Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Meragukan Nona Petrov



Meskipun nama Somi sudah di coret dari industri artis Korea, namun kekayaan yang di peroleh selama ini mampu menghidupkan dia dan ibu nya seumur hidup, meskipun dalam lingkup sederhana, setelah kejadian hari itu Tuan Ji atau ayah kandung nya tidak terlihat sama sekali, membuat Somi sedikit nyaman dengan keadaan yang di jalani nya saat ini, setelah apa yang dia alami tidak semudah itu memperbaiki kenangan pahit yang terjadi antara dia dan ayah kandung nya.


Di depan halaman yang cukup sempit itu lebih tepat nya di depan rumah sederhana Somi mengandeng ibu nya memasuki rumah tersebut, tentu saja ada kebingungan tertera jelas di raut wajah Iriana, sebab rumah itu beda sekali dengan rumah besar nya, ini hanya rumah sedernaha yang cukup di tinggali keluarga kecil, bahkan rumah ini sebesar kamar nya saat di rumah besar


“Nak. Rumah siapa ini?” tanya Iriana ketika langkah kaki mereka menuju rumah tersebut


“Ibu, ini rumah kita. Aku membeli rumah ini untuk tempat tinggal kita sementara, nanti jika aku sudah bekerja aku akan memberikan tempat yang lebih layak untuk ibu” jelas Somi kepada ibu nya


“Untuk apa lagi? ini jauh lebih bagus dari yang ibu harapkan” saut Iriana ketika mata nya terkesima menyaksikan rumah baru nya, sebab Iriana sudah mengerti bagaimana keadaan suami nya saat ini, Iriana juga sudah tau apa krisis ekonomi yang di hadapi keluarga mereka, membuat Iriana memilih pulang dari pada di rawat di rumah sakit, meskipun begitu Somi tetap menebus semua obat mahal yang harus di konsumsi ibu nya


“Maafkan Somi, jika saat ini hanya bisa memberikan tempat tinggal sederhana untuk Ibu, tapi Somi berjanji akan bekerja keras” tutur nya dengan raut wajah sedih, membuat Iriana menghentikan langkah nya, Iriana mengenggam tangan putri nya sembari mengusap lembut pipi Somi


“Somi, ini jauh lebih cukup, tidak ada yang perlu kamu lakukan lagi, selain mencari kebahagian mu sendiri, ibu sangat bersyukur hidup sederhana seperti ini dengan mu. Ibu yang harus nya berterima kasih, karna apa yang terjadi di masa lalu kamu harus melewati semua beban ini. Bagi ibu, kamu luar biasa untuk di miliki” jelas nya dengan nada rendah, bahkan menusuk ke relung hati Somi, mata nya berkaca-kaca mendengarkan seluruh perkataan ibu nya dengan jelas “Somi, terimakasih banyak nak” Iriana memeluk putri nya ketika mereka berada di depan pintu rumah, seketika suasana haru menyelimuti ke dua nya, membuat Iriana mengusap kepala anak nya akibat bangga yang di rasakan nya


“Ayo kita masuk” sambung Iriana, membuat Somi menganggukan kepala dengan cepat, dia membuka pintu sambil mengandeng tangan ibu nya, terlihat jelas ketika memasuki rumah itu mereka berdua langsung berhadapan dengan ruang tamu yang kecil dan pas untuk tiga kursi dan satu meja, terlihat dapur yang minimalis di tambah dua kamar tidur yang tidak besar lengkap dengan kamar mandi kecil di dalam nya, meskipun sederhana namun ini sangat layak di jadikan tempat tinggal


Somi membukan pintu kamar yang berada di dekat dapur, itu adalah kamar yang paling besar, meskipun hanya cukup untuk tempat tidur dan lemari paakaian serta kamar mandi yang kecil namun terlihat lebih padat dan nyaman, Somi membantu ibu nya beristirahat, ketika Iriana mudah kelelahan akibat penyakit jantung dan anemia yang di derita nya, Somi beranjak membuka jendela untuk memberikan angin siang yang sepoi-sepoi.


Perlahan gadis itu menidurkan diri di samping ibu nya sembari merasakan kehangatan tubuh yang di cintai nya lahir dan batin, bahkan Somi begitu mencintai malaikat tanpa sayap itu.


***


Dikra begitu lincah mengutak atik tombol komputer di hadapan nya, dia meletak kan pena di daun telinga guna memudahkan nya mencari benda itu jika di perlukan, sedangkan di sisi lain Frada tak henti nya mengutak-atik beberapa komputer yang berjejeran rapi di hadapan mata tajam nya, tentu saja dua orang itu sangat sibuk dengan tugas masing-masing.


kesal di Dikra saat mengatupkan ke dua tangan nya


“Apa kau hanya bisa mengeluh!!” saut Frada ketika melirik ke arah Dikra


“Apa aku terlihat mengeluh, aku tengah berfikir” balas nya dengan mengalihkan pandangaan ke arah gadis itu, sedangkan Frada sangat sibuk dengan kegiatan jari nya


yang sedari tadi tak ingin berhenti


“Kau tidak akan bisa menemukan apapun, jika teman mu tidak mau bekerjasama dengan kita” seru nya ketika menghentikan kegiatan tersebut, membuat Dikra sangat muak dengan semua hal yang di paksakan Frada ke pada nya.


“Kenapa kau tidak bisa sabar sedikir saja, Apa maksud dengan tidak bekerjasama? hansell bahkan telah membantu banyak hal, tidka bisakah kau mengucapkan kata terimakasih walaupun sedikit” Dikra merasa kesal dengan balasan Frada, dia bahkan menunjukan ketidak sukaan nya tentaang argumen yang di lontarkan wanita itu


“Kau fikir saja sendiri!! Selama ini kita sudah bersusah payah mencari apapun, namun kita tidak menemukan nya, tapi saat Hansell terlibat dengan semua ini, kita mendapatkaan beberapa jejak tentaang Grifin yang tidak kita ketahui bukan. Tidak kah kau berfikir jika Hansell membuka sedikit mulut nya tentang apa yang saat ini di ketahui, seterang apapun kita bisa mendapatkan jejak orang itu” jelas Farada ketika menyatukan ke dua jemari nya


“Bukan kah sudah aku katakan, tidak semudah itu untuk mengusik Hansell, kau tidak boleh melewati batasan mu Nona Frada. Aku tau kau tidak sabaran lagi untuk menemui Grifin, tapi jika kau terus seperti ini semua hal akan hancur, lebih baik kau buang sedikit ego mu sebagai wanita” ketus Dikra


“terus saja menyuruhku seperti itu, hingga akir nya kita tidak memiliki apa-apa, kau mungkin bisa mempercayai teman mu, apa kau yakin bisa mempercayai Nona Petrov? Kau melihat sendiri bagaimana terdepan nya wanita itu, bahkan dengan semua kesibukan yang dia punya, dia bisa melakukan rencana sesempurna itu untuk menyelamatkan adik ipar nya, sedangkan kita yang se umur hidup menghabiskan waktu untuk membalas dendam dan berdiam diri disini selalu kalah dengan Nona Petrov, bahkan aku mengakui Nona Petrov sangat luar biasa dari yang aku bayangkan, bahkan jika aku bisa memilih, Nona Petrov sebenar nya lebih licik dari apa yang kita bayang kan. Pikirkan saja itu baik-baik, bantu teman mu untuk berbagi sedikit petunjuk dengan kita, jika kau tidak ingin semua ini sia-sia” tutur Frada dengan aura dingin nya, membuat Dikra terdiam mendegar semua itu.


Meskipun dia mengerti Airyn bukan gadis biasa, melainkan wanita yang berbahaya, namun selama ini dia percaya, tapi kali ini kata-kata Frada membuat dirinya mencerna baik-baik. Sebab Airyn begitu terdepan di tengah kesibukan nya, bagaimana bisa gadis itu melakukan nya, sedangkan Dikra yang di bantu oleh Frada masih tidak mendapatkan apa-apa, padahal dirinya sudah berusaha sebisa mungkin tapi tetap saja tidak mendapatkan hasil apapun.


Gadis itu tentu mengutamakan diri nya di atas segala nya, sebab selama beberapa tahun belakangan Dikra sudah mengenali sifat Airyn, keraguan menjelma nyata, membuat diri nya bisu serubu bahasa, Dikra menerawang beberapa hal yang di cerna di otak nya, membuat dia membenarkan apa yang di tuturkan Frada barusan.