
“Sayang, kenapa kau memutuskan mereka untuk segera menikah?” tanya Airyn sambil merangkak kepelukan Hansell, tentu saja pria itu meletakan buku yang ia baca lalu memeluk istrinya dengan hangat.
“Karna bagi Angel, Dikra adalah pria yang lebih baik dari diriku” ucap Hansell dengan kalimat rendah, seolah ia berucap tepat di telinga istrinya.
“Apa maksudnya?” balas Airyn karna tidak mengerti, bahkan dirinya memalingkan sedikit wajah pada pria itu untuk menuntut penjelasan
“Angel adalah gadis yang sulit untuk bergaul, sedari kecil kami bertiga bisa dikatakan telah tumbuh bersama, karna Dirka hampir setiap hari berada di rumahku, jadi aku sudah mengenal Dikra seperti dengan baik. Dulu mereka selalu bertengkar layaknya kucing dan anjing, membuat kepala ku selalu pusing jika sudah mendegar ocehan keduanya, tapi semenjak Dikra beranjak remaja, ia menjadi berbeda, ia lebih dewasa dan berubah menjadi pria yang digemari wanita, membuat Angel sedikit membenci dirinya, hingga mereka tidak dekat lagi. Tapi saat itu Angel malah menjadi wanita yang anti sosial, ia sulit bergaul bahkan tidak ingin berteman dengan siapapun, selain mengandalkan diriku. Bahkan saat Angel dekat dengan Hellena aku fikir wanita itu memiliki tujuan baik, tapi ia malah memanfaatkan Angel hingga adikku tersakiti, aku melihat Angel selalu mengurung diri atas apa yang terjadi, dia tidak ingin keluar rumah dan hanya bicara dengan ku setiap hari, semenjak itu aku berfikir jika Angel tidak boleh seperti ini, mengasingkan dirinya sendiri sama saja menghukum diri akibat kesalahan orang lain. Itu tidak baik. Aku memutuskan pindah agar Angell tidak mengendalikan diriku lagi, setidaknya jika ia tidak bisa mengendalikan siapa-siapa Angell harus mengendalikan dirinya sendiri. Semenjak itu aku mendengar Dikra dan Angel kembali menjadi dekat, dan tentu hal itu yang aku inginkan, setidaknya Angel harus berubah untuk mencintai dirinya sendiri” Jelas Hansell, sambil mengusap lengan Airyn yang secara nyaman di peluknya
"Pantas saja" lirihnya saat memalingkan wajah
"Pantas apa?" timpal Hansell dengan ingin tahu
"Saat pertamakali aku bertemu dan berteman denganya, aku seperti merasakan dirinya membutuhkan seseorang untuk dipercaya, seolah aku melihat diriku sendiri hingga tanpa sadar aku bisa terjerat dengan Angel, mungkin untuk pertamkalinya aku melakukan tindakan implusif tanpa sadar hanya karna orang lain, apa kau tidak ingat saat aku megunakan handuk ke Apartementmu akibat mencemaskan dirinya, sebenarnaya aku bukan orang seperti itu" ucap Airyn saat mengigat pertama kali mereka bertemu.
Sontak Hansell menganggukan kepala dengan sedikit kekehan menghibur ketika mengigat masa itu, benar-benar sesuatu yang sulit di percaya, namun membuatnya bahagia.
"Lalu ada apa dengan Hellena hingga Membuat Angel mengunci dirinya sendiri?" ketus Airyn seolah kesal atas masalah Hellana dan Angel yang terjadi di masa lampau.
“Semenjak itu Angel merasa teman-temanya tidak ada yang tulus padanya" balas Hansell seolah enggan menjawab pertanyaan Istrinya, terkait Hellena.
"Tidak...tidakk... Aku rasa tidak sesederhana itu sayang, alasanya adalah dirimu. Mereka mendekati adikku hanya untuk mengincarmu” putus Airyn dengan mata menajam, membuat Hansell bergindik takut sambil memalingkan wajah
“T-tapi aku tidak tertarik pada mereka, aku terlalu sibuk mempelajari bisnis kala itu” jelas Hansell secara implusif, ia tidak bisa membiarkan Airyn salah paham
akan masa lalu tersebut, bahkan Hansell tidak tertarik sama wanita, jika Airyn salah paham tentu dirinya akan merugi malam ini.
“Terserah kau saja, lalu bagaimana lagi?” tanya Airyn dengan ingin tahu besar.
“Setelah itu, Angel tetap bergantung padaku. Ia selalu bilang. Hanya aku laki-laki yang baik hingga tidak membutuhkan siapapun lagi, ia pernah mengatakan, aku akan menjadi laki-laki dan kakak terbaik untuknya. Dari sana aku berfikir, apa aku terlalu memanjakan Angel hingga ia salah mengartikan semuanya, aku mulai bersikap dingin dan peduli secara diam-diam, aku tidak ingin Angel mengabaikan kehidupanya akibat mengasingkan diri sendiri. Sekalipun ia tidak bisa mempercayai siapapun, Angel tidak bisa hidup seperti itu. Dan baru kali ini, aku mendengar Angel membela orang lain, dan mengatakan Dikra lebih baik dariku, membuat aku percaya jika Dikra dan Angel akan saling melengkapi” jelas Hansell
dengan puas, seolah tujuanya tercapai untuk membahagiakan adiknya.
“Tapi, bagaimana dengan Dikra, apa dia bisa dipercaya? Aku takut dia menyakiti Angel saja” bantah Airyn dengan pertanyaan
“Tidak mungkin. Dikra sudah mencintai Angel sedari dulu, alasan dia berubah menjadi laki-laki berengsek hanya untuk melupakan Angel. Tapi tetap saja, rasa peduli itu lagi-lagi menumbuhkan cinta, aku sudah menyadari dari dulu, tapi aku membiarkan mereka begitu saja. Sampai Dikra mengakui perasaannya sendiri. Intinya aku sudah bahagia” ucap Hansell, sambil memeluk istrinya, bahkan ia tidak ingin melepaskan Airyn saking bahagia melanda dirinya malam ini.
“Bahagia?” lirih wanita itu dengan membeo, seolah ia ingin tahu akan maksud dari perkataan Hansell, yang terlontar begitu dalam dan hangat.
“Aku bahagia telah memenuhi permintaan papa. Dia berpesan, untuk memberikan Angel laki-laki baik yang mencintai dirinya. Dan sekarang aku bisa bahagia atas permintaan papa yang sudah terpenuhi, ditambah, aku memiliki istri yang begitu baik dan cerdik seperti mu. Aku mengira, papa mungkin tidak akan menyangka jia istriku adalah Dirimu. Tapi dia akan bahagia jika aku bahagia” lirih Hansell, sambil berlinang air mata, tentu Airyn sadar suasana haru terasa pekat diantara mereka, hingga ia menyembunyikan wajah di dada Hansell, agar tidak menyaksikan betapa sedihnya pria itu ketika larut kedalam bahagianya.
“Ya….dia pasti bahagia sekarang” timpal Airyn dengan kalimat penenang, membuat Hansell tersenyum sambil mengkecup kepala istrinya dengan sayang.
Setelah keadaan begitu hening, dan haru melingkup keduanya, Hansell membelai punggug istrinya untuk meniduri Airyn, bahkan ia berusaha menenangkan istrinya agar Airyn terlelap di dalam rangkulan hangatnya, tapi mata gadis itu masih terbuka secara sempurna, seolah matanya amat segar, hingga Hansell sulit meninggalkan Airyn tidur, ia tidak bisa membiarkan Airyn merasa sendirian, sebab Hansell harus memastika istrinya tertidur, agar dirinya bisa terlelap dengan tenang.
“Sayang, apa kau tidak bisa tidur?” tanya Hansell saat memandang mata istrinya, bahkan ia mengusap pipi Airyn untuk memberikan pengertian.
“Entahlah, aku tidak bisa tidur, apa kau sudah mengantuk? Jika sudah. Tidurlah, biar aku yang memandangimu” ucapnya dengan tersenyum
“Apa kau fikri, aku aku bisa meninggalkamu. Aku akan membuatmu tertidur” bisik Hansell ke telinga istrinya dengan penuh cinta yang mengelora dada.
“Aku tidak mengantuk” bantah Airyn degan polos.
“Apa kau tidak tahu, kelelahan bisa membuat seseorang tidur nyenyak” sontak pernyataan itu meresap ke sistem otak yang baru saja di istirahatkan oleh Airyn, seolah ada stimulus yang merangsang dirinya untuk paham, wajah Airyn yang berubah menjadi merah muda, membuat Hansell semakin tergoda, bagaimana istrinya se-sexy ini dengan wajah polos tanpa dosa.
“Ayo kita lakukan, untuk membuat keturunan yang banyak” dengan segera Hansell tidak meminta persetujuan istrinya, ia langsung menindih sambil melepaskan semua baju yang melekat di tubuh Airyn tanpa tersisa, dengan segera ia melepaskan benang di tubuhnya tanpa Airyn menyiapkan dirinya utuk itu, bahkan Hansell memimpin permainan dengan hebat, seolah Airyn harus menjadi penikmat tanpa harus melawan, atau berusaha memberikan timbal balik.
Dikra yang menelan saliva dengan susah payah, menutup kedua telinga Angel saat teriakan Airyn menakutinya, tentu saja Angel tengah berfikir kakaknya sedang menyiksa Airyn, hanya saja Dikra berada di posisi sulit untuk harus menjelaskan, ia tidak bisa mengotori fikiran gadis sepolos itu selain membawa Angel berjalan-jalan keluar, dari pada menganggu suasana malam sang pasutri.
Dasar Hansell Hamillton sialan.
Dengus Dikra degan geram, bagaiman bisa ia melakukan hal sekejam itu diantara Dikra dan Angel yang masih melajang, apakah dia lupa jika apartemen ini sangat kecil bahkan suara mereka merambat ketelinga Angel yang polos, hingga membangkitkan gairah Dikra sebagai sang pria, bagaimapun pria itu harus mati di tangannya esok hari.
Atau haruskan Dikra menikah juga?
Keduanya merajut cinta di kamar remang-remang yang menjadi saksi atas adegan erotis yang mereka mainkan, Airyn mengarang dengan hebat saat tubuhnya mencapai batas klimaks yang Hansell berikan, bahkan ciuman yang begitu mengoda berlabuh ketahap berbahaya, hingga sulit bagi Airyn melawan atau menyerah selain berperang bersama dalam alunan nikmat yang mengantarkan mereka pada gerola cinta, tubuh yang menempel antara kulit ke kulit, menjadi saksi sebuah keintiman diantara pasangan suami istri, bahkan saat ini Hansell dan Airyn melakukan beberapa ronde tanpa harus mengalah ataupun menyerah.
Sebelumnya Airyn tidak pernah membayangkan dirinya akan merasakan cinta teramat besar seperti ini, tapi semenjak dirinya dan Hansell selalu bersama dan merasakan kehidupan seperti suami istri, kata pisah atau keinginan berpisah begitu jauh dari mereka, Airyn seperti takut di tinggalkan oleh Hansell, hingga ia memeluk pria itu penuh kepasrahan.
Memang betul, kelelahan bisa membuat seseorang terlelap, dan Airyn merasakanya, ia terlelap saat tanganya melingar di tubuh suaminya. Begitupun pria itu, saat ini dirinya memeluk Airyn seperti penagkal mimpi buruk di setiap malam mereka.
****
Setelah beberapa hari akirnya Airyn dan Hansell bekerja di perusahaan seperti biasa, tentu saja saat Direktur utama datang semuanya memberi salam penuh hormat, sedangkan Airyn berjalan di belakang Hansell untuk menyembunyikan diri dari pandangan jengkel semua orang, aksi buasa yang Hansell lakukan tadi malam membuat badan Airyn terasa remuk, bahkan berjalan saja harus dipaksakan sekuat tenaga, di tambah wajah ancaman dari kariyawam wanita melihat dirinya, menambah kekesalan Airyn pagi ini.
Semalaman mereka sudah sepakat, bahkan sepakatnya saat melakukan adegan ranjang, pria itu menyetujui jika mereka berdua profesional di dalam pekerjaan, tanpa ada yang mengetahui hubunga pernikahan diantara keduanya.
Jika nanti pernikahan Airyn dan Hansell diketahui, tentu semua orang akan tertarik kepada Airyn yang begitu menonjol, jika orang menaruh perhatian padanya tentu saja Airyn di dalam ancaman besar. Hanya saja ada yang membuat Airyn sangat jengkel, yaitu respon yang Hansell berikan.
Dia menyetujui begitu saja tanpa ada penolakan, seolah tidak keberatan jika hal ini di rahasiakan, apa yang pria itu fikirkan. Apakah ia ingin bermain dengan wanita di belakangnya, atau mempermainkan kariyawan yang menyanjung dirinya. Sekalipun Airyn juga mengiginkanya hal itu dirahasiakan setidaknya Hansell perlu menolak sedikit untuk menghibur Airyn, tapi ia malah menerima tanpa ada kata apapun yang terlontar.
Pria menjengkelkan itu, membuatnya habis kesabaran.
Airyn yang masih merengut dari arah belakang, memperhatikan suaminya yang di ikuti beberapa orang, seolah ia tidak percaya dirinya terasa menyedihkan dari hidupnya biasa, Airyn adalah seorang Nona Petrov tapi kenapa ia malah menyembunyikan diri hanya takut akan persepsi orang lain, tidak kah ini terlihat berbeda dari dirinya biasa.
Apa dia masih kesal. Gumam Hansell saat memikirkan wajah kusut istrinya pagi ini, terlihat mengemaskan dari bayanganya.
Dari arah belakang sebuah hak sepatu yang berhantaman dengan keramik marmer mengalihkan perhatian Airyn, hingga tatapan sinis itu melewati dirinya ketika mendekat kearah Hansell yang berjalan di depan, siapa lagi kalau bukan Nona Jung yang melewati Airyn dengan sikap angkuh, bahkan matanya saja melihat begitu hina pada Airyn, hingga sepercik senyum penuh ejekan melukis diwajah Nona Petrov.
“Selamat pagi Nona Jung?” sapa Airyn penuh hormat, bahkan membuat Jungkyung melirikan sedikit wajah untuk menganggukan kepala, seperti dirinya yang enggan untuk membalas sapaan.
Lalu kembali melanjutkan perjalanan
Airyn menekan tombol yang ada di lift kariyawan yang berseberangan dengan Lift khusus yang Hansell miliki, kali ini Jungkyung yang ada di samping Hansell dengan ber-bangga diri mempertontonkan posisi yang dimiliki, bahkan dengan sikap angkuh wanita itu terlihat sekali betapa jauhnya peebedaan kasta diantara keduanya, hanya saja itu menurut imajinasi Jungkyung sendiri.
Hansell yang melihat istrinya di seberang sana merasakan sedikit gelisah, entah kenapa ia tidak terima Airyn memasuki Lift kariyawan yang rendahan, tapi di sisi lain ini adalah realita kehidupan, sudah sangat pantas hal ini terjadi, jika tidak mungkin rencana Hansell akan gagal, dari sudut pandangan ada rasa jengkel yang hampir terbesit untuk melenyapkan, saat wanita bernama Jungkyung itu menghina penuh puas pada istrinya.
Berbangga diri lah sepuasmu. Batin Hansell dengan geram.
Lift itu tertutup rapat hingga menghalangi pemandangan, mereka semua menunggu beberapa saat untuk sampai ke tempat masing-masing sesuai dengan jataban dan tempat pekerjaan.
*****
Setelah jam makan siang, semuanya menikmati sumber tenaga untuk melanjutkan pekerjaan, begitupun dengan Airyn yang kala itu melewatkan makan siang karna beberapa pekerjaan menumpuk yang di berikan pada dirinya, seolah ia tengah menyelesaikan 5 kali lipat dari pekerjaannya biasa.
Sungguh hari yang melelahkan, membuat Airyn mencuci tangan dengan Air yang mengakir dari kran wastafel berkeramik unik dengan ukiran pinggir yang mewah, seolah ia butuh kesegaran sebelum membeli beberapa cemilan, jika Airyn melanjutkan makan siang, mungkin ia akan kehabisan waktu sebelum menikmatinya, alternatif termudah dengan menganjal kelaparan mengunakan makanan ringan.
Seorang wanita dengan tubuh ramping dan perwakan indah, tiba-tiba saja berdiri di sampingnya untuk melakukan hal yang sama. Mungkin saat ini mereka seperti orang asing yang tidak peduli, tapi siapa yang mengira dibalik tatapan panjang itu, keduanya saling menatap diam-diam penuh perhitungan.
Sedangkan wanita dingin yang ada di samping Airyn itu, tengah berfikir tujuh keliling, kenapa orang rendahan seperti dirinya mengunakan pakaian mewah, bahkan berbeda sekali dengan dirinya biasa, bahkan dari seluruh barang yang melekat di tubuhnya adalah Brand ternama dunia yang sulit dimiliki oleh sembarangan orang, bahkan Jungkyung saja masih berfikir untuk merogoh koceknya atas pakaian itu.
Apakah Direktur Hansell membayar wanita itu dengan barang-barang mewah, betapa rendahnya Airyn dimata Jungkyung saat ini, hanya saja ia sedikit tergiur akan kekayaan yang Hansell miliki, bagaimanapun Magsa seperti Hansell harus menjadi miliknya.
"Apa kau suka dengan baju yang aku kenakan, aku bisa memberikannya padamu" celetuk Airyn saat mematikan kran Air yang tadinya mengalir, membuat Jungkyung terdiam memandang penuh muak atas ucapan yang dilontarkan wanita murahan itu padanya.
"Apa kau menghinaku" bentaknya saat mamandang kearah Airyn
"Tidak! Aku hanya menawari. Bukankah kau sangat tertarik dengan bajuku, sampai matamu hampir lepas tanpa terkira" ledek Airyn dengan pembawaan tenang, seolah menghadapi wanita seperti Jungkyung tidak perlu membuang tenaganya.
"Aku tidak tahu, jika wanita sepertimu bisa menghina juga. Baiklah, aku memang tertarik dengan barang yang kau kenakan. Bahkan sangat tertarik! Hanya saja yang membuatku lebih tertarik, bagaimana bisa wanita seperti dirimu mendapatkan pakaian ini" Ucap Jungkyung dengan penuh penekanan tajam, bahkan ia menyentuh baju Airyn seperti jijik berhadapan dengan wanita itu.
"Lepasakan tanganmu" kali ini kilau dingin yang terpancar dimatanya, menarik Jungkyung untuk terdiam, apakah wanita rendahan itu tengah mengamcam dirinya, hingga berani berkata lancang, memangnya siapa dia sampai Jungkyung harus menghargainya.
Tanpa aba-aba Airyn menepis dengan kasar, hingga tegak Jungkyung lepas keseimbangan, ia berpegangan kepada wastafel panjang dengan kaca lebar disepanjang toilet, hingga tatapan keduanya memancar seolah ingin membunuh dengan pertimbangan.
"Apa kau ingin mati" hardik Nona Jung kepada Nona Petrov.
Membuat Airyn menepiskan bibir penuh seringai mengerikan, bahkan ia berpangku tangan untuk menantang.
Rasanya Airyn sudah terlampau cukup mentoleransi hinaan dan tatapan jengkel wanita itu, bahkan caranya merendahkan Airyn saja mulai memuakan, jika keadaan di balik, tidakah Airyn yang sepantasnya melakukan Hal itu. Karna wanita itu yang mengincar suaminya, hingga menganggapnya Airyn sebagai wanita rendahan untuk mendapatkan Hansell, jika Airyn mengatakan kebenaran apa yang akan terjadi? Sayangnya rasa muak Airyn terlalu melampaui batasan, ia merasa terlalu dini memberi gadis malang itu pelajaran untuk mengungkap siapa dirinya sebenarnya.
"Jika aku mengatakan sebaliknya bagaimana? Apa kau ingin mati!" sontak ucapan mengerikan yang Airyn lontarkan, mengundang perasaan getir akan takut yang mampu menguasi Jungkyung, seolah Airyn sungguh-sungguh dalam melakukan pembunuhan.
Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita itu, apakah ia tengah kerasukan, hingga memiliki aura berbeda dari dirinya biasa, selama ini di matanya Wanita bernama Airyn adalah orang rendahan yang hanya bisa disudutkan untuk menjatuhkan. Tapi kali ini dirinya berbeda, pancaran mata tajam dengan penuh percaya diri, hingga caranya bicara saja sudah mengintimidasi, membuat Jungkyung tidak pecaya dirinya punya sisi berbeda, jika ada sebuah tipuan yang di mainkan wanita licik itu, yang mana dirinya sebenarnya, Apakah yang saat ini dihadapani Jungkyung?
"Benar. Inilah sifatku sebenarnya" Ucap Airyn dengan penuh penekanan, bahkan ia mendorong Jungkyung hingga terdudut ke dinding, yang membuat tubuh gadis malang itu tersentak "Melihatku seperti wanita rendahan, menganggapku mengunakan tubuh untuk memikat Hansell, bahkan kau berkata tanpa tahu malu, jika aku mendapatkan benda murahan di tubuhku karna menjual harga diriku, apa kau fikir dirimu pantas menilaiku seperti itu! Bahkan ayahmu saja tidak akan seberani itu Nona Jung, Aku sudah bertemu dengan banyak wanita seperti dirimu, yang pada akirnya tidak mendapatkan kebaikan atas usahanya. Hanya saja aku perlu mengigatkan dirimu, setelah menilai betapa menyedihkanya saat, Kau egitu Haus akan cinta " sambungnya dengan mata membulat penuh kejijikan, hingga suasan tegang terjadi dikedua wanita itu, bahakan Jungkyung tidak menyangka orang itu merendahkan dirinya tanpa mampu dibalas.
Hahahhaha..... tawa Jungkyung memecah keheningan mereka hingga Airyn semakin mengelap dengan aura mengerikan yang ia tampilkan.
"Jika iya kenapa?" tantang Jungkung dengan penekanan, seolah ia tidak ingin mengalah dan takut pada wanita seperti itu "Aku memang Haus cinta, tapi kau lebih rendah dari diriku" sambungnya dengan penuh ancaman.
"Sayangnya, semua imajinasi kotor yang kau fikirkan tentang diriku, adalah fakta yang keliru. Hansell sebegitu mencintaiku hingga dia tidak melihatmu, apa kau yakin uang Hansell bisa membeli barang yang aku kenakan? bahkan aku berfikir keras untuk mengunakan uangnya. Bagiku barang murah seperti ini tidak berarti!! Kau menilai orang hanya dari matamu, sebaiknya perbaiki cara bersikap itu, jika saja kau mengunakan otakmu sedikit, mungkin kau bisa jadi wanita yang lebih baik. Apa kau fikir aku tidak mengetahui tentang dirimu!!! Kau mencintai James hingga teramat cinta, tapi ia menyukai diriku yang tidak menghargainya sama sekali, kau datang kesini untuk menghancurkan Hansell tapi kau sendiri yang terjebak di dalam rencanamu. Bukan dia yang mencintaimu, melainkan dirimu yang mencintainya. Kau fikir dalam mengagalkan itu semua aku hanya menanti keberuntungan!! Jangan fikir sesederhana itu" lirih Airyn dengan tatapan mata mengerikan penuh ancaman peringatan, membuat Jungkyung kehabisan kata-kata, bahkan ketika dirinya ingin membantah, dengan segera Airyn menimpal ucapan yang belum di selesaikan
"Dall adalah alat untuk diriku menarik perhatian Hansell, dan kau adalah barang gagal atas rencanamu semula. Apa kau fikir aku membiarkanmu di sisi Hansell karna ketidak pedulian? Jangan bilang kau senaif itu! Kau bertahan di posisinya karna aku ingin memantau tikus dibawah kakiku, untuk menunjukan padamu, bagaimana hancurnya seluruh rencana ini. Dan aku hanya mengigatkan! Hati-hati dalam megenali musuhmu, kadang kita bisa buta hingga masuk ke kandang ular" Sontak kalimat itu benar-benat lekat penuh dominan di kepala Jungkyung, apa yang dikatakan wanita itu sebebarnya, hingga membuat Jungkyung sulit berkata-kata.
Dasar wanita ******
Satu tamparan melayang dengan keras, mengema diruangan kedap suara yang memantulkan bunyi nyaring atas apa yang kita ucapkan atau lakukan disana.
Tamparam Airyn melayang setelah penghinaan itu keluar dari mukut Jungkyung, tentu saja ia tidak selemah itu atas dirinya, Airyn tidak bisa disentuh oleh kata kotor seperti Nona Jung katakan, karna harga dirinya lebih tinggi dari wanita tidak tahu malu itu.
"Mari kita lihat, seberapa ****** diriku dan dirimu" Ancam Airyn dengan senyum penghinaan, hampir-hampir membuat tubuh Jungkyung kehilangan kesadaran, seolah ia sebegitu takut hingga gugup melingkup.
Airyn yang merasa selesai dengan kata-kata, menarik kran air di wastafel untuk membilas tanganya, setelah selesai menampak wanita itu, Airyn benar-benar berdarah dingin tanpa emosi yang mengalir, bagaimana bisa ada wanita setenang itu saat mengucapkan kalimat ancaman, bahkan dirinya seperti danau dalam nan damai tapi menengelamkan musuh dengan kejam, bahkah tidak ada sedikit emosi yang membakar jiwanya hingga berapi-rapi, mungkin wanita lain akan berteriak dengan emosi naik turun sambil jambak-jambakan, tapi dirinya melayangkan tamparan seperti orang asing yang mengerikan, seolah Jungkyung berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin tanpa ada kata ampun sebelum musuhnya lenyap.
Apa yang sebebarnya terjadi? Apakah dirinya memang salah menilai wanita itu? tapi siapa wanita bernama Airyn sebenarnya, hingga dengan mudah menjatuhkan Jungkyung tanpa perlawanan, bahkan ia bisa mengetahi niatan terselubung yang ada dikiat-kiat hati terdalam tentang Dirinya.
****
Semua berada di pekerjaan masing-masing, kecuali Hansell yang sibuk memantau istrinya dari CCTV yang ia pasang disana. Seketika saja Jungkyung mememasuki ruangan sambil membawa beberapa berkas yang ada di genggamanya, kala itu fikirkan Nona Jung masih terfokus kepada Airyn yang memberiakan sejuta kejutan, bahkan tamparan yang dilayangkan pada dirinya masih membekas hingga sulit hilang.
“Pak, ada beberapa proposal kerjasama yang harus anda tanda tangani” ucapnya, sembari menyodorkan beberapa lembar kertas yang harus di tanda-tangani oleh Hansell, bahkan Jungkyung membantu pria itu membalikan kertas untuk lampiran berikutnya.
Secara perlahan ia beralih kesamping Hansell dengan rasa ingin tahu besar, sebab Dikretur selalu berbinar-binar menatap layar leptopnya, bagaimana kagetnya Jungkyung saat melihat Airyn yang tengah di pantau oleh laki-laki itu, membuat darahnya mendidih akibat api cemburu yang membakar hingga habis.
Bukankah ini sangat jelas, jika Hansell sepertinya mencintai wanita bernama Airyn, tapi siapa wanita itu hingga sebegitu di cintai, dilihat dari gelagatnya berhadapan di Toilet barusan, dia sangat jelas mengatakan dirinya bukan orang sembarangan.
“Apa yang kau lihat?” celetuk Hansell dengan nada ketus, membuat Jungkyung terpana dengan kaget, seolah salah tingkah seperti ketahuan mencuri.
“Tidak pak, maafkan saya” ucapnya sambil membereskan berkas-berkas yang ada disana.
Seketika saja gadis itu pergi meninggalkan ruangan Hansell dengan hati yang mengelegar penuh emosi dan tidak percaya, apa yang membuaat Hansell begitu cinta pada Airyn, bahkan membuat James juga sebegitu mengiginkan dirinya, dua orang yang membuat Jungkyung jatuh cinta tanpa terduga berakir di tangan Airyn yang misterius hingga mengerikan.
Jika seperti ini, bukankah Hansell dan James tengah terjerat oleh iblis licik, mereka harusnya sadar sisi mengerikan dari wanita itu, apakah Dikrektur Hansell tengah berada di zona bahaya, jika benar seperti itu Jungkyung tidak bisa tinggal diam, Airyn Harus di singkirkan bagaimanapun caranya.
Ponsel gadis itu berdering, seolah panggilan dari pria yang ia dambakan di masa lalu mengantar dirinya untuk berfikir, apakah ia mengabaikan atau mengangkat telfon dari James. Alih-alih mengabaikan, Jungkyung lebih penasaran dengan maksud dan tujuanya.
Ada apa kak? Hari ini aku sedang bekerja –jungkyung
Apa kau bisa ke lobby perusahaanmu? Aku tengah di sini. Ada sesuatu penting yang ingin ku ceritakan –james
Gadis itu mengkerutkan kening penuh ketidak sukaan, apa yang ingin di sampaiakn Dokter James padanya, dan bagaimana pria itu dengan berani mendatangi kantor Hansell, jika hubungan keduanya sangat tidak baik.
Baiklah, aku akan turun –jungkyung
Setelah membalas pesan dari James, gadis itu berpamitan kepada Hansell untuk menemui kenalanya beberapa menit, tentu saja Hansell memberi izin, karna dirinya tidak terlalu membutuhkan Jungkyung, setelah mendapatkan izin dari Hansell, Nona Jung menemui James yang tengah menunggu dibawah sana.
Mereka menuju café yang ada di dekat perusahaan, Jungkyung mendudukan diri seperti biasanya, sedangkan pria itu baru saja mengambilkan pesanan mereka ke meja kasir.
Ia melirik kearah Jungkyung yang sedikit berbeda dari biasanya, bahkan terasa sekali bagaimana anehnya wanita itu, seolah ada kekesalan dan beban fikiran yang tengah di bendungnya.
“Lama tidak berjumpa, apa kau tidak merindukanku?” tanya James penuh pertanyaan dan ingin tahu yang besar, bahkan ia menatap lekat seolah mempelajari setiap mimik wajah yang di tampilkan Jungkyung, tentu sebagai seorang psikolog James mahir dalam hal ini.
“Tentu saja aku rindu” lirihnya sambil menyeruput Ice Coffe
“Bagaimana pekerjaan Mu di perusahaan Hansell? Apa berjalan baik?" sontak pernyataan James barusan mengundang tatapan menyelidik dari Jungkyung
“Bagaimana kau tahu, aku bekerja disana?”
“Siapa yang tidak mengenal perusahaan Hansell Hamillton di korea ini. perusahaan nomor satu itu amat terkenal hingga Direktur utamanya saja memiliki fans club” ucap James dengan nada bercanda, seolah ia tidak keberatan sama sekali membalas pertanyaan Jungkyung “Tapi Jung, apa yang kau lakukan disana? Apa kau ingin melakukan sesuatu pada Airyn?” kali ini James memimpin percakapan hingga keduanya saling bertatapan.
“Bagaimana kau tahu Airyn bekerja di perusahaan Hansell, apa kau mengikutinya setiap saat” sindir gadis itu dengan senyum sungging penuh penghinaan, membuat aura James meredup dari dirinya yang cerah, bahkan memudarkan senyuman gadis itu tanpa diperhitungkan.
“Tentu saja, kau tahu sendiri bagaimana aku mencintainya seperti orang gila, bahkan setiap detik aku memantaunya, yang menjadi pertanyaan ku. Apa yang kau lakukan disana? Menghancurkan Airyn atau merebut Hansell?” kali ini bibir Jungkyung kelu, seolah ia tidak mampu menjawab pertanyaan yang memojokan dirinya, bagaimana bisa Dokter James yang dikenalnya baik, dengan aura cerah memiliki kepribadian aneh seperti itu.
Hari ini terlalu banyak hal diluar nalar Jungkyung, Airyn yang ia kenal sebagai wanita biasa tapi ternyata mengerikan hingga berdarah dingin layaknya pembunuh, Hansell yang dikira mengunakan Airyn untuk bersenang-senang pada kenyataanya mencintai wanita itu seperti orang gila, dan kali ini Dokter James yang beribawa penuh lemah lembut hingga tiap hari menonjolkan kecerahaan malah memiliki sisi gelap yang hampir sama dengan Airyn.
Selama ini Jungkyung telah mengenal karakter James. Ia tidak pernah bermain-main dalam ucapanya, apapun yang diyakini kebenaran atau apapun yang dihadapkan, semuanya akan tercapai, tapi apa maksud dari pertanyaan barusan.
“Itu masalahku” lirihnya dengan gugup, sembari menyeruput Ice Coffe.
“Aku peringatkan, untuk tidak menyentuh Airyn, sebelum kau menghancurkan rencana awalmu” keheningan terbentang diantara kedua mata yang saling bertatapan, bahkaan aura yang di tampilkan adalah kemurkaan diantara kedua belah pihak.