Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
[Episode : 48] Hasrat Pasangan



Tangan gadis itu menahan tubuhnya kearah dinding, langkah kaki Airyn berjalan mundur ke arah sofa, bahkan dia berusaha teliti untuk menopang dorongan atas tubuh pria yang sangat gila mencumbu dirinya, Airyn tersudut hingga tak berdaya di dekat meja yang berada di ruang tamu, mata Hansell begitu dingin menatap Airyn, dia mengisyaratkan sesuatu yang begitu dalam untuk di ungkapkan, Airyn membalas tatapan itu dengan penuh ragu.


Hansell menuntut sebuah ciuman yang harus di balas oleh wanita itu, membuat Airyn tidak memiliki pilihan lain selain menerima hal apapun yang Hansell lakukan, bahkan ia mengendong tubuh Airyn menuju pintu kamar, bahkan Hansell mendobrak pintu kamar Airyn mengunakan punggungnya, lalu mendaratkan gadis itu di Living Room yang ada dikamar besar tersebut.


Sekali lagi tatapan mereka saling menyaut satu sama yang lainnya, keinganan yang begitu mengebu membuat keduanya merasakan sensai intens, namun Hansell memperhitungan langkah agar tidak terlalu tabu.


“Sayang” pria itu berucap dengan lirih sambil menatap lekat kedua mata Airyn, membuat wanita yang berada di bawah pandanganya merasakan sensualitas atas perkataan barusan, mata Airyn bergetar mendengar kata sayang dari bibir Hansell, membuat dia tidak mampu berucap untuk membalas untaian kata mesra tersebut.


“Panggil namaku Hans, apa kau mengerti” seketika itu Hansell menelusuri leher jenjang Airyn untuk mengenduskan nafasnya di tepian kulit tipis milik gadis itu, dia membisikan kata-kata yang membuat Airyn terbuai dengan kalimat manja yang ia gunakan, Hansell terasa begitu lembut dan hangat, membuat Airyn merasakan hubungan yang berbeda diantara mereka berdua.


“Hansell” seketika Airyn mendorong tubuh pria itu lantaran dia merasa tersiksa dibawah sana, setiap percintaan yang mereka lakukan, selalu saja membuat Airyn terintimidasi atas sikap yang di lakukan oleh Hansell padanya.


Bahkann Airyn tidak merasa seperti Nona Petrov, karna saat seperti ini Airyn malah menjadi kucing malang yang tersiksa akan setiap hal memdalam yang di berikan pria itu.


Airyn mendudukan diri di sofa itu untuk menjauhkan diri dari Hansell, bahkan dia begitu gugup memandang mata Hansell yang tengah menatap dirinya, tentu saja sebuah senyum manis terulas ketika menenyaksikan sikap malu gadis itu, rasanya Ariyn semakin mengemaskan dan Hansell ingin selalu mengoda Airyn.


Bakali-kalipun ia bertahan untuk melawan, tetap saja ia semakin melihatkan kelemahannya, hal inilah menjadi pertanda bahwasanya, Airyn tidak pernah memiliki pengalaman bercinta dengan pria lain, tentu saja kekuatan alami yang dimiliki seorang pria, dapat mendeteksi keahlian wanita saat mencobanya, dan Hansell telah mengetahui seberapa dangkal pengalaman Airyn, bahkan ia mengetahuinya seperti melihat sampul luar namun bisa membaca isi cerita.


Hansell mengerti gadis yang begitu gugup di depanya hanya pernah menjalin hubungan bersama dengan dirinya, membuat Hansell tidak rela membagi Airyn kepada siapapun, bahkan dia tidak rela jika Airyn di sentuh meskipun seujung rambut saja, saat mata sendu yang penuh ambigu itu menatap ke tubuh Airyn, ada rasa posesif yang membuat Airyn melindungi tubuhnya.


“K-Kau..kau, aku harus mandi” seketika itu Airyn berlari kearah kamar mandi sambil menutup pintu kamar mandi dengan cepat, tentu saja dirinya sangat gugup, hingga nada bicaranya saja tersakat, dirinya begitu ngeri melihat Hansell tersenyum sinis penuh ironi memandang kearahnya, bahkan selama ini Airynlah yang mengintimidasi orang lain dengan tatapan matanya, namun Hansell yang begitu lembut dan penyayang itu, mampu mengintimidasi dirinya hingga menjadi wanita payah, bukankah Hansell benar-benar membunuh Nona Petrov didalam diri Airyn.


“Jantung ku tidak bisa berhenti, mengerikan sekali! Tenanglah Ariyn, tenang... ” Airyn merasakan detak jantungnya yang tdiak beraturan, nafasnya tak karuan ketika memikirkan bagaimana menakutkan Hansell menatap dirinya barusan, namun ada senyum malu dan bahagia yang tertampil, membuat jantung Airyn seperti ingin melompat kearah luar, bahkan Airyn ingin sekali mencopot jantung itu dari tubuhnya lantaran sangat menyiksa.


“Apa dia malu?” Hansell terkekeh penuh kemenangan, melihat Airyn takut kepada dirinya, bahkan dulu Hansell selalu bergindik memikirkan kekejaman Airyn, tapi sekarang tidak ada yang ditakutkan dari wanita itu, melainkan ada kepuasan tersendiri ketika Airyn menampilkan raut wajah cemas akan dirinya, setidaknya hal inilah yang tidak akan di dapatkan orang lain dari Airyn, namun di dapatkan oleh Hansell.


“Aku bisa gila jika belum menikahinya, apa aku akan memaksa nya untuk cepat melakukan pernikahan” sambung pria itu ketika berfikir tenang, membuat senyum Hansell terlukis bahagia di raut wajah yang penuh cinta, dia memejamkan mata ketika membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Memang benar kata orang bercinta membuat seseorang gampang terlelap, hal itulah yang dirasakan oleh Hansell, setelah jantungnya berolahraga sangat panjang, dia begitu mengantuk membayangkan sikap Airyn kepadanya , bahkan sekejap mata dirinya menghilang dan terhanyut di alam mimpi panjang


Airyn keluar dari kamar mandi dengan pakaian handuk yang sudah ia kenakan “Apa dia tidur?” tanya Airyn ketika mendapati pria itu membaringkan tubuh di kasurnya, bahkan kaki Hansell masih menjuntai kebawah, pria itu masih belum melepaskan pakaian dan sepatu yang di pakainya “Dia ini kenapa merepotkan harus ku saja” gerutu Airyn seakan kecewa ditingalkan oleh Hansell untuk tidur.


Airyn berjalan mengampiri Hansell untum membuka sepatu yang digunakan pria itu dengan pelan, bahkan Airyb membuka dasi yang dikenakan Hansell dengan perlahan, hingga matanya menatap wajah Hansell yang begitu menenangkan, membuat Airyn tersenyum ketika mengingat semua hal yang terjadi hari ini diantara mereka.


“Kenapa aku bahagia sekali” gumam Airyn ketika menepis fikiranya sendiri, rona pipinya yang telah merah muda, membuat Airyn tak kuasa dengan cinta yang tengah membara diantara mereka.


Gadis itu melepaskan handuk yang menempel ditubuhnya, lalu mengunakan baju tidur yang baru ia keluarkan dari lemari pakaian, ia mengeringkan rambut untuk beberapa waktu, seketika Airyn sudah selesai dan melihat kearah belakang, dirinya hanya berfikir apa dia harus membagunkan Hansell, lantaran posisi tidur pria itu tidak menyenangkan, tapi disisi lain dia juga berfikir apa dirinya harus tidur di ranjang bersama pria itu, jika selama ini mereka tidur seranjang itu karna Airyn yang terlebih dahulu terlelap, tapi sekarang apa yang harus dia lakukan.


“Sudahlah, lebih baik aku membuka kaos kaki nya” Airyn membuka kos kaki Hansell secara perlahan, dia mengambil selimut untuk menyelimuti pria itu, dirinya hendak keluar ke arah kamar tamu, namun Hansell menarik tubuh Airyn dan memeluknya


“Kau begitu menganggu, bagaimana bisa aku tidur, sentuhan kulit mu itu membuat tubuhku bereaksi lagi, sayang..”


“Hansell!” bentak Airyn dengan kaget, karna dia begitu malu mendengar perkataan pria itu, Hansellpun tersenyum dan mengkecup kening Airyn dengan sayang, ia mengerti Airyn akan marah sebab merasa malu, namuj Hansell selalu ingin megoda.


“Apa aku boleh tidur disini?” tanya pria itu kepada Airyn, tentu saja mulut Airyn tetutup rapat sebab ia tidak bisa mengatakan iya ataupun tidak, dia hanya diam menatap Hansell dengan ragu, seolah ia sangat malu jika membolehkan, namun tidak sanggup untuk menolak


“Sayang....” tanya Hansell lirih sambil memandang Airyn dengan penuh harap.


“Sudah aku bilang, jangan bicara seperti itu” sekali lagi airyn dibuat kesal dengan perkataan Hansell, karna dia merasa malu jika di panggil dengan sebutan sayang.


“Baiklah jika kau tidak mau memutuskanya. Aku akan tidur disini, aku janji tidak akan menyentuhmu, aku hanya ingin memeluk mu” pinta Hansell dengan wajah bangga, bahkan raut wajahnya saja penuh permohonan, membuat jantung Airyn melemah hingga tidak mampu menolak.


“Terserah kau saja” balas gadis itu dengan sikap cuek, meskipun kenyataanya jantung Airyn tidak mampu dihentkkan.


Seketika Hansell bangun dari tidurnya dan meraih tubuh gadis itu, dia membaringkan Airyn diranjang dengan posisi nyaman, dirinya menindih Airyn seraya mencium bibir ranum gadis itu tanpa permisi, namun dia hanya melakukannya sekilas lalu dan mendekap kembali tubuh Airyn dengan penuh rindu, bahkan ketika dirinya memeluk Airyn dengan begitu posesif, Hansell masih saja merindukannya, membuat pria itu idak bisa lagi membayangkan jika harus meninggalkan Airyn untuk waktu dan jarak yang lama.


“Hansell, apa kau sudah bilang kepada Angel, jika malam ini kau tidak tidur dirumah” tanya Airyn saat membuat lingkaran di dada Hansell dengan jari telunjuknya.


“Adik ku itu sangat pengertian, dia akan mengerti tanpa aku katakan, jadi untuk malah ini tidurlah. Aku mencintaimu”


“Hansell....” dengus Airyn dengan wajah malu.


“Kenapa?” balas Hansell sambil melihat kewajah Airyn.


“Jang..Jangan mengatakan cinta tiba-tiba, aku sangat malu” balasnya dengan begitu gugup, bahkan ia menengelamkan kepala kearah bawah.


“Apa kau tidak sayang pada ku” tanya Hansell dengan wajah sedih yang sengaja ia buat, bahkan ia memandang Airyn yang setia di dalam pelukanna.


“ He, tentu saja aku juga s-sayang padamu. Rapi bukan itu maksudku. Aku sangat malu mendengar kau bicara cinta tiba-tiba. Apa kau tidak malu mengatakan sayang berulang kali disaat kita baru resmi jadian hari ini, padahal belum sempai satu hari, aku hanya canggung mendengar hal tersebut, selama ini aku belum pernah pacaran, aku tidak pernah merasakan ikatan seperti ini sebelumnya, aku merasa ini terlalu asing untuk ku, kenapa kau gampang sekali mengucapkannya membuat diriku terlihat aneh” cerocos wanita itu kepada Hansell, bahkan Hansell menahan tawa seolah tidak bisa berkata-kata.


“Pffftttt...” Hansell tidak sekuat itu ternyata, dia cukup terhibur dengan raut wajah wanitanya, Airyn menjelaskan dengan begitu cemas, padahal dirinya hanya bertanya.


“Airyn, apa kau sebegitu mencintaiku, sejak kapan kau mencintaiku, sampai kau sepanik itu” tanya Hansell dengan penuh rasa penghiburan diri, membuat Airyn terdiam memandang kearah Hansell.


“Sejak 5 tahun silam” lirih Airyn dengan wajah serius, membuat Hansell yang tadinya dipenuhi gelak tawa terhenti seketika, bahkan mata mereka saling menatap dengan penuh pertanyaan, perkataan singkat Airyn benar-benar membuat Hansell merinding tak kepalang.


"Apakah ia sudah mendapatkan ingatanya kembali? "