
“Istriku? Dia istriku?” lirih Hansell saat mendengar teriakan seorang wanita, ia sungguh tidak mengerti kenapa ia sudah memiliki seorang istri bernama Airyn, bahkan ketika Hansell bangun hanya wajah orang asing yang ia lihat, sungguh hal yang begitu aneh dan penuh akan pertanyaan di benaknya, ia tidak mengenal mereka dan tidak mengerti akan apa yang mereka katakan.
“Tentu saja. Seperti yang aku jelaskan. Dia istri anda tuan muda” sahut Darrel ketika meyakinkan Hansell sekali lagi.
“Tapi tidak mungkin Darrel. Aku masih berusia 15 tahun. Bagaimana bisa aku memiliki istri, bahkan wanita itu cukup tua dari usia ku” balas Hansell kepada Darrel.
"Apa anda tidak berkaca tuan, bahkan anda sudah menjadi bapak-bapak beranak 2 sekarang" batin Darrel degan tidak terima.
Sungguh sedari tadi Darrel sangat bingung ketika mengetahui jika Hansell kembali pada ingatanya di usia 15 tahun yang lalu, dimana ia tidak mengenal Airyn dan tidak mengenal Merry serata Zaterius.
“Astaga bagaimana bisa ini terjadi” ucap Darrel dengan tatapan nanar, seolah ia tidak menyangka hal mustahil ini terjadi di dunianya, bahkan Darrel yang melihat Hansell saja seperti tidak bisa mempercayai kemustahilan ini, namun semua yang tidak mungkin malah terjadi, dan Hansell benar-benar masih hidup hingga berdiri sehat di depan matanya.
“Darrel, kenapa kau memandangku seperti itu” ucap Hansell dengan kesal, ia sungguh tidak mengerti kenapa pria itu bersikap aneh padanya.
“Tuan apa anda tahu sekang tahun berapa?" tanya Darrel ketika ingin membantu Hansell mengigat, membuat pria itu menyipitkan mata dengan binggung atas pertanyaan tersebut.
Tentu saja Darrel pernah mengetahui hal ini sebelumnya, dimana seseorang bisa kembali pada masa lalu, dan ia bisa kembali pada tahun yang sama juga.
“Bukankah ini tahun 2001” ucap pria itu.
Membuat Darrel mengelengkan kepala seraya mengeluarkan jam tanganya, tentu saja di jam besi berwarna silver itu selain pengigat waktu juga ada pengigat tanggal dan juga tahun, Darrel memperlihatkan jam tanganya kepada Hansell, hingga wajah Hansell mengelap dengan bingung.
“2015” lirihnya dengan tidak percaya.
“Ya Tuan. Sekarang tahun 2015. Dan anda sudah menikah dan memiliki sitri yang tengah melahirkan anak kembar. Dan nona Petrov yang berjuang di dalam sana adalah istri anda”
“Apa kau gila!! I-ini tidak mungkin”
“Aku tidak bercanda Tuan, wanita itu adalah istri anda” balas Darrel dengan meyakinkan, membuat Hansell tidak bisa menerima hal ini, ia bahkan tidak mengigat apapun tentang wanita itu, dan ia tidak merasakan apapun ketika melihatnya.
Melihat Hansell yang penuh akan penolakan, membuat Darrel menariknya untuk melihat poster tanggal dan juga poster tentang kesehatan di dinding rumah sakit.
“Lihat ini, ini tahun 2015” tunjuk Darrel untuk meyakinkan, membuat Hansell tercengang sembari berjalan mundur sebab ia tidak percaya.
“A-Apa kalian mempermainkan ku” ucapnya dengan tidak percaya, bahkan ia tidak bisa menyangka kenapa semuanya malah menjadi seperti ini.
“Tuan, Nona Petrov benar-benar istri anda” ucap Darrel sekali lagi, ia benar-benar pasrah ketika menjelaskan hal kepada pria yang menolak kenyataan akan istrinya.
Hingga langkah Hansell berlalu kearah kaca pembantas di ruangan itu, matanya menatap kearah dalam, sambil melihat gurat kesakitan dari wnaita yang tengah berjuang di dalam, keringat yang menghujan di dahinya, dan kerutan dalam yang bisa diakses, sebagai pertanda bagaimana besar perjuanganya, tapi kenapa Hansell tidak mengigat apapun, namun hatinya berdenyut sakit.
Memangnya apa yang terjadi hingga ia bisa melompat ke tahun 2015, apakah ia tengah bermimpi, atau dia memang kehilangan ingatan. “Dia istrinya?” tanya Hansell ketika menatap panjang kearah Airyn.
*
Tangisan bayi memecah ruangan yang di penuhi oleh teriakan Airyn, bahkan membuat Zates terdiam ketika Airyn berhasil mengeluarkan bayinya, mata Hansell terpana melihat hal itu, jantungnya bahkan berdegup kencang saat mendengar suara bayi yang memekakan telinga mereka, hingga hati Merry benar-benar luluh lantah dari cemas yang mendera, air mata Airyn pecah akan bahagia, sedangkan Zates mencium kening anaknya dengan penuh sayang dan bangga, Airyn masih berjuang diatas kesakitan yang mempertaruhkam nyawanya, tanpa suami ia memperjuangkan anaknya dan saat ini Airyn sudah menjadi seorang ibu.
Dan sekali lagi tangisan bayi memekakak ruangan, bahkan tim Dokter dengan cepat mengambil kedua anak yang penuh akan tangisan bahagia sebab telah terlahir kedunia, kedua anak ini adalah dua laki-laki kecil yang seperti malaikat untuk ibunya, hingga Airyn begitu bahagia saat menyaksikan anaknya sudah di depan mata.
“A-Anak ku” ucap Airyn dengan air mata yang berderai, bahkan ia tidak bisa menghentikan kebahagian ini, dan selalu menatap kearah anaknya.
“Iyaa. Mereka anak mu. Terimakasih sayang, sudah berjuang” balas Zates dengan air mata yang menderas sambil menghapus air mata anaknya.
“A-Ayah, aku melahirkan anak Hansell” sungguh rasanya Airyn tidak bisa menahan kebahagian ini, dan rasanya Airyn tidak mampu membendung kebahagian yang mendera hatinya.
“D-Dokter Laos, sepertinya ibu Airyn mengalami Placenta Adherens” hingga mata Zates terpaku kearah Dokter yang saat ini bicara di depannya.
“Apa katamu!!” ucap pria itu dengan tidak percaya, bagaimana bisa Airyn mengalami kondisi ini. “Apa kau yakin!!” bentak Zates dengan tidak percaya.
“I-Iya Dokter” ucapnya dengan begitu yakin.
Membuat Zates mengusap kepalanya dengan gusar, sungguh ia tidak menyangka Airyn akan mengalami ini, padahal kedua anaknya sudah terlahir dengan selamat dan kesadaranya juga terjaga dengan baik.
*
“Ada apa? Kenapa dengan wanita itu? bukankah anaknya sudah keluar, kenapa mereka menjadi panik?” ucap Hansell yang melihat mimik binggung di wajah orang-orang yang ada di dalam sana.
*
“Ayah ada apa?” tanya Airyn pada Zates.
“Jadi bagaimana? Apa aku harus di operasi” cemas Airyn pada ayahnya.
Membuat Zates sangat ragu untuk menjelaskan hal ini, bahkan ia tidak seberani itu untuk bicara, sebab Zates sudah mengetahui hal seperti apa yang akan Airyn alami, bahkan ini lebih sakit dari pada ia harus mengelurkan kedua anak kembarnya.
“Ibu Airyn, berdasarkan apa yang Dokter Laos katakan , maka kami akan memberikan suntikan Oksitosin pada anda, hal ini untuk memancing terjadi konstaksi pada rahim untuk mengeluarkan Plasenta atau pendarahan. Tapi jika ini masih belum berhasil maka kami akan mengeluarkanya dengan cara manual” ucap tim Dokter pada wanita itu.
"Manual maksudmu?”
“Maka kami akan mencoba mengeluarkannya dengan tangan, dan untuk mengurangi asa sakit kami akan memberikan anda Anastesi Spinal atau Epidural yang efeknya meliputi area tubuh bagian bawah untuk menahan rasa sakit”
“Ayah, apakah itu tidak apa-apa?” tanya Airyn dengan cemas pada ayahnya.
“Itu memang harus dilakukan sayang, tapi kau harus kuat melebihi dari melahirkan si kembar. Tapi ayah yakin kau akan bertahan” ucap Zates dengan meyakinkan, membuat Airyn menganggukan kepala seraya memandang ayahnya dengan penuh harap.
“Kamu harus kuat sayang, kamu pasti bisa, untuk si kembar kita” ucap Zates sekali lagi, membuat Airyn menganggukan kepala untuk meyakinkan dirinya.
“Dokter Laos, kami akan melakuaknya sekarang” ucap Dokter wanita itu pada Airyn dan Zates, membuat pria itu menganggukan kepala untuk mereka melakukan yang terbaik.
Tentu Airyn di berikan suntikan untuk memancing konstraksi rahim selama 30 menit, bahkan Merry yang berdiri di kaca bagian laur itu terlihat begitu kecemasan, ia tidak mengerti hal apa yang terjadi di ruang persalinan, tapi Merry yakin sesuatu pasti terjadi.
Sesui dugaan, memancing kontraksi mengunakan obat tidak memiliki perkembangan, dan dengan terpaksa mengeluarkan plasenta dengan cara manual.
"Ibu Airyn tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan" Airyn mencoba melakukan hal itu
"Tahan, tahan...." terusnya.
Kyaaa....
Teriak Airyn yang begitu kesakitan, membuat Zates mengenggam erat tangan anaknya seolah merasakan bagaimana rasa sakit itu, bahkan Merry terpana melihat Airyn yang berteriak sekencang mungkin, hingga pintu yang di kunci dari dalam membuatnya tidak bisa masuk, bahkan Merry sudah mengedor sedari tadi tapi tetap saja orang di dalam tidak menghiraukan dirinya.
*
“Kenapa dengan wanita itu?" tanya Hansell ketika melihat kearah dalam, bahkan ia hanya mampu memandangi dari kaca di sisi pintu kamar.
*
“Ini sakit sekali, aku tidak bisa menahan nya lagi” ucap Airyn dengan frustasi, bahkan ia begitu kesakitan dan membuat Zates tidak bisa melakukan apapun.
“Ibu Airyn, anda harus kuat bu, sedikit lagi” ucap Dokter itu yang tengah berusaha mengeluarkan ari-ari bayi dari rahim Airyn, sungguh situasi ini sangat menegangkan hingga rasanya tim Dokter dan Zates tidak bisa melakukan apapun selain berusaha dengan sekeras mungkin.
“Aku tidak kuat…”
“Ini sakit sekali….”
“Ayahh…Airyn tidak sangggup”
Hanya itu yang mampu ia ucapkan dan rasanya membuat Zates tidak bisa menahan dirinya, hingga pria itu mengigat tentang Hansell, ia baru mengigat jika setelah Hansell sadar ia kehilangan ingatan selama 5 hari ini, dan Zates sudah menjelaskan dan berusaha merangsang ingatanya namun tetap dengan hasil yang sama, dan saat baru sampai disini, Zates terlalu panik akan Airyn hingga melupakan pria itu.
“Hansell” lirih Zates ketika mengigat akan menantunya, tapi apakah waktu yang tepat untuk Hansell menemani iryn saat ini, yang Zates takutkan akibat shock, Airyn malah kehilangan kesadaran melihat suami yang ia percayai sudah meninggal, tiba-tiba ada di hadapanya.
*
Air mata Hansell menetes dengan sendiri, ia tidak tahu kenapa perasaanya sesakit ini, dan hatinya begitu perih atas kesaktan wanita itu, bahkan Hansell tidak mengerti kenapa ia bisa menangis tanpa mampu menghentikanya, melihat wanita disana berjuang sekuat tenaga, sungguh perasaan terluka itu begitu menyiksa dengan tajam, ada apa dengan dirinya.
Hansell membuka pintu untuk masuk ke ruang persalinan, namun sayangnya ada sebuah pintu lagi yang tidak bisa ia masuki dan disana ia melihat seorang wanita yang tengah hamil. Bahkan pandangan wanita itu menatap panjang kearah Hansell. “Apa kau mengenalku?" tanya Hansell pada Merry, membuat Merry mengalihkan pandangan seolah ia terlalu malas menjawab pertanyaan itu.
“kenapa anda diam saja. Apa anda mengenalku?" tanya pria itu sekali lagi, bahkan membuat Merry berdecak kesal pada menantunya.
“Iya aku mengenalmu!! Karna kau suami anak ku” kesal Merry dengan nada membentak, hingga Hansell terdiam memandang wanita itu, sedangkan Darrel mengatakan wanita itu istrinya yang tengah melahirkan anaknya, dan pria yang menjadi ayah wanita itu juga mengatakan dia adalah istrinya, serta istri dari pria bernama Zates juga mengatakan Hansell menantu dan suami anaknya, hingga adiknya juga mengatakan hal yang sama.
“Aku ingin masuk” ucap Hansell dengan nada dingin, bahkan membuat kedua orang itu menatapnya dengan pandagan bingung, bahkan tadi Hansell bertigkah sebagai pria dingin yang tidak memiliki prasaan apapun, tapi kenapa sekarang ia ingin masuk.
"Apa kau sudah mengigat Airyn?” tanya Merry dengan penuh rasa penasaran.
“Aku mungkin tidak ingat, tapi dia istriku, jadi sudah seharusnya aku masuk” tegas Hansell hingga menarik perhatian Merry dan juga Darrel, bahkan membuat mereka terpaku ketika menyaksikan kalimat yakin dari dirinya.