewajah pria yang memiliki keingintahuan besar, ia sangat enggan bercerita, tapi saat ini Hansell suaminya, bukankah Airyn harus jujur kepada pria itu, jika ia sudah memilih Hansell sebagai tujuan hidup yang menemaninya hingga hari nanti, sudah pantas Hansell mengetahui garis besar tentang kehidupan Airyn.


“Sebanarnya tidak ada apa-apa, selain aku mengkhawatirkan Merry saja. Kekacauan ini terjadi akibat Griffin dan keluarganya, dulu aku diculik oleh Griffin sebagai barter untuk menukar dengan anaknya, James. Beruntung saat itu, ayah mendapatkanku tanpa memberikan James, kata Merry dimasa lampau, aku memiliki hubungan yang baik dengan pria itu, bahkan aku menghargainya sebagai kakak laki-laki, namun setelah penculikan yang terjadi, aku merasa takut pada James, dan menjauhinya begitu saja, bahkan aku membenci Merry yang kutahu sebagai ibu kandung yang sudah melahirkanku, dengan umur yang masih muda sekali, tentu saja menjadi faktor sulit untuk aku memahami fakta gila, dan Merry pasti sangat terluka. Tapi aku yakin dirinya memahami anak kecil yang belum bisa menerima dan menghadapi semua itu. Hingga ayah memberikan keputusan untuk menghapus ingatan dan memanipulasi Memoriku, baik tentang Merry yang sebagai ibu kandung, tentang penculikan itu, serta James yang ku anggap kakak laki-laki. Merry mengatakan, jika James dipindahkan kepanti asuhan bukan untuk menjauh dariku, hal itu dilakukan untuk menyelamatkanya dari tangan Griffin. Dulu, sebagai sahabat Nyonya Iriana, yang memiliki tanggung jawab atas putranya. Merry menyembunyikan James dipanti asuhan yang sengaja didirikan di daerah pedesaan, agar Griffin menganggap putranya telah meninggal, akibat kebakaran yang terjadi selama proses penyelamatanku. Tapi ternyata, keputusan untuk menyembunyikan James, adalah hal yang salah. James sangat merindukan ayahnya, ia sangat dekat denganku, dan juga Merry pada saat itu, namun tiba-tiba ia diasingkan dari Rumah untuk tinggal di Panti yang tidak ada siapapum selain penjaga, tentu saja dengan usia yang sedini itu James keliru, ia hanya melihat tindakan dan mengabaikan alasan, James merasa dibuang dari keluarga, baim dari ibunya, dan keluarga Petrov, dia merasa kamilah yang menculik dirinya, dan James merasa Nyonya Iriana yang paling jahat, meninggalkan James dikeluarga Petrov untuk menikah dengan Tuan Ji, serta ayahnya yang malang itu menjadi korban atas selingkuh yang dilakukan Nyonya Iriana. Dengan semua kekeliruan itu membuat James mengincar ibunya untuk balas dendam, dan Merry yang sudah sadar akan kesalahan nya ini. berusaha melindungi Nyonya Iriana, aku percaya, saat ini Merry tengah bertemu teman lamanya dan menceritakan semua kesalahanya, dan aku percaya, Nyonya Iriana tidak akan mendengarkan ucapan Merry, dan tidak akan terjadi hasil baik kecuali, Nyonya Iriana menyadari bukti atas perkataan yang Merry ucapkan, sebagai kebenaran” Jelas Airyn dengan penuturan lambat yang merasuki otak Hansell,membuat pria itu terdiam, dengan pandangan terpaku kearah depan. Ia tidak menyangka semuanya serumit ini, pantas saja saat benang kusut itu diperbaiki semuanya seolah terlilit parah, sebab akarnya saja sudah sangat berbelit-belit. Jika dasarnya saja tidak memiliki jalan keluar dimasa lalu, apakah masa depan dapat merubah dan meluruskanya?


Hansell menepikan mobilnya di pinggiran pantai, terlihat sekali bagaimana indahnya surya senja yang terpapar kearah mereka, bahkan desir pasir terdengar jelas dibibir pantai, sampai hembusan angin menerjang rambut Airyn hingga berkibas, Hansell membuka settbell yang melingkari tubuhnya dan tubuh istrinya, pria itu mengusap kepala Airyn sambil mencium punggung jemarinya.


Ia sadar, jika Airyn telah mengalami masa lalu buruk dan menyedihkan, ia juga sadar Airyn bertahan diatas lelahnya sebuah perasaan, tapi hari ini wanita itu terlihat semakin kuat, atas proses-proses sulit yang telah dilewatkan.


“Aku tidak menyangka, jika istriku mengalami semua itu. Tapi sayang, semua yang terjadi tentu memiliki alasan, dan alasan dari semua itu adalah teka-teki yang harus kita selesaikan. Jangan takut, dan percaya pada Merry, Dia pasti melakukan yang terbaik untuk melindungi dirinya, karna Merry jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan” Hansell memeluk Airyn dengan penuh sayang, semoga saja pelukan ini menjadi obat atas kecemasan yang melanda istrinya, membuat Airyn membalas pelukan hangat dari Hansell, hingga terasa sekali bagaimana ia tersentuh akan kehadiran keduanya yang saling menguatkan.


Semua yang terjadi, pastilah membingungkan, tapi apapun yang sudah terjadi dan dirasa buntu akan jalan keluar, lambat laun sudah memperlihatkan arah untuk terus berjalan dalam menelusurinya, jadi Hansell percaya dengan kalimat “Badai akan berlalu” bahkan tanpa Airyn meminta sekalipun, masalah itu pasti akan berakir, karna tuhan tidak pernah menguji manusia melebihi batas kemampuanya sendiri. Jika saat ini Airyn memiliki beban berat dipundaknya, itu semua pasti karna Airyn manusia yang hebat hingga mampu melalui semuanya.


Hansell menarik tangan Airyn untuk mendekat kepinggir pantai, tentu ada penolakan dari istrinya, karna saat ini Airyn mengunakan pakaian kerja yang formal, ia tidak ingin mengotori baju dengan hal kekanak-kanakan, hanya saja Hansell tidak sebaik itu jadi pria, Ia mengendong tubuh istrinya dan menghempaskan tubuh Airyn keair laut, mengundang kutukan beruntun yang diucapkan wanita itu, bahkan saat Airyn mengocehkan kalimat, Hansell dengan cekatan menerjangnya dengan air yang menghujani Airyn, tentu terjadi beberapa peperangan diantara keduanya, hingga gelak tawa terjadi diantara mereka, Hansell memeluk tubuh istrinya dari arah belakang untuk mengunci lengan kecil Airyn


"Berhenti... sudahhh! pakaian kita sudah basah kuyup" ucap Hansell dengan nafas yang naik turun, bagaimana tidak ia begitu semangat menggoda istrinya


"Tidak! aku masih ingin melanjutkanya, bukankah kau yang ingin bermain tadi, kenapa berhenti begitu saja, ayo main lagi" sanggah Airyn seketika, sambil memalingkan wajah melirik kearah samping, ia begitu menghina saat melontarka kalimatnya, membuat Hansell menahan senyum akan sikap yang Airyn tampilkan


"Aku hanya memandikanmu sayang, kenapa kau malah membalasku"


"Apa kau gila, memandikanku dengan air laut"


"kenapa tidak, tetap saja ini air"


"Tapi ada bedanya" ketus Airyn dengan begitu geram, ia bahkan membalikan badan memandang suaminya yang dirasa bodoh


"Tidak ada yang beda.." balas Hansell seketika, pria itu mengumpulkan air dengan tanganya lalu di tumpahkan dihadapan Airyn "lihat...lihat... tetap air kan" ucap Hansell dengan meyakinkan, membuat Airyn memejamkan mata melihat tingkah bodoh yang Hansell tampilkan.


"Tapi air laut tidak digunakan untuk mandi. Apa kau bodoh! " sanggahnya dengan geram, membuat wanita itu berkacak pinggang dihadapan suaminya.


"Heiii.. ayolah, sama saja" kekeh Hansell mempertahankan argumentasinya, seolah Hansell sengaja mempermainkan Airyn, dengan tenang Airyn memejamkan mata untuk mengendalikan emosk, sembari mengumpulkan air dengan tanganya, lalu dioleskan kebibir Hansell, hingga buliran air tercecap di indra perasa Hansell, betapa kagetnya pria itu saat merasakan Air Laut yang asin.


"Airyn..... apa kau gila, ini asin sekali" teriak Hansell dengan tidak percaya, sambil memandang istrinya yang memelototkan kedua mata.


"Kenapa kau teriak sayang, apa Air ini manis? Apa ini rasanya tawar? bukankah kau bilang ini tetap saja Air, lalu apa salahnya. Rasakan air laut yang kau anggap sama itu" hina Airyn dengan tatapan merendahkan, bahkan menyulutkan emosi Hansell yang mulai membara.


"Aish wanita ini, jika kau memasukanya kemulutku tetap saja salah, sudah jelas air laut sangat asin, jika digunakan untuk mandi apa salahnya" sanggah pria itu seolah tidak ingin kalah dari istrinya


"Teserah kau saja, mulai detik ini, jangan pernah mandi dirumah, mandi saja dilaut" dengus Airyn dengan kesal, ia kelaur dari sana dan membersihkan pakaian yang terkena pasir, sambil meraih sendal yang sempat terlepas, bahkan membuat Airyn terdiam saat memandang sebuah sendalnya


"Kenapa kau diam" perlahan Hansell mengikuti langkah Airyn "Kenapa kau menangis?" sambungnya seketika seolah tidak percaya "Sayang aku bercanda, apa kau menangis karna aku kelewatan, aku hanya mengodamu saja, aku janji tidak akan mempermainkanmu lagi, aku tidak ingin mandi dengan air laut, aku hanya ingin mandi dikamar kita, maafkan aku" cerocos Hansell dengan memohon, bahkan ia tidak menyangka Airyn akan menangis akibat gurauanya


"Bukan itu masalahnya, sendalku hilang sebelah. Pasti dibawa ombak, bagaimana aku bisa jalan jika tidak ada sendal. Aish sial" umpat Airyn dengan air mata yang menderas, membuat Hansell tertegun memandang Istrinya yang sesungukan dengan air mata


"Jadi kau menangis karna sendalmu hilang? " tanya Pria itu sekali lagi untuk memastikan


"Iya" sahut istrinya beserta anggukan kepala, bahkan tangisan itu membuat Airyn sesugukan tanpa mampu bicara


"Astaga, kenapa kau mengemaskan sekali" pipi hansell memerah seolah ia tidak tahan akan tingkah imut istrinya, pria itu memeluk Airyn sambil memberika ketenangan, bahkan Hansell terkekeh diam-diam, hingga lambat laun tangisan Airyn mereda, pria itu melepaskan tubuh airyn untuk menghadiahkan ciuman dipipi bulat istrinya, sebagai permintaan maaf yang tulus.


"Pakai sepatuku, dan jangan menangis lagi" Hansell berlutut memasangkan kedua sepatunya, yang kebesaran dikaki Airyn. Setidaknya, sepatu itu bisa melindungi Airyn agar tidak kedinginan.


Setelah selesai, Hansell meyiapkan punggung untuk Airyn naiki, tentu ada penolakan hingga Hansell berhasil mengendong Airyn menuju mobil, pria itu memesan sebuah butik untuk mereka berganti pakaian, dengan layanan VVIP tentu dengan segera pihak toko mengosongkan tempat untuk keduanya, hingga Airyn dapat berganti pakaian agar tidak kedinginan, membuat Hansell tersenyum diruang tunggu sambil mengigat wajah istrinya yang kesal sambil menangis, sangat mengemaskan hingga ia ingin memeluk Airyn habis-habisan.


Seusai dari sana, mereka menuju ketempat Dinner yang di inginkan Airyn, bahkan Hansell masih belum lupa akan sikap istrinya, dan sekarang wanita itu duduk manis disampingnya, seolah tidak sadar telah membuat Hansell jatuh hati berkali-kali.


Airyn dan Hasell menikmati makan malam mereka di Restouran yang terkenal di pulau Jeju, tentu tempat itu bukan kelas atas yang lengkap dengan fasilitas mewah, hanya saja sebuah tempat dinner yang indah lengkap dengan nuansa romantis yang amat kental, dan terkenal di pulau Jeju.


Konon katanya, saat melihat salju pertama di tempat itu, bisa membuat hubungan seseorang bertahan hingga hari tua, jika itu benar adanya, apakah ini sebuah takdir? Airyn tentu memperkirakan salju pertama akan turun malam ini, sebab ia sering memperhatikan perubahan cuaca untuk berjaga-jaga.


“Apa kau suka?” tanya Hansell kepada istrinya, membuaat Airyn mengelengkan kepala untuk mempermainkan suaminya


“Kita pindah saja” paksa Hansell saat menarik jemari Airyn


“Tidak…tidakk…aku menyukainya” balas Airyn seketika, bahkan ia tersenyum manja menyaksikan tingkah mengemaskan dari Hansell. Jika Airyn terus berbohong bisa saja Hansell benar-benar membawanya pergi dari tempat ini, dan merusak suasana romantis mereka.


Keduanya mendudukan diri, sambil Hansell menarik kursi untuk istrinya, ia memesan bebarapa menu untuk santapan mereka, karna pria itu mengerti jika istrinya pasti


kelaparan, jadi Hansell memesan banyak makanan untuk wanita yang begitu cantik, yang saat ini berada didepan mata.


“Apa kau tengah menunggu sesuatu?” tanya Hansell saat melihat wajah Airyn, yang sedari tadi memandang kearah luar. Tentu saja menawarkan pemandangan yang terbentang indah, keseluruh pulau Jeju dengan lukisan alam yang sempurna


“Apa yang kau tunggu?” tanya pria itu dengan kalimat lembut, bahkan ia mengenggam tangan airyn yang berada diatas meja, membuat wanita itu memalingkan wajah kepada suaminya, mengigat betapa bahagianya Airyn saat ini, bisa dicintai oleh pria seperti Hansell.


“Salju pertama” ucapnya dengan penuh maksud, membuat Hansell merasakan getaran sayang dari intonasi suara yang Airyn lantunkan, selama ini wanita itu tidak pernah berucap setulus ini kepada Hansell, ia selalu menepiskan perasaan sayang dengan terus membohongi diri, tapi kali ini Airyn tidak lagi menyembunyikan apapun, seperti Salju Pertama yang terjun bebas dengan indah, bahkan membuat Airyn tidak sadar akan apa yang ia nanti, dan terfokus pada kekasih hati.


Hansell jauh lebih indah dari salju pertama. Di hari ini, laki-laki yang amat sayang dan selalu mementingkan Airyn adalah satu-satunya yang pernah di miliki bumi, tidak akan ada Hansell kedua didunia ini, sekalipun itu ada mungkin saja renkranasi dari suaminya ini.


“Airyn, aku mencintaimu” pandagan Airyn di sambut dengan penuh haru dan ketulusan, bahkan penuturan kalimat cinta yang Hansell lantunkan, mengema kependengaranya, membuat Airyn menganggukan kepala, dan mendekatkan tubuh kepada suaminya, kali ini Airyn tidak bisa menahan lagi, ia benar-benar mencintai Hansell, membuat tubuhnya sulit dikendalikan, spontan Hansell berdiri dari duduknya, sambil meraih tubuh Airyn, untuk mendaratkan bibir lembutnya di permukaan bibir hangat istrinya, mata Airyn membulat secara sempurna seolah tidak percaya, bahkan jemari Hansell tanpa sadar meraih leher jejang yang dimiliki istrinya, tentu saja beradu cinta ditengah meraknya salju berjatuhan, adalah makna romantis yang tidak boleh diabaikan, seolah dua pasangan itu memiliki dunia tanpa menghiraukan keadaan.


Ciuman yang terjalin begitu lembut, benar-benar meluluhkan perasaan keduanya, Airyn yang tadinya mengikat rambut dengn kuciran, perlahan dilepaskan oleh jemari Hansell, tentu saja untaian rambut indah Airyn mempertontonkan kecantikan istrinya, sekali lagi Hansell sangat mencintai Airyn, dan untuk terakir kalinya Airyn memiliki pria yang akan ada seumur hidupnya.


Sebuah cahaya mengarah kepada mereka, hingga menghentikan interaksi kedua tubuh yang terjalin api cinta, mereka terlanjur terpaku kepada suasana malam dengan nuansa damai, hingga tidak menghiraukan semua mata memandang iri atas pasangan serasi malam ini, dan salju pertama yang melatar belakangi percintaan romantis keduanya yang hampir terasa erotis, membuat Airyn benar-benar kehilangan dirinya, salju pertama yang ia nanti, terkalahkan dengan pesona suaminya malam ini.


“Selamat kepada kalian berdua” ucap seseorang dengan pengeras suara, membuat Airyn dan Hansell menyipitkan mata atas kilauan yang mengarah kepada mereka.


Keduanya memperhatikan keadaan yang di iringi tepukan tanggan para pengunjung , hanya saja cahaya yang menyinari membuat pandangan Hansell dan Airyn terputus untuk melihat lingkungan sekitar, bahkan Airyn tidak mampu melihat keluar ruangan yang terasa gelap, dan hanya mereka berdua didalam sana


“Kalian adalah pasangan yang terpilih malam ini, sebagai pasangan yang begitu menikmati salju pertama, jadi untuk itu kami akan memberikan kalian waktu untuk berdansa" Sontak kalimat itu menyadarkan Airyn, jika salju pertama yang ia nanti, sudah tiba.


Membuat wanita itu amat bahagia dan memeluk tubuh suaminya, tentu karna dirinya malu sekali, menjadi pusat perhatian, hanya saja Hansell berada disamping Airyn malam ini, jadi Airyn tidak perlu ragu lagi menunjukan diri dan hubungan mereka.


Alunan tiba-tiba saja diputar ditengah kebingugan antara Airyn dan Hansell, hanya saja lambat laun lantunan iramanya terasa amat syahdu, membuat kebingungan yang ada diantara Airyn dan Hansell sirna, bukankah Airyn sudah mengetahui hal ini, jika salju pertama akan hadir dan orang yang terpilih menjadi pasangan, akan berdansa ria seolah ruangan ini untuk mereka.


Jadi untuk berterimakasih, Airyn perlu menampilkan romantisme mereka, apakah Airyn bisa melakukanya? sebelumnya ia tidak pernah berdansa, sekalipun Airyn berada dikelas atas, Airyn jarang menghadiri pesta, bahkan ia tidak pernah mengikuti kelas dansa, jadi apa Airyn bisa melakukanya? jika dirinya percaya diri mengerakan tubuh, wanita itu takut mempermalukan Hansell dengan gerakan buruknya.


Sadar akan kebinggungan yang ada di wajah Istrinya, membuat senyum tipis menyamar dipermukaan wajahnya, Hansell menarik tubuh Airyn tanpa izin dan menempelkan jemari mereka, bahkah Hansell tidak memberikan jarak diantara keduanya, dan mencondongkan wajahnya ke telinga Airyn hingga gadis itu bergindik gugup "Jangan terlalu banyak berfikir, dan ikuti saja iramanya sambil melihat mataku" ucap Hansell dengan kalimat sensual, bahkan lirikan matanya saja mampu membuat sekujur tubuh Airyn merinding "Kenapa Hansell berubah menjadi pria perayu" batin Airyn dengan penuh kebingungan.


Tubuhnya dan Airyn melekat intim, tak segan ia mengandeng pinggang istrinya dengan intensitas penuh, bahkan mereka memperlihatkan kelekatan hubungan yang terjalin, gerak kaki yang seirama dengan alunan musik yang merdu, benar-benar membuat pasangan itu menari-nari ditengah ramainya orang memuji, bahkan begitu banyak yang bertepuk tangan saat memperhatikan, Hansell dan Airyn hanya sibuk memandang satu sama lain.


Airyn tadinya seperti orang bodoh yang tidak tahu cara berdansa, tiba-tiba saja menjelma menjadi gadis piawai yang mampu mengerakan tubuhnya dengan sempurna, benar-benar membuat Hansell terpesona setengah mati.


Gerakan yang perlahan-lahan mengebu-gebukan detak jantung mereka mulai meredupkan cahaya disekitaran, saat alunan musik sampai dipenghujung permainan, Airyn memalingkan wajah kepada jendela kaca untuk melihat salju pertama yang turun malam ini, hingga dirinya tidak sadar jika banyak orang yang telah melihatnya dan Hansell dalam berdansa, membuat pipi Airyn memerah akibat malu yang tidak tertahan lagi, sadar jika istrinya terkungkung gugup, Hansell mencium Airyn dan mengajaknya duduk kembali.


Seketika tempat itu kembali seperti semula, dimana semua orang menikmati makan malam mereka, sedangkan Hansell dan Airyn mendapatkan satu buket bunga yang di berikan pada Hansell, untuk dipersembahkan kepada istrinya, tentu saja mereka meragkai bunga mawar merah dan mawar putih yang menjadikan gradasi warna meraik, ditambah selipan bunga gardenia yang ditaruh ditengah-tengah, membuat Airyn sedikit bingung akan arti semua ini, ia hanya mengetahui bunga mawar untuk ungkapan cinta, tapi kali ini mereka mengabungkan mawar merah dan mawar putih ditambah menyelipkan bunga gardenia ditengah-tengah, bahkan Airyn melihat hal ini untuk pertama kalinya.


“Mawar merah bisa diartikan sebagai simbol cinta sejati, dan mawar putih melambangkan persatuan dua insan, kebijaksanaan dan kemurnian cinta, kami mengabungkan keduanya dalam satu buket, untuk mengabungkan dua insan yang saling mencintai dan menyangi satu sama lain, berdasarkan kemurnian cinta yang mereka miliki, untuk mencapai cinta sejati yang dimiliki keduanya, diantara itu kami menyelipkan bunga gardenia, untuk menambahkan sensasi wangi, tatapi juga bermakna kesucian dan kemurnian hati. Semoga dengan ini mengambarkan, jika salju pertama mengharapkan kalian berdua memiliki ketiga bunga ini dihati masing-masing” jelas seorang waiters tersebut kepada Airyn, membuat ia merasa tersentuh akan paparah yang diberikan, mereka menghidangkan makan malam yang di pesan keduanya, membuat Airyn tidak sabar untuk menyantap, karna ia amat kelaparan setelah puas akan berjalan-jalan bersama Hansell


“Terimakasih” ucap Airyn kepada suaminya


“Untuk apa?” tanya Hansell sambil memberikan senyumanya


“Telah menjadi suamiku” bisik Airyn dengan kalimat rendah, hingga mengundang kekehan yang saling mengejek, bagaimana tidak, bagi Airyn mengucapkan kalimat barusan adalah satu hal memalukan yang terpaksa ia lakukan. Hingga mereka lupa, kapan terakir kali membicarakan tentang perasaan, bahkan jarang sekali bagi Airyn mengungkapkanya, tapi malam ini benar-benar istimewa untuk dirinya, mungkin Airyn tidak akan bisa melupakan momen ini diantara seribu momen yang pernah di lakukan.


***


“Kak Dikra” sapa Angel saat membuka pintu apartemen miliknya. Tentu saja, semenjak kakaknya sibuk dan jarang pulang, Dikra adalah orang yang selama ini menemani Angel tiap makan siang dan malam disana. bahkan pria itu sudah seperti penjaganya, mengigat hubungan baik antara keduanya, Angel tidak merasa asing akan kehadiran Dikra, bahkan akir-akir ini ia melihat sosok yang tidak pernah disadarinya selama ini, jujur saja semenjak kakaknya Hansell dan Dikra berteman baik, Angel sudah mengenal mereka sedari kecil, bisa dibilang mereka bertiga hampir tumbuh bersama, namun dimasa lalu, Dikra amat menyebalkan, tapi semenjak dewasa Angel dan Dikra telah biasa saja tanpa memikirkan ketidak cocokan mereka dulunya.


“Bukankah sudah aku bilang, bahan makanan masih banyak, kenapa kau membawanya lagi” dengus Angel sambil mengikuti langkah Dikra yang menuju arah dapur


“Kan sudah aku bilang padamu, Aku akan mengisi kulkasmu dengan bahan makanan yang sehat dan membuang seluruh mie instan itu. Dan juga, kau harus mengisi kulkas untuk menjadi stock dirumah, biar kau tidak perlu keluar rumah terus-terusan, apa kau tidak sadar, diluar banyak orang jahat yang bisa saja menculikmu” sangah Dikra seketika, sambil mengeluarkan bahan makanan yang ia bawa dikantong belanjaan, sebab untuk menyimpannya di lemari es, terlebih dahulu Dikra membersihkan dengan air mengalir, agar semua sayur mayur dan beberapa daging dan ayam yang di belinya, bisa dikatakan higeinis dan terhindar dari bakteri.


“Terserah saja, aku ingi melanjutkan dramaku” ucap Angel dengan jengkel, ia berlalu keruang tamu, sembari mendudukan diri disana, gadis itu mengunyah popcron yang ia nikmati sedari tadi, Dikra yang melihat gadis kecilnya sedikit tersenyum akan tingkah Angel, sebab Angel benar-benar mengemaskan dengan sikap polos, bahkan sedari dulu Dikra tidak pernah melepaskan matanya dari Angel, sekalipun gadis itu tidak menyadarinya.


Dikra dan Angel terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing, pria itu begitu lihai membersihkan beberapa buah dengan air yang mengalir, ia bahkan merapikanya di dalam lemari es, agar Angel dengan mudah mencarinya saat di butuhkan.


Sedangkan gadis itu, terlalu asik dengan jemarinya yang mengantarkan popcron ke mulut untuk di nikmati, ia bahkan tanpa sadar telah menghabiskan ukuran jumbo hingga tandas, membuat air mata Angel meleleh melihat kelayar televisi, ia tidak mampu lagi membendung haru akan drama korea yang di nikmatinya, benar-benar membuat hatinya terenyuh saat memposisikan diri sebagai wanita itu, isakan Angel lambat-lambat menusuk kependegaran Dikra, hingga ia terhenti akan kegiatanya dan memandang kearah Angel yang semakin mengeraskan suara.


Pria itu memutar kran air dengan cepat sambil mengeringkan tanganya dengan handuk, ia berjalan kearah Angel yang membuat hatinya berdenyut, bahkan hampir-hampir terdengar jelas suara isakan.


“Angel kau kenapa?” seru Dikra dengan panik, sedangkan gadis itu berlinang air mata menatap kearah depan, bahkan Dikra tidak menyaksikan jika drama yang ditonton Angel sedang mengalami kisah menyedihkan, ia terlau terfokus akan isakan Angel yang menyeruakan ngilu di hatinya.


Kali ini Dikra tidak peduli lagi, sekalipun Angel terluka akan sesuatu. Dikra akan melindungi dirinya, tanpa sadar pelukan pria itu mendarat ditubuh Angel, ia tidak kuasa menyaksikan air mata dari gadis yang ia cintai diam-diam, bahkan Dikra tidak siap jika Angel merasa tersakiti akan orang lain.


“Jangan menangis lagi” pinta pria itu dengan memohon, bahkan pelukan Dikra amat erat hingga menghentikan tangisan nya, Angel tidak mengerti kenapa Dikra memeluk dirinya, bahkan Angel tidak paham apa yang difikirkan laki-laki itu.


“Ka-kakak kau kenapa?” tanya Angel dengan binggung, hingga tempat popcron yang tandas tadi terjatuh kelantai saking tidak menyangkanya dengan tindakan di luar kendali, yang Dikra lakukan pada dirinya


“Aku tidak ingin kau menangis, aku tidak suka. Siapa yang menyakitimu, aku akan membalasnya” ucap Dikra dengan sungguh-sungguh, membuat mata Angel membulat secara sempurna , ia menjauhkan tubuh pria itu dengan kasar, seolah geram akan kalimat yang baru saja di ucapkanya.


“Kau kenapa! Aku menangis karna menonton drama korea, dan kau ingin membalas siapa yang menyakitiku!! apa kau akan melukai Oppa Min ho! Sebelum kau menyentuhnya, aku sendiri yang akan membunuhmu Dikra” ancam Angel dengan bersisingut kesal, bahkan matanya membulat dengan sempurna, membuat Dikra terdiam ditempatnya. Bagaimana tidak, bagi Angel pria itu benar-benar menyebalkan, Dikra memeluknya tanpa aba-aba dan mengacam melenyapkan Idolanya, tentu Angel tidak bisa menerima.


Dikra yang terdiam dengan penuh kebinggungan, memandang kelayar televisi yang ada dihadapan mereka, ia melirik Angel dengan wajah datar penuh perhitungan, jika Angel menangis hanya karna sebuah drama, tentu hal ini akan memalukan bagi Dikra.


“Jadi kau menangis karna menonton ini?” tujuk Dikra kepada televisi yang menyala di depan mereka


“Iya! Kenapa memang nya, Ha! Apa ada masalah dengan mu” bentak Angel sekali lagi, membuat Dikra mengehela nafas panjang, sambil mengaruk kepala karna binggung, sadar akan posisinya yang terpojok, Dikra menahan diri untuk menyembunyikan rasa malu.


“Astaga angel, kau! Benar-benar menyebalkan, aku sudah takut kau kenapa-napa, dan kau menangis hanya karna drama jelek seperti ini. astaga!!” umpat Dikra sembari bangkit dari sana, sedangkan Angel yang meresa tersinggung telah menghina drama favoritnya, menajamkan mata dengan amarah memuncak, bahkan ia tidak suka dengan jawaban Dikra barusan


“Drama jelek! Kau saja yang jelek. Bagaimana bisa kau memeluk orang seperti itu, seolah kau takut kehilangan kekasihmu saja, apa kau tidak merasa malu dengan tindakan yang baru saja kau lakukan padaku, Haa!. Jika aku katakan kepada kakak. Dia pasti akan menghukumu di dalam penjara, akibat pelecehan yang kau lakukan padaku”celoteh Angel dengan geram, bahkan kalimat itu menghentikan kaki Dikra, yang perlahan menjauh dari hadapan Angel


“Pelecehan! Aku bahkan tidak melakukan apapun padamu” bantah pria itu seketika


“Tidak melakukan apa-apa!” ulang Angel dengan kalimat membeo, seolah ia begitu menghina akan perkataan yang Dikra ucapkan barusan.


“Hah... Terserah kau saja” Dikra menghela nafas dan berlalu, ia harus mengabaikan Angel agar tidak memperlihatkan kegugupanya, gadis yang sedari tadi mengumpat akan dirinya terlihat semakin mengemaskan hingga jantung Dikra berdegup sangat kencang.


Saat mengetahui gadis itu tidak apa-apa, benar-benar membuat Dikra merasa malu setengah mati, namun ia berusaha menguatkan diri untuk tidak merendahkan dirinya sekali lagi, setidaknya gadis yang bertingkah seperti bocah tidak boleh menyadari perasaanya


“Aish! Benar-benar meyebalkan, kenapa kakak menitipkan aku kepada Dikra, lagian apa yang di lakukan kakak, hingga tidak pulang-pulang. Apa dia tidak menyayangiku lagi. Menyebalkan, seolah tidak ada yang sayang padaku” gerutu Angel, saat merasa diabaikan oleh pria itu


"Hansell sangat sayang padamu, lebih dari itu banyak orang yang sayang padamu, mungkin saja kau tidak menyadarinya" sahut Dikra saat mendengar celotehan Angel


"Omong kosong" bantak gadis itu seketika, dengan intonasi menghinanya, membuat Dikra sedikir terkekeh melihat raut wajah Angel.