
“Tuan Zates..James masih berada di tangan mereka” lapor Dorbin selaku orang pertama yang dipercayai Zates, Tuannya itu tengah duduk di kursi kerja tempat biasanya, tentu saja itu berada di ruangan baca yang di miliki Zates di dalam kamar, bahkan tidak ada pintu menuju ruangan itu, melainkan tombol di bawah pot bunga hidup untuk memutar dinding besar dengan lemari pajangan yang bisa berputar.
"Lalu bagaimana?” tanya pria itu dengan suara parau yang sangat serius, membuat anak buahnya menegadahkan kepala setelah memberikan sikap hortmat.
“Jika dia masih belum melarikan diri, maka bisa saja Nona Airyn dapat mengorek sesuatu dari dirinya. Lain dari itu kami sudah menemukan keberadaan James saat ini, dia di tahan oleh Darrel yaitu orang kepercayaan Nona Nerry di lantai 14 hotel Royal Gardance dengan banyak penjagaan dan keamanan yang memadai. Dan juga anak buah kita yang sudah kita tempatkan diantara mereka telah teri-indentifikasi sehingga mereka sudah di lenyapkan oleh Nona Airyn dan ada sebagain dari mereka di kurung untuk mengorek informasi” ucap pria itu pada zates, membuat Tuanya menutup buku yang amat tebal itu untuk menghadap pada Dorbin.
“Sesuai rencana” balasnya dengan nada santai yang beegitu riang, bahkan dirinya merasa tidak takut sama sekali, membuat pria yang mengabdi pada Zates itu berfikir di luar dugaan, ternyata tuanya jauh lebih tenang dari yang di bayangkan.
Bukankah dia selalu melenyapkan jejak apapun sehingga tidak membiarkan Nona Airyn mengetahui dirinya, tapi kali ini kenapa Tuan Zates malah bersikap sebaliknya. Dengan sengaja membiarkan jejaknya di ketahui oleh wanita itu, tentu saja sama dengan membiarkan Nona Airyn mengetahui keberadaanya. Apa tujuan Tuan Zates sebenarnya. Apakah dia tidak akan bersembunyi lagi seperti tahun-tahun sebelumnya?
“Keluarlah” perintah Zates dengan kalimat dingin, membuat anak buahnya menundukan kepala sembari berjalan mundur untuk keluar dari sana, sedangkan Zates berdiri dari posisi untuk mengembalikan buku yang sempat di bacanya kepada posisi semula, bahkan Zates menyeringai penuh kepuasan ketika tidak sabar melihat wajah Airyn saat menghadapinya.
Dirinya beralih kearah nakas yang ada di kamarnya, tentu saja di samping nakas itu ada sebuah foto yang tidak pernah di singkirkanya, siapa lagi jika bukan foto Merry Lourent dan juga Airyn Petrovika, Zates meraih bingkai foto mereka sembari melenyapkan debu-debu yang tidak sopan merayapi itu, ia tersenyum licik seakan puas atas hasil akir ini, seketika kaca di bingkai yang sangat cantik itu pecah akibat tekanan tangan Zates sendiri, api dendam dan juga rasa asing yang sulit di kendalikanya membuat darah Zates mendidih.
Apakah sudah waktunya menampakan diri pada Airyn dan Merry?
****
Airyn keluar dari mobil yang di tumpanginya sambil membuka kaca mata hitam, ia melirik kearah rumah sederhana yang saat ini ada di depan matanya, di samping rumah itu ada pohon besar yang hampir menyamakan tinggi rumah kecil yang minimalist , bahkan pagar besi berwarna putih di halaman rumah dapat memperlihatkan bagaimana sederhananya bagunan itu, di tengah hujan yang rintik-rintik menguyur tubuh Airyn, bahkan jatuh satu persatu tanpa rasa bersalah sehingga membasahi sebagain tubuh nya, membuat wanita itu tidak mengurungkan niatan semula, ia hanya ingin memastikan sesuatu.
Baru saja pintu itu terbuka wajah Iriana membeku saat melihat sosok wanita muda yang sangat tegas namun beraura dingin, yang tak lain adalah putri dari sahabatnya sendiri Airyn Petrovika putri kandung Merry Lourent. Meskipun selama ini Iriana tidak pernah berfikir akan bertemu anak sahabatnya namun siapa sangka jika Airyn benar-benar mirip dengan Merry ketika masih muda, wanita di hadapanya ini sangat tegas, karismatik, dan juga berwibawa dengan sikap pemimpin yang tajam.
Sekali pandang saja Iriana bisa memastikan jika Dia memang duplikat seorang Merry.
“Apa kau Airyn?” tanya beliau ketika memberanikan diri untuk bertanya.
“Selamat malam nona Iriana, benar. Saya Airyn” ucapnya ketika membalas perkataan wanita itu, membuat lengkungan indah di wajah Iriana yang tadinya begitu kaget, dengan senang hati ia mengajak Airyn menginjakan kaki di rumahnya yang sangat kecil bahkan sikap ramahnya dapat dirasakan begitu hangat, seolah seperti seorang ibu yang memiliki sisi kelembutan yang tidak pernah di rasakan Airyn sebelumnya.
Pantas saja Lee Somi mencintai ibunya, sebab wanita itu terlihat sederhana dengan seluruh sikap lembut dan hangatnya yang nyata, Airyn mendudukan diri di ruang tamu mereka meskipun matanya secara tidak sengaja melirik kesekelilingan, namun tetap saja Airyn merasa wanita itu sama dengan ibu yang di harapakanya selama ini.
Ketika mengakusisi Tuan Ji dan menjatuhkan karir Somi tentu saja Airyn melakukan perhitungan yang benar, ia tidak pernah menyentuh Nyonya Iriana karna dari beberapa sumber informasinya wanita itu bisa di defenisikan sebagai seorang malaikat yang baik, dan tentu saja kenapa Nyonya Iriana mendapatkan rumah ini, hal itu karna Airyn sendiri yang memberikanya atas nama Tuan Ji untuk istri dan anaknya, setidaknya Airyn memiliki beberapa keamanan yang memadai untuk menempatkan mereka disini.
“Asataga. Apa yang membuat Nak Airyn kesini. Tente benar-benar kaget ketika melihat duplikat Merry” ucapnya dengan sedikit bercanda meskipun membuat Airyn sulit menangapinya kecuali tersenyum manis pada nyonya Iriana.
“Anda terlalu memuji. Aku berbeda dengan Merry” bantah Airyn seketika membuat Nyonya Iriana memandang penuh selidik namun tidak menghilangkan sikap ramahnya, tentu saja Iriana telah mengetahui jika Airyn sudah tahu jika Merry ibu kandungnya, bahkan Iriana merasa senang akan hal itu, sebab itulah dirinya tidak merasa asing ketika mengucapkan nama Merry di hadapan putrinya.
“Aku hanya ingin mengunjungi anda Nyonya. Ada hal yang ingin aku tahu dan itu terakait dengan ibuku” ucap Airyn ketika wajah yang tadinya ramah menjelma menjadi serius, membuat Iriana menatap penuh peduli seolah berfikir sudah sepantasnya Airyn mengetahui hal di masa lalu apalagi ini berkaitan dengan dirinya.
“Apa yang ingin Airyn ketahui, mungkin saja Tante bisa memberitahu beberapa hal untuk membantu” balas Iriana seolah bersedia membantu Airyn yang dulu pernah di gendongnya ketika masih bayi, mungkin saja Airyn tidak pernah melihat Iriana sebelumnya, namun Iriana sangat menyukai Airyn ketika dirinya masih sangat kecil, bahkan waktu itu Merry secara langsung menyusui Airyn dengan susu langsung dari dirinya.
“Di masa lalu tentu tidak memiliki prosedur bayi tabung seperti sekarang, bahkan kecanggihan di dalam hal medis tidak berkembang pesat seperti di zaman ini. Dan saya yakin ketika saya di lahirkan tidak mengunakan hal-hal seperti itu. Dan sangat pasti melakukan prosedur manual bukan. Tapi pada kenyataanya ayah sangat mencintai Mama Charlot, bagaimana bisa ayah tidur bersama Merry tanpa ada cinta setelah itu, bahkan jika saya di posisi mereka mungkin akan terjadi kebinggungan atas ibu penganti dengan putrinya. Namun saya masih mengigat jelas bagaimana sikap ayah yang sama sekali tidak melihat pada Merry, bahkan sama sekali ayah tidak mempedulikanya. Tidakan ini sangat aneh Nyonya? Sebenarnya hal apa yang terjadi waktu itu, sehingga Merry bisa terperangkap untuk melahirkan diriku” ucap Airyn dengan penuh pertanyaan, bahkan sulit untuk di jawab oleh Iriana sendiri.
“Entahlah nak, Tante juga tidak mengetahui alasan kenapa ayahmu bersikap seperti itu. yang paling jelas Merry sangat mencintainya, di tambah melahirkan dirimu membuat kecintaan Merry pada Louis tidak memudar sama sekali, bahkan Merry sendiri tidak ingin mempertimbangkan siapapun, padahal William sangat mencintainya dan begitu gigih untuk memiliki Merry, namun tetap saja tidak menutup kemungkinan jika Merry telah menutup seluruh pintu hatinya. Tapi usulan ibu penganti itu di kemukakan oleh Charllot sendiri, ia percaya jika Petrov dan Merry tidak akan mencintai, karna itulah Charrlot memaksa Petrov melakukanya untuk mempertahankan pernikahan mereka. Tentu saja Louis tidak menyetujui hal itu sebab bagaimana bisa dia tidur dengan Merry yang di anggapnya sebagai seorang adik sendiri, bahkan pada saat itu Luois Petrov sangat bersikeras untuk menolak, sehingga Merry juga merasa di tolak. Tapi setelah beberapa hari dia berubah fikiran, sehingga Merry merasa sangat senang dan dia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya pada keluarga itu, asalkan Louis Petrov bahagia” jelas Iriana dengan penuturan yang jelas, bahkan saat menceritakan tentang Merry mata Nyonya Iriana seperti berkaca-kaca, membuat Airyn meresap sedikit sedih dari nada ceritanya.Bagaimana bisa Airyn tidak sedih, jika ibu kandungnya sendiri pernah merasakan ketidak adilan seperti itu di masa lalu.
"Nyonya apakah anda merasakan sesuatu yang aneh dari ayahku dan Mama Charlot di masa lalu? Apakah ada kemungkinan jika Merry di manfaatkan oleh mereka berdua?" Tuduh Airyn setelah mendengar jika Ayahnya Louis Petrov yang tadinya menolak dan tiba-tiba berubah fikiran, bukankah itu dapat di jadikan patokan jika sebenarnya ada yang tidak besar di jangka waktu itu.
Iriana menatap penuh perhitungan kepada Airyn, sebanarnya apa yang ingin disampaikan wanita itu padanya, apakah Airyn tengah menuduh orang tuanya bersalah atas kejadian di masa lalu sebagai bentuk memanfaatkan, atau apakah Airyn tengah menuduh jika saat ini
kekacaun yang terjadi ulah kekacauan di masa lalu itu.
Tapi sangat tidak mungkin, karna Iriana sendiri mengenal betapa baiknya seorang Charllot dan juga Louis Petrov "Airyn, Tante mengerti apa yang ingin kau pastikan. Tapi sangat tidak baik jika kita berprasangka pada orang yang sudah meninggal, entah kenapa tante tidak merasa yang terjadi hari ini karna kesalahan Charllot dan Luois, sebab mereka tidak punya alasan memanfaatkan Merry, bahkan Merrylah yang ada diantara mereka berdua dan Nyonya Charllot tetap memperlakukan Merry dengan baik meskipun ia mencintainya suaminya. Jika Kau di posisi Ibumu Charllot, apa bisa kau membiarkan wanita yang mencintai suamimu tetap berada di sisi kalian dan itu menjadi orang kepercayaan hingga tinggal satu atap di tempat yang sama" sontak penuturan Nyonya Iriana membalikan spekulasi Airyn secara keseluruhan.
Keheningan terbentang diantara mereka, Airyn yang terdiam penuh perhitungan mulai membolak-balikan keadaan di logikanya sendiri, namun di saat yang sama ia tetap kembali kepada kesimpulan jika orang tuanya memang tidak terlibat, dan sebenarnya merekalah yang menjadi korban.
Sebab untuk melihat siapa yang bersalah dan siapa yang kalah, kita hanya perlu memandang kepada siapa yang mendapatkan untung terbanyak dan siapa yang merugi, dan tentu saja kesimpulan itu tertuju kepada Merry, yang saat ini mendapatkan seluruhnya, termasuk pengakuan seorang ibu dari Airyn.
Nyona Iriana menghela nafas dengan berat, mulai mendekat kearah Airyn yang tengah kebingungan itu, bahkan Iriana mengerti apa yang dirasakan Airyn saat ini, membuat dirinya memeluk tubuh wanita cantik itu untuk memberikan ketenangan.
"Tidak apa-apa. Apapun yang terjadi bukan salah dirimu, dan apa-pun yang saat ini menyulitkan pasti akan berakir, percaya pada dirimu sendiri dan orang-orang yang kau percayai" seketika Iriana melepaskan diri dari Airyn untuk memberikan senyuman padanya, tentu wanita cantik itu memberikan balasan yang sangat hangat.
Setelah selesai berbincang dan Airyn mendapatkan beberapa point, sudah saatnya dia pulang. Beruntung Somi tidak dirumah membuat Airyn tidak perlu berhadapan dengan wanita itu, ia sudah memeriksa keadaan Somi sehingga sudah memperhitungkan jam berapa akan berkunjung dan jam berapa akan pulang dari sana, membuat Airyn tidak perlu repot berurusan dengan wanita itu lagi.
“Terimakasih atas suguhan anda Nyonya Iriana, aku sangat senang sekali” ucap Airyn ketika berpamitan di depan pintu rumah Iriana, membuat mereka melepaskan pelukan hangat sebelum akirnya Airyn pergi meningalkan rumah itu..
“Jangan begitu. Sering-seringlah berkunjung, Tante akan menyiapkan makanan untuk mu di lain waktu” sambung wanita itu dengan ramah, membuat Airyn tersenyum untuk membalas kebaikan hati beliau.
Setelah selesai akirnya Airyn kembali ke mobil, ia perlu memikirkan langkah selanjutnya setelah mendapatkan kesimpulan dari semua ini.
Tadinya segala hal sangat kusut dan berantakan, bahkan Airyn tidak menyatukanya satu persatu, namun kali ini Airyn mulai membuang seluruh kartu yang ia miliki untuk menyusun dan menatanya kembali, ia mengkesampingkan semua orang yang terlibat di dalam semua ini, agar mencapai hasil yang di inginkan.
Tentu saja selama ini Airyn memulainya dari keluarga Farhaven ia merangkap siapa saja yang terlibaat di dalam sana dan apa saja masalah yang ada, bahkan Airyn menganggap tujuanya untuk merebut seluruh kepemilikan dari aset keluarga itu, namun kali ini Airyn dapat menyimpulkan jika tujuan tersebut hanyalah sebagai tangkapan kecil dari seluruh kekacauan yang terjadi, masalah utamanya dan apa yang terjadi saat ini semuanya berawal dari,
Merry Laourent.
Seulas senyum kecut benar-benar tertampil di wajah Airyn dengan licik, ia mulai mengetahui dan melihat sedikit jalur yang tengah di tunjukan padanya, jika rangkapan Airyn benar maka sangat di sayangkan untuk Airyn memikirkan hal-hal besar soal kekuasaan, jika orang itu malah memiliki tujuan yang paling sederhana, yaitu Merry.
Jika sudah begini tentu saja kekuasaan yang di dukungnya untuk di miliki Airyn adalah seuatu hal untuk mengkelabui dirinya dan tentu orang itu berhasil melakukanya, sebab Airyn sudah terbodohi berpuluh-puluh tahun ini, padahal tujuan sebenarnya ada di sampingnya.
Ponsel itu bergetar di tas yang Airyn gunakan, kali ini ia memilih memundukan pandangan ketika melihat kearah ponsel, ia mengambil benda itu dari dalam sana sebelum di tempelkan ke daun telinganya “Nona, hasil testnya sudah keluar” ucap seseorang dari balik sana, membuat Airyn mengenggam ponsel itu dengan tatapan tajam yang amat dalam, kali ini ia akan siap menghadapi semuanya meskipun dengan kenyataan yang tidak masuk akal sekalipun.