Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Keputusan Darrel



Ke esokan paginya, Hansell terbangun dari tidur, ia merasakan sakit kepala yang mendera kuat, bahkan bagian wajahnya terasa ngilu dan sedikit perih saat disentuh


“Kenapa dengan wajahku?” tanya pria itu sembari turun dari tempat tidur, betapa kagetnya Hansell melihat wajahnya penuh dengan lebam-lebam seolah ia tidak sadar bagaimana mendapatkan luka ini “Kenapa denganku?” tanya pria itu dengan binggung sambil memegang luka diwajahnya.


“Apa anda sudah bangun tuan?” sapa seseorang diambang pintu, dengan tubuh yang bertumpu disampingnya, seolah ia menatap dengan pandangan mengejek, membuat Hansell melirik Dikra dengan panjang


“Kapan kau sampai di Korea?’ sambut Hansell dengan pertanyaan


“Tadi malam, dan aku disambut dengan sebuah drama yang sangat menyedihkan darimu” tuturnya, membuat Hansell megkerutkan kening dengan binggung, seolah ia berusaha keras mengingat kejadian tadi malam


“Apa kau yang memukulku!” bentak Hansell dengan begitu geram, seolah ia tidak terima atas apa yang dilakukan oleh Dikra kepada dirinya


“Tentu saja, siapa yang bisa melakukan itu jika bukan diriku. Apa kau fikir Darrel mampu melakukanya, akibat kejadian semalam kau harus menerima beberapa hal yang sulit untuk kau pertimbangkan hari ini Hansell” ejek pria itu kepada temanya, setelah berhasil melontarkan sebuah tebakan ia undur diri dan keluar dari sana, Hansell yang merasakan perih diwajahnya hingga meringis kesakitan sambil membersihkan diri.


Mungkin ia masih bertanya, hal apa yang dimaksud oleh Dikra, namun Hansell mencoba menghilangkan semuanya, bayangan Airyn selalu saja menghantui Hansell, benar-benar membuat dirinya tampak menyedihkan.


Setelah selesai membersihkan diri Hansell mengenakan pakaian rapi, ia keluar dari kamar dan menuju kemeja makan, terlihat Darrel Angel dan Dikra disana telah berada disana dengan kegiatan mereka masing-masing.


Tentu hal ini sangat aneh, sebab Darrel tidak pernah lancang untuk masuk keapartemen miliknya meskipun mereka sangat dekat, jika Dikra sudah pasti ditebak. Ia melihaat satu-persatu wajah tidak enak dari semuanya, namun diantara wajah Angel dan Dikra wajah Darrel yang paling menegangkan, membuat Hansell mengelengkan kepala dengan binggung “Ada apa ini” batin Hansell dengan canggung saat mendudukan diri diantara mereka.


Semuanya hanya diam tanpa kata, Dikra melirik Hansell dengan tatapan mengejek, membuat pria itu igin sekali mencokel mata Dikra hingga keluar dari tempatnya, sedangkan Angel memasang wajah cemberut hingga sulit dipandang Hansell, begitupun dengan Darrel yang sangta kaku dan tegang, mata Hansell terhenti disana, ia memandang Darrel seolah membutuhkan jawaban, menyadari ada tuntutan dari tatapan didepanya, Darrel membetulkan posisi untuk menyiapkan diri.


“Hmm…selamat pagi tuan” sapa Darrel dengan hormat, membuat Hansell menganggukan kepala dengan binggung


“Kenapa dengan wajah kalian pagi ini?” tanya pria itu untuk memulai percakapan, sebab jika ia terus menunggu semuanya tidak akan mau bicara


“Apa kakak bahagia pagi ini?” sindir Angel dengan kata yang tidak enak didengar


“Apa maksudnmu?” balas Hansell dengan sebuah pertanyaan yang kembali ia lemparkan


“Lihatlah ini…” Angel membuka ponselnya dan memperlihatkan postigan yang memberitakan kejadian semalam, tentu saja Hansell tercenggang dengan semua itu, bagaiman bisa media korea merilis berita dirinya, apa mereka tidak mempertimbangkan hal ini sebelum melakukan pemberitaan.


“Itu semua ulah dirimu, aku tidak akan melakukanya jika kau memiliki sedikit kewarasan”


“Kenapa kau ikut campur, aku sedang bicara dengan Darrel” balas Hansell dengan begitu geram


“Hmm…tuan, saya sudah melakukannya, dalam beberapa jam kedepan semuanya akan dihapus dari media online dan pemberitaan, tapi Tuan ada yang ingin saya sampaikan” tutur Darrel dengan gugup


“Ada apa?” cela Hansell seketika, sebab sangat jarang seorang Darrel bicara dengan canggung, seolah ia tengah melakukan kesalahan


“Dia ingin keluar dari perusahaan” celetuk Dikra, membuat Hansell tertegun, ia menatap panjang kearah Darrel yang diam saja diposisi, tentu Hansell tidak terima bagaimanapun Darrel sangat berarti baginya dan perusahaan, pria itu telah menjadi rekan bertahun-tahun hingga Hansell menempatkan posisi ini, jika Darrel keluar dari perusahaan tentu semuanya akan gonjang ganjing


“Kenapa kau keluar dari perusahaan? setidaknya kai harus memiliki alasan untuk itu, hingga bisa aku pertimbangkan ” tanya Hansell dengan serius, bagaimanapun ia tidak bisa terlihat menyedihkan


“Begini tuan, sepertinya saya harus menikah. Jadi untuk mencari calon istri yang sesuai dan cocok saya harus melepaskan pekerjaan ini, karna sangat menyita seluruh waktu, saya hanya ingin istirahat untuk mencari jalan lain” tutur Darrel dengan begitu takut, membuat Hansell terdiam diposisi.


Bisa dibilang usia Darrel hampir saja 40 tahun, namun ia masih lajang hingga detik ini, bahkan Hansell tidak pernah melihat pria itu berkencan, keseharianya hanya dikantor dan mengurus semua masalah Hansell, hingga ia lupa jika pria itu juga memiliki kehidupan pribadinya sendiri, kali ini Hansell mengerti dan memahami maksud yang disampaikan oleh Darrel, tapi ada satu hal yang sulit diterimanya jika tidak akan ada kariyawan yang seroyal Darrel pada perusahaan, mungkin saja Hansell tidak akan memilikinya lagi.


“Baiklah jika itu keputusanmu, aku harap kau segera menemukan calon istri” singkatnya, membuat semua orang tertegun, sebab diluar dugaan Dikra jika Hansell akan merestui begitu saja


“Apa tidak masalah Tuan?” tanya ddarrel sekali lagi, membuat Hansell menganggukan kepala dengan santai.


“Sebelum kau meningalkan perusahaan, carikan aku pengantimu yang bisa bekerja sesuai harapan, tentu saja ia harus memiliki kriteria yang bagus dibidangnya, dan memiliki riwayat pendidikan yang menganggumkan, aku tidak terima jika orang yang kau tunjuk adalah Dikra. Itu akan merusak perusahaanku” sindir Hansell, membuat Dikra naik pitam akan hinaan yang dilemparkan padanya


“Apa kau mau babak belur lagi!” bentak pria itu seketika, bahkan menampakan urat nadi dilehernya.


“Apa kau mau mati ditanganku, coba saja kau melakukanya lagi!” timpal Angel dengan garang, membuat Dikra menundukan pandangan, melihat hal itu ada senyum yang tertarik diwajah Hansell “Jangan berkata seperti itu, seorang wanita tidak boleh bicara hal-hal mengerikan, apa kau paham?” ujar Hansell sambil mengusap kepala adiknya


“Baik kak, jika dia memukulmu lagi, aku benar-benar mematahkan tulangnya” ancam Angel dengan kesal, bahkan sorot matanya membuat jantung Dikra bergetar.


Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang, mungkin ini menjadi sapaan perpisahaan dari Darrel, bagaimanapu Hansell akan senang jika Darrel bisa menemukan kebahagiaanya, Angel melirik panjang kearah kakaknya, ia melihat pria itu tengah tertawa saat bergurau dengan Dikra, namun dihati terdalam, Angel sangat paham jika sebenarnya pria itu menyembunyikan luka yang teramat dalam.