Bella's Script

Bella's Script
Bis Cinta



Perjalanan pulang ternyata lebih menyenangkan dengan menggunakan bis. Bella tertidur sepanjang jalan di temani suara musik dangdut yang membuatnya tersenyum kecil. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah merah saat ingatan kejadian di danau kembali tergambar jelas di benaknya.


“Akhhhh!!! Cukup Bell cukuppp!!!!” Bella membentur-bentur pelan kepalanya sendiri pada kaca jendela untuk membuyarkan pikirannya dari Devan.


Ia menghela nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Benar-benar ini lagu dangdut,


“Mau tidur teringat padamu


Mau makan teringat padamu


Mau apapun teringat padamu, kekasihku.


Kemanapun ada bayanganmu


Dimanapun ada bayanganmu


Di semua waktuku ada bayangmu, kekasihku.”


Benar kan, Bella seperti tersindir oleh lagu lawas ini. Sayangnya tidak ada pilihan lain, selain membiarkan lagu ini habis dengan sendirinya.


Bella mengecek ponselnya, ia ingin tahu berapa lama lagi ia akan sampai di terminal. Ternyata hanya sekitar 6 menit lagi. Syukurlah, sebentar lagi ia sampai.


Baru mematikkan kembali ponselnya, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk terdengar. Sepersekian detik Bella menahan nafasnya saat ternyata pengirim pesan itu adalah Devan.


Bella membacanya selintas headline yang muncul.


“Udah nyampe mana Bell?” Begitu kurang lebih pesan yang Bella baca.


Bella tidak lantas membukanya. Ia memilih mematikkan layar ponselnya dan membenamkan benda pipih itu di tangannya. Perasaannya jadi gusar. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya pada para penjual asongan yang sudah menunggu bis berhenti.


Suara mereka bersahutan saling menawarkan dagangannya.


“Aq*a neng?” Tawar seorang penjual asongan yang menawarkan dagangannya dari balik kaca jendela.


Bella hanya menggeleng.


Laju bis mulai melambat. Beberapa orang turun, begitupun dengan Bella. Ia mengambil tas ranselnya dan ikut turun bersama penumpang lain. Ia sengaja turun sebelum bis masuk ke terminal.


Di tepi jalan kini ia berdiri saat ponselnya berdering. Lagi, nama Devan yang muncul di layar ponselnya. Kali ini Bella memutuskan untuk menjawabnya.


“Bell,..” Suara Devan jelas terdengar bersamaan helaan nafas lega.


“Lo udah sampe mana?” Tanyanya khawatir.


“Oh, gue di…”


“Cawang cawang cawang…. Cawang neng?” Tawar seorang kernet angkot.


“Nggak bang, makasih.” Bella memundurkan sedikit langkahnya.


“Lo di terminal?” Tanya Devan dari seberang sana.


“Iya.” Sahut Bella yang mulai bisa menetralisir perasaannya.


“Jangan naik angkot, naik taksi aja biar gak berhenti-berhenti.” Saran Devan dari sebrang sana.


“Iyaa gue tau.” Bella melambaikan tangannya saat sebuah taksi akan melintas di hadapannya. Saat taksi berhenti, Ia segera naik agar tidak membuat kemacetan.


“Mau kemana mba?” Tanya supir taksi.


“Bentar pak,” Bella menekan tombol hold untuk menjeda panggilannya dengan Devan, lantas menunjukkan peta alamat yang tampil di layar ponselnya.


“Ke alamat ini pak.” Terang Bella.


“Baik mba.”


Mobilpun kembali melaju berbaur dengan kendaraan lain di jalanan. Setelah duduk dengan nyaman, Bella melanjutkan lagi panggilannya dengan Devan.


“Ada apa?” Tanya Bella.


“Udah naik taksi?” Devan balas dengan pertanyaan. Ia belum merasa tenang sebelum memastikan Bella mendapatkan kendaraan yang aman untuk pulang.


“Udah. Ini udah jalan.”


“Syukurlah.” Terdengar hembusan nafas lega dari mulut Devan.


Dalam benaknya ia masih berpikir, bagaimana bisa Bella berada di terminal bis? Apa Bella bertengkar dengan Rangga? Apa ia diturunkan begitu saja oleh Rangga?


“Halo Van, lo masih di sana?” Suara Bella membuyarkan semua pikiran Devan.


“Oh iya, gue masih di sini.” Devan terdengar kaget.


“Bell, lo masih marah sama gue?” Kali ini Devan bertanya dengan khawatir.


Ia menunggu dengan gelisah jawaban dari Bella yang masih termenung.


“Nggak. Gue tau semalem kita sama-sama gak sengaja.” Sahut Bella setelah bisa berpikir dengan jernih. Andai saja ia tidak menarik tangan Devan, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.


“Sorry kalau gue kekanakan. Pikiran gue sempit. Guee,”


“No! No, lo gak perlu minta maaf. Gue tau lo gak sengaja.” Devan segera menjeda kalimat Bella agar gadis ini tidak semakin merasa bersalah.


“Gue gak mau lo ngerasa gue ngelecehin lo Bell..” imbuh Devan.


“Van, lo masih di mobil?” Tanya Bella tiba-tiba.


“Syukurlah.” Bella bisa menghela nafas lega karena tidak mungkin ada yang mendengar kata “Pelecehan” yang barusan Devan ucapkan


Tanpa Devan tahu, yang katanya sedang tidur tengah berusaha menahan senyumnya mendengar pembicaraannya dengan Bella.


Akh, tidak lihai rupanya.


“Ya udah, lo hati-hati di jalan. Tolong kabari gue kalau udah nyampe.”


“Iya Van, lo juga hati-hati di jalan.”


“Okey. Bye.” Devan membiarkan Bella menutup teleponnya lebih dulu. Ada kelegaan yang dirasakannya karena ternyata kemarahan Bella tidak berlanjut.


Dan di belakang sana, ada seseorang yang masih menduga-duga apa yang dilakukan Devan dan Bella semalam? Kenapa Bella bisa terlihat begitu kesal pada Devan?


Aakhh Inka jadi gemas sendiri dengan isi pikirannya.


*****


Home sweet home, itu yang Bella rasakan saat ini.


Menjelang sore, Ia membantu Saras menata bunga di taman kecil mereka. Ini pekerjaan yang menyenangkan yang bisa Bella lakukan untuk mengasah kreativitasnya.


“Mah, bunga yang ini adek ganti tanahnya yaa…” ujar Bella pada sebuah pot yang berisi bunga mawar putih. Bunganya tidak tumbuh dengan baik karena tanahnya kurang gembur.


“Iya sayang, hati-hati akarnya terpotong.” Timpal Saras yang sibuk menata bonsainya.


“Oh iya, mamah pengen mengenten bunga mawar eden sama grandiflora. Kayaknya bakal cantik deh.”  Lanjutnya tiba-tiba. Saras membawakan beberapa batang mawar yang sudah di potongnya dan ia rendam dalam air.


“Tapi mataharinya udah tinggal sisa mah. Apa gak akan bikin mereka layu?” Bella menengadahkan wajahnya melihat matahari yang sudah hampir tenggelam.


“Nggak lah. Awalnya kan emang jangan banyak kena matahari, besok baru kita atur tempatnya. Adek masih libur kan?”


“Hem iya. Adek break syuting sampe senin.” Bella menyahuti dengan semangat.


"Okey, kalau gitu temenin mamah ya."


"Siap bos!" Bella melakukan hormat singkat pada sang ibu yang membuatnya mendapat cubitan gemas dari Saras.


“Assalamu ‘alaikum…” Sebuah suara terdengar di pintu gerbang.


“Wa’alaikum salam… Eh nak Devan…” Sahut Saras yang menyambut Devan dengan ramah.


Laki-laki itu menyalimi tangan Saras lantas ia kecup.


"Eh, kotor loh tangan tante."


"Gak apa-apa tan."


Devan segera memalingkan wajahnya beberapa saat kemudian. Saras jadi menoleh seseorang yang segera bersembunyi di balik tubuhnya yang lebih lebar. Rupanya Bella malu sendiri karena hanya mengenakan kaos croptop dan hot pants. Ia menarik rok sang mamah yang lebar untuk menutupi kakinya.


“Ozi nya ada tante?” Dengan segera Devan pun mengalihkan perhatiannya.


“Ada di kamarnya, masuk aja.”


“Baik tante, terima kasih.” Dengan segera ia masuk tanpa melirik Bella sedikitpun. Ia tahu Bella tengah sangat canggung, begitpun ia.


“Nak Devan tambah gagah aja ya… Masih inget banget, dulu waktu SMP datang ke rumah kita, tubuhnya kecil, kurus kayak gak makan. Tapi sekarang malah tinggi, tegap, ganteng lagi. Iya kan dek?” Tanya Saras yang asyik bercerita.


Ia sampai tidak sadar kalau putrinya masih berusaha memperhatikan Devan yang masuk ke rumah. Sudah jauh kah ia?


“Dek,,” Panggil Saras.


“Oh iya mah.” Bella jadi gelagapan.


Setelah memastikan Devan pergi, ia kembali ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya.


“Mamah inget banget dulu, abang kamu susah banget dapet temen. Tiap ada yang main ke rumah, dia pasti tetep sibuk sama mainannya atau malah sibuk ngajakin adek main. Padahal temen-temennya udah manggil-manggil depan pintu. Acuh aja dia. Mamah sampe takut kalau abang gak bakalan punya temen. Masa kerjaannya nemenin adek main rumah-rumahan.” Celoteh Saras seraya meneruskan menata tanaman bonsainya.


"Mamah masih inget banget, waktu tiba-tiba mamah di panggil guru BK ke sekolah abang, gara-gara abang berantem. Mamah sempet gak percaya abang berantem, karena mana pernah dia berinteraksi di sekolahnya."


"Tapi ternyata abang berantem gara-gara ngebelain anak baru yang di bully sama temen-temennya. Dan temen baru abang itu malah awet sampai sekarang. Nak Devan bawa banyak perubahan buat abang. Abang jadi kayak seorang kakak yang punya dua adik. Yang satu cengeng yang satu acuh. Abang jadi kakak yang bisa ngemong. Seneng mamah liatnya." Ungkap Saras seraya memandangi Bella.


Bella hanya tersenyum dengan tangkai mawar di tangannya. Saras benar, Ozi banyak berubah setelah berteman dengan Devan.


"Mah, Devan dulu ada rumah kan di Jakarta?" Tanya Bella penasaran. Ia ingat-ingat lupa seperti apa dulu kehidupan Devan.


“Iyaa.. Dulu dia ada rumah. Gak jauh dari sekolahnya dia dan abang. Tapi, setelah mamahnya meninggal, keluarga Devan menjual rumah itu karena jadi sengketa antara keluarga mamah dan papahnya Devan.”


Bella mengangguk-angguk paham. “Lalu papahnya?” Rasa penasaran Bella bertambah.


Saras menghela nafasnya berat. Ia menatap Bella dengan lekat.


“Sudah lama tidak ada kabar. Tapi mamah yakin, beliau baik-baik saja.” Jawaban Saras memang tidak cukup memuaskan bagi Bella tapi cukup melegakan.


Sejauh Bella mengenal Devan, hingga saat ini Devan tidak pernah membahas tentang keluarganya. Yang Bella dengar dari Ozi adalah kalau Mamahnya Devan berasal dari Singapore. Ozi sering menyebutnya orang Eurasia, perpaduan Eropa dan Asia. Sementara papahnya Devan asal Surabaya. Devan tidak punya adik ataupun kakak.


“Gimana, bisa?” Saras menghampiri Bella yang masih memegangi 2 batang mawar di tangannya.


“Eh iya. Lagi adek coba.” Karena melampun ia jadi lupa dengan tugasnya.


******