Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Menukar informasi dengan permintaan.



Katanya pria itu akan kembali dalam beberapa waktu saja, tapi kepergian Hansell sudah mencapai 1 hari lebih, membuat Airyn merasa jengkel atas janji suaminya, rasanya Airyn menginginkan makanan Jepang yang harus ia makan di Restoran secara langsung, di tengah malam ini Airyn benar-benar menginginkanya, ia berulang kali melihat vidio di ponsel itu untuk melihat makanan Jepang yang tengah dimakan oleh beberapa influencer di sosial media.


“Aku menginginkanya, aku ingin makanan di tempat, kenapa Hansell belum pulang” ucap Airyn ketika mengingit jarinya sendiri, bahkan berulang kali Airyn mengulang vidio tersebut hingga rasanya ia mulai mengantuk, ponsel yang tengah menyala itu di biarkan berjalan dengan durasi waktu. Hingga seorang pria masuk ke kamar seolah seperti penjahat yang mengendap-ngendap sebab tidak ingin membangunkan Airyn yang tidur di ranjang mereka, Hansell membuka jas yang ia gunakan seraya melemparkanya ke sofa berwarna Nude berpadua dengan bantal Gold yang memberikan kesan mewah.


Hansell merebahkan tubuh di samping istrinya, ia bahkan memberikan ciuman di kening istrinya seraya memandang wajah Airyn yang tengah terlelap, namun mata Hansell teralihkan kearah ponsel yang menyala, ia meraih ponsel Airyn untuk melihat sebuah vidio makanan yang ada “Apa Airyn ingin memakan makanan Jepang?” tanya Hansell saat bertanya pada dirinya sendiri, bahkan ia mamatikan ponsel itu seolah ingin memeluk tubuh istrinya, namun belum sempat Hansell meletakan ponsel Airyn di samping ranjang tidur mereka, mata istrinya mengerjap melihat kehadiran Hansell disana.


“Sayang, sejak kapan kau pulang?” tanya Airyn yang rasanya baru saja terlelap, namun ketika merasakan kehadiran seseorang dengan perut yang bergolak membuat dirinya tersadar.


“Aku baru saja sampai. Kenapa kau bangun? Apa kamu lapar?” tanya pria itu dengan sikap manis, membuat Airyn menganggukan kepala sambil memeluk tubuh Hansell, rasanya Airyn cukup rindu dengan pria itu sehingga memeluk tubuh suaminya sambil mencium wangi tubuh Hansell yang alami.


“Apa kau habis minum alkohol?” tanya wanita yang tengah mengandung anak Hansell di perutnya, sesaat mendongakan kepala ketika suaminya membalas pelukan hangat dari Airyn.


“Iya. Apakah tubuhku bau? Aku akan mandi dulu” ucapnya, namun Airyn meraih tubuh Hansell agar tidak pergi dari sana.


“Tidak. Aku suka bau alkohol di tubuhmu, sangat wangi dan menyenangkan” ujarnya saat menengelamkan kepala sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya, membuat pria itu terpaku atas sikap Airyn, sebab biasanya Airyn akan memarahi dirinya jika berbau alkohol atau tidak mandi setelah pulang kerja, sebab gadis itu cukup gila akan kebersihan. Namun kali ini Airyn malah menyukai bau tubuh Hansell yang terkontaminasi dengan kerigat di tambah alkohol yang mendominan, apakah istrinya tengah mengalami perubahan kebiasaan akibat hamil, sebab Hansell mengetahui hal itu dari beberapa rekannya yang sudah menjalankan rumah tangga lebih dulu dari dirinya.


"Apa kau yakin aku tidak menganggu dirimu?"


"Tentu saja tidak, aku sangat suka bau ini ada di tubuhmu, teruslah pulang dengan bau alkohol, atau mandi alkohol saja, pasti sangat menyenangkan"


"Agh.... " Hasell menjetik kepala Airyn hingga istrinya meringis, seolah Hansell di buat jengkel atas perkataan Airyn yang tidak berprasaan itu, rasanya ingin sekali Hansell membungkam mulut wanita yang sangat dia cintai seperti biasanya, namun Hansell menolak melakukan itu sebab ia benar-benar meneguk alkohol di sepanjang jalan pulang, bisa saja mengkontaminasi Airyn dengan sisa alkohol yang tidak baik untuk janin.


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau membuatku geram" dengusnya seraya mencubit kedua pipi Airyn yang mulai membulat.


"Tapi aku serius sayang"


“Baiklah, baiklah kalau begitu. Apa kau ingin di pesankan makanan Jepang?” tanya Hansell pada istrinya, membuat wanita itu mengelengkan kepala seolah menolak mentah-mentah ajakan Hansell.


“Aku ingin makan di Restoran Jepang” serunya dengan wajah manja, bahkan Airyn yang sudah mengunakan pakaian tidur namun ia tetap merengek pada suaminya, meminta apa yang ia inginkan sedari tadi, melihat hal itu Hansell melihat jam yang ada di pergelangan tanganya, ini bahkan sudah hampir jam satu malam dan Airyn meminta makan di Restoran Jepang, akankan ada yang buka?


“Baiklah, ayo kita pergi” ajaknya tanpa menolak ataupun membantah, dengan segera Airyn meloncat dari ranjang itu sambil mencium pipi suaminya, bahkan saking bahagianya ia pergi menganti pakaian untuk memoles sedikit wajah, sedangkan Hansell hanya tersenyum melihat kehebohan istrinya, ia memilih pergi dari sana untuk menunggu di luar ruangan.


Setidaknya Hansell memiliki kenalan yang mengelola Restoran Jepang terbesar di Negara ini, bahkan sampai tersebar luas keluar Negri, tentu Hansell mengetahu jika tidak banyak Restoran yang buka 24 jam apalagi ini Restoran Jepang yang hanya menyesuaikan dengan jam kerja normal, tapi untuk Airyn ia akan mengunakan koneksinya untuk memenuhi keiginan istrinya


“Hallo Hansell” sapa seseorang dari balik ponsel yang tengah terhubung akan pangilan internasional.


“Hallo Tuan Gong, apa saya menganggu anda malam-malam begini?”


“Tentu saja tidak Hansell, apa yang kau butuhkan hingga menelfonku, beruntung di sini masih pagi hari?” tanya beliau kepada Hansell.


“Oh begitu baguslah Tuan. Jadi begitu Tuan Gong, istriku tengah menginginkan makan di Restoran Jepang malam ini, jadi aku ingin minta tolong pada anda. Bisakah anda membantu saya untuk membuka satu Restoran Jepang untuk istriku, saya akan membayar kariyawan dengan jumlah besar, yang mau membuka restorannya malam ini” ucap Hansell dengan penuh harap, membuat Tuan Gong tidak langsung memberikan jawaban, bagaimanapun ia harus mengkonformasi dulu hal ini pada Manager Restoran yang dekat dengan wilayah Hansell.


“Hansell, saya akan mengusahakanya untuk di buka di daerah yang terdekat dari tempat tinggalmu, tapi saya harus mengkonfirmasi dulu pada Manager Restoran, apa kau bisa menunggu? ” ucapnya dengan rasa segan, membuat Hansell menganggukaan kepala seolah ia bersedia meskipun tidak di lihat oleh beliau, setidaknya Tuan Gong tidak pernah mengecewakan, untuk itulah Hansell mau menunggu jawaban darinya.


Pasangan suami istri itu tengah menuju ke Restoran terdekat, bahkan Airyn sedari tadi memeluk suaminya yang tengah duduk di kabin penumpang, tentu saja Hansell tengah harap cemas atas Tuan Gong, karna mereka hampir sampai, tapi belum ada konfirmasi apapun dari beliau, jika hal ini gagal tentu Hansell akan sulit menenangkan istrinya.


Dratttt….. sebuah pesan masuk, yaitu konfirmasi dari Tuan Gong yang sudah membuka Restoran untuk Hansell dan istrinya, membuat Hansell tersenyum bahagia untuk mengantarkan istrinya kesana, bahkan mereka tengah bercanda kecil tentang sang buah hati yang tengah bertembuh.


Airyn di hidangkan oleh seluruh menu yang ada di Restoran, bahkan banyak sekali yang berjejer di hadapan mereka, membuat Airyn cukup bingung untuk menghabiskanya dari mana, tapi tanpa pikir panjaang Airyn memulainya dari salmon yang ia celupkan ke saos khas Jepang yang cukup terkenal itu, ia menikmati berbagai olahan mie yang dibuat menyegarkan dengan sayuranya hingga aromanya, bahkan Hansell saja sudah merasa kenyang melihat nafsu makan istrinya, jika di pandang lagi beberapa hari ini pipi Airyn semakin mengemaskan, sebab pipinya semakin berisi dengan bulat kenyal yang cukup cantik dan menarik.


“Pelan-pelan, tidak ada yang akan mengambil makananmu” seru Hansell saat menyingkirkan sisa makanan yang berada di permukaan bibir istrinya, membuat Airyn menganggukan kepala dengan polos sambil tersenyum manis pada suaminya.


Kedua pasangan itu menikmati tiap momen makan malam mereka di dini hari, bahkan Airyn semakin membuat Hansell tertawa renyah saat melontarkan lelucon mengerikan namun terdengar lucu bagi suaminya, membuat pelayan yang mengambil waktu lembur mengingat bayaran yang sangat besar itu, dibuat iri atas kehadiran dua pasangan yang serasi.


*****


“Bagaimaana hasilnya?” tanya Adward pada anak buahnya yang sudah ia perintahkan untuk mengurus hal itu.


“Semua data anggota VIP yang melakukaan transaksi bulan ini sangatlah banyak, tapi saya mengkualifikasinya berdasarkan barang dan juga banyaknya barang yang mereka beli, dan inilah daftar nama mereka” ucap pria itu pada Adward, membuat Adward menyibakan lembaran kertas seolah mencari nama Airyn disana, tapi bagaimanapun Adward membalikan dan mengulang-ngulangnya, ia tidak menemukan deretaan nama Nona Petrov.


“Apa yang anda cari Tuan Adward?” tanya pria itu, sebab ia seperti menginginkan nama seseorang.


“Bukankah anda sendiri yang mematenkan nama Nona Petrov untuk menjadi VVIP istimewa, sehingga dia tidak akan terdaftar di data kita meskipun melakukan transaksi” ujarnya kepada Adward, membuat pria itu mengangkat kepala memandang kearah anak buahnya, tentu saja beberapa tahun lalu Airyn yang membuat perjanjian seperti itu dengan Adward, sebab itulah hubungan transaksional diantara mereka terjadi, bagaimana bisa Adward melupakanya, jika apapun yang Airyn lakukan atau transaksikan yang ia lakukan di dunia bawah tanah tidak akan berjejek, sebab ia mengantongi surat izin resmi atas nama Adward sendiri sebagai pengurus inti.


“Aku lupa akan itu? Tapi kenapa aku sangat mencurigai Nona Petrov” dengusnya dengan jengkel, bahkan Adward masih belum menemukan siapa orang yang membeli bom senyap dibawah kekuasaan dirinya yang merupakan pengurus inti di markas utama.


“Apakah ada hal yang bisa saya bantu Tuan?” tawar pria itu, membuat Adward melemparkan berkasnya sambil berdiri dari kursi yang ia tempati.


“Apakah aku bisa menemukan pergerakan Nona Petrov selama beberapa bulan terakir ini?” tanya Adward pada anak buahnya meskipun sudah mengetahui jawabanya.


“Apakah anda ingin menerobos data Nona Petrov untuk melihat rincian kegiatanya di dunia bawah tanah? Jika begitu sama saja anda melanggar kontrak, ini sangat berbahaya Tuan, baik posisi anda sebagai pengurus inti di markas utama, sekaligus kontrak kerjasama antara anda dan Nona Petrov, di tambah wanita itu merupakan orang yang tidak bisa di sepelekan”


“Kau benar! Aku tidak akan mungkin menerobos data Airyn yang sudah di patenkan oleh diriku sendiri. Tapi aku cukup khawatir akan Nona Petrov, rasanya fikirkanku selalu tertuju kepada wanita itu. Apakah aku yang terlalu banyak berfikir?” tanya Adward pada anak buah kepercayaanya itu, yang mungkin sudah seperti teman untuk berbagi atas masalah bisnis dan juga organisasi yang di jalaninya.


“Memangnya ada hal apa sehingga anda sangat membutuhkan data mengenai pergerakan Nona Petrov?” balasnya saat memandang Adward yang begitu kebingungan.


“Ini masalahnya sedikit rumit, tapi—“


Belum sempat ia bicara kepada rekanya, seorang wanita cantik dengan pakaian kantoran yang mengetat di tubuhnya masuk keruangan itu, menghentikan Adward saat bicara dengan pria yang menghadap dirinya.


“Bos, diluar ada pria bernama Zaterius ingin menemui anda, ia sangat memaksa untuk masuk, sebab ada hal penting yang ingin ia berikan, terkait perusahaan anda” ucapnya saat melaporkan kepada Adward sebagai seorang sekretaris, hingga mata Adward terpana mendengar perkataan wanita itu, ada apalagi dengan TuanZaterius, apakah pria itu tengah membawa sebuah ancaman lagi untuk menuntut Adward yang sama seperti Hansell.


“Astaga kenapa aku harus berurusan dengan orang-orang itu” decaknya dengan frustasi sambil membolehkan Zaterius untuk masuk keruangan, sedangkan pria yang tengah berdiri itu undur diri dari sana.


Zaterius melangkah memasuki ruangan, ia tersenyum ramah seolah menjadi sebuah sapaan, namun seramah apapun orang itu, Adward yakin ia akan diancam lagi, namun wajah Zaterius amat mengejutkan hingga tubuh Adward terkesiap memandang dirinya.


“Selamat siang Adward Carles” sapa Zates ketika mendudukan diri dengan lancang, membuat Adward mendudukan diri di depan Zaterius seraya menatap lekat-lekat wajah pria itu, tentu saja wajah itu mirip sekali dengan seseorang, yaitu Tuan Louis Petrov, tapi bagaimana bisa Zaterius memiliki wajah yang sama dengan orang yang dikenal Adward sebagai ayahnya Nona Petrov.


“B-Bagaimana bisa anda—“


“Saya bukan Louis Petrov” serunya seolah memperkenalkan diri “Saya Zaterius Laos Petrov, meskipun banyak pertanyaan yang ingin kau katakan, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengetahui tentang diriku. Tapi aku ingin kau memberikan data yang aku inginkan” ucapnya.


Zates mengeluarkan lembaran yang ia bawa, untuk diberikan pada Adward yang masih memandang kearahnya, bahkan pria itu telihat cukup gugup saat menyelisik wajah Zates lekat-lekat, hingga ia mengambil alih kertas yang di berikan pria itu.


“Itu adalah data asli yang aku dapatkan dari seseorang. Aku hanya ingin mengkonfirmasi apakah benar kau mematenkan Airyn menjadi klien VVIP mu?


“Benar” serunya saat menyibakan tiap lembar itu “T-Tapi apa maksud dari data ini, bagaimana bisa kau mendapatkanya? Siapa dirimu sebenarnya?” tanya Adward dengan membatu, ia bahkan tidak percaya data rahasia dari markas utama bocor pada orang seperti Zates, bahkan Hansell saja yang sebagai pemimpin tidak akan bisa menerobos data utama, apalagi ia menerobos pergerakan Nona Petrov yang sudah di patenkan Adward sebagai klien VVIP.


“Tidak penting bagaimana aku mendapatkanya, segera berikan itu pada Hansell” tegas Zates pada Adward, membuat ia terdiam memandang pria itu, bukankah ia bisa saja memberikanya kenapa Hansell. Kenapa harus melalui Adward, tapi ini sebuah keberuntungan dan jalan keluar atas masalah Adward sendiri, setidaknya ia bisa memberikan data mengejutkan ini pada Hansell, sehingga hansell tidak akan meruntuhkan perusahaanya.



“Sebagai gantinya, kau harus menghancurkan markas Jilixing” sontak Adward terdiam, ternyata ada harga yang harus ia bayar atas hal sepeting ini, tapi permintaan pria itu lebih aman dari pada Hansell, meskipun ia harus bekerja keras lagi.


“Apakah Jilixing itu adalah Tuan Ji yang sudah membuat keagotaan mafia di markasnya dan juga mengembangkan banyak hal ilegal di bawah perintahnya itu?” tanya Adward pada Zaterius.


“Benar, aku ingin kau membantu Hansell untuk menghancurkan markas Jilixing, meskipun Hansell seorang pemimpin, tapi markas Jilixing merupakan markas yang bergerak di bawah perintah anggota inti, terutama persyratan Hansell untuk menduduki gelarnya sesuai kesepakatan pemimpin terdahulu. Setidaknya para elit tidak dengan mudah menyetujui penghancuran itu, untuk itulah aku meminta kau berpihak pada Hansell” ucap Zates ketika menjelaskan.


“Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Meskipun aku menyetujuinya, namun dari seluruh belahan dunia ada para anggota inti yang melegalkan markas itu sebagai keanggotan di bawah permainan bawah tanah, bagaimana mungkin 2 orang di bandingkan puluhan bisa menang” ucapnya ketika membantah perkataan Zates.


“Kau tenang saja, soal itu aku bisa mengurusnya” seketika Adward terdiam, seolah hal ini menjadi pilihan tepat dari pada berada di bawah kehancuran yang di bayang-bayangkan oleh Hansell.


“Apa Airyn dan Hansell menetahui hal ini?” tanya Adward sekali lagi, membuat Zates menyandarkan tubuhnya kesofa itu.


“Mereka tidak perlu tahu, kau harus memberikan data itu pada Hansell bahkan harus sesegera mungkin. Setidaknya kau tidak boleh melakukan kesalahan, Tuan Adward”


“Tapi kenapa? Bukankah hal ini bisa memicu kehancuran rumah tangga mereka, apa kau ingin memisahkan mereka!!” tegas Adward pada pria itu, membuat Zates tertawa mengerikan mendengar perkataan dari Adward.


“Terserah kau saja. Aku tidak sedang menjelaskan tujuanku, bukankah kau tengah berada di bawah bayangan kehancuran yang di tekan Hansell. Aku menyuguhkan sebuah jalan keluar untuk masalahmu, kenapa kau tidak melakukanya dengan segara agar terbebas dari ancaman itu”


Zates meninggalkan Adward, seolah ia berlalu tanpa permisi setelah menyampaikan keinginan dan juga menukar sebuah informasi dengan permintaan, tentu Zates mengetahui jika Adward tengah diancam oleh Hansell, dan Zates juga membutuhkan sesuatu darinya, karna itulah Zates telah bekerja keras sedari lama untuk masalah ini, dan terkait Airyn, Zates berharap Hansell bisa mengerti akan istrinya.