Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Nyonya Hamillton



“Apa kau puas dengan tidurmu?” sapa Hansell dengan penuh kurang ajar mencium bibir Airyn, sontak gadis itu memalingkan wajah dengan kesal, ia ingin beranjak dari samping pria itu namun rasa sakit dipinggul membuat Airyn mendesis perih.


“Karna ini pertama kalinya, kau tidak akan bisa berdiri” Hansell beranjak dari ranjang didalam keadaan telanjang, sontak Airyn menutup mata sebab ia tidak bisa menerima itu, bagaimana bisa Hansell berubah menjadi pria kurang ajar, membuat Airyn benar-benar geram akan hal itu, ia bahkan bersisungut sambil mencelotehkan mukut mungiknya, tapu Hansell tidak mempedulikan apapun yang Airyn katakan, ia tanpa segan meraih tubuh Airyn yang terbaring diranjang untuk menuju kamar mandi, seketika Hansell membaringkan Airyn kedalam bathtub yang ada disana, keduanya saling merendamkam tubuh, walaupaun terjadi tolak menolak antara Airyn dan Hansell, pria itu dengan sikap kurang ajar mempertahankan diri tanpa ada malu, hingga Hansell membantu Airyn membersihkan diri, meskipun terjadi berbagai hal tidak mengenakan, Airyn bertahan dengan terus mencakar tubuh Hansell agar memberikan perlindungan pada dirinya, sangat perih memang saat air itu membasuh luka segar yang baru digores oleh Airyn, namun Hansell bahagia, Airyn melukaianya meskipun tidak sebanding dengan luka dan sakit yang Airyn rasakan.


“Hansell, kenapa kau jadi megerikan?” lirih Airyn dengan pandangn buram melihat Hansell yang tengah mengendong tubuhnya untuk berpindah keranjang


“Bukankah sudah aku katakan, jika itu tentang diirmu aku akan berubah menjadi monster yang tidak seperti manusia lagi” balas Hansell dengan kalimat tenang, seolah ia tidak terpengaruh akan hal itu, Airyn tidak pernah menemukan sisi ini didiri Hansell, bahkan ia tidak pernah memikirkan Hansell semengerikan ini, jika ada yang harus Airyn takutkan bukan orang dibalik surat kontrak itu melainkan Hansell, pria yang amat ia cintai jauh lebih mengerikan dan berbahaya dari yang ia bayangkan.


Secara perlahan Hansell membaringkan Airyn diranjang, ia telah memesan pakaian untuk gadis itu, Hansell bahkan ingin membantu Airyn mengenakanya, namun tangan Airyn terlalu cepat mencegat, bagaimanapun Airyn bisa melakukan itu semua, tanpa bantuan pria yang sudah mengecewakan dirinya


Setelah ia menerima penolakan, Hansell menatap Airyn dengan pandangan menghina, tentu saja senyuman itu memcarkan tatapan diantara mereka hingga Hansell berlalu mencium kening Airyn dengan sayang, ia sadar tidak mudah bagi Airyn membiasakan diri dengan dirinya yang asing, kali ini Airyn harus melawan semuanya dan dirinya, karna Hansell terlampau jauh melakukan kesalahan


“Hansell, bagaimana bisa punggungmu penuh dengan cakaran” celetuk Airyn ketika mendapatkan pemandangan itu dipunggun pria itu, entah kenapa ia memerasa jijik akan pria itu, hanya perasaan khawatir seperti ini tidak bisa ditepiskan olehnya, tetap saja Airyn tidak bisa berhenti khawatir, jika sebanarnya Airyn teramat cinta akan Hansell


“Kemarikan…” Airyn menarik Hansell tanpa segan, membuat pria itu terdiam memandang keraut wajah yang begitu mengkhawatirkan, Hansell menyesal sekali telah menyakiti Airyn, namun ia tidak memiliki pilihan lain, perlahan gadis itu memutar tubuhnya hingga banyak sekali cakaran yang ada di punggung itu, bahkan tanpa Airyn sadari itu semua ulah dirinya.


“Kenapa jadi seperti ini” bentak Airyn dengan cemas, ia beranjak dari sana meskipun ada ngilu yang membuat dirinya meringis


“Airyn..apa kau baik-baik saja” panik Hansell saat menjangkau tubuh gadisnya


“Aku baik-baik saja, tunggulah sebentar” Airyn meremas pinggul dengan rasa sakit yang mendera, bagaimanapun ini kali pertama Airyn melakukanya, meskipun laki-laki yang ia cinta telah merengut hal itu darinya, Airyn tetap saja menyayangi semua tindakan yang Hansell lakukan, tapi semua kekecewaan tidak bisa menghapus kepedulian Airyn kepada Hansell, bukankah ini sangat miris.


Kita tidak bisa berhenti mencintai laki-laki yang terlanjur menyakiti, sekalipun perasaan kecewa itu hadir tetap saja kembali seperti kata semula, kita tidak bisa berhenti mencintai.


Setelah mendapatkan kotak obat yang ada ditangnya, Airyn memasuki kamar hotel dengan segera, ia melihat Hansell masih ditempat semula, perlahan gadis itu mendekat dengan rasa gugup dan ngeri, ia berusaha memberanikan diri, bagaimanapun Airyn tidak bisa melihat Hansell terluka, perlahan tangan mungil itu mengusapkan beberapa obat merah kepunggung Hansell, bahkan tanggan itu terasa amat lembut dan penuh sayang, entah kenapa ada rasa getir dibatin Hansell yang berhasil ia sembunyikan dalam-dalam.


“Maafkan aku” ucap Airyn dengan rasa bersalah, sebab luka dipunggung Hansell akibat ulah tangannya yang sangat mengerikan, Airyn menyesal dan teramat sesal, kenapa mereka terjebak dengan hal seperti ini, jika saja Airyn tidak menyulut emosi Hansell mungkin semua akan terkendali, tapi semua sudah terjadi, apa yang harus disesali lagi.


“Tidak, ini bukan salahmu, bahkan kau tidak salah sedikitpun. Ini semua salahku” lirih Hansell dengan menekuk wajah penuh rasa bersalah, ia menghentikan Airyn dan membalikan tubuh dengan segera, kedua mata itu saling memandang membuat Hansell menjangkau pipi Airyn dan mengelusnya penuh sayang, namun Airyn menolak dan menjauhkan wajahnya dari tangan Hansell, hingga keadaan mengantung itu sama seperti perasaan dan hubungan mereka yang sebenarnya sangat lantang-lantung yang entah bermuara kemana.


“Airyn, aku mencintaimu, hingga aku melakukan kesalahan dan mungkin kau sangat jijik dan membenciku, tapi aku tidak punya alasan selain aku mencintamu, tidak peduli kau akan setuju atau tidak, tapi Airyn aku sudah mendaftarkan pernikahan kita” seketika kedua mata Airyn terbelalak sempurna, seolah ini sangat lancang dari sebelumnya. Bukankah Hansell paham, Airyn tidak terima dengan sebuah pernikahan, bahkan Airyn membenci hubungan itu, yang akan membuatnya muak dan sangat menjijikan.


Tapi pria itu mendaftarkan pernikahan mereka, apa yang Aryn harapkan dari laki-laki yang sudah menghancurkan seluruh kebaikannya, selain memancarkan kebencian yang amat sangat.


“Kau fikir kau siapa merengut hidupku sesuka hatimu, setelah kau memperkosaku, dan sekarang kau menikahiku, apa kau fikir aku bisa hidup dengan peria sepertimu, bahkan sekarang menatapmu saja tubuhku merinding dengan sangat ngeri” bentak Airyn dengan begitu kecewa entah kenapa ia sangat terluka akan keputusan yang Hansell lakukan.


Bukankah Hansell sadar, Airyn sangat takut akan pernikahan, bukankah pria itu paham Airyn tidak mampu melakukanya, tapi kenapa Hansell memaksakan Airyn ntuk berlumur kedalam siksaan mengerikan itu, sebuah ikatan yang menyayat habis permukaan tubuhnya, seolah luka itu terasa amat nyata, jika benar pria ini mencintainya, seharusnya bukan pernikahan yang ia tawarkan, melainkan ia harus melepaskan Airyn dan menghilang dari hadapanya.


“Berhenti menakutkan hal-hal yang sangat bodoh, aku mengetahui semuanya, masa lalu yang mengerikan itu dibentuk oleh pikiranmu sendiri, kau sendiri yang mentadangkan trauma itu Airyn, semua orang merasakan sakit, semua orang memiliki masa lalu tapi semua orang bisa melewati itu, jika kau merasa kegagalan orang tuamu adalah hal yang membuatmu takut, kau perlu memperbaiki cara fikirmu sebelum menyalahkan mereka” bentak Hansell kearah Airyn, ia sudah mengetahui semuanya dari Merry, jika Airyn memiliki trauma untuk menjalin hubungan yang serius dengan seseorang, dimana si penderita diklaim memiliki gangguan Gamophobia.


“Kau mungkin bisa melewati semuanya Hansell, kau mungkin kuat tapi aku tidak, tidak semua orang itu sama, dan tidak semua orang itu sepertimu. Jadi berhenti untuk kau menyamaratakan semua orang, karna aku tidak akan mau menikah, apalagi dengan mu” tunjuk Airyn kehadapan Hansell, membuat pria itu sedikit kagum, jika Airyn memiliki sisi seperti ini, dimana ia dengan mudah menepiskan perasaanya, apakah selama ini Hansell dijadikan objek untuk mengatasi traumanya, karna Airyn hanya mampu menjalin hubungan dengannya saja, atau selama ini Airyn hanya ingin menjadikan Hansell sebagai pelengkap saja.


“apakah selama ini kau mencintaiku? Kau tidak pernah segan mencampakanku bahkan megusirku, setelah itu dengan mudah kau kembali lagi dan semuanya seperti semula, apa tujuanmu? Apa benar itu karna diriku, atau semuanya karna kau ingin menguji batasanmu saja? Sejauh mana kau bisa menjalin hubungan dengan seseorang” sontak tuduhan yang dilontarkan dengan tegas kearah Airyn membuat bibir gadis itu kelu, entah kenapa tanganya mengigil hingga sulit mengontrol diri.


“Tenang saja, meskipun kau disisiku bukan karna mencintaiku, aku akan mencintaimu Airyn, jadi apapun alasan yang kau miliki atas kedatangan ini tidak masalah, selagi kau menjadi istriku, aku akan baik-baik saja dengan seluruh niat itu” ucap Hansell dengan penuh penekanan sambil mendekatkan bibirnya dan Airyn.


“Aku tidak mau menikah Hansell!! Aku tidak mau! Kenapa kau egois sekali!” bentak Airyn hingga suaranya mengema, Hansell melihat seluruh wajah sesal diwajah Airyn, jelas sekali bagaimana sesalnya gadis itu, entah sesal mencintai dirinya, atau sesal pernah mengenalnya


“Kau harus menjadi istriku, aku sudah menyiapkan semuanya, dan kau hanya perlu menandatangani surat pernikahan kita” seketika Hansell bangkit untuk mengenakan pakaian, meskipun Airyn tidak berhenti mengumpat atau menyumpahinya Hansell ia tidak akan terpengaruh sedikitpun, bagaimanapun ia harus menjadikan Airyn sebagai istrinya dalam bentuk pertanggung jawaban yang harus ia lakukan berdasarkan cinta.


Hansell sudah menduga, Airyn tidak akan menurut semudah itu, ia mengenggam tangan gadis yang begitu meluapkan emosi kearahnya, Hansell tidak masalah dengan semua benci yang airyn kobarkan, yang terpenting gadis itu akan menjadi istrinya


“Masuk” seorang gadis asing masuk kekamar Airyn dan saat ini mematung berdiri dihadapan mereka sambil melirik ke arah Hansell, membuat Airyn terdiam dan melirik Hansell untuk menuntut penjelasan.


“Jangan cemas, percaya padaku” seketika saja sebuah suntikan ditancapkan ke tubuh Airyn tanpa izinnya, hingga pandangan yang semakin buram dan rasa pusing yang mengantarkan kedua mata itu terpejam, membuat Airyn sadar jika Hansell melakukan sesuatu pada tubuhnya, apa sebenarnya yang Hansell lakukan?


Tubuh Airyn tumbang kepelukan Hansell , membuat wajah pria itu sedikit menyesal karna terpaksa melakukan ini, mungkin inilah cara satu-satunya untuk menyelamatkan gadisnya sebelum hal fatal terjadi, dan Hansell tidak masalahan jika Airyn salah paham akan dirinya, asalkan semua nya berjalan dengan lancar.


Hansell telah menyiapkan seseorang yang bisa meniru tanda tangan seseorang secara sempurna, bahkan hampir 99,9 persen sangat mirip dan cocok dengan tanda tangan sang pemilik, jadi untuk menandatangani surat nikah mereka, Hansell tidak perlu persetujuan Airyn, hanya saja ia butuh sidik jari gadis itu untuk menempel cap jari disurat nikah tersebut, semua prosedur telah selesai tepat pada waktunya, dengan koneksi yang Hansell miliki, ia dengan mudah melaksanakan semuanya, meskipun ia memaksakan pernikahan pada pengantin wanita, kali ini ada dua surat nikah yang ada ditangan Hansell, entah kenapa hati pria itu terlanjur bahagia dari yang ia rasa, sebuah kepemilikan yang sah akan gadis itu, jika mulai detik ini Airyn adalah wanita Hansell Hamillton.


Airyn terbangun dikos sederhananya, mata gadis itu mengerjab seolah ia tersadar dari mimpi buruk, perlahan gadis itu melirik kearah jendela yang menyelinapkan cahaya kecil kedalam kamar, Airyn melihat waktu masih terlalu pagi untuk berangkat kekantor, hanya saja mimpi yang difikirnya sangat mengerikan dan begitu nyata, membuat Airyn tidak akan siap jika harus mengadapi kenyataan yang begitu kejam.


Tidak mungkin Hansell merengut kehidupanya dengana paksa, dan tidak mungkin seorang Hansell mencelakainya, hingga ia sangat ingat bagaimana seorang wanita datang hanya untuk menyuntikan sesuatu yang menghilangkan kesadaran Airyn, sebuah hal mengerikan sekali untuk terus diingat.


Kaki itu bangkit dari tempat tidur, namun Airyn terhenti ditempat semula saat melihat Hansell memasuki kosnya tanpa segan, Airyn mengucek matanya dengan tidak percaya, dan ternyata ini fakta, seolah pria itu sangat biasa berada disini, mata Airyn membulat secara sempurna, hinga seluruh pertanyaan yang mengarah kepada kejadian itu, apakah sebuah mimpi atau kenyataan yang benar terjadi?


“Apa yang kau lakukan” bentak Airyn dengan kesal, matanya menajam tidak suka melihat Hansell dengan baju kaos putih dan celana gantung ada dikosnya, seolah ini seperti rumahnya sendiri.


Akibat hubungan mereka yang menjadi suami istri, Hansell ingin menjalankan kehidupan seperti yang istrinya jalani, jadi keputusan Hansell sudah bulat untuk tinggal dikos kecil ini karna rasanya Airyn tidak akan mau tinggal dirumahnya, dengan cepat pria itu meraih Airyn untuk ditidurkan dikasur, ia menindih gadis itu untuk menahan tubuhnya, Hansell perlu bertatap dengan intim agar Airyn bisa mendengarkan penjelasanya baik-baik.


“Sayang, dengarkan aku baik-baik. Dan sebagai wanita yang baik kau tidak boleh membantah sebelum mendengarkan penjelasanku, kita sudah menikah kemarin malam, dan sekarang kau adalah istriku” kedua mata Airyn terbelalak secara sempurna, ia tidak menyangka akan pernyataan aneh yang Jansell katakan, bagaimana mungkin ini terjadi, ia tidak menyetujui hal itu, apa benar Hansell benar-benar memaksakan keinginanya, jika memang begitu Hansell pasti sudah gila.


“Siapa yang ingin menjadi istrimu, bahkan aku tidak ingin menjadi kekasihmu” bantah Airyn dengan begitu lantang, membuat pendengaran Hansell sedikt terganggu karna ruangan kecil itu sangat mengemakan suara jika dilantunkan terlalu keras.


“Lihatlah kesampingmu” mata Hansell menuntun Airyn untuk memalingkan wajahnya, seketika Airyn semakin tidak menyangka, dua pasang surat nikah ada didepan mata, bagaimana bisa seperti ini? bagaimana bisa ia memiliki suami, bahkan Airyn tidak bisa menerima ini, tangan itu memukul Hansell dengan tidak percaya, ia sangat membenci pria itu, air mata Airyn berceceran membuat Hansell menautan kedua alisnya dengan tajam, lagi-lagi Airyn memberikan penolakan, entah kenapa Hansell tidak bisa lagi menhan dirinya, Airyn harus disadarkan atas status mereka berdua.


Dengan cepat Hansell menangkap tangan itu dan menyambar bibir Airyn dengan rakus, ia memberikan keintiman yang dalam dengan sikap memaksa, bahkan gadis itu berusaha memberikan penolakan namun Hansell mendalamkan ciuman dengan penuh tuntutan, Airyn masih mengalirkan air mata dengan tidak terima, namun saat tubuhnya ingin menjauhkan Hansell, pria itu dengan cepat merampas baju Airyn hingga lagi-lagi melakukan tanpa segan


Kali ini Hansell tidak merasa bersalah, ia dan Airyn adalah suami istri dan pasangan yang sah secara negara, Airyn harus menerima status barunya dan juga perlu melawan dirinya sendiri untuk menghilangkan trauma itu, suara desahan keluar disela bibir Airyn, rasanya ia sangat memerah penuh dengan rasa sakit yang kadang-kadang menempatkan dirinya kesuatu rasa yang asing dari sebelumnya.


Apakah tubuh Airyn benar-benar membutuhkan Hansell? Tapi kenapa hatinya sangat mengutuk hingga Airyn ingin sekali memusnahkan Hansell dari hidupnya, hanya saja setiap pertautan tubuh mereka Airyn tidak menolak rasa itu. Apakah ia mencintai Hansell meskipun berubah menjadi monster.


“Akhhh….aku membencimu” geram Airyn saat tanganya meremukan sprai yang menjadi tumpuan mereka berdua


“Tapi kau menikmatinya…sayang” sahut Hansell ketika merambatkan tangannya kedada wanita yang sah menjadi istrinya itu


“Akkk….sakit! lepaskan aku” bentak Airyn saat Hansell menghentakan kekuatannya hingga mendorong tubuh Airyn lebih dalam


“Sebentar lagi..tahanlah sebentar” bujuk Hansell ketika tubuhnya masih belum dilepaskan dari Airyn, entah kenapa tubuh istrinya sangat candu bagi Hansell, hal yang selama ini ia tahan tercurahkan sudah, cinta dan seluruh sifat aslinya Airyn harus menerima, meksipun selama ini Hansell adalah pria baik, tapi jika ini menyangkut Airyn, ia bisa menjadi apapun sesuai dengan keadaan.


“Akhhh…aahhh... ” keduanya sampai kepuncak kenikmatan, dimana Hansell menjatuhkan tubuhnya kepada wanita itu, dengan cepat Hansell memeluk Airyn untuk mengistirahatkan tubuh, seklai lagi Airyn hanya bisa diam dan pasrah untuk menetralkan jantungnya yang bergermuruh, bahkan dada pria itu penuh akan kringat yang menempel dipermukaan pipi Airyn.


"Bukankah kehidupan suami istri ini, sangat layak untuk kita" seru Hansell dengan penuh kebagiaan, entah Kenapa Airyn tidak setuju akan hal itu.


"Aku bahkan tidak merasa kau suamiku, jadi jangan menganggap hubungan ini aku akui jika hanya perkara surat" bantah Airyn dengan dan merendahakan, membuat Hansell tersenyum akan kata-kata menyakitkan dari Airyn.


"Tetap saja, istriku masih menikmati saat menyatukan tubuh kita, bahkan kau terdiam setiap kali tanganku merayap kedada... "


"Hentikan!!! kenapa kau mengatakan hal menjijikan seperti itu" bentak Airyn dengan tidak percaya, seolah ia sangat malu jika Hansell menjabarkan hal itu, melihat penolakan dari Airyn Hansell tersenyum puas, ia memeluk Airyn untuk memperdalam keintiman mereka


"Lepaskan Aku, aku ingin kekantor" ucap Airyn saat mendongakan kepala melihat Hansell, hanya saja kalimatnya teehenti melihat rahang kokoh dengan hidung macung yang sangat simetri dengan bibir, bahkan keringat yang menguyur dahi Hansell membasahkan alis mata tebalnya, Airyn menelan ludah dengan getir, entah kenapa ia sangat berselera melihat Hansell yang tengah memejamkan mata


"Sebentar lagi" Hanselk berucap tanpa sadar memeluk tubuh gadisnya, Airyn dengan cepat menepis pikiran kotor itu, bagaimanapun Hansell yang sekarang tidak layak lagi untuk ia cintai, Airyn harus berhenti untuk mencintainya, gadis itu menengelamkan kepala dengan segera untuk menangkis perasaan kagum yang tidak beretika.


Beberapa saat mereka telah bersiap-siap untuk ke kantor, meskipun Airyn tidak bisa bohong akan sakit dipinggulnya yang begitu menjengkelkan, seolah Hansell sangat ganas jika melakukanya penuh emosi, lain kali Airyn harus hati-hati akan perkataan agar tidak berakir menyakitkan lagi.


“Turunkan aku di halte yang sedikit jauh dari kantor” ucap Airyn saat melirik kearah jalan, seolah ia benar-benar kesal dan tak ingin bicara dengan Hansell


“Kau adalah Nyonya Hamilton, bagaimana bisa aku memberhentikanmu disana” bantah Hansell ketika melirik kearah Airyn


“Turunkan saja aku dihalte!” bentak Airyn dengan menuntut, seolah ia benar-benar kesal atas apa yang tidak disetujui pria itu


“Kau bahkan sudah merampas semuanya dariku, tanpa persetujuanku. Dan sekarang kau tidak mendengarkan apa keinginanku, sepertinya suamiku bosan hidup” ancam Airyn dengan sorot mata tajamnya, membuat jantung Hansell berdetak, seolah kalimat suamiku berharga sekali untuk dirinya


“Kenapa dengan wajahmu, apa kau sakit” sontak tangan kanan Airyn menjangkau kepala Hansell, dan tangan kirinya merasakan suhu tubuhnya sendiri, Airyn merasa suhu tubuh mereka sama, namun kenapa tiba-tiba wajah Hansell memerah


“apa kau sengaja mengodaku” balas Hansell dengan tersenyum, membuat Airyn melepaskan tangan dari wajah pria itu


“Siapa yang mengodamu, aku hanya memeriksa suhu tubuhmu” Airyn berucap saat matanya tidak berani menatap Hansell, perlahan gadis itu mengeser duduk untuk menjauh, dengan cepat Hansell menempelkan Airyn ketubuhnya


“Kau mengucapkan kalimat suamiku, apa Nyonya Hamillton sudah menerima status barunya, dan kau memberikan perhatian, apakah kau tidak bisa menepiskan perasaan pada laki-laki ******** sepertiku” goda Hansell, membuat Airyn menyikukan tanganya, hingga pria itu meringis kesakitan


“Jangan mimpi aku akan melepaskanmu begitu saja, meskipun kau telah membuatkan surat pernikahan kita, aku dengan sadar menolak itu semua, aku tidak tahu apa rencanamu Hansell, hanya saja aku perlu ingatkan jangan melakukan hal yang nantinya membuatmu menyesal. Jadi aku perlu mengatakanya lagi, hati-hati dengan sikap gegabahmu, Jika pernikahan ini kau gunakan untuk suatu tujuan, aku rasa kau snagat paham. Nyawamu akan menjadi sasaran empuk, bahkan aku sulit memprediksi apapun untuk melindungimu lagi” seketika kalimat Airyn mengheningkan keadaan mereka, Hansell paham dan sangat jelas dengan apa yang Airyn maksud.


Hanya saja, ia terlanjur memilih jalan berbahaya untuk rencananya. Tidak masalah akan nyawanya, asalkan ini semua bisa melindungi Airyn.


Mobil itu terhenti tept di Halte bus, Airyn turun dengan segera dan menutup pintu dengan kasar, Hansell memerintahkan sopirnya untuk beranjak pergi, karna sepertinya ucapan Airyn membuat suasana hati Hansell memburuk.


Aku tidak akan menyesalkan apapun Airyn, sekalipun ini menjadi terakir kalinya aku bisa bernafas, jika aku bisa menyelesaikan semuanya dengan nyawaku, aku sangat siap untuk melakukan itu, agar kau baik-baik saja, maafkan aku.


Hansell menyesal dengan sangat atas apa yang sudah dilakukanya, hanya saja ia tidak memiliki pilihan lagi, Hansell benar-benar takut tidak bisa memeluk Airyn lagi, meskipun pernikah ini adalah sebuah paksaan, Hansell menerimanya dengan bahagia, bagaimanapun Airyn sekarang adalah istrinya, ia akan memberikan apapun untuk melindungi Airyn.