
Ketika Airyn dan seluruh anak buahnya turun dari lantai atas menuju Lobby Hotel, mata Airyn tertuju kearah lorong yang ada di sudut pandanganya, bahkan di dekat dinding itu ada sebuah tanda yang menunjukan jika itu adalah Toilet umum, apakah Airyn perlu menahan diri dengan susah pasah atau melepaskan sesak itu.
Sejenak Airyn menimbang-nimbang, apakah ia perlu melepaskan dirinya tanpa melawan rasa sesak yang sedari tadi menyerang pertahanan tubuhnya, semakin Airyn berfikir semakin terasa pusing akibat gejolak asing di perutnya.
Pada akirnya Airyn memutuskan untuk memberi dia waktu kedalam sana, wanita itu berjalan menelusuri lorong yang ada lampu neon diatasnya secara berjejer rapi disepanjang jalan, selain itu tubuh Airyn yang semakin lunglai membuat dirinya bertahan dengan monopang telapak tangan kearah dinding untuk mengantarkan diri kedalam Toilet itu, sehingga semua anak buah Nona Petrov melakukan penjagaan untuk bosnya, mereka berada diarah luar tanpa memperbolehkan seseorang masuk kesana.
Baru saja Airyn memasuki kamar kecil yang ada di Toilet tersebut, perutnya langsung mual hingga tidak tertahan, bahkan ia muntah sejadi-jadinya meskipun tidak ada yang keluar dari mulutnya, Airyn menepuk dadanya yang terasa begitu sakit, bahkan tengorokanya sebegitu pedih hingga terasa pekat disana, Airyn benar-benar kesulitan untuk bernafas ketika bersusah payah menahan diri di hadapan Jungkyung.
Mengetahui Nona Petrov tengah bersusah payah menetralkan perutnya, membuat mereka sangat mengerti bagaimana wanita itu, meskipun ia melakukan tindakan mengerikan untuk membunuh musuh dengan perintaahnya, tetap saja Nona Petrov selalu mengalami trauma dan ketakutan yang membuat tubuhnya menolak dengan tindakan yang di lakukan, di hadapan Jungkyung wanita itu hanya berusaha kuat seolah tegar tanpa ada emosi yang tertampil, sebab Airyn selalu pintar malakukan sandiwara seperti ini, meskipun pada kenyataanya mereka mengetahui dengan jelas bagaimana wanita itu lemah namun berusaha untuk kuat.
Apalagi di keadaan sekarang, ketika suami dan juga ibu kandungnya menghilang, tentu dengan melemahkan diri tidak akan menghasilakan apapun, sehingga Nona Airyn tetap menjaga keseimbangan tubuhnya meskipun semua orang meyakini dirinya akan tumbang setelah ini.
Airyn menderaikan air mata dengan pecah di dalam ruangan itu, ia benar-benar takut hingga tubuhnya merinding akibat hilangnya Hansell karna kebodohanya sendiri, apa yang harus Airyn lakukan di situasi ini, bahkan ia sudah berusaha sekeras mungkin namun tidak ada jejak ataupun bukti untuk mencari keberadaan, membuat Airyn ingin menyerah namun ia tidak bisa melakukanya.
Andai saja dia tidak menginggalkan suaminya, mungkin Airyn tidak akan kehilangan Hansell. Penyesalan dan rasa bersalah tentu hadir di diri wanita itu secara bersamaan, hingga tangisan tidak terhenti seolah memecah seluruh ruangan kosong dengan tagisan Airyn yang mengema di dalam sana.
Kali ini Airyn berhadap Hansell baik-baik saja dan berharap dirinya bisa bertahan hingga akhir, apapun yang terjadi Airyn tidak akan berhenti sebelum menemukan Hansell, tidak peduli bagaimana muntah darah dan juga rasa perih akan kehilangan serta rasa kesepian yang melingkup, tetap saja Airyn perlu bertahan.
Begitupun dengan Merry, ibu kandungnya sendiri yang saat ini entah dimana, membuat Airyn memasang kekebalan tubuh dua kali lipat dari biasanya, meskipun harus di paksakan untuk bertahan dan sadar.
*****
“Hansell…” seketika mata pria itu mengerjap ketika mendengar seseorang menyerukan namanya, bahkan rasa pusing mendera kepalanya dengan begitu perih, ia mengigat jika dirinya tengah menunggu Airyn di sebuah butik, namun setelah itu Hansell hilang kesadaran di luar kendalinya, bahkan ia melupakan hal apapun, sehingga tidak mengetahui kenapa berakir di tempat seperti ini.
“Merry!!” sontak matanya membulat ketika melihat Merry berada di sana, wanita itu sehat tanpa ada luka atau hal apapun yang menyakitinya, bahkan Merry terlihat baik sepenuhnya, membuat Hansell melirik wanita itu dengan posisi yang tidak mengenakan, tanganya terikat beserta dengan kakinya, bahkan tempat ini tidak ada alas apapun selain lantai tanah dengan papan kayu sebagai tumpuan tubuh mereka.
“Dimana kita?” celetuk Hansell dengan binggung, ia melihat keseluruhan tubuhnya yang sudah terikat lebih kecang dari Merry, sebab mengunakan borgol besi yang sulit di lepaskan kecuali mengunakan kunci.
“Tentu saja kita tengah menjadi tawanan seseorang” sanggah Merry ketika menatap pria itu, apakah menantunya bodoh seolah belum menyadari situasi mereka.
“Di culik? Tapi siapa yang menculik? Airyn dimana?” tanya Hansell dengan panik, membuat Merry memejamkan mata ketika suara pria itu begitu mengelegar di dalam ruangan.
Ruangan yang remang-remang tanpa ada pencahaan dari pintu-pintu kecil itu, membuat mereka tidak akan pernah tahu keadaan siang dan malam hari sebab setiap waktu suasana di ruangan itu tetap sama, Suram.
“Tidakah kau bisa tenang! Jika Airyn tidak disini, berarti dia berada di luar sana dan tengah berkeliaran mencari suaminya yang hilang” sindir Merry dengan jengkel, membuat Hansell terpana memandang ibu mertuanya, apakah Merry mengatakan saat ini Airyn tengah ketakutan diluar sana akibat
dirinya yang menghilang.
“Apa maksudmu?” ucap pria itu ketika mengulang kembali pernyataan Merry, seolah Hansell membutuhkan penjelasan yang lebih lanjut.
“Lupakan saja. Kau memang tidak bisa di handalkan!! Bagaimana bisa kau berakir disini? Apa yang kau lakukan sehingga bisa di culik oleh mereka?” tanya Merry dengan tatapan tajam pada Hansell, bahkan rasa ingin tahunya membuat Hansell merasa tersudutkan oleh sikap Merry.
Secara seksama pria itu melirik sekujur tubuh yang sudah terkunci dengan rapat, tanganya yang diborgol dengan sangat kecang itu menandakan tidak ada yang bisa di lakukan, bahkan Hansell menimbang-nimbang dirinya yang begitu kesulitan melepaskan diri setelah mengingat kembali kejadian terakir kali di butik tempat mereka menyiapkan diri sebelum menghadiri pesta.
“Aku dan Airyn tengah menghampiri butik untuk menghadiri pesta jamuan makan malam yang Airyn adakan secara besar-besaran. Waktu itu Airyn ingin menelfon seseorang yang dibilangnya sangat penting, ia meninggalkan aku di ruang tunggu. Aku tidak mengetahui bagaimana aku bisa pingsan, tapi aku merasa sedang menghirup sesuatu yang berbau harum, hingga akirnya berakir disini” jelas Hansell ketika mengigat kembali kejadian sebelum dirinya hilang kesadaran.
“Apa!! Airyn mengumunkan identitasnya? Apa Airyn mengakui hubungaan kalian?” tuduh Merry dengan cepat, bahkan membuat Hansell sedikit kaget atas sikap wanita itu, tentu saja Hansell menganggukan kepala untuk membenarkan semua itu.
“Astaga….apa yang sudah terjadi memangnya. Bahkan aku hanya menghilang beberapa hari tapi terlalu banyak kekacauan yang terjadi” gumam Merry ketika membenci dirinya sendiri, seharusnya ia tidak bertindak implusif seperti ini, hingga membuat Airyn melakukanya semuanya sendiri. Andai saja Merry tidak berakir di tempat seperti ini mungkin dia bisa bersama putrinya, namun apa yang terjadi sekarang, kecerobohanya sudah mengantarkan Merry terdampar di tempat asing.
Apa yang wanita itu lakukan saat ini, bahkan Merry mengetahui betapa lemahnya anaknya. Dan sekarang Airyn berjuang sendirian untuk mencari suaminya dan juga Merry, saat melihat Hansell yang bisa menyusahkaan Airyn saja membuat jantung Merry bergetar jengkel, dan sekarang beban wanita itu juga bertambah menjadi dirinya.
“Aku tahu! Aku memang tidak berguna Merry, aku bahkan membenci diriku sendiri karna hal itu. Sekarang aku mengerti apa maksud dari semua yang Airyn lakukan. Ia hanya meminta diriku untuk melindungi diri sendiri, tapi aku masih tidak bisa melakukanya, dan malah bersikap hebat seolah akan menyelamatkanya. Memangnya apa yang bisa aku lakukan selain menyusahkan saja” ucap Hansell dengan kalimat rendah penuh rasa bersalah, bahkan ia tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini, namun sekarang ia merasakan bagaimana sesaknya dada itu ketika menyadari jika kita hanya menjadi beban untuk seseorang yang kita cintai.
Benar apa yang di katakan Airyn! Dan seharusnya sedari awal Hansell mendengarkan wanita itu.
Hansell hanya perlu melindungi dirinya, sebab jika Hansell lemah hal itu akan menjadi kelemahan Airyn. Padahal selama ini Airyn di latih oleh orang yang berada di balik surat kontrak itu untuk tidak memiliki kelemahan apapun, dan semenjak ada dirinya hingga Airyn memberitakan pada dunia tentang keberadaan Hansell yang menjadi titik kelemahanya, tentu saja Airyn mengambil resiko yang sangat besar di dalam hidupnya yang sangat kejam.
Sekarang bagaimana keadaan istrinya, apakah Airyn baik-baik saja. Apa Airyn sudah berhenti menangis? Pasti Airyn sangat takut sekali seolah ia tidak bisa melakukan apapun sedangkan Hansell masih bernafas di tempat yang tidak diketahui dimana, untuk kali ini saja Hansell benar-benar merindukan wanita itu, hingga teramat rindu.
Jika saja waktu bisa terulang kembali, Hansell ingin melakukan hal-hal sederhana yang selama ini sering diabaikan dirinya, ia ingin mengalah ketika berdebat dengan Airyn, ia ingin percaya meskipun di kecewakan, bahakn Hansell ingin menyerahkan semua miliknya tanpa Airyn meminta.
Tapi bisakan kesempatan itu ada, ketika dirinya berada di tempat asing yang tidak di ketahui dimana, bahkan tidak mengetahui siapa musuhnya.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri” lirih Merry ketika menangkap ekspresi wajah Hansell yang tengah larut kedalam perasaan sedih dan bersalah, bahkan ia bisa membaca jika kali ini kecemasan tengah mengitari menantunya, tentu saja Hansell merasakan perasaan itu.
Kenapa Merry tidak mempertimbangkan perasaan menantunya, meskipun Hansell tidak berguna, pria itu tetaplah mencintai istrinya setulus hati, dikeadaan ini tidak hanya Airyn yang terluka dan ketakutan, bahkan Merry meyakini Airyn sibuk menyalahkan dirinya sendiri, tapi di sisi ini Merry juga menyadari, Hansell sama terlukanya dengan Airyn, bahkan Merry dapat merasakan bagaimana rasanya saat kita menyadari jika kita telah menempatka seseorang yang kita cintai dalam ketidak berdayaan.
Begitulah dengan Hansell, Ia adalah orang yang paling mengerti Airyn, jadi Hansell pasti mengetahui bagaimana keadaan Airyn saat ini tanpa melihatnya, Hansell pasti merasakan sakitnya Airyn tanpa melihat betapa rapuh istrinya, tentu saja akan ada banyak penyesalan yang di sadarainya, sebab Airyn memang selalu membuat orang di sekitarnya salah paham, tapi maksud dari tindakan itu hanyalah bentuk perlindungan yang di berikanya, yang dengan terpaksa di lakukan oleh dirinya.
"Bagaimana caranya aku tidak merasa bersalah. Jika aku telah menempatkan Airyn dalam penderitaan. Apa kau tahu hal yang tengah aku fikirkan saat ini! Andai saja aku tidak hadir di dalam hidupnya, akankah Airyn bahagia tanpa diriku yang selalu menyusahkan" balas Hansell dengan kalimat rendah penuh rasa bersalah, bahkan Hansell tidak bisa menutupi kesedihanya di hadapan Merry
"Jangan begitu, Airyn akan sedih mendengar dirimu mengatakan hal ini" balas Merry untuk menyadari Hansell.
"Meskipun kau tidak pernah melindungi dirinya, ataupun kau tidak pernah melalukan hal terbaik untuk Airyn, bahkan kau selalu menjadi kelemahan dirinya. Membuat Aku merasa muak setiap kali memikirkan hal itu. Tapi ada satu hal yang membuat aku merasa tertampar, Kau telah memberikan hal yang tidak pernah bisa aku berikan, atau siapapun di dunia ini. Cintamu" ucap Merry dengan kalimat dalam yang mampu membuat Hansell mengangkat kepalanya menatap wanita itu, yang saat ini menjadi ibu mertuanya sendiri.
"Airyn telah membunuh hatinya ketika berusia muda setelah kehilangan kedua orang tuanya. Ia hanya terjebak di dalam hidup untuk mencapai kekuasaan dan juga tidak mengunakan hati dalam setiap tujuan, bahkan saat itu aku sangat merinding ketika membayangkan bagaimana Airyn 10 tahun kedepan. Apakah ia akan menyeramkan dan juga mengerikan, apakah ia menjelma menjadi iblis dalam wujud manusia, apakah ia tidak akan menghargai yang namanya nyawa. Aku sangat takut akan semua itu. Tapi siapa yang menyangka saat kau hadir di hidupnya dan mulai mengunakan hati meluluhkan wanita itu, hingga hidupnya bernatakan dalam satu malam. Selama 3 tahun lebih tidak ada yang bisa meluluhkan air mata itu, sebab ada dendam yang tertanam dalam namun di sangkal dengan adanya cinta pada orang tuanya, hingga kau datang dan meruntuhkan dinding pertahan Airyn, apa kau masih mengira itu bukan perlindungan? Di hidup ini kau tidak melindunginya dengan kekuasaan dan juga kekuatan bahkan uang sekalipun. Tapi kau melindungi Airyn dari kekajamanya, kau yang mengubah hatinya menjadi manusia, kau yang menyelamatkan jiwanya dari ketidakberdayaan, hingga kau yang melindungi dirinya dengan kasih sayang. Ketulusan adalah Hal yang paling mahal, dan itulah tindakan yang kau berikan, yang mungkin di dunia ini hanya bisa di berikan oleh dirimu untuk Airyn, karna itulah jangan menyalahkan dirimu sendiri, Hansell" kalimat yang sangat panjang itu di tuturkan Merry dengan pembawaan tenang namun dalam hingga mencapai dasar hati Hansell, bahkan mampu meluluhkan semua rasa bersalah dan tidak percaya dirinya, bahkan Hansell tidak menyangka cara Merry bicara sama halnya dengan sikap Airyn padanya.
"Terima kasih Merry" ucap Hansell ketika membatin hingga dalam, ia hanya mampu menatap penuh serius pada Merry meskipun air mata perlahan mengalir di sudut matanya, Hansell tidak bisa menyembunyikan hal itu sebab kedua tanganya terkunci dengan borgol kokoh di bawah sana, yang bisa Hansell lakukan hanyalah memalingkan wajah untuk menyembunyikanya dari Merry.
"Apalagi hal yang paling indah, dengan saling mencintai. Aku sudah bahagia jika kau telah mencintai Airyn sepenuh hati, hal yang dulunya tidak pernah aku miliki, dan sekarang dimiliki putriku. Tentu saja itu adalah kebahagian yang paling cukup untuk seorang ibu" gumam Merry ketika tersenyum bahagia melihat Hansell saat ini.
****
Frada dan Darrel membukakan pintu untuk Nona Petrov, membuat wanita itu berjalan kearah dalam guna melihat monitor dan beberapa layar besar yang menampilkan seluruh kota, bahkan Frada dan Darrel telah di lengkapi dengan banyak fasilitas terbaik untuk mencari keberadaan Hansell dan Merry.
Meskipun belum ada hal apapun yang yang di temukan, Airyn dapat mengerti jika mereka telah melakukan hal terbaik untuk pencarian ini, kali ini mata Airyn menatap nanar untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya, namun kenapa Fikiranya tidak bisa berputar seolah semua jalan terasa buntu dan sangat sulit memperhitungkan langkah.
"Kenapa Nona Airyn terlihat tidak berdaya?" tanya Darrel saat mendekati Frada, tentu saja ia bertanya dengan nada pelan yang mungkin akan diakses oleh mereka berdua, menyadari hal itu Frada hanya terdiam memandang Nona Petrov sebelum menjawab pertanyaan Darrel.
"Karna suaminya juga menghilang" lirih wanita itu dengan nada santai, bahkan ia berucap tanpa melirik kearah Darrel
"Oh, suaminya menghilang" ucap Darrel dengan membeo, namun belum sempat dirinya menyelesaikan perkataan, sebuah aliran seperti menghidupkan otaknya hingga terbelalak tidak percaya “Apa!!! Tuan Hansell meghilang” ucap Darrel dengan tidak percaya, bahkan dirinya tidak menyangka pria itu menghilang, dan kenapa Darrel tidak memgetahui hal ini.
Airyn yang tadinya tengah berfikir keras merasa kaget atas sikap Darrel, sehingga ia terpana melirik pria itu yang sebegitu hebohnya “N-nona apa dia benar-benar menghilang?” tanya Darrel kepada Airyn, seolah dirinya belum bisa mempercayai hilangannya Hansell secara mendadak, bagaimana bisa dia tidak mengetahui hal ini, jika semenjak beberapa hari Darrel bersama Frada.
“Tentu saja Hansell menghilang. Aku bahkan sudah memberitahunya pada Frada, kenapa kau tidak memberitahu Darrel tentang hilangnya Hansell?” tanya Airyn ketika menuntut penjelasan Frada yang masih terpana akan sikap Darrel.
“Aku fikir dia tidak perlu mengetahuinya. Sebab tidak ada hal yang bisa di lakukan Darrel” ucap Frada dengan sedikit takut, entah kenapa ia benar-benar melupakan jika Hansell dan Darrel memiliki hubungan yang dekat, sebab baru-baru ini dia telah menganggap Darrel dan juga Merry adalah orang yang paling dekat hingga melupakan Darrel.
“Apa kau gila!! Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku tentang hal sepenting ini!!” bentak Darrel dengan tidak terima bahkan dirinya sebegitu murka hingga beradu mulut dengan Frada tanpa mempertimbangkan Airyn di sana.
“Setidaknya aku sudah melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan, dan aku juga lupa kau dekat dneganya, apa aku tidak boleh melakukan kesalahan! Bagaimanapun Aku hanyalah seorang manusia biasa, bahkan hal seperti itu saja tidak bisa kau pahami” balas Frada seolah tidak bisa di sudutkan begitu saja, tentu dirinya menyerang balik meskipun tidak mempertimbangkan betapa jauhnya usia Darrel dan dirinya.
“Memahami apanya!! Astaga kenapa aku bertemu dengan rekan bodoh sepertimu” umpat Darrel dengan jengkel, membuat pria itu kehabisan kata-kata. Bahkan tatapan matanya begitu menghina pada wanita gila yang saat ini menjadi rekanya, baru saja Frada ingin melayangkan tinjunnya, Airyn dengan sigap menarik pelatuk yang saat ini ada di tanganya.
“Apa kalian masih ingin melanjutkaanya?” tawar wanita itu, ketika menodongkan senjata kearah Darrel dan Frada “Atau kalian ingin aku yang menyelesaikan dengan cara termudah!!” sambungnya dengan penuh penawaran yang mengerikan.
Membuat kedua manusia itu mengangkat tangan seolah menyerah dan pasrah, mereka benar-benar tidak saggup melihat tindakan Nona Petrov yang mengerikan, tentu saja dia tidak akan mengkin menembakannya, namun pelatuk itu sudah di tarik, bukan. Jika mereka masih menyulut emosi wanita itu, bisa saja Nona Petrov terpelesat oleh gengaman tanganya, hingga sesuatu yang fatal terjadi.
Jadi cara termudah dengan menyerah, sebab wanita itu memang mengerikan dari dugaan.