Girlfriend Another Level

Girlfriend Another Level
Orang gila?



Sebuah rasa yang tidak asing untuk diterima tubuhnya, membuat alam bawah sadar Hansell bekerja untuk membangkitkan kesadaran, bukankah perasaan ini sangat sama seperti yang dirasakan Hansell sebelumnya, seolah Airyn menangis di telinganya namun Hansell tidak mampu melakukan apa-pun, dengan seluruh kekuatan pria itu mencoba meraih kesadaran hingga mengalir ke permukaan.


Matanya mulai bergerak perlahaan untuk membangkitkan kesadaran terdalam, Hansell merasa ada seseorang yang menindih tubuhnya sebagian tepatnya di sebelah kiri, sehingga pria itu merasakan sedikit berat dilengan kokohnya.


Matanya yang baru saja terbuka dengan sedikit kabur dan rasa sakit kepala yang mendera membuat Hansell meringis menatap seorang wanita berbaring tepat di sampingnya bahkan ia merengkuh lengan kokoh Hansell untuk melilitkan diri disana, seolah wanita itu mencari perlindungan dan kenyamanan saat berbaring di samping tubuhnya, Hansell yang tidak percaya atas pemandangan itu tentu ingin menolak secara terang-terangan, namun tubuhnya masih di landa lemas hingga ia meringis.


Seketika saat pandangan mulai terang, dan kekuatanya berangsung membaik, kedua bola mata Hansell membulat saat memperhatikan secara seksama postur tubuh yang tengah menengelamkan wajah di lengannya itu sama persis dengan istrinya Airyn, tentu ada keterkejutan yang sulit di percaya hingga Hansell berfikir ini tidak mungkin, tapi perasaan dan hatinya terasa sangat nyaman dan damai saat seorang wanita menengelamkan diri di samping tubuhnya yang telentag.


“Airyn---” kali ini Hansell sebegitu yakin saat tubuh itu merengsek tengelam ke lengannya hingga permukaan bibirnya yang lembut terasa di lengan Hansell, dengan tidak percaya yang bercampur kaget yang nyata, Hansell dengan segera bergerak ingin menjangku wajah itu untuk memastikan, tapi sialnya sebuah infus juga menjalar di tangan kanan, hingga Hansell meringis sakit saat infus itu hampir terlepas dengan paksa akibat ketidak sadaran Hansell saat bergerak menjangkau Airyn.


Mendengar suara itu, tentu Airyn yang terbuai di tidurnya merasa sadar kembali, ia mulai merasakan tubuh pria itu bergerak seperti ingin melihat dirinya, Airyn yang memeluk erat tubuh Hansell seperti memperlakukanya sebagai benda yang enak untuk peluk, membuat dirimya menegadahkan wajah seketika kearah suaminya, betapa kagetnya dua orang yang tertegun di dalam tatapan diam itu, melihat orang yang mereka cintai ada di depan mata dalam keadaan sadar.


Mata keduanya bertemu seolah menyiaratkan rindu panjang yang sudah mengusung, Airyn bahkan tidak bisa berkata-kata selain berlinang air mata, menatap kedua bola mata yang menatap dirinya begitu dalam dan hangat, Hansell yang masih belum percaya ada Airyn di sampingnya, memeluk tubuhnya, menyentuh dirinya, bahkan Airyn menatap kedua matanya dengan hangat, membuat pria itu merasa ini seperti mimpi.


Tanpa aba-aba atas jeda yang terjadi cukup lama, ada ketertarikan seperti magnet yang mengantarkan kedua tubuh itu saling mendekat untuk menyatu lebih hangat, pelukan mendarat saat keduanya saling memeluk penuh kerinduan, Hansell dan Airyn tengelam dalam pelukan seolah air mata Airyn yang pecah itu meleburkan keduanya di dalam kerinduan yang curam, bahkan rasa kehilangan yang selama ini selalu menghantui mulai pupus dan hilang, membuat Hansell menenangkan Airyn seraya mencium kepala istrinya dengan sayang.


“Hansell aku rindu...aku t-takut..sekali saat tidak bisa bertemu dengan mu. U-ntunglah kau baik-baik saja, aku sangat lega” lirih wanita itu dengan tagis terisak, hingga dadanya yang sesak mulai lega tanpa terkira, begitupun dengan Hansell yang sebegitu terharu hingga tidak bisa berkata-kata selain memeluk erat tubuh Airyn hingga melebur menjadi satu dengan dirinya, bahkan jika bisa Hansell tidak ingin melepaskan dirinya, dan menginginkan mereka menyatu seperti ini saja.


“Sayang... Aku sangat merindukan mu. Jangan takut aku disini dan baik-baik saja, maaafkan aku” ucapnya untuk membalas lirihan kata rindu dari mulut istrinya, membuat Airyn menderaskan air mata haru yang tidak bisa lagi terbendung oleh batinya.


Sesakit apapun penderitaan hidup yang Airyn rasakan, tidak pernah semenyakitkan saat kehilangan Hansell. Pria ini tentu sumber kebahagiaan yang tidak terbatas untuknya, namun di sisi berlawanan menjadi sumber ketakutan yang bisa menghilangkan akal sehat Airyn saat di tinggalkan.


Bagaimana bisa ia memiliki perasaan sebesar ini untuk pria yang bernama Hansell!


Hingga detik ini, Hansell selalu menghargai apa-pun yang ia punya, ia selalu memberikan nilai yang sama atas siapapun yang ia miliki, bahkan Hansell tidak pernah membedakan cintanya kepada orang manapun, ia selalu adil dan tidak pernah memihak, untuk kali ini saja wanita bernama Airyn menghancuran semua hal itu dari dirinya. Untuk Airyn, Hansell tidak bisa adil ataupun berbagi, ia tidak bisa bersikap biasa dan tidak bisa memberikan nilai sama. Airyn sudah seperti segalanya yang tidak bisa di ungkapkan kepada dunia,


Untuk wanita ini Hansell selalu melewati batasan dirinya. Untuk Airyn, Hansell mampu melakukan hal diluar kendalinya, dan jika Hansell kehilangan lagi, sudah bisa di pastikan, hidupnya tidak akan berarti.


“Aku mencintaimu” ucap keduanya ketika membatin dalam saat memeluk, bahkan ketika pria itu selesai mengucapkan kata cinta terdalam yang seperti doa yang terselip, ia menagkup pipi Airyn sembari memaksa wanitanya mendongak secara sempurna, mengkecup bibir mungil yang selalu memberikan efek mengairahkan yang nyata, menikmati bibirnya untuk mengkecup hingga dalam dan tuntas, memberikan sikap posesif untuk mengkecupkan secara serakah, jika bisa Hansell ingin mengisap seluruh yang ada disana agar memuaskan hasrat memilikinya, hingga nafas terengah dari keduanya tidak bisa terkalahkan, Airyn yang biasanya membantah dengan sikap seperti ini, kali ini malah menuntut untuk Hansell tidak menyerah, infus yang masih tergantung di tangan pria itu sengaja disingkirkan tanpa perasaan hingga mencucurkan darah segar dari disana.


Tentu kedua insan yang saling merindukan dengan hasrat memiliki yang tinggi itu, meleburkan diri menjadi satu, hingga ruangan dan dunia menjadi milik mereka, suara Airyn, kehadiran Airyn dan segala tentang istrinya di nikamati tanpa tersisa, bahkan perasaan yang begitu takut kehilangan itu di lampiaskan untuk mencari ketenangan.


Hansell mungkin kelewatan batas melakukan hal ini di tempat orang lain, tapi ia tidak bisa menahan diri lagi, sebab tubuhnya terlalu membutuhkan perpaduan dengan istrinya, Hansell menikmati sekujur tubuh dan kulit halus Airyn, hingga pria itu tidak bisa lagi beralih keakal yang lebih sehat kecuali meleburkan dirinya kepada wanita yang hanya bisa menikmati di bawah rengkuhan tubuhnya yang hangat.


"Hansell kau berdarah" putus Airyn dengan cemas ketika darah menetes dari tangan suaminya ke permukaan baju blous Creamnya, bahkan pakaian Airyn yang sempat di lepaskan oleh Hansell terbatalkan, akibat pendarahan yang terjadi, benar-benar nasib sial yang sengaja memutus percintaan mereka.


"Tidak apa-apa aku baik-baik saja" paksa pria itu, untuk tidak usah memperdulikan dirinya, namun dengan sikap Airyn yang selalu cemas akan Hansell, tentu akal sehatnya kembali, bagaiman bisa dia melanjutkan percintaan jika suaminya terluka, bahkan luka itu megalirkan darah segar "Aku tidak apa-apa!" ucap Hansell ketika melihat Airyn merakit kembali kancing bajunya ke posisi semula, seolah ia ingin bersiap-siap keluar mencari bantuan.


"Jangan egois Hansell, utamakan kesehatanmu, jangan mengedepankan hasrat saja. Kita bisa melakukan nya nanti setelah luka itu di perban, jika di biarkan kau mungkin akan mengalami pendarahan" ucap Airyn dengan tegas sambil menyingkirkan tubuh suaminya, membuat Hansell merasa malu dan menyesal atas kejadian ini, andai saja ia tidak di infus oleh seseorang mungkin percintaan bergairah yang dilandasi kerinduan akan meleburkan mereka berdua.


Sialnya, Keadaan tidak berpihak padanya "Pintu itu tidak akan bisa terbuka, mereka mengunci kita dari arah luar" ucap Hansell ketika menyerocoskan bibirnya penuh protes kearah Airyn yang melangkah mendekati pintu kamar.


Cklek....


Pintu itu terbuka dengan sendirinya bahkan tanpa Airyn mengunakan kekuatan untuk membukanya, tentu kedua mata Hansell membulat seolah tidak ada penjagaan di luar sana, sebenarnya apa yang terjadi hingga Airyn seperti berkuasa disini, memangnya selama Hansell tidak sadarkan diri apakah Airyn telah memenangkan peperangan, benar-benar wanita yang sangat mengerikan dan tidak bisa di tebak, pikirnya!


Airyn masuk dengan beberapa orang yang membawa peralatan, tentu saja ia adalah Dokter yang merawat Hansell seperti bergerak di bawah perintah Airyn, mata pria itu menatap istri yang masih dilanda cemas, bahkan ketika Dokter itu menjelaskan sesuatu tentang keadaannya Hansell tidak peduli dan menatap Airyn penuh tanda tanya.


"Saya permisi dulu Nona" ucapnya sembari membersihkan peralatan yang berantakan, membuat Airyn menganggukan kepala seraya mengizinkan Dokter itu pergi, tentu saja saat Airyn ingin mengikutinya Hansell menarik lengan istrinya seolah ingin mendegar penjelasan dari Airyn terkait situasi yang terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Aku terlalu bahagia bersama mu, sampai aku lupa bagaimana bisa kau disini, sebenarnya apa yang terjadi hingga kau seperti menguasai tempat ini, apa kau di culik mereka? Atau kau berhasil mengambil alih kekuasaan tempat ini? Apa yang terjadi! " tanya pria itu dengan serius, bahkan tubuh Airyn terjatuh kehadapan Hansell seolah tidak bisa mengelak, tentu Airyn menatap ke cengkraman erat yang Hansell berikan di pergelangan tanganya.


"Lepaskan tanganku, kau menyakiti tanganku" Ucapnya, membuat Hansell melepaskan dengan segera sembari menarik Airyn untuk memeluknya secara lembut, setelah itu Hansell melepaskan diri sembari menunggu jawaban istrinya.


Airyn melipat kedua tanganya, ketika melihat ruangan itu dengan seksama, ia tidak melihat ada kamera pengawasa seolah memang sebuah kamar yang disediakan untuk dirinya dan Hansell.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku bahkan kesini untuk menemukan jawaban itu, selain itu aku merasa ada yang tidak beres disini" ucapnya, membuat Hansell mengekerutkan kening menatap Airyn dengan kebingungan.


"Aku dibawa ke ruangan ini tentu bukan dengan kekerasan atau sebuah penculikan, sebab tidak ada yang terluka di tubuhku. Melainkan di perlakuankan dengan sikap terhormat penuh perintah oleh seseorang. Bahkan yang anehnya aku di perlakukan seperti tuan rumah yang berharga hingga siapapun di tempat ini tunduk dan hormat atas kedatangan diriki. Tentu sampai titik ini, aku tidak mengerti maksudnya, hanya saja aku tidak ingin tergoda dan melonggarkan sikap waspada. Pasti ada yang tidak beres dengan orang yang melakukan ini kepada kita, entah siapapun dia, aku merasa dia adalah orang gila" ucap Airyn dengan penun pembenaran dan jengkel, akibat tidak mampu menyimpulkan apapun dari semua hal ganjil yang sudah ia lewatkan.


"Orang gila?" tanya Hansell saat membeokan penuturan istrinya.


" Iya! Orang gila!! Apa kau tahu dimana kita berada, kita berada di bawah tanah yang memiliki kedalaman yang curam, aku tidak tahu pasti berapa kedalaman di tempat ini, hanya saja aku dapat merasakan ini setara dengan 10 lantai di kantorku Hansell, bahkan sebelum kesini ada sebuah kereta yang cukup sederhana namun mewah yang mengantarkan aku ke ruangan depan, dan disana aku melintasi taman yang di dominasikan tumbunah Lily putih, orang gila mana yang membuat kerajaan di bawah tanah seperti ini" celoteh Airyn hingga membuat Hansell terdiam memandang istrinya, sedangkan Zates yang Mendengarkan percakapan mereka begitu terkekeh saat putrinya mengatakan hal seperti itu.


"Mengemaskan sekali" ucap Zates saat tertawa kecil dengan Aerphone di telinganya, tentu Dorbin yang Ada di depan Zates merasa canggung sekali, sebab sangat jarang pria itu bersikap seperti ini.


"Apa kau tengah mendongeng" ucap Hansell dengan wajah datar, membuat Airyn memukul bahu suaminya karna Jengkel.


"Aku serius Hansell!! Apa menurutmu Aku punya selera humor yang bagus untuk mengarang hal seperti itu!"


"Karna itulah Aku tidak berbohong, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bahkan aku tidak minum alkohol saat kesini, jadi sudah di pastikan aku tidak berhalusinasi atau melantur" bantah Airyn seolah meyakinkan suaminya, membuat Hansell mendekatkan penciumanya untuk menghirup aroma Airyn, dan ternyata ia tidak mencium bau Alkohol di mulut wanitanya.


"Baiklah, anggap semua itu benar. Tapi Merry mengatakan ia melewati hutan belantara yang sangat sepi bahkan di pastikan tidak ada kebidupan selain hewan hutan, tapi kenapa kau melewati jalur berbeda, jika begitu hanya satu kemungkinanya, pasti ada dua jalur untuk menuju tempat ini" ucap Hansell seketika, membuat istrinya menganggukan kepala untuk membenarkan.


Sedari awal, Hansell merasa penilaianya tepat, ia juga memperkirakan ada pintu lain selain yang Merry jelaskan, sebab gang sempit yang Merry ceritakan sangat tidak mungkin di lalui orang dengan berlalu lalang, tentu itu merepotkan, jika setiap saat membuka jalan rahasia yang di sembunyikan dengan kayu yang melintang itu.


***


"Apa yang ingin kau sampaikan Dorbin? " tanya pria itu dengan suasana hati yang baik, membuat Dorbin menelan salivanya dengan gugup.


“T-tuan, ada sedikit kejangalan yang terjadi. Setelah Nona Petrov menemui anda, sepertinyJames juga melarikan diri” ucap Dorbin kepada Zates, membuat pria itu terdiam sembari menatap anak buahnya itu, ia bahkan beranjak dari kursi kerja yang sangat nyaman itu seolah kehilangan nafsu untuk mengurus pekerjaan lagi.


“Apa kau kehilangan dia lagi? ” Tanya Zates ketika menatap Dorbin dengan penuh ancaman, membuat Pria itu menundukn kepala ketika gugup menjawab perkataan Tuanya, tentu saja di kamus hidup Zates, diam adalah sutu jawaban "Ya"


"Bodoh!! Bahkan orang seperti itu saja tidak bisa kau urus, bagaimana bisa aku memberikan kepercayaan padamu" ucap Zates dengan penuh penginaan pada Dorbin, meskipun ia tidak membentak namun nada rendah yang penuh penekanan itu mampu mencabik-cabik jiwa tegar seseorang hingga menjagi gemetar dan takut.


"Sekarang cari dia, dan jangab beri ampun lagi. Jika tidak aku akan menghancurkan hidupmu. Kau tahu sendiri hutang apa yang harus kau bayar bukan! Jadi mari kita bekerjasama untuk saling menguntungkan. Jangan ada kegagalan yang kau laporkan jika tidak aku benar-benar hilang kesabaran Dorbin" ancam pria itu dengan kilau mata tajam penuh perintah, membuat Dorbin menganggukan kepala seolah mengerti dimana dirinya berada.


"Baik Tuan, saya mengerti. Saya akan mencaro keberadaan James dan membawanya kehadapan anda dengan segera, tapi bagaimana dengan Jilixing?" tanya Dorbin saat mengangkat kepalanya, membuat Zates mudur dari sana sembari mendudukan diri di sofa luas di ruang kerja tersebut.


"Lupakan tentang dia, bagaimanapun Airyn yang melindungi B*ajingan itu, aku tidak ingin melukai dirinya, sebab jika aku tidak ingin menyulitkan dirinya untuk mengerti semua ini. Jika aku mengecam Ji tentu saja Airyn akan terus kebingungan, dengan membiarkan Ji dibawah kuasa Airyn, anak itu akan mengerti dan paham nantinya"


"Baik Tuan Zat, aku megerti. T-tapi apa boleh saya bertanya T-Tuan?"


Zates mendongakan kepala menatap Dorbin sembari meraih gelas Wine itu dengan bekelas "Kenapa kau harus ketakutan seperti itu Dorbin? Katakan apa yang ingin kau tanyakan. Setidaknya aku tidak memakan manusia jadi kau harus bersantai sedikit mengahadapiku"


"Em--"


Zates mendongakan kepala sekali lagi seolah ia benci mendengar dan melihat sikap seperti itu, tentu Dorbin menahan kegugupanya sebab ia tidak bisa menyulut kekesalan Tua. Zates.


"Apakah benar Nona Airyn itu putri anda?" Tanya Dorbin dengan sikap lantang, tentu ia mengetahui hal ini secara mendadak dari seluruh orang yang ada disini, sebab kedatangan Airyn mengemparkan markas jika dia adalah putri kandung Tuan Zates.


Bahkan selam ini Dorbin bekerja ia tidak mengetahui fakta tersebut, bukankah Tuan Zates sangat mengerikan hingga fakta seperti itu saja selama bertahun-tahun tidak lolos dari gudang rahasianya.


"Benar dia darah dagingku" ucap Zates dengan berbangga diri smebari meneguk anggur di gelas kaca yang memiliki tangkai pegangan itu "Apa ada yang ingin kau katakan lagi?" Sambung Zates, membuat Dorbin yang tegang mengelengkan kepala seketika.


"Tidak Tuan, cukup itu saja"


Seorang tiba-tiba mengetuk pintu tersebut, membuat pandangan keduanya teralihkan, tentu saja Sabrina yang keluar dari balik sana, membuat Zates mengalihkan pandagan Sabrina berjalan kearahnya, seperti biasa wanita periang yang cukup hangat itu tersenyum kearah Zates, membuat aura Zates dan Dorbin berubah menjadi lebih tenang dari mereka barusan, bahkan Sabrina memberikan ucapan sapaan yang hangat sembari menatap kearah Dorbin yang beberapa kali di temuinya, melihat Sabrina menemui Zates tentu saja Dorbin undur diri dari ruangan tersebut.


“Sabrina, apa kau membawa putriku Airyn dengan selamat?” tanya Zates dengan wajah berbinar ketika menanyakan tentang putrinya, tentu Sabrina sadar itu sekedar berbasa basi sebab dia pasti lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan putrinya.


“Tentu saja Tuan, dia bahkan sebegitu merindukan Suaminya. Membuat aku sangat terharu” wanita itu memberikan sapaan penuh hormat sebelum di persilahkan duduk di hadapan Zates.


“Bagaimana perjalananmu, apakah melelahkan?” tanya Zates dengan ramah, sebab Sabrina di utus langsung dari Amerika untuk menjemput putrinya, karna Zates tidak ingin pria seperti Dorbin yang melakukan hal itu, sebab bisa saja pria itu menakutkan Airyn.


“Sedikit!! Tapi melihat Nona Petrov secara langsung menjadi kehormatan besar untuk ku. Sudah lama aku ingin menemuinya, dan akirnya aku bisa bertemu dengan wanita menganggumkan itu, bahkan ia sangat cantik dari bayanganku”


Mendengar pujian tersebut Zates tersenyum dengan bangga, Sabrina tentu menatap kearah Tuanya Zates yang mulai ia curigai akan hubungan ayah dan anak itu, tapi tidak membuat Sabrina mengubah sikap sedikitpun, karna Sabrina sadar Zates memiliki sisi lain dari yang ia kenal.


“Ngomong-ngomong. Kenapa anda mengubah rencana dan menolak menemui Nona Airyn. Bukankah anda sudah menunggu hari ini?” tanya Sabrina dengan ingin tahu, membuat Zates menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari menatap wanita itu, merasakan ada atmosfer berbeda di antaraa mereka, tentu saja Sabrina merasa sangat canggung, apakah ia sudah kelewatan!


“Hm...Aku memiliki sedikit masalah dengan keluargaku, bukankah kita semua memiliki rahasia keluarga yang tidak bisa di ceritakan kepada orang asing” balasnya seolah menyinggung Sabrina secara terang-terangan, membuat gadis itu tertawa canggung sembari mengalihkan pandangan.


Ternyata Tuanya Zates memang memiliki sisi berbeda yang tidak bisa di ketahui oleh Sabrina, meskipun begitu Sabrina tahu jika seseorang tidak melewatkan batasan yang di terapkanya pria itu, tentu dia akan bersikap baik seperti malaikat. Tapi, jika seseorang mencoba melukai prinsipnya maka dengan menyesal Tuan Zates akan berubah menjadi iblis meskipun dengan orang kepercayaan nya sekalipun.


Hanya saja Sabrina sudah mengetahui gambaran besar tersebut, kenapa Tuan Zates menempatkan Sabrina di Amerika hal itu karena Sabrina adalah orang kepercayaan Tuan Zates untuk mengatasi hal-hal bersih diluar sana, seperti bisnis dan Laboratorium Farmasi yang di kembangkanya, sedangkan disisi lain ada Dorbin yang mengurus sesuatu di dunia hitam Tuan Zates, dan pantas saja pria itu hampir bersikap sama seperti Zates.


Alasan Sabrina tidak mengetahui apapun, tentu karna Tuan Zates tidak memberikan dia kesempatan untuk mengetahui segala hal ini, karna Zatea sendiri sudah menepatkan kode etik di dalam hubungan transaksional diantara rekan ataupun anak buahnya.


Sabrina menjadi seperti sekarang tentu akibat pria itu, bahkan dulunya ia hayalah gadis miskin yang tidak dianggap keberadaanya, namun sekarang nama Sabrina sudah di perhitungkan dunia, bahkan harta yang dimiliki sabrina sudah bisa memandirikan dirinya, namun tetap saja ia tidak ingin mengkhianati Tuan Zates, sebab Sabrina sadar apa hukumanya.


Seperti apapun Sabrina berusaha mengenali kedua sisi dari orang yang ia anggap seperti malaikat,Tuan Zates memang tidak pernah membiarkan hal tu terjadi, bukankah Pria itu selalu memisahkan sesuatu hal, entah itu benda, kesukaan, sifat, orang ataupun sesuatu yang yang selalu ia kelompokan, begitulah yang Sabrina rasakan. Dia memang tidak bisa masuk kedalan dua sisi pria itu, jangankan dirinya memang tidak ada orang yang di izinkan mengenal dua sisi dirinya secara bersamaan, selama ini orang-orang yang terlibat dengan hidupnya harus memilih salah satu dari kelompok-kelompok yang di pisahkan.


Seperti Sabrina yang di khususkan untuk melihat sisinya yang berwarna putih, dan untuk sisi lain berwarna Hitam Dorbin lah yang hanya di percayakan oleh Tuan Zates. Bahkan mereka tahu pria itu juga memisahkan arsitektur rumahnya, bahkan jika ada orang yang masuk ke rumah atau markasnya tentu saja rumah Tuan Zates yang terlihat Abnormal.