
“Sejak 5 tahun silam” jawab Airyn dengan begitu serius, membuat Hansell yang tadinya di penuhi gelak tawa terhenti seketika, bahkan mata mereka saling menatap dengan penuh pertanyaan.
“Airyn, apa ingatan mu sudah kembali?” Hansell terduduk dari tidurnya, dia menjangkau tubuh gadis itu untuk berhadapan dengan dirinya, Hansell terlihat begitu pucat memandang Airyn, didalam fikiran hanya terpampang bagaimana Hansell menyakiti Airyn dimasa lalu, Hansell tentu ingat seluruh kesalahan dimasa lalu yang dia perbuat kepada gadis itu.
Seketika mata Airyn begitu sendu menatap Hansell, dia begitu tersakiti melihat pria itu namun tidak mampu membenci, Airyn menahan air matanya ketika ngin menjelaskan apa yang terjadi, namun Hansell terlebih dahulu menundukan kepala dengan rasa bersalahnya, Hansell membeku di hadapanya, membuat ruangan disekitar mereka hening, pria itu tertunduk lesu dengan semua beban yang menumpu di atas kepalanya.
“Hansell...” panggil Airyn lirih, lantaran pria itu tidak bergeming dari kepalanya yang ditekuk, Airyn perlahan menjangkau bahu Hansell, namun pria itu menepisnya, membuat Airyn tidak percaya dengan sikap Hansell barusan.
“Hansell...” panggilnya sekali lagi atas ketidak percayaan yang dirasakan, Hansell seperti orang yang begitu larut dan terpuruk dengan rasa sedihnya, hingga Airyn tidak mampu mengapai.
“Airyn, sejak kapan ingatan mu kembali?” tanya Hansell dengan kalimat dingin, membuat Airyn terdiam memandang kearah pria itu.
“Ketika aku pulang ke Irlandia setelah kau kembali ke Korea” jawab Airyn dengan penuturan singkat.
“Apa kau sudah menginggat semuanya?” seru Hansell begitu ngilu saat melontarkan pertanyaan itu.
“Tentu saja, aku menginggat semuanya. Jika Aku tidak mengingatnya aku tidak akan mungkin bisa mencintaimu dari 5 tahun lalu”
“Kenapa kau tidak bilang kepadaku?” tanya Hansell tanpa jeda, membuat suasana mereka semakin suram, saat pertanyaan dingin di balas dengan ternyataan sadis dari Airyn.
“Jika aku memberitahu itu, apa ada yang berubah diantara kita?” balas Airyn dengan kalimat singkat, namun sangat tepat sasaran seolah memamg tidak ada yang berbeda bukan?
“Tenntu saja itu berbeda!!” sesaat nada bicara Hansell meninggi, seketika dirinya mengangkat kepala dengan linangan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya, membuat Airyn terdiam ketika menatap pria itu.
“Hansell, kau kenapa!" tanya Airyn lirih dengan tatapan mata dalam nya kepada Hansell, dia tidak mengerti kenapa Hansell besikap dingin seperti ini, jika ada yang terluka diantara mereka, seharusnya Airyn yang pantas seperti itu.
“Tentu saja itu berbeda, kenapa kau tidak bilang jika kau sudah ingat semuanya, kenapa kau tidak memberitahuku, kenapa!” bentak Hansell sambil menatap mata gadis yang berada di depannya, bahkan air mata Hansell pecah ketika dia melontarkan pernyataan barusan, air mata itu mengalir disekitar pipinya, jatuh membasahi kulit, membuat Hansell tidak berdaya memandang Airyn, sedangkan Airyn Hanya terdiam menatap lelaki yang barus saja menjadi kekasihnya.
Bahkan untuk kali pertama Hansell menangis di hadapan wanita, setelah dia tumbuh dewasa Hansell benar-benar menjaga wibawanya sebagai pria, namun Airyn mampu menghancurkan segalanya, membuat dia menjadi seperti manusia biasa.
“Hansell, kau kenapa? Jika memang aku mengingat kembali hal 5 tahun lalu, kenapa memangnya? ” Airyn meraih pundak pria itu, namun Hansell sekali lagi menepis tangannya, dia berdiri dari ranjang dengan begitu marah, bukan pada Airyn, melainkan dirinya sendiri.
Hansell menatap Airyn dengan tajam bahkan dirinya mengepalkan tangan memandang wanita tersebut, Airyn tidak mengerti akan sikap Hansell kepadanya, dia hanya menampilkan sorot mata peduli sambil memandangi. Jika ada yang harus marah disini, bukankah Airyn orang yang pantas melakukannya, kenapa Hansell menjadi seperti ini kepadanya, bahkan pria itu begitu kasar menepis tangan Airyn, tatapan yang begitu tajam melihat ke arah Airyn, seakan Hansell seperti tidak menerima sebuah kenyataan, Airyn yang tidak mengerti dimana letak salahnya, mencoba melawan pertahanan diri agar mengerti titik dari semua ini.
“Airyn, kau sudah menemukan ingatan mu kembali, dan sekarang kau sudah mengingat semuanya, tapi kenapa kau kembali kesisiku, kenapa kau menerima perasaan ku, kenapa?” tanya Hansell dengan begitu tak berdaya, kilau matanya begitu rapuh memandang Airyn, bahkan Hansell tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan gadis ini, hingga dia dengan berani menghampiri Hansell ke negara ini setelah menginggat semuanya.
Selama ini Hansell berfikir dengan bersikap masa bodoh dan menepis kenyataan bahwa Airyn melupakan segalanya, membuat Hansell percaya diri menyatakan perasaaan nya untuk memulai hidup baru, namun gadis ini mengingat segalanya, bagaiamna bisa Hansell mengangkat epalanya saat bertatapan mata dengan gadis yang dicintai oleh dirinya, namun juga ia sakiti dimasa lalu.
“Aku mencintaimu.” dengan pasti Airyn menjawab pernyataan Hansell dengan kalimat singkat, gadis itu begitu yakin akan perasaan yang ia miliki, dia melihat kemarahan itu secara jelas bukan tertuju kepada dirinya, melainkan Hansell menyalahkan dirinya sendiri, air mata yang ia tumpahkan itu adalah bukti penyesalan yang telah di pendamnya selama ini, dan sikap penolakan yang Hansell berikan adalah sebuah kode bagi Airyn, jika dirinya tidak pantas atas Airyn, itulah yang dilihat Airyn terhadap pria di hadapannya saat ini.
Rapuh, kata itulah yang cocok untuk memandangi sorot mata Hansell, ia membuat lukanya sendiri dan membiarkan dirinya tersakiti, penghukuman diri sendiri ternyata sudah diterapkan oleh Hansell selama ini, tentu saja dengan tidak memaafkan dirimu sendiri, sama saja dengan mengundang rasa sakit untuk terus menghukum diri, bahkan Airyn tidak menyangka Hansell melakukan hal seperti ini atas hidupnya.
“Hansell” pangil Airyn sekali lagi, Airyn tidak pernah menginginkan seseornag yang sempurna, karan Airyn sadar tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua orang memiliki penyesalan dan kesalahan, untuk itulah Ariyn sangat memahami penderitaan kekasihnya.
“Kau kenapa kembali kesisiku, setelah mengetahui apa yang aku lakukan, kenapa kau memaafkan ku, kenapa? Aku lupa diri atas kesalahanku selama ini, aku fikir dengan kau melupakan semua itu, menjadi awal untuk kita berdua. Aku dengan percaya dirinya mengajakmu hidup bersama dengan mengabaikan kenyataan yang ada, namun sekarang kau mengingat segalanya, bagiamana aku bisa menganggkat kepala menghadapimu, kenapa kau tidak membenciku? Kenapa kau menerima pernyataan cintaku? Apa kau telah memaafkan kesalahan ku? Kenapa? apa kau mengkasihani diriku! ” bentak Hansell dengan begitu terluka, ada sesuatu yang pecah di dalam tubuhnya hingga terbelah, bahkan Hansell tidak berdaya lagi jika menyalahkan diri sendiri sesakit ini.
“Hansell, apa yang kau katakan” seketika air mata Airyn berderai melihat kesakitan yang diucapkan Hansell, dia beranjak dari duduknya sembari menyambar tubuh pria itu dengan paksa, Airyn memeluk tubuh Hansell hingga pria itu terdiam menatap kekasihnya.
“Airyn,, kenapa kau memeluk ku, apa kau fikir aku pantas mendapatkan perlakuan seperti ini?” air mata Hansell menetes ketika kalimat itu diucapkan, tubuh mungil yang hangat ini mendekapnya seperti tidak merasakan amarah “Bagaiman aku menghadapimu, setelah semua kesalahan yang aku lakukan” sekali lagi Hansell menyambung ucapan yang senada dengan air matanya. Begitupun dengan Airyn, meskipun dirinya mematung memeluk Hansell, tapi dia tidak kuasa menjawab pertanyaan pria itu.
“Airyn, menjauhlah, aku akan menyakitimu, kenapa kau mau menerima pria seperti ku” kali ini suara Hansell meninggi, membuat Airyn tertegun melihat kekacauan pria yang di cintainya, dia terluka melihat Hansell menyalahkan dirinya, dia terluka dengan setiap kalimat yang diucapkan untuknya, Airyn tersiksa melihat air mata tak berdaya dari pria itu, bagimana cara Airyn mengatasi ini, selama ini tubuh pria yang membisu selalu menopang air matanya, memanjakan dirinya, menjaganya, bahkan Hansell mampu memberikan kehagatan yang tidak pernah dirasakan Airyn selama ini, namun Airyn tidak mengerti apa yang harus dikatakan, bahkan dia tidak tau harus melakukan apa untuk menanangkan pria itu
“Kenapa kau berkata seperti itu, aku mencintaimu, tidak ada yang salah atas semua yang terjadi, dirimu bahkan tidak salah sedikit pun atas itu. Kenapa kau menyalahkan dirimu, bahkan kau selalu bertanya, kenapa? Bukankah kau mengerti karna aku mencintaimu. Hansell, masa lalu kita memang betigu penting, tapi bukan berarti menghambat kita untuk menata masa depan, dirimu adalah segalanya bagiku, aku tidak bisa mencintai jika itu bukan dirimu” kalimat tenang dengan sisi terlembut dari Airyn, mampu menelusuri bagian hati terkelam yang sudah Hansell ciptakan saelama ini.
Airyn memutus tuntas segala dendam, rasa bersalah, dan kecewa yang ada dihatinay. bahkan kedua mata polos itu menatap Hansell dengan lekat, dia mencoba menata satu persatu kata untuk menenangkan pria nya, Airym mengerti saat ini Hansell sangat larut dalam penyesalan, bahkan pria ini menjauh dari Irlandia adalah penghukuman atas dirinya sendiri.
“Kenapa kau semudah itu mempercayai orang yang tidak percaya kepada dirimu” seru Hansell dengan pertanyaa “Seharusnya kau tidak memberi dirimu kesempatan, aku merasa tidak pantas untuk mu, Airyn”
“Siapa bilang kau tidak pantas untuk ku? Bahkan jika ada yang terbaik dari dirimu, aku masih menginginkan dirimu untuk menjadi pria ku, tidak pernah ada orang yang membawa ku keluar dari zona nyaman, jika bukan karna dirimu, aku tidak akan menjadi Airyn yang seperti sekarang, jika bukan itu dirimu, aku tidak akan pernah mengerti apa arti kehadiran seseorang, jika kau tidam hadir di hidupku. Kau hadir disaat aku menyerah atas hidupku, aku menjadikan diriku tidak berharga sama sekali, namun setelah kau datang dan aku mencintaimu, aku menyadari aku dibutuhkan oleh seseorang, semuanya karena dirimu. Bagaimana bisa kau berfikir dirimu tidak pantas untuk ku” jelas Airyn saat tangan ya mulai merangkul pria itu, seketika Hansell memeluk Airyn, dia begitu menyesal atas semua yang di lakukannya dimasa laalu, dirinya begitu posesif memeluk gadis itu, membuat Airyn tersenyum ketika dia telah menemukan Hansell kembali.
“Airyn aku merasa tidak pantas untuk mu, tapi aku mencintaimu, apa yang harus aku lakukan?”
“Teruslah di sampingku, jangan tinggalkan aku lagi, jika kau melakukan nya. Aku akan membunuh mu, apa kau mengerti” ancam Airyn dengan kalimat bercanda, membuat Hansell terkekeh dengan perkataan gadis itu, sembari menghentikan tangisanya yang berubah haluan menjadi haru.
“Hansell jangan meninggalkan ku lagi” pinta Airyn dengan begitu memohon, seakan dia tidak berdaya jika itu terjadi lagi.
"Aku tidak akan pernah pergi, aku minta maaf, aku berjanji tidak akan menjauh darimu” Hansell melepaskan pelukan mereka, bahkan Airyn sangat bahagia setelah melihat Hansell kembali seperti dirinya.
“Aku akan memegang janji mu, tapi Hansell aku sangat takut dengan sikapmu yang seperti itu, kenapa kau bodoh sekali jadi pria” dengus Airyn pada Hansell, bahkan raut wajah Airyn berubah menjadi marah, dia menatap Hansell penuh perhitungan lantaran dirinya sangat kesal dengan pria tersebut.
“Meskipun aku memaafkan mu atas apa yang terjadi dimasa lalu, tapi ada hal yang tidak bisa aku maafkan, kenapa kau mengizinkan mereka menghapus ingatanku, dan kau meninggalkanku, aku bahkan tidak menyangka kau akan melakukanya, dasar laki-laki bodoh!! Berani sekali kau berkuasa atas hatiku, apa kau tidak sadar jika nyawamu akan terancam jika kau berani melakukan itu lagi” geram Airyn dengan wajah yang mengemaskan, bahkan dirinya tidak henti cemberut lantaran Hansell yang begitu bodoh adalah pria yang di cintainya.
“HaHaHa, sudah berapaa kali aku katakan” seketika jemari Hansell mencubit pipi Airyn yang begitu mengemaskan “Jangan membuat ekspresi seperti ini, jika kau melakukanya kepada pria lain, akan ku buat kau melupakan segala hal dan mengingatku saja” balasnya dengan begitu posesif, sebab Ariyn sangat mengemaskan.
“Hei, kau posesif sekali sayang” goda gadis itu engan lirikan mata manjanya kepada Hansell.
“Sudah berapa kali aku katakan, tidak boleh seperti itu. Tapai barusan kau mengucapkan kata sayang kepadaku, apa kau tidak sadar hal itu sangat ampuh untuk merontakan hatiku, bahkan baru tadi kau begitu malu mendengarnya, dan sekarang kau malah melakukannya” goda Hansell saat melingkarkan tangan ke pinggang Airyn, membuat mereka menempel begitu lekat, bahkan Airyn menegang keika merasa dirinya terperangkap di pelukan pria itu. Sembaru sebuah rasa yang cukup mengagetkan.
“Kenapa kau selalu hebat membangunkan gairahku, bahkan kau tidak bersusah payah untuk itu” goda Hansell, karna dirinya juga merasakan apa yang membuat Airyn tertegun.
“Hansell, akuu…aku” seketika Hansell mendekatkan permukaan wanagnya, ia mengenduskan nafas berat untuk membuat tubuh Airyn sensitif. Airyn membisu dengan ketakutan lantaran ronde selanjutnya akan dimulai, jika dia tidak membebaskan diri tentu saja akan tekungkung dalam siksaaan.
“Apa kau ingin lagi?” tanya Airyndengan gugup, membuat Hansell tersenyum jahat lada gadis itu.
“Tentu saja” balas Hansell yakin “ Tapi sayang, kali ini aku ingin lebih” bisiknya lirih di telinga Airyn, membuat wanita itu tak kuasa menahan rasa geli yang merambat dibagian telinga.
“Hansell, tidak kah….kau..kau berfikir ada hal lain yang harus kita bicarakan” berontak gadis itu untuk mengalihkan perhatian.
“Tidak”
“Tidak? T-Tidakkah kau ingin tau bagaimana aku bisa mendapatkan kembali ingatan ku?” tegasnya dengan yakin, namun seketika itu Hansell melonggarkan pelukanya, membuat ruang untuk Airyn bernafas, bahkan jantungnya mereda atas jarak mereka.
“Kau benar, aku melupakan hal itu” seketika Hansell seperti terkesima atas pernyataan Airyn barusan “Aku akan mandi sebentar, jadi setelah ini kita akan cerita” Hansell berlalu ke kamar mandi dengan segera, membuat Airyn merasa lega.
“Hasell kenapa kau harus mandi?” tanya Airyn dengan polosnya, hingga menghentikan langkah Hansell.
“Aku harus meredakan hasratku, apa kau mau membantu?” hansell melirik dengan lirikan mata sensual, tentu saja dengan cepat Airyn mengelengkan kepala sambil mendorong pria itu kekamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dari arah luar, membuat Hansell tersenyum melihat sikap malu-malu Airyn.
“Kenapa dirinya di Tiongkok sangat mudah aku jinakan, gadis itu pintar sekali menarik ulur, mengemaskan” gumam Hansell yang berada dibalik pintu kamar mandi.
“Wah, pria itu. Benar-benar merusak jantung ku. Tapi kenapa aku merasa menyesal menolak dirinya, dasar menyebalkan” seketika Airyn tersipu dengan malu-malu, Hansell membuatnya begitu kelu ketika bercumbu, bahkan Airyn tidak mampu mengendalikan dirinya karna malu.