Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Mencoba memahami.



Darah yang mendidih hingga rasanya ingin meledakan emosi itu membuat Hansell merobek map yang berisikan informasi, ia bahkan memeriksa data yang di berikan Adward seolah-olah tidak bisa menahan kesabaran, bahkan mata Hansell membulat secara sempurna saat menelaah beberapa transaksi keuangan Airyn yang sangat rapi tertutupi, tentu dengan sebuah Data legal dan juga berbagai bukti, Hansell dapat melihat Airyn mengunakan kartu VVIP untuk mengubur dalam pergerakan, bahkan Airyn membeli bom senyap itu di bawah organisasi yang di kendaliakah oleh Adward dan markas bawah tanah yang Hansell pimpin, bahkan istrinya diam-diam melakukan kerjasama dengan orang dalam Zates untuk melancarkan aksinya atas penghancuran bangunan bawah tanah tersebut, jika memang begini sangat pantas rasanya Hansell berfikir jika orang yang menjadi dalang atas pengeboman itu merupakan orang yang paling mengerti akan bangunan tersebut.


Apa jangan-jangan Hansell yang membodohi dirinya sendiri, apakah saat dirinya berfikir Airyn yang berada di markas bawah tanah Zaterius adalah istrinya yang lemah dan hanya mampu berlindung di balik tubuhnya, atau jangan-jangan secara diam-diam Airyn mempelajari kecuraman bangunan itu dan ia mempelajari bagaiman besarnya ketingian dan juga panjang hingga lebarnya, jika benar begitu ternyata Airyn juga tidak bisa di remehkan, tapi kenapa Airyn melakukanya?


“Aku akan pergi” seru Adward yang saat itu menyaksikan hancunya wajah Hansell dengan gurat marah bercampur kecewa, ia tidak mengerti apakah ini keputusan yang terbaik untuk memberikan fakta tersebut pada Hansell, tapi Adward tidak memiliki pilihan selain memberikanya, disatu sisi dapat menyelamatkan perusahaanya dari kehancuran yang tengah di persiapkan Hansell, dan disatu sisi lagi bisa memberi tahu kondisi istrinya pada pria itu “Tenangkan dirimu, jangan menyelesaikan permasalahan itu dengan emosi, coba kau cerna mengunakan kepala dingin. Mungkin saja kau dapat melihat permasalahan dan alasan ini dari segi berbeda” ujarnya sambil berlalu untuk pergi, bahkan membuat Hansell yang ada disana terduduk disofa, seolah tatapan nanar itu melihatkan betapa kosongnya fikiran Hansell yang tidak mampu mencerna keadaan.


Apa maksud dari niatan Airyn kali ini? Kenapa ia harus menghancurkan markas itu jika ia mengetahui adanya pertemuan antara Merry dan juga Hansell serta Zaterius, apakah Airyn benar-benar akan membunuh mereka hidup-hidup atau Airyn ingin melenyapkan mereka tanpa jejak, tapi kenapa? Anggap saja Airyn membenci Merry, tapi apakah wajar baginya untuk mencelakai wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya, tidakah tidakan Airyn kali ini terlalu kelewatan, bahkan Hansell saja tidak bisa lagi menempatkanya di dalam standar.


“Sayang…” langkah seorang wanita yang tengah hamil anak kembar itu begitu riang untuk menemui suaminya, ia mengunakan pakaian berwarna peach lengkap dengan tas selempang pendek yang hampir senada dengan warna bajunya, Airyn mengunakan sepatu kets putih untuk memberikan kesan Casual serta rambut cantiknya di biarkan terurai indah, ia terhenti di depan Hansell yang tengah duduk sendirian di ruang tamu, seolah pandangan Airyn mulai berlabuh pada wajah suaminya yang terlihat berantakan, bahkan senyumnya yang riang itu mulai memudar saat kedua mata mereka saling bertatapan. “Ada apa denganmu, apa Adward melakukan sesuatu?” serunya saat menghampiri Hansell, bahkan wajah Airyn sangat khawatir ketika menghampiri suaminya.


Hansell berdiri dengan segera, ia seperti sengaja menghindari istrinya namun Hansell seperti tidak sangup melakukanya, Airyn mencengkram lengan kokoh Hansell yang kekar, ia bahkan mendongakan kepala menatap pria yang tinggi semampai itu “Ada apa sayang? Apa terjadi masalah?” paksa Airyn dengan khawatir, namun wajah Hansell tetap tidak berubah, dan hanya terdiam memandang wanita yang menjadi istri sekaligus calon ibu untuk anaknya.


“Apa kau membenci ku atau mencintaiku?” batin Hansell ketika memandangi istrinya yang kala itu begitu cemas menatap kedua matanya dengan tatapan polos tanpa dosa, membuat tangan Hansell meraih pipi istrinya seolah ia tidak bisa menyakiti Airyn dengan kata-kata kasar, ataupun meluapkan kekecewaan serta banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan, Hansell menjangkau tubuh Airyn ke pelukanya, memberikan sebuah kehangatan yang seperti biasanya, pria itu berusaha tenang dalam mengendalikan perasaan bergejolak yang hampir meledakan kekacauan hatinya, namun demi istri dan dua orang anak yang tengah berjuang untuk tumbuh di rahim wanita yang ia cintai, Hansell ingin mengalah kepada ego dan dirinya sendiri “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja” ujarnya dengan kalimat rendah yang begitu menenangkan, membuat mata Airyn yang tadinya membulat dengan bingung atas sikap Hansell, perlahan meredup dengan sentuhan lembut suaminya untuk memanjai kepala istrinya.


Aroma tubuh Airyn yang khas, bahkan rambutnya yang lembut terurai itu membuat Hansell memejamkan mata, seraya menghela nafas perlahan sambil membuang energi negatif yang ia rasakan “Kenapa kau cantik sekali, apa kau ingin pergi?” tanyanya saat melepaskan diri, dan menatap Airyn dengan penuh kasih.


“Oh iya, aku hampir lupa. Aku ingin mengajakmu untuk berbelanja, rasanya aku ingin membeli beberapa perlengkapan dan juga pakaian untuk anak kembar kita, aku juga ingin mampir ke toko Funiture dan Interior untuk mengisi ruangan yang nantinya akan jadi kamar anak kita. Ayolah sayang, temani aku jalan-jalan” pintanya dengan sangat manja, membuat Hansell tersenyum kearah Airyn seolah ia tidak keberatan sama sekali.


Melihat hansell menganggukan kepala rasanya Airyn sangat bahagia, ia langsung saja menarik pria itu, tapi langkah Hansell menghentikanya. “Tunggu sebenar, aku ingin ke kamar menganti pakaian” ujarnya pada wanita yang begitu kegirangan ketika menarik lengah Hansell.


“Tidak perlu, kau sudah tampan dan rapi” balas Airyn saat melihat pakaian santai yang Hansell gunakan.


“Tidak sayang, ada beberapa hal yang ingin aku ambil, dan aku ingin menyimpan berkas ini” seru pria itu saat memperlihatkan berkas yang sudah tersimpan rapi di dalam map yang robek. Airyn yang tadinya begitu memaksa menundukan pandangan pada berkas di tangan suaminya, ia melepaskan cengkraman tanganya seolah membiarkan Hansell untuk ke kamar.


“Ya sudah. Aku akan menunggu mu” setelah kalimat itu, Hansell pergi kearah kamar untuk meletakan berkas dan menganti pakaianya, setidaknya ia harus mengunakan sesuatu untuk terlihat lebih dewasa.


Sedangkan Airyn mendudukan diri untuk menunggu suaminya, ia mengeluarkan ponsel dari tas yang ia gunakan, seolah sangat tertarik dengan sebuah pakaian lucu yang berwarna kuning dengan beberapa perlengkapan bayi di sebuah situs online di toko perlengkapan bayi di pusat perbelanjaan.


Hansell yang baru saja memasuki kamarnya itu melihat berkas yang di berikan Adward, rasanya Hansell tidak bisa membiarkan berkas itu tetap ada disana, ia berjalan kearah samping kamar yang merupakan Walk In Closet di kamar besar mereka, tentu selain tempat penyimpanan pakaian dan juga tas serta sepatu, disana juga ada ruang kerja Hansell yang cukup besar, bahkan Hansell sering mengerjakan beberapa pekerjaan disana dan juga mengadakan rapat melalui daring di sebuah ruangan di kamar mereka.


“Aku tidak bisa membiarkan berkas ini ada di kamar” serunya ketika menimbang-nimbang untuk menaruh berkas tentang bukti akan istrinya, tapi alih-alih ingin menyimpan rasanya Hansell perlu menghancurkan, ia tidak bisa membiarkan Airyn mengetahui akan hal ini, ia memasukan kertas itu ke mesin penghancur kertas, bahkan saat Hansell memencet tombol di bagian pilihan, sebuah kertas itu turun kebawah membentuk kepingan lembar kecil yang tidak di ketahui dan akan sulit jika di satukan.


Ia beralih ke lemari pakaian untuk mengambil beberapa pakaian hangat yang sesuai untuk siang hari, bahkan Hansell mengunakan jam tanganya sembari meraih kunci mobil yang ada di sisi meja kaca, ia berjalan dengan cepat menuju tempat istrinya yang sedari tadi menunggu, pria itu mengandeng tangan Airyn dengan hati-hati seolah sangat menjaga wanita yang ia cintai.


Ketika pria itu mengendarai mobil untuk keberangkatan mereka ke pusat perbelanjaan, tentu saja membuat Hansell menunda seluruh pekerjaan untuk menemani istrinya seharian, ia benar-benar melupakan segala masalah yang terjadi, sebab ia hanya ingin menemani Airyn yang antusias memilih beberapa perlengkapan bayi, bahkan mereka yang sangat awam atas hal itu di buat sedikit kebingungan, namun beruntung sang Manager toko dengan suka rela menemani pasangan suami istri itu membeli bebera hal yang Airyn minati.


Ke esokan harinya, Airyn masih bermalas-malasan di atas kasur, bahkan sinar matahari membuat dirinya meringkuk kembali kedalam selimut untuk melindungi diri, Hansell yang kala itu sangat rapi melirik kearah istrinya yang cukup lucu dan juga mengemaskan, bahkan ia yang sudah menyiapkan sarapan dan susu hamil di nakas untuk Airyn, mencoba menarik selimut hangat seraya menutupi kilau matahari dengan tubuh bidangnya agar tidak menganggu kenyamanan Airyn.


“Nyonya Hamillton apakah anda tidak ingin melahirkan dengan normal” ujar Hansell pada wanita yang sangat semangat menjadi seorang ibu, bahkan ia ingin melahirkan secara normal alih-alih untuk melakukan tindakan medis seperti Operasi. “Jangan lupa jadwal olahraga dan sarapan yang terarur. Jadi bangunlah, ini sudah hampir tengah hari” seru pria itu, tentu saja tidak seperti yang Hansell katakan, namun untuk membangunkan wanitanya ia perlu melebih-lebihkan jam.


“Kau pembohong, ini masih jam 8 pagi Hansell. Aku akan bangun satu jam lagi” celetuk Airyn dengan malas, rasanya ia tidak ingin di tipu oleh suaminya yang sering mengatakan jam 10 padahal masih jam 8 pagi.


“Aku akan pergi bekerja, tidakah aku dapat pelukan?” tanya pria itu dengan memelas, bahkan ia mengusap kepala Airyn yang kala itu masih bertumpu pada bantal dengan mata terpejam.


“Hati-hati di jalan” serunya seraya membuka mata dengan perlahan, bahkan mereka saling memandang saat kalimat Airyn terlayang pada suaminya “Aku merindukanmu, cepatlah pulang” sambungnya dengan tatapan penuh cinta, membuat Hansell tersenyum sambil merebahkan diri untuk memeluk istrinya.


“Aku akan usahakan untuk pulang lebih awal, tapi sekarang bangunlah. Habiskan susu dan sarapanmu. Jika tidak, aku tidak bisa tenang pergi bekerja” Airyn menganggukan kepala, seraya di bantu suaminya untuk bangkit dan berpisah dengan kasur, rasanya semenjak wanita itu mengetahui akan kehamilannya, Airyn tidak terlalu banyak berdebat dengan Hansell, bahkan mereka menjadi sangat hangat dan penuh perhatian, hingga rasanya Airyn semakin sayang pada pria itu.


“Nah, minumlah” Hansell mengambil gelas yang berisi susu dengan penuh, bahkan ia menyodorkanya ke mulut Airyn, seolah membantu istrinya untuk minum, Airyn yang hanya bisa mengikuti perintah Hansell tentu saja menganggukan kepala seolah meneguk habis susu yang Hansell sedu untuk dirinya.


“Aku akan bekerja, apa ada yang kau inginkan?” tanya pria itu keapada istrinya, membuat Airyn mengelengkan kepala seolah tidak memiliki permintaan apapun.


“Cepatlah pulang, aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu” tutupnya seraya memeluk Hansell sekali lagi, kali ini mereka saling memberikan kehagatan dengan lama, bukankah pelukan itu sangat sehat dan sangat menyenangkan untuk hatinya, bisa membuat Jantung Airyn terasa tentram dan damai, bahkan ia tidak ingin melepaskan diri dari Hansell.


“Sayang, apa kau bisa membantu diriku?” seru Airyn sekali lagi, ia bahkan lupa mengatakan pada Hansell tentang rapat pentingnya dengan perusahaan cabang, membuat Hansell mengalihkan perhatian atas perkataan Airyn “Aku ada rapat dengan perusahaan cabang dari Inggris, jadi hari ini ia ingin mengadakan rapat atas sebuah merek dagang perusahaan yang bermasalah. Apa kau bisa menghadiri rapat itu? Aku rasanya malas sekali mengurusnya, dan aku juga malas ke kantor. Jika aku adakan melalui daring itu sangat tidak sopan, sebab mereka sudah jauh-jauh datang ke Negara ini” seru Airyn dengan memelas memandang kearah Hansell, rasanya ia tidak memiliki niatan akan perusahaan, bahkan banyak pekerjaan yang Airyn limpahkan kepada sekretarisnya, tentu saja Airyn sudah merekrut beberapa sekretaris lainya untuk membantu Darrel.


“Jam berapa? Apakah bisa nanti sore menghadiri rapatnya? Aku ada sedikit urusan mendadak hari ini” seru pria itu pada istrinya, tentu Hansell perlu menyesuaikan rapat itu dengan jadwalnya yang terstruktur.



“Tentu saja, aku belum mengajukan waktu pada Darrel, jika kau bisa nanti sore aku akan mengatakanya dan meminta Darrel mengatur rapat untuk nanti sore”


“Yasudah, nanti akan aku urus. Aku pergi dulu, hati-hati dirumah dan kabari terus kabar mu padaku, apa kau mengerti?”


“Iya Hansell Hamillton, aku mengerti” balas wanita itu dengan senyum manis kepada suaminya.


Hansell pergi ke kantor untuk mengurus beberapa hal tentang perusahaanya, dan tentu saja pria itu juga melakukan apa yang Airyn minta untuk menjadi penganti dirinya, bahkan Hansell cukup sibuk hari ini, namun ada hal yang harus Hansell urus melainkan sebuah pekerjaan antara perusahaanya dan juga Airyn, yaitu permasalahan Airyn yang ingin menghancurkan markas dan Bangunan bawah tanah Zates.


Hansell percaya jika ada penyebab yang membuat Airyn melakukanya, dan Hansell juga percaya istrinya tidak akan melakukan hal semulus ini seorang diri, mungkin memang benar ada orang dalam di bawah kekuasaan Zates yang merupakan orangnya sebagai dalang membantu Airyn, tapi Hansell sangat yakin banyak yang terlibat dan mungkin mengetahuinya, salah satunya adalah Frada yang merupakan wanita yang selalu berada di bawah kekuasaan Airyn sendiri.