Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Aku mencintai dirimu?



Meskipun Zates memiliki umur yang cukup matang di usianya yang hampir menua, tetap saja gestur tubuh dan pembawaanya membuat Zates terlihat sebagai pria yang berusia dewasa diangka 30 tahunan, nampak sekali ia masih menjaga tubuhnya hingga bugar dan terlihat sekali kekuatan pria itu yang sangat cakap, membuat Merry tidak akan membayangkan jika saat ini Zates tengah menginjak 40 tahunan lebih, meskipun begitu Zates tidak pernah peduli akan umur keduanya, karna bagi dirinya masa-masa seperti ini mengingatkaan Zates akan masa lalu, meskipun di masa itu Merry tidak menyadari namun Zates sudah terlanjur terjebak akan pesonanya.


Pria itu menindih tubuh Merry di bawah tatapannya, kali ini sikap sopan dengan pembawaan tenang mampu di kuasai, bahkan ia tidak memperlakukan Merry dengan kasar ataupun lancang, namun pria itu bersikap lembut penuh kesopanan untuk menarik tangan Merry agar mengikuti irama geraknya, kedua mata mereka saling menatap bahkan deguban jantung Merry dapat dirasakan sekalipun tidak di dengar secara seksama, wajah tegang dari wanita itu dapat di akses oleh penglihatan Zates tanpa melewatkan satu incipun.


“Kau bukan Louis Petrov” lirih Merry saat menatap mata itu secara mendalam, bahkan dapat di rasakan ada sensasi aneh diantara mereka berdua, tentu penuturan itu membuat hati Zates amat riang dan senang, bahkan dengan tatapan mata saja membuat Merry menyadari jika dia bukanlah Louis Petrov, apalagi yang membahagiakan selain hal ini.


“Kau cukup pintar untuk mengenali orang lain Merry” balasnya ketika memberikan sanjugan pada Merry.


Tentu saja Merry merasa puas atas pengakuan itu, sebab Louis Petrov tidak pernah bisa memiliki tatapan dalam seperti pria yang tengah menindih dirinya, tatapan itu dapat diartikan sebagai bentuk keinginan lebih dalam, sedangkan Louis Petrov melihat saja begitu enggan kearah Merry, bagaimana mungkin dia akan menatap Merry sedalam ini.


Baru saja Merry selesai dengan rasa penghinaan di dalam hatinya, kali ini matanya terbelalak menatap kearah Zates, tubuhnya menegang seolah tidak bisa percaya, ia yang tadinya enggan menangapi pandangan ini, kali ini dengan terang-terangan menunjukan ketertarikan, tangan Merry perlahan menyentuh permukaan wajah Zates, hingga seketika memalingkan wajah pria itu kearah kanan, tepat di daun telinga sebelah kanan pria itu memiliki tanda berwarna coklat yang berukuran kecil dengan bentuk memanjang.


Apa masksud dari semua ini!!


Jika tanda ini ada di tubuh pria yang bernama Zates berarti selama ini Merry tidak berhalusinasi, dan juga tatapan dalam ini benar-benar sebuah tatapan yang membuat tubuhnya memberikan reaksi di malam pertama saat bersama Louis Petrov, tentu saja ia mengakui hubungan transaksional diantara mereka hanya sebatas perjanjian saja, dimana Merry akan memberikan keturunan pada Louis Petrov, hanya saja di percintaan mereka yang bernuansa gelap yang amat romantis hingga membuat jantung Merry berdegup sangat kencang itu menjadi awal permulaan bagi dirinya mengabdikan seluruh hidup pada pria itu, sikap dan seluruh kelembutan Louis Petrov padanya tidak bisa di lupakan oleh Merry hingga detik ini, bahkan setiap percintaan mereka diatas ranjang membuat Merry selalu merasa kecocokan yang intim diantara keduanya, meskipun setelah itu keduanya berubah menjadi orang asing tetap saja Merry selalu merindukan jangka waktu yang di tetapkan untuk membuat benih Louis bersemayam di rahim Merry, sampai di percintaan terakir ia menyadari sebuah tanda di telinga kanan Louis Petrov meskipun pada saat itu Merry melihat sekelebat lalu akibat dirinya yang hampir terengah hingga batas sadar yang tidak memungkinkan, tetap saja Merry melihat sebuah tanda yang selama ini tidak di sadarinya.


Pada akirnya Merry memastikan lagi tanda yang sama, namun di saat dirinya menanyakan hal itu Louis Petrov dan Charllot malah membantah secara jelas, di tengah makan malam mereka.


Tentu saja tanda yang terakses oleh penglihatanya itu sedikit tidak jelas dengan pandangan berkabut, namun Merry cukup yakin atas hal itu, tetapi keduanya malah membantah secara terang-terangan, membuat Merry sangat bingung akan hal itu.


Di lain waktu dirinya mempertanyakan hal yang sama secara langsung pada Louis Petrov dan pria itu malah membatah tidak memiliki tanda apapun, hingga menuding Merry berhalusinasi sendiri, tentu saja hal sekecil ini sangat menganggu Merry untuk jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akirnya pertemuan mereka yang kesekian kali di ranjang percintaan di batalkan akibat Merry telah memiliki janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


Apa yang bisa Merry lalukan, selain berhenti berharap dan mengakui jika ia telah keliru dan salah, untuk itulah Merry tidak terlalu memikirkan hal seremeh ini, bisa jadi memang dirinya yang salah mengira, bahkan ia tidak terlalu yakin akan pandangan malam itu.


Namun kali ini tanda itu malah ada di tubuh pria bernama Zates. Apa maksud dari semua ini? Apakah Merry tidak berhalusinasi dan melakukan hubungan intim bersama pria ini.


“Apa kau sudah menyadarinya sayang?” ucap Zates dengan penuh kemenagan, bahkan ia tidak segan-segan mengkecup bibir Merry untuk memberikan rasa yang selama ini dirundukanya atau mungkin di rindukan oleh Merry sendiri, bagaimana kagetnya Merry ketika ingin bersuara pria itu malah membungkam mulutnya dengan ciuman panas yang sangat mengoda, sekian lama tidak ada yang menjamah tubuhnya, dan kali ini pria itu tanpa segan melakukanya, seolah sudah berpengalaman memainkan Merry di atas ranjang.


Apakah benar Zates pria malam itu. Tapi bagaimana bisa?


Kedua tangan Merry mendorong jauh tubuh Zates dari dirinya, seolah ia membutuhkan penjelasan sekalipun tidak masuk akal, matanya yang mulai berkabut seolah di permainankan merasakan sesak yang sulit tertahankan, selama ini Merry telah melatih hati sekuat baja untuk tidak menangis, tapi kali ini ia merasa di permainkan serta di khianati, apakah selama ini Merry benar-benar di manfaatkan.


Melihat genagan di mata Merry yang mulai berkaca-kaca membuat pria itu mengkerutkaan kening ketidak sukaan, bahkan Merry menangis di hadapan dirinya akibat pria lain, tentu saja ia tidak menyukainya. Selama ini Zates telah menunggu cukup lama untuk hari ini, sehingga ia menyingkirkan semua penghalang diantara mereka, namun kali ini Merry malah terluka diatas ranjangnya, tentu Zates tidak akan menerima.


“A-aku tahu kau sudah memahami apa yang aku fikirkan saat ini. Bukankah kau harus menjelaskan hal ini padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” lirih Merry dengan suara yang bergetar, hingga berususah payah mengajukan pertanyaan pada pria itu.


“Apa kau masih membutuhkan alasan! Untuk apa? Apa untuk memafkan pria yang kau cintai dengan bodoh itu, seharusnya kau sudah mengetahui maksud diriku. Dengan menyadari akulah pria yang menghabiskan tiap malam yang panjang dengan mu, kau harus sadar jika kau di pergunakan untuk mainan oleh mereka. Untuk apa lagi kau mendengarkan alasanya. Merry, kau cukup pintar untuk menganalisis semuanya, seharusnya kau sadar ini semua permainan yang di gunakan untuk memperalatmu” ucap pria itu dengan geram kearah Merry


“Meskipun aku di gunakan untuk kepentingan Louis, sedari awal aku sudah menyetujui hal itu. Dan untuk apa kau mengambil adil dalam hidup ku, sekarang aku merasa di permainkan bukan dengan mereka, melainkan dirimu yang menjadi pria malam itu. Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan jika Louis dan orang-orang yang aku percayai mengkhianati diriku, tapi aku bisa memahami hal itu. yang tidak aku pahami adalah keberadaanmu, untuk apa kau ada dan hadir diantara hidupku, apa aku menyetujui hal itu!! Kau adalah sumber masalah utamanya bukan mereka” hardik Merry dengan tidak terima, tentu ia bercucur air mata ketika berucap, bahkan dada yang begitu sesak itu mulai menghambur-hamburkan amarah hingga tidak bisa tertahan lagi, Merry yang tidak pernah melihatkan emosinya selama ini meskipun kepada Airyn sekalipun. Namun kali ini dirinya luluh lantah di hadapan pria itu, seolah melihatkan seluruh rasa kecewa dan tidak terima.


“Jadi kau menyalahkan aku?” tanya pria itu ketika menatap tajam kearaah Merry, ia yang masih menindih tubuh Merry, kali ini menjatuhkan tubuhnya tanpa bersalah hingga tidak ada pembatas diantara pandangan mereka, membuat Merry merasa sangat tersiksa degan orang yang membuat dirinya merasa menjijikan itu.


Isakan yang tak kunjung henti, membuat Merry enggan untuk menjawab, sebab ia sadar itu hanya akan mengundang pertengkaran dan juga menyulut emosi pria itu, setidaknya Merry masih membutuhkan alasan utama di balik semua ini, dia juga terlanjur berjalan keranjang pria bernama Zates untuk menemukan jawaban, jadi Merry perlu menakar-nakar untuk menyulut api emosi diantara mereka.


“Sayangnya, aku tidak akan memberimu alasan-nya Merry! Temukan sendiri jawabanmu, karna bermain-main dengan waktu yang cukup panjang itu sedikit menghibur di pertemuan ini”


Sikap Merry yang sudah di perhitungkan itu ternyata tertangkap basah oleh Zates, sialnya pria itu memang sangat licik seperti dugaan Merry, bibir Merry yang polos tanpa riasan apapun perlahan di kecup tanpa segan, tentu Zates merindukan rasa nikmat ini, bagaimanapun hanya Merry yang menyentuh kenikmatah batinnya hingga tandas, dengan tubuh wanita itu Zates bisa memenuhi hasrat memiliki sebagai seorang lelaki, sekalipun ia bisa mendapatkan siapa saja dengan suka rela merangkak keranjangnya tidak senyaman Merry Lourent yang membuat Zates tergila-gila.


Jika saja Merry memang di pergunakan oleh Louis untuk kepentinganya, sangat sayang sekali ia menghabiskan waktu mencintai pria itu, dan ternyata tubuh Merry di curi oleh pria yang tidak ia inginkan, sekarang pria itu menjajah dirinya tanpa ada rasa segan sedikitpun, membuat Merry merasa sangat jijik sekali.


“Apa kau tahu kenapa William bisa lenyap?” ucap pria itu ketika mengehntikan permainanya, tentu Merry mendongakan wajah untuk mendengar penjelasan “Karna ia mulai mengetahu hal yang seharusnya tidak perlu di ketahui, ia mulai mengetahui jika Airyn tidak sedarah dengan Louis. Membuat aku hilang kesabaran jika ia masih mencari bukti yang lebih kongkrit untuk hal itu. awalnya aku mengira pria itu tidak masalah untuk di pertahankan, karna pria itu mencintai dirimu dengan tulus, namun saat hasrat memilikinya lebih tinggi tentu saja aku tidak bisa menerima hal itu, dia bahkan mulai melacak keberadaan diriku hingga ikut campur dengan kontrak yang aku lakukan dengan putriku. Apa kau fikir orang seperti itu bisa di ampuni”


“Apa kau manusia!!” hina Merry seolah tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya


lagi.


“Setidaknya aku masih bisa bersikap manusia untuk dua orang di dunia ini. Putriku Airyn dan dirimu, ibu dari anak ku” ucapnya dengan penuh sayang, bahkaan ia tertawa seperti seorang ayah yang membicarakan putri tercintanya, tentu kali ini pandangan Merry berbeda saat menatap pria itu tanpa henti, bagaimanapun wajah itu adalah wajah yang sangat mirip dengan Louis Petrov meskipun ia bukan Louis.


“Lalu kenapa kau membuat kontrak itu, jika kau menyayangi putrimu” balas Merry ketika memberanikan diri bicara


dan mengulik penjelasan.


“Jika bukan karna kontrak itu. Apa kau fikir anak ku akan hidup sampai hari ini!! Dia terlalu mencintai kedua orang tua munafiknya sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk hidup. Dengan mengatas namakan Louis Petrov tentu saja menjadi alasan untuk Airyn bertahan bukan. Kenapa kau harus mempertanyakan hal itu, alasanmu diam dan tidak mengusik surat kontrak bukankah karna hal yang sama Merry!! Dengan kemampuan yang sangat gemilang hingga kekuasaan yang kau miliki, aku rasa sangat mudah untuk kau mendapatkan diriku di masa lalu. Tapi kenapa kau membiarkan aku begitu saja, dan membiarkan aku mengendalikan putriku. Biar aku tebak! Karna surat kontrak itu menjadi nyawa baru untuk Airyn bertahan bukan”


Sontak Merry terdiam tanpa mampu bicara ataupun membantah, tentu saja ia sangat mampu mendapatkan orang ini di masa lalu jika ia menginginkan, tapi melihat perubahan yang baik kepada Airyn membuat Merry membiarkanya begitu saja, sebab ia merasa kontrak itu tidak merugikan sama sekali.


“Setidaknya, aku bisa membuat Airyn merasa tidak membutuhkan mereka berdua degan kontrak itu. Karna pada dasarnya Airyn bukanlah putri mereka. Sangat jelas darah kita berdua yang mengalir di nadinya, untuk apa Airyn harus berlama-lama di dalam kebohogan itu. Awalnya aku membiarkan mereka untuk memiliki Airyn dan juga dirimu, karna aku menganggap mereka memenuhi standar untuk itu, tapi semenjak penculikan Airyn di masa lalu, hingga Louis menarik putriku ke dalam hal yang tidak sepantasnya di ketahui benar-benar membuat darahku mendidih ingin menghancurkan semuanya, bahkan aku ingin sekali menghancurkan Petrov dengan tanganku sendiri”


Perlahan Zates membaringkan tubuhnya di samping Merry, meskipun ia tidak melepaskan wanita itu, Zates masih mendekatkan kedua tubuh mereka, seolah memeluk Nerry dengan posesif sembari menundukan kepala kearah wanita itu, guna menciptakan keintiman diantara mereka, membuat tubuh Merry bergindik dengan gugup dan takut, sebab ia tidak pernah berfikir akan melakukan hal ini dengan seorang pria, namun berbeda dengan Zates yang sangat terbiasa hingga memperlaakukan Merry seperti wanita yang sangat ia cintai dan hargai hingga keduanya saling berhadapan satu sama lainya.


"A-apa yang di lakukan Louis pada Airyn" tanya Merry dengan begitu bingung, membuat Zates menatap kedua mata binar yang ingin tahu itu, akankah ia mengatakan hal itu pada Merry, jika itu terjadi bukankah sama saja membuat Merry membenci Louis Petrov, tapi Zates tidak ingin memiliki Merry dengan sikap curang seperti itu, bahkan tidak masalah jika dirinya di anggap antagonis dan Petrov protagonis


"Aku tidak akan memberitahunya padamu. Bukankah sudah aku katakan, jika kau perlu mencari jawaban itu sendiri, orang seperti apa Louis Petrov" ucapnya


“Apa kau yang membunuh Nyonya Charllot?” kali ini pertanyaan yang merry ajukan berunah haluan, sebab ia tidak ingin terjebak di dalam hal yang enggan untuk dinjelaskan oleh pria itu.


“Tentu saja! Karna ia mulai menumbuhkan rasa dengki pada dirimu, di saat hal itu terjadi adik kembarnya malah menyaksikan, mau tak mau tentu aku membereskan keduanya” ucap pria itu dengan kalimat tenang, seolah tidak ada ketakutan sama sekali meskipun melenyapkan dua orang sekalian.


“Apa kau gila!!”


“Kau yang gila Merry! Berada diantara orang yang mencelakaimu saja namun tetap setia pada orang seperti itu” ucapnya dengan menghina, membuat Merry menjauhkan pria itu dengan kedua telapak tanganya yang di tempelkan ke dada Zates


“Aku tidak ingin mendengar hal konyol itu dari dirimu. Apa kau tahu apa yang aku rasakan saat mendengar ceritamu. Aku berfikir kau membuat kebohongan baru, karna apa yang aku rasakan berbeda dengan apa yang aku alami. Berhenti berbohong padaku” bentak Merry dengan tidak terima.


Aura Zates mengelap seketika, ketika wanita itu memilih bodoh setelah apa yang Zates jelaskan, meskipun dirinya orang yang cukup kejam tetap saja tidak ada niatan untuk membohongi Merry atau mencelakaian, namun kenapa wanita itu tidak bisa menerima kenyataan yang ada, dan malah menyangkal, apakah sebenar itu cinta Merry kepada Louis hingga Zates tidak memiliki ruang diantara hatinya.


“Bagaimana dengan sikap Louis Petrov! Yang awalnya ingin menolak tentang ibu sambung dan tiba-tiba menyetujui hal itu, apa kau tidak bisa memahami di titik ini, karna dia mengetahui jika bukan dirinya yang terlibat melainkan diriku, karna itulah Louis tidak pernah menatap dirimu sama sekali meskipun kalian melewatkan waktu semalaman panjang dengan gairah yang dalam. Apa kau fikir Charllot bisa menerima suaminya terlibat dengan wanita diatas ranjang dengan hati lapang? Jangan bodoh merry! Tidak ada wanita yang rela melakukan hal itu. Di depanmu mereka seperti malaikat, tapi dari arah belakang mereka adalah iblis yang mendorongmu ke neraka. Kau seharusnya sudah bisa menyadari dari interaksi berbeda dengan Louis Petrov, namun sayangnya ucapan mereka membuat kau terbutakan lagi”


“Cukup!!! Cukup! Lalu bagaimana dengan dirimu” ucap Merry dengan tidak terima, bahkan ia memandnag penuh dendam pada Zates


“Aku! Aku mencintaimu”


hening terbentang diantara dua tatapan yang saling mendendam dalam, bahkan tidak ada kata yang di loloskan dari mulut Merry saat mendengar ucapan cinta yang dalam itu.