
Hari ini Airyn sengaja meluangkan waktunya untuk rapat dengan sebuah Brand terkenal dari perusahaan nomor 1 di Korea yang bekerjasama dengan komunitas sosial yang di dirikan Hansell untuknya, ia mendudukan diri di ruang rapat yang di sediakan di kantor cabang, Airyn melihat beberapa Progres yang di lakukan oleh pihak sekutu sehingga membuatnya mengagukan kepala seolah memiliki keputusan final atas program tersebut.
“Permisi, selamat siang semua” ucap seorang pria yang kala itu berpenampilan cukup menarik hingga membuat mata Airyn terpaku kearahnya, tentu saja Airyn cukup mengenali pria itu dan Airyn sedikit kaget jika saat ini Dall yang memasuki ruang rapat dengan orangnya, apakah perusahaanya yang beetenger di jenkang urut pertama yang bersedia melakukan kerjasama dengan komunitas sosial milik Airyn. “Kita bertemu lagi Nona Petrov, tidak... tidak... aku mengenalimu dengan pangilam Airyn” sapanya seraya memasuki ruangan itu dengan sikap ramah, bahkan Dall mendudukan diri di sisi Airyn, hingga wanita itu membalasnya dengan wajah dingin.
“Aku cukup kaget jika perusahaan kalian yang membuat progres ini” balas Airyn yang kala itu sedikit malas menangapi perkataan Dall.
“Berarti anda masih belum mengetahui tentang diriku, karna itulah anda tidak percaya atas Progres ini” ucap Dall dengan senyum ramahnya, membuat Airyn menarik senyum kecut yang hampir tidak tertampil dengan jelas.
Wanita yang tengah hamil itu melipat kedua tanganya seraya menatap lekat kearah Dall, hingga tatapanya diarahkan pada seluruh orang yang ada di ruangan itu. “Aku menyetujui kerjasama ini!! Karna itulah aku ingin kalian semua keluar dari sini, sebab aku ingin bicara dengan Dirut perusahaan secara privat” Tentu membuat pria itu terkekeh melihat tingkah Airyn, bahkan nampak sekali wanita itu tidak ingin berbasa-basi dengan dirinya, apakah memang tidak ada kesempatan untuk Dall mengejarnya, sayang sekali.
Semua orang benar-benar keluar dari sana, bahkan mereka hanya meninggalkan Airyn dan Dall sendirian di ruangan. Hingga hening membentang saat Airyn tengah mengelus perutnya yang membuncit, ia bahkan sangat sibuk menekuk wajah seraya mengabaikan pria itu, tentu sedari tadi tatapan Dall tidak mampu di lepaskan dari Airyn, wanita di hadapanya itu memanglah sesuatu yang membuatnya tergila-gila, bahkan wanita ini terus saja membuat Dall penasaran sekalipun ia memiliki suami.
“Katakan apa tujuan mu sebenarnya?” tanya Airyn dengan kalimat santai tanpa melihat pria yang ada di hadapanya.
“Tujuan apa?” balas Dall dengan membeokan perkataan dari Airyn, membuat permukaan tangan wanita itu terhenti hingga menganggkat kepalanya untuk mendongak melihat Dall.
“Perusahaan mu bukanlah perusahaan yang mau menyumbang dengan angka sebesar ini tanpa ada Velue yang kalian dapatkan, bahkan jika kita masukan kedalam pemikiran bisnis, lebih baik perputaran uang dan rugi itu kalian putarkan kedalam saham, tapi ada perihal apa sehingga Direktur Utama membuat progres besar untuk bekerjasama dengan komunitas sosial yang ada di bawah namaku?”
“Tentu saja untuk amal, memangnya untuk apa lagi”
“Tapi kau bukan tipe orang yang suka beramal, Tuan Muda Dall” bantah Airyn dengan senyum penghinaan yang mampu terakses oleh kedua mata Dall, bahkan senyuman itu sungguh menyudutkan dirinya hingga merasakan penghinaan yang nyata.
“Baiklah jika kau ingin berterus terang. Maka akam aku katakan, jika saat ini aku ingin mengejarmu”
“Apa kau tidak memiliki etika, aku adalah suami orang, dan kau masih medekatiku—“
“Tapi suami mu sudah meninggal” putus Dall dengan kalimat dingin yang mampu menyadarkan Airyn akan kenyataan, bahkan perkataan pria itu menghilangkan rona bahagia di wajah Airyn, hingga berubah suram dalam waktu seketika. “Bukankah aku benar? Aku sudah menyelidikinya, jika suami mu sudah meninggal, dan saat ini kau hanyalah seorang istri yang tidak memiliki suami, dan-“
Plakkkk…… sebuah tamparan itu Airyn layangkan dengan penuh kekesalan, emosinya yang begitu terpancar tidak mampu ia redakan , tatapanya amat marah hingga sulit di redam, membuat Airyn tidak percaya pria itu dengan percaya diri mengantarkan kenyataan di depan matanya, saat Airyn sendiri belum bisa menerima itu. Sekalipun Hansell telah tiada, ia juga tidak memiliki hak untuk bicara seperti ini tentang suaminya.
“Apa aku salah, bukankah aku mengatakan yang sebanarnya” balas pria itu ketika merasakan tamparan perih dari Nona Petrov, tentu Airyn belum berlihah dari emosi membara yang ia pancarakan dengan nyata, ia tetap menajamkan mata penuh pertentangan seolah Airyn ingin sekali menghancurkan pria itu detik ini juga.
“Sekalipun suamiku sudah tiada, apa kau fikir dirimu pantas untuk bicara seperti itu!! Bahkan jika Hansell tidak ada di dunia ini, dan aku harus hidup sendiri dengan calon anak kami, aku tidak akan pernah mengantinya dengan pria lain”
Sungguh perkataan Airyn barusan membuat Dall amat tersingung, nampaknya wanita itu tengah menghina dirinya dan tengah memperjelas jika Dall tidak memiliki tempat apapun, bahkan nampaknya wanita itu tidak mempercayai kepergian suaminya.
“Luar biasa” decak Dall dengan tidak menyangka. “Bahkan setelah dia tiada, kau masih tetap tidak berkilah ke yang lain, apakah memang tidak ada tempat untuk seseorang mengantikanya?”
“Seseorang? Siapa yang kau maksud dengan seseorang? Apa dirimu?” hina Airyn dengan sorot mata merendahkan, membuat pria itu menahan geram lantaran pandangan Airyn sungguh menyatikan. “Kau lebih tahu jawabanya, sebelum aku menjelaskan bukan. Jangankan untuk mengantikanya, melirik seseorang saja aku tidak sudi” sambung wanita itu ketika menampakan permukaan tanganya di sisi meja.
“Dengar Tuan Dall yang terhormat! Aku harap kau memiliki batasan untuk mengusik diriku, kau tahu betul bukan, aku adalah orang yang tidak bisa kau singgung dengan mudah, karna itulah, jangan coba-coba menyinggungku sebelum batas toleransiku memudar, aku bahkan bisa seperti wanita gila yang ingin menghabisi mu secara brutal jika kau benar-benar menyebalkan” tegas Airyn dengan jengkel, ia sungguh hilang kata-kata untuk merendahkan dirinya sehingga nampak sekali bagaimana kesalnya Airyn saat ini.
Hingga mata pria itu terpaku kearah tatapan Airyn yang memancar penuh kebencia, bahkan nampak sekali wanita itu tidak main-main atas perkataanya, sehingga Dall tidak percaya jika wanita yang bernama Airyn memang tidak bisa ia miliki.
“Sepertinya memang tidak ada tempat untuk siapapun lagi” seru Dall dengan nada pasrah penuh kekalahan.
“Jika kau sudah sadar, aku harap kau harus mengerti, dan sadar akan diri sendiri dan posisimu, jangankan meng-gantikan Hansell, setara saja denganya kau tidak mampu” hina Airyn ketika ingin beranjak dari sana, membuat pria itu berdiri dari duduknya dengan tidak terima.
“Kenapa? Aku bahkan sudah menempatkan posisi pertama di Negara ini, dan perusahaan suami mu sudah karam begitu saja. Kenapa aku tidak bisa setara dengan-nya”
Rasanya mulut wanita itu sangat gatal sekali ingin menghujat, lantaran Airyn mendengar bantahan tidak terima dari Dall, seketika membuatnya membalikan badan saat melirik pria itu. “Benarkah? Tapi nampaknya kau lupa, jika suamiku sudah meninggalkan komunitas sosial dan beberapa asuransi. Maka akan aku bangkitkan kembali dalam waktu 2 tahun ini, dan saham yang kau rebut dari milik suamiku, cepat atau lambat akan aku rebut kembali untuk menghidupkan Perusahaan HS. Jadi jangan berbangga diri dulu, sebab aku akan meruntuhkan posisi itu setelah dua tahun ini”
“Kau tidak akan bisa” bentak Dall dengan tidak terima, ia tidak menyangka jika Airyn akan sejauh ini tentang suaminya, padahal pria itu sudah tiada.
“Kenapa tidak mungkin? Jika suamiku saja bisa memberikan sahamnya dengan Cuma-Cuma, apalagi aku yang yang akan menghidupkanya kembali, serta mengambil saham yang kalian rebut dari Hansell”
Airyn meraih pintu ruangan itu, ia keluar dengan langkah pasti dan meninggalkan Dall di sana sendiri, bahkan nampaknya pria itu masih tertegun atas perkataan wanita itu. Dall tidak menyangka wanita itu akan sehebat ini, kenapa Airyn tidak menjadi miliknya, padahal suaminya telah tiada, betapa beruntungnya Hansell hamilton, bahkan setelah ia tiada, wanita itu tetap tidak merubah perasaanya.
**
New York, Amerika.
Pagi ini tetap seperti biasa, Angel menemani kakaknya sambil melakukan rutinitas disana, bahkan beberapa Dokter dan juga perawat silih berganti mamasuki ruangan untuk memantau kondisi Hansell dan bahkan beberapa jam per detik telah berlalu begitu saja.
Sedangkan Ny.Merry berada di lantai yang sama dengan kakaknya, namun akibat pertengkaran kemarin, membuat Angel masih belum berani melihatkan wajahnya, ia tidak tahu cara meminta maaf, dan terlalu takut untuk memulai, sedangkan Dikra sudah sedari malam tidak menampakan dirinya, bahkan Angel tidak ingin tahu dimana pria itu berada.
Nampaknya mereka memang butuh waktu untuk saling menerima keputusan di hubungan ini, untuk itulah Angel membiarkan Dikra memperbaiki dirinya, dan Angel menenangkan dirinya, kadang memaksakan hubungan yang saling tidak memahami dan tidak jujur pada diri sendiri, hanya akan mengantarkan kebingungan, dan mengakiri kisah ini adalah jalan satu-satunya untuk di tempuh.
Sedangkan di ruangan Merry, ia sudah sadar sedari malam hari, dan banyak perbincangan yang Merry lakukan dengan suaminya, bahkan saat ini Merry sudah berada di dalam keputusan untuk menerima keadaan, menjalani apa yang seharusnya di jalani, dan bersikap sebagai ibu dan istri.
Jika memang itu pilihan Hansell, maka Merry dengan terpaksa membiarkan semuanya berjalan sesuai keinginanya, sebab ia tidak mungkin memberi tahu Airyn jika suaminya terbaring koma tanpa kepastian di rumah sakit terbaik di Amerika, itu hanya akan menyulitkan dan membuat masalah baru untuk anaknya, lantaran saat ini Airyn sudah memahami dan menerima takdir di dalam kehidupanya, bahkan Merry sangat mengerti jika Airyn tengah menyibukan diri untuk mengembalikan perusahaan Hansell, dan merebut saham Hansell dari berbagai pihak.
Sedangkan Zates yang tadinya ingin pergi dan menjauh lagi, kali ini sudah mulai menerima dan menyadari, bagaimana penting dirinya bagi Merry dan calon anak mereka serta bibi kecil untuk cucu mereka, meskipun begitu tatap saja Zates terus waspada untuk kedepanya, jika ia tidak bisa bertindak sendirian tanpa melibatkan Merry, dan apa yang terjadi hari ini, di jadikan pelajaran untuk mereka saling menerima dan memaafkan.
“Sudah cukup” sanggah Merry ketika memalingkan wajah sambil menutup mulutnya, tentu saja membuat tangan Zates terhenti ketika menyodorkan makanan dengan paksa ke mulut wanita itu.
“Baiklah, tapi ada apa dengan wajahmu, apa kau mau muntah, muntahkan saja” ucap Zates saat berdiri menarik tubuh istrinya untuk ia tenangkan.
“Jauhkan tanganmu, aku tidak ingin muntah” ucap Merry ketika menepis tangan Zates dari pundaknya. “Aku tidak mau muntah, aku tidak mau” sambungnya dengan kesal, membuat pria itu cukup prihatin dengan apa yang Merry alami, tentu saja di masa lalu Zates hanya mampu melihat hal ini dari kejauhan, ia hanya bisa memantau Merry dari jarak yang tidak Merry sadari dan turut sedih atas penderitaan istrinya, tapi saat ini, Zates bisa melakukan segalanya dengan bebas, membantu Merry untuk mengeluarkan seluruh makanan di perutnya, dan bahkan membantu Merry untuk ke kamar mandi, ia juga terus memeluk Merry lantaran istrinya sangat suka di peluk dan menyukai wangi tubuhnya, bahkan Merry sangat manja sekali meskipun emosinya mulai keruang stabil, meskipun begitu Zates sangat bahagia jika masa depanya jauh lebih berawarna dari yang ia bayangkan.
**
Seoul, Korea Selatan…
Zates membantu Merry untuk berjalan kearah rumah, tentu saja mereka baru sampai dari perjalanan yang cukup panjang, bahkan Merry mabuk perjalanan di dalam pesawat, beruntung mereka mengunakan pesawat pribadi sehingga Merry bisa sebebas mungkin mengeluarkan ketidaknyamanan di perutnya, namun saat ini istrinya cukup lemas dan butuh istrirahat, bahkan Zates ingin berkonsultasi dengan Dokter dan ingin Merry memiliki perlengkapan kesehatan di rumah.
“Ibu, Ayah..”sapa Airyn yang super hati-hati ketika berlari kecil, ia mendekati dua pasangan itu seraya melihat tubuh Merry yang begitu lemas, Zates mendudukan Merry di sofa yang sangat luas seraya mengistirahatkan istrinya.
“Sayang, bagaimana kabarmu?” tanya Zates ketika mengusap kepala anaknya, sambil memberikan pelukan hangat untuk Airyn.
“Aku sangat baik sekali, aku sering berolahraga yang teratur dan juga makan makanan yang seimbang”
“Itu sangat bagus sekali, bahkan sebagai ibu hamil yang akan menghadapi waktu kelahiran, kau adalah wanita pertama yang aku lihat sangat baik”
“Kenapa memangnya?"
“Biasanya saat seorang ibu hamil berada di dekat waktu kelahiran, mereka akan merasa tertekan dan di landa cemas yang ektrem, bahkan mereka merasa malas berolahraga dan hanya memilih diam, tapi nampaknya kau kebalikanya, kau seperti menanti waktu itu dan sepertinya sangat semangat sekali” ucap Zates pada putrinya, membuat Airyn terkekeh ketika mendengar penjelasan ayahnya itu.
“Sebanarnya aku sangat cemas, tapi aku dengan pandai menyembunyikanya, bukankah ayah tahu sendiri, jika aku perlu menjaga harga diri Nona Petrov-ku"
“Hei jangan seperti itu, aku akan benar-benar marah” dengus Zates dengan kesal, membuat Airyn tersenyum sembari memeluk ayahnya.
“Airyn hanya bercanda” seketika pelukan kecil dan ucapan manis dari anaknya, membuat Zates tersenyum teduh, ia memandangi Airyn dengan sayang hingga mengalihkan pandangan kearah istrinya.
“Merry, apa mau aku gendong saja ke kamar?” tanya Zates pada wanita itu.
“Iya bu, istrirahatlah di kamar” timpal Airyn.
“Aku ingin disini saja, aku tidak mau berada di kamar”
“Kenapa?” balas Airyn dengan bingung.
“Entahlah, aku benci saja ada di kamar, rasanya ada gejolak tidak nyaman di perut jika sudah membaringkan diri di kasur”
“Benarkah? Lalu apa ibu mau tidur disini saja? Tidak mungkin kan” ucapiryn dengan penuh heran.
“Tentu saja, bahkan selama memasuki bulan ke-3, ibumu akan terus tidur di ruang tamu, ia akan terus mual jika berbaring di kamar” jelas Zates ketika melirik Airyn, membuat Airyn membulatkan mulut mendengarnya.
“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Merry dengan bingung, bahkan saat wanita itu bertanya, Zates di buat diam ketika memalingkan wajah kearahnya. “Kenap kau bisa tahu? Apa kau melihat semua itu? Dimana kau berada memaangnya?” ucap Merry dengan ingin tahu sekali, ia bahkan mendudukan diri dengan benar sembari menguncang bahu suaminya.
“Se-Sebenarnya…”
“Sebenarnya ayah selalu berganti posisi dengan ayah Louis hanya untuk melihat ibu dan aku” timpal Airyn, membuat kedua orang itu menatap Airyn dengan penuh heran, bahkan Zates terpaku atas jawaban anaknya.
“Apa ibu tidak pernah menyadari jika dimasa lalu ada sorot mata yang menatap dengan penuh peduli padamu, sebenarnya itu bukan ayah Louis, melainkan ayahku” sambung Airyn saat melanjutkan perkataanya.
“Benarkan seperti itu?” tanya Merry ketika menatap wajah suaminya, ia seperti meminta konformasi dari pria itu, namun rasanya Zates cukup malu untuk mengakuinya.
“Tentu saja benar, bahkan saat dimasa kecil aku selalu marah padamu ibu, karna saat itu aku fikir ayah menyukaimu, tapi ternyata itu adalah Zaterius Laos Petrov yang sering berganti posisi dengan ayah. Sialnya kita baru mengatahui fakta ini setelah 20 tahun kehidupan”
"Aku tidak bertanya padamu Airyn" kesal Merry pada Anaknya yang terus menimpal jawaban, membuat Airyn terdiam sambil menutup kedua mulutnya. “Zates bagaimana bisa kau seperti itu” sabungnya dengan jengkel.
“Merry maafkan aku, sebanarnya—“ hingga semua makanan yang Merry masukan kedalam mulutnya dari sarapan pagi hingga makan siang, meloncat keluar dan membasahi baju Zates, bahkan wanita itu seperti menjadikan tubuh suaminya sebagai tempat untuk meluapkan segala ketidak nyamanan yang ada, hingga Airyn terpana dengan aksi dari ibunya, Airyn hanya mampu berdiri dan mundur secara perlahan, sampai akirnya tangan Zates menepuk pundak istrinya untuk terus berusaha mengeluarkan makanan yang sudah di cerna istrinya, bahkan baunya saja mampu membuata Airyn mual hingga ia beranjak dari sana sesegera mungkin, sedangkan Zaterius itu dengan penuh cinta membantu istrinya yang kesusahan.
“Z-Zates bajumu” ucap Merry dengan menangis perih akibat rongga mulutnya yang tidak nyaman, ia sungguh malu namun tidak bisa ia tahan.
“Tidak apa-apa, keluarkan saja” ucap Zates dengan nada lembut penuh perhatian. “Kenapa kau harus menangis, dasar bodoh” ucapnya dengan kalimat menenangkan seraya mengusap air mata Merry dengan perlahan.
Tentu saja Merry benar-benar mengeluarkan seluruh ketidaknyamanan itu, hingga Zates menangalkan bajunya sembari mengendong merry kearah kamar, ia membantu Merry untuk membersihkan diri lantaran tubuh istrinya amat lemas sekali, bahkan Zates dengan sayang memberikan perhatian penuh hingga nampak sekali bagaimana ia memperlakukan wanita itu seperti berlian paling berharga di dunia, dan setelah Zates selesai memandikan istrinya, ia membantu Merry mengunakan pakaian, dan menidurkanya. Pria itu menganti pakaian bersih untuk melindungi diri dari hawa dingin, ia yang sudah menidurkan Merry sampai terlelap, keluar dari kamar untuk menemui anaknya.
Langkah Zates terhenti ketika Zates berdiri di depan pintu kamar Airyn, secara perlahan ia membuka pintu itu sembari memasuki kamar Airyn sebab melihat anaknya tengah sibuk membaca buku diatas ranjang, dengan segera Airyn melepaskan buku itu sambil tersenyum menyambut kedatangan ayahnya, Airyn memeluk Zates untuk bersikap manja pada ayahnya sendiri, ia berbicara dan bercerita panjang lebar hingga sampai kepada pengambilan saham Hansell, dan tentu saja Zates sangat mendukungnya, dan dengan bantuan ayahnya akan menjadi hal yang akan mudah untuk memuluskan rencana.
“Sekarang tidurlah, sudah hampir larut, tidak baik untuk ibu hamil melewatkan jam tidurnya”
“Ayah benar. Tapi pergilah setelah aku tertidur ya” pinta Airyn ketika menarik selimut untuk membalut tubuhnya.
“Tentu saja sayang….aku seperti mengasuh dua bayi besar yang tengah hamil” ejek Zates dengan bercanda seraya menyelimuti anaknya, ia mengusap kepala Airyn hingga sebentar saja wanita itu sudah mulai mengantuk dan tertidur.
Setelah anaknya tertidur, Zates benar-benar bahagia sekali, ia tidak pernah memimpikan hal seperti ini sebelumnya, namun nampaknya Tuhan memberinya kesempatan untuk bahagia, jika benar semua ini jawaban dari pengorbanan Zates, maka ia sangat ingin semua orang bahagia seperti dirinya, apalagi anaknya ini. ”Ayah menyayangimu” seru Zates sambil mencium kening anaknya, ia mematikan lampu kamar sembari berlalu kekamar Merry.