
Sadar dirinya memang terpojokan, Zates merasa sangat bimbaang akan apa yang harus dia jelaskan pada wanitanya, bagaimanapun pertanyaan Merry mengandung kualitas tinggi yang merangkap keseluruhan kisah hidup, tapi siapkah Merry mendengarkan alasan yang mungkin menyakiti dirinya, atau siapkah Merry untuk percaya pada Zates?
Sadar tidak bisa berbuat apa-apa, Zates meraih pinggul Merry dengan paksa untuk menjatuhkan tubuhnya diatas dada bidang Zates, tentu Merry yang tadinya bersikap ganas penuh intimidasi seperti kucing penurut yang begitu malu
di sana.
“Sialan lagi-lagi aku terkalahkan” umpat Merry ketika menengelamkan kepala ke dada bidang yang cukup keras itu, bagaimanapun detak jantungnya tidak beraturan sehingga membuat Merry sulit mengendalikan diri dan mengontrol emosi, wanita itu berusaha menyembunyikan wajah sebab ia sadar pipinya telah memerah dengan sempurna.
“Kenapa kau diam saja? Apa kau malu. Aku bahkan takut sekali melihat seorang Merry Lourent dengan karisma berbeda, pantas saja aku terpesona jika seoraang wanita memiliki karisma setajam itu. Tidak heran putri kita begitu sempurna, jika ia miliki kejeniusan ku dan mewarisi karisma seorang wanita bermartabat dari dirimu” ucap Zates ketika meledek wanita yang malu diatas tubuhnya, pria itu menempatkan Merry di posisi samping, seolah memaksanya untuk mendongakan wajah dengan percaya diri.
Lagi-lagi Zates memesrai hingga Merry merasa semakin gugup, bahkan ia mengigit bibir bawahnya karna tidak bisa berkata-kata lagi selain menatap dalam kedua bola mata yang begitu sendu melihat kearah dirinya, ketika sampai di rumah Zates cuaca cukup mendung, hingga suhu dingin semakin menembus permukaan kulit, namun di dalam kamar ini dan di bawah tatapan mata kedua pasangan itu, benar-benar membuat suasana yang bertolak belakang dengan cuaca, ada dorongan dari tatapan mata yang membuat jantung keduanya berdebar, seolah rasa sayang Zates tercurahkan tanpa ada kebohongan dan rasa segan dan takut, pria itu menarik Merry untuk merasakan kehangatan tubuhnya, memberiakan sentuhan lembut disetiap helai rambut kepala wanitanya, agar Merry dapat menyadari betapa inginnya Zates membangun mahligai cinta di bawah hubungan pernikahan dengan wanita yang membuat dirinya tidak bisa berhenti mencintai.
“Jika saja waktu bisa diulang kembali, dan aku melakukan suatu yang benar untuk memperkenalkan diriku. Akankah kau mencintaiku pada saat itu?” tanya Zates seolah ia tidak mengharapkan jawaban dari Merry, sebab Zates sadar mencintai Merry tidak membuat dirinya serakah untuk memilki, karna menjaga dan melindungi kedua wanita berharga bagi hidupnya itu sudah cukup, tapi saat semua orang mulai menyakiti mereka bagaimana bisa Zates berdiam diri di persembunyianya, dan tidak memeluk kedua wanita itu untuk melindungi mereka.
Merry mendogakan wajah menatap kearah Zates, kali ini kilauan matanya berbeda dari biasanya, entah apa yang membuat Merry terpengaruh, ia seperti ikut kedalam kesedihan yang Zates rasakan malam ini, pelukan posesif yang Zates berikan padanya, bahkan sikap lembut yang Zates hadiahkan, sehingga Merry tidak mampu menolak setiap perlakuan ini, mengingat Zates adalah pria malam itu, dan juga pria yang dia cintai di pandangan pertama, alasan apa lagi yang membuat Merry ragu untuk menolak, hanya saja ini semua sudah terlambat, bukan.
Semua yang terjadi telah menjadi masa lalu, apapun tidak akan terulang dan berputar, kekacauan sudah terjadi, kesalah pahaman telah membekas dalam, segala kehidupan dan kehilangan sama-sama di rasakan oleh seluruh pihak apalagi Airyn yang malah menjadi korban, akankah semuanya akan membaik jika ingin mengulang semuanya kembali.
“Aku tahu, tidak akan ada ruang untuk diriku di dalam hidupmu dan mungkin Airyn. Tapi biarkan aku memeluk putriku untuk terakir kalinya, sebelum aku akan kembali ke persembunyianku tanpa kalian mengenal diriku lagi. Bahkan dengan apa yang sudah aku lewati denganmu, ini sudah lebih dari cukup hingga aku tidak inigin berharap lebih dari ini. Semuanya adalah kesalahan diriku, aku terlalu takut untuk mengungkapkan kebenaran dan terlalu takut di tinggalkan oleh orang-orang yang aku pedulikan. Mungkin kau sudah mengetahui bagaimana kami di besarkan dan di asuh oleh Bi Lani, bahkan sampai Louis di angkat oleh keluarga Gualin. Karna itulah aku mengatakan padamu, jika Louis lebih Penting dari pada kebahagiaanku, sebab aku telah berjanji pada diriku sendiri untukmemberikan apapun yang ia inginkan, dan merelakan apapun untuk Louis, aku terlalu takut untuk jujur karna Louis masih ingin hidup di dalam kebohongan, jika aku mengatakan saat itu ada manusia bernama Zates di hidupmu akankah semuanya akan membaik. Mungkin membaik untuk diriku, tapi tidak untuk kamu, Airyn, dan Adik kandungku, bahkan Bi Lani”
Merry menatap kearah Zates seolah ia mulaai mengerti alasan apa yang membuat kebohongan ini terus terjadi, alasan apa yang membuat Zates harus menyembunyikan diri, ternyata sedari awal Louis memang mengubur keberadaan kakaknya, dan mereka hanya memiliki satu peran di dunia ini, yaitu Louis Petrov, dan dua saurada kembar ini memiliki peran masing-masing utnuk membesarkan nama Petrov, dan Zates menjadi bayang-bayang yang selalu membesarkan perusahaan dan juga bayang-bayang atas kebahagian Louis, jika semuanya sekejam itu pada Zates, akankah pantas untuk Merry membenci pria ini, yang rela melindungi Merry meskipun tidak di anggap keberadaanya, yang rela meyayangi Airyn meskipun tidak diakui oleh putrinya, dan jika Zates hanya menginginkan sebuah pelukan dari putrinya, tidakah itu terlalu kejam bagi seorang ayah untuk di dapatkan.
Kenapa jiwa Merry berantakan ketika melihat kesedihan di hati Zates, dan kenapa rasanya begitu sakit mendengar pengakuan dari mulut pria itu, kenapa Zates malah suka di anggap orang jahat jika sebenarnya ia memiliki kasih sayang besar, bahkan selama ini Zates adalah orang yang diam-diam mencintai Merry dan juga Airyn, menjaga mereka, membahagiakan mereka, melindungi mereka, tapi kenapa Merry malah rela bertahan diatas rasa sakit yang di berikan Louis Petrov padanya.
“Zates….” Lirihnya ketika bulir air mata mulai mengenang hingga menyesakan dada, melihat hal itu, tentu Zates tidak bisa menerima, ia mengusap lembut permukaan wajah Merry seolah menjadi kekuatan untuk menahan kesedihan itu.
“Jangan memikirkan rasa sakitnya Merry, tapi rasakan kebahagiaanya, sedari awal aku tidak ingin mengakui diriku, karna semua hal sudah terlambat, dan sedari awal aku sebegitu enggan menceritakan bagaimana hidupku, tapi rasanya sudah terlambat untuk mundur. Hanya untuk dirimu, aku tidak pernah membuat keputusan yang terbaik, dan aku membenci hal itu. Selama ini aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku inginkan, selalu sempurna melakukan tugas yang di berikan, bahkan aku selalu memenangkan hal apapun yang menjadi pertarungan. Tapi untuk kehidupaku, hanya ada kegagalan demi kegagalan, karna sedari awal semuanya aku bangun dengan kebohongan, kau tahu apa yang menjadi penghalang “Adalah kata terlambat” tapi aku hanya berfikir, semua itu aku yang merasakan, dan aku yang mengalami. Namun penyesalan terbesarku ketika melihat kehancurkan Airyn saat kehilangan Louis dan juga dirimu yang kehilangan kehidupan”
Seketika suara tersekat dengan berat itu mampu menyesakan dada Zates, membuat mata Merry mengalirkan air mata di sudut matanya, kesedihan demi kesedihan dirasakan, hingga sesak dan sakit seperti menjelma menjadi ruang yang maha dahsyat untuk menghantam.
Merry menengelamkan kepala ke dada Zates, berharap tidak mendengar kalimat apapun yang terasa menyakitkan, hingga akirnya Zates mengerti ternyata melepaskan segala hal menyakitkan itu membuat ruang kosong untuk terisi lagi.
Hati memang suatu hal yang istimewa untuk di miliki, tapi kadang itu terasa tidak berarti saat kita mulai merasakan sepi.
Dengan adanya wanita ini, akankah segalanya berbeda?
“Kenapa kau harus melakukan semua itu sendirian, menanggung semua beban untuk kebahagian orang lain, dan kau tau dimana kesalahanmu--” ucap Merry ketika suaranya bergetar hebat di dada pria itu, membuat Zates merasakan pedih saat mengeratkan pelukan diantara mereka.
“Aku tahu, sikap dan keputusanku untuk mebahagiakan Louis, malah berubah menjadi pemenuhan kebutuhan untuk ke egoisanya, hingga Louis merasa tidak puas dan menginginkan untuk lebih. Aku terlalu mencintai saudara kandung ku karna aku bertanggung jawab sepenuhnya, atas luka yang di berikan oleh keluarga Gualin pada Louis di masa kecil. Karna itulah aku siap melakukan apapun atas keinginan yang ia minta, sampai aku mengkesampingkan perasaanku sendiri. Dan ternyata semua itu salah. Bintang yang aku raih untuk Petrov malah menengelamkan dirinya untuk terjun lebih dalam kejurang kesalahan, aku takut saat melihat sikap serakah yang hampir-haampir tidak mampu aku kendalikan, bahkan ketika ia bersama wanita yang salah pada saat itu. Tapi aku hanya bisa berada di balik layar untuk mengontrol semua hal yang terjadi, sebab kondratnya sedari awal tidak ada yang namanya Zates di dunia ini”
“Apa kau tahu!!! Kau pria yang paling bodoh yang pernah aku temui. Bahkan untuk membencimu saja aku terlalu lelah”
“Maafkan aku Merry, aku benar-benar minta maaf. Karna itulah aku tidak ingin serakah mendapatkan dirimu, setelah semua kekacauan dan ancaman pada Airyn lenyap, aku akan menghilang”
Apakah itu masalah utamanya sekarang? Lalu jika Zates serakah tentu dia akan memiliki Merry dan Airyn bagaimanapun caranya, tapi apakah itu pantas jika diantara kehidupan Merry, seorang bernama zates tidak pernah ada. Bukankah Merry tidak menginginkan Zates memperkenalkan dirinya pada Airyn, tapi kenapa dengan perkataan Merry hari ini? Akankah ia memberikan suatu jalur restu untuk Zates mengklaim anaknya sendiri.
“Zates, di dunia ini tidak ada kata terlambat!! Sedari awal kesalahan dirimu adalah menempatkan “Kata terlambat” diawal perjuangan. Belum sempat kau mencoba sesuatu kau sudah mendoktrin diri dengan satu kata “Semuanya sudah terlambat” Sadar atau tidak. Kau sendiri yang selalu berputar-putar di hidupmu, sedangkan semua orang selalu tumbuh dan berubah, begitupun dengan Louis Petrov, bagimu dia adalah tanggung jawab dan adik kandungmu yang kecil, tapi kau lupa dia juga manusia yang memiliki sifat dan keinginan yang berubah, kau menganggap ia masih seperti dirimu dan seperti dulu, tapi kau melupakan dasar jika manusia itu berubah Zates! Kenapa kau hidup seperti ini? Seolah kau tidak ingin mengotori tanganmu, namun sudah banyak lumpur yang berjangkit di permukaan kulitmu, kebohongan, rasa sakit, pengorbanan, kehilangan, semua itu adalah kesalahan dan kau tetap memperjuangkan itu selama ini. Apa kau fikir dirimu Tuhan yang bisa bersih dari noda kesalahan!!! Sekarang lihat, untuk melindungi dirimu dari rasa bersalah kau membeda-bedakan banyak hal, manusia, benda, hitam putih, gelap terang, kau seolah membaginya menjadi dua sisi berbeda, hingga kau lupa perbedaan itu yang menyatukan seseorang. Apa kau ingin tahu semua ini terjadi karna apa!! Karna kau tidak ingin terluka dan menyalahkan diri sendiri”
Sontak penuturan Merry membuat Zates bungkam, kenapa ia tidak bisa berkata-kata lagi dengan membantah satu argumentasi kata yang di lontarkan wanita itu, seolah Zates telah terjatuhkan fonis dengan analisis tepat yang menancap ke sumber kesalahanya.
Zates bangkit dari ranjang itu, ia duduk di pinggiran ranjang sembari mengusap pangkal hidungnya dengan hati kusut dan seluruh anak panah kesalahan yang tertancap padanya “Zates aku mengatakan ini semua agar kau sadar—“ belum sempat Merrry melanjutkan perkataannya, pria itu mengentikah dengan segera sembari bangkit dari sana.
Ia menghilang di balik pintu ketika merasakan perasaan kacau yang membelengu, sedangkan Merry tidak mampu bagi berkata, entah kenapa ia sudah menyadari hal ini sedari awal, sebab Merry telah melakukan analisis mendalam tentangn Zates, bahkan kemampuan Analisisnya tidak hanya tentang data saja melainkan Merry mampu sensitif akan sikap dan kesalahan orang lain, dari seluruh yang terjadi Merry memang ikut sedih akan pria itu, tapi Merry juga marah pada Zates yang selalu merasa dewasa dan bertanggung jawab atas segala hal, padahal semua manusia bertanggung jawab atas kesahalanya masing-masing, hanya perkara mereka saudara kembar indentik, kenapa kesalahan Louis harus Zates yang bertanggung jawab, dan kenapa Zates mau melakukan segala hal untuk membahagian Louis, dan membiarkan Louis termanjakan hingga berubah menjadi pribadi yang berbeda.
Baru saja pria itu menuruni tanggan dengan raut wajah kesal, Zates di hampiri oleh pengurus rumah tangganya yang sudah menua bahkan memiliki jengot berwarna putih, mata Zates beradu dengan pria itu ketika menyadari ada yang ingin di sampaikanya pada Zates dengan segera
“Tuan Laos, ada telfon dari Nona Sabrina, ia mengatakan ini sangat mendesak dan berharap anda meluangkan waktu untuk menemui dirinya Via Virtual” ucap pria itu ketika melipat satu tangan di depanya seolah berlaku sopan.
Dengan keadaan sekacau ini, hal apa lagi yang terjadi? Bukankah zates dengan jelas mengatakan pada Sabrina untuk melaporkan segala hal kepada Dorbin, lalu untuk apa wanita itu mendesak dirinya untuk bertemu melalui Virtual, tidakah Sabrina mengetahui ini sudah jam istirahat dan juga memasuki dini hari. Bahkan Zates sendiri merasa kesal atas perkataan menusuk yang Merry lontarkan, dan kali ini harus mendengarkan masalah lagi.
“Apakah harus sayabatalkan saja Tuan?” sambung pengurus rumah tangga tersebut, sebab merasakan hawa tidak nyaman yang keluar dari tubuh pria itu.
“Tidak perlu, aku akan keruang Visual. Siapkan semuanya” tubuh Zates menegang, ia yang tadinya ingin menghabiskan waktu dini hari dengan Alkohol mengalihkan diri untuk menyibukan soal pekerjaan, mungkin saja Sabrina memerlukan sedikit bantuan Zates.
Baru saja Zates ingin mendudukan diri di hadapan layar besar yang akan menghubungkan dirinya dan Sabrina Via Virtual, Zates malah terhenti oleh anak buahnya yang menerobos masuk, sembari mematikan layar tersebut, bahkan membuat tubuh Zates menegang untuk mendengar penjelasan, pengurus rumah tangga yang melihat kejadian itu tentu saja merasa sedikit gugup, hal apa yang membuat keberanian pengawal itu senekad ini pada Zates, tapi jika di perhatikan ada sesuatu yang besar tengah terjadi.
“Tuan saya undur diri” ucap pria parubaya itu pada Zates, sebab ia sadar diri akan posisi dan dirinya, bahkan ia mengenal bagaimana Zates tidak suka orang yang di kelompokan dirinya di satu bidang, ikut campur ke bidang lain.
“Apa yang membuat mu lancang mematikan layar itu. Aku harap ini memaang sesuatu yang mendesak” ucapnya dengan tatapan panjang penuh kesal, membuat pria itu menghela nafas seraya memperbaiki sistem oksigen yang ia butuhkan, dirasa tubuhnya mulai membaik, ia mengeluarkan data yang di dapat dari sumber terpercaya, beserta bukti-bukti yang ada.
“Tuan, Nona Sabrina melewati batasan. Ia mengancam orang-orang yang berkhianat itu dengan menargetkan keluarganya, bahkan Nona Sabrina mencari tahu hubungan antara anda dan juga James, tidak hanya itu saja. Ia mengunakan kekuatan pelacak bayaran, serta detektif ilegal untuk mengumpulkan data tersebut. Nona Sabrina sengaja membuat kartu Bank baru atas nama gelandangan, serta saya mendapatkan rincian pengeluaran dan kemana saja ia mengeluarkan uang. Sepertinya Nona Sabrina tidak sesederhana yang anda pikirkan Tuan”
Ucap pria itu dengan gugup, lantaran ia mengenal Sabrina cukup di hargai oleh tuanya Zates, dan kali ini tidak hanya melanggar perintah, tapi ia juga melewati batasan prinsip Zates, jika sudah di tahap ini, hanya satu yang bisa di harapkan.
Pengampunan dari pria di hadapanya ini.
Wajah Zates mengelap, penuh dengan bulir darah yang mendidih ingin menghancurkan wanita itu dengan keduanya tanganya, ia berfikir telah mendidik Sabrina dengan baik, serta memberikan posisi sebagai bukti kekuasaan untuk di sandangnya. Tapi siapa yang mengira wanita yang ia kasihani 10 tahun silam malah berlawan arah ntuk melangar prinsip yang Zates terapkan, jika sudah begini apakah Zates masih bisa bersabar untuknya.
Alih-alih ingin menghancurkan Sabrina sesegera mungkin, Zates lebih tertarik dengan alasan apa di balik semua ini. Sehingga wanita yang ia anggap cukup pintar itu mampu melampaui batasanya, bahkan Sabrina orang yang paling mengerti dari yang lain tentang Zates, namun bagaimana bisa dirinya melanggar prinsip yang sudah di terapkan pria itu.
Sayangnya Sabrina terlalu gegabah menunjukan sisinya kepada Zates, dan malah mengambil resiko yang sangat besar, bukankah semua yang telah di jalani bersama-sama sangat di sayangkan, hanya perkara keserakahan wanita itu.
“Biarkan saja, dan terus amati bagaimana pergerakan Sabrina. Jangan berubah sikap padanya. Aku hanya ingin melihat alasan di balik sikap pertentangan gadis pintar itu, setidaknya aku masih ingin mentoleransi orang kepercayaanku, jika tidak bisa lagi dia mendisiplinkan diri sendiri, makan hancurkan saja”
Tiap kata yang terucap seperti perintah mutlak tanpa tawar menawar, membuat pengawal itu bergindik ngeri jika harus menjadi Sabrina, sayangnya Tuan Zates yang memberikan toleransi ini jauh lebih mengerikan dari yang di bayangkan, sehingga pria itu tidak mampu memikirkan bagaimana nasib Sabrina nantinya.