
“Benar dugaan ku, dia tidak mengenali ku sama sekali, benar benar memuakan” fikir pria itu ditengah diam nya, sedangkan Somi berulang kali melirik kakak laki-laki nya itu
“Awalnya aku tidak menyukainya, tapi setelah mengetahui semua cerita itu. Entah mengapa aku mulai terbiasa, jika saja dia benar-benar kakak kandung ku yang satu ayah dengan ku, pasti aku sangat bahagia menerima itu, namun kenyataan nya berbeda. Kami berbeda ayah, dan kak James tidak mengetahui itu, tentu dia akan lebih kecewa, atau bisa saja nanti dia akan semakin membenciku, karna sejauh ini aku hanya memahami ayah lah penyebab ibu meninggalkan kakak” fikir Somi saat memandang pria tampan didepan mata nya
“Apa yang kau fikirkan?” putus James saat berseru dengan lirikan mata yang sedari tadi memandang nya
“Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa” sanggah Somi dengan cepat, sembari memalingkan wajah ke arah depan, perlahan ia memiringkan wajah melirik ke arah dalam, membuat Somi bersirobok dengan ibu nya yang membawa nampan, gadis itu berdiri menyambut kedatangan wanita itu
“Apa yang ibu lakukan?” tanya Somi dengan penasaran, sebab di fikiran nya, wanita itu akan membuatkan minuman hangat untuk tamu mereka, namun diluar dugaan, ibu nya malah membawa mangkuk yang berisi air dengan handuk kecil
Tanpa segan Iriana meletakan nampan yang dibawa nya di meja yang berada disamping James, membuat pria itu melihat ke arah benda tersebut sambil memandang ibunya, Iriana memandang mata itu dengan hangat, membuat James tak melepaskan tatapan mata dari ibunya, tangan pria itu mengepal seakan menahan sesuatu yang ingin meledak, ia mencoba mengendalikan diri namun rasanya James ingin sekali memaki, ia ingin mengakui siapa dirinya, dan menjatuhkan beberapa tuduhan menyakitkan untuk wanita yang dibencinya, membuat tatapan James kabur dengan air mata yang hampir saja berlinang.
Seketika tangan Iriana meraba kening pria muda itu, membuat amarah James mereda seketika, bahkan Somi tertegun dengan apa yang dilakukan ibunya. Begitupun James, ia tak kalah kagetnya dengan apa yang dilakukan Iriana kepada dirinya
“Bagaimana bisa kau keluar dengan suhu seperti ini” tanya Iriana dengan nada rendah sembari meremas handuk itu didalam rendaman air yang sedikit panas tersebut, dengan cepat ia meletakan kain tersebut dikepala James, membuat pria itu hanya diam tanpa mampu mengucapkan satu kata, iriana mengompes dahi anaknya dengan lembut
“Kenakan pakaian yang tebal untuk keluar rumah, jika musim dingin seperti ini kurangi aktifitas diluar rumah” sambung Iriana dengan penuh pengertian, membuat James membelalakan mata dengan sempurna atas apa yang baru saja dikatakan ibunya itu
“Apa dia sudah mengenaliku” fikir pria itu dengan penuh pertanyaan tanpa mampu mengucapkan
“Apa kau mengerti nak!” seru Iriana kembali dengan nada penuh perhatian, bahkan ia melayangkan senyum hangat ke arah James,
Tangan wanita itu terhenti akibat James mengenggam nya “Saya baik-baik saja” tutur nya dengan gugup, bahkan pandangan dalam nya tak mampu dialihkan dari mata Iriana
“Apa kau flu?” tanya Iriana sembari berdiri tegak
“Aku baik-baik saja” balas James dengan nada dingin, melihat sikap tersebut Iriana hanya tersenyum seolah ia baik-baik saja, tanpa rasa canggung apapun, tangan wanita itu melayang kekepala James dengan usapan lembut, membuat pria itu kembali tertegun dengan tatapan panjang, bahkan kali ini dirinya ingin marah namun tak mampu melakukan nya, membuat pria itu membenci keadaan yang membuat dirinya tidak berdaya
“Nak mirip sekali dengan putra ku” tutur Iriana dengan suara lembut disertai senyuman manis ke arah James, membuat Somi semakin berdebar mendengar hal itu “Anak laki-laki ku sangat sensitif dengan suhu dingin, apalagi dimusim dingin seperti ini, sering kali badan nya panas. Meskipun ia baik-baik saja, namun jika dibiarkan suhu itu bisa saja menyakiti nya, karna itulah aku tidak membiarkan nya bermain jika sudah musim dingin” jelas Iriana dengan penuh cinta sembari menceritakan betapa hangat nya kenangan itu bersama putranya
“Tapi aku bukan anak mu” ketus James dengan kesal, seakan hatinya dipermainkan dengan sikap wanita tersebut, mendengar hal itu ada bagian hati yang tersayat habis, membuat James semakin kesal saat ucapan nya dibalas senyuman saja, tanpa mengatakan apapun
“Maafkan aku nak, jika menyinggung mu” tutur Iriana dengan penuh sopan ke arah James, bahkan ia membungkukan badan atas permintaan maaf itu, membuat mata James bergetar sebab semakin lama ia merasa tak kuat untuk berinteraksi dengan ibu nya
“Aku tidak bisa mengakui nya sekarang, aku harus memastikan terlebih dahulu bagaimana bisa anak ku selamat” gumam nya dengan penuh tekad “Maafkan ibu james, rasanya ingin sekali ibu memeluk mu, dan menumpahkan air mata untuk melihatkan betapa bahagianya ibu bisa mengenggamu erat, namun ibu tidak bisa semudah itu menerima keadaan ini, setelah memastikan terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi” gumam Iriana didalam diam nya
“Aku harus pergi, Nyonya” tutur James dengan nada dingin, ia berdiri dengan tegap, bahkan pria itu sudah tinggi semampai, membuat Iriana harus menegadah melihat wajah putra nya, bahkan dengan bahagia Iriana menyaksikan anaknya sangat tampan dan luar biasa gagah, dari pakaian yang James kenakan terlihat betapa jaya hidup pria muda tersebut, tentu Iriana sudah bahagia menyaksikan penampilan anak nya saat ini.
“James” lirih Iriana, membuat langkah James terhenti dan membalikan badan seraya melihat ke arah suara, namun tubuh wanita itu terjatuh kepelukan nya, bahkan James terdiam tanpa mampu berkata atau membalasnya, membuat Somi berlinang air mata atas apa yang dilakukan ibunya itu
“Maafkan saya, sebenar nya kau mirip sekali dengan anak ku, jadi biarkan aku memeluk mu beberapa detik saja” tutur Iriana saat melingkarkan tangan ketubuh James yang tidak terjangkau oleh tanagan nya
“Tapi saya bukan anak anda Nyonya” balas pria itu dengan nada dingin, bahkan terdengar jelas kekakuan di lantunan suara nya, membuat Iriana terdiam tanpa membalas perkataan James, seketika Iriana melepaskan diri dari anaknya, saat dirasa sudah cukup untuk melepaskan bahagia dan rindu
“Tetap saja, kau teman anak ku bukan! jadi aku sudah menganggap mu sebagai anak ku sendiri, sering-seringlah berkunjung, dan katakan apapun makanan kesukaan mu nak, aku akan membuatkan nya. dan juga gunakan pakaian tebal untuk keluar rumah dimusim dingin, meskipun kau baik-baik saja, jika suhu ini terus dibiarkan, kau juga bisa jatuh sakit bukan” seketika itu James tak mampu berkata, ia menerima apa yang diucapkan wanita itu, namun ia kecewa jika tak ada satu pengakuan dari mulutnya yang mengatakan James adalah anak laki-laki tersebut, meskipun kata sedikit mirip itu hampir mendekati, tapi tidak bisa di kwalifikasikan itu sebuah pembenaran.
“Ibu sudahlah, ibu sangat berlebihan” putus Somi sembari mengandeng tangan ibu nya, untuk memberi jarak kepada pria tersebut “Kak maafkan ibuku, sikap perhatian nya terkadang memang membuat kita risih” sambung Somi ke arah kakaknya itu
“Apa yang kau katakan, dia bahkan tidak keberatan sama sekali” bantah Iriana, sembari melihat ke arah Somi “Oh iya, siapa nama mu nak?” tanya Iriana dengan kepura-puraan
“Ja…” seketika mulut James terhenti, membuaat Iriana mengkerutkan kening dengan begitu ngeri, sama hal nya dengan Somi yang mendengar hal tersebut “maaf, nama saya Jonson” tutur nya dengan berbohong, membuat Iriana bernafas lega, sebab jika James mengucapkan nama aslinya, tentu sangat sulit bagi Iriana berbohong lagi.
“Nama yang bagus, hati-hati dijalan Jonson, jangan abaikan panas badan mu itu” tutunya dengan penuh perhatian, membuat James menundukan sedikit badan sembari berjalan menuju mobil, ia membuka pintu tersebut dan mendudukan diri hingga menghilang dibalik pintu yang tertutup.
James melajukan mobil dan mengakirinya dengan klakson ke arah dua wanita yang melirik dirinya, dengan cepat pria itu meninggalkan halaman dan menuju jalan raya, James menekan gas dengan begitu dalam, ia melaju tanpa batas kewajaran, James ingin sekali menabrakan mobil tersebut karna kesal, walaupun ia merasa telah selesai dengan rasa sakit itu, namun rasa sakit lain kembali hadir ditengah luka yang disembuhkan oleh dirinya.
“Kenapa dia memperlakukan ku seperti itu, bahkan ia tidak mengenali aku!! Apa dia fikir aku ini permainan yang tidak memiliki perasaan. Sial, aku muak dengan semua ini” kesal nya sambil membanting stir ke arah kanan, ia menengelamkan kepala di stir mobil sembari meredakan amarah, James merasa kesal setiap kali memikirkan bagaimana manis nya sikap wanita tersebut, namun menyakitkan untuk dirinya, James tak ingin lagi membendung harapan yang terlalu tinggi namun menumpahkan sakit yang begitu dalam.
Untuk kali ini saja ia mencoba menerima fakta, bahwa dimata wanita itu, dirinya tidak pernah ada selainkan pernah memiliki James dimasa lalu.