
“Airyn.....Maafkan aku ya sayang. Aku benar-benar menyesal. Apa yang kau inginkan untuk memaafkanku?” tanya Hansell dengan bujukan manja, ia mencoba bicara pelan-pelan untuk memperbaiki mood istrinya, setidaknya ia harus bisa mendapatkan maaf dari wanita itu. Jika tidak,
Mungkin Hansell akan tinggal di kutup paling dingin akibat perang dingin yang akan terjadi.
Mendengat penuturan dari suaminys, membuat Airyn terdiam sambil berfikir, bahkan ia meremukan sprai ranjang untuk mengumpulkan tenaga, akibat keinginan tang terlintas begitu saja.
“Aku tidak mau apa-pun lagi. Aku hanya ingin makan pasta, kenapa kau harus membentak ku seperti tadi” lirihnya dengan nada rendah, membuat Hansell mengaruk kepala karna bingung, jika saja waktu dapat diulang kembali, mungkin ia lebih rela termakan api cemburu dari pada menghadapi tingkah Airyn yang seperti batu.
"Yasudah, ayo kita kembali lagi, bangkitlah" bujuk Hansell saat membelai lembut rambut istrinya, sedangkan wanita itu masih saja menangis dengan kesal, seolah enggan melepaskan cengkraman tanggan.
"T-T-tapi aku ingin pasta yang dimiliki oleh Dall" ucapnya dengan penuh keinginan yang hampir-hampir membuat suara Airyn tersekat, bahkan ia memberanikan diri dengan mendogakan kepala kearah Hansell, seperti mencari pertentangan atas keinginan yang mengundang goncangan.
Kalimat itu, benar-benar dia ucapkan tanpa pertimbangan, seolah tidak ada ragu untuk menyakiti Hansell. Jika kali ini Airyn bertingkah jahat, itu semua akibat rasa sakit atas perlakuan Hansell, jadi sudah sepantasnya pria itu menerima balasan seperti ini
Alih-alih ingin menuruti keinginan Istrinya, Hansell ingin mengetahui. Apa yang wanita itu inginkan sebenarnya? Apakah perlu Airyn membuat Hansell sekesal ini untuk membalaskan sakit hati yang ka rasakan?
Bahkan sikap yang Airyn tampilkan, seperti dendam yang tidak hilang pada suaminya, seolah wanita itu menjelma menjadi rubah landak yang tengah menyerang karna tidak rela tersakiti.
“Airyn! Ada apa denganmu!" gerutu Hansell dengan geram, bahka ia mengertakan gigi penuh kesal hingga menyeruakan kejengkelan.
Membuat Hansell menarik tanganya kembali, akibat enggan untuk memanjai istrinya, Airyn jika terlalu dibiarkan sesuak hatinya, wanita itu hampir kehilangan batasan mereka. bahkan Airyn menjadikan Dall sebagai alasan untuk membuat Hansell jengkel, jika Airyn masih belum puas atas sakit Hati yang di perolehnya, setidaknya Airyn bisa melampiaskan kekesalah dengan cara yang lebih menyakitkan, tapi wanita itu malah menjadikan pria lain perisai untuk membalaskan sakit hatinya
Bukankah tingkah Airyn terlalu memuakan.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jika kau hanya menginginkan makanan, ayolah kita kembali, tapi kenapa harus nama dia yang kau sebut sebagai alasan. Apa kau sengaja membuatku jengkel! Airyn...Ada batasan untuk aku harus mengerti dengan sikap kekanak-kanakan ini, jika kau hanya ingin mempermainkanku, tidak seperti ini caranya. Gunakanlah pembalasan yang masuk akal, agar aku dapat menebus kesalahanku untuk memperoleh maaf mu. Tapi nama pria laij yang kau gunakan, sangat membuatku lelah. Jadi, ku mohon. Mengertilah! Jangan memancing emosiku, jangan menyulut pertengkaran lagi, jika kau seperti ini, kau terlihat seperti orang asing bagiku” Kecam Hansell dengan rasa jengkel yang melampaui batas kesabaranya, bahkan nada kasar itu secara langsung membuat Airyn tersentak hingga bungkam
Sadar saat ini emiso tidak lagi terkendali, membuat Airyn bangkit dari pinggir ranjang, menghadap kearah Hansell dengan penuh tantangan, dengan lekat ia menatap kedua mata itu seperti sengaja mencari pertentangan.
Apakah saat ini Hansell tengah melabel dirinya?
“Memancing emosimu ! kekanak-kanakan! Dan, memohon untuk aku berhenti! Padahal, Kau sendiri yang memulainya. Kenapa kau jadi menyebalkan sekali! Dan sekarang kau malah membentak. Bukankah kau duluan yang membuatku tidak berharga di hadapan orang lain, tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrimu. Kau fikir ini semua bisa aku lupakan hanya dengan kata maaf saja! Kau terlalu naif hingga menjadi asing Hansell.Aku fikir kau bukan pria Yang bisa mengerti tapi kau sama saja, Egois! ” bentak Airyn saat membalasa ucapan suaminya, seolah nada yang ia teriaki semakin tinggi sesuai dengan kata yang terlontar.
Tentu saja Airyn tidak terima jika Hansell terus menindas dirinya, sekalipun Hansell suaminya, tidak sepantasnya pria itu memperlakukan Airyn seperti tadi di hadapan orang asing, padahal Hansell sendiri yang mencari gara-gara dengan Airyn, dan sekarang ia malah mempertanyakan sebaliknya, bukankah laki-laki termasuk kedalam maklhuk yang paling menyebalkan.
“Baiklah, anggap aku yang salah. Aku membentakmu di depanya akibat cemburu, dan aku sudah minta maaf, bahkan sebagai permintaan maaf aku menawarkan mu untuk kembali lagi, tapi kau malah ingin memakan makanan Dall, tidak kah kau sadar. Secara tidak langsung kau ingin makan lagi bersamanya. Airyn, kau kenapa? Apa yang menjadi masalahmu sebenarnya? Kau bahkan tahu aku tidak suka dengan Dall. Kau juga sadar jika pria itu memiliki prasaan suka padamu, sedangkan dirimu bersikap manis padanya, apa kau ingin memberi orang lain harapan. Sadarlah! Saat ini kau sudah menikah, dan menjadi Istriku!” balas Hansell dengan sungguh-sunggih, seolah penekanan yang ia berikan di intonasi suaranya, mengema diruangan hingga bibir Airyn kelu dengan pandangan mata sayu.
Jika Airyn yang salah, apa pantas Hansell mengunci otoritas nya akibat hubungan pernikahan mereka?
“A-apakah kau mengatakan Aku tengah mengoda laki-laki lain, dan tidak tahu diri dengan statusku? Begitu!” lirih wanita itu saat mengunakan kalimat rendah hingga suaranya tersekat dalam melanjutkan kalimat.
Membuat mata Hansell meredup seolah tidak percaya akan penyimpulan yang Airyn kelola, kali ini tatapan gadis itu berbahaya seperti Nona Petrov biasa, bahkan tanganya saja mengepal, akibat rasa muak mendengarkan ucapan Hansell.
Airyn tidak mengerti lagi kenapa semuanya malah sekacau ini, mereka saling melempar kesalahaan seolah melindungi diri dari rasa bersalah, tidak ada celah untuk mengalah hingga Airyn menarik kesimpulan jika Hansell memang pria yang seperti ini, mengucapkan kalimat yang sering kali menyakitinya, lalu meminta maaf dengan kalimat manja, seolah bekas luka tidak ada saja.
Bukankah Airyn sudah terbiasa akan rasa pedih yang berulang kali ia gores, tapi kenapa saat ini perkataan Hansell, benar-benar di ucapkan dengan peluru tajam. Seperti sengaja membiarkan luka hatinya ternganga.
Sadar akan posisinya yang tidak menguntungkan, Hansell mengutuk kebohohan yang ia miliki, lagi-lagi Airyn terlanjur salah paham atas penuturanya, tadinya Hansell hanya ingin menyadarkan Airyn jika ia tidak boleh bertingkah seperti itu, karna hubungan mereka adalah pernikahan yang sakral, bagaimapun sudah kewajiban Airyn menjaga perasaan Hansell, tapi sepertinya ia malah mengartikan dengan maksud yang salah, hingga Hansell sendiri kehabisan kata-kata untuk meluruskan semuanya.
“B-bukan itu maksudku” ucapnya dengan gagap, bahkan matapria itu mengerjap akibat bulir air mata yang membayang, seolah menahan kekecewaan pada dirinya sendiri.
Perlahan ia melanhkahkan kaki untuk lebih dekat dengan istrinya, namun usaha itu langsung menuai penolak, hingga Hansell sulit percaya jika Airyn sudah menyiapkan tembok pembatas atas dirinya.
“Airyn” lirih Hansell dengan hati berdenyut sakit
“Kenapa? Kenapa kau selalu menyakitiku dengan kata-katamu Hansell? Kenapa kau selalu membentakku! Aku hanya ingin dimengerti, aku hanya ingin kau memahamiku, itu saja! Tapi kenapa kau selalu menyalahkan aku. Kenapa?? Kau selalu kasar padaku, bahkan kau bicara tanpa menyaring kata-katamu. Bukankah kau mencintaiku? Tapi kenapa menyakitkan sekali! Kenapa Hansell. Apa aku memang pantas menerima ini semua!” sontak Hansell membatu ditempat, memandang Airyn yang menangis hancur di depan mata, tubuhnya yang tadi memiliki tenaga sekarang kehabisan energi untuk berkata.
Pelukan yang ingin Hansell berikan, dibalas dengan penolakan yang Airyn jelaskan.
Kalimat yang baru saja ia lontarkan mengema diruangan, Hansell sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti istrinya, tapi Airyn selalu menyalah artikan perkataanya, apa yang harus Hansell lakukan jika dirinya saja hampir frustasi mengahapi Airyn yang sulit mengerti.
Sedangkan wanita itu tidak percaya jika Hansell lagi-lagi melakukan hal ini, kenapa pria itu selalu mengatakan apa yang terasa tanpa mempertimbangkan perasaan Airyn, bukankah hubungan seperti ini terlalu menguras tenaga.
Airyn tidak bisa di toleransi lagi, ia sudah kelewatan dalam salah paham. jika Hansell masih bersikap lunak, bukankah sama saja jika dirinya membenarkan kesalahan wanita itu, lalu membiarkan Airyn melakukan kesalahan lagi dan lagi
“Jika kau ingin dimengerti, harusnya kau menghargai orang lain, apa tadi kau menghargai diriku sebagai suamimu. Kau bahkan tidak menghargai kata-kata ku, dan pergi begitu saja, dihadapan orang lain tanpa mempertimbangkan status pernikahan kita. Aku tidak masalah, jika orang menganggapku rendah, karna sikapmu padaku Airyn. Tapi aku tidak bisa menerima sikapmu yang selalu saja egosi, kau seharusnya memahami orang lain, jika kau ingin dipahami. kau selalu saja menganggap salah semua perkataanku, tanpa menilai dirimu sudah baik atau tidak, jika aku bisa memahami dan mengerti denganmu, seharusnya kau memberikan aku sedikit ruang untuk itu, tapi apa? Kau selalu menyalahkan diriku atas pertengkaran yang sering terjadi diantara kita, semua itu karna keegoisanmu. Kau selalu mencari alasan untuk melindungi dirimu, karna kau tidak siap untuk merasa kecewa. Airyn, tidak seperti ini menyelesaikan masalah, Aku tidak selamanya benar, begitu juga denganmu, jadi aku mohon, untuk kali ini Mengertilah” lirih Hansell dengan tatapan tajam seoah ia tidak bisa bertahan lagi
Bahkan sedari tadi Hansell mengepalkan tangan menahan emosi, karna dirinya tidak ingin mengeluarkan sikap kasar yang mungjin menakuti istrinya, sedangkan Airyn masih bertahan dengan pembenaran diri.
Bagaimanapun airyn adalah istrinya, sekalipun hansell ingin melampiaskan kekesalan, ia tidak bisa mengkasari wanita itu walaupun Airyn tengah bersalah.
“Bukankah kata-katamu terdengar luar biasa, seolah kau sudah memendamnya terlalu lama, sampai aku sendiri tidak bisa berkata-kata. Tapi Hansell, kau benar. Aku memang egois, aku tidak mengargai orang lain. Lalu kenapa! Kau menyesal menikah denganku. Kalau itu benar, lebih baik kita cerai saja” bentak Airyn dengan air mata yang menderas, bahkan ia melemparkan bantal pada suaminya, seolah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Mendengar kalimat barusan, membuat Hansell seperti tersihir menjadi batu yang hanya memandang kosong, tanpa mampu memberikan perlawanan.
“Keluar dari kamar ini. Keluar” teriak Airyn sekali lagi hingga menyita seluruh fokus Hansell padanya
“Apa? Cerai? Airyn mengucapkan cerai?” gumam pria itu di dalam tatapan nanar, yang tidak bisa dijelaskan, bahkan diam saja sangat menyulitkan untuk dilakuakn, seolah matanya berusaha menatap Airyn dengan sungguh-sungguh, sedangkan tubunya berdiri kokoh menahan kekuatan Airyn yang menghantam Hansell dengan bantal dan pukulan.
“Apa kau sadar dengan ucapanmu” kalimat itu terhenti, saat keduanya saling bertatapan hingga tak berperi.
Hansell menahan pergelangan tangan Airyn, hingga mata wanita itu menajam melihat kearah lenganya
“Iya. Aku ingin cerai. Lebih baik kita cerai saja” sanggah Airyn dengan kalimat yakin, hanya saja air matanya banjir mengucapkan kalimat terlarang, Hansell menarik nafas dengan panjang. Ia mensejajarkan Airyn tepat di depan matanya, bahkan meraih bantal itu untuk dilepaskan dari tangan istrinya.
“Sekalipun kita bertengkar, entah itu masalah besar atau kecil, jangan pernah mengucapkan kata pisah” ucap Hansell dengan nada rendah penuh penekanan tajam, bahkan jemarinya mengusap air mata Aiyn secara perlahan, seolah nafas pria itu naik turun menahan tekanan darah yang hampir meledak
“Aku minta maaf sudah cemburu, dan tidak memahamimu. Tapi aku juga punya perasaan, aku tidak bisa melihatnya begitu saja, jika aku sudah diam dan tidak marah. Itu berarti aku tidak sayang. Tapi sekarang aku amat marah dan benci saat laki-laki lain melirikmu, bahkan aku ingin sekali membunuhnya saat itu juga, tapi aku menahan hati untuk menghargai dirimu, semua ini karna aku sangat mencintaimu. Airyn, mengertilah” sambung Hansell degan kalimat lembut, seolah tersampaikan dengan tenang, hingga detak jantungnya terasa getir saat hubungan mereka hampir saja berakir.
Membuat Airyn menegadah kepala memandang suaminya, dengan wajah sembab penuh air mata, apakah ia sudah kelewatan. Bahkan, Hansell bersusah payah memahami dirinya, bersikap baik dan juga bicara dengan pelan, tapi Airyn menyakitinya dengan kalimat pisah yang tidak pantas di ucapkan.
Apa yang Airyn lakukan?
Seolah pertanyaan itu membanjiri dirinya dengan rasa sesal akan kehilangan Hansell yang hampir saja terjadi, seolah air mata menjelaskan jika hatinya amat pedih dengan luka akibat diri sendiri.
“Maafkan aku” lirih pria itu dengan sikap tenang sambil memeluk istrinya penuh sayang, entah kenapa pelukan itu terasa damai hingga melegakan, sangat mengobati amarahnya yang tadi memuncak tanpa terkira.
Hansell sudah mengenal Istrinya dengan jelas, bahkan wanita itu tidak sungguh-sungguh dalam meninggalkan, tapi dengan tegar mengucapkan kalimat pisah. Mungkin ini salah satu bentuk Airyn melindungi dirinya dari rasa sakit, ia meninggalkan seseorang terlebih dahulu sebelum dirinya ditinggalkan, seolah perasaan sakit berdenyut di nadi, hingga menyakiti Hansell berulang kali saat memeluk istrinya.
Mungkin saja Hansell terlalu berlebihan.
"kenapa kau masih menangis, kita tidak akan berpisah, aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi, jadi jangan menangis lagi, kau menyakitiku" ucapnya dengan belaian lembut penuh kasih sayang yang tidak terhenti untuk membajiri Airyn.
Perlahan Hansell menarik Istrinya untuk menidurkan diri, setidaknya Airyn harus istrirahat agar melupakan pertengkaran mereka malam ini, sadar jika saat ini ada rasa canggung dari istrinya, Hansell memilih mundur dari sisi Airyn untuk memberi ruang.
Beberapa waktu punggung kokoh itu menjadi sandaran untuk melindungi Airyn yang masih menagis sesungukan, air mata yang tadi banjir hampir terkikis habis, tubuh yang tadi gemetar hampir tenang, bahkan gadis itu sudah mencapai kedamaian akibat pelukan yang Hansell berikan.
“Aku akan tidur dikamar sebelah. Tidurlah dengan nyaman. Aku tidak ingin kita menjadi tidak nyaman, jadi malam ini aku memberimu ruang untuk istirahat” ucap Hansell sambil mengusap pipi istrinya, Perlahan ia menyibakan rambut Airyn yang menutupi telinga "Malam berikutnya aku akan menangih hutang malam ini, jadi tidurlah yang nyaman. Aku menciuntaimu" suara serak penuh hawa panas itu mampu menyita perhatian. Airyn meringkuk malu sambil memejamkan mata pura-pura.
Sadar Istrinya menyerap kalimat tersebut, Hansell melepaskan diri dari Airyn secara perlahan, sambil menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya, setidaknya Hansell harus memastikan jika wanita kesayanganya telah mendapatkan kenyamanan, agar dengan tenang meninggalkan Airyn malam ini.
***
Setelah kepergian Hansell, di tengah malam yang mencengkram dengan sesal, Airyn masih belum reda dengan Air mata yang terus mengalir pelan-pelan, ia masih disana dengan rasa bersalah pada suaminya.
Hal yang paling Airyn sesali ketika mengucapkan kalimat terlarang di hubungan rumah tangga, hingga dirinya tersulut emosi sampai menolak akal sehatnya ketika bicara, bahkan Hansell masih bisa bicara baik-baik setelah Airyn membentak dan memukulnya, bukankah hansell memeluk dirinya ketika Airyn ingin menghancurkan hubungan mereka.
Kenapa Hansell harus seperti itu, hingga membuat Airyn tersakiti dengan dirinya sendiri. Bagaimanapun Airyn memikirkan semua yang sudah terjadi, hanya penyesalan yang ada diujung renungan.
Pria membalikan tubuh kesana kemari, seolah tidak pernah nyaman dengan posisi, Airyn selalu menganggu Hansell saat ini, hingga ia sulit tidur akibat mencemaskan istrinya, dan lebih parah dilanda sesak sembilu akibat rindu yang terus mengebu.
Bagaimana bisa mereka bertengkar separah itu, membuat Hansell semakin frustasi jika terus memikirkan kalimat cerai, jujur saja ia sangat mecintai Airyn hingga batas tidak sanggup hidup tanpa dirinya.
***
Wanita itu mendudukan diri ditengah ruangan yang sepi, sadar jika saat ini Nyonya Hamillton yang menjadi Pelanggan, membuat semua orang merasa gugup dan cemas, sebab aura yang dibawa wanita itu sangat dingin hingga suram, bahkan Nyonya Hanmillton yang mereka lihat saat ini sangat menyeramkan dari biasanya.
Tentu saja Airyn ingin menikmati makanan yang membuat pertengkaran di pernikahanya, bahkan ia mendudukan diri ditempat yang sama, meskipun dengan suasana yang berbeda, hanya saja Airyn perlu melepaskan sesak ini untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Tadinya disamping Airyn adalah tempat Hansell mendudukan diri, membuat wanita itu terlena kedalam imajinasi bagaimana Hansell menenmani dengan sikap sayang penuh perhatian. Sedangkan Airyn bertingkah seperti gadis bodoh yang menyakitinya dengan sengaja, bahkan pria itu menahan emosi untuk menjaga sikapnya.
Sedangkan Airyn tidak menghargai perkataan Hansell, dan berlalu pergi setelah membentak suaminya dihadapan pria lain, bukankah ia tidak bisa dimaafkan atas semua kesalahan yang jelas di sengaja dan ia buat sendiri.
Pesanan yang Airyn inginkan disajikan oleh pelayan dengan penuh hormat, mereka berlalu setelah menghidangkanya dengan rapi diatas meja pelanggan, perlahan wanita itu meraih perangkat makan untuk mencicipi Pasta yang tadinya tidak sempat ia nikmati, secara perlahan rasa itu meresap cepat keindra perasa, hingga merasakan berbagai macam rasa yang mungkin sulit di jelaskan.
“Bahkan ini tidak enak sama sekali, kenapa aku sebegitu marahnya pada Hansell” dengus Airyn sambil meneteskan air mata penuh rasa bersalah, seolah ia menguatkan diri untuk menguyahnya satu persatu akibat rasa benci kepada dirinya sendiri “Kenapa aku jahat sekali padanya!! bahkan Hansell sudah bersikap sabar dan memahamiku, sedangkan aku memukulnya lalu membentaknya, lebih parah lagi mengucapkan kalimat bodoh itu. Kenapa dia masih mau memaafkan kesalahanku. Dasar pria bodoh” dengus Airyn dengan begitu jengkel, seolah ia tidak percaya dirinya sebodoh ini.
Tangisan yang terus menderas itu, tanpa sengaja ter-akses oleh beberapa kariyawan yang ada di Restaurant, hingga mereka semua saling tatap-tatapan penuh binggung.
Tentu saja yang Airyn tangisi adalah rasa pasta yang tidak sesuai dengan harapanya, pasta itu tidak enak sama sekali, bahkan jauh dari kata sempurna, tapi malah menghancurkan hubungannya dan Hansell malam ini, tentu saja Airyn seperti orang bodoh yang harus tengelam dalam rasa bersalah.
Bagimanapun semuanya sudah terjadi, Hansell sudah pergi dari kamar mereka, hingga meninggalkan Airyn sendiri dengan suram, bahkan ia tidak sanggup menolak keinginan pria itu akibat kesalahan bodoh yang sudah di lakukannya.
“Makanlah sampai habis” batin Airyn saat begitu enggan memaafkan dirinya, sedangkan pelayan yang sedang mengamati Nyonya Hamillton dari sudut pandangan, merasa iba hingga terbesit kasihan.
****
“Je, sepertinya Nyonya Hamillton bertengkar dengan Direktur” bisik gadis itu kepada Jessica
“Kasihan sekali, apa dia tengah dicampakan” balas Candy dengan menatap penuh prihatin.
Bahkan mereka berdua saling berbincang dengan nada pelan, seolah tidak puas sama sekali sebelum mencapai tahap klimaks pergosipan, yaitu Nyonya Hamillton adalah gadis biasa yang tidak berharga bagi Direktur.
“Apa kalian di bayar untuk ini” dengus seorang pria yang tiba-tiba ada diantara mereka, membuat Jessica dan Candy terperagap seolah tertangkap basah, setelah melakukan kesalahan.
“P-pak. Maafkan kami" ucap keduanya dengan gugup, bahkan secara spontan mengucapkan salam penuh hormat dan pengampunan
"Bukankah itu Nyonya Hamillton?" lirih Manager Restaurant dengan tidak percaya, tentu ia mengenal Airyn karna rapat yang dipimpim olehnya, bahkan secara tidak sengaja ia kagum dengan cara wanita itu memaparkan metode dan observasi hotel ini, hingga Sang Manager menarik kesimpulan jika Direktur Hansell tidak salah menjadikanya sebagai istri "Benar. Dia Nyonya Hamillton" sambungnya dengan suara yakin
"Pak, sepetinya dia memiliki masalah, dari awal datang Nyonya Hamillton menangis sesungukan tanpa henti" bisik Candy dengan penuh penekanan, membuat tiga orang itu memalingkan wajah menatap kearah Airyn.
"Benar, sepertinya dia dicampakan" timpal Jessica tanpa sadar, membuat Sang Manager menatap panjang penuh pengancaman, seolah tidak percaya jika Staff biasa seperti mereka mengosipkan Nyonya Hamillton.
"Gaji kalian bulan ini dipotong" titah Sang Manager dengan tegas, sambil merapikan baju untuk memenui Nyonya Hamillton
"Pak!!!" Dengus Jesicca dan Candy dengan jengkel, bahkan mereka berdua tidak terima jika pria itu memotong gaji bulan ini akibat bergosip
*****
"Selamat malam Nyonya, saya Manager Restaurant ini, apa ada yang bisa saya bantu?” tawar pria itu sambil memandang wajah Airyn yang berkedudukan tinggi disini, siapa sangka jika wajahnya telah sembab dan terurai air mata, membuat Manager terdiam sambil menundukan kepala.
“Tidak, saya hanya ingin duduk disini” balas Airyn dengan sikap enggan, sembari mengusap wajahnya
“Tapi Nyonya, ini sudah larut, dan kami ingin tutup, apa anda yakin ingin disini saja” seru Sang Manager sekali lagi, tentu sangat tidak sopan meninggalkan orang sepenting Nyonya Hamillton sendirian.
“Tidak apa-apa Tuan, kalian silahkan tutup, nanti saya akan pergi” bahtah Airyn sambil menarik tagisan secara sesengukan, sadar pria itu ingin menyanggah ucapanya, Airyn mengangkat tanganya untuk menghentikan tindakan itu “Jangan membantah…lakukan saja, jika kalian tidak pergu, saya akan pecat semuanya” ultimatum yang Airyn jatuhkan membuat pria itu terdiam.
Siapa yang bisa melawan kuasaan dan Otoritas Nyonya Hamillton, tentu sebagai Manager biasa ia hanya mampu menjalankan tugas dari atasanya.
Semuanya telah selesai dengan pekerjaan masing-masing, bahkan mereka telah mematikan lampu ruangan dengan sempurna, hanya tingal kursi Airyn yang belum dirapikan seperti biasa, tentu semua orang saling memandang satu sama lain, merasa sedikit takut untuk pergi tapi bagaimana lagi, ini semua perintah Nyonya Hamillton untuk meninggalkan dirinya sendiri.
Sadar semua orang telah pergi, dan tidak ada yang tersisa selain dirinya, Airyn memeluk tubuh ditempat sepi, entah kenapa ia masih merenungkan kesalahanya disana, berharap penghukuman ini pantas untuk ia dapatkan, agar melepaskan semua rasa bersalah.
Sayangnya tubuh Airyn lunglai karna memforsir penuh kekuatannya hari ini, tanpa sadar wanita itu menjatuhkan tubuh kelantai, hingga merengsek kearah meja untuk menyembunyikan diri di bawah sana, bukankah dengan begini menjadi pelarian untuk dirinya, setidaknya tidak akan ada yang bisa melitan Airyn sesedih ini.
Suara tangisan mengema di ruangan, bahkan kesunyian menjelma menjadi malam yang menyeramkan, seolah Airyn melewati detik per detik untuk merasa kesepian, setidaknya dengan merasaka penderitaan mampu memaafkan dirinya sendiri, karna Airyn sadar Hansell tidak akan marah atau menghukumnya, cara satu-satunya melepaskan beban, dengan memberi dirimu sendiri pelajaran.
****
Tadinya suara tangisan sangat mendominan, tapi kali ini suara langkah kaki yang bertabrakan dengan keramik marmer menghampiri dirinya secara perlahan, tanpa sadar Airyn memasang alaram peringatan jikalau nanti terjadi sesuatu padanya.
"Airyn" Suara khas yang terdengar akrab itu, membangunkan kesadaranya, bahkan Airyn mendongakan kepala melirik kearah pria bertubuh tinggi yang sangat kekar, bahkan bahu lebarnya saja mampu menutupi cahaya ramang-remang.
Perlahan pria itu berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan gadis yang menangis dilantai, pandagan penuh sayang, hingga rasa cinta yang amat dalam dapat terlihat dari kedua matanya, sedikit perih saat menyaksikan situasi yang saat ini Airyn hadapai, hingga mengkacaukan akal sehatnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan disini" ucapan itu terdengar lembut penuh kepedulian, bahkan satu kata saja mampu meneteskan air mata Airyn tanpa terkira, membanjiri tangan lebar pria yang menangkup pipinya.
Tak ada kata yang bisa Airyn gambkan, selain air mata yang mejelaskan perasaan, rasa sakit, luka serta pernyasalan.
“maafkan aku” lirih Hansell dengan kalimat bersalah, bahkan ia tidak kuasa lagi menyaksikan istrinya ketakutan di hadapanya kali ini, keadaan menyedihkan yang Airyn derita tergambar jelas, hingga tubuhnya begitu gemetar sampai menyakiti Hansell tanpa terkira.
Ia meringkuk di dalam gelap sambil memeluk diri dan bayangan, pria mana yang tidak tersentuh perih menyaksikan wanita yang ia cintai melukai dirinya seperti ini, begitupun dengan Airyn yang teramat ia sayangi hingga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Hansell” Airyn berucap dengan air mata yang pecah dipelukan suaminya, seolah memecahkan penyesalan dari lirihan nama yang susah payah di ucapkan, membuat tubuh wanita itu menjangkau tangan suaminya hingga menjatuhkan pelukan sejadi-jadinya, Airyn tidak percaya laki-laki itu masih memasang wajah peduli, dengan tatapan penuh sayang, yang tidak ada kebencian sama sekali. Hingga suasana haru melanda membuat pilu belalu akibat pelukan rindu.
“Kenapa kau di sini, bukannya kau harus di tidur dikamar” seru Hansell sambil mencium kening istrinya, bahkan pelukanya terasa menyakitkan dari biasanya, tentu ada rasa sakit yang merenyuhkan batinnya, hingga membuat Hansell tidak sangup membendung kaca-kaca yang nanti akan banjir seketika.
“Aku ingin pasta, tapi rasanya tidak enak, aku takut kembali lagi ke kamar. Karna tidak ada dirimu di kamar kita” lirih Airyn sambil berlinag air mata, hingga tangisannya saja memenuhi ruangan, bahkan hati Hansell berdenyut nyeri mendengar ucapan polos istrinya, apakah ia sudah melakukan kesalahan karna meninggalkan Airyn sendirian.
Jika memang ini kesalahanya, Hansell sangat membenci hidupnya yang hadir untuk menyakiti.
“Sayang, kenapa kau menjadi seperti ini, maafkan aku. Bangunlah, kita kembali ke kamar” ajak Hansell dengan kalimat manja, membuat Airyn menganggukan kepala, dengan tangisan yang sedikit mereda.
Tentu saja wanita itu memeluk Hansell hingga tidak rela melepaskan lengan yang sudah mengitari leher suaminya. sedangkan Hansell melangkah pergi ke arah kamar mereka, sambil melindungi Airyn dalam gendonganya. Bahkan ia dapat merasakan betapa lemah dan gemetar tubuh mungil yang mengemaskan itu, hingga matanya saja sudah menyipit saking banyak mengeluarkan air mata.
Kaca mata yang ia kenakan berembum tanpa diperkirakan, meskipin dirinya belum menikah, namun rasa haru antara pasangan itu mampu di rasakan hingga seperti nyata, setelah memastikan mereka baik-baik saja, Sang Manager meninggalkan tempat dengan melenggang senyum lega.
***
Setelah Airyn memerintahkan pria itu meninggalkan dirinya, ada sedikit ragu yang sulit diabaikan, entah kenapa Sang Manager tidak bisa mengikuti perintah Nyonya Hamillton begitu saja, karna sepertinya ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh Direktur Hansell, dan ia tidak ingin menangung kesalahan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nyonya Hamillton akibat ketida pedulianya.
Tentu dengan keberanian penuh yang harus di paksakan, pria itu memutar jalur tujuan untuk menemui Hansell, dari pada memikirkan pekejaanya yang menjadi taruhan.
Ternyata apa yang ia lakukan tidak mengecewakan sama sekali, saat ini dirinya sangat bersyukur mereka berdua telah menyelesaikan permasalahan dengan baik, hingga ada rasa bahagia yang menyertai pria itu, ia tidak tahu hal apa yang terjadi diantara Direktur Hansell dan Nyonya Hamillton, tapi terlihat jelas bagaimana cinta dan penyesalan hadir diantara mereka, tidak ada yang salah dan benar, yang ada hanya memahami dengan sebuah ketulusan, benar-benar pemandangan yang mengharukan, hingga ia sulit menepiskan rasa terenyuh yang menyekat.
Hansell membaringkan istrinya di ranjang, ia memberikan Airyn minum sebelum membiarkan wanita itu terlelap, setidaknya Airyn harus lebih tenang sebelum menutup kedua matanya, setelah wanita itu meneguk minuman hingga tandas Hansell membuka pakaian hangat yang Airyn kenakan, secara bersamaan pria itu memeluk istrinya dengan sayang, bahkan menyandarkan kepala Airyn kedada bidang miliknya, tentu Airyn masih menangis sesungukan, tapi Hansell terus menenangkan, hingga wanita yang sagat di cintainya itu tidak takut dan gemetar seperti tadi.
“Hansell maaf…” bisik Airyn dengan sungguh-sungguh, membuat Hansell tersenyum sambil mendekatkan wajah ketelinga Istrinya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan" ucapnya dengan intonasi mengoda, sontak pernyataan yang keluar dari bibir Hansell, membuat tubuh Airyn merinding, hingga melirikan pandangan pada suaminya, yang saat itu berbinar menatap matanya
"Tap... " belum sempat Airyn melanjutkan ucapan, Hansell dengan sigap membungkam mulut Airyn bersama ciuman manis, bahkan pria itu memberikan kelembutan tanpa serakah saat menikmatinya, ia terus menenangkan Airyn dengan buaiyan lembut yang mampu diberikan, dengan begini wanita itu akan bisa melupakan semuanya.
Perlahan tangan keduanya saling memeluk tanpa melewatkan apapun, hingga mata Airyn terpejam sambil merasakan ketulusan yang Hansell lakukan, ia tidak akan mengucapkan kalimat terlarang itu lagi, cukup kali ini Airyn melakukan kesalahan, dengan melukai dirinya sendiri sama saja ia telah melukaI Hansell.
Jika benar sesrorang mencintaimu dengan tulus, ia akan terluka sebelum melukaimu. Karna cinta tidak bisa di defenisikan dengan bicara, sebab aksara cinta jauh lebih berharga dari sebuah rasa.
Pakaian Dalam yang mereka kenakan telah bertebaran dimana-mana, nafas yang tadinya terengah hampir netral dengan pelukan manja penuh sayang, benar-benar malam yang melelahkan, hingga di pagi buta, istrinya sudah terlelap di lembah mimpi terdalam, membuat Hansell mencium wangi menenangkan dari tubuh mereka masing-masing.
"*Manager Restaurant Hotel ini, pindahkan ke posisi General Manager, dan naikan gajinya dua kali lipat" Titah Hansell dengan tegas pada Direktur Hotel, sembari melenggang pergi.
"Apa anda serius" Tanya pria itu dengan tidak percaya, bagaimana bisa dirinya mendapatkan jakpot sebedar ini, di dalam waktu semalam. Seolah pagi hari ini seperti keberuntungan yang nyata*.