
Pagi itu, Bella masih dengan rutinitas paginya membereskan kamar, sementara Devan masih berada di kamar mandi.
Ia merapikan seisi ruangan kamar yang cukup luas itu. Mulai dari tempat tidur, di mulai dengan mengganti sprei dan sarung bantal guling hingga menyemprotkan disinfektan spray ke atas permukaan Kasur. Entah mengapa, setelah menikah spreinya jadi cepat kotor.
Yang baca, pura-pura gak tau aja ya, hahaha….
Selesai dengan urusan tempat tidur, Bella beralih menyapu lantai, membereskan meja kerja sekaligus meja riasnya hingga menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia sengaja menaruhnya di atas kursi agar Devan pun menaruh handuk bekasnya di atas kursi, bukan di atas tempat tidur.
Ia mencoba membiasakan Devan agar tidak menaruh handuk bekas di atas tempat tidur.
“Hey,…” Panggil Devan yang tiba-tiba memeluk Bella dari belakang saat istrinya sedang menyiapkan baju untuknya.
Panjang umur sekali laki-laki gondrong yang hanya mengenakan handuk untuk menutup bagian bawah tubuhnya ini.
“Mas, badannya masih basah tau.” Bella sedikit bergidik. Bulu kuduknya meremang saat tubuh basah Devan bersentuhan dengan kulitnya.
“Kan mandi, ya pasti basah lah.” Timpal Devan yang mengecup leher Bella yang bersih tanpa sehelai rambut pun.
Begini resikonya kalau ia mencepol rambut, lehernya pasti jadi sasaran keisengan Devan.
“Keringin dulu badannya biar gak masuk angin.” Bella mengambil handuk miliknya yang baru akan di jemur.
Ia berbalik dan terpampanglah dada Devan yang terbuka dengan barisan otot seksi dan rambut halus yang menutupinya.
Bella berusaha menahan rasa gemetarnya saat melihat dada kokoh itu yang hanya berjarak beberapa senti saja di hadapannya.
Di handukinya dada bidang Devan sambil menunduk. Sementara Devan berusaha menahan senyum saat melihat wajah Bella yang merona dengan sendirinya. Istrinya memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Udah kering, pake baju dulu.” Ucap Bella yang baru menengadahkan wajahnya menatap Devan.
“Cup!”
Di detik yang sama, Devan mengecup bibir Bella yang bahkan masih mengerucut setelah berbicara.
Ia menangkup kedua sisi wajah Bella membuat bulu kuduk Bella semakin meremang karena tangan Devan yang dingin.
Di lumatnya bibit merah mudah itu dengan antusias hingga mengeluarkan bunyi decapan yang penuh gairah.
Lebih dari satu menit mereka berpagutan dan baru terlepas saat keduanya nyaris kehabisan nafas.
“Morning kiss dulu, biar semangat.” Ucap Devan yang menempatkan dahinya di dahi Bella.
“Tadi kan udah pas bangun tidur.” Timpal Bella yang masih terenggah berusaha mengatur nafasnya yang menderu.
“Beda rasanya. Tadi pagi agak asam yang sekarang seger banget. Rasa strawberry.” Devan terkekeh di ujung kalimatnya.
“Ada-ada aja!” Bella mencubit pinggang Devan dengan gemas dan laki-laki itu hanya terkekeh.
Di peluknya tubuh Bella dengan erat seraya melangkahkan kakinya ke kiri dan kanan seperti sedang mengajak Bella menari.
“Jangan lama-lama pelukannya. Mas kan harus nemenin papah latihan jalan di taman. Dan aku mau bikin sarapan.” Bella berusaha mengingatkan walau sebenarnya ia sendiripun masih sangat nyaman di peluk Devan.
“Bikin sarapan?” Devan mengulang dua kata dari kalimat Bella. Ia menghentikan gerakannnya lalu melepaskan pelukannya dari Bella. Di tatapnya mata bulat itu dengan lekat.
“Iya, emang kenapa?" Bella meninju dada suaminya dengan kesal, pertanyaannya menunjukkan ketidakpercayaan Devan terhadapnya. Ya walau ia akui ia pernah gagal memasak. Sering malah, ups!
“Hahhaha bukan gitu. Aku cuma mau nawarin, gimana kalau kita tukeran tugas hari ini? Aku masak dan kamu temenin papah belajar jalan?” Tawar Devan.
“Kenapa harus tukeran? Mas takut sarapannya gak enak?” Bella mengerucutkan bibirnya kesal.
“Eitt, bukan gitu sayang.” Devan mencolek hidung bangir Bella dengan gemas.
“Semalem tuh niatnya, sebelum kamu bangun, aku udah harus nyiapin sarapan buat kamu dan aku taruh di atas meja. Jadi pas kamu bukan mata, ta daaaa…. Udah ada sarapan buat istriku tercinta. Udah aku bayangin itu bakal romantis banget.”
“Tapi gara-gara kecapean setelah serangan pajar, aku malah kesiangan.” Keluh Devan yang menggaruk rambut gondrongnya walau tidak gatal.
“Salah sendiri." Bella mengerucutkan bibirnya, meledek Devan.
"Tapi bener yaa, bukan gara-gara gak mau makan sarapan buatan aku?” Bella menunjuk Devan dengan kesal.
Devan balas dengan mengigit gelas telunjuk itu.
“Iihh, Mas,… Akh…” Bella segera menarik tangannya yang di gigit Devan.
“Hahahaha… Kamu gemesin banget sih, bikin aku pengen gigit-gigit terus. Muach!” sekali lagi ia mengecup bibir Bella, membuat liptint di bibirnya berpindah ke bibir Devan.
“Tau akh, kesel aku.” Bella segera beranjak dari hadapan Devan dan beralih ke meja riasnya. Liptint yang katanya kissproof di bibirnya sudah benar-benar hilang.
“Iyaa maaf,… Habis becandain kamu itu seru, lucu.” Devan menyusul Bella ke depan meja rias.
Ia mengambil selembar tissue untuk melap bibir Bella yang belepotan.
“Bibir kamu gak pake gincu juga gak apa-apa kok. Soalnya yang aku suka bukan lagi warnanya, tapi rasanya.” Goda Devan yang anteng mengusap sisa liptint yang belepotan.
“Itu kan emang pelembab aja, bukan pewarna.” Timpal Bella yang mengambil tissue dari tangan Devan.
“Okey!” Devan hanya bisa menurut.
Laki-laki itu pun segera berpakaian. Sementara Bella masih curi-curi pandang. Jujur ia menghindar karena jantungnya yang terus berdebar kencang. Setiap harinya ada saja tingkah Devan yang membuatnya semakin jatuh cinta pada laki-laki ini.
“Ya tuhan, semoga jantungku kuat.” Batin Bella.
***
Selesai bersiap, sesuai kesepakatan mereka bertukar tugas. Devan yang memasak dan Bella yang menemani Amri latihan berjalan.
Bella mengajak Amri ke taman untuk berlatih, sementara menunggu sang suami menyelesaikan masakannya.
“Perlu Bella bantuin pah?” Tawar Bella saat Amri berusaha berdiri dan berpegangan Walker.
“Gak usah nak, papah mau coba berdiri sendiri.” Amri berusaha untuk bangkit dan saat hampir terjatuh Bella segera menahan tangannya.
“Ahahahaha… Ternyata kaki papah masih lemes.” Ucap Amri.
Tendangan keras pelaku penganiayaan pada bagian tulang belakangnya membuat saraf di tulang belakang Amri mengalami cedera. Beruntung masih bisa dilakukan terapi untuk menyembuhkannya walau tidak bisa cepat karena usianya yang sudah lanjut.
“Gak apa-apa pah, kita sedikit-sedikit aja.” Bella membantu Amri untuk berdiri tegak dan berpegangan pada walker.
“Terima kasih ya Bell,…” Ucap Amri setelah bisa berdiri tegak.
“Sama-sama pah. Bella lepas sandalnya ya, kata dokter bagusnya papah berjalan tanpa alas kaki.” Bella segera membungkuk dan berjongkok lalu melepas sandal milik Amri.
Melihat kesigapan Bella, hati Amri jadi terrenyuh. Ia melihat jelas ketulusan yang Bella berikan selama merawatnya.
“Dulu, kami para orang tua yang mengajarkan anak-anaknya untuk berjalan. Selangkah demi selangkah sampai kemudian kalian bisa berdiri sendiri, berjalan bahkan berlari. Tapi sekarang, malah papah yang mengandalkan Devan dan Bella buat ngajari papah jalan. Maaf ya Bell, karena papah malah merepotkan kalian.” Ungkap Amri dengan wajah sendunya.
Bella segera bangkit dan berdiri di samping Amri. Ia menatap wajah laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu dn sedang berusaha berjalan dengan tertatih.
“Usaha papah dulu menurut Bella cukup berbeda dengan usaha Bella dan Mas Devan sekarang.”
“Papah dan para orang tua lainnya, mengajarkan kami berjalan karena sebelumnya kami memang tidak bisa. Tapi Bella dan mas Devan, hanya menemani papah untuk tidak menyerah agar bisa berjalan lagi."
"Para orang tua pasti bertemu dengan kesulitan tapi Bella, menemani papah bisa jalan lagi tanpa kesulitan apapun. Dua proses yang berbeda menurut Bella. Persamaannya adalah, baik Bella ataupun papah, kita tidak boleh menyerah.” Terang Bella dengan penuh semangat.
Amri tersenyum kecil dengan matanya yang berkaca-kaca karena haru.
“Devan benar-benar beruntung memiliki istri seperti kamu nak.” Ucap Amri dengan penuh kesungguhan.
“Bella juga beruntung punya mas Devan pah.” Bella mulai melepaskan tangan Amri sedikit demi sedikit namun tetap dalam jarak waspada.
“Lihat, papah udah bisa berdiri sendiri.” Ungkap Bella yan tersenyum girang.
Tanpa Amri sadari, perbincangannya dengan Bella sudah mengalihkan rasa takut dan ragunya.
“Ya Allah, iyaa Bell. Papah bisa berdiri dan berjalan sendiri.” Seru Amri yang ikut terkejut.
“Alhamdulillah,…” Ungkap keduanya bersamaan.
“Sebentar pah, Bella telpon dulu mamah.” Sambil menjaga Amri, Bella mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Saras. Keluarganya harus mengetahui kabar baik ini.
“Halo Mah, tolong ke taman sebentar, ajak mas Devan juga. Ada yang harus kalian liat.” Ucap Bella tergesa-gesa.
Tidak berselang lama, Saras dan Devan serta Ozi segera menghampiri.
“Ada apa sayang?” Tanya Saras yang begitu terkejut.
“Papah, mah. Papah bisa berdiri bahkan berjalan sendiri.” Ucap Bella nyaris terlonjak karena senang.
“Beneran?” Devan segera menghampiri. Ia memperhatikan kaki Amri yang tanpa alas kaki.
“Iya, tadi papah coba angkat badan papah sendiri dan pegangan ke walker ini. Awalnya hampir jatuh dan Bella yang nahan papah. Tapi tiba-tiba papah bisa merasakan telapak kaki papah yang menapak sepenuhnya setelah Bella melepas sandal papah. Papah juga bisa melangkah Van, kamu liat ini.” Terang Amri yang memperagakan dengan antusias.
“Alhamdulillah,…” seru Devan seraya memeluk Amri.
Begitupun dengan Bella yang di peluk erat oleh Saras dan Ozi yang mengusap kepala sang adik dengan sayang.
Bella bisa melihat ekspresi Devan yang begitu senang.
“Papah gak sabar mau bisa jalan lagi Van. Papah mau sembuh karena kelak papah mau main sama cucu-cucu papah. Mereka pasti berlarian dengan penuh semangat dan papah gak boleh kalah.” Ungkap Amri setelah melepaskan pelukannya dari Devan.
“Iya, papah pasti akan segera sembuh seperti sedia kala dan bisa main sama cucu-cucu papah.” Timpal Devan tidak kalah antusias.
Dan mendengar ucapan Devan, hati Bella jadi berdesir. Setelah pernikahan, bukankah memang buat hati yang kemudian mereka nanti?
Akh rasanya jadi tidak sabar.
****